Kamen Rider – AI (Chapter 4)

Inspired by Takeda Kouhei – This Love Never Ends

AU. (Alternative Universe)

Mungkin OOC, OOT, dan ada karakter yang dihidupkan kembali (kurang tahu istilahnya apa).

(continuation from previous chapter)

"It doesn't matter anymore, as long as you're with me, even though we live in different worlds, as long as I can hear your voice..." – Anonymous

Sudah beberapa minggu berlalu sejak kejadian itu. Aku hanya bisa menatap langit dengan pandangan kosong seperti biasanya. Berada di kelas yang sama terasa membosankan. Aku tidak terlalu peduli dengan guru yang baru menggantikan guru freak itu mengajar di kelas. Memang sih, penampilannya terbilang menyenangkan dan reaksi teman-temanku terbilang senang dengan kehadiran orang itu. Apalagi guru itu seorang wanita. Sudah pasti, teman-temanku yang laki-laki sangat bahagia dengan hal itu karena jarang sekali guru wanita yang menarik hati mengajar di kelas. Aku pun tidak perlu berbuat ulah di kelas jadi aku hanya bisa diam sambil menatap langit di pojok kelas. Walaupun aku berada di kelas, aku tidak terlalu peduli dengan pelajaran.

Kematian orang itu masih melekat di pikiranku. Suaranya dan wajahnya masih terbayang di ingatanku. Jeritannya selalu membangunkanku di tengah malam, karena itu, aku jarang tidur. Mungkin sebaiknya aku meminum obat tidur agar bisa tidur nyenyak hari ini. Aku terlalu lelah dengan semua ini. Aku bosan dengan keadaan ini. Aku tidak ingin mengingat kejadian itu. Kematiannya benar-benar membuatku gila. Selain itu, aku tidak bisa menceritakan hal ini kepada orang lain. Haah, seandainya saja ayah masih hidup, aku tidak perlu memendam perasaan ini dan menyembunyikan semuanya dari orang lain. Rasanya sungguh menyakitkan, kehilangan orang yang menyukaiku sejak dulu di depan mataku tanpa berbuat apa-apa.

Apalagi, anak itu masih dinyatakan statusnya sebagai orang hilang. Tidak ada yang tahu jika anak itu sudah meninggal dunia, meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Mana mungkin aku bisa menjelaskan hal seperti ini kepada orang tuanya. Yang jelas, aku harus bersikap seperti biasanya. Jika tidak, orang disekitarku pasti akan mencurigaiku sebagai orang yang berhubungan dengan menghilangnya orang-orang yang di sekolah. Selain itu, ada hal yang harus aku cari mulai dulu. Siapa wanita itu, yang selalu berada dengan guru freak itu? Bagaimana mungkin seorang manusia biasa bisa berdekatan dengan makhluk seperti itu dan hidup selama ini? Apa mungkin dia seorang Fangire juga? ... Hmm, hal itu adalah hal yang tidak ingin kucari tahu kebenarannya tetapi hal itu patut dipertimbangkan. Aku harus waspada dan memikirkan hal terburuk yang akan terjadi di kemudian hari.

Rasanya aneh ketika aku berada di kelas. Aku biasanya merasa mengantuk. Akan tetapi, yang ada di pikiranku hanya kematian orang-orang yang mendahuluiku. Mungkin sebaiknya aku berkonsentrasi ke materi yang guruku ajarkan siang ini. Rasanya tidak sopan jika aku selalu bengong di kelas setiap kali orangnya mengajar. Kubuka buku yang semula tertutup. Oh ya, hari ini pelajaran mengenai sejarah dunia. Guru ini menjelaskan dengan suara lantang. Jika diperhatikan dengan baik, orang ini mengajar dengan baik. Sayang sekali jika orang seperti ini menjadi guru di tempat seperti ini. Bukan maksudku untuk menjelekkan tempat ini. Menurutku, seharusnya orang seperti ini menjadi seorang dosen di universitas yang kualitasnya baik, walaupun aku belum pernah sekalipun ke universitas.

Akhirnya pelajaran sudah selesai. Sekarang waktunya untuk berkeliling. Siapa tahu saja aku dapat menemukan orang itu, wanita cantik yang menggunakan payung itu? Walaupun aku tidak tahu siapa namanya, yang jelas aku harus menemukannya terlebih dahulu. Siapa tahu saja wanita itu tahu sesuatu mengenai kejadian yang berhubungan dengan Fangire. Aku tidak terlalu peduli jika wanita itu manusia atau bukan. Yang menjadi prioritasku sekarang adalah informasi yang berhubungan dengan Fangire. Aku sudah memutuskan untuk membasmi semua Fangire jadi informasi sekecil apapun sangat kuperlukan. Aku tahu bahwa pendapat ini hanyalah alasan saja. Yang aku pikirkan hanyalah tentang dendam dan kelemahanku sendiri.

Aku bersiap-siap untuk mengemasi barang-barangku. Sosok yang aku kenal menyapaku. Dia memintaku untuk menemani berjalan-jalan. Aku menolaknya dengan halus. Akan tetapi, dia tetap ngotot memintaku untuk menemani. Aku mencoba mengelak tetapi gagal. Dia bersimpuh di depanku. Aku merasa malu dengan tindakannya akhirnya mengiyakan tawarannya itu. Dia kelihatan senang dengan jawabanku kemudian mengajak teman-teman sekelasku yang lain. Perasaanku tidak enak, sepertinya temanku ini mengajak teman-temanku yang lain untuk kencan buta. Aku tidak punya waktu untuk ikut dalam kegiatan seperti ini. Tetapi, aku sudah tidak mungkin menolak permintaan temanku. Akhirnya aku turuti saja ke mana mereka melangkah walaupun aku malas untuk berbicara dengan mereka.

Haah, hari yang melelahkan. Selain pergi ke mall, teman-teman sangat bersemangat sekali untuk menunjukkan kemampuan mereka di depan siswi-siswi, teman sekelasku. Aku tidak tertarik untuk ikut-ikutan dengan kompetisi yang tidak ada artinya itu tetapi teman-temanku yang laki-laki menarik bajuku untuk ikut dengan mereka. Akhirnya aku ikuti saja kemauan mereka. Rasanya seperti siswa yang tidak ada kerjaan, main sepak bola sore hari dengan seragam sekolah. Walaupun timku menang, tim lawanku tidak mau menerima kekalahan mereka. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku dan sekarang timku bertanding melawan tim yang kalah tadi dengan olahraga yang lain, bola basket. Hasilnya pun tetap sama, timku menang. Bagaimana tidak, aku yang memiliki perawakan biasa saja, sebenarnya memiliki nilai bagus dalam pelajaran olahraga. Teman-temanku baik perempuan maupun laki-laki sedikit terkejut melihat keahlianku.

Aku sebenarnya tidak ingin menunjukkan keahlianku di depan banyak orang. Akan tetapi, kekuatan kedua tim sepertinya seimbang sehingga mau tidak mau, aku sedikit menunjukkan keahlianku di depan mereka. Aku hanya berharap jika pertandingan yang membosankan dan tidak berguna ini cepat berakhir dan aku bisa melanjutkan kesibukanku seperti biasanya. Hasilnya sungguh diluar perkiraanku. Teman-temanku malah memujiku dan mereka menyeretku ke tempat lain. Kami menyanyi sepuasnya di tempat karaoke milik ayah temanku. Lagi-lagi aku dibawa ke tempat yang tidak aku kenal. Rasanya ingin lari dari tempat itu. Suaraku tidak bisa dibanggakan.

Akhirnya aku bisa pulang juga. Di rumah, aku hanya bisa berbaring di sofa. Membayangkan tentang sore itu sudah membuatku muak. Aku yang ingin menyendiri malah diajak berbicara oleh teman-temanku. Aku hanya bisa tersenyum sambil mencari alasan yang bagus untuk lari dari situasi itu. Aku tahu jika teman-temanku yang laki-laki sudah mengincar teman-temanku perempuan yang mencoba mengajakku berbicara. Aku hanya bisa tersenyum kecut mengingat hal itu. Sambil memasang wajah khawatir dan melihat ke arah jam dinding di ruangan itu, aku pergi dari tempat itu dengan alasan jika ada urusan penting yang harus aku lakukan. Bisa kulihat dengan sekilas jika teman-temanku yang laki-laki senang kalau aku segera pulang. Aku hanya bisa melemparkan senyum kecilku kepada semuanya. Aku sudah menduga sebelumnya jika teman-temanku yang perempuan hanya mau ikut kalau aku ikut sore itu. Yang penting, aku bisa beristirahat terlebih dahulu sebelum menunggu malam datang. Aku akan keluar pada malam hari seperti biasanya.

Ok, persiapan sudah selesai. Aku berjalan-jalan dengan membawa biola seperti biasanya di tas punggung. Malam itu terasa sedikit dingin. Mungkin musim gugur sudah mulai memasuki tempat ini. Aku tidak benci musim gugur. Hawanya terasa nyaman bagiku. Aku juga suka melihat daun yang berguguran dari pohon-pohon yang berada di pinggir jalan. Seolah-olah waktu berjalan melambat ketika aku melihat pemandangan seperti itu. Selain itu, wanginya benar-benar khas. Bisa dikatakan musim gugur adalah musim favoritku. Mungkin aku merasa kangen dengan masa kecilku, ketika ayah masih hidup.

Aku memutuskan untuk berjalan kaki karena terlalu malas untuk menaiki sepeda motor kesayangan ayah. Selain itu, menaiki sepeda motor bukan hal yang termasuk kusukai di musim seperti ini. Walaupun aku masih lelah, aku bisa menikmati pemandangan di jalan yang biasa aku lewati. Ah, sepertinya aku bisa tidur dengan tenang malam ini. Pikiranku mulai tenang. Mungkin jalan-jalan seperti ini memang seharusnya kulakukan sebelumnya, jadi aku tidak memiliki pikiran yang aneh-aneh. Selain itu, aku tidak perlu membeli obat penenang untuk menenangkan diriku. Memang, cara tradisional lebih baik daripada jalur cepat tetapi resikonya lebih besar.

Tidak ada hal yang menarik perhatian ketika aku berjalan. Orang-orang yang mencurigakan pun tidak ada. Aku bisa bernapas agak lega melihat keadaan sekitarku. Situasi aman memang menyenangkan. Menurutku, akan lebih baik lagi jika Fangire dan manusia berdamai. Aku hanya bisa tersenyum kecil, tersenyum karena hal itu sepertinya hal yang mustahil di dunia ini. Kedua bangsa itu adalah bangsa yang sangat berbeda, mana mungkin mau disatukan? Haha, jika itu mustahil, mana mungkin aku bisa terlahir sebagai seorang yang setengah Fangire dan manusia?

Aku mencoba mengfokuskan seluruh inderaku karena aku merasakan firasat buruk. Sepertinya akan ada keributan di tempat ruteku berjalan-jalan. Aku mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk. Jantungku berdebar-debar dengan kencang. Firasatku ternyata benar. Aku mendengar suara orang meminta tolong. Aku berlari kencang menuju ke arah pemilik suara itu dan benar saja, aku melihat kobaran api di depanku dan laki-laki itu mencoba memadamkan api tetapi tidak berhasil. Sepertinya ada manusia di dalam bangunan itu. Aku bersembunyi dan memasuki bangunan itu dengan jalan yang lain.

Aku tidak bisa mempercayai apa yang ada di depan mataku. Wanita yang selama ini aku cari lagi-lagi diserang oleh Fangire. Wanita itu dicekik oleh makhluk ganas itu. Akan tetapi, tatapannya kosong dan dia pun tidak menjerit ketika dirinya berada di posisi yang tidak mengenakkan seperti itu.

Aku pun spontan berubah di depan mereka berdua dan menyerang Fangire itu dengan sekuat tenaga.

(to be continued)

"... Does it matter? Why are you making that kind of face?" – Anonymous

Disclaimer:

Seluruh hal yang berhubungan dengan Kamen Rider merupakan milik yang punya Kamen Rider (Produser dkk) itu sendiri. Seluruh kejadian terjadi hanyalah FIKSI BELAKA. Jika anda menemuinya di dunia nyata, maka bisa dipastikan kalau itu hanyalah KEBETULAN SAJA.

Special Thanks to:

Pencipta dan pemilik hak cipta Kamen Rider, BANDAI

Readers yang baik hati yang setia membaca fic saya. Terima kasih atas reviewnya selama ini. Terima kasih kepada silent readers ^^ Para readers yang review tetapi tidak memakai akun, maaf tidak bisa membalasnya ^^ saya tidak tahu bagaimana caranya membalasnya, btw.

Takeda Kouhei, I love his acting and voice~~~ \(^o^)\ \(^o^)/ /(^o^)/

Voice Actors: Daisuke Ono, Souichirou Hoshi, Kensho Ono, Seki Tomokazu, and Koyasu Takehito.