KEPINGAN PERMEN

Disclaimer: Copyright Kamen Rider Decade ada pada Toei dan Ishinomori Production. Tulisan ini hanyalah fanfiction belaka, tidak dimaksudkan untuk memperburuk citra karya asli atau orang-orang yang terlibat di dalamnya. Fanfiction ini mengandung penggambaran cinta seorang lelaki kepada lelaki lain. Jika Anda tidak menyukai dan/atau alergi dengan tema tersebut, sangat disarankan untuk mengklik tombol back atau menutup tab bersangkutan. Penulis menyatakan tidak bertanggung jawab atas akibat-akibat apapun yang mungkin terjadi jika ada pembaca yang membenci dan/atau alergi dengan tema-tema tersebut tetap nekat membaca fanfiction ini.


1. Kecupan

Malam ini, lagi-lagi Tsukasa dan Daiki menghabiskan waktu berdua saja di kamar. Malam akhir pekan begini, apa ini bisa disebut kencan? Ah, tapi mereka berdua kan tinggal sekamar?

Mereka berdua sudah beberapa lama terdiam tanpa kata. Berapa lama persisnya, Tsukasa tak tahu. Dia juga tidak berminat melirik jam di meja. Tsukasa memandang Daiki lagi. Kulit kekasihnya itu putih dan mulus, tulang pipinya indah, rambutnya yang hitam halus jatuh di tengkuk. Dan bibirnya, bibirnya … merah muda, penuh. Pasti lembut ….

Daiki merasakan tatapan intens Tsukasa padanya. Diangkatnya wajah dan bertanya, "Ada apa?"

Tsukasa merasakan ada hawa panas merembet di pipinya, "Ti-tidak. Cu-cuma kau manis banget sa-sampai aku ingin menciummu," Tsukasa memalingkan wajahnya.

Wajah Daiki merah seketika, "Be-benar ingin berciuman denganku?"

Tsukasa diam tak menjawab. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya. Daiki mendekatkan tubuhnya dengan ragu-ragu. Digenggamnya lembut tangan Tsukasa. Tsukasa merasakan sentuhan lembut bibir Daiki di sudut bibirnya. Dia tertegun, tak menyangka.

Memantapkan hati, Tsukasa merengkuh Daiki ke dalam pelukannya, mencium lembut bibir pria itu.

2. Kencan Pertama

Tsukasa turun dari motornya dan berjalan menuju penjual crepes terdekat. Akhirnya mereka bisa pergi berdua saja. Daiki yang duduk di bangku taman memandangi Tsukasa yang berjalan ke arahnya. Tsukasa lalu mengenyakkan diri duduk di samping Daiki. Alis Daiki terangkat melihat crepe coklat isi es krim yang tergenggam di tangan kanan Tsukasa.

"Cuma satu?" tanya Daiki.

Dengan ogah-ogahan Tsukasa menjawab, "Yah, uangku terbatas. Bertahanlah kalau denganku, aku bukan pria kaya yang bisa menghujanimu dengan barang-barang bagus dan mahal."

Dengan malu-malu Daiki menggigit crepe itu. Manis. "Kau juga makan ya," kata Daiki sambil menggenggam tangan Tsukasa yang memegang crepe.

Tsukasa, yang wajahnya kini merona, mengangguk.

3. Suka

Tsukasa suka banyak hal. Dia suka yudofu. Dia suka sup miso. Dia suka chawan mushi. Tsukasa suka hembusan angin saat mengendarai motornya. Dia juga suka memotret, seperti apapun hasilnya.

Dia suka menggendong Daiki di punggungnya. Dan terutama, dia sangat suka lelaki yang tidur pulas di sampingnya dan memeluknya erat-erat.

4. Mandi

"Ka-kau mengajakku mandi bareng, Tsukasa?"

"Bu-bukannya aku mengajakmu melakukan ini itu! Bukan! Ma-maksudku teman saja mandi bersama untuk mengakrabkan diri!" Tsukasa memalingkan wajahnya.

Wajah Daiki makin merah, "Kalau begitu kita mandinya sekarang saja."

5. Lamaran

Tsukasa melilitkan setangkai bunga liar di jari manis Daiki, membentuknya seperti cincin. Lalu dia bicara terbata-bata, "Ma-Mau menikah denganku?"

Daiki mengangguk.

6. Mesra

"Kok berdirinya jauh-jauhan gitu sih? Mesra dikit lah! Ini kan hari pernikahan kalian!" protes Yuusuke.

Tsukasa terlihat canggung, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mendadak Daiki menggamit lengan Tsukasa dengan tersipu-sipu.

Natsumi berkata puas, "Nah, sekarang foto pernikahannya pasti bagus."

7. Bento

Tsukasa membuka kotak bentonya dengan gembira. Masakan Daiki selalu lezat. Penataannya sederhana tapi indah. Isinya pun sesuai musim.

Tiba-tiba Tsukasa jadi kesal. Dia bukan satu-satunya orang yang makan bento buatan Daiki. Tidak disangkanya ia akan cemburu pada pelanggan bento buatan suaminya.

8. Anak

"Daiki, kau benar-benar setuju kita mengangkat anak dan membesarkannya bersamaku?"

"Kalau aku tak mau, mana mungkin aku akan bilang 'ya'?"

"Terus, akan kita namai siapa anak perempuan kita? Harus cari nama dulu ini!"

"Tsukasa, anak kita nanti kan akan punya dua ayah, lalu bagaimana dia memanggil kita berdua?"

9. Pijat

Tsukasa duduk di kasur menyelonjorkan kaki dan memijat kakinya. Alis Daiki terangkat melihatnya.

"Kakimu pegal?" tanya Daiki.

Tsukasa mengangguk.

Daiki mendudukkan diri di samping Tsukasa, "Sini kupijat."

Tsukasa merebahkan diri dan memejamkan matanya dengan senang. Daiki menggulung pipa celana Tsukasa sampai lutut dan mulai memijat kakinya dari bawah. Tsukasa terlihat sangat menikmatinya.

Mendadak Tsukasa bangun dan memeluk Daiki, menariknya berbaring."Kita tidur saja ya."

10. Sakit

Tsukasa kembali mengompres kepalanya. Flu memang tak pernah menyenangkan.

"Makan malamnya kubuatkan bubur saja ya. Mau bubur apa? Bubur telur?" tanya Daiki.

"Buburnya dimasak pakai kaldu sayur. Ditambah sayuran hijau juga, tapi sayurnya harus tetap terlihat segar. Makannya pake umeboshi."

"Sakit begini cerewet juga ya soal makanan kau ini?"

"Bilangnya mau bikinin?"

"Iya, iya. Tapi tunggu yang sabar."

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Daiki muncul di kamar mereka berdua dengan membawa nampan berisi semangkok bubur.

Melihatnya, Tsukasa bergumam pelan, "Suapin."

Wajah Daiki kontan memerah mendengarnya. Dengan malu-malu disendoknya bubur dan disuapkannya pada Tsukasa.


Yah, jadi ini hasil kompilasi fanfic dadakan yang tadinya ditulis di note FB. Wah, pas sepuluh ^^

Jadi, ada komentar?