Semua orang tahu, Endou adalah orang yang tak pernah serius.

Maksudnya, benar-benar 'semua orang'. Dan benar-benar tidak serius.

Dia bahkan pernah membuat dua penanya untuk tes kesehatan semaput mendadak sambil mulas di tempat karena perkataannya yang aneh-aneh. Dengan menunjukkan muka tak bersalah dan senyum polos andalannya.

Seperti…

"Hei, hei, bisakah dokter membuat obat supaya tidak tidur? Setiap malam aku selalu khawatir akan ada orang aneh yang menyerbu akademi, dan mereka menyerang waktu tidur. Jadi kami semua tidak usah tidur buat jaga-jaga."

Atau…

"Bisakah gen kuda dan manusia digabungkan? Aku ingin punya kaki yang cepat seperti mereka."

Ini juga…

"Adakah obat untuk merontokkan gigi? Aku takut ketika gugur di medan perang nanti, gigiku diambil dan dijadikan gigi palsu. Hiii…"

Dan segudang pertanyaan bodoh lainnya. Sukses membuat penanya tes kesehatan itu menganga dengan cantik dan cengo dengan ajaib.

"Hei! Mana ada dokter yang membuat obat supaya tidak tidur! Gen manusia dan kuda tak akan pernah bisa digabung! Tidak ada orang yang mau membuat obat perontok gigi!"

Bahkan, jeritan hati mereka terdengar hingga penjuru ruang tes. Namun mereka tetap mengurut dada –setelah jeritan hampir abnormal itu lepas begitu saja di udara- sebab mereka menyadari.

Endou benar-benar orang yang taraf kehebohannya di atas rata-rata, kalau tidak mau disebut gila.


.

.


Kokoro?

An Inazuma Eleven fanfic

Chapter 4

*Secret?*

Disclaimer:

Ehem, Kawan, kalo saya punya Inazuma Eleven, bakal saya jadiin penuh shonen-ai, dan saya jadiin anime macam Sa*nt Se*ya main bola!

Eh, emang udah kayak gitu ya?

Ya, udah deh…

Inazuma Eleven © Level-5? Yabuno Tenya? Akihiro Hino? Katsuhito Akiyama? Miyao Yoshikazu? Siapa pun, yang pasti bukan saya! #mewek sendiri

Warning:

Flashback! GranKazeDE! Abal, aneh, gaje, ooc, sho-ai *dikiiit banget* tak layak baca, pendek, typo bertebaran, gila, bahasa lebay, ide pasaran, dan lain-lain yang bisa membuat mata Anda sekalian rusak karena membacanya

Saya dah bilang ini fic ooc kan?

Btw, happy gontok-gontokan day! #telat banget kali


.

.

.


Salju yang terus saja turun tanpa mengenal waktu membuat mata Kazemaru memicing. Bagaimana tidak, kabut tebal menyelimuti seluruh pandangan matanya. Ditambah, hawa dingin yang menusuk kulitnya, seakan mengejek tubuh terlatihnya.

Yap, dari tadi pagi hingga sekarang, Kazemaru tetap setia membuka pintu depan rumah Gouenji, dan menunggu sang pemilik rumah pulang.

Oh, tidak, tidak. Dia tak bermaksud baik hati dengan menyambut Gouenji pulang. Memberikan senyum, membuka mantel putih khas dokter kebanggaannya, dan meletakkan sepatunya di rak seperti yang dilakukan seorang istri setia.

Tidak. Seperti. Itu.

Titik!

Ia hanya ingin melabraknya dengan memberikan serentet pertanyaan dalam satu tarikan napas. Menghinanya dengan kata-kata paling kasar dan menohok di dunia. Dan menyambutnya dengan mata kanannya yang berkilat tajam dan tuduhan yang –setidaknya, menurut Kazemaru- logis dalam pemikirannya sendiri.

Kazemaru melirik ke belakang. 'Jam empat lewat lima belas menit,' batinnya sembari melirik jam dinding. Masih ada waktu sekitar empat puluh lima menit lagi sebelum Gouenji pulang. Dan ia tahu, rumah sang dokter kini sudah termasuki butiran salju. Putih di mana-mana. Terkadang ditemuinya juga genangan air karena salju yang masuk mencair akibat penghangat ruangan.

'Biar saja,' celetuknya ketus dalam hati. Kesal.

Ya, Kazemaru kesal.

Pertama, karena ia merasa Gouenji membohonginya dengan memberi tahu bahwa Endou mati.

Kedua, karena ia tak sudi selamat sementara sahabat terbaiknya malah mati tanpa sanggup ia lindungi.

Ketiga dan yang paling utama, ia kesal karena Gouenji adalah Ishido Shuuji.

Yang ketiga itu, mungkin dendam pribadi. Ah, siapa sih yang tidak kenal Ishido Shuuji di negara ini? Kebanyakan orang malah akan bilang, "Bunuh saja dia!" atau yang sejenis dengan itu ketika mendengar namanya.

Apa yang terjadi dengan Ishido Shuuji dan negara ini?

Hanya Tuhan dan negara ini yang tahu.

"Kau tidak sedang menangisi Endou, kan?"

Eh?

Kazemaru mendongak. Gouenji, dengan menautkan kedua alis dan rambut bawangnya yang –sumpah, menurut Kazemaru- sangat tak enak dilihat.

Tapi, Kazemaru menyadari juga, kalau dengan rambut bawang itu, Gouenji jadi sedikit lebih keren ketimbang ketika rambutnya turun.

'Cih, aku tak mau mengakuinya!' pikiran Kazemaru berperang dengan perkataan hatinya barusan. Gouenji keren? Maaf saja, ia bukan gadis labil yang akan berteriak histeris setelah hatinya mengatakan seseorang dengan sebutan keren dengan gampangnya.

"Siapa bilang aku menangis!" disekanya pipi kanannya yang memang berair, entah kenapa.

Apa mungkin dia menangis? Tapi sejak kapan? Untuk apa?

Ia tak pernah tahu.

Dan bersumpah tak pernah mencari tahu.

"Menangislah kalau mau menangis. Orang terpuruk sepertimu membutuhkan hal itu," ucap Gouenji. Menohok sebenarnya, tapi ia sungguh-sungguh tak ada maksud mengejek.

Memalingkan wajah, Kazemaru menyeka lagi air matanya. Entah kenapa, semakin ia menghapusnya, air mata itu keluar terus menerus. Tak mau habis. Tak mau berhenti.

Gouenji yang melihat jadi iba juga. Ia membungkuk untuk menyamakan tingginya dengan Kazemaru yang sedang duduk, lalu menghapus air mata pemuda itu dengan jemarinya. "Kau memang sangat kehilangan, ya…" komentarnya.

"Jangan pedulikan aku!" desis Kazemaru sembari menepis tangan Gouenji. Dokter itu tidak melawan. Ia hanya menaikkan kedua alisnya, dan masuk ke dalam rumah.

Agaknya, ia paham posisi Kazemaru sekarang, mungkin.

"Bocah, apa yang kau lakukan sejak tadi?"

Tapi, ia mungkin tak akan memaafkan Kazemaru yang dengan sengaja ingin membuatnya repot seperti ini.

Ups.

Sepertinya, Kazemaru membuat kesalahan yang fatal.

"Tidak ada, aku hanya duduk di depan rumah dengan pintu yang kubiarkan terbuka," jelas Kazemaru tak mau tahu. Biar Gouenji itu tahu rasa, seenaknya saja mengatakan orang lain mati tanpa alasan dan tidak menunjukkan bukti.

Gouenji memicing, marah. Ia menarik tangan pemuda militer di hadapannya dan memaksanya masuk ke dalam rumah.

BRAK.

Lalu menutup pintu keras-keras. Entah apa maksud perbuatannya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Kazemaru, tak terima tangannya ditarik-tarik. Seperti tahanan saja.

Dokter itu membawanya ke sudut ruangan, maksudnya, untuk menyudutkannya. Ia menghadang jalan keluar Kazemaru dengan kedua tangannya yang ia tumpukan ke dinding. Persis di samping kepala pemuda itu.

"Dasar bodoh, kenapa kau keluar?" tanyanya dingin. Kazemaru yang tidak mengerti, mengernyitkan dahinya.

Ah!

Ia baru ingat.

Ini, kan Distrik 0.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya ingin melihat ke luar. Di dalam rumah sepanjang hari, sendirian, kau pikir itu menyenangkan? Apa lagi tidak ada kegiatan yang bagus untuk dilakukan, sparring, misalnya," oceh Kazemaru. Mengingat masa-masa di mana ia selalu sparring dengan Endou jika mereka ada waktu senggang sedikit saja.

Gouenji tidak mempedulikan ocehan Kazemaru. Ia hanya menggertakkan giginya, marah. "Kau tahu apa yang akan terjadi kalau saja kau ditangkap? Aku tak bisa menolongmu jika kau sudah berada di tangan pihak yang berwajib. Kau-"

"Peduli amat kau padaku. Heran, deh," celetuk Kazemaru tanpa sadar. Ia memang sebetulnya heran, sih. Habis, dia kan bukan siapa-siapanya Gouenji. Buat apa dokter itu repot-repot mau menahannya pulang ke akademi dan melindunginya dari aparat segala?

Kazemaru berkata tanpa sadar, namun Gouenji mendadak sadar.

Benar juga, buat apa dia mau melindunginya, menahannya pulang ke akademi, dan menolongnya sampai seperti ini?

Gouenji membalikkan badannya. Ia berdecih pelan sebelum pergi meninggalkan Kazemaru sendirian di sudut ruangan itu. "Aku benar-benar akan membawamu ke pihak berwajib kalau kau melakukannya sekali lagi," ancamnya datar.

Pemuda militer itu terduduk, kaget sebenarnya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Gouenji akan marah sampai menakutkan begitu.

Yah, dia hanya…

Tidak menyangka…

"Sialan, aku jadi terlihat lemah sekali di hadapan orang seperti itu," rutuknya. Sebagai anggota militer, ia jelas tak terima kalau dirinya takut pada seorang dokter.

Yap, seorang dokter.

Namun, bukan dokter sembarangan.

"Lagi pula, siapa yang bilang kalau aku tadi menangisi Endou, hah?"


.

.

.


'Aku menyukaimu, Kazemaru.'

Kalimat itu terus terngiang di kepala Kazemaru. Lebih tepatnya, dia tidak mengerti sama sekali apa arti 'menyukai' yang dikatakan Endou padanya waktu itu.

Mungkinkah menyukai sebagai teman? Tentu saja ia akan menjawab 'ya, aku juga' dengan mantap kalau memang itu artinya. Tapi kalau hanya sebagai teman, Kazemaru merasa Endou tidak perlu sampai serius seperti itu ketika mengatakannya. Terlalu berlebihan.

Lagi pula, ia yakin, Endou pasti sudah tahu dengan sendirinya kalau Kazemaru juga menyukainya. Jika memang maksudnya adalah menyukai sebagai teman.

Pemuda itu bangkit, menuju cermin besar yang terletak di depan sebuah lemari. Memandangi dirinya sendiri. "Apa yang Endou sukai dariku?" ia bertanya, seraya menyentuh perban yang menutupi lubang mata kirinya. Kazemaru membuka poni rambutnya dan perban itu perlahan-lahan.

Kosong.

Luka itu telah agak mongering. Menyisakan jejak kemerahan bekas darah dan sedikit rasa ngilu ketika disentuh. Kazemaru memutuskan untuk tidak menggubris luka itu sebelum benar-benar telah sembuh.

PIIIIPP…

Itu alarm makan malam. Kebetulan sekali, pemuda itu memang sangat lapar sekarang. Kazemaru menutup lubang matanya dengan perban secepat kilat, lalu melesat pergi ke Grosstisch, sebutan untuk meja makan raksasa di Akademi Militer Distrik 3.

"Kazemaru, kau baik-baik saja?" tanya Endou ketika berpapasan dengan Kazemaru di lorong asrama. Pemuda yang ditanya menganggukkan kepalanya. "Yah, tidak begitu buruk," ungkapnya.

Keduanya, beserta ratusan siswa angkatan tujuh lainnya, menaiki tangga untuk mencapai lantai tujuh belas gedung empat. Ruang untuk Grosstisch memang menyambung ke semua gedung, jadi seluruh siswa dapat menuju ke sana dengan mudah, dan makan bersama-sama.

Sekitar dua ribu tujuh ratusan siswa duduk mengelilingi Grosstisch. Mejanya memang hanya ada satu, untuk seluruh siswa. Mereka dibebaskan untuk di mana saja, di tempat yang mereka sukai. Asalkan masih mengelilingi meja bundar raksasa itu.

Sebelum pergi ke meja, setiap siswa biasanya menuju ke kantin dahulu, untuk memilih makanan. Walaupun sebenarnya, makanan yang ada hanya terdiri dari sayuran, ikan, air putih, dan jus buah. Mereka jarang sekali makan daging, paling-paling hanya sebulan sekali, itu juga kalau pihak akademi mau menyiapkan menu daging secara rutin.

"Salad lagi? Kazemaru, kau tidak akan cepat tinggi kalau hanya makan sayuran yang dicuci tanpa dimasak!" ejek seseorang. Dari suaranya sepertinya itu Hiroto. Ia melirik makanan yang dibawa Kazemaru dengan pandangan mengejek.

Kazemaru mencibir, manyun. "Daripada kau, fish and chips? Itu bisa membuatmu tumbuh ke samping!" balasnya ketika melihat makanan Hiroto.

"Hei, sudahlah. Kalau makan, ya, makan saja. Tidak usah saling menghina makanan yang dibawa orang lain," tegur Endou. Dengan tumbennya bersikap bijaksana ketika dua orang yang sering cari masalah satu sama lain itu sedang bertengkar.

Hiroto. Siswa yang saat ini menjabat sebagai peringkat kedua angkatan ketujuh di Akademi Militer Distrik 3. Kulitnya putih pucat, dengan rambut semerah darah dan mata emerald yang cantik. Membuatnya terlihat seperti bisque doll daripada manusia.

Tubuhnya atletis dan menjulang tinggi. Kalau dibandingkan antara Kazemaru, Endou, dan Hiroto, maka pemuda berambut merah itu akan menang mutlak dalam masalah tinggi badan. Dan Kazemaru akan terlihat kerdil karena Endou pun lebih tinggi darinya.

"Tidak bisa, Endou! Karena dia duluan yang mulai!" seru Kazemaru dan Hiroto bersamaan. Saling menunjuk satu sama lain seperti anak kecil, tidak ada yang mau mengalah.

'Mereka kompak sekali…' batin Endou, setengah sweatdrop setengah cemburu. Ups…

"Apa maksudmu aku yang mulai duluan? Apa yang mau kumakan, itu bukan urusanmu, dasar mayat hidup!" sembur Kazemaru, mengambil posisi duduk di sebelah Endou. Tanpa menyadari kalau si mayat hidup, Hiroto, memilih duduk di sebelahnya, bukan di sisi tubuh Endou yang lain seperti biasanya.

"Ah, diam kau, Pendek! Dan siapa yang kau sebut mayat hidup, hah? Dasar kurcaci!" desis Hiroto. Ia menyuap sekeping fish and chips-nya, masih sambil saling mengejek dengan Kazemaru.

Pemuda yang disebut pendek itu menyahut, "Sialan! Mentang-mentang kau tinggi!" ucapnya, lebih karena tidak mampu mengatakan apa-apa lagi. Karena Hiroto benar.

"Hahaha, kau memang lucu, Nona Kazemaru. Mulut pedasmu benar-benar membuatku kagum," tukas Hiroto dengan penekanan ekstra di kata 'Nona'. Ia memasang senyum manis andalannya, yang ia yakini sendiri bahwa itu bisa membuat siapa pun tertarik. Namun sayangnya, itu tidak berlaku bagi Kazemaru. Baginya, senyum Hiroto sama seperti daging domba panggang saus tiram, makanan menjijikkan yang paling dibencinya seumur hidup.

Sudah menjadi rahasia umum angkatan ketujuh tahun ini –yang sebentar lagi akan naik ke tingkat delapan-, kalau Kazemaru dan Hiroto merupakan pasangan yang tak pernah akur. Mereka adalah personifikasi Tom and Jerry versi manusia. Selalu meributkan apa saja, bahkan hal-hal yang tidak penting sekalipun.

Entah sejak kapan itu bermula, tidak ada yang memikirkannya. Tahu-tahu mereka sudah ribut sambil menyemprot kata-kata kasar di sana-sini.

Bagi Kazemaru, Hiroto itu kelewat menyebalkan sampai ia ingin bertarung dengannya, dan membunuh si rambut merah dengan membabi buta. Tanpa ampun.

Bagi Hiroto, Kazemaru itu mainan menyenangkan hingga ia ingin terus mengejeknya, sampai ia puas.

Bagi semua orang, keduanya adalah pasangan yang sulit diartikan. Walaupun seluruh angkatan ketujuh tahu, Kazemaru adalah rekan Endou, tapi pemandangan pasangan rekan itu sudah biasa menurut mereka. Dan jika Kazemaru dipasangkan dengan Hiroto –yang rekannya adalah Midorikawa-, inilah yang seru.

Rekan Hiroto, Midorikawa, adalah pemuda yang manis. Ia, sama seperti Kazemaru, sering juga diejek cantik karena penampilannya. Ditambah lagi dengan sifatnya yang agak keibuan dan lembut, membuat pesona cantiknya kian bertambah.

"Ah, sudahlah! Pergi sana! Mengganggu saja, hush, hush!" usir Kazemaru sembari mengibaskan tangannya. Persis seperti mengusir seekor kucing.

Secara ajaib, Hiroto terdiam. Pemandangan yang langka mengingat Hiroto itu jagonya berisik dan iseng. Kepala merahnya tertunduk dalam, dengan mata emerald yang kosong.

Melihat keadaan Hiroto yang –menurutnya- mengenaskan itu, Kazemaru jadi merasa bersalah. Ia menyendok saladnya dengan lesu sambil melirik Endou, meminta pendapat.

"Ng… maaf, Hiroto. Aku tak bermaksud mengusirmu, hanya saja…" kembali, Kazemaru melirik Endou. Tapi yang dilirik diam saja seraya mengangkat bahunya. Menandakan bahwa ia tidak tahu apa-apa.

"Tak apa, aku hanya ingin berterima kasih saja…" lirih Hiroto. Kazemaru tercekat, "Untuk apa?" tanyanya, bersusah payah menelan sayuran kering bersiram saus tomatnya. Didorong oleh sedikit seruputan jus jambu.

"Midorikawa sudah mati."

"Hah ! ?" hampir saja Kazemaru menyemburkan jus jambunya, kalau saja dia tidak ingat betapa sulitnya mengambil jus itu di antara kerumunan siswa lain yang juga menginginkannya.

Sedangkan Endou, jangan ditanya, sudah dari tadi dia menepuk-nepuk dadanya sendiri. Kerongkongannya mendadak tersumbat setelah Hiroto mengatakan hal barusan.

"A-apa maksud… ? Jangan-jangan…"

"Benar. Midorikawa dibunuh oleh Saginuma," potong Hiroto cepat. "Makanya, aku sangat berterima kasih padamu, Kazemaru. Karena kau telah membalaskan dendamnya. Yah, walaupun aku agak kesal juga, sebab yang membunuh Saginuma bukan aku."

Dengan selesainya kalimat itu, Hiroto beranjak dari bangku yang baru saja ia duduki. Membawa piring kosong yang tadinya berisikan fish and chips, dan gelas yang masih bersisa jus jeruk seperempat bagian.

Kazemaru dan Endou saling berpandangan. Mereka, atau lebih tepatnya Kazemaru, tak tahu harus mengatakan apa di saat seperti ini.

Yah, meskipun kematian rekan adalah hal yang biasa, namun melihat kondisi Hiroto yang seperti itu, agaknya ia sangat terpukul.

"Semoga Midorikawa bisa tidur dengan tenang. Ia orang yang sangat baik," doa Endou ketika ia menyelesaikan makannya.

"Dan semoga Hiroto mendapat rekan baru yang baik juga," lanjut Kazemaru. Biarpun ia sebenarnya membenci Hiroto, tapi yah, Hiroto tetap teman sekelasnya.

Pantas saja Hiroto duduk di samping Kazemaru tadi, bukan di sebelah Endou layaknya yang ia lakukan biasanya.

'Ah, iya, aku harus bertanya pada Endou soal yang waktu it –lho? Mana dia?"


.

.

.


Kazemaru terbangun dari tidurnya ketika ada sebuah tangan hangat yang meraba tengkuknya. Dengan cepat ia menangkap tangan itu, dan hendak memutarnya-

-tapi, itu sebelum si pemilik tangan balas memutar lengannya, siapa lagi kalau bukan Gouenji?

"Sepertinya kau tak pernah memotong rambutmu," komentar sang dokter sembari melihat rambut Kazemaru. Panjang hingga ke punggung, seperti perempuan.

Pemuda militer itu menyeringai. "Heh, kau hebat juga. Tapi kau tidak boleh meraba tengkuk orang sembarangan, dasar dokter mesum!" sahut Kazemaru sembari mengejek.

Mendengar kata 'mesum' itu, Gouenji melebarkan seringaiannya. "Huh, kau juga tak boleh mengatakan orang mesum kalau kau sendiri tukang intip orang mandi!" balasnya.

Jleb.

Oh, sepertinya kata-kata barusan sangat menohok Kazemaru.

"A-aku tidak sengaja! Kau tidak bisa menyebutku sebagai orang mesum karena aku tak ada niat mengintipmu!" seru Kazemaru gelagapan. Yah, meskipun di memang asli tidak sengaja, tapi sang dokter tetap tak menerima.

"Tetap saja titelnya 'mengintip', kan?" kata Gouenji, kesal. Kazemaru cemberut sembari memalingkan wajah. Rambut panjangnya -yang tidak pernah diikat sejak mulai panjang- berkibar layaknya bendera.

"Aku sarankan agar kau memotong rambutmu," ucap si dokter sambil membalikkan tubuhnya. Tidak mau ambil pusing. Habisnya, ia risih sekali melihat rambut Kazemaru yang sudah panjang, tak pernah diikat pula.

Kazemaru menaikkan satu alis. "Asal tahu saja, seorang prajurit itu tak butuh pendapat siapa pun. Apalagi soal penampilan," katanya datar. Memang dari kecil ia tak pernah mempedulikan dirinya sendiri, bukan hanya soal penampilan.

Gouenji menaikkan bahunya, yang penting sudah bilang. Mau ditanggapi apa pun oleh si pemilik rambut ya, tidak masalah. Toh bukan dia yang punya, kok.

Dokter muda itu beranjak, pergi meninggalkan Kazemaru sendirian di atas sofa putih keramatnya. Mungkin ia pergi ke kolam ikan, mau ngobrol dengan ikan koi.

'Bagaimana kabar Hiroto itu, ya?' batin Kazemaru. Mengingat nasib temannya dahulu, Hiroto.

Seingatnya, setelah kematian Midorikawa, Hiroto memutuskan untuk berhenti dan kabur dari kemiliteran. Meninggalkan rekan bertengkarnya selama enam tahun, Kazemaru.

Sedikit banyak, Kazemaru agak rindu juga dengan pemuda berambut merah itu. Sepi juga rasanya tidak ada yang mengejek makanan, tinggi badan, atau wajah cantiknya.

Hngh, takdir. Kematian Midorikawa yang sangat tidak ia sangka, menjadi jurang pemisah bagi seorang temannya.

"Ah, iya. Satu lagi, Bocah."

Kepala Gouenji tiba-tiba saja menyembul dari balik pintu. "Nanti kau bersihkan ruang tamu. Gara-gara kau, semua basah oleh salju. Semuanya, tanpa kecuali!"

Kazemaru serasa meleleh di tempat, "Mati aku…"


.

.

.


Srek… srek…

'Gouenji payah, masa' aku disuruh membersihkan semuanya,' Kazemaru menggerutu sendirian. Kedua tangannya memegang sebuah mop dan sehelai kain yang panjang, serta sebuah ember.

"Sampai kering, ya. Tidak kering kulempar kau ke luar jendela," ancam Gouenji tanpa sedikit pun melirik ke arah Kazemaru. Bocah itu hanya diam saja, menyadari kalau Gouenji memang bisa melakukan itu, karena dia adalah Ishido Shuuji.

Heh, salah siapa iseng?

'Menyebalkan!' sebenarnya, Kazemaru mau saja meneriakkan keras-keras kata itu. Tapi dia takut sang Ishido Shuuji akan mengamuk dan menghimpitnya lagi di sudut ruangan.

Kalau mau dikata, Gouenji tadi itu tidak menyeramkan, hanya saja dia terlihat…

Mesum?

Entahlah, Kazemaru juga tidak mengerti. Yang pasti, ia merasa seperti akan dimakan hidup-hidup oleh Gouenji yang tadi.

"Hei, Gouenji. Kau punya rahasia?" bosan, Kazemaru bertanya pada si dokter yang sedang membaca koran.

Yang ditanya menyipitkan satu matanya. "Kau ini bagaimana. Kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan orang lain, bukan? Dan kaulah yang membuat janji itu," tukasnya, menutup lembaran koran dan memandangi Kazemaru.

Pemuda itu sebenarnya sudah tahu, Gouenji pasti akan mengatakan begitu. "Ini beda!" serunya, hampir membanting mop kalau saja dia tidak ingat benda itu adalah milik orang lain. "Aku akan bersikap seperti itu kalau kau memang dokter kebetulan lewat seperti yang pernah kau katakan. Tapi sayangnya kau adalah Ishido Shuuji, semua hal tentangmu itu penting," sambungnya.

"Sepenting apa? Aku hanya seorang Ishido Shuuji, memangnya kenapa dengan itu?" Gouenji bertanya. Yang sepertinya lebih berkesan menuntut daripada bertanya.

Kazemaru memutar matanya. "Baiklah, kalau begitu aku juga akan membuka rahasiaku," ucapnya. Terdengar yakin tanpa ada keraguan.

'Heh, tidak perlu. Karena aku juga sudah tahu,' sang dokter membatin. Menurutnya, Kazemaru pasti akan segera membuka poninya, dan memperlihatkan bahwa ia buta sebelah.

Tapi, sepertinya tidak seperti itu.

Karena Kazemaru sekarang tidak membuka poninya. Melainkan mengangkat rambutnya.

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, dan kini terlihat.

Alasan mengapa ia tak pernah mengikat rambutnya yang panjang.

S-21.

Itulah tulisan yang tertera di tengkuknya. Semacam guratan yang sengaja dibuat. Tapi bukan tato, lebih timbul lagi.

"Apa artinya?" tanya Gouenji. Tidak tahu mana yang Kazemaru sebut sebagai rahasia karena baginya itu biasa saja.

Pemuda militer itu mengangkat bahunya sekarang. "Entahlah, teman-temanku juga mendapat tanda ini, tapi setiap orang berbeda. Dan hanya aku yang diukir di tengkuk. Yang lain di lengan, kaki, bahkan dahi mereka."

Gouenji hanya ber-ooh panjang. Ketika Kazemaru tidur tadi, ia memang meraba tengkuknya, dan tahu bahwa ada sesuatu di sana. Ia merasa ingin meraba tengkuk itu karena penasaran dengan noda kehitaman seperti bekas luka yang ia lihat di balik rambut Kazemaru.

"Endou juga diukir di dahi, makanya ia selalu pakai headband agar bisa menutupinya. Tulisannya K-18," lanjut Kazemaru tanpa diminta.

Endou?

Inisial 'K'?

Huh, ternyata benar.

Memang, Gouenji tahu nama keluarga itu, Endou. Sangat tahu malah. Namun sengaja ia tutupi agar Kazemaru tak bertanya macam-macam.

Tapi, ia tak tahu, Endou mana yang disebut Kazemaru. Yang ia tahu, Endou adalah sebuah nama keluarga, bukan nama panggilan.

Dan mungkin, inisial 'S' pada ukiran di tengkuk Kazemaru menunjukkan sebuah arti, sama seperti inisial 'K' di ukiran Endou.

Tepat, Gouenji tahu makna 'K' itu.

"Giliranmu," kata Kazemaru. Mengingatkan kalau Gouenji juga harus memberi tahu rahasianya.

Dokter itu beranjak dari sofa. "Ikut aku," katanya. Dengan patuh –dibarengi rasa penasaran- Kazemaru mengikuti langkah Gouenji.

"Apa maksudmu membawaku ke sini?" ucap Kazemaru tak terima. Hei, dia dibawa ke sebuah dinding putih yang tidak ada apa pun di sana.

Maaf, yang 'mulanya' tidak ada apa pun di sana.

Gouenji mendorong salah satu sisi dinding. Dengan sedikit sentuhan, dinding itu mendadak terbuka.

Ya, terbuka.

Dan menampilkan sebuah kamar rahasia yang serba putih.

Ketika Gouenji masuk ke dalam kamar, Kazemaru ikut masuk. Ruangan itu memang semuanya berwarna putih.

Kecuali, rambut cokelat yang terbaring di atas sebuah tempat tidur.

"D-dia…"


TBC.


A/N:

Akhirnya selesai juga chapter 4 ini. Semoga memuaskan, ya. Maaf kalau apdetnya ga sesuai jadwal, saya harus ngetik sembunyi-sembunyi biar bisa apdet.

Teka-teki lagi, siapakah yang ada di atas tempat tidur itu? Mungkinkah dia Endou? Dan siapakah Endou sebenarnya?

Lagi, yang bisa jawab bener saya kasih hadiah! #plak

Nah, saya menampilkan karakter baru lagi, Hiroto. Tapi sepertinya, dia ga akan dimunculin banyak-banyak, karena saya cuma mau buat adegan gontok-gontokan antara Kazemaru dan Hiroto aja.

Chapter ini, seperti biasa, abal luar biasa. Mohon review-nya ya, kawan…