Akademi Militer Distrik 3.

Pagi ini, seperti biasa, suasana di sebuah akademi militer distrik ketiga cukup menghebohkan, lantaran para senior yang membangunkan junior mereka dengan cukup ekstrim. Ah, apa sih yang tidak pernah dirasakan para junior ketika senior mereka memaksa untuk bangun?

Disiram air? Cek.

Diteriaki pakai toa? Cek.

Pukulan panci dengan sendok sup tepat di telinga? Cek.

Atau bahkan…

Diangkat, dan setelah itu diceburkan ke dalam danau? Cek.

Itu semua telah mereka rasakan selama bertahun-tahun mereka belajar. Bahkan ada yang sejak lahir hidup seperti itu.

Namun, tak ada satu pun dari mereka yang memprotes.

Karena, mereka telah kehilangan apa yang mereka rasakan. Kehilangan sesuatu yang orang lain punya, sedangkan mereka tidak. Kehilangan 'benda' yang sejak kecil tak pernah mereka kenyam. Tak pernah mereka alami. Tak pernah mereka rasakan. Tak pernah mereka terima.

Tahukah kalian, apa 'sesuatu' itu?

Tepat.

Hati.


Kokoro?

An Inazuma Eleven fanfic

Chapter 1

*Military?*

Disclaimer:

Inazuma Eleven © Level-5

Warning:

Abal, aneh, gaje, ooc, tak layak baca, pendek, typo bertebaran, gila, bahasa lebay, ide pasaran, dan lain-lain yang bisa membuat mata Anda sekalian rusak karena membacanya

Saya dah bilang ini fic ooc kan?

.

.

.


Masih di Distrik 3. Sebuah tempat yang sunyi. Tak ada apa pun yang bisa diamati secara jelas dari tempat itu. Semua tak ada yang jelas dan teratur, namun, tak juga kacau.

Berbeda dengan distrik-distrik lainnya, Distrik 3 merupakan 'tempat di mana orang-orangnya hidup sendiri'.

Tidak. Mereka tidak benar-benar hidup sendiri. Hanya saja, mereka tak pernah saling perduli satu sama lain. Tak pernah saling menyapa. Tak pernah saling bergantung. Tak pernah saling berseteru akan sesama mereka.

Lain dengan distrik lainnya.

Distrik 1 misalnya.

Wilayahnya luas. Penduduknya banyak. Perekonomiannya berkembang dengan baik.

Akan tetapi, mereka sering membudidayakan sifat 'iri'.

Yah, mungkin karena itulah, Distrik 1, dari tiga belas tahun yang lalu hingga sekarang, dilanda perang yang tak pernah berhenti. Entah kapan perang itu akan berakhir, orang-orang dari distrik itu sendiri pun tak tahu.

Perang saudara lah, istilah kerennya.

Lalu, Distrik 2.

Distrik yang damai, jika dilihat menggunakan satelit luar angkasa.

Tetapi…

Penduduknya kosong.

Tak ada seorang pun yang mau hidup di sana.

Yah, siapa yang mau hidup di distrik penuh kriminal seperti itu? Membuat orang takut saja.

Itu contoh. Sebenarnya masih –sangat- banyak –sekali- masalah yang ingin diceritakan mengenai dua puluh enam dari tiga puluh distrik yang ada di negara ini. Tapi, jika diceritakan semuanya, akan memakan waktu yang sangat lama, bukan?

Ah, langsung saja ke inti masalahnya. Distrik 3.

Distrik 3 bisa dibilang seperti neraka dunia. Bisa juga dibilang seperti surga dunia.

Neraka dunia bagi mereka yang bertentangan dengan ajaran mereka. Dan surga dunia bagi orang-orang yang sepaham dengan mereka.

Karena, Distrik 3 menggunakan 'hukum rimba'.

Pernah dengar?

Yap, benar. 'Yang lemah akan dimakan yang kuat'.

Karena itulah, di distrik ini, didirikan akademi militer, pertama dan satu-satunya di negara ini.

Di sana, para pelajar diajarkan bertarung. Melewati medan perang, dan bertahan dalam keadaan apa pun. Bahkan, mereka diajarkan untuk saling membunuh jika diperlukan.

Sekali lagi, tak ada yang memprotes.

Karena, hati mereka telah 'mati'.

Tak akan ada lagi yang bersedih karena kematian teman. Berkabung karena kehilangan salah seorang dari mereka. Dan menangis karena ada yang hilang.

Tidak ada.

Mereka tidak kenal hati.

Tidak kenal perasaan.

Tidak kenal rasa sayang.

Tidak kenal rasa kasihan.

Yang ada hanya membunuh. Senjata. Perang. Dan kemudian mati seiring dengan waktu yang berjalan. Menyebabkan mereka harus menapaki medan perang lalu gugur di sana.

Perang.

Yah, di negara ini, perang saudara masih banyak.

Sudah lihat contoh Distrik 1?

Belum yang lain.

Distrik 13 dan 14, saat ini masih dilanda perang saudara. Sejak delapan tahun lalu hingga sekarang. Begitu juga dengan Distrik 9 dan 10.

Distrik yang benar-benar aman, hanya Distrik 3, 18, 25, dan 29.

Distrik 3, seperti yang disebutkan, tempatnya orang-orang yang hidup sendiri. Distrik 18, hanya para imigran yang boleh masuk. Mereka tinggal dan hidup di sana selagi masih ada di negara ini. Dan jika ingin tinggal secara normal, hanya di Distrik 25 dan 29, yang dapat ditinggali orang-orang biasa.

Ada distrik aman, ada pula distrik mati, yaitu Distrik 2 dan 30.

Distrik 30, tidak ada apa pun. Hanya gurun pasir dipenuhi batu yang sulit dijangkau. Tidak ada yang hidup di sana selain hewan gurun dan kaktus. Karena letaknya yang berada di tengah-tengah benua, menyebabkannya jarang terkena angin laut dan di sana selalu panas, kering, serta gersang.

Negara ini memang tak akan bisa berdamai.

Negara ini memang tak akan bisa tersenyum.

Tidak ada yang bisa saling memahami.

Tidak ada yang bisa saling mengerti.

Hanya ada perang, membunuh, dan mati.


.

.

.


Akademi Militer Distrik 3, Sabtu pagi.

"Perhatian! Untuk junior angkatan sembilan dan sepuluh, kumpul di lapangan utama… SEKARANG!" dari kejauhan, terdengar teriakan dari senior angkatan sebelas –karena hanya siswa tingkat akhir yang boleh memegang mikrofon perintah-.

Tak lama setelah itu, terdengar riuh ramai dari para siswa junior kelas sembilan dan sepuluh. Tidak mengerti alasan mengapa mereka dipanggil mendadak seperti itu.

Sedangkan di ruang siaran tempat suara senior itu diteriakkan, terlihat dua orang, tanpa ekspresi, yang satu memegang mikrofon, dan salah satunya sedang duduk di kursi tak jauh dari mikrofon tersebut.

"Hei, Kazemaru," panggil seorang yang duduk itu.

Pemuda yang dipanggil Kazemaru –sebenarnya ia diragukan sebagai pemuda, kalau tak melihat seragam sekolahnya- menoleh dan memasang tampang sarkatis. "Ada apa?" ia bertanya intens.

"Apa kau tidak merasa keterlaluan? Mereka junior, lho," kata pemuda yang sedang duduk itu. Sambil memutar-mutar gantungan kunci.

"Maksudmu apa, Endou? Kita ini siswa akademi militer, tidak memiliki hati dan perasaan. Kau sudah lupa itu?" Kazemaru mematikan mikrofon, dan berniat berjalan keluar ruangan. Sebelum Endou berkata-

"Yah, aku tidak lupa, sih. Hanya saja, kelihatannya aneh kalau kau galak di depan mereka, jadi makin cantik, lho…"

-seperti itu. Sembari mencolek sedikit dagu Kazemaru. Sedangkan sang pemilik, hanya diam dan men-deathglare Endou, sahabatnya sejak angkatan pertama.

"Cih, ternyata kau benar-benar lupa prinsip akademi militer ini, Endou," Kazemaru sebenarnya ingin menjawab godaan Endou yang seperti bisikan gaib. Yah, tapi berhubung mereka telah bersahabat selama sebelas tahun, Kazemaru menyadari, kalau berdebat dengan Endou pasti tak akan ada hasilnya meskipun sudah pasti ia yang menang.

"Jangan kaku, Kazemaru. Selama sebelas tahun di militer, memangnya kau tak bosan dengan ajaran yang itu-itu saja? Aku, sih, kalau bisa mau kabur secepatnya. Tapi, kau tahu sendiri, kalau aku sudah cinta pada militer, tak mungkin kutinggalkan," celoteh Endou panjang lebar. Kazemaru memutar matanya, bosan.

Hening.

Diam.

"Itu bukan urusanku," balas Kazemaru sambil mengangkat bahu. Baik, itu bisa dikatakan kejam. Melihat mulut Endou sudah menganga lebar. Tak percaya dengan respon Kazemaru.

Mungkin, pemuda cantik itu telah benar-benar tak berhati.

Sedikit banyak, Endou bisa tersenyum, tapi ia juga bisa sedih.

Ia tersenyum, ajaran militer ternyata sudah masuk hingga mendarah daging dalam diri sahabatnya.

Dan sedih, karena konsepsi militer itu telah mematikan apa yang seharusnya ada dalam diri Kazemaru.

Tak seperti dirinya.

Meski bisa dibilang tak punya hati, namun Endou masih punya tawa dalam hidupnya. Jadi, tidak kosong.

Sedangkan Kazemaru, hidupnya benar-benar hampa.

Tidak ada apa pun.

Bahkan ia tak merasakan apa-apa ketika pertama kali membunuh orang di pelatihan angkatan keenam.

Kosong.

Sekosong tatapan matanya. Sekosong pikirannya. Sekosong hatinya.

Sehampa dirinya. Sehampa hidupnya. Sehampa jalur yang ia tapaki.

Yah, Endou tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun ia sahabat terbaiknya.


.

.

.


"Kalian tahu, kenapa dipanggil kemari?" teriak Kazemaru lantang. Kini, barisan junior angkatan sembilan dan sepuluh telah berbaris rapi di hadapannya. Dan ialah yang memegang komando.

Kenapa Kazemaru jadi komandan?

Tentu saja karena ia adalah pemegang peringkat pertama dalam militer satu angkatan. Sejak angkatan tiga hingga sebelas. Kazemaru siswa yang pintar.

Baik dalam praktek, atau teori.

Ia bahkan akan diserahi jabatan tinggi ketika lulus dari akademi militer ini nanti. Dan ikut dalam barisan terdepan di medan perang.

Padahal, wajahnya cantik bagai perempuan. Tapi keahlian berperangnya tak main-main.

Yah, manusia tak bisa dinilai dari penampilannya.

"SIAP, TIDAK!" jawab para junior serempak.

Barisan itu, tidak dibagi dalam angkatan.

Melainkan, dibagi dalam gender.

Perempuan, berbaris di kompi sendiri. Tidak peduli angkatan berapa, jika ia berpostur tubuh tinggi, wajib berada di barisan terdepan.

Begitu pula untuk kompi laki-laki.

"Kalian dipanggil, untuk mengikuti ujian kenaikan angkatan!" Kazemaru berteriak kembali. Para junior saling berpandangan dengan was-was. Dalam militer, sebenarnya hal itu tak boleh dilakukan karena mereka sedang dalam sikap siap. Tapi, tentang ujian kenaikan angkatan tahun ini, sepertinya ada yang berbeda, karena mereka langsung dipanggil menghadap senior.

"Bersama dengan angkatan sebelas, kalian akan ditugaskan ke Distrik 3, yaitu distrik yang kita tempati saat ini, mewakili distrik ini untuk mengikuti ujian pertahanan!" pada saat angkatan sebelas disebut, derap langkah kaki yang ramai nan tegas menyela kegiatan para junior sebelumnya, mengobrol.

"Ada pertanyaan?" ucap Kazemaru ketika para angkatan sebelas sudah berdiri dalam sikap istirahat dengan diam. Sontak, seorang siswi mengangkat tangannya untuk memberikan pertanyaan.

Kazemaru mempersilakan anak dari angkatan sembilan itu –terlihat dari warna dasi seragamnya yang hijau, untuk angkatan sembilan- untuk berbicara. Dengan menjentikkan jemarinya.

"Mengapa kita mewakili Distrik 3 dalam perang, sedangkan kita masih berstatus sebagai siswa akademi Distrik 3?" sang siswi bertanya. Mendengar itu, Kazemaru menaikkan alisnya, yang hanya terlihat satu karena yang sebelah lagi tertutup poni.

"Pertanyaan bagus. Sebenarnya hanya siswa angkatan sebelas yang diperbolehkan mengikuti ujian ini. Karena ini adalah ujian kalah sama dengan mati!"

"Dan, kita mewakili Distrik 3, dikarenakan distrik ini sedang konflik perebutan wilayah dengan distrik di sebelah utara kita, yaitu Distrik 5. Ujian kenaikan tingkat tahun ini, kita ditugaskan untuk menjadi barisan pertahanan yang menangani seluruh pertahanan Distrik 3. Tentu saja ini adalah pertarungan yang sebenarnya!"

"Tunggu sebentar!"

Seseorang menyela ucapan Kazemaru. Sebenarnya pemuda cantik itu mau melanjutkan, tapi sudah disela, apa boleh buat.

Kazemaru, tanpa ekspresi sedikit pun –yah, walaupun dalam hati, ia sudah akan mengutuk siswa angkatan sepuluh itu- menjentikkan jarinya kembali, mempersilakan pemuda berdasi merah itu agar bicara.

"Kalau ini adalah ujian kalah sama dengan mati, kenapa kita yang diikutkan? Bukankah kita masih dalam pelatihan, belum diizinkan untuk memegang senjata resmi perang?" pertanyaan yang hampir sama dengan siswi angkatan sembilan tadi. Tapi, pertanyaan pemuda itu lebih tepat dibilang, kalau ia mengkhawatirkan nasibnya.

"Kalian, angkatan sembilan dan sepuluh, tak dimasukkan dalam barisan depan. Tapi, barisan pertahanan. Kenapa kita yang diikutkan, karena hanya ada kita di Distrik 3 ini. Tak ada penduduk yang lain," Kazemaru mengambil napasnya sebentar. Mata madunya berkilat, entah karena apa.

Yah, sebagai distrik kecil, Distrik 3 hanya menyediakan akademi militer, akademi perawat dan dokter, akademi teknologi, juga akademi-akademi yang lain. Tak ada penduduk yang lain. Seperti kata Kazemaru.

Jadi, yang ada di sana hanya anak-anak remaja yang memakai seragam sekolah akademi, dan guru-guru yang mengajar. Itu saja.

Kalau mau hitung penjaga kantin, sebaiknya jangan dihitung. Karena semua akademi di Distrik 3 tak memilikinya. Kantin mereka otomatis.

Pemimpin dan aparat keamanan? Maaf saja, Distrik 3 bukan tempat di mana orang ingin diatur dan mengatur. Mereka mengatur diri sendiri bersama-sama di akademi masing-masing.

Pasar? Mereka tak punya. Semua kebutuhan mengimpor dari distrik lain. Langsung ke akademi, pemerintah tak ikut campur –berhubung mereka tak punya-.

Lagipula, banyak akademi yang memakai sistem asrama.

Begitu juga dengan seluruh akademi di distrik ini.

Intinya, Distrik 3 adalah distrik yang penuh dengan orang-orang yang belajar dan mengajar. Sebab isi distrik itu hanya mereka.


.

.

.


Seluruh anggota angkatan sebelas, memegang senjata masing-masing yang telah disiapkan. Tak terkecuali Kazemaru dan Endou. Bahkan, Kazemaru telah memegang lencana tanda komandan di seragam militer bagian dada kiri. Bertuliskan nama beserta jabatannya.

Sepertinya, semua penduduk Distrik 3 –yang terdiri dari guru dan murid-, ikut ambil bagian dalam perang. Akademi militer pada bagian medan, akademi perawat dan dokter pada bagian medis, serta akademi teknologi pada bagian pakaian perang dan persenjataan.

"Kau tegang, Kazemaru?" tanya Endou ketika mobil yang mereka tumpangi untuk sampai ke daerah perbatasan mulai meninggalkan akademi, tempat yang untuk sementara dijadikan markas senjata.

Kazemaru menggeleng singkat. Sebenarnya, dia bukan tegang. Dia hampir tak pernah tegang dalam hal apa pun, kecuali yang menyangkut dengan kehancuran asrama akademi –mau tinggal di mana dia kalau asrama akademi hancur?-. Tapi, ia sedikit gelisah, karena ini adalah perang yang sesungguhnya. Bukan percobaan.

Dia tidak berpikir guru-gurunya kejam. Tidak. Sama sekali tidak.

Toh, guru-gurunya juga ikut ambil bagian dalam perang ini. Di barisan paling depan pula. Ia merasa tak ada gunanya memikirkan tentang guru-gurunya yang kejam.

Hanya saja, Kazemaru merasa…

Sedih?

Hell, ia tak memiliki hati. Mana mungkin merasa sedih.

Entah apa kata yang pantas digambarkan untuk keadaannya sekarang.

Takut?

Huh, akademi militer tak mengajarkan kata takut.

Ah, ia tak tahu. Dan sama sekali tak ingin tahu.

Sebab, tak ada gunanya memikirkannya. Tepat beberapa jam dari sekarang, pasti ada teman-temannya yang gugur dari pertarungan.

Sebagai komandan pasukan, ia harus berpikir lurus ke depan.

Namun, pikirnya, jangan sampai terbawa suasana. Tak ada waktu untuk merenungi teman yang mati.

'Termasuk,' ia menoleh ke arah Endou. Pemuda berambut cokelat itu, bukannya menyiapkan mental, malah tidur sambil bersandar di mobil.

'Endou…' pemuda cantik itu menatap miris Endou.

Memang, ia selalu cuek dan berlagak egois di depan Endou.

Selalu memutar mata bila anak itu sudah berceramah di depannya.

Selalu menopang dagu jika Endou sudah berceloteh riang mengenai anime yang ditontonnya semalam.

Selalu tidak peduli dengan apa pun yang Endou perlihatkan.

Tapi, jujur saja, sebenarnya Kazemaru sangat perhatian pada Endou.

Seperti saat Endou terluka, Kazemarulah yang merawatnya. Atau saat Endou menangis ketika pertama kali membunuh teman sekelasnya karena terpaksa, tangan Kazemaru melingkar di sekeliling tubuhnya, memeluk badan ringkih yang terlihat amat menyesal itu.

Yah, ia mengerti, itu pasti karena mereka telah bersahabat selama sebelas tahun.

Mungkin lebih, mengingat mereka berdua sejak lahir berada di sana. Di akademi militer.

'Tidak ada waktu untuk memikirkan itu sekarang,' menggelengkan kepalanya, Kazemaru mengambil senjatanya dan turun dari mobil. Dua bilah pedang tersingkap di balik punggung bidangnya, beserta senapan besar yang menutupi pedang, dan beberapa pistol yang disemitkan di masing-masing pinggangnya.

Ketika ia turun, Endou yang baru bangun terus saja menguap selebar dan selama mungkin. Menghilangkan rasa bosan, barangkali. Kazemaru tak menggubris hal itu sama sekali. Yang ia pikirkan, ia akan kehilangan temannya, atau temannya itu yang kehilangan dirinya, atau mungkin mereka akan saling kehilangan –dalam artian, keduanya gugur-.

Atau ketiganya?

Oh, yang mana pun, Kazemaru berharap, ketiga-tiganya tak benar terjadi.

"Ini perbatasan, ya?" tanya Endou, masih sambil menguap. Kazemaru memicing sembari mengangguk perlahan. Medan perang mereka, perbatasan antar distrik, telah terlihat jelas, di depan mata mereka.

Distrik 5.

Sebenarnya, isi distrik itu kaya akan sumber daya alam.

Hanya saja, penduduknya sedikit, dan wilayah mereka terlalu sempit untuk mengolah sumber daya sebanyak itu.

Karena itulah, mereka berunding dengan distrik di wilayah selatan, Distrik 3. Untuk meminta pembagian wilayah.

Sayangnya, pihak Distrik 3 menolak. Dengan alasan yang tidak diketahui banyak orang.

Mengangkat bahu, Kazemaru mengiringi kompinya menuju tempat barisan pasukan penyerang. Sepanjang ia berjalan melewati padang rumput di sana, ia hanya menunduk. Entah berpikir, entah tidak. Sehingga tanpa disadarinya, Endou terus memperhatikannya.

Iseng, sahabat sejak kecilnya itu menggoda sang pemuda cantik. "Komanda~n, kau gugup, ya?" ucapnya sambil tertawa, tak lupa mencolek dagu Kazemaru –rutinitas sehari-hari mereka-.

"Apa, sih!" kata Kazemaru sambil memberi Endou deathglare termanisnya. Tak puas, Endou kembali terkikik, "kaku sekali, sih? Apa yang kau pikirkan?"

Dalam sekejap itu, Kazemaru membatu. Tak mungkin bilang kalau ia mengkhawatirkan Endou. Bisa-bisa pemuda itu malah salah tingkah dan tak konsentrasi di medan perang. Atau yang lebih parah, semakin menggodanya dengan mengatakan yang tidak-tidak, dan itu membuatnya muak, sungguh.

Yah, meskipun ia ingin Endou juga mengkhawatirkannya. Seperti ia mengkhawatirkan Endou melebihi dirinya sendiri.

'Konyol,' ia membatin. Manusia tak berhati macam dirinya mengkhawatirkan orang lain? Khh, suatu keajaiban.

Kazemaru menggelengkan kepalanya. Opsi terakhir yang bisa ia lakukan daripada mengatakan yang sebenarnya.

"Jangan bohong. Kau pasti sedang memikirkan sesuatu, iya 'kan?" Endou bertanya. Kali ini, nadanya serius.

Pemuda cantik sahabatnya itu berbalik memandangnya. Menatap Endou lurus. Keduanya tak bergerak sama sekali. Mengabaikan kompi barisan yang sebentar lagi sampai di tempat yang seharusnya.

"Sudahlah. Aku tak mau membahasnya. Lebih baik kita segera ke kompi daripada dihujani peluru dengan berdiri di sini," Kazemaru berjalan duluan dan melewati Endou.

"Hoi, Kazemaru!" panggil Endou. Ia tak mengerti dengan sahabatnya satu itu. Ia yakin seratus persen, tadi Kazemaru sedang memikirkan sesuatu. Tapi di sisi lain, pemuda itu tak mau berbicara apa pun padanya.

'Dan aku yakin seribu persen, kalau tadi wajahnya memerah sedikit waktu kutatap matanya!' batinnya menjerit. Ia tak mengerti, mengapa wajah Kazemaru memerah, biasanya yang seperti itu akan terjadi jika perempuan berhadapan dengan laki-laki –tentu saja ia melihat di anime yang ditontonnya setiap malam-. Tapi, dalam kamus Kazemaru, mungkin lain.


.

.

.


"Namaku Endou, kau siapa?" anak yang disapa itu, tak melepaskan pandangannya sedikit pun pada anak lain yang mengulurkan tangan tepat di hadapannya. Ia hanya meneruskan membaca bukunya.

Melirik ke atas sekilas, anak itu kembali berkutat pada bukunya. "Kazemaru," katanya dingin sambil membalik lembaran buku tersebut.

Senyuman Endou sedikit terkembang, "kita akan jadi partner sampai lulus nanti. Mohon kerjasamanya," ujarnya riang. Walaupun Kazemaru hanya menanggapinya dengan memutar mata dan mengangguk sedikit saja.

Sebenarnya Kazemaru tak pernah ingin menjalankan tugas bersama seorang rekan. Ia ingin menyendiri. Hanya mau menjalankan tugas sendirian.

Tapi sekolahnya, akademi militer yang baru saja ia masuki ini menerapkan sistem yang lain.

Setiap siswa akan diberi rekan. Berlaku sampai lulus nanti. Dengan tujuan, supaya salah satu dari partner mereka dapat melindungi salah satunya. Dan juga, mereka hanya diberi satu rekan, agar tak berbaur.

Karena menurut mereka –para guru yang mengajar-, jika siswa berbaur, maka akan sulit memisahkan mereka ketika sudah meluncur di medan perang. Dan dikhawatirkan akan terjadi gangguan mental jika ada salah satu teman mereka yang gugur.

Walaupun mereka menyadari, bahwa dengan ber-partner, siswa akan semakin lengket dengan rekan mereka itu. Dan malah semakin sulit memisahkan mereka.

Karena sebab itulah, pihak akademi memutuskan, agar siswa yang masuk ke akademi militer tak boleh diajari rasa kasihan dan rasa bersalah.

Yang ada hanya, rasa bangga karena telah mengalahkan teman-temannya, yang juga adalah lawan mereka.

Kawan adalah lawan. Sahabat adalah musuh. Partner adalah saingan.

Siswa akademi militer harus berpikir seperti itu. Tidak ada yang boleh menentangnya.

'Itu artinya, aku akan selalu sekelas dan bersama dengan anak berisik ini?' ia membatin sembari mengernyit tak suka. Bukannya benci pada Endou, sih. Tapi lihat saja sifatnya, berisik, urakan, dan berantakan, ia juga terlihat sangat tidak serius, yang ada bukannya mengerjakan tugas bersama, malah main-main.

'Ya ampun. Apa salahku sehingga aku dapat rekan seperti ini?' Kazemaru menepuk dahinya pelan. Meratapi nasib –sepertinya-.

Kazemaru memutar kedua pedangnya. Ingatan masa lalunya, di mana ia yang baru pertama kali bertemu dengan Endou, terus saja menyelubungi pikirannya.

Yang ada hanya Endou.

Ia melirik sekilas sang objek pikiran yang ada di sebelahnya, sedang berusaha menahan serangan dari musuhnya.

Pihak lawan, Distrik 5, terdiri dari orang dewasa, yang paling muda sepertinya berusia sepuluh tahun di atas usia mereka.

Meski begitu, pihak Distrik 3 sama sekali tak gentar, mereka adalah pemuda dan pemudi terlatih yang dilahirkan untuk medan perang, serta memang ditakdirkan untuk mati di medan perang.

"Nanti kalau sudah lulus, kau mau ke mana, Kazemaru?" tanya Endou di suatu pagi, di dalam ruang kelas 6-1.

"Ya, tentu saja ke medan perang. Memangnya mau ke mana lagi?" Kazemaru mulanya agak kaget mendengar pertanyaan Endou. Tapi ia segera menenangkan diri. Ia kaget, karena semua orang di akademi pasti tahu, tujuan mereka lulus hanya satu, medan perang.

"Benarkah? Kukira kau punya semangat hidup yang lebih beragam. Ternyata sama saja," ungkap Endou sambil mengangkat bahunya.

"Cih, seperti kau punya tujuan lain saja. Kita di sini memang untuk pergi berperang, tahu," balas Kazemaru ketus.

"Iya, aku tahu. Tapi setidaknya, setelah kau selamat dari medan perang itu, kau mau ke mana?" kembali, Kazemaru tercengang kaget.

Lama.

Hening.

Ia tahu, kalau tujuan akademi militer adalah untuk mengirim mereka yang sudah lulus ke medan perang. Dan bertempur di sana.

Namun, ia tak pernah berpikir kalau ia akan selamat. Dari medan perang itu.

Sama sekali tak pernah terpikir olehnya, kalau seandainya ia akan selamat.

Menggelengkan kepalanya, Kazemaru menutup buku yang sedang dibacanya. "Aku tak tahu, kalau kau?" ia balik bertanya.

"Aku ingin pergi mencari keluargaku, aku yakin mereka masih hidup!" seru Endou semangat.

Kazemaru mengangkat kedua alisnya, dan menatap Endou kosong.

Ia tak tahu tentang keluarga.

Ia tak tahu apa yang Endou bicarakan saat ini.

Ia tak tahu mengapa Endou bisa sangat bersemangat dengan kata 'keluarga'.

Ia tak pernah mengenal dan mendengar tentang keluarga.

Tapi entah kenapa, ada setitik perasaan rindu ketika kata 'keluarga' itu diucapkan.

"Kenapa kau bisa sangat yakin?" Kazemaru bertanya lagi. Meskipun ia tak mengerti arah pembicaraan Endou.

"Entahlah, sesuatu di dalam diriku membuat otakku berpikir bahwa mereka masih hidup," ujar Endou sembari meletakkan jari telunjuknya di kepala.

Kazemaru tertegun. Pikirannya kosong sejenak. "Selamat berjuang," akhirnya, Kazemaru tersenyum. Senyum tulus yang baru pertama kali ia lontarkan pada Endou.

"Huwooo! Kazemaru tersenyum!" teriak Endou tiba-tiba. "Hei! Jangan keras-keras!" Kazemaru seketika menutup mulut Endou.

"Hahaha! Kazemaru senyum! Akhirnya!" bahkan saat mulutnya masih dalam kepungan tangan Kazemaru pun, Endou tetap teriak. Frustasi sekaligus malu, Kazemaru balas berteriak.

"Endou!"

"Endou!"

Pemuda itu melihatnya.

Endou, yang tertusuk pedang lawan.

"Ukh…" pemuda berambut cokelat itu merintih. Kesakitan.

Dengan marah, Kazemaru menebas kepala lawan yang menghadangnya, lalu ia berlari ke arah Endou.

"Bertahanlah…" Kazemaru memapah sahabatnya. "Jangan… pedulikan aku…" Endou berlirih.

"Kau diam saja!" seru Kazemaru, walaupun dalam hatinya, ia sangat mengkhawatirkan Endou.

Endou tersenyum. Entah pada apa dan siapa.

"Komandan… urusi pasukanmu yang lain. Aku tak akan apa-apa," ujarnya. Lebih terlihat pasrah mati di medan perang daripada dipapah oleh teman.

"Berisik! Jangan mati dulu! Bagaimana dengan janjimu untuk mencari keluargamu?" tanpa sadar, air mata Kazemaru menetes. Untuk yang pertama kalinya. Sayangnya, Endou tak melihat air mata itu.

"Haha… itu cerita lama…" Endou tertawa. Tawa yang menyakitkan.

Menghiraukan yang lain, Kazemaru membawa Endou ke sebuah hutan yang menjadi markas mereka. Sekaligus pos perawatan. "Lukamu harus diobati," katanya lemah.

Endou memperhatikan Kazemaru sejenak. Jemarinya tergerak untuk menghapus buliran air yang keluar dari mata sahabatnya. "Kau menangis…" meski sebenarnya tak suka, Kazemaru membiarkan tangan Endou menelusuri pipinya.

Ah, rupanya ia telah melihatnya.

"Ukh!"

Langkah Kazemaru terhenti. Entah oleh apa.

Matanya membulat, dan napasnya tertahan.

Keduanya –Endou dan Kazemaru-, melihat ke belakang. Memastikan apa yang terjadi.

Dan semua tepat seperti apa yang mereka bayangkan.

"Uhuk!"

Serta, darah yang mengalir keluar mulut Kazemaru.

Kazemaru, tertusuk oleh lawan.

"Kaze-"

"Larilah! Tinggalkan aku!" pemuda itu memotong perkataan sahabatnya.

Keduanya sama-sama tertusuk.

Perih.

Mengalihkan perkataan Kazemaru, Endou mengambil pedangnya.

Lalu, yang ada dalam pandangan Kazemaru, hanya gelap yang hitam nan kelam.


TBC


A/N:

Hai! jumpa lagi ama saya, Tsubaki Audhi yang amat nista! Oke, kali ini saya mempersembahkan fic multichap lagi.

Sebenernya ini oneshot, tapi kepanjangan *ya iyalah, mana ada os 12 rebu kata lebih! itu gila namanya!*. terus saya potong jdi 3-4 chapter, g akan terlalu panjang, kok. tapi kyakny lama apdet-nya, abisnya saya mau nyelesain yg lain dulu#tidak bertanggung jawab, kamu!

fic ini terinspirasi dari...

emm...

*nyikut" duo Kagamine#plak

ah, pasti taulah lagunya apa... tapi konsepny beda banget kan sama lgu itu? cma intiny yg sama...

mengenai judul, ah, itu emang saya yg gila. dan karena judul ficny cma satu kata dan ada tanda tanya, makany judul chapternya juga begitu...*dor

o ya, di sini nama negaranya g disebut, soalny saya bingung mau namain apa. anggap aj Kazemaru, dkk tinggal di negara yg keadaanny sesuai dgn fic ini. oke..?#plak

Please, review, ya... kawan-kawan yg baik#plak