Cast : Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun and other member SJ

Pairing : KyuWook

Genre : Drama/ Romance/Angst

Rate : T

Disclaimer : Ryeowook milik ku *digebuk* cerita ini real punya aku

Warning: Genderswitch, miss Typo(s), bahasa tak sesuai EYD

Don't Like Don't Read

.

.

.

-/-

Mata itu terpejam, terus terpejam hingga air yang keluar dari sudut-sudutnya bertambah banyak, hingga tubuh kecil yang menopangnya untuk berdiri jatuh terduduk. Koridor sekolah yang cukup sepi membantu Ryeowook menyembunyikan isakannya dari siapapun. Dia pergi, benar-benar pergi.

" Gwaenchana?"

Mata Ryeowook membulat saat sepasang lengan kekar mengunci pinggangnya, memeluknya dari belakang. "Kyuhyun?"

Wajah Ryeowook merona dengan senyuman lebar saat namja yang kini berpindah di depan Ryeowook mengusap pipinya pelan. "Aku Minho Wook-ah.". Senyumnya memudar sedetik ketika ia sadar wajah di depannya berubah, wajah tampan degan air muka pucat itu menghilang. Tidak! Kau tak akan bisa melihatnya lagi.

Tangan Ryeowook bergerak maju untuk mendorong bahu Minho dan berdiri, iris maniknya bergerak gelisah seperti orang kebingungan.

Belum sempat Minho berdiri, Ryeowook sudah meninggalkannya, berlari cepat keluar area sekolah, hingga sampai pintu gerbang kakinya terhenti. Sepi. Tak ada siapapun. Aku tak percaya ini.

.

-()()()()()-

.

"Kyu apa kau yakin?" Entah untuk keberapa kali yeoja bermarga Kim itu bertanya demikian. Untuk kesekian juga kepala Kyuhyun mengangguk berharap umma asuh yang merawatnya sejak kecil tersebut berhenti khawatir dan juga berhenti menggenggam erat pergelangan tangannya.

Siwon nampak tenang dan menepuk pundak Kyuhyun mantap. "Kau memutuskan untuk pergi, kalau suatu saat kau menemui kesulitan di negeri orang tanggunglah sendiri."

Kyuhyun memutar bola mata. Apa-apaan ini? Appa ingin mencegah atau menakutiku sih? Caranya aneh sekali.

"Kyu, apa kau benar ingin pergi?" Kali ini suara dari bibir Kibum yang melengkung ke bawah megukir tanda kesedihan. Bagaimana tidak? Choi Kyuhyun adalah anak semata wayangnya. Dan hanya karena masalah sepele –yang tak ia tahu- anak itu memilih menjadi seorang entertaint di negeri orang, meskipun tak sejauh Amerika ataupun Indonesia.

"Apa kau tak akan menyesal nanti Kyunnie?"

Kyuhyun menggeleng dalam sekejab.

Kibum maju satu langkah. "Kau punya pesan yang ingin disampaikan kepada Ryeowookie?"

Mendengar nama gadis itu, Kyuhyun menunduk dan berfikir. Jika pergi, aku tak bisa melihatnya lagi. Aku tak bisa mendengar suaranya lagi. Tak bisa. Tidak.

Dia membenciku. Berapa kalipun aku mencoba semuanya tak akan berubah. Kim Ryeowook kau pasti senang karena aku sudah pergi sekarang, tak ada orang sepertiku yang mengganggumu lagi.

"Kalau ragu tak usah pergi."

Kyuhyun berbalik menghadap yeoja yang sudah memberinya kesempatan menghirup udara di bumi. Susah payah membopongnya dalam perut buncit selama 9 bulan. Merawat dan memberi kasih sayang hingga 18 tahun. Namja tersebut tersenyum, meraih satu tangan Kibum dan menggenggamnya.

"Umma. Aku baik-baik saja, akan selalu baik-baik hari umma harus ada di layar kaca. Aku akan muncul disana. Umma pasti bangga," Mantap Kyuhyun menepuk dada sekilas.

"Teukki umma juga harus menonton," sambungnya yang kini beralih pada Leeteuk.

Kyuhyun melirik appanya yang masih bersedekap dada. "Tapi aku tak memaksa appa untuk menonton. Appa kan tak suka sinetron."

"Ya sudah, pergilah."

"Jaga diri baik-baik."

Kyuhyun meringis. Cukup beritahu bagaimana cara ia pergi jika tangan Leeteuk dan Kibum mempertahankan kopernya agar tak bergeser. Aigo! Kalau begini sih sia-sia saja.

"Hehe, umma aku pergi ya."

Kyuhyun memasang senyum sembari menyingkirkan kedua genggaman erat tadi pada kopernya.

Kibum dan Leeteuk sama-sama menggeleng, tapi bibir mereka berucap, 'Perglah. Hati-hati!'

Terdengar dengungan suara dari pusat informasi. 5 menit lagi pesawat akan siap landas. Tak bisa dipungkiri terjadi acara tarik menarik koper antara Kyuhyun versi 2 ibu rumah tangga.

Suara dari pusat kembali berdengung. 3 menit lagi.

Siwon yang dari tadi diam kini menggeleng. "Biarkan dia pergi!"

Kibum menatap protes suaminya yang membantu menyentak koper Kyuhyun dan membiarkan anak itu lari dan menghilang dari pandangannya setelah meninggalkan kata 'Sayonara'.

.

-()()()()()-

.

"Jadilah gadis mandiri. Jangan merepotkan orang lain."

Ryeowook lagi-lagi menggeleng. Bisa tergambar jelas di kepalanya bagaimana ekspresi Kyuhyun saat melafalkan kalimat itu sekalipun umma Kyuhyunlah yang jadi perantaranya.

"Itu pesan terakhir Kyunnie untukmu Wookie-ah." Kata-kata Kibum tadi siang terulang lagi.

Ahh apa maksudnya?

Jadi selama ini dia merasa repot olehku?

Dan 'pesan terakhir' ? Besoknya dia masih hidup kan?

Tanpa sadar Ryeowook mengerucutkan bibirnya dan berjalan menuju ranjang. Mata kecilnya tertumbuk pada tubuh mungil dengan senyum menawan tanpa mata berkedip yang terduduk di samping bantal milik Ryeowook.

Set.

Ryeowook menggelindingkan tubuhnya ke tengah kasur hingga posisi terlentang. Ia menyambar boneka barbie tersebut. Tangan Ryeowook mencoba merapikan rambut boneka kesayangannya. Dielus seribu kalipun, surai itu tetap pada julukan 'gimbal rambut jagung' yang diberikan Kyuhyun dulu.

Mata Ryeowook menyipit, irisnya menajam. Detik berikutnya ia pandangi jendela kamarnya yang memantulkan cahaya bulan. Gadis itu menghela nafas. Biasanya jam segini ponselnya akan berderig, berikutnya ia akan mendengar suara hangat Kyuhyun

"Chagiya, good night, saranghae."

Ryeowook menutup kelopak matanya. Membayangkan hal manis yang dibuat Kyuhyun minggu-minggu lalu.

Dan suara Kyuhyun benar-benar menjadi obat mimpi indah untuk Ryeowook, senyum menghiasi bibirnya sebelum terlelap.

Tapi kali ini?

Semua berubah. Bahkan semakin jauh.

Ryeowook meletakkan Bika dan mengangkat kedua tangan di depan wajah, merentangkan ke sepuluh jarinya. Satu persatu jari itu terlipat, bibirnya menggumamkan sesuatu yang samar

'Kyuhyun mungkin akan 4 tahun di Tokyo."

Saat sepuluh jari tertekuk, Ryeowook menggigit bibir. Tidak. 4 tahun ada berapa hari? Aku tak bisa menghitung hanya dengan sepuluh jari. Bahkan hari pertama pun belum dimulai.

Mata Ryeowook mulai terasa perih. Dinaikkannya selimut hingga menutupi wajah, tubuh kecilnya menggeliat tak nyaman di balik sana

Tidak! Jangan menangis lagi. Tak perlu memikirkannya lagi.

.

-()()()()()-

.

Kalian saling mencintai dan kau membuat semuanya menjadi berat, semakin sulit untuk hidupmu maupun hidupnya. Saat kau merasa kebohongan itu merugikanmu kau baru akan menyesal, berharap ia ada didepanmu, tersenyum lebar merentangkan kedua tangan bersiap mendekapmu. Mimpi. Kau cukup bermimpi untuk hal itu.

.

Hari kelulusan sekolah tiba, ini untuk hari ke tujuh aku tak melihatmu.

"Baguskan, setelah ini kita pergi konvoi habis-habisan."

"Ryeowook ikut nde?!"

"Hei. Jangan sembarangan memeluk orang."

"Pacarmu kan pacarku juga Minho."

"Ngawur."

Amber memukul kepala Taemin dengan gulungan kertas wisuda, namja itu membalasnya dengan senyuman aneh. "Amber. Apa setelah kelulusan ini kau bia menjadi gadis feminin?"

"Bisa dong."

"Memang kau bisa berdandan?"

Ryeowook dan Minho terkikik dengan pertanyaan konyol Key.

"Tentu saja aku bisa. Saat itu kau akan tergila-gila padaku."

Ryeowook dan Minho menghentikan tawanya atas nada dingin Amber.

"Eh, haha, aku kan hanya bercanda. Tumben kau sensi sekali." Key menepuk-nepuk bahu Amber takut, Jangan telan aku hidup-hidup!

Amber berhenti berjalan dan menatap Key tajam. Tiba-tiba saja hidungnya memerah. "Selama 3 tahun ini kau menganggapku apa? Gadis bodoh yang bisa sembarangan kau ejek dan kau ajak senda gurau benar kan?"

Ryeowook dan Minho saling memandang. Sepertinya ada kemarahan dalam tatapan Amber. "Apa kau tak bisa melihatku sebagai seorang yeoja? Apa aku tak pantas untuk kau rayu juga?"

Key menggaruk belakang kepalanya kikuk, baru kali ini Amber berucap lemah namun penuh penekanan. "Aku itu menyukaimu. Kau tak sadar sih. Pabboya!"

Drap Drap Drap

Mulut Minho dan Ryeowook sukses membulat, sedangkan Key hanya mematung memandang kepergian Amber yang makin jauh. Jadi selama ini Amber ingin dirayu? Euh bukan itu, yang lebih gawat dia menyukaiku?

Alis Ryeowook berkerut memandang ubin koridor dalam keadaan hening. Seharusnya hal seperti itu yang kuucapkan pada Kyuhyun sebelum ia pergi dulu? Tapi aku tak punya keberanian sebesar itu.

Key sepertinya masih terlalu takjub dan Minho lebih memilih diam dan mengikuti langkah Ryeowook pelan. Barangkali acara konvoi yang direncanakan Key gagal.

Ryeowook berbalik sekilas, melihat untuk terakhir kali gedung sekolahnya, mengingat pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun untuk masa SMA. Sekarang ia baru sadar namja itu benar-benar pergi.

"Waeyo." Kepala Ryeowook menoleh pada Minho yang sekarang berdiri di sebelahnya, ikut memandang gedung lantai 3 tersebut. Ryeowook hanya menggeleng, ia memang hanya bisa menggeleng. Tak mungkin ia bilang sedang memikirkan Kyuhyun. Namja yang mungkin sudah melupakannya. Hmm. Bukankah itu yang ia harapkan?

"Ayo, kita masih harus ke kampus baru, menyelesaikan pendaftaran." Ryeowook membiarkan tangan Minho menarik tangannya. Biar saja seperti ini, toh tak ada bedanya. Tak ada lagi orang yang marah dan uring-uringan saat ia berjalan dengan namja lain. Tak ada lagi orang yang seenak udel mengklaim Ryeowook sebagai miliknya mutlak dan cemburu tanpa alasan.

Minho dan Ryeowook. Apa mereka berpacaran? Sebenarnya Ryeowook tak pernah memberi jawaban apapun, tapi namja itu bilang,'Tak masalah, tak apa jika aku hanya dijadikan pengganti.' Dan semua orang cukup menebak mereka berpacaraan.

"Wookie, nanti mampir kerumahku ne, umma membuat sus pudding coklat."

Ryeowook tersenyum pada Minho yangmembukakan pintu mobil untuknya. "Hmm boleh. Masakan buatan Jaejoong ahjumma pasti enak."

.

-()()()()()-

.

"Bodoh apa yang kau lakukan."

"Mencoba berselingkuh dariku?"

"Memang kau fikir aku mencintaimu?"

Deg

Klontang!

Kaleng minuman yang ia genggam terlempar keras menatap tembok, matanya mendelik tajam. Sorot yang sama saat terakhir Ryeowook mentapnya.

"Kau tak mencintaiku? Tak masalah."

Ryeowook tertegun di tempat saat namja itu membelakanginya. Satu orang yeoja yang tiba-tiba datang dengan bayangan samar merangkul pinggang namja tersebut dan membawanya pergi. Tanpa menoleh lagi, jauh dan semakin jauh. Hingga semua terasa memudar, berganti dengan bulatan-bulatan warrna bening, menyerupai embun yang menempel pada permukaan kaca.

Ryeowook membuka mata lebar dalam hitungan detik. Maniknya bergerak gelisah memperhatikan langit-langit kamar.

Mimpi! Itu hanya mimpi!

Tangan Ryeowook bergerak mengusap pipi. Akhir-akhir ini ia sering bermimpi aneh. Bukan hal aneh sebenarnya, hanya sesuatu yang ia takutkan.

Ryeowook bangkit duduk dengan mata setengah terpejam pasca pemulihan otak setelah bangun tidur, ia meraih ponsel yang ada di atas rak meja. Tidak menyentuh hanya memandangi seksama.

Hari ini, hari ke tiga puluh ya?

Pip. Pip

Bahu Ryeowook terangkat kaget saat ponsel ditangannya bergetar, hampir saja benda mungil itu lucut dan terjatuh di lantai

1 pesan dari Henry.

"Kemana kau Ryeowook-ah, kau tak lupa presentasi pagi ini kan?"

Ryeowook memijat pelipisnya. Ah iya. Pasti Henry akan mengomelinya pagi ini. Aish dia juga belum belajar. Memasuki semester pertama, haruskah Ryeowook bersyukur, ia harus bertemu Henry lagi ditambah namjachingunya, Zhoumi.

.

-()()()()()-

.

Ryeowook menepikan tubuh di depan emperan toko, mengusap baju lengan kanannya yang separuh basah. Ish, bodoh. Kenapa aku tak membawa mantel tadi?

Gadis itu merapatkan kedua kaki, setidaknya itu bisa mengurangi rasa dingin akibat hujan yang terus menguyur bumi hingga sore ini. Tapi tak ada niatan Ryeowook untuk meninggalkan tempatnya berdiri. Kenapa aku ada di sini? Katakanlah bahwa aku gadis pengecut, selamanya pun tetap begitu.

Sorot mata Ryeowook melemah saat beberapa orang keluar dari gereja seberang. Satu dua orang membawa payung berwarna pink, menjadi guyupan untuk sepasang anak manusia yang saling berbagi pelukan hangat.

Upacara pernikahan sudah selesai ternyata.

Si yeoja melupakan gaun bagian bawahnya yang terseret dan basah, tangannya menggelayut manja pada pria tampan bertuksedo putih. Beberapa taburan bunga terbang dan menggenangi air

Mercedes Benz SLR McLaren melaju pelan tapi pasti, membelah jalanan cepat. Meninggalkan beberapa orang masih berdiri di bawah rintik hujan meneriakkan nama pengantin baru tersebut sambil mengibaskan sapu tangan.

Kecimpungan suara itu masih mengema di telinganya. Ryeowook menunduk dan berbalik, berjalan perlahan menembus keroyokan titik air yang makin banyak menghujam. Tersenyumlah? Kenapa aku tak bisa tersenyum?

Gadis itu mengepalkan tangan, di hari hujan ini ia sendiri. Di hari kebahagiaan sang kakak hanya dirinya yang bersedih. Apa itu wajar?

Apa yang aku tahu tentang kebahagiaan aku tak merasakannya, apa yang orang lain bicarakan tentang kepahitan yang berbuah manis aku tak mengalaminya. Kehidupan ini membohongiku. Seberapa lamapun aku menunggu, tak ada apapun yang kudapatkan.

Titik air hujan yang membasahi pipi Ryeowook bercampur dengan titik airmatanya.

Memang kepergian Kyuhyun membuat Leeteuk lebih sayang pada Ryeowook. Tidak! Sia-sia nona, tak aka nada yang berubah. Kau malah menimbun sendiri perasaan sakitmu.

Srek. Srek.

Ryeowook berhenti, menyandarkan pungungnya pada batang pohon besar di pinggir trotoar sekedar untuk tempat bertumpu. Diusapnya wajah beberapa kali, menghilangkan embun yang makin menebal di pelupuk matanya, namun sia-sia.

Di hari ke 100 ini dia tak juga datang.

Pembohong. Kau bilang kau tak akan pergi. Kau bilang kau akan selalu disisiku dan menemaniku. Kau bilang aku hanya boleh menangis didepanmu. Pembohong. Kau membiarkanku menangis sendiri seperti orang bodoh. Kau membiarkanku merasakan sakit ini sendiri. Choi Kyuhyun pembohong!

"Ryeowookkie!" Mata Ryeowook membulat setelah meneteskan embun terakhir lalu menoleh ke samping kanan, seorang yeoja yang membawa payung hitam mencengkeram bahunya khawatir. Wajah Ryeowook memang sangat pucat. "Gwaenchanayo?"

Ryeowook hanya menggeleng, tapi ditanya dan ditatap intens begitu semakin membuatnya makin ingin menangis.

"Ahjumma. Hiks."

Yeoja yang membawa payung tadi mengelus lembut punggung Ryoeowook, membiarkan gadis seumuran anaknya untuk memeluknya. "Ada apa? Apa Minho menyakitimu?"

.

"Ryeowook panas, menginaplah semalam disini."

"Benar! Kau bisa tidur dikamarku!"

"Minho!"

"Ehm, maksudku di samping kamarku ada kamar tamu."

Kepala Ryeowook mengangguk sekilas, sungguh kali ini mungkin ia kena flu. Padahal biasanya ia kebal meski berjam-jam dibawah air hujan saat kecil dulu. "Baiklah, aku akan menelepon umma dulu. Maaf merepotkan."

Ryeowook berbalik dengan langkah tertatih dituntun oleh Minho.

"Wookie-ah."

Ryeowook menoleh ke belakang mendengar panggilan dari ibu Minho.

"Emm, apa hadiah yang kemarin kutitip sudah kau berikan padanya?"

Alis Ryeowook bertaut mendengar pertanyaan Jaejoong, hanya sebentar wajah itu kemudian tersenyum "Ah nde, Heechul eonni bilang dia sangat suka dengan figura pemberian adhjumma."

.

'Yoboseyo, kediaman keluarga Kim!'

"Yoboseyo umma."

'Wookie?'

Ryeowook menggigit bibir dan memejamkan mata, sedikit takut jika setelah ini ummanya akan menjerit histeris dan memintanya pulang sekarang juga. Ah, tak mungkin ia pulang dengan mata bengkak, Leeteuk pasti curiga.

"Hari ini aku tak bisa pulang, aku menginap di rumah teman."

'MWO!?'

Ryeowook menjauhkan gagang telepon dari telinganya sebelum ia kena tuli dadakan.

"Cuma semalam."

'Apa kau bilang? Ulangi perkataanmu!'

Ryeowook bergidik ngeri, teriakan Leeteuk mirip jeritan penagih hutang pasar.

"Umma, kepalaku pusing, aku sakit. Bolehkan aku menginap dirumah temanku, ini terlalu malam."

'Mau mencari gara-gara kau?'

"Bukan begitu, aku hanya merasa tak sang..."

'Arra-arra, tapi besok pagi bawa temanmu itu ke sini, meyakinkan saja kau bohong atau tidak. Dan kalau sakit cepat minum obat dan tidur, jangan menyusahkan orang sekelilingmu.'

'Kyuhyun, duduklah dulu biar umma ambilkan cake untukmu!'

Cklek.

Siiiinnggggggg…

Ryeowook terpaku, dengan telepon yang masih tertempel di telinga. Bukan karena perhatian yang terkesan dingin dari Leeteuk, itu sih sudah biasa.

"Kyuhyun?" gumam Ryeowook pelan. Benar telinganya tak salah tangkap, bahkan dengan jelas ummanya menyebut nama Kyuhyun. Sejak kapan?

.

Drap.

"Kau mau kemana?"

Ryeowook gugup mendengar teguran Minho dari belakang saat kakinya hampir saja meninggalkan rumah Minho, gadis itu diam di tempat kala Minho berpindah didepan hidungnya.

"Nnggg aku.."

"Ini sudah malam, kau juga masih pucat. Lebih baik istirahat saja."

"Tidak bisa, aku harus menemui seseorang."

Alis Minho terangkat. "Menemui siapa?"

"Aku harus bertemu Kyuhyun."

Ryeowook reflek mengunci mulut, apa yang ia katakan tadi mungkin saja menyinggung perasaan Minho.

"Apa maksudmu Wookie-ah? Dia itu tak ada di sini!"

Ryeowook mendongak dan menemukan tatapan tajam Minho. "Tidak, dia ada disini. Aku mendengarnya tadi." Ryeowook menggeleng ragu

"Lalu apa? Setelah menemuinya memang apa yang akan kau ucapkan?"

Ryeowook menunduk. Benar? Memang apa yang ingin ku ucapkan? Bukankah aku membencinya. Tak seharusnya aku menemui Kyuhyun. Di sisiku sudah cukup ada Minho.

"Masuklah dan istirahat."

.

-()()()()()-

.

"Kyuhyun, hanya menginap satu malam, memang di depan tadi kau tak berpapasan dengan anak itu? Sayang sekali padahal dia juga datang ke gereja kemarin. Pagi ini dia langsung kembali."

Ryeowook memutar otak, mengingat kembali namja tinggi yang tadi keluar tergesa, melesat berlawanan arah disampingnya dengan topi hijau menutupi setengah wajah. Tadi itu Kyuhyun? Kenapa tak menyapaku? Atau sekedar menanyakan kabarku? Ish

Hmm, mungkin takdir memang tak berpihak pada kalian.

Ryeowook mengangguk paham dan berjalan lesu, meninggalkan rumah Kibum, menuju rumah sebelah. Di teras sana berdiri Minho yang memberi tatapan kecewa. Sepertinya ia sangat berarti untukmu.

.

-()()()()()-

.

"Eonni, Teukki eonni!'

"Wae Kibummie?"

"Lihat, Kyuhyun mengirim paketan."

"Benarkah. Mana? Mana?"

Ryeowook mendengus sebal mendengar suara gedebugan dari luar kamarnya. Bahkan suara headset yang menyumpal telinganya kalah dengan pekikkan Leeteuk.

Cklek.

Ryeowook menutup pintu kamar pelan dan mengendap berjalan keruang tengah. Di sana Leeteuk dan Kibum duduk bersebelahan dengan tangan merebutkan selembar foto. Ryeowook menempelkan telinganya dibalik tembok. Oh, menguping adalah kegiatan yang mengasyikkan untuknya.

"Aigo! Kyuhyun makin bertambah tampan," ucap Leeteuk dengan bibir berdecak.

Deg. Deg

Ryeowook menggeleng dengan wajah memerah. Wajar sudah 2 tahun ia tak melihat Kyuhyun. Setampan apa pria itu sekarang? Apa dia mulai punya kumis tipis? Atau dadanya sekarang tumbuh bulu? Aigo, jangan-jangan tangan dan kakinya juga. Eh?

Ryeowook bergidik ngeri. Yak! Jangan membayangkan yang tidak-tidak.

Saat kepalanya melongok sedikit, Ryeowook dapat melihat 2 ibu rumah tangga itu tengah merentangkan sesuatu yang mirip baju berbahan kain katun tipis warna biru dengan corak bunga sakura. Sebuah yukata, sejenis kimono yang dipakai setelah selesai mandi atau dipakai saat menjelang musim panas ataupun perayaan matsuri di Jepang.

"Apa-apaan Kyuhyun, kenapa hanya mengirimkan satu, dan ini kecil sekali lengannya. Aigo!"

Tap tap

Mata Ryeowook mengawasi 2 orang yang kini berjalan keluar rumah, meninggalkan begitu saja, barang yang sempat membuat kehebohan tadi di atas meja. Satu sudut bibir Ryeowook terangkat, sembari berjalan memasuki ruang tengah.

Sebuah foto membuat Ryeowook terpana. Hmm tidak! Kyuhyun tidak berkumis. Bayangannya terlalu berlebihan. Di dalam foto itu menggambarkan senyum lebar Kyuhyun dengan deretan gigi putihnya dengan satu tangan mengacungkan jempol di depan dada. Rambut ikal berwarna coklat yang pendek tanpa poni membuat Kyuhyun terlihat segar.

Tapi di foto itu Kyuhyun tak berpose sendiri, 2 wanita cantik di samping kanan dan kirinya juga memamerkan senyum yang tak kalah lebar, masing-masing menempel pada sisi tubuh Kyuhyun.

Tampan? Jika diamati lagi memang ada sedikit perubahan. Seperti pria dewasa pada umumnya, bahunya terbentuk lebar dan kokoh. Dagunya makin runcing dengan rahang tajam, tapi mata bulat itu tak berubah, masih teduh, mampu menenggelamkan siapa saja yang menatapnya.

"Siapa dua yeoja ini? Semua artis memang sama, playboy." Ryeowook menggerutu dan menggembungkan pipinya. Lagi-lagi kenapa dia harus kesal tanpa alasan.

Sejauh ini Ryeowook sering melihat drama yang diperankan Kyuhyun, membeli kaset diam-diam dan menontonnya, memutar ulang sampai ia puas. Sekalipun Kyuhyun tak pernah menjadi pemeran utama untuk 2 judul yang pernah ia bintangi, tapi namanya cukup terkenal di kalangan kampus Ryeowook. Tapi benar, wajah Kyuhyun terlihat berbeda dan lebih dewasa dalam foto yang ia lampirkan.

Mata Ryeowook beralih pada Yukata warna biru laut, merentangkannya beberapa saat sebelum mencoba memakainya

Pas. Yukata ini pas sekali untukku. Jangan-jangan Kyuhyun memang memberikan ini untukku? Ah, besar kepala kau Kim Ryeowook

.

-()()()()()-

.

"Tiket ke Tokyo, 4 pasport."

"Pesawat datang 1 jam lagi."

"Huftt. Semoga perjalanannya menyenangkan."

Henry mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan bibir komat-kamit. Di belakangnya Zhoumi mengusap punggungnya beberapa kali, membantu agar yeojachingunya ini berhenti untuk gugup. Ryeowook sendiri masih tenang duduk di kursi ruang tunggu, memikirkan semua barang yang ia perlukan sudah ia bawa, termasuk Yukata dari Kyuhyun yang ia ambil tanpa ijin Kibum dan Leeteuk seminggu lalu. Minho, kegiatannya masih sama. Memperhatikan Ryeowook, meskipun ia tak bisa membaca apa yang ada dipikiran gadis tersebut.

Setelah berusaha keras selama musim panas. Ryeowook, Henry serta Zhoumi mati-matian belajar untuk 3 tiket liburan bebas negara Asia, ke Jepang selama seminggu? Kenapa mereka tak memilih Indonesia saja?

Tentu Ryeowook sudah memikirkan hal ini, bahkan sama-sama berencana dengan Henry yang senantiasa membantunya, meski gadis mochi itu terkesan cerewet dan suka mengatur.

Mata Henry sejenk melirik Minho sebal, lirikan yang sama seperti 2 tahun lalu pada Taemin. Kenapa? Kenapa namja itu selalu membuntuti Ryeowook?

Alasan pertama, Minho tak tega membiarkan 2 gadis pergi jauh, apalagi hanya didampingi 1 namja Zhoumi, ia seperti memiliki tanggung jawab yang tak diminta pada Ryeowook.

Alasan kedua, Minho mengatakan secara terang-terangan tentang, 'Aku tak suka kau menemui Kyuhyun lagi. Biarkan aku ikut!'

Apa sebenarnya hak Minho melarang Ryeowook. Tapi suatu hal mustahil jika Ryeowook tak bertemu Kyuhyun.

.

Zhoumi menghela nafas sebentar begitu menginjakkan kaki di bandara Haneda, menyeka keringat sebesar biji jagung meski siang itu tak begitu panas. Tapi ini untuk kali pertama ia naik pesawat. Boleh kan ia grogi?

Minho menggenggam tangan Ryeowook erat, seolah takut yeoja itu melarikan diri darinya.

Tap Tap.

Ujung sepatu kets warna biru menyita perhatian Ryeowook, warna yang ia kenali, satu orang asing menghalangi jalan Ryeowook.

"Apa kabar semua," sapa orang tadi dengan logat Korea.

Ryeowook mendongak dengan pipi yang sudah bersemu merah, Choi Kyuhyun tepat menatap kedua manik karamelnya.

"Teukki umma menyuruhku untuk menjemput kalian. Yah dariupada nyasar."

Choi Kyuhyun beralasan sendiri sebelum ditanya lebih lanjut kenapa ia bisa ada di sini?

Namja itu memakai masker dan kacamata bening serta jaket putih berkerudung, dipunggungnya menempel tas ransel kecil yang menggelembung. Sebagai seorang artis, penyamarannya mudah ditebak orang.

"Kyuhyun, kau Kyuhyun?" Zhoumi berteriak dengan nada tinggi seolah tak percaya dan menunjuk wajah Kyuhyun. mereka berhighfive sebentar sebelum saling berbagi pelukan teletubbies. Henry masih cukup tercengang sebelum akhirnya ia menyalami Kyuhyun. Sepertinya Minho adalah orang yang paling tak antusias dengan kondisi ini.

"Kyuhyun apa kabar?" tanya Henry.

Kyuhyun merentangkan kedua tangannya, pipi Ryeowook sempat memanas saat mengira namja itu akan memeluknya, ternyata tidak.

"Seperti yang kalian lihat, aku memang bertambah tampan. Itu kan yang ingin kalian katakan?"

"Kau tak berubah Kyu," ujar Zhoumi ingin menonjok bahu Kyuhyun, namja itu dengan cepat mengelak.

Ryeowook masih diam sampai Kyuhyun menatapnya lagi.

Set, Kyuhyun melepas kacamata dan menurunkan maskernya sampai dagu. "Apa kau lupa padaku?"

Pertanyaan yang diajukan pada Ryeowook seolah termakan angin, gadis mungil itu malah memalingkan wajahnya. Kyuhyun berdecak sekilas lalu memasang kempali properti wajahnya.

"Ayo ikut aku, akan kucarikan apartement bagus selama liburan kalian."

Kyuhyun berjalan paling depan, sesekali ia menoleh pada Ryeowook yang berjalan di belakangnya masih tanpa suara.

Sampai di samping mobil warna hitam, Kyuhyun berhenti dan berbalik. Kini pandangannya tertuju pada Minho. "Mobilku hanya muat tiga orang. Jadi kau cari kendaraan lain atau mau jalan kaki itu lebih sehat."

Tak melihat respon berarti dari dari Minho, Kyuhyun melebarkan smirknya. Tangannya dengan gesit menarik pergelangan Ryeowook. "Biar dia bersamaku."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

Sorry lama, ish kenapa aku selalu telat. Mianhee

Apa chapter ini terasa aneh, mian aku jadi pusing sendiri hehe.

For Jmhyewon, yoon HyunWoon, dewdew90, SparKSomniA0321, choi Ryeosomnia, dwiihae, Kim Jung Min, Kyute EvilMagnae, Cho Kyuwook, Kim Jung Min, Sunny, SimbaRella, JuneeRyeosomnia, ryeofha2125, Rye, kim hae rim, Saki90, rizkyeonhae, kyuwooksbaby, ryeosomNia14, AIrzanti, LeeKim, , Stephanie Choi, Redpurplewine, devi. , VIPKYUHYUNEUNHAESHIPPER, RyeoRim411, ilma, mink, Kim Ryuna, RilyNette10, mira and another guest.

Makasih udah ripiu chapter sebelumnya ^^

Dan mungkin alur chapter ini ekspress, mian mengecewakan.

Akhir kata.

RIPIU PLEASE