Disclaimer : Masashi Kisimhoto

Main cast : Sakura Sasuke.

Gendre : Drama, Romance.

Theme : Spring

Warning : Penuh typo. Alur berantakan. Bikin sarap kepala jadi tegang. Dan, DON'T LIKE DON'T READ. NO BASH my character in my fic.

Flame jangan tapi kalu konkrit sangat boleh. ^^

.

.

.

"Hn, aku akan segera ke sana."

Sasuke memfokuskan perhatikan pada jalanan yang sedang di guyur hujan lebat dan menyebabkan pandangannya agak sedikit terganggu terutama dengan sambil cuaca malam ini yang sangat tidak mendukung untuk melakukan perjalanan. Murni karena kesalahannya sendiri kalau pada akhirnya dia harus terjebak di tengah jalanan yang asing seperti ini hanya untuk menempuh rute menuju sebuah Villa milik sahabat dekatnya untuk menghadiri pesta, seandainya saja siang tadi dia tidak memiliki jadwal pemotretan yang sudah tidak bisa ditunda lagi, tentu saja sekarang dia pasti sudah bersama bersama sahabat berambut durian nya itu untuk menikmati kemewahan pesta.

Tangan Sasuke yang agak berkeringat membuat pegangannya pada gagang hand-phonenya agak licin dan membuat benda hitam itu terlepas dan kemudian terlempar ke bawah jok mobil, Sasuke harus bersusah payah menjulurkan tangannya ke bawah jok mobil untuk mendapatkan benda flip berwarna hitam itu kembali tanpa berniat bersusah payah menghentikan laju mobil.

Sepasang onyx Sasuke melotot maksimal saat menyaksikan pemandangan yang tersaji dihadapannya. Menyadari sebuah truk berkecepatan tinggi sedang melaju ke arah nya, Sasuke refleks membatingkan setir mobil sekuat mungkin kearah kanan untuk menghindari tabrakan dan naas harus berakhir dengan membentur trotoar jalan.

Sasuke masih berusaha sekuat tenaga mempertahankan kesadarannya yang perlahan mulai dikuasai oleh kegelapan. Bau anyir darah segera menyergap indera penciuman nya berbaur dengan bau tajam lain yang mulai mendominasi.

—Bau bensin.

Beruntung karena saat berangat Sasuke masih sempat memakaikan sabuk pengaman pada tubuhnya sehingga saat terjadi benturan keras, tubuhnya tidak terlempar keluar dari dalam mobil dan berakhir dengan lebih tragis, tapi ternyata terjebak di dalam mobil dalam keadaan tidak berdaya dengan adanya percikan api yang mulai menyala menjadi bumerang tersendiri bagi keselamatan nyawa Sasuke.

Dilihatnya seseorang membuka pintu mobil di samping tubuh tidak berdaya nya dan tangan seseorang itu berusaha melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya sebelum akhirnya kegelapan menguasai kesadarannya sepenuhnya.

Shin SeounRa| Choco Momo

[Sweet Apple]

Presented

An Alternative Universe Fanfiction

dedicated for Alm. Kan Nand dan Kak Raffa.

From U

Story presented by © Sora Yagami

Inspired by © From U_Super junior

Cast and anything in this story © Masashi Khisimoto.

Are we gonna meet again?

.

Mata gadis itu membelalak terbuka saat lagi-lagi—untuk yang kesekian kalinya—petir menyambar di udara dan menghantarkan suara gelegar luar biasa menakutkan dari angkasa disertai dengan munculnya seberkas cahaya kilat yang dalam sekejab menerangi bumi dari kegelapan sang malam yang sedang bertahta.

Gadis itu berusaha memastikan penglihatannya dengan melongok kan kepala keluar dari jendela nya kamarnya yang terletak dilantai dua, tidak memperdulikan guyuran air hujan yang mulai membasahi tubuhnya. Gadis itu menyipitkan matanya, berusaha menghalau air hujan yang menghalangi pandangan matanya.

Ya Tuhan, sebuah mobil dalam keadaan rusak parah terparkir di pinggir jalan begitu saja dan berjarak tidak jauh dari rumahnya.

Gadis itu berlari keluar dari dalam kamar tidurnya saat iris matanya mendapati sebuah mobil yang telah mengalami kecelakaan parah karena menabrak trotoar pembatas jalan dari jendela kamarnya, tangannya bergerak cepat untuk membuka gerandel pintu dan berjalan dengan tergesa-gesa menerobos derasnya guyuran hujan. Menarik paksa pintu mobil hingga terbuka.

Menahan napas saat matanya mendapati seorang pemuda yang kira-kira masih sebaya dengannya mengalami luka cedera yang cukup parah pada bagian kening dan sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, kepala pemuda itu terkulai begitu saja di atas setir. Gadis itu berusaha hingga nyaris putus asa untuk melepaskan sabuk pengaman yang sepertinya macet hingga membuatnya harus mengerahkan tenaga ekstra untuk melepaskannya saat kedua iris matanya mendapati percikan nyala api dan semakin panik saat indera penciumannya mendeteksi bau tangki bensin yang mengalami kebocoran.

Tidak perduli meskipun sedang hujan lebat, kalau bensin itu tersambar percikan api, maka mereka berdua akan mati terbakar secepat kertas yang berubah menjadi debu, jemari-jemari tangannya yang basah semakin menyulitkan usahanya untuk melepaskan sabuk pengaman.

_Sedikit lagi,

Saat tangannya berhasil melepaskan sabuk pengaman yang sangat mengganggu itu, tanpa membuang waktu lagi, gadis itu segera membawa—lebih tepatnya menyeret paksa— tubuh tidak berdaya pemuda itu menjauh dari lokasi kejadian.

Tangannya refleks menjatuhkan tubuh pemuda itu hingga membuat tubuh pemuda yang semenjak tadi dipapahnya terjatuh membentur aspal dan menelungkupkan tubuhnya di atas tubuh pemuda itu untuk melindunginya saat terdengar suara ledakan keras yang sangat mengerikan, detik itu juga seluruh badan mobil terlingkupi oleh api merah menyala dengan semburat biru kekuningan yang tidak padam meskipun hujan mengguyur dengan sangat deras. Lulutnya terasa sangat lemas. Napas nya tersengal dan memburu.

Wajah pemuda itu begitu dekat dengan wajahnya, guyuran air yang jatuh membasahi kulit wajah pemuda itu tidak mampu mengembalikan kesadarannya. Dia merasa heran dari mana dirinya bisa mendapatkan kekuatan sebesar itu untuk memapah tubuh lemas pemuda yang memiliki besar hampir dua kali tubuhnya menjauh dari tempat kejadian.

"Eung," Sasuke meringis pelan dari tidurnya saat merasakan denyutan pelan di kening nya, pemuda raven itu refleks memegangi kepalanya yang terasa berat seperti habis dihantam godam raksasa, matanya membuka perlahan dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang asing.

Tubuhnya dibaringkan di atas sofa panjang berwarna putih tulang dan ada selimut yang disampirkan untuk menutupi tubuhnya yang ternyata tidak terbalut pakain sehelai pun.

Dilihat dari perabot yang menghuni ruangan tempatnya beristirahat, sudah bisa dipastikan ini adalah ruang tamu sebuah rumah dan bukannya rumah sakit, sebuah ruang tamu yang telihat sangat minimalis dan sederhana dengan dominasi warna putih dan baby-blue namun tertata dengan sangat apik hingga membuat orang merasa betah untuk berlama-lama.

Penciumannya mengendus bau harum masakan yang menguar di udara, di hadapan nya sekarang sudah tersedia sebuah nampan yang dipenuhi dengan aneka menu sarapan. Mulai dari susu lengkap dengan nasi beserta lauk-pauknya.

Setelah selesai menyantap makanannya dengan sangat lahap, apalagi kalau mengingat dia belum memakan sesuatu yang benar-benar layak di konsumsi manusia sejak kemaren sore karena manajernya yang hanya memberikan ramen instan di tengah-tengah break pemotretan dengan alasan tidak sempat membelikan makanan untuknya, Sasuke merasa itu adalah masakan terlezat yang berhasil masuk ke dalam lambungnya, Sasuke bergerak untuk mengambil pakaiannya yang diletakkan di atas sofa single yang berada tidak jauh darinya.

Pemuda itu mulai bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari ruangan untuk mencari keberadaan seseorang yang telah menyelamatkan hidupnya, Sasuke baru menyadari kalau posisi rumah sederhana ini begitu strategis, berada persis di samping jalan utama yang terlihat lengang dan kalau kau berjalan ke beranda belakang maka kau akan menemukan pemandangan laut berpasir pantai putih yang sangat menakjubkan. Tidak terdengar adanya suara mobil yang berlalu-lalang seperti yang kerap kali kau temukan di kota-kota besar, hanya terdengar hanya suara hembusan angin yang menerbangkan pucuk dedaunan dengan suara debur ombak yang meningkahi keheningan.

Seperti nyanyian dari surga, pikir Sasuke.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju ke teras belakang rumah dan mendapati seseorang sedang duduk di bawah hamparan pasir sambil memangku sebuah buku tebal di pangkuannya, terlindung dari terpaan sinar matahari karena berada dibawa rerimbunan pohon yang bergoyang pelan diterpa angin.

Seseorang yang tengah sibuk dengan bacaannya itu menoleh saat menyadari seseorang sedang mendekat ke arah nya dengan langkah pelan.

Dan Sasuke terpana,

Gadis itu, bagaimana Sasuke harus mengatakannya?

_Cantik dan menawan

Dengan bibir tipis semerah darah, rambut se warna bunga sakura yang bisa dibilang tidak biasa namun menciptakan kesan tersendiri, pipi chubby yang berhasil membuat Sasuke gemas ingin mencubitnya, hidung kecil namun mancung, kulit mulus yang seputih salju, dan jangan lupakan sepasang mata besar sewarna emerald yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu.

Sasuke merasa lidahnya kelu hingga tidak sanggup berkata-kata, rasanya seperti ada sesuatu yang menyangkut di kerongkongan nya, tapi bukan Uchiha Sasuke namanya kalau tidak bisa segera mendapatkan kembali pengendalian dirinya.

Gadis itu masih menatapnya, menunggu Sasuke berbicara.

Sasuke berdeham kecil, menghilangkan rasa yang sedikit mengganjal di mulut nya. "Kau yang sudah menolongku?"

Gadis itu hanya diam tanpa menjawab sambil terus menatap pada Sasuke. Matanya terlihat agak redup. Ada setetes keringat yang meluncur daris sela-sela pelipis gadis aneh itu, bola matanya bergerak-gerak gelisah seakan was-was dengan keadaan. Dan terlihat sedikit ketakutan.

"Dan apakah kau juga yang telah melepaskan pakaianku?"

Wajahnya yang semula pucat saat menyadari kehadiran Sasuke tiba-tiba saja berganti menjadi dipenuhi semburat merah yang sangat kentara, gadis itu menunduk dan berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang mirip dengan apel merah.

Sejurus kemudian gadis itu berdiri dan berjalan melintasi ruangan sambil memberi isyarat pada Sasuke untuk mengikutinya. entah kenapa dia merasa gadis itu seperti sedang berusaha menjaga jarak dengannya dengan terus-terusan menghindari kontak fisik.

"—hei,"

Pemuda bertubuh jangkung itu tertegun saat gadis itu menggiringya menuju kesuatu tempat yang lokasinya hanya berjarak tidak terlalu jauh dari rumah yang telah memberinya tempat bernaung darurat. Didepan matanya sekarang terdapat onggokan rongsokan besi yang telah menghitam, mobil sport pribadinya telah terbakar hingga tidak berbentuk lagi dan untungnya lokasi tempat terjadinya kecelakaan hanya berjarang beberapa meter dari rumah gadisnya—

Hei! Gadisnya? apa maksudnya itu? Mereka bahkkan baru bertemul kurang dari beberapa jam.

Sasuke cepat-cepat menyingkirkan pikiran itu dari kepalanya.

Otak jenius nya yang diturunkan nama besar keluarga Uchiha dengan cepat mencerna seluruh rangkain kejadian. Yang menjadi pertanyaannya sekarang, bagaimana gadis bertubuh mungil itu bisa membawa tubuhnya yang jauh lebih besar masuk kedalam rumahnya sementara gadis itu hanya tinggal seorang diri dan rumah terdekat yang bisa dimintai bantuan berjarak sekitar beberapa kilometer jauhnya.

Takut-takut gadis itu menyerahkan handphone touchscreen milik Sasuke yag dia temukan didalam kantong celana pemuda itu kembali kepada pemiliknya dan mendapati benda itu telah dalam keadaan tidak berfungsi. "Kau punya handphone?"

Gadis itu menggeleng lemah, sangat kelihatan kalau masih berusaha menjaga jarak dari keberadaan Sasuke.

"Atau sesuatu yang bisa digunakan untuk menelpon?"

Kali ini gadis pendiam itu mengangguk dan menggiring langkah Sasuke menuju dapur dengan ukuran yang sangat minimalis, tempat di mana satu-satunya telephon di rumah diletakkan. Mata Sasuke menjelajahi ruangan, hanya ada beberapa perabotan sederhana yang menghuni dapur yang dominasi warnanya disesuaikan dengan warna ruang tamu.

"Sasuke, dimana kau? Kami semua sangat mencemaskanmu!" Sasuke refleks menjauhkan gagang telephon begitu mendengar suara sahabat durian nya yang melengking membuat gendang telinganya terasa berdenging.

"Aku kecelakaan," Sasuke mengucapkannya semudah dia menelan makanan kesukaannya tapi cukup untuk membuat Naruto histeris diseberang sana.

"Appaaaa? Kecelakaan? Bagaimana mungkin kau masih bisa hidup, Teme?"

Sasuke mendengus kesal. "Bakka. Memang nya kau ingin aku mati!"

Sasuke melirik kearah gadis pendiam itu dan mendapati sang gadis telah meninggalkan ruangan dengan langkah pelan, bermaksud memberikan privasi kepada Sasuke.

"Maksudku bukan begitu! Sekarang kau ada di mana?"

Sasuke menghela nafas pelan dan kemudian meringis saat lagi-lagi kepalanya yang telah terbalut perban kembali berdenyut sakit. Sejujurnya dia sendiri tidak tahu dimana dia berada sekarang. Tadi malam dia bermaksud untuk menghadiri acara party yang diadakan oleh Naruto dan teman-temannya disebuah villa dan hanya mengandalakan GPS sebagai petunjuk arah, jadi dia samasekali buta mengenai posisinya saat ini dan bertanya kepada gadis aneh itu pun sepertinya percuma karena sepertinya gadis itu tidak akan bersedia buka suara.

"Sebenarnya aku sendiri tida tahu berada di mana sekarang."

"Mungkin aku bisa melacakmu melalui GPS."

Kalau itu bisa, sis sudah melakukannya semenjak tadi. "Itu juga tidak bisa, handphone ku mati dan mobilku meledak."

"APA—"

Belum sempat Naruto buka suara Sasuke sudah terlebih dahulu memotong. "Aku baik-baik saja dan aku bisa menjaga diriku."

Sasuke menutup telephon itu kemudian menghela napas berat sembari berjalan keluar ruangan, mencari tahu keberadaan gadis pendiam namun menawan itu dan menemukan si gadis berambut pink kembali ke tempat pertama mereka bertemu. Gadis itu terlihat sedang duduk di bawah pohon sedang membaca buku sembari ditemani hembusan angin laut dan segelas teh yang sepertinya masih hangat.

Sasuke beringsut mendekat dengan perlahan, berusaha untuk tidak membuat gadis itu merasa terancam dengan keberadaannya. "Boleh aku duduk di sini?"

Gadis itu dia. Terlihat seperti sedang mempertimbangkan untuk menerima Sasuke berbagi ketenangan dengannya.

Gadis itu menatapnya sekilas dan kemudian mengangguk lemah.

"Terima kasih telah menolongku,"

Gadis itu mengalihkan matanya dari buku yang sedari tadi menyita perhatiannya dan menatap pemuda tampan yang sedang duduk dengan canggung di samping nya diatas hamparan pasir putih. Sejurus kemudian mengangguk dan mengambil sebuah memo kecil, menulis sesuatu sebelum menyerahkannya kepada Sasuke.

'Itu memang sudah seharusnya'

Sasuke mengernyitkan kening nya heran dan sejurus kemudian dia mendapati dirinya sendiri telah menatap intent kepada gadis yang balas menatapnya dengan sepasang mata emerald yang besar dan meneduhkan. Tersirat suatu kekecewaan dan rasa tidak nyaman di sana? Apakah gadis itu berpikir Sasuke merasa risih karena kenyataan kalau gadis yang ditemuinya tidaklah sempurna? Bahwa ternyata gadis itu tidak bisa bicara?

"Kau tidak bisa bicara?" Sasuke tidak bisa menghentikan mulutnya. Bibirnya bergerak lebih cepat daripada yang diperintahkan oleh otaknya dan kemudian mendapati dirinya merutuki kebodohan yang dia buat. Bagaimana kalau gadis itu tersinggung?

"Maaf, aku.."

Belum selesai Sasuke bicara gadis itu sudah lebih dahulu menyerahkan kembali secarik kertas ketangan Sasuke.

'Tidak apa-apa. Aku memang tidak bisa bicara.'

Selanjutnya hanya suara hembusan angin yang meningkahi keadaan dan jujur saja, meski pun Sasuke terlahir dengan tidak banyak bicara tetapi dia gerah juga karena sedari tadi gadis itu terus saja mengacuhkannya dengan memfokuskan perhatiannya pada buku yang menurut Sasuke jauh lebih beruntung dari dirinya bisa mendapatkan perhatian dari gadis itu.

Merasa jenuh dengan keadaan yang terasa menggerogoti Sasuke berniat untuk memulai pembicaraan. "Apakah kau tahu tempat ini dimana?"

Gadis itu mengangguk dan kemudian meletakkan buka yang sedang dia baca disampingnya tanpa repot-repot menutupnya kembali.

'kalau kau ingin pulang. Aku akan mengantarkanmu ke halte bus.'

Setelah mendapatkan penjelasan singkat dari gadis yang masih belum dia ketahuin namanya itu, Sasuke tahu kalau dia berada di perbatasan Konoha dan Oto. Tempat ini masih sangat terpencil hingga tidak banyak orang yang mengetahuinya, dan entah bagaimana Sasuke bisa menyetir hingga ke sini seorang diri. Sasuke kembali mengutuk Naruto dan sang pelaku yang membuatnya terpaksa harus berusaha menghadiri pesta teman-temannya dengan naik mobil ke tempat tujuan dan berakhir dengan terjebak di daerah yang asing. Beruntung dia tidak mati dalam kecelakaan itu. Tetapi setelah di pikir-pikir lagi, mungkin setelah dia bisa kembali nanti dia harus berterima kasih pada Naruto yang di saat terakhir dengan tolol nya membawa tiket yang semestinya Sasuke gunakan untuk naik pesawat ke tempat pesta diadakan. Kalau bukan karena si Dobe itu, dia tidak akan mungkin bertemu dengan gadis yang berada di sampingnya sekarang.

Mata onyx Sasuke tanpa sadar terus melirik ke arah gadis berambut pink yang sedang berjalan di samping nya dengan langkah-langkah pelan. Dari peta penunjuk jalan yang berada di persimpangan yang telah mereka lalui, Sasuke tahu kalau perjalanan menuju ke halte bus masih lah cukup jauh. Hanya ada satu cara untuk bisa bepergian dari kota yang sangat terpencil ini, yaitu dengan menaiki kereta sinkansen yang jaraknya beberapa kilometer dari tempat mereka berdiri sekarang.

Sasuke tersentak kaget saat gadis yang sedari tadi berjalan di sampingnya tiba-tiba saja menarik tangannya hingga membuatnya nyaris kehilangan keseimbangan dan menariknya—nyaris setengah menyeret—Sasuke berlari bersamanya mengejar bus yang sudah hampir berlalu pergi dari pemberhentian bus.

Mereka berhasil naik ke dalam bus di saat-saat terakhir, dan mungkin karena tidak siap dengan keseimbangan di dalam bus ketika bus itu kembali bergerak, gadis pink di sampingnya itu kehilangan keseimbangan dan nyaris jatuh tersungkur kalau saja Sasuke tidak dengan sigap berhasil menangkap pinggangnya.

"Kau tidak apa-apa?"

Gadis itu mengangguk. Emerald bertemu onyx. Sasuke harus berusaha semua tenaga untuk tidak menculik gadis itu dan memaksa untuk tinggal bersamanya di Konoha. Segera ditepisnya pikiran sialan itu jauh-jauh dari kepalanya. Sasuke yang baru menyadari posisi mereka yang tidak berubah semenjak tadi buru-buru melepaskan pelukannya dengan berdehem kecil. Agak malu juga dia bisa kehilangan kendali didepan seorang gadis yang baru dikenalnya hari ini.

Seharusnya suasana di dalam bus yang sepi membuat Sasuke bisa mendapatkan banyak kesempatan untuk lebih mengakrabkan diri dengan gadis yang duduk di sampingnya tanpa harus merasa malu karena harus merendahkan dirinya demi seorang gadis. Terlepas dari apakah gadis itu bisa bicara atau tidak, harus Sasuke akui, dia adalah gadis tercantik yang pernah dia temui. Kecuali ibunya tentu saja, tapi itu tidak masuk hitungan. Tetapi Sasuke lebih memilih mengalihkan perhatiannya keluar jendela, benar-benar desa kecil yang sangat damai, dengan pepohonan tinggi menjulang dengan batang yang tertutupi oleh hijaunya lumut basah. Hanya ada ketenangan dan keindahan.

Kehidupannya sebagai bintang yang sedang bersinar terang membuatnya nyaris melupakan bagaimana rasanya kedamaian. Semua orang sibuk mengelu-elukan dirinya di mana pun dia berada tanpa peduli apakah dia sebenarnya tidak menginginkan semua kemewahan ini. Berada di sini bersama dengan seorang gadis cantik yang telah menyelamatkan hidupnya, rasanya seperti berada di surga dunia yang sesungguhnya.

Dia pernah mendengar ini biasa terjadi pada pria. Cepat. Kuat. Tidak logis. Hanya insting primitive yang mengambil alih. Dan yang terkuat adalah desakan untuk memiliki gadis itu secara fisik dan menandai nya dalam proses itu hingga semua orang akan tahu kalau gadis itu telah memiliki pasangan.

Sial! Egonya berteriak keras untuk bisa segera menjadikan gadis itu miliknya dengan cara apapun.

Sasuke duduk dibangku panjang yang disediakan para pengunjung untuk menunggu kedatangan kereta di stasiun sementara gadis pendiam itu menghilang entah kemana. Disinilah dia sekarang. Menunggu kedatangan kereta selanjutnya untuk bisa berangkat kekota sebelah sebelum berganti kereta dan bisa naik kereta kembali ke konoha.

"Apakah kita bisa bertemu lagi?" tanya Sasuke ketika gadis itu telah duduk di samping nya dan menyerahkan selembar tiket kepada pemuda berambut raven itu.

Gadis itu hanya tersenyum. Membuat Sasuke lagi-lagi harus melongo seperti orang yang terkena kerusakan otak karena terpana.

Kereta terakhir untuk hari ini dengan tujuan Kota kabut telah tiba di stasiun tempat mereka menunggu. Peron ini lengang dari orang-orang yang berlalu lalang karena memang tidak banyak orang yang menyadari potensi keindahan alam Kota terpencil ini hingga tidak banyak wisatawan yang datang berkunjung setiap harinya.

Sasuke berdiri di depan pintu kereta dan terus menatap gadis yang masih setia tersenyum, pemuda raven penerus nama besar keluarga Uchiha itu masih tidak berniat beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri hingga hingga akhirnya pintu kereta benar-benar tertutup dan kereta mulai melaju membawa tubuhnya semakin menjauh dari sosok gadis yang telah berhasil membuatnya terjebak dengan perasaan asing yang baru pertama kali dia rasakan. Meski tubuhnya telah berada jauh dari gadis itu— yang Sasuke harus merutuki dirinya sendiri karena lupa menanyakan namanya— bersama dengan kereta yang semakin menjauh, tetapi tidak dengan hatinya yang sepertinya telah tertinggal bersama gadis menawan itu di sana.

Satu yang menjadi pertanyaannya. Apakah mungkin mereka bisa bertemu kembali?

End or TBC?

R

E

V

I

E

W

If u stil want this fic continued.