~Our Love~

Cast : Yesung, Kyuhyun, Siwon, Donghae, Ryeowook, Eunhyuk, Sungmin and other / Super Junior. Yoochun, Junsu, Changmin, Jaejoong, Yunho / DBSK

Genre : Drama, Romance, Friendship, Family, Hurt, Angst.

Rate : T

Desclaimer : Super Junior dan DBSK milik SME, orang tua, keluarga, ELF / Cassiopeia dan diri merekasendiri. Jangan lupa juga, bahwa setiap couple saling memiliki.! ^^

Dan fanfic ini ASLI dari otak Hana.

Warning :

BL/Yaoi, OOC, AU, Gaje, Abal, Aneh, Typo dimana-mana.

Alur berantakan, tidak sesuai EYD.

Crack Pair!


.

Ini cinta kita.. dan ini tentang kita... Ini kisah kita... dan ini tentang takdir kita...

Tapi kenapa semenyakitkan ini?

.

.

"Aku menemukan Jongwoon hyung, Mom"

.

.

Chapter 10

.

.

"Hyung..."

"Wookie?"

Wookie mendongak, tersenyum janggal ke arah Yesung.

"Hyung.."

"Wookie-ya, waeyo?"

Yesung mengerutkan dahinya bingung, ada apa dengan namja mungil itu? Tangannya terangkat, ingin menggapai Wookie namun gerakannya terhenti saat bibir Wookie bergerak, menyebut nama seseorang.

"Jongwoon hyung.."

Kedua caramel Yesung membulat tak percaya, entah untuk alasan apa jantungnya berdetak menyakitkan.

"Jongwoon hyung..."

Yesung menggeleng, tangannya yang semula membisu di udara kini menutup kedua telinganya erat.

"Aniyo! Hentikan!"

"Hyung.. kembalilah.. Jongwoon hyung..."

Tidak! Jangan seperti ini! Jangan sebut nama itu.

"Aku bukan Jongwoon! Cukup!"

"Tidak Yesung hyung.. kau Jongwoon.. kau Jongwoon hyung.."

Yesung menggeleng semakin cepat, merasakan air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Rasa sakit itu kembali bersama kebencian yang menyelubunginya.

"Jongwoon hyung, eh?"

Suara itu..

Yesung mendongak, tersentak kaget saat menemukan Kyuhyun berada disamping Wookie, memandangnya terluka. Ada apa sebenarnya?

"Cho?"
"Kenapa aku harus mencintaimu, hyung?"

Kebingungan mengelilinginya. Otaknya bekerja keras untuk mencerna apa yang sebenarnya trejadi. Ia bingung, sungguh. Semua terasa bagaikan takdir yang berputar terlalu cepat dalam hidupnya, hingga ia tidak tau apa yang terjadi disini.

Tubuhnya terasa kebas, mati rasa. Hingga kesesakan itu menyeretnya, membawanya pergi jauh sampai ia hanya mampu melihat kepekatan yang menyelubunginya.

.

.

"Aniyo!"

Yesung tersentak kaget, kedua caramelnya memandang nyalang sekitarnya.

Mimpi. Ia yakin tadi hanyalah sebuah mimpi. Karena kenyataannya sekarang ia berada didalam kamarnya sendiri.

"Chagy, gwenchanayo?"

Suara lembut itu.. suara yang menyiratkan kekhawatiran itu..

Yesung menoleh cepat, menemukan Siwon yang memandangnya khawatir, ia dapat merasakan tangannya digenggam erat oleh namja tampan itu.

"Wonnie..", lirih Yesung.

Hanya satu kata itu yang mampu ia ucapkan. Merasakan ketakutan yang mendominasi hatinya, membuat Yesung tidak mampu berpikir apapun sekarang.

Perlahan kedua caramel itu berkaca-kaca, siap menjatuhkan cairan bening yang begitu dibenci Siwon. Dengan cepat Siwon meraih tubuh Yesung, mendekapnya erat.

"Chagy... ada apa? Kumohon.. jangan menangis.."

Siwon dapat merasakan tubuh Yesung bergetar hebat, kedua tangan mungil namja manis itu mencengkram kuat kaos yang ia kenakan.

"Wonnie.. hiks.. Wonnie..."

"Ssstt.. uljjima.. Jangan menangis.. Jebal..", bisik Siwon parau.

Yesung menggeleng dalam pelukan Siwon namun tetap saja, air matanya terus mengalir, seolah tidak peduli dengan permintaannya untuk berhenti.

Siwon semakin mengeratkan pelukannya, mengusap lembut punggung Yesung, mengucapkan begitu banyak kalimat-kalimat menenangkan, tapi semuanya terasa percuma, karena Yesung terdengar semakin tergugu.

"Chagy.. waeyo? Sebenarnya apa yang terjadi?"

"..hiks.. Aku takut.. hiks.. Wonnie.. aku benci mereka.."

Tubuh Siwon menegang, sesaat gerakan tangannya yang mengusap lembut punggung Yesung terhenti.

"Yesung.."

"Aku bukan Jongwoon.. Kenapa mereka memanggilku Jongwoon? Hiks.. aku Yesung! Aku Kim Yesung!"

Yesung bisa merasakannya. Merasakan bahwa takdir yang begitu ia benci kini mulai menampakkan keberadaannya. Siwon tau itu. Jadi benarkah semuanya akan segera berakhir?

"Aku tau chagy.. Aku tau.. Kau Yesung, Kim Yesung.."

Mianhae.. tapi kau benar-benar tidak bisa menghentikan takdir menyakitkan ini chagy.. sungguh, jika mampu aku akan melakukannya untukmu.. tapi seperti yang kau lihat, takdir yang kau benci sebenatr lagi akan menampkan keberadaannya..

.

.

_Cloud'sHana_

.

.

Leeteuk kembali menghela napas, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut Aula sekolah, melihat setiap detail yang mungkin terabaikan. Sempurna. Menurutnya semuanya telah sesuai dengan apa yang ia rencanakan.

Lagi-lagi ia menghela napas berat, menjadi ketua panitia Festival sekolah benar-benar telah menguras waktu dan tenaganya.

"Apakah semuanya sudah perfect Leeteuk-ssi?"

Tubuh Leeteuk tersentak kaget, merasakan sepasang lengan yang memeluknya dari belakang. "Seperti yang kau lihat Heechul-ssi, dan jangan pernah lagi mengejutkanku seperti ini"

Heechul terkekeh pelan, mengecup sekilas leher Leeteuk, melepaskan pelukannya. "Karena sejak tadi kau mengacuhkanku baby, aku sudah memanggilmu berulang kali kau tau"

"Benarkah?"

"Tentu saja!"

"Mianhae Chullie, festival sekolah benar-benar menguras pikiranku dan besok seperti yang kau tau, puncak dari seluruh rangkaian kegiatan"

Leeteuk kembali memijat pelipisnya yang berdenyut, Heechul yang melihatnya mengerutkan dahinya tak suka.

"Lebih baik kau istirahat sekarang Teukie, kau nampak mengerikan"

Leeteuk mengerucutkan bibirnya lucu, membuat Heechul tak tahan untuk mengecup bibir manis itu, "Jangan memasang wajah seperti itu Teukie, atau aku akan 'memakan'mu sekarang".

Leeteuk semakin memberenggut, semburat merah muncul di kedua pipinya, "Dan jangan berbicara seperti itu Chullie, kau membuatku malu"

Heechul kembali terkekeh, meraih pinggang Leeteuk, membimbing namja cantik itu untuk meninggalkan Aula sekolah.

"Chullie?"

"Ya?"

"Apa kau sudah melakukan apa yang kusuruh kemarin?"

"Tentu saja. Aku sudah menyebarkan seluruh undangan ke setiap orang tua siswa, dan aku jamin besok mereka akan menghadiri puncak festival sekolah"

Leeteuk mengangguk sekilas, sepertinya semua telah dipersiapkan dengan baik.

"Semoga besok berjalan dengan baik"

"Ne, aku juga berharap seperti itu"

.

.

.

"Dia sudah sadar"

Kyuhyun yang semula mendongakan kepalanya, menatap hamparan langit kelam kini menoleh, menemukan Donghae berdiri tepat disampingnya. Ia tersenyum simpul, tanpa bertanya pun ia sudah tau siapa yang dimaksud Donghae.

"Apakah dia baik-baik saja?"

Donghae mengangguk kecil, memasukan keuda tangannya ke saku mantel, "Dia baik, tapi kurasa ada yang mengganggu pikiran Yesung hyung"

"Apa?"

"Entahlah, akhir-akhir ini dia terlihat sedikit gelisah"

Kyuhyun menghembuskan napas panjang, gelisah eh? Kenapa semua orang terlihat gelisah akhir-akhir ini? Ketakutan samar yang menyulubungi mereka sekaan menular.

"Bukankah kau juga terlihat gelisah, hyung?"

Donghae menyunggikan senyum hambar, mengedikan bahunya seolah tak peduli walaupun derak menyakitkan dihatinya kembali terasa, "Kau benar, namun aku yakin sebentar lagi semuanya akan kembali seperti semula", ucap Donghae, seakan meyakinkan dirinya sendiri pada hal yang sebenarnya tidak ingin ia yakini.

Kyuhyun menyunggingkan senyum yang sama, menghirup aroma sakura yang terasa menyesekan, "Jadi, kau sudah menyerah atas semuanya?"

"Aku tak ingin menyakitinya, Kyu. Karena aku sendiri tidak yakin bisa mengatasinya"

"Seharusnya kau bertahan, hyung"

"Aku tau"

"Hyukkie sangat mencintaimu"

"Aku juga sangat mencintainya"

"Lalu kenapa kau menyerah secepat ini?!", nada suara Kyuhyun meninggi, ada amarah yang terungkap disana. Tentu saja ia marah, bagiaman bisa Donghae melepaskan Hyukkie begitu saja? Menyakiti sahabatnya seperti itu, padahal Kyuhyun yakin bahwa Donghae juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Hyukkie rasakan.

"Karena aku pengecut Cho Kyuhyun, aku namja lemah yang tak ingin mengambil resiko untuk lebih menyakitinya", lirih Donghae, kedua ruby itu menatap nyalang onyx Kyuhyun. Begitu banyak luka nyata yang terpampang jelas disana.

"Padahal jika kau mau, kau bisa memenangkan permainan takdir ini, hyung"

"Mungkin kau benar, tapi bukankah ini lebih dari cukup? Dengan begini aku masih bisa mencintainya tanpa harus menorehkan luka lebih banyak lagi dihatinya"

Kyuhyun mendengus aneh, sebuah kalimat sederhana yang berhasil membuka luka lama, "See? Bukankah cinta terlalu sederhana hyung?"

"Terlalu sederhana hingga tidak mampu diuraikan"

"Aku setuju"

"Kyu?"

"Ya?"

"Kau masih mencintai Yesung hyung?"

Kyuhyun berjengit aneh. Kenapa arah pembicaraan mereka menjadi kembali tentang Yesung?

"Tanpa aku menjawabnya kau sudah tau bagaimana jawabannya hyung"

Donghae tersenyum kecil, "Kau hebat Cho Kyuhyun"

"Ne?"

"Kau berani mengambil resiko untuk lebih terluka"

Kyuhyun tertawa hambar, seluruh sel dalam tubuhnya kembali berdenyut menyakitkan, "Aku tidak sehebat itu hyung. Kau tau, saat aku melihat senyum bahagia merekah di bibir Yesung hyung, rasanya semua rasa sakitku membeku begitu saja. Melihatnya tertawa membuatku tak mampu lagi menyembunyikan kebahagian nyata dalam hatiku, bahkan saat melihatnya tersipu malu atas kelakuan Siwon hyung, membuat semua denyut menyakitkan itu tegantikan denyut menenangkan. Tapi sungguh, jika aku boleh jujur luka itu tetap tertoreh hyung. Walaupun perasaan hangat menjalar ketika melihatnya bahagia, luka nyata yang terpampang jelas disana membuatku ingin menyerah. Namun, seperti yang terlihat aku bahkan tak mampu untuk pergi dari hidupnya karena jika aku benar-benar pergi aku tak tau lagi bagiamana caranya aku akan hidup"

Sejenak Donghae tertegun, bagiamana bisa seorang Cho Kyuhyun yang dulunya adalah tuan muda manja yang tak pernah memikirkan perasaan orang lain berubah menjadi seperti ini?

"Sampai kapan kau akan bertahan?"

"Sampai aku tak mampu lagi melihat senyumnya"

Untuk sesaat kedua namja tampan itu membisu, membiarkan pikiran mereka masing-masing mengambil alih semuanya.

Drrrtt.. drrrtt..

Kyuhyun tersentak dari lamunannya, meraih handphonenya yang tiba-tiba berbunyi nyaring di saku celana.

Dahinya berkerut bingung saat melihat tulisan dilayar handphonenya.

"Yeoboseyo? Dad?"

"..."

Donghae yang semula tidak peduli kini mengalihkan pandangannya kearah Kyuhyun, kedua rubynya membulat tak percaya saat Kyuhyun mengucapkan nama seseorang.

"Kim Jongwoon? Aku tidak mengenalnya Dad"

Detak jantung Donghae semakin cepat, seolah berbunyi nyaring. Tidak, semoga bukan dia yang dimaksud ayah Kyuhyun.

"Panti asuhan di Incheon? Aku mengenal orang yang berasal dari sana, tapi namanya bukan Kim Jongwoon, Dad"

Donghae tersentak, kenapa ayah Kyuhyun bisa tau sejauh itu? Ada hubungan apa antara ayah Kyuhyun dan Jongwoon?

"Dad ingat namja yang kemarin bersamaku dan Siwon hyung? Kim Yesung, dia juga berasal dari panti asuhan itu. Mungkin aku bisa menanyakan kepadanya tentang Jongwoon."

Tidak! Jangan! Entah untuk alasan apa kedua tangan Donghae mengepal kuat.

"Ne, baiklah. Bye"

Kyuhyun memutuskan sambungan telepon itu, memasukan handphonenya ke dalam saku celana lagi. Ia menoleh, sedikit terkejut saat menemukan Donghae yang terlihat sedikit, pucat?

"Hyung? Gwenchanayo?"

Donghae menggeleng pelan, mencoba mnejernihkan pikirannya, "Kim Jongwoon? Kau mencari orang itu?", ucap Donghae datar.

"Aniyo. Aku bahkan tidak pernah mendengar nama itu, hanya saja tiba-tiba Dad menanyakan nama itu, kata Dad orang bernama Kim Jongwoon juga bersekolah disini"

Donghae mengangguk, menghela napas panjang, mencoba bersikap tenang.

"Ah, hyung. Bukankah kau juga sering berkunjung ke panti asuhan di Incheon bersama Yesung hyung? Apa kau mengenal orang bernama Kim Jongwoon itu?"

Tubuh Donghae terasa kaku, sebenarnya ada apa ini?

"A-aniyo. Aku tidak mengenalnya"

"Begitukah? Ck. Kenapa Dad tiab-tiba mencari orang bernama Kim Jongwoon itu, eh?"

Kenapa semua terasa saling berhubungan?

.

.

_Cloud'sHana_

.

.

Namja cantik itu mengembangkan senyum manis. Berjalan cepat melewati lautan manusia yang berlalu lalang disekitarnya, sesekali koper hitam yang ia bawa bergesekan dengan koper milik penumpang lain.

"Joongie!"

Ia menoleh, senyumnya semakin lebar saat menemukan Lee Junsu tengah melambai kearahnya, "Su-ie, kau benar-benar menjemputku?"

Junsu mengangguk sekilas, menarik tangan Jaejoong dari kerumunan orang-orang yang mulai menjadi, "Tentu saja aku menjemputmu Joongie, aku tidak mau kau tersesat di Korea"

Jaejoong mendengus aneh, "Kau pikir aku orang asing yang tidak tau seluk beluk negaraku sendiri eh?"

Junsu tertawa geli melihat ekspresi Jaejoong, merangkul namja manis itu erat, "Aku hanya bercanda Kim Jaejoong".

"Kau juga mendapat undangan itu?"

"Undangan?"

"Festival sekolah"

Junsu membulatkan mulutnya, bergumam mengerti, "Jadi kau jauh-jauh ke Korea untuk menghadiri acara itu?"

Jaejoong tersenyum, begitu indah, senyum yang sudah terlalu lama disembunyikannya, "Salah satu alasannya karena itu, tapi ada sebuah alasan penting yang membuatku kembali kesini"

"Apa?"

Jaejoong menghentikan langkahnya, membuat Junsu mengikuti apa yang dilakukannya. Ia menghela napas pelan, binar kebahagiaan yang terasa begitu asing tercetak di caramel cerah itu, "Jongwoon. Wookie menemukan Jongwoonku"

Sejenak Junsu sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya, namun detik berikutnya ia sudah membawa Jaejoong dalam pelukannya, "Benarkah? Itu berita bagus Joongie! Sangat bagus"

Jaejoong mengangguk, ya ini berita yang sudah lama ia tunggu.

"Dan kau tau? Dia juga berada di Sapphire Blue"

"Jinjja?"

"Ya, bukankah itu seperti sebuah takdir untuk kami"

"Aku berpikir juga begitu"

Mereka melanjutkan langkahnya, berjalan beriringan ditengah kebisingan yang mendadak terasa begitu tak berarti, "Ah, jangan lupa membawanya ke pesta pertunanganku minggu depan Joongie"

"Pesta pertunangan? Kau dan Yoochun?"

Junsu menatap gemas sahabatnya, "Tentu saja aku dan Yoochun, siapa lagi eh?"

"Kau terburu-buru sekali Lee Junsu"

"Benarkah? Sama sekali tidak menurutku"

"Apa Hyukkie sudah setuju jika kau berhubungan dengan Yoochun"

Untuk sejenak Junsu terdiam, merasa sedikit ragu dengan jawabannya sendiri, tapi toh ia tetap mengatakan apa yang coba ia yakini, "Hyukkie setuju, bahkan Lee Donghae, anak Yoochun juga sudah mengenal Hyukkie dan mereka terlihat.. akrab"

Ya, mereka terlihat akrab dan terlalu dekat menurutnya. Seperti ada sebuah benang tak kentara yang mengikat mereka.

"Awal yang bagus Su-ie"

"Ya, aku juga berharap ini adalah awal yang bagus untuk kami"

Semoga saja~

.

.

.

"Wookie, gwenchanayo?"

Namja mungil itu menoleh, tersenyum hambar ke arah Sungmin, "Gwenchana hyung, aku akan baik-baik saja", ucapnya mungkin lebih kepada dirinya sendiri. Ya, ia akan mencoba untuk baik-baik saja.

"Jika kau bisa berdamai dengan hatimu tentang Kyuhyun, kenapa sekarang kau tidak mencoba untuk kembali berdamai dengan hatimu tentang Yesung?"

Wookie menggeleng lemah, menundukan kepalanya dalam, "Untuk kali ini kau salah hyung"

"Apa maksudmu?"

"Aku bisa berdamai dengan hatiku (lagi) tentu saja, namun kurasa ini bukan masalah apa aku bisa menreima kenyataan yang ada didepanku atau bukan, ini tentang bagaimana aku bisa melawan rasa takutku, mungkin"

"Takut? Untuk alasan apa kau merasa takut?"

Wookie mendongak, menatap hazel milik Sungmin dengan caramelnya yang mulai berkaca-kaca, "Takut jika setiap harapan yang kugantungkan akan berarkhir menyakitkan, takut jika setiap apa yang diimpikan Mom tidak lagi mampu untuk terjadi, takut jika pada akhirnya Yesung, Jongwoon hyung tidak bisa menerima kami lagi"

Sungmin menangkupkan kedua tanganya di wajah Wookie, mengusap lembut pipi tirus itu, "Semua akan baik-baik saja Kim Ryeowook, percayalah dan semua akan berjalan sesuai dengan apa yang kau harapkan"

Sungmin tersenyum, dan seperti yang kalian tau, senyum itu menular, Wookie ikut menarik bibirnya keatas, sebuah senyum kecil untuk mengawali hal yang begitu besar hari ini.

"Gomawo hyung"

"Untuk apa kau berterima kasih Wookie-ya?"

"Untuk segalanya. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku, hyung"

"Aku merasa tidak pernah memberi apapun padamu"

Wookie menggeleng imut, meletakkan tangannya diatas tangan Sungmin yang masih berada dipipinya, menggenggamnya lembut, "Aniyo, kau salah hyung, kau memberiku banyak hal"

"Benarkah?"

"Ne! Jeongamal gomawo hyung", seru Wookie, dan tanpa aba-aba langsung menghambur memeluk Sungmin, memeluknya begitu erat.

Deg.

Sejenak Sungmin lupa bagaimana caranya bernapas. Jantungnya berdetak nyaring dirongga dadanya, kenapa selalu seperti ini eh?

Tuhan, semoga dia tidak mendengar detak jantungku.

"Sungmin hyung?"

"Ne?"

"Joahae, ah ani! Saranghae hyung, saranghae Lee Sungmin"

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Sungmin, ia benar-benar lupa bagaiaman caranya berbicara.

.

.

.

"Chagy, kumohon dengarkan aku untuk kali ini saja", ucap Siwon terdengar putus asa. Ini sudah kesekian kalinya namja tampan itu mencoba membujuk Yesung untuk tetap tinggal dikamar, melarang namja manis itu untuk menghadiri puncak festival sekolah hari ini.

Oh! Demi Tuhan! Jangan lagi, jangan menangis.

Siwon gelagapan saat melihat setetes air mata meluncur jatuh dari caramel Yesung, "Aku tidak selemah itu Wonnie, kenapa kau melarangku mengikuti acara itu eh?', ujar Yesung dengan suara yang begitu parau, sesekali tangan kecilnya menghapus air mata yang masih saja mengalir.

Cih. Kenapa ia menjadi begitu cengeng?

"Aku tau, tapi aku tidak ingin kau pingsan lagi seperti kemarin, kau harus menjaga kesehatanmu Yesung"

Yesung menggigit bibir bawahnya sendiri, berusaha menahan isakan yang ingin menerobos keluar, "Wonnie.. hiks.. huweee..."

Siwon membelalakan matanya, "Ya.. ya! Chagy!"

Yesung semakin menangis keras, menyilangkan kedua tangan seraya menghentak-hentakan kakinya. Melihat tingkah kekasihnya seperti itu Siwon hanya mampu meneguk ludahnya sendiri, terlalu manis...

"Hahhh... arraseo! Aku menginjinkanmu untuk ikut"

Seketika tangis Yesung berhenti, caramelnya bebinar jenaka ke arah Siwon, "Jinjja?"

Siwon mengangguk, menghela napas panjang.

"Choi Siwon... saranghae!", seru Yesung, menghambur dalam pelukan Siwon, membuat namja tampan itu terkekeh pelan.

Semoga hari ini semua akan baik-baik saja~

.

.

.

Acara sudah dimulai sejak tadi. Dengungan berisik dari setiap sudut seolah menjadi pelengkap pertunjukan hari ini. Aula sekolah yang sudah cukup besar pun seakan tak mampu menampung setiap orang yang datang untuk melihat.

Terasa sesak.

"Bukankah sudah kubilang, seharusnya kau tidak ikut Kim Yesung", ucap Siwon tajam, namun sama sekali tidak ada kemarahan dalam suara itu yang ada hanya sebuah rasa khawatiran yang begitu mendominasi.

Yesung menggeleng lemah, mencoba mengabaikan perutnya yang kembali terasa nyeri, "Aku baik-baik saja Choi Siwon"

Siwon menghela napas berat, entah sudah berapa kali ia melakukan itu. Tangan kanannya meraih pinggang Yesung, memeluknya possesive, "Jangan menyembunyikan kesakitanmu dariku Yesung, karena seberapun kau mencoba menyembunyikannya semua terlihat jelas dimataku"

Yesung memejamkan caramelnya erat saat merasakan kepalanya berdenyut menyakitkan, kedua tangan mungilnya mencengkram kemeja Siwon erat. Siwon dapat merasakannya, saat ia akan melepaskan pelukannya Yesung malah mencengkram kemejanya semakin kuat, "Peluk aku Choi Siwon"

Bukan sebuah kalimat perintah yang mengintimidasi melainkan sebuah kalimat permohonan yang begitu sangat.

Siwon sama sekali tidak berkomentar, menuruti kemauan Yesung, memeluk namja manis itu semakin erat, mengusap lembut punggung Yesung, berharap semoga dengan begitu ia bisa sedikit saja memberikan sebuah kenyamanan nyata yang mampu mengalihkan sejenak kekasihnya dari rasa sakit itu.

Deru napas Yesung yang semula memburu kini mulai teratur, menjadi sebuah alunan tersendiri di telinga Siwon, "Sudah lebih baik?"

Yesung mengangguk dalam pelukan Siwon, rasanya jauh lebih baik saat Siwon memeluknya seperti ini, semua terasa benar.

"Hyung?"

Siwon sedikit menolehkan kepalanya, menemukan Kyuhyun yang memandang khawatir ke arahnya ah ani, memandang khawatir ke arah Yesung.

"Dia tidak apa-apa Kyu", ucap Siwon, entah ditujukan kepada siapa kalimat itu. Tapi Kyuhyun tidak percaya begitu saja, menghiraukan pandangan aneh dari Siwon ia melangkah mendekat, tangannya terulur menyentuh pipi Yesung, membuat namja manis itu mendongak, membuat caramel indah dan onyxnya bertabrakan.

"Cho?"

"Kau pucat, hyung"

Yesung menyunggingkan senyum terpaksa, mengisyaratkan bahwa ia bisa menahan rasa sakit itu.

Kini tatapan Kyuhyun beralih ke arah Siwon, memandang tajam obsidian kelam Siwon, "Kenapa kau membawanya kemari, bukankah sudah jelas tubuhnya masih lemah", desis Kyuhyun. Wajah Siwon mengeras, ia mungkin tidak keberatan jika disalahkan seperti ini, memang ia yang terlalu lunak terhadap Yesung, membiarkan sisi lemahnya mengambil alih, namun jika Kyuhyun yang berkata seperti itu seolah terdengar bahwa ia tidak mampu menjaga Yesung dengan baik.

"Aku lebih tau tentang dia Cho Kyuhyun", balas Siwon sakartis, ada nada tidak suka yang terdengar jelas disuaranya.

Sejenak mereka hanya terdiam, terus saling menatap seolah ingin menelanjangi satu sama lain, hal itu benar-benar membuat Yesung merasa jengah, "Ya! Kalian berdua, berhenti berpandangan seperti itu, kalian terlihat seperti akan saling bunuh!"

Keduanya menoleh, pandangan mereka berubah lembut saat menatap Yesung yang kini memberenggut kesal dengan wajah yang masih begitu pucat, keduanya menghela napas bersamaan.

"Mianhae..", ucap Kyuhyun dan Siwon yang lagi-lagi bersamaan, kenapa sekarang meraka menjadi kompak seperti ini, eh?

"Hahh.. sudahlah", ucap Yesung acuh, kepalanya kembali berdenyut menyakitkan.

Sebelum Kyuhyun ataupun Siwon mengucapkan sepatah katapun suara seseorang mengenterupsi ketiganya, membuat mereka terdiam.

"Yesung hyung? Bisakah kau ikut denganku? Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu".

.

.

.

Jaejoong bergerak gelisah, sesekali ia menghela napas, mencoba menghilangkan kegelisahan aneh yang menyelubungi hatinya.

"Kim Jaejoong, tenanglah.. semua akan baik-baik saja", gumamnya kepada dirinya sendiri. Ia sedikit tersentak saat mendengar langkah kaki seseorang yang bergema di koridor, membuat jantungnya berdetak tak karuan.

Namun hal itu segera tergantikan dengan denyut menyakitkan saat melihat siapa yang datang, bukan seseorang yang ia harapkan untuk bertemu saat ini, detik ini.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Namja itu terkejut, sama sepertinya, "Joongie? Kau juga disini? Ah, aku lupa, Ryeowook juga bersekolah disini eh?"

Kegelisahan itu semakin menjadi, bersamaan dengan sebuah ketakutan samar yang mulai mendomanasi hatinya. Demi Tuhan! Kenapa ia harus bertemu dengan Cho Yunho disini.

Jaejoong mengabaikan Yunho, melangkah melewati namja tampan itu namun lagi-lagi jantungnya berdetak menyakitkan saat tangannya dicengkram kuat.

"Lepaskan aku Yunho-ssi", desis Jaejoong tajam.

Yunho menraik tangan Jaejoong, membuat namja cantik itu mau tak mau menghadapnya, menatap dalam caramel cerah yang begitu ia rindukan, "Kita harus bicara"

Jaejoong mengalihkan pandangannya. Jangan seperti ini.. ia tidak akan sanggup jika harus menatap onyx yang seolah menyeretnya untuk kembali jatuh kedalam pesona indah itu, "Tidak adalagi yang perlu kita bicarakan Yunho-ssi"

"Tidak, kau salah Joongie.. banyak hal yang seharusnya kita bicarakan"

"Apa misalnya?"

"Tentang Jongwoon mungkin"

Deg.

Jika ia mempunyai penyakit jantung, bisa dipastikan Jaejoong sudah mati sekarang. Rasa sesak yang dulu coba ia lupakan kini kembali lagi, luka berdarah yang tidak benar-benar sembuh itu kembali basah, bernanah.

Bagaiaman Yunho bisa tau tentang Jongwoon?

"Kenapa diam Kim Jaejoong? Apa kau terkejut aku tau tentang Kim Jongwoon? Ah, atau seharusnya anak itu bernama Cho Jongwoon?"

Jaejoong berusaha berontak, namun hal itu jelas sia-sia mengingat Yunho yang semakin mencengkram tangannya erat, "Itu bukan urussanmu Cho Yunho!"

Tangan kanan Yunho yang bebas meraih pipi namja cantik itu, memaksa Jaejoong untuk menatapnya, "Tentu saja itu menjadi urusanku Kim Jaejoong, dia anakku"

Jaejoong tertawa sinis, caramel yang biasanya selalu bisa membuatnya tenang itu kini berkilat aneh, penuh dengan kebencian yang memang sepantasnya ia dapatkan, "Anakmu kau bilang? Anakmu hah? Kau tidak pantas bicara seperti itu Cho Yunho! Bagiamana bisa kau menganggapnya sebagai anakmu jika dulu kau bersikukuh ingin membunuhnya eoh?"

Yunho membisu, tidak tau apa yang ingin ia katakan. Karena yang dikatakan Jaejoong benar, bagaiaman bisa ia menyebut Jongwoon anaknya jika dulu ia menyuruh Jaejoong untuk menggugurkan anak itu? Bahkan ia masih saja ingin melenyapkan Jongwoon saat anak itu sudah lahir.

"Sekarang kenapa kau diam hah? Bukankah yang aku katakan benar Cho Yunho? Kau lebih memilih bersama Changmin karena kau takut perusahaanmu akan hancur, kau lebih memilih bersamanya daripada bersamaku dan darah dagingmu! Kau menelantarkan kami begitu saja, kau membuangku dan Jongwoon! Kau seolah tidak peduli bagiamana kami hidup, bahkan kau dengan tega menyuruh orang-orang itu untuk memisahkanku dan Jongwoon! Kau pikir aku tidak tau bahwa kau masih ingin melenyapkan anak kita walaupun aku sudah meninggalkanmu, kau takut jika suatu saat anak itu akan menjadi masalah dalam hubunganmu dengan Changmin eh? KAU BRENGSEK CHO YUNHO! KAU BRENGSEK!"

Tubuh Jaejoong bergetar hebat, air mata itu mengalir begitu saja tanpa mampu ia cegah. Semuanya kembali, mimpi buruk yang selama ini telah ia kubur dalma-dalam menjadi sebuah lukisan baru dihadapannya, menorehkan kembali luka nyata yang membuatnya mengerti bahwa sampai kapanpun mimpi buruk itu tak akan mampu ia hapus, karena mimpi buruk itulah yang telah membuatnya terus bertahan sampai saat ini.

"hiks... kau brengsek Cho Yunho! Kau brengsek! Aku membencimu!", Jaejoong merosot jatuh, seakan ia tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya, semua terlalu tiba-tiba.

Yunho memandang nanar Jaejoong yang kini tergugu didepannya, dibawahnya. Rasa bersalah yang selama ini ia rasakan semakin menghimpitnya, mungkin ia memang tidak merasakan apa yang Jaejoong rasakan selama ini, mungkin ia tidak semenderita namja cantik itu, namun sungguh! Ia juga merasakan kesakitan nyata dihatinya, kegelisahan yang selalu saja mengahantui tidurnya, semua begitu jelas hingga ia tak mampu lagi mengelak.

"Joongie.."

"Kumohon.. hiks.. jangan menggangguku lagi Yunho.. jangan mengusik kami lagi.. jebal.."

Yunho memejamkan matanya erat, kenapa kalimat itu begitu menyakitkan ditelinganya? Tidak adakah sebuah kesempatan lain untuknya?

Ia berjongkok, tangannya terulur, mengusap lembut air mata Jaejoong, begitu lembut seolah takut apa yang dilakukannya akan kembali membuat luka baru untuk Jaejoong, "Bisakah kau percaya jika aku berkata bahwa aku menyesal?", lirih Yumho, kegetiran terdengar jelas disuara itu.

Jaejoong mendongak, mencari sebuah kesungguhan dalam onyx itu, dan sayangnya ia menemukannya, tapi bisakah ia percaya?

"Aku tau aku salah, aku tau aku brengsek. Tapi sungguh, aku menyesal Joongie, aku menyesal telah menelantarkanmu dan Jongwoon. Waktu itu aku masih terlalu muda untuk mengerti semuanya, ambisiku untuk membentuk perusahaan besar dibawah nama ChoGrup masih begitu mendominasi, keegoisanku mengalahkan segalanya. Mungkin kata maaf tidak akan mengubah semuanya, tidak akan cukup, aku mengerti, tapi ijinkan aku memperbaiki semua yang telah aku perbuat Joongie, biarkan aku menebus semua kesalahanku, biarkan aku bertemu dengan anak kita".

Sejenak Jaejoong tertegun, mencoba mengais sisa-sisa kepercayaan yang coba ia yakini. Bisakah sekali lagi ia percaya? Bisakah sekali lagi ia memberikan kesempatan pada Yunho?

Namun sebelum ia bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa (mungkin) Yunho benar-benar menyesal, isakan lirih itu tersengar, isakan lirih yang begitu menyayat hati, dua orang yang menangis dalam waktu yang bersamaan dan salah satunya ia mengenal dengan jelas suara itu.

Jaejoong dan Yunho menoleh cepat, betapa terkejutnya mereka saat melihat Ryeowook, Kyuhyun, Siwon dan namja lain yang berada dalam pelukannya.

"Wookie-ya.."

Jaejoong tak mampu lagi berucap, lidahnya terlalu kelu untuk mengeluarkan suara. Ia tidak menyangka jika Wookie akan mengetahui kebenarannya dengan cara seperti ini, selama ini Wookie tidak tau apapun kecuali kenyataan bahwa ia memiliki seorang kakak. Namun tatapannya kini beralih pada seorang namja manis yang berada dalam pelukan seorang namja tampan, untuk sejenak ia tercekat, kerinduan itu semakin nyata terasa.

Caramel cerah itu menatapnya dengan air mata yang berlinang, caramel yang sama seperti milik Wookie dan tentu saja miliknya. Bibir kissable mungil dan hidung mancung yang menghiasi wajahnya terasa begitu familiar, walaupun ia tidak ingin mengakuinya tapi semua itu membuat namja manis tadi begitu mirip dengan Cho Yunho. Mungkin benar jika mereka sudah berpisah selama 17 tahun, tapi seperti yang orang-orang bilang ikatan batin antara 'ibu' dan anaknya tidak akan terputus begitu saja.

Jaejoong berusaha berdiri, tubuhnya sedikit terhuyung namun ia tidak peduli, yang ia pedulikan kini hanyalah namja manis yang terus saja menangis itu. Langkah kakinya terseok, kedua tangannya terulur kedepan seolah ingin menggapai tubuh namja manis itu.

"Jongwoon.. Kim Jongwoon.."

.

.

.

Yesung merasakan dunianya runtuh saat ini juga. Kenapa semua menjadi seperti ini, benarkah semua yang ia dengar tadi benar? Jadi, ia, Wookie dan Kyuhyun.. mereka..

Dadanya terasa sesak, kesakitan nyata dihatinya semakin menjadi, sebuah kebencian yang selama ini selalu menyelubunginya semakin terasa, semuanya terasa aneh dan membingungkan.

Ia melihat namja cantik yang ia ketahui bernama Kim Jaejoong itu berdiri, sedikit terhuyung, berusaha keras melangkah ke arahnya, mengulurkan kedua tangannya seolah ingin meraih tubuhnya.

"Jongwoon.. Kim Jongwoon.."

Yesung menggelng kuat, kedua tangan mungilnya menutupi telinga, tidak ingin mendengar apapun lagi.

"Jongwoon.. chagy.. Ini Mom.."

"Aku bukan Jongwoon! Aku bukan Kim Jongwoon!", teriak Yesung, tubuhnya semakin bergetar hebat.

Jaejoong terisak kecil, ia sudah menyiapkan kemungkinan terburuk saat bertemu dengan anaknya tapi saat mengalaminya sendiri seperti ini sampai kapanpun tidak pernah ia bayangkan.. kesakitan itu semakin nyata..

"Jongwoon.. jebal.. Mom merindukanmu.."

"Aku bukan Jongwoon.. aku bukan Jongwoon.."

Seperti sebuah mantra yang terus Yesung ucapkan.. mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa takdir yang begitu ia benci ini semua palsu.. semua hanya ilusi..

Langkah Jaejoong terhenti, ia membekap mulutnya sendiri. Sebegitu besarkah dosanya hingga anaknya sendiri tidak mau mengakui bahwa ia ada?

"Kenapa Mom tidak pernah menceritakan semuanya padaku?", ucap Wookie parau, ia menatap nanar ibunya, meminta sebuah penjelasan yang lebih dari ini.

Namun Jaejoong hanya mampu menggelng, tidak tau apa yang harus ia katakan maupun lakukan.. ia benar-benar tidak tau jika semuanya akan menjadi seperti ini..

"Jongwoon.."

Kini lima pasang mata itu beralih menatap Yunho, namja tampan itu sekarang berjalan mendekat. Ia sama sekali tidak menyangka jika namja yang tidak sengaja ia temui dirumah sakit itu adalah Jongwoon, Cho Jongwoon, anaknya.

"Pergi!", teriak Yesung histeris, tubuhnya bisa dipastikan sudah membentur lantai jika Siwon tidak dengan cepat meraih pinggang Yesung, memeluk namja manis itu erat.

Yunho juga menghentikan langkahnya seperti Jaejoong, entahlah.. mereka hanya tidak sanggup melihat Yesung seperti itu. Tatapan Yunho beralih, seolah baru menyadari bahwa Kyuhyun juga berada disana.. Cho Kyuhyun memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

.

.

.

Kyuhyun hanya menatap apa yang terjadi tanpa melakukan apapun, karena sesungguhnya ia tidak tau apa yang terjadi disini. Semua kenyataan ini terlalu mengejutkan untukknya, otak jeniusnya seolah tak mampu menangkap apa yang terjadi.

Ia menatap Yunho yang kini juga menatapnya, mencari sebuah kebenaran yang tidak ingin ia percayai.

Suasana di koridor itu terasa menyesakkan, atmosfer yang dipenuhi dengan isakan lirih membuat meraka tidak mampu bernapas dengan benar.

"Yesung!"

Deg.

Ia menoleh cepat, kedua onyxnya melebar saat melihat tubuh Yesung tak bergerak dalam pelukan Siwon, darah segar mengalir dari hidung namja manis itu. Semua terjadi dengan begitu cepat, Siwon yang langsung membopong tubuh Yesung brelari menyusuri koridor, Wookie dan Jaejoong yang awalnya terkejut pun kini sudah berlari menyusul Siwon dengan air mata yang masih membasahi kedua namja itu.

Kyuhyun berbalik berlari diikuti Yunho dibelakangnya. Kini rasa itu mulai menampakann wujudnya, air mata yang sejak tadi tak mampu mengalir pun kini menerobos dengan mudah melalui onyxnya.

"Dad, apa yang harus aku lalukan?"

.

.

.

TBC


Big Thanks For :

Widia kesumowardani_cloudyeye_MyKyubee_yesungismine_lee gyura_Nakazawa Ryu_laila. _blackwhite28_TamamaChan_Cho Kyu Chely_yoon Hyunwoon_Keyra Kyuunie_Magieapril_dew'yellow_krystal_Clouds nisa_cloud3024_kyusungshipper


Jeongmal gomawo buat yang udah baca n review. ^^

.

.

review? (again)

.

Khmasahamnida. *bow*

See you! *hug*

_Cloud'sHana_