Kehidupan dapat diibaratkan sebagai sebuah roda. Ada kalanya, kita sebagai manusia berada diatas. Dengan kebahagiaan, tawa dan pesona yang membuat kita terlena dan bahkan tak sempat berfikir sebuah tawa akan berubah menjadi tangisan di suatu hari. Bagaikan tersihir dengan semua kebahagiaan yang telah kita dapat membuat kita sama sekali tak pernah siap mengalami saat-saat buruk.

Ia berdiri di depan perapian itu sembari mengelus perutnya yang masih terlihat tak berbentuk. Meskipun rasa kantuk menyerang dan membuatnya sesekali menguap—di tengah malam yang dingin seperti ini, namun Kibum tetap bertahan. Beberapa kali, untuk mengusir rasa bosan ia akan berjalan mondar-mandir ke sana dan ke sini. Intinya melakukan apapun untuk tetap terjaga, menunggu Siwon-nya pulang.

Kibum terlalu berharap, nyatanya pria itu tidak pernah datang. Seakan sengaja menghilang, tepat setelah kejadian beberapa minggu silam Siwon sama sekali tak pernah menampakkan hidungnya. Ketika Kibum kembali dari jepang, hampir setengah dari pakaian-pakaian Siwon sudah tidak ada di tempatnya. Pria itu sepertinya sungguh-sungguh dengan ucapanya yang akan menceraikan Kibum secepatnya, tak ada kabar, tak ada telefon atau bahkan pesan singkat yang ia terima, Kibum sendiri sebenarnya juga tidak pernah mencoba menghubungi pria yang masih sah menjadi suaminya itu. Ia begitu takut—dan malu. Takut dengan menghubungi Siwon amarah pria itu akan semakin menjadi-jadi, dan malu dengan kelakuanya sendiri. Kebodohanya yang membuat kini, ketika ia sendiri sudah berusaha untuk merubah segalanya karena satu kesalahan kecil saja pria itu akhirnya benar-benar pergi.

Sudah jam dua pagi.. dan kedua bola matanya seperi meronta paksa untuk ditutup. Tidak bisa! Ia harus bertahan! Siapa tahu Siwon akan kembali malam ini, ia tidak boleh sama sekali tidur! Bagaimana jika suaminya kembali?

Namun pada kenyataanya, hingga sehari, bahkan seminggu kemudian.. Ia tak pernah kembali.

.

.

.

"SECRET"

Cast :

Cho Kyuhyun

Kim Kibum

Choi Siwon

Lee Sungmin

KyuBum, Sibum and KyuMin couple.

And GD x TOP

Warning: Genderswitch, Typo(s)

Don't like the cast or plot. Do not BASH, please.

.

.

.

Flashback, 2004

"Bummie, kau kenal tidak dengan pria yang disitu?" Sungmin remaja menunjuk pada sekawanan namja yang sedang bermain basket di lapangan.

"Yang mana?"

"Yang itu, yang sering main dengan Kyuhyun. Nah, yang itu looh—yang tinggi itu, Choi Siwon"

"Tidak, memangnya kenapa?" Jawabnya acuh sembari kembali sibuk dengan buku bacaanya tanpa berniat menatap kerumunan namja-namja tadi.

"Ah kau ini, memangnya tidak bisa ya, kau tunda dulu baca bukunya?" Sungmin menutup paksa buku bacaan Kibum, membuat yeoja cantik itu sedikit kaget, "Bagaimana dia? Menurutmu, tampan tidak?"

Kibum memusatkan pandanganya pada pria yang kini sedang bersorak senang bersama teman-temanya, mungkin merayakan kemenangan tim pria itu."Lumayan" Lanjutnya singkat sembari melipat kedua tanganya tampak tak peduli.

"Hanya lumayan? Mwo! Choi Siwon yang itu—menurutmu Cuma 'lumayan'? huh yang benar saja.." Keluh Sungmin kesal. Hey! Dia Choi Siwon! Siapa yang tidak menyukainya? Murid sekelas, adik kelas bahkan banyak guru perempuan yang sudah mencoba peruntungan mereka untuk memiliki sang pria sempurna itu. Setidaknya, mana mungkin namja tampan, keren dan kaya itu hanya bernilai 'lumayan' bagi Kibum? sementara Sungmin saja mengakui sahabat karib namjachinggunya itu memang pria yang tampan dan berkelas.

"Minnie, memangnya kau mau jawabanku seperti apa? Waaahh Choi Siwon tampan sekali! Begitukah?" Goda Kibum sembari tersenyum kecil, mempraktikan nada seorang fangirl, kemudian wajahnya berubah lagi menjadi serius, "Kau kan tahu aku tidak tertarik dengan urusan pria seperti ini"

"Hey-hey Kim Kibum. kau boleh tidak tertarik berhubungan dengan pria. Yah meskipun aku tahu kepribadianmu seperti apa, sih. Tapi lihat—ini Choi Siwon. Pangeran sekolah kita. Banyak yang tergila-gila denganya, masak kau bukan satu dari sekian fangirl-nya, sih? Mana mungkin kau tidak tertarik dengan pria yang seperti Siwon?"

Sekali lagi, ia memusatkan pandanganya. Siwon yang kini sudah selesai bermain basket dan bersiap mengenakan seragamnya. Pria dengan jambul yang membuatnya semakin terlihat tampan itu memang seperti pangeran. Tidak heran, beberapa yeoja cantik juga terlihat sedang memandanginya, sama seperti yang Kibum dan Sungmin lakukan dari balkon depan kelas. Pria seperti itu memang menggoda, tampan dan sempurna. benar-benar tipe idaman. Terlebih lagi, Kibum pernah mendengar gossip bahwa namja itu adalah seorang anak pengusaha ternama. Tapi Kibum tidak mau berharap, ia sadar siapa dirinya, dan ia tidak ingin membuang waktunya percuma hanya demi memikirkan pria yang tidak akan pernah meliriknya seperti Siwon itu. Lebih baik ia belajar dan belajar, pria tidak cukup penting untuk menjadi prioritasnya saat ini.

Sungmin yang berada di sebelahnya sebenarnya heran dengan sahabatnnya yang sama sekali tak pernah menunjukkan ketertarikanya pada pria manapun. Ketimbang memikirkan urusan percintaan, berbeda seratus delapan puluh derajat denganya yang bahkan sudah memiliki kekasih—Kibum seakan sudah menikah dengan buku-bukunya itu tampak tenang. Hidupnya stabil, tidak pernah berbelok sedikitpun dari jalurnya. Kibum memang pintar, tidak ada yang tidak mengakui kecerdasan otak Kibum. namun gadis itu sendiri tak pernah menyadari bahwa ia sangat cantik dan memiliki pesona tersendiri. Otak jenius-nya bahkan tidak merespons ketika Sungmin membicarakan seorang Choi Siwon dihadapanya, Ugh!

Seminggu yang lalu, tepatnya. Siwon, sahabat Kyuhyun tiba-tiba berkelakuan sangat aneh. Biasanya, jika Sungmin tak sengaja berpapasan dengan keduanya dan menyapa Kyuhyun, Siwon akan menggoda keduanya habis-habisan atau apapun yang membuat ia jadi jengkel sendiri. Namun, akhir-akhir ini Siwon seakan berubah menjadi pria yang begitu baik, baik sekali sampai Sungmin yakin ada sesuatu yang diinginkan namja tampan itu. Mulai dari menyapanya di mana-mana, membantu Kyuhyun izin ketika ingin berkencan denganya secara Cuma-Cuma, memberikan voucher nonton gratis untuk mereka berdua… intinya, semua yang dilakukan Siwon belakangan ini seolah ingin meminta sesuatu—yang Sungmin belum tahu apa yang Ia inginkan.

Dan pertanyaanya terjawab setelah kemarin, ketika Siwon mentraktir sepasang kekasih itu makan di sebuah restaurant mahal yang cukup terkenal. Diam-diam, dibalik kebaikanya tersimpan misi tersembunyi. Ia meminta Sungmin dan Kyuhyun—bagaimanapun caranya harus bisa membuatnya dekat dengan Kibum. Ajaib sekali memang, ternyata Siwon memang sudah melirik seorang Kim yang pendiam itu sejak lama. Menurutnya, hanya Kibum-lah satu-satunya dari sekian banyak anak disekolah yang membuatnya penasaran setengah mati, menatap kedua bola mata Kibum yang kecokelatan menurutnya memberikan perasaan yang aneh—dan tidak mudah untuk dijelaskan.

Sebagai sahabat, teman mana yang tidak senang ada seorang pria yang menyukai sahabatnya?Selama ini memang banyak sekali deretan pria yang mengantri memintanya untuk mengenalkan Kibum pada mereka, mulai dari pria yang mengaku teman Kibum dalam club sains, sampai seorang guru muda yang cukup tampan. Biasanya Sungmin hanya tertawa dan tidak menanggapi mereka—baginya semuanya harus kembali kepada Kibum sendiri, jika ia mengiyakan tentu Sungmin akan membantu para namja-namja tadi untuk mendekati Kibum. well, meskipun nyatanya, sampai detik ini yeoja itu tidak sama sekali berminat dengan urusan cinta, tapi yang satu ini spesial dan lain, selain sudah mengenal Siwon sejak lama dan tahu kelakuanya yang sebenarnya baik—tapi sedikit pecicilan itu juga karena kebetulan, Siwon adalah teman dekat namjachinggunya, Sungmin juga memiliki rasa percaya pada namja itu, dan ucapanya yang bilang ia menyukai Kibum sepertinya tidak terlihat main-main. Oleh karena itu, ketika Siwon meminta pertolonganya, Sungmin hanya menjawab dengan anggukan kepala, disusul dengan sorak-sorai bahagia dari mulut namja itu.

"Kalau dia suka denganmu, bagaimana Bummie?"

"Eh? Tidak mungkin.." Kibum menyandarkan tubuh mungilnya di tembok pembatas balkon. Bibir merah merekahnya itu seolah menjawab dengan nada meremehkan.

"Mungkin saja, kalau aku dan Kyuhyun yang jadi mak comblangnya. Jadi, bagaimana Bummie, kalau aku dan Kyuhyun bantu, kau mau kan kujodohkan dengan Siwon? Sekedar kenal saja dulu deh, mau tidak?"

"Tidak, aku tidak tertarik" Balasnya dingin kemudian berjalan menuju kelas, meninggalkan Sungmin yang masih berdiri di depan balkon.

End of flashback

.

.

.

"Pasien selanjutnya… Nyonya Cho Sungmin" Seorang perawat berpakaian serba putih-putih yang keluar dari ruang dokter kandungan itu memaggil-manggil namanya.

"Eh? Itu aku" Jawabnya sembari melambaikan tangan kemudian berdiri bangkit dari duduknya.

"Silahkan masuk.."

Sembari mengenggam tangan suaminya yang gagah itu perlahan Sungmin masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter kandungan. Kyuhyun yang berdiri disebelahnya itu membantu istrinya berjalan perlahan-lahan, dengan wajah berseri-seri yang terlihat jelas pada binar senyum keduanya. Maklum—kalau sudah memasuki jadwal periksa kandungan, keduanya sangat antusias ingin cepat-cepat tahu perkembangan si jabang bayi dalam perut Sungmin.

Kyuhyun memiliki misi lain setiap menemani Sungmin ke dokter, salah satunya adalah menjaga istrinya yang cantik itu dari pandangan sang dokter muda yang terlihat siap menerkam perempuan miliknya. Ya, sejak pemeriksaan pertama ia sudah bisa memastikan pilihanya pada dokter muda yang berpengalaman ini sedikit salah. Pasalnya, pria itu tampaknya sedikit banyak menyukai Sungmin. Baik memberikan perhatian lebih pada pasienya—atau sekedar mengirimi pesan singkat, menanyakan kabar dan keadaan yeoja itu. Meskipun mungkin isinya tidak aneh-aneh, hanya sekedar bertanya tentang kesehatan Sungmin—tentu saja sebagai pria jantan yang normal ia cemburu.

"Bagus.. bagus.." Dokter itu hanya menggumam-gumam kecil menggerak-gerakan alat USG. Sementara Kyuhyun, mengenggan tangan kiri Sungmin sembari menatap layar hitam putih yang sebenarnya sama sekali tidak ia mengerti."Denyut jantung, bagus.. otot-otot jari juga sudah cukup sempurna… hmm.." Ia melanjutkan aktivitasnya. Setelah selesai Sungmin kemudian bangkit dari kasurnya dibantu Kyuhyun. Keduanya lalu menyusul sang dokter yang sudah lebih dulu duduk di sebuah kursi, mereka pun duduk berhadapan layaknya pasien dan dokter pada umumnya.

"Bagaimana Aegya kami, dokter?" Tanya Sungmin sembari menatap wajah sang dokter yang terlihat serius mengamati cetakan hasil USG miliknya.

"Semuanya berfungsi dengan baik, jantung, otot juga. Ah lihat—ia sudah mulai menghisap jarinya"

Kyuhyun menatap foto hitam putih yang disodorkan sang uilsa padanya, "Yang mana?"

"Yang ini Kyu, ah kau ini—"

"Kecil sekali" Jawabnya sembari mengernyit, "Ini benar anak kami? Kenapa kecil, dok?" Protesnya. Perasaan, perut Sungmin sudah terlihat membengkak tapi membayangkan janin mereka sekecil itu—membuat calon ayah baru itu setengah binggung.

"Memang begitu tuan Cho, ah sebenarnya untuk usia empat bulan janin nyonya Sungmin belum memasuki ukuran , Anda harus banyak-banyak mengkonsumsi obat yang telah saya resepkan, dan jangan lupa pula untuk selalu menjaga pola makan"

"Sebagai suami, harusnya anda juga harus menjaga asupan gizi nyonya Sungmin, tuan. Jika seandainya nyonya Sungmin menginginkan makanan, apapun itu, sebaiknya dicari dan dimakan. Biasanya, makanan yang diidamkan selama hamil akan dimakan dengan mudah oleh ibu hamil, ketimbang makanan yang sudah dijadwal. Ibu hamil, mood makanya memang selalu berubah-rubah" Lanjutnya lagi.

"Lalu, bagaimana dengan jenis kelaminya, dok?" Kini gantian Sungmin yang bertanya. Keduanya memang cukup kritis—bahkan membuat sang dokter berkacamata hitam itu sedikit heran karena inilah pertama kalinya ia menemukan pasangan suami istri yang cukup kritis. Dugaanya, pasangan Cho yang terlihat cukup berada itu adalah pasangan berpendidikan.

"Laki-laki" Kalimat singkat itu membuat Kyuhyun mengecup kening Sungmin saking bahagianya, bahkan hampir saja, jika tidak mengingat ada dokter disana Sungmin nyaris membalas kecupan kening suaminya dengan kecupan di bibir karena terlalu bahagia.

"Tapi ini baru empat bulan dan saya sendiri belum bisa memastikan dengan jelas, kita tunggu saja di pemeriksaan selanjutnya ketika kandunganya sudah cukup besar dan terlihat jelas. Saat ini yang bisa saya simpulkan adalah sang calon bayi ini berjenis kelamin laki-laki"

.

.

.

"Laki-laki! Yeay!"

Pria yang biasanya terlihat serius itu kini mendadak jadi seperti anak-anak, sembari melonjak girang ia merebahkan tubuh diatas sofa sembari melompat. Sementara sang istri yang berada dibelakang, hanya menggeleng diiringi tertawa kecil.

"Tapi kan belum pasti, Kyu" kekeh Sungmin kecil.

"Kata dokter kan sepertinya. Waah, aku sudah tidak sabar. Kita harus menamainya siapa ya, Minnie? Hmmm… aku punya banyak sekali ide untuk jagoan kita" Potongnya cepat layaknya anak-anak. Laki-laki! Betapa senangnya ketika dokter memberitahukan jenis kelamin calon bayinya. Dan semoga, impianya selama ini memiliki seorang putra yang bisa diandalkan menjadi kenyataan.

"Laki-laki atau perempuan kan sama saja, Kyu. kau harus memikirkan nama perempuannya juga,Ara? Bagiku, yeoja atau namja sama saja. Yang penting kan kelaminya harus jelas" kekeh Sungmin

"Kau ini, sudah jelek ternyata pintar juga melucu, haha" Goda Kyuhyun sembari mencolek dagu Sungmin.

Ia mengerucut manja sembari menjitak kepala Kyuhyun dengan sayang, "Mwo? Jelek? Kalau begitu, kau buta, mau saja menikahi yeoja jelek sepertiku! Ah moodku jadi jelek! Kau tidak boleh masuk kamar malam ini, Kyu! tidur saja di tv dimana kau bisa melihat yeoja-yeoja cantik yang kurus!"

.

.

.

Di sebuah klub malam, tepatnya zona elite di pusat Cheomdamdong yang cukup terkenal. Terdapat sekumpulan pria-pria tampan dengan kemeja kerja necis yang sudah kentara dari jauh duduk-duduk di sebuah lounge besar. beberapa diantaranya sibuk berbincang satu sama lain, sekedar menikmati minuman beralkohol sembari 'menenangkan' pikiran dengan menikmati pemandangan yang tersedia dengan gratis atau sekedar mendengarkan musik khas yang berdentum-dentum. Tentu saja, kontak mata yang mereka jalin dengan sekumpulan yeoja-yeoja cantik yang berdiri tak jauh dari mereka terbalaskan. Alasanya tentu melihat fisik sang pria-pria tampan dengan penampilan yang menjamin dan mapan. Perempuan mana yang tidak tergoda dengan mereka?

Setelah memilih satu persatu pasanganya mereka pun pergi meninggalkan seorang pria yang paling tampan duduk sendirian sembari menikmati minuman kerasnya dengan santai. Ya, Siwon duduk disana. terdiam dan mengamati seisi club malam ini tanpa berniat melakukan apapun. Sesekali, ia akan menghisap rokok, kemudian minum lagi. hanya itu yang berkali-kali ia lakukan dengan pandangan mata yang bosan.

"Well, setelah sekian lama tidak bertemu, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini, Choi Siwon"

Seorang yeoja berparas ayu menghampirinya sembari menggelengkan kepala, "Kukira, kau tidak akan pernah pergi ke tempat-tempat seperti ini"

Kwon Jiyong. Tentu saja Siwon mengenalnya. Salah satu yang terbaik dari yang pernah ada, bukan dihatinya—lebih tepatnya, terbaik diantara teman – teman seangkatanya ketika kuliah. Selain itu, mereka teman semasa kuliah, tidak terlalu akrab atau dekat memang, namun Siwon cukup mengenalnya. Yeoja yang kini duduk disampingnya dan menghembuskan asap kuat-kuat ini adalah primadona semasanya, cantik, menarik dan membuat pria manapun bertarung untuk mendapatkanya. Dan merupakan pemandangan yang sangat aneh pula baginya menemukan Jiyong disini, di sebuah club malam.

"Terkejut dengan penampilanku, huh?" Ia terkekeh membiarkan kepulan asap yang keluar dari bibir merahnya keluar begitu saja. Penampilanya tetap sama, ringan dan renyah. Dengan dress mini berwarna putih, ditambah leather jacketnya yang berwarna hitam. Tampaknya, setelah sekian lama tak bertemu Jiyong tetap berpenampilan menarik.

"Ya" Jawabnya singkat. Menarik nafas sebentar dan menyatukan kepulan asap Jiyong dengan miliknya. Ya, keduanya sama-sama merokok bersama layaknya teman yang amat sangat akrab. "Kau sendiri, sedang apa disini?"

"Seunghyun pergi" Tawanya sebentar, "Seharian di rumah tentu membosankan, bukan? Kau tahu kan aku bukan perempuan 'tradisional' yang masih setia menunggu suami dirumah di jam-jam segini. temanku mengajakku kemari dan well, aku mau-mau saja"

Choi Seunghyun, suami Jiyong adalah pria yang setipe dengan yeoja pasanganya. Keduanya sudah terkenal dengan hubungan cinta mereka yang gila-gilaan. Hidup sebebas mereka mau, juga menikah semau mereka. Keluarga Seunghyun yang kaya raya tidak menerima Jiyong yang hanya gadis biasa menjadi menantunya, akhirnya keduanya yang bahkan sudah tinggal seatap memutuskan untuk kabur dan menikah secara diam-diam. Untungnya, ketika mendengar kabar mengejutkan ini kedua orang tua Seunghyun akhirnya menyetujui hubungan yang terjalin sejak kuliah dan memberikan lagi Seunghyun segala fasilitas yang selama ini ditarik ketika dalam masa 'pelarian'. Dan untuk itu, pria yang biasa terlihat sebagai rapper underground itu berubah sertaus delapan puluh derajat menjadi business man. Membuat kehidupan keduanya berubah total.

"Lalu, dia mengizinkanmu pergi kesini?" Siwon mengernyit binggung dengan kehidupan Jiyong yang terlihat super bebas meskipun sudah menikah.

"Kalau dia melarangku pergi, mana mungkin aku ada disampingmu seperti sekarang, huh? Ngomong-ngomong, kau sudah bercerai dengan istrimu yang cantik itu,ya?" Goda Jiyong.

"Apa maksudmu?" Tanyanya binggung.

"Well, dari gereja kini kau malah pindah tujuan ke club malam. Bukankah itu terdengar aneh untuk pria sepertimu? Pasti, kau bermasalah di rumah makanya kesini, iya kan?" Tebaknya sembari terkekeh lagi.

"Hhh…. Begitulah" Lanjutnya sembari menengguk lagi minuman di depanya.

Jiyong hanya tersenyum simpul sembari terdiam. Hening. Siwon terdiam sembari memandang sembarang arah sementara Jiyong terlihat memejamkan mata sembari mengeleng-gelengkan kepalanya seirama dengan alunan musik yang khas. Perempuan itu tampak tidak begitu peduli denganya, Jiyong hanya sibuk dengan dunianya sendiri sembari sesekali melambaikan tangan pada beberapa yeoja sebaya yang lewat.

.

.

.

.

"Meyusahkan saja, hhh"

Dengan nafas tersengal-sengal Jiyong merangkul tubuh kekar Siwon sembari menyeretnya keluar mobil. Ia perempuan, dan tentu saja kewalahan sendiri ketika menyadari pria yang ada disebelahnya sudah mabuk berat luar biasa. Di pagi-pagi buta seperti sekarang—ia tentu saja tidak tega meninggalkan Siwon yang sudah terkapar di sofa sembari meracau tidak jelas. Alhasil, dengan modal nekat, gila-gilaan ia memacu laju kendaraanya menuju rumah Siwon sementara meninggalkan mobil mewah pria itu begitu saja di pelataran parkir klub.

"HALOOOOO! APA ADA ORANG DI RUMAH? Ah sial" Makinya kesal tak mendapat respon apapun dari orang dalam rumah Siwon.

Ia menepikan tubuh itu dan membiarkan Siwon bersandar pada sebuah pilar besar sementara ia sendiri secepat kilat dengan tubuh yang terhuyung-huyung kembali ke mobilnya. Kehilangan akal sehatnya—sekuat tenaga Jiyong membunyikan klakson mobil hingga terdengan suara gaduh dimana-mana. Dan tentu saja tak berapa lama, seorang perempuan bergaun tidur panjang keluar dari sama dengan wajah yang terlihat kaget bercampur binggung.

"Wonnie.."

Kaget, Begitu membuka pintu rumah Kibum sudah disambut dengan tubuh seorang pria yang perlahan merosot kebawah, dengan sigap, ia menangkap Siwon yang mulai meracau tidak jelas. Bau alkohol tercium kuat dari kemeja yang ia kenakan. Ugh! Kibum benar-benar tidak suka bau ini.

Ia menatap pada sebuah kendaraan mewah yang jelas-jelas bukan milik Siwon terparkir tepat dihadapanya. Ada seorang yeoja yang tidak ia kenal keluar dari sana sembari berjalan terhuyung-huyung. Keadaanya mabuk berat, sama seperti Siwon meskipun suaminya itu sampai benar-benar tidak sadar sama sekali. Lebih aneh lagi ketika melihat perempuan itu tampak mengenaskan dengan gaun ketat yang dikenakanya. Melihat pemandangan seperti ini tentu saja membuat hati Kibum kaget luar biasa. Tiba-tiba saja, ketika pulang—Siwon membawa seorang perempuan dalam keadaan mabuk berdua pula. Hati istri mana yang tidak kecewa mendapati perubahan suaminya? Air matanya bahkan menetes perlahan sembari menggotong tubuh kekar itu ke dalam rumah. Ia bahkan harus menahan rasa sakit itu lebih dalam ketika membawa pasangan Siwon masuk juga ke dalam rumah, sungguh. Kini Kibum bahkan berharap ia tidak tahu apa-apa, lebih baik Siwon tidak pulang saja untuk waktu yang lebih lama ketimbang sekalinya pulang, ia malah membawa seorang perempuan asing seperti ini.

.

.

.

Ia terbangun dan mendapati tubuh kekarnya kini sudah berbaring di ranjang besar yang ia kenal sebagai ranjang kamarnya sendiri. Aneh. Sembari mencoba menguatkan diri dari sakit kepala berkepanjangan akibat mabuk semalam—Siwon kini menarik selimutnya dan berjalan keluar kamar dengan tubuh terhuyung-huyung. Siapa yang membawanya kembali ke rumah? Tidak mungkin sembari mabuk ia akan pulang sendiri ke rumah apalagi dengan kondisi rumah tangganya yang kian memburuk.

Begitu keluar dari kamar ia menatap siluet seorang yeoja berambut panjang yang sedang sibuk di dapur, itu pastilah Kibum, terlihat dari lekuk tubuhnya yang mungil dan ramping—yang begitu ia kenali setelah bertahun-tahun hidup bersama. Aroma roti yang mulai terpanggang matang membuatnya tertarik. Lantas, sembari memegangi kepalanya Siwon berjalan menuju dapur.

"Eh, Siwonnie, kau sudah bangun.." Kibum tersenyum dan menatapnya sebentar, kemudian ia melanjutkan lagi pekerjaanya, "Duduklah, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu.." Ia menurut dan hanya diam, membiarkan Kibum menyelesaikan pekerjaanya tanpa berbicara sepatah kata. Tak berselang lama yeoja yang baru saja melepaskan apron-nya itu meletakkan sarapan hangatnya kemudian duduk bersebelahan diseberang kursinya.

Ia mendesah sebentar sembari membuang mukanya ke sembarang arah, "Siapa yang membawaku kesini?" Tanyanya tanpa basa-basi. Tubuh Kibum hanya diam sejenak—sepertinya tak sama sekali berniat menjawab.

"Seorang yeoja, aku tidak mengenalnya, Siwonn—"

"Pasti Jiyong" Ucapnya mantap, "Lalu, dimana dia sekarang?" Potongnya sembari berdiri dan berkacak pinggang layaknya seorang tuan besar yang bertanya pada pelayanya sendiri.

"Eh, itu—dia ada di kamar tamu"

Tanpa ba-bi-bu lagi anak pertama dan dua bersaudara itu pergi meninggalkan Kibum sendirian di dapur dan pergi ke kamar tempat Jiyong tidur. Ia hanya ingin memastikan, apa benar yang membawanya Kwon Jiyong, atau bukan. Dan benar saja, perempuan berambut nyentrik itu tampak tenang dalam balutan selimut tebal. Dengan wajah yang terlihat awut-awutan tanda ia tidur juga dengan keadaan mabuk berat, sama sepertinya. Tak berniat menganggu, setelah itu Siwon akhirnya keluar lagi.

Kibum hanya terdiam menatap pria itu berjalan ke sana dan ke mari. Meskipun saat ini ia sedang menahan tangis, ia sendiri tidak punya setitikpun keberanian untuk bertanya atau melakukan hal yang bisa menarik perhatian suaminya. Kibum hanya diam tak bergeming sembari berdiri dari kursinya. Ia mengelus dadanya perlahan, sakit sekali. Seakan dicabik-cabik ketika suaminya sendiri bahkan tidak mau bicara lama dan lebih memilih masuk ke dalam kamar orang lain.

Ia bahkan tidak berani memberitahu Siwon kini ia telah mengandung buah hati mereka. Janin yang telah lama mereka tunda dengan alasan pekerjaan, kini telah datang disaat yang sangat tidak tepat. Disaat sang ayah dan ibu dalam sedang diujung tanduk, ibu yang kini hanya bisa menahan semua rasa sakit dan pikiran-pikiran buruknya sendiri sementara sang ayah yang bahkan sama sekali tidak perduli denganya. Jangankan untuk memberitahu Siwon, bicara sepatah kata saja denganya hanya akan membuat Kibum semakin sedih dan sakit hati. Ia tahu, kesalahanya memang tidak mungkin dimaafkan namun setidaknya kali ini ia berada di pihak yang benar, bukan? Ia tidak sepenuhnya salah dan apa yang ia dan Kyuhyun lakukan semata-mata murni pertemanan.

Perempuan yang dibawa Siwon kali ini sudah membuktikan namja itu serius dengan ucapanya akan bercerai dengan Kibum. buktinya, ia bahkan sudah membawa perempuan ke rumah. Dari raut wajah dan pakaian yang dikenakanya saja sudah mencerminkan wanita yang dibawa Siwon, selain cantik, juga sangat berkelas, jelas bukan tipe pelacur atau perempuan yang hanya dipakainya untuk kesenangan sesaat.

Perlahan air matanya menetes, membasahi pipi putih pucat itu. Pria itu memiliki tempat khusus dihatinya. Namja yang baik dan pemaaf, namja yang bisa membuatnya mendadak tertawa dalam situasi semenyedihkan apapun, namja yang begitu cerewet namun bisa tiba-tiba kaku ketika bicara berdua denganya, namja yang selalu memberinya kejutan dan hadiah—yang bisa membuatnya seakan masih muda dengan kelakuan kekanak-kanakanya. Pria yang sudah mendapatkan tempat khusus di hati Kibum ini—kini telah berubah.

Namun Kibum yakin, ia harus bertahan. Memang inilah kenyataan yang harus ia jalani sebagai seorang pendosa yang ingin kembali ke jalan yang lurus. Perubahan memang tidak selalu berjalan seperti maunya yang ingin berjalan lurus. Terkadang, untuk menjadi seorang pemenang, seseorang akan menjalani semua yang terjadi padanya—dengan ikhlas dan lapang dada karena mereka yakin, suatu saat nanti semuanya akan berubah menjadi indah. Kibum yakin sekali dengan itu dan ia yakin, keputusanya untuk bertahan, tidak akan pernah salah. Sekalipun Siwon membencinya, sekalipun Siwon benar-benar akan menceraikanya, ia sudah tidak perduli lagi. sebuah pengampunan, hanya itu yang ia inginkan dari seorang Choi Siwon, suaminya sendiri.

.

.

.

TBC

Feel sorry for this chapt. Idk. My bad.

A/N : Udah dua chapter isinya Sibum, chapter depan, silahkan ditunggu untuk KyuMin-nya. hehehe

btw, GD top di beberapa chapter depan hanya cameo ya^^ mereka nggak ngusik Sibum kok, cuma selingan aja~

xoxo