Tokyo International Airport – One Week Later

Sepasang suami istri berpakaian necis itu berjalan keluar dari bandara dikawal beberapa penjaga khusus yang berseragam resmi, sang namja tampan sibuk dengan alat komunikasi canggih miliknya sementara sang yeoja cantik disebelahnya hanya diam sembari mengapit lengan kekar sang pendamping. Kemudian, keduanya masuk ke dalam limousin hitam yang sudah terparkir tepat di pintu kedatangan bandara besar yang cukup terkenal itu.

Kibum menghela nafasnya sembari memainkan jari-jemarinya, bosan. Musim semi seperti ini seharusnya membuatnya senang, setelah pikiran dan tenaganya dikuras habis dengan masalah-masalah yang terjadi belakangan, yang ada dibayangannya ketika keluar dari Korea adalah ia bisa melepas penat dan membuang jauh-jauh semua masalah yang ada. dengan seorang suami disisinya serta keluarga besar yang begitu mencintainya.

Berkali-kali ia memandang resah pada beberapa orang yang ada dibelakangnya. Dikawal dengan penjagaan super ketat seperti ini membuatnya mual. Tatapan-tatapan itu, seolah menganggapnya bukan manusia biasa. Ini aneh,tapi memang kenyataanya ia merasa tatapan mata-mata yang berada dibelakang keduanya seolah terkesan dingin, dan tidak mau tahu apapun. Yang terpenting, tugas mereka menjaga 'sepasang' manusia yang 'derajatnya diatas mereka' selesai, kemudian beberapa bodyguard ini akan mendapatkan imbalan yang sesuai.

Jujur saja, pergi bersama-sama untuk urusan bisnis membuatnya setengah kikuk. Kibum tidak terbiasa dengan banyak orang disekelilingnya seperti sekarang, apalagi nantinya ia harus menemani Siwon dan tentunya itu berarti ia akan melihat lebih banyak lagi orang-orang disekitarnya dengan urusan dan kepentingan yang berbeda-beda. Yang ia tahu selama ini hanyalah Siwon pergi, lalu pulang beberapa hari kemudian. Sedikit mengeluhkan tentang para kolega-kolega bisnis itu atau bercerita tentang pengalaman keluar negrinya, dan begitu melihat kenyataan yang seperti ini, Kibum seratus persen percaya bahwa apa yang Siwon ceritakan tentang pengalaman menyenangkan dan bla-bla-bla semuanya itu bohong. Atau setidaknya, pria tampan yang sibuk sendiri itu sedikit mengarang tentang ini. baru beberapa menit menginjakkan kaki di Jepang saja Kibum sudah tahu ini akan membosankan, ugh!

Ia memandang hamparan padang rumput yang luas itu sembari menguap. Bosan juga, ia seperti manusia yang paling tidak diharapkan kehadiranya disini. Siwon hanya sibuk dengan gadgetnya sembari sesekali menatapnya seolah meminta pengertian, mau mengajak bicara supir yang membawa mereka sangat tidak mungkin. Ia memang cukup pintar tapi tidak cukup pintar juga untuk berbicara fasih dengan bahasa jepang. Jadi sedari tadi jari telunjuknya hanya mengetuk-ngetuk kaca seperti orang bodoh.

Kibum harus mengakui, kehidupanya jadi serba canggung sejak hubungan rahasianya dengan Kyuhyun yang memang pada dasarnya tidak mudah bersosialisasi dan kemudian bertemu dengan pria yang setipe denganya seperti Kyuhyun langsung merasa 'klik' satu sama lain. Namun ia masih cukup sadar untuk tidak berhubungan lagi dengan pria itu, meskipun di dalam hati masih sangat sangaat mencintai dan merindukan sosok gamers itu akal dan jiwa sehatnya seolah menahan diri untuk melakukan hal yang tidak-tidak. Sudah banyak sekali orang yang tersakiti hanya karena ulah keduanya, jadi, lebih baik ia menutup rapat-rapat pemikiran tolol yang tiba-tiba saja terlintas dipikiranya dan memutuskan untuk memejamkan matanya untuk beberapa saat.

"Bummie? Bummie? Kita sudah sampai.." Siwon menepuk-nepuk bahunya halus beberapa saat ketika ia sudah nyaris terlelap tidur. Kemudian ia mengangguk dan bersiap-siap keluar.

"Ah ne, Siwonnie.."

Begitu membuka kedua obsidian indahnya itu Kibum disuguhkan dengan pemandangan sebuah hotel mewah bergaya rumah tradisional Jepang. Pohon-pohon disekelilingnya ditambah lagi dengan bunga sakura yang bermekaran itu seolah menyambutnya dengan baik. Ia begitu terpukau dengan pemandangan kota tekhnologi yang satu ini. tak lama mengurus check in mereka bahkan hanya dengan waktu beberapa menit saja Kibum dan Siwon sudah masuk ke dalam sebuah kamar mewah dengan ornamen alam disekelilingnya disertai warna-warna yang begitu natural, membuat Kibum semakin nyaman saja berada di tempat seperti ini.

Ia memasukkan koper kedalam lemari dan menata barang-barang keduanya diatas meja rias. Sementara Siwon sudah fokus berbaring melepas penatnya diatas kasur yang empuk itu, tak lama, Kibum ikut bergabung dengan suaminya dan berbaring dipelukan Siwon.

"Kau menyukainya?" Siwon memulai percakapan. Tanganya yang tidak bisa diam membelai-belai pucuk rambut Kibum dengan manja.

Kibum mengangguk, "Ne.. tentu saja. Tumben kau tidak memilih hotel modern atau sebagainya"

"Itu semua karena kali ini kepergianku spesial, ada kau yang menemaniku jadi kita harus menginap di tempat yang spesial juga" Alasanya terdengar masuk akal di telinga Kibum, "Oh ya, satu jam lagi ada meeting dengan klien, apa kau mau ikut? Atau disini saja?"

"Aku disini saja" Jawab Kibum malas. Baru saja romantis-romantisan namja itu sudah mau pergi lagi? membuat moodnya tiba-tiba saja jadi sedikit memburuk, "Lagipula kita baru datang dan kau terlihat begitu lelah. Apa sebaiknya kau tidak istirahat saja dulu sebentar, Wonnie?" Keluhnya pada pria itu.

"Tidak bisa Bummie, bagaimana nasib karyawan-karyawan kita jika atasanya tidak bekerja dengan baik juga untuk mereka? Kau kan tahu aku harus mengatur beberapa ribu manusi—"

"Ya ya ya" Balasnya tak peduli. "Tapi kau juga harus memperhatikan kesehatanmu juga, apa karyawanmu mau mempunyai bos yang sakit-sakitan?"

Siwon hanya terkekeh kecil kemudian mengecup bibir Kibum halus. Menghentikan ocehanya yang terdengar persis sekali seperti Umma-nya. Ia senang Kibum berisik seperti ini karena sebagai pria normal, jujur saja ia sangat suka diperhatikan terutama dari orang yang paling ia sayangi.

"Sepertinya mulai dari sekarang aku harus mengatur jadwalmu yang gila-gilaan itu" Kibum bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap tubuh Siwon yang masih dalam keadaan terlentang, "Aku tidak mau suamiku seperti pekerja rodi yang tidak terurus"

Melihat pria itu hanya mengangguk-angguk saja sebenarnya membuat Kibum khawatir. Bukanya ia tidak tahu bagaimana pria itu benar-benar Sibuk hingga rasanya tidak punya waktu untuk kehidupan sosial. Bangun di pagi hari, berangkat ke kantor dan malamnya terkadang masih harus menghadiri acara-acara sosial kemudian menyelinap keluar dari kamar ketika ia sedang tidur dan kembali berkutat dengan laptopnya, tak jarang Kibum menemukan namja itu sudah tertidur lelap di atas meja kerja. Bagaimana kekhawatiranya tidak semakin menjadi jika suaminya terus-terusan melakukan semua itu?

"Ne.. baiklah Nyonya Choi" Ia yang sudah jelas kalah dari Kibum hanya mengangguk-ngangguk lagi sembari terkekeh kecil.

.

.

.

"SECRET"

Cast :

Cho Kyuhyun

Kim Kibum

Choi Siwon

Lee Sungmin

KyuBum, Sibum and KyuMin couple.

Warning: Genderswitch, Typo(s)

Don't like the cast or plot. Do not BASH, please.

.

.

.

.

.

.

Kemudian Kibum yang berbaring dan terpejam itu lama kelamaan tidur juga. Karena kelelahan, begitu membuka mata dan menoleh ke samping jendela yang terlihat sedikit gelap. Benar saja, begitu melihat kearah layar smartphonenya ia dikejutkan dengan angka yang tertera disana, Pukul enam. Dan Siwon sudah tidak ada.

Perutnya yang kosong dan minta diisi itu seolah meraung-raung, dan pada akhirnya membuat Kibum terpaksa keluar kamar dan turun beberapa lantai pergi ke sebuah restaurant khas jepang. Cukup ramai, mungkin karena di musim semi seperti ini banyak sekali orang yang menghabiskan waktunya untuk mengunjungi tempat-tempat indah. Ya seperti tempatnya menginap sekarang.

Karena sendirian, ia memutuskan duduk di sushi bar. Tidak ada teman di tempat seperti ini memang sungguh membosankan, sembari makan, sesekali ia menoleh ke kiri dan kanan atau kebelakang mejanya. Berharap ada seseorang yang ia kenal lewat dan sebagainya. Terkadang, Kibum menyesal juga menjadi orang yang sangat pendiam, ia jadi tidak memiliki banyak teman juga tidak pandai memulai pembicaraan. Meskipun begitu, ia sudah cukup bahagia mendapati kenyataan dengan keterbatasanya berkomunikasi ia masih bisa memiliki suami dan teman-teman yang cukup baik.

"Kibum?"

Begitu menoleh kebelakang, nafasnya tercekat. Seperti tidak bisa berkata-kata pada lawan bicaranya yang tampak tenang dan tersenyum kecil kearahnya maka sebaliknya, nafas Kibum memburu. Seperti seorang teman dekat pria ber jas cokelat susu itu kemudian menarik sebuah kursi kedekatnya dan tentu saja, tak lama ia duduk disebelah Kibum.

"Apa… Kabar?"

Kyuhyun mencoba tersenyum pada Kibum yang terlihat kaget dengan kemunculanya tiba-tiba, sebenarnya ia sendiri tidak sama sekali menyangka akan bertemu Kibum disini. Bukan di Seoul, tapi di Jepang yang berjarak amat jauh dari kota tempat ia tinggal. Namun rasa penasaranya akan gadis bergaun pastel yang begitu mengingatkanya pada Kibum membuatnya memberanikan diri untuk mendekat dan memanggil nama itu dengan refleks ketika ia sudah yakin betul yeoja itu adalah Choi Kibum.

"B-baik, dan kau?"

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja" Ia tertawa renyah, namun dalam hati mati-matian berusaha tampil senatural mungkin.

"Bagaimana bisa.. kau ada disini, Kyu?" Tanya Kibum.

"Ada seorang client yang mengajukan gugatan di pengadilan distrik ini jadi aku ikut.. dan kau?"

"Bersama Siwon" Balasnya singkat. Sungguh, rasanya Kibum ingin cepat-cepat pergi dari sini! Melihat sosok tampan itu didekatnya bisa membuatnya lupa diri.

Kyuhyun hanya mengangguk-ngangguk saja menatap sosok Kibum yang terlihat tidak acuh denganya. Tanpa menghiraukanya lagi Kibum yang sedang memegang sumpit itu langsung menyantap hidanganya. Melihat Kibum sedingin ini… membuatnya merasa sedikit kecewa. Sedikit, hanya sebatas itu. Kyuhyun sadar, ada sebuah dinding yang tebal dihadapanya untuk berhubungan dengan Kibum, lagipula ada Sungmin dan calon bayi mereka yang begitu ia cintai. Ia tidak berharap lebih dari pertemuan ini, dan sepertinya Kibum juga begitu. namun bayangan dan kenyataanya sungguh tidak sesuai, setidaknya, yang terlintas diotaknya Kibum akan.. setidaknya tersenyum. Tapi mana senyuman yang dulu membuatnya bisa tergila-gila? Kini yeoja itu persis seperti patung es. Sudah putih, dingin pula.

Mengikuti yeoja cantik itu, Kyuhyun akhirnya juga ikut makan. Hiruk pikuk suasana membuat keduanya fokus pada makanan masing-masing tanpa ada sepatah dua patah kata. Tak bisa dipungkiri, jantung keduanya berdebar kencang. Ingin memulai pembicaraan—tapi sama-sama menahan diri. Alhasil, gerakannya jadi kagok tidak karuan.

Lama sudah tidak bertemu. Tentunya, banyak sekali perubahan yang terjadi pada mereka berdua dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dua orang yang biasanya akrab dan bahkan masuk tahap intim kini hanya diam membisu. Tidak ada yang mau memulai membuat keduanya benar-benar seperti sepasang manusia yang hanya tiba-tiba saja duduk bersampingan. Tanpa ada hubungan, atau kenal sama sekali.

Namun kedua mata Kyuhyun tidak bisa berbohong. Bagaimanapun ia mencoba mengalihkan pandanganya, kedua bola matanya tetap saja menoleh kekanan, menatap Kibum dan memperhatikanya diam-diam. Kibum bertambah kurus sekarang, raut wajahnya juga sedikit pucat seperti banyak tekanan. Wanita yang tidak pernah susah itu sepertinya kini mendadak depresi atau semacamnya. Kyuhyun tidak tahu, yang jelas bukankah masalah Kibum dengan Sungmin sudah beres? Lalu, apa lagi yang yeoja itu khawatirkan? Siwon kah? Tidak mungkin. Pikirnya. Pria itu bahkan dengan mudahnya memaafkan Kibum begitu saja.

"Sungmin apa kabar?"

"Apa?" Tanyanya lagi ketika baru sadar Kibum berbicara padanya. Yeoja itu membuka mulutnya sembari menengguk ocha dingin miliknya.

"Kubilang, bagaimana kabar Sungmin?"

"Baik-baik saja" Balasnya santai, "Tapi dokter tidak membolehkanya ikut, katanya tidak baik wanita hamil bepergian naik pesawat"

"Oh"

Kibum hanya manggut-manggut lalu berbalik badan lagi. ia sama sekali tidak mau berbicara dengan Kyuhyun, menatap punggung tubuh namja itu saja ia sebenarnya tidak berani. Namun bosan juga duduk berjam-jam seperti orang bodoh, tanpa teman.

"Kau terlihat lebih kurus"

"Terimakasih, itu pujian atau hinaan, Kyu?"

"Tidak, maksudku,kau terlihat kuyu sekali. Kau sakit?"

"Tidak juga.." Kibum menghela nafas dan memejamkan kedua matanya. Nah, tampak lingkaran kantung mata seolah tidak tidur berhari-hari. "Aku baik-baik saja dan tenang sekali menghadapi ini"

Bohong. Hatinya berteriak minta tolong. Penyesalan menghantuinya. Membuatnya tidur ditemani mimpi buruk tentang Siwon, membuatnya makan memikirkan Sungmin dan membuatnya harus membenci takdir. Ia pembohong yang baik.

"Uhm..kau yakin?" Ia menatap tubuh Kibum sekali lagi, tapi tubuh lelah itu tidak terlihat begitu.

"Tentu saja"

Namun Kibum sudah merasa tidak nyaman. Yeoja itu mengangkat tubuhnya dan berdiri menghadap Kyuhyun, tersenyum kecil dan memamerkan deretan gigi putih porselenya, sembari menenteng tas kecilnya ia berkata, "Sudah begini malam, aku pergi dulu, sampai jumpa"

Tergesa-gesa pergi dan langsung menghilang dari pandangan Kyuhyun begitu saja, sebenarnya mengapa Kibum bersikap aneh seperti itu? Membuatnya binggung sendiri dan hanya bisa memandang wajah itu dari kejauhan.

.

.

.

"Bummie…"

Siwon melingkarkan kedua tanganya erat ke tubuh Kibum yang sudah tertidur, pria itu mengendus bau pasanganya. Harum dan menenangkan.

"Ah.. ne, Wonnie?"

Yeoja itu berbalik badan dan mensejajarkan tubuhnya dengan Siwon yang masih dengan pakaian kerja lengkap. Sembari tersenyum halus, ia memainkan rambut Siwon dengan jari-jarinya yang lentik. Namja itu, benar-benar merasa bersalah sudah meninggalkan Kibum sendirian seperti ini dan tampak sekali dari raut wajah Kibum istrinya itu bosan bukan main.

"Maafkan aku.."

"Gwencanayo,Wonnie, aku tidak apa-apa. Kau sudah makan?" Dengan sigap Kibum membantu suaminya melepaskan dasi dan menggantung tuxedo yang masih dikenakanya. Sembari mengikat rambutnya dan menguncirnya cepat yeoja itu terlihat sibuk mengurus Siwon yang masih merebahkan tubuhnya kelelahan.

Siwon mengangguk, "Sudah, tadi klien itu memaksaku untuk makan bersama direksi yang lain.. kau sendiri, sudah makan?"

"Sudah kok, bagaimana dengan pekerjaanmu, Wonnie? Sudah selesai semua, kan?" Kibum memandang tubuh tinggi tegap yang sudah mengenakan mantel tidurnya itu penuh harap. Ia ingin sekali memiliki waktu berdua saja dengan Siwon di tempat seromantis Jepang. Tanpa gangguan pekerjaan yang menumpuk bukan main seperti ini.

"Sebenarnya tinggal sehari lagi lalu kita bisa mengunjungi Eomma dan Appa. Lalu,semuanya selesai" Siwon mengecup dahi Kibum dan menahanya ketika akan memindahkan kemeja Siwon ke keranjang baju kotor, "Lalu, disini. Hanya ada aku, dan kamu" lanjutnya manja.

"Gombal" Kibum menepuk dada suaminya kesal, "Buktikan saja. Tidak usah banyak plannning. Sudah berapa kali urusan bisnismu itu membuatku sendirian"

"Ne princess.."

Siwon terkikik kecil.

"Sana mandi!"

Kibum melempar handuk putih kemuka suaminya sendiri kesal.

Siwon sebenarnya sudah menyiapkan kejutan istimewa untuk Kibumnya seorang. Hokkaido, berdua saja selama seminggu, hohoho.. Kibum pasti akan senang sekali mendengarnya. Namun ia masih menutup rapat-rapat berita baik ini dan menyimpanya untuk besok. Rencananya pagi ia akan pergi mengurus semuanya lalu menjemput Kibum dengan dalih-dalih harus ikut bertemu investor bersamanya.

Selesai mandi ia mendapati Kibum-nya sudah terlelap lagi. ah biar saja Kibum beristirahat dulu agar ia bisa leluasa menyiapkan kejutan berikutnya. Yang terpenting baginya hanya Kibum, prioritas hidupnya. Sembari terkekeh kecil ia merapatkan tubuh disamping istrinya dan membatin, besok akan jadi hari yang sangat indah…

.

.

.

"Kau baik-baik saja kan sayang?"

"Baik-baik saja Minnie, bagaimana Cho junior? Sehat sehat saja, kan?"

"Ne, kata dokter sebentar lagi kita bisa merasakan tendanganya.." Sungmin mengelus perutnya senang. Meskipun Kyuhyun sedang tidak ada, mendengar suara merdu suaminya saja membuat ia dan bayinya girang bukan kepalang.

"Benarkah? Aku jadi tidak sabar ingin pulang Minnie. Hey Aegya, kau bisa kan tunggu Appa pulang dulu lusa baru menendang-nendang? Aku ingin merasakan sensasinya Min.."

"Kerja saja sana dulu.. bawa uang yang banyak, baru kau boleh pulang, hohoho" Goda Sungmin yang tahu klien Kyuhyun kali ini memang artis terkenal yang mengurus sengketa tanahnya di Jepang.

"Minnie, kau tahu tidak.."

"Apa, Kyu?"

"Tadi aku bertemu dengan Kibum"

Deg! Jantung Sungmin serasa berdesir-desir begitu mendengarnya. Strawberry yang berada dalam genggamanya perlahan jatuh ke lantai.

"Lalu, b-bagaimana?"

"Tenang saja kok… lagipula, ada Siwon juga disana, mereka dalam kunjungan bisnis"

"Ah syukurlah.." Sungmin menghela nafas lega. Lagipula, ia bersyukur juga sih Kyuhyun mau memberitahunya. Ia tersadar sekarang komunikasi diantara keduanya lebih penting dari saling jujur dan terbuka tentu saja akan memperbaiki komunikasi mereka.

"Aku percaya paadamu, Kyu. jadi jangan rusak lagi kepercayaan yang sudah kubangun susah payah, mengerti?"

"Ne nyonya Cho.. kau ini cerewet sekali, ya? Awas saja nanti begitu pulang kau akan langsung kulumat habis" Godanya terkekeh manja.

"Dasar genit" Sungmin menggelengkan kepala mendengar Kyuhyun yang mulai nakal itu,ketika kedua bola matanya menoleh sebentar ke arah pintu kaca keluar mejanya, Sungmin kembali berkata, "Ah yasudah.. Kyu, aku tutup dulu ya, sepertinya ada konsumenku datang, sampai nanti"

Klik. Percakapan itu terputus. Sungmin berjalan keluar menghampiri salah satu pelanggan setianya kemudian sibuk bekerja. Meskipun hamil muda, ini semua tidak membatasinya dan membuatnya bermalas-malasan, kini ia malah makin disibukkan dengan pesanan yang meningkat seiring luncurnya design pakaian bayi yang kebetulan baru diresmikan beberapa minggu yang lalu.

.

.

.

Tubuh sempurna yeoja cantik tinggi semampai itu terlihat sedang bersandar sembari memejamkan kedua matanya diantara pohon sakura yang berguguran. Dengan kacamata cokelat yang membingkai hidung mungil serta sebuah buku tebal yang sedang sibuk dibacanya membuat Kibum terlihat seperti mahasiswa saja. Setelah kesal dua kali ditinggal Siwon pergi, Kibum akhirnya memutuskan pergi dari kamar yang membosankan itu, dan akhirnya pilihanya jatuh pada taman besar yang masih bagian dari hotelnya menginap. Musim semi memang begitu menyenangkan dan romantis. Kelopak sakura berwarna merah jambu itu terlihat jatuh sesekali seperti sedang hujan salju. Seandainya ia sedang piknik bersama Siwon atau menghabiskan waktu di tempat seperti ini tentu saja semuanya akan begitu romantis dan sempurna. menikmati sisa pagi yang cerah ini bersama-sama, bukanya disibukkan dengan pekerjaan dan meninggalkan Kibum sendirian disini.

"Kau sendirian lagi?" Suara itu menyadarkan Kibum dari lamunanya. Kyuhyun yang menghampiri dengan pakaian kemeja lengan panjang yang menutupi leher khas-nya itu terlihat tersenyum datar kearahnya.

"Ya, seperti yang kau lihat"

Pria itu mendesah perlahan. kebetulan sekali mereka bertemu. Awalnya Kyuhyun hanya ingin sekedar memanjakan kedua matanya dan memutar kembali kenanganya tentang negara tempatnya berkuliah dulu. Tak disangka, kali ini—entah kebetulan atau keberuntungan mungkin bahkan kesialan ia bisa bertemu Kibum lagi disini.

"Indah sekali.." Kibum memandang keatas, bunga-bunga yang hampir mirip dengan potongan kertas itu berguguran dengan sendirinya meskipun ini belumlah musim gugur. Kedua tanganya mengadah keatas, membiarkan beberapa jatuh dengan sendirinya.

"Ya, dan kau harus melihat saat musim gugur, bunga ini, akan bertebaran dimana-mana dan membanjiri jalanan tokyo"

"Benarkah? Pasti akan seru sekali" Balasnya sembari meniup-niup sakura ditanganya. Kyuhyun hanya tertawa kecil, kemudian menghempaskan tubuh disamping Kibum dan ikut duduk bersamanya.

"Kau tahu? Sepertinya kita memang sudah saling melupakan" Tiba-tiba saja Kyuhyun meurbah topik pembicaraan mengarah ke sesuatu yang tabu bagi keduanya.

"Apa maksudnya, Kyu?"

"Ya, kau dan aku. Sekarang kita sudah berubah dan memiliki hidup masing-masing. Tentu saja, itu bagus"

"Ya.. Bagus" Kibuk tertawa perlahan, "Akhirnya, kita bisa lepas dari semua beban lama" Lanjutnya sembari merebahkan diri dan menjadikan kedua tanganya sebagai sandaran kepala.

"Kita sudah berteman lagi kan, Bummie?"

"Tentu saja, Kyu. mari menjadi orang yang lebih baik. Melupakan semua yang pernah terjadi adalah satu-satunya jalan bagi kita"

Keduanya saling memandang dengan tulus. Sudah saatnya semua kembali seperti sedia kala dan melupakan masa-masa buruk. Kyuhyun sudah memilih jalanya bersama Sungmin dan begitu pula Kibum dengan Siwon. Sebuah beban besar yang sama-sama mereka pikul berdua selama ini, pada akhirnya terlepas juga dan itu terasa begitu melegakan. Tidak ada lagi kebohongan atau kepura-puraan, keduanya murni berteman. Beruntunglah keadaan yang mempertemukan keduanya disini dalam keadaan dewasa dan menerima merebahkan tubuhnya disamping Kibum, menghela nafas lega sebagai tanda bahwa ia begitu bersyukur dengan semua ini. apalagi mendapati fakta bahwa kini Kibum sudah melupakan semuanya juga.

"Eh? apa ini?" Namja berambut hazelnut itu perlahan mengusap pucuk kepalanya yang terasa basah.

Kibum tertawa kecil sembari menunjuk kepala Kyuhyun juga, "Kyu, itu—itu.. Hahahaha"

Pria itu mencolek sedikit kemudian menatap tangan kananya terbelalak. Hangat dan basah plus lengket. Oh tuhan, bagus sekali. Rutuknya dalam hati.

"Ah Sial! Burung terkutuk!"

Kotoran burung itu membuat Kibum terpingkal-pingkal sembari meratapi nasib Kyuhyun yang sial. Coba saja namja itu tadi sedang berbicara atau membuka mulutnya, pasti kejadian ini akan lebih lucu.

"Hahaha.. bahkan seperitnya, burung saja membencimu Kyu, hahaha" Kibum berteriak kegirangan. Sampai terpingkal-pingkal sendiri.

"Mwo? Kurang ajar kau Choi Kibum!"

"Ah Kyu—Aish Sial!"

Pria itu mencolek dagu Kibum dan memeperkan sedikit kotoran hitam kehijauan itu sembari tersenyum usil. Membuat Kibum sukses murka sembari memuluk dada bidangnya.

"Hahahaha! Jangan pernah berfikir seorang Kyuhyun mau ditertawakan orang lain"

"Kau menyebalkan!"

Mereka kemudian tertawa dengan keras. Meratapi nasib sial masing-masing yang kini kotor itu. Kemudian Kibum membuka tanganya dan mengambil tissue basah. Membersihkan dirinya sendiri, sembari memberikan beberapa lembar pada Kyuhyun juga.

.

.

.

Sementara itu disudut lainya, seorang namja berpakaian necis yang terlihat berjalan dengan riang sembari membawa sekantung makanan untuk sang Istri terlihat kaget bukan main. Tanganya mencengkram begitu hebat sementara tubuhnya bergetar ketika mendapati kenyataan seseorang pria sedang asik tertawa dengan Kibum. mereka tampak begitu bahagia—layaknya seorang kekasih. Dan yang lebih membuat amarah Siwon meledak kali ini adalah pria yang sama, sahabatnya sendiri. Kyuhyun.

"BAGUS SEKALI!" Kedua tangan itu mengepal, refleks Siwon melempar makanan yang baru saja dibelinya ke sembarang arah.

Keduanya menoleh ke sumber suara.

"Si..Siwonnie.." Kibum tercekat. Kedua tanganya menutup mulutnya sendiri. Wajah yang tadinya begitu ceria dan merah merona itu tiba-tiba saja pucat bukan main.

"I-ini tidak seperti yang kau kira, Wonnie—"

"Kalau begitu, yang kulihat barusan tadi itu apa? Kau fikir aku buta, KIM KIBUM?" Balasnya dengan nada meremehkan. Sungguh, ia kecewa, benar-benar kecewa.

"Siwon! Dengarkan aku dulu, aku dan Kibum hanya tidak sengaja bertemu disini" Kyuhyun meletakkan tangan kananya di bahu Siwon yang sedikit tinggi darinya itu. Dengan kedua mata yang mencoba meyakinkan.

Siwon mendecih, "Tidak sengaja? Omong kosong. Kau pembohong, kalian berdua pembohong. Bajingan!"

Melihat mereka berdua bermesraan membuat Siwon tidak mempercayai keduanya. Tidak sama sekali. Kesabaranya kali ini telah habis, semua yang ia perjuangkan selama ini semuanya sia-sia, kepercayaan yang ia tanam, Kibum yang ia yakin sudah berubah—semuanya ternyata bohong dan membuat hatinya sakit bukan main.

"Siwonnie! Dengarkan aku dulu, kumohon.." Kibum mencengkram erat lengan Siwon yang nampak bergetar hebat. Bulir airmatanya tuhan, Siwon pasti sudah salah sangka. Tidak, tidak. Ia tidak sedang berselingkuh atau apapun,semuanya murni pertemanannya dengan Kyuhyun.

Dengan kasar Siwon menepis tangan Kibum yang seolah bergantung padanya, "APA YANG HARUS KU DENGARKAN DARI SEORANG PESELINGKUH SEPERTIMU? SETELAH SEMUA INI,KEPERCAYAANKU SUDAH HABIS KIM KIBUM!"

"Dan kau.."

BUAGH!

Siwon menonjok wajah Kyuhyun tepat di bagian pipi kirinya.

"SAHABAT MACAM APA KAU CHO KYUHYUN? BRENGSEK!"

BUAGH!

BUAGH!

BUAGH!

Siwon membabi buta. Rasa percaya yang ia bangun, keyakinanya bahwa sudah tidak ada hubungan apa-apa diantara keduanya membuat Siwon semakin kalap. Kyuhyun yang mencoba melawan tentu sajakalah kuat dibandingkan dengan Siwon, sang mantan atlet yang sedang kalap luar biasa. Namja itu hanya bisa meringis dalam diam.

"Siwonnie! Cukup! Hentikan!" Kibum mencoba melerai. Otomatis, mereka tentu saja menjadi tontonan gratis. Beberapa orang terlihat mengerubungi dan mencoba melerai—namun hanya bisa mundur takut ketika melihat Siwon yang begitu kuat. Sementara Kibum menarik-narik tangan Siiwon dengan paksa.

"CUKUP SIWON! KUMOHON! SIWON!"

Pria itu menarik bagian kerah leher kemeja Kyuhyun dan mengangkatnya kuat-kuat kemudian melemparkan tubuh namja itu hingga jatuh terjungkal, tidak sampai disitu saja, Siwon kemudian memukul lagi tubuh Kyuhyun yang sudah terlihat begitu lemah dan babak belur hingga pria itu bahkan mengeluarkan darah dari ujung bibirnya.

"SIWONNIE—Argh!" Pria itu menepis tangan Kibum dengan kasar dan membuat yeoja itu jatuh terjungkal ke tanah juga. tepat berada disamping Kyuhyun yang sudah tak berdaya lagi.

"Kibum!" Dengan kekuatan yang tersisa Kyuhyun menggapai tangan Kibum, yeoja itu meringis dan menangis terisak. Siwon sendiri nampak tidak peduli, hanya berkacak pinggang kemudian menatap keduanya sembari bertepuk tangan.

"Bagus.. Bagus sekali" Ia menggelengkan kepala. "Sungguh, hari ini benar-benar Drama murahan. Sampah!"

"Wonnie.. hiks.." Kibum mencengkram perutnya kuat-kuat, "A-ppo.. Argh.."

"Kau pikir aku perduli? Minta tolong saja pada pangeran berkuda mu!"

Siwon kemudian membalikkan tubuhnya tanpa sedikitpun rasa bersalah kemudian pergi begitu saja. Ia sudah tidak perduli lagi. sakit, benar-benar sakit rasanya sampai ia mau mati saja mendapati kenyataan pahit ini. Pupuslah sudah semuanya, kesabaran dan toleransi yang ia miliki berubah jadi kebencian tanpa ampun.

"Bummie! Kibummie!"

Kyuhyun mengguncang-guncang tubuh Kibum yang terlihat melemah. Yeoja itu hanya bisa menangis terisak sembari terus memegangi perutnya sendiri. Darah! Ada darah keluar setetes demi setetes dan turun begitu saja melewati paha mulus Kibum.

"Kyu.. Sakit sekali.. Aaargh!"

"Kibum!" Kyuhyun memeluk tubuh itu, membiarkan Kibum bersandar padanya sembari berteriak meminta bantuan.

Kibum sendiri tampak begitu mengkhawatirkan. Perutnya terasa seperti ditusuk-tusuk dibagian bawah dan tercengkram paksa. Sebentar-sebentar ia memejamkan kedua matanya. Dan sebelum ia tidak sadarkan diri, yang ia lihat hanya bayangan seorang pria yang berada tepat disampingnya dan menatapnya panik.

.

.

.

Ketika tersadar Kibum sudah berada disebuah ruangan berlangit-langit putih yang ia definisikan sebagai rumah sakit. Kedua matanya perlahan terbuka dan menemukan seorang pria berwajah lebam sedang tertidur tepat di sofa depan ranjangnya. Ia mencoba bangkit—tapi rasanya sakit sekali. Seolah sesuatu menusuk-nusuk perutnya dengan kejam.

"Ugh.." Ia menitikkan air matanya,Lagi. tak menyangka semua ini akan berujung pada sesuatu yang begitu membuatnya menyesal. Seandainya ia tidak bertemu Kyuhyun.. seandainya…

"Kibum? kau sudah sadar?"

"Kyu..Hyun" Ucapnya sembari tersengal. Pria itu kemudian bangkit dan duduk tepat disamping kasurnya.

"Ya, aku disini.." Ia mengenggam tangan Kibum erat-erat.

"A-aku kenapa?"

"Sedikit pendarahan, tapi dia baik-baik saja.."

"Pendarahan? A-apa maksudmu… Aku? Ha-mil?" Kibum lebih terkejut lagi ketika mendapati namja itu hanya mengangguk mengiyakan. Bayi ini.. Siwon…

Ia hanya menangis pilu. Mengapa ketika seharusnya mereka berdua bahagia semua ini terjadi?

Mungkin ini sebuah karma dari tuhan. Sesuatu yang rasanya jauh lebih pahit ketimbang hukuman sosial yang harus ia rasakan selama ini. ia sudah begitu sering menyakiti hati Siwon dan sekarang, menyia-nyiakan seorang sempurna yang bahkan mau memaafkanya begitu saja. Dan kini, disaat ia begitu membutuhkan Siwon, pria itu pergi begitu saja. Akibat sebuah kesalahan yang ia perbuat kedua kalinya.

.

.

.

Setelah seharian penuh Kibum hanya bisa berbaring lemah diatas ranjang rumah sakit sembari merenungkan kesalahan-kesalahnya, Siwon akhirnya datang juga. tidak ada raut khawatir atau sedikitpun bertanya mengenai keadaanya. Pria dengan pakaian resmi itu hanya masuk, memandangnya sebentar seakan ia hanyalah seongok daging. Tidak ada ekspresi yang ditunjukkan, ia hanya bersikap tenang seolah tidak pernah terjadi apapun. Tidak marah, tidak juga bahagia. Hanya diam—dan ini membuat Kibum sungguh tersiksa, tapi ia tidak bisa berkata apa-apa dengan keadaan tubuhnya yang masih lemah dan tenggorokan yang sakit sekali setelah seharian menangis.

"Aku tidak ingin berbasa-basi lagi, Kim Kibum"

Kim adalah nama marganya sebelum Ia menikah. Dan dipanggil dengan sesuatu yang menjadi masa lalunya sebelum akhirnya marga itu berubah menjadi seorang Choi bukanlah petanda baik.

"Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. kau tahu? Lama-lama pernikahan ini hanya menyakitkanku saja, membuatku sakit sementara dua orang yang begitu tega denganku hanya menari-nari dan tertawa riang diatas kepercayaan yang sudah kubangun. Cih, aku sudah menyerah sekarang. Kali ini, terserahmulah mau melakukan apa dan dengan siapa. Aku sama sekali tidak akan ikut campur dengan 'hubunganmu'

" Tidak S-siwon, Aku—"

"Tidak perlu bicara apapun lagi, kau masih sakit, bukan? Lebih baik kau diam dan dengarkan aku baik-baik"

Siwon melipat kedua tanganya, kemudian membetulkan telak kacamata hitamnya hingga sejajar dengan hidung khas yang menjadi daya tarik tersendiri baginya itu. Suasana, menjadi begitu hening bahkan bagi Kibum sendiri. Mencekam, dan seolah ada firasat bahwa apapun yang ia dengar dari bibir seorang pengusaha itu, tidaklah semanis yang ia bayangkan. Ia harus kuat.

"Aku sudah berfikir tentang semua ini. kau dan aku, kita sudah tidak bisa lagi diperbaiki. Aku sudah begitu lelah dengan semua ini dan kupikir, bagaimana jika kita berhenti saja? Aku muak dengan semua ini"

"Wonnie—"

"Kita bercerai saja, Kibum-ah. Lebih cepat, lebih baik"

.

.

.

TBC

A/N

Chapter kali ini, kujamin membosankan. Jeongmal mianhae T-T ujian di depan mata.

Jadi, terasa kayak drama banget ya FF ku yang ini? enggak apa-apa. Semua reader berhak memberikan kritik dan saran yang membangun. Jadi terimakasih untuk semuanya yang sudah mereview dan membeirkan ide dan masukan – masukan. I really apreciate that and feel thank about that^^

So, give some review so I know what you feel and what you like for next chapter. Sorry and thanKYU *peluk readers*