Kamen Rider - AI

Inspired by Takeda Kouhei – This Love Never Ends

AU. (Alternative Universe)

Mungkin OOC, OOT, dan ada karakter yang dihidupkan kembali (kurang tahu istilahnya apa).

"I will reborn someday. Please wipe your tears in that beautiful face of yours..." – Anonymous.

Hujan ini membuatku terkurung di dalam perpustakaan yang sepi ini. Hiih, serasa ada yang melihatku dari tadi. Aku sebenarnya ingin segera pergi dari tempat yang seram seperti ini. Tetapi aku disuruh guruku untuk membereskan buku-buku yang berantakan itu. Sial! Ini bukan waktunya untuk berdiam diri. Aku ingin segera pulang! Ada banyak hal yang ingin aku lakukan! Tugasku sebagai penumpas fangire tidak mungkin dihentikan oleh seorang guru yang terbilang freak dalam hal kebersihan itu. "Ah, harusnya aku sekarang ada di rumah. Aku juga lupa untuk membawa payung tadi! Sial!" teriakku karena aku benar-benar frustasi dengan kesendirianku.

Guru itu sudah lama pergi meninggalkan aku yang sibuk menata buku-buku yang kelihatan tua itu. Walaupun beliau kelihatan muda, menurut gosip yang aku dengar, sebenarnya umurnya hampir sama dengan usia ayahku jika beliau masih hidup. Hm, mengapa aku memikirkan orang seperti itu? Orang yang suka menyuruh aku untuk mengerjakan hal yang merepotkan seperti ini? Memang sih, aku bersalah karena telah mengganggu teman-teman di kelas. Tetapi, itu kan bukan salahku semuanya. Coba saja jika ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit ceria, aku kan tidak perlu untuk memaksakan diriku untuk membuat suasana kelas menjadi ceria.

Aku menunggu hujannya mereda. Aku sudah menunggu selama 1 jam tetapi tidak kunjung reda juga. Apa boleh buat, aku nekat saja. Aku bosan menunggu di sekolah. Kusiapkan tas yang selalu kubawa ke sekolah sebagai pelindung kepala. Aku bersiap untuk berlari sekencang-kencangnya.

*cring*

"Eh?" kataku sambil melihat wanita yang memakai payung tradisional. Dia terlihat sangat cantik walaupun hujan itu seakan tirai tipis yang menghalangiku untuk melihat parasnya yang mempesona hatiku waktu itu. Wanita itu menghentikan langkahnya waktu mengetahui jika ada seseorang yang melihat ke arahnya. Dia melihat ke arahku sesaat. Aku merasakan debar jantungku yang semakin kencang. Suara lonceng yang ada di payungnya itu membuyarkan lamunanku dan dia melangkah menjauh dari sekolahku.

Aku yang tersadar, merasa bodoh sekali. Selain tidak mengejar wanita itu hanya untuk menanyakan namanya, aku juga lupa jika aku tidak memakai payung waktu itu. Alhasil, pakaianku basah kuyup semua. Bahkan sepatu kesayanganku pun menjadi basah karena hujan yang begitu lebatnya. Aku mengeluarkan buku-buku yang kebetulan tidak basah karena aku kebetulan membungkus buku-buku itu dengan plastik yang aku temukan di perpustakaan tadi. Aku segera mencuci pakaianku dan menyiapkan makan malam.

Aku tidak bisa melupakan wajah wanita itu. Seakan-akan, dia seperti hantu yang akan terus memasuki mimpiku dan melarangku untuk bangun dari mimpi itu. Aku pun jadi tidak bisa tidur. Untung saja, besok adalah hari libur sehingga aku tidak terlalu memaksakan diri jika aku harus bangun pagi atau tidak. Hidup sendiri memang enak tetapi ada yang kurang. Aku menjadi jarang berbicara. Hm, walaupun aku selalu memasang wajah ceria di kelas, sebenarnya aku juga ingin punya seseorang yang bisa aku ajak berbicara secara serius, tidak seperti yang aku lakukan di kelas.

Wanita itu sungguh misterius. Suara lonceng yang menggema di telingaku seolah-olah adalah suara dari wanita itu. Padahal, aku belum pernah mendengar suaranya sebelumnya. Andai ayah masih hidup, entah apa yang akan dikatakannya kepada diriku yang hebat ini. Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikanku ketika aku menginginkan sesuatu. Ya, aku sangat ingin bertemu dengan wanita itu sekali lagi. Aku ingin sekali mendengar suaranya. Pasti suaranya sangat indah, seindah paras wanita itu. Walaupun air hujan yang turun yang berusaha menghalangi pandanganku, aku bisa melihat warna kulit dari wajahnya yang indah itu. Seperti wanita yang biasa kulihat di lukisan yang biasa aku lihat di buku-buku lama itu.

Kulitnya bersih sekali. Ah, aku semakin tidak bisa tidur jika memikirkan orang itu. Kulihat jam yang ada di laci dekat tempat tidurku. Ah, masih jam 00.30 pagi. Apa yang harus aku lakukan di tengah malam ini? Aku beranjak dari tempat tidurku. Ah, tidak ada acara yang menarik di televisi. Langsung saja, aku matikan televisi dan menghidupkan laptopku. Siapa tahu, aku bisa mendapatkan informasi tentang fangire.

Akhir-akhir ini, banyak fangire yang membuat ulah di sekitar sekolahku. Entah berapa banyak korban yang berjatuhan. Aku tidak bisa menghitungnya lagi. Walaupun aku selalu bersemangat untuk menumpas mereka, sepertinya seumur hidupku pun tidak akan cukup untuk membasmi mereka. Ayah dulu berpesan padaku agar melindungi manusia. Sedangkan menurutku, manusia itu selalu menyusahkan. Mereka selalu mencari keributan dan menghancurkan diri mereka sendiri dengan berbagai cara karena beragam alasan, entah itu karena kehidupan cinta mereka atau hanya mencari tempat pelarian yang salah.

Entah mengapa ayah menyuruhku, yang setengah fangire dan manusia ini, untuk melindungi manusia. Itu adalah misteri untukku. Manusia membunuh karena keinginan mereka sedangkan fangire membunuh karena mereka harus bertahan hidup dengan cara seperti itu. Aku penasaran mengenai masa lalu ayah. Mungkin ada sesuatu yang terjadi sehingga ayah memutuskan untuk melindungi manusia.

Aku sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan tentang waktuku untuk menjaga manusia. Jika ayah ingin aku untuk melindungi mereka, akan aku lakukan sekuat tenaga walaupun tubuh ini penuh luka akibat pertempuranku melawan fangire yang rasanya tidak akan pernah berhenti. Aku tahu jika itu bukan urusanku untuk melindungi mereka. Manusia tidak akan bisa hidup dengan tenang jika tanpa aku. Aku sebenarnya tidak butuh pengakuan dari mereka tentang kekuatan yang aku punya ini tetapi aku ingin mereka hidup dengan damai, tidak seperti sekarang.

Manusia sering kali mencari gara-gara dengan fangire. Entah itu investigasi tentang fangire atau mencoba menangkap fangire untuk bahan percobaan. Aku tidak bisa mengerti tentang alasan mereka mencoba untuk melawan fangire yang jelas-jelas kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan manusia normal. Pada akhirnya, mereka yang menjadi korban dari keganasan fangire yang berevolusi itu. Kata ayah, fangire yang hidup di jamanku jauh lebih kuat daripada fangire di masa ayah seusiaku sekarang.

Hah, yang jelas, aku perlu untuk mencari penyebab dari kasus yang aku temui baru-baru ini. Banyak siswa dari sekolahku menghilang tanpa jejak. Sedangkan tidak ada penyebab yang signifikan mengenai hal ini. Karena ada rumor jika mereka menghilang karena dijadikan sebagai pengantin 'fangire', pihak sekolah menutup diri tentang kejadian misterius ini. Aku tidak bisa bergerak dengan bebas dan menanyai orang-orang yang tahu persis tentang kejadian ini karena kejadian ini seakan tabu di mata siswa sepertiku.

Hm, tidak ada berita yang berkaitan dengan ini. Aku segera menutup laptopku dan membuat snack dan teh untuk mengisi perutku. Aku membaca kliping koran yang biasa ayah kumpulkan dulu. Siapa tahu dulu ada kejadian seperti ini.

"Eh?" gumamku ketika melihat foto seseorang yang terjatuh dari kliping itu...

(To be continued...)

"You are the one who decides to live in what kind of way you want." – Anonymous.

Disclaimer:

Seluruh hal yang berhubungan dengan Kamen Rider merupakan milik yang punya Kamen Rider (Produser dkk) itu sendiri. Seluruh kejadian terjadi hanyalah FIKSI BELAKA. Jika anda menemuinya di dunia nyata, maka bisa dipastikan kalau itu hanyalah KEBETULAN SAJA.

Special Thanks to:
Miss Haruno Aoi~~~ (Entah mengapa saya membuat fic seperti ini? Bodoh sekali ya? ^^;)

Pencipta dan pemilik hak cipta Kamen Rider

Readers yang baik hati yang setia membaca fic saya. Terima kasih atas reviewnya selama ini. Terima kasih kepada silent readers ^^

Takeda Kouhei, I love his acting and voice~~~ \(^o^)\ \(^o^)/ /(^o^)/

AAA dan Arashi~~~~ (XD my, I think they fill my energy everyday~)