Aloha, minna-saaaaaaaaannn! XD

Ada yang masih ingat dengan fic ini? Hahahahaha! Maklumlah, kalo gak ingat! Soalnya Natsu updatenya telat! *telat banget oi!* Yaaah... sekitar ... *liat tanggal update chapter terakhir* What!? Enam bulan!? O,o *ngitung balik* Iyah! Beneran enam bulan! *shock bukan main*

Gomen ne minaaaaa...! Natsu baru bisa update sekarang, soalnya baru sembuh dari WB *alesan!*

Yaaahh... Natsu bakal berusaha buat lebih cepetin update kok! Janji deh! DX
Kalo Natsu ingkar, reader boleh bakar Natsu hidup-hidup! D'X

Yossshh! Arigato buat para readers yang udah review, nge-fave, alert, dan sekedar mampir buat baca fic ini! Gak nyangka ternyata fic gaje ini banyak yang sukaaaaa... TT^TT *nangis terharu dengan gajenya*

Yang ngereview login, balesannya udah Natsu kirim lewat PM. Silahkan cek inbox masing-masiiiiing! XD Dan yang gak login, as usual, balasannya ada di akhir cerita yaaaa...! XD

Siiipp! Tanpa banyak bicara lagi, langsung baca ajaaaa! XD

.

.

Disclaimer : Masashi Khisimoto

Title : When Love is Growing

Story By : Natsu Hiru Chan

Genre : Romance, Family

Rated : T –semi M Maybe?^^

Pairing : NarutoXHinata

WARNING(S) : AU, OOC, typo bertebaran dimana-mana, abal, adult version of NaruHina, norak, gaje, jelek, ancur, dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin! *plakk!*

Mohon maaf bila ada kesamaan cerita. Fic ini murni dari otak Natsu yang super standar!

Summary : Bagaimana ia bisa bahagia jika ia harus menikah dengan orang yang sama sekali tak dicintainya? Mungkinkah cinta akan tumbuh di antara mereka?/kenapa selalu dia yang berkorban?/

.

.

.

Don't like, don't read! XP

.

Chapter 4 :

Beberapa orang yang lewat itu hanya menatap perempuan berambut indigo panjang itu dengan tatapan heran. Kalau tidak salah, ia adalah putri sulung keluarga Hyuuga yang sangat kaya itu? Wanita cantik, dengan ke-optimismean yang sangat besar, serta senyuman lembutnya yang khas. Hyuuga Hinata... atau lebih tepat kita sebut sebagai, Namikaze Hinata. Meski Namikaze itu hanyalah sebuah gelar belaka.

Namun kali ini ia terlihat begitu berbeda. Kemana senyum lembut penuh keibuannya itu? Kemana rona wajahnya yang terlihat begitu menggemaskan itu? Kini Hinata lebih cocok dengan kata 'menyedihkan'. Ia duduk di bangku taman, sendirian, menatap kosong ke depan. Dibiarkannya air hujan mengguyur tubuhnya, membuat air matanya bercampur dengan air yang jatuh dari langit itu.

Ia menyukai Naruto.

Tidak, ia mencintainya, dan Hinata menyesali perasaan itu. Ia pernah merasakannya, dan sekarang hal itu berulang lagi. Hinata tak tahu betul, apakah perasaan ini muncul kembali ke permukaan hatinya setelah tiga tahun lamanya ia tertanam di dasar hati Hinata, ataukah perasaan baru muncul lagi, setelah perasaan lamanya dihancurkan berkeping-keping oleh Naruto? Sang empunya bahkan tidak tahu, apa sebenarnya yang dirasakanan. Jelasnya ia mencintai Naruto (lagi), meski dengan dua sebab itu.

Naruto adalah pria yang baik, dan ramah terhadap siapa pun, meski sifat playboynya itu sedikit mengotori kata 'baik' di hatinya. Ia tak pernah kasar terhadap perempuan, dan selalu tersenyum kapan pun, dimana pun, dan bagaimana pun situasi dan kondisinya. Itulah, yang membuat Hinata jatuh cinta pada sosok itu, tiga tahun yang lalu. Kini Naruto sedikit berbeda. Cengiran khas dan sifat playboynya itu memang tidak pernah, dan tidak akan pernah lepas lelaki pirang itu, namun kini tersirat kedewasaan di wajah tampannya. Sifatnya lebih berwibawa dari yang dulu, dan kini Naruto bisa mengatur segalanya dengan lebih baik. He is the best young director, menurut Hinata. Dan ia jatuh cinta sosok itu juga.

Gadis itu menyibakkan helaian biru tuanya ke belakang telinga, saat merasa terganggu. Ia menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan yang fatal. Memutuskan benang yang selama ini susah payah Hinata kait, dengan membiarkan Naruto membencinya. Rumah tangga mereka yang memang sudah hambar itu kini akan hancur seketika! Pasti sepulang nanti, Naruto akan menungguinya di depan pintu, menyodorkan surat cerai, dan menyuruh Hinata untuk menandatanganinya.

Di usianya yang masih 20 tahun, Hinata sudah menyandang gelar 'janda'? Janda yang masih perawan... Lucu sekali kedengarannya! Padahal masih banyak perempuan di luar sana, yang hamil di luar nikah.

"Nona, maaf. Tapi sebaiknya Anda pulang, karena waktu sudah larut,"

Suara pria yang terdengar sopan dan ramah menyadarkan lamunan Hinata. Astaga! Hari sudah gelap! Berapa lama gadis itu melamun!? Ia bahkan tak sadar, bahwa saat ini ia dalam kondisi basah, membiarkan air matanya tercampur dengan air hujan. Meski begitu, siapa pun pasti tahu, bahwa Hinata baru saja menangis, dilihat dari wajah dan hidung yang memerah, serta matanya yang sembab.

"Ah, eum... M—maaf!" Hinata langsung saja membungkuk hormat, tepatnya meminta maaf. "Saya permisi..." ia pun bergegas lari, menuju rumahnya yang terletak agak jauh dari taman itu.

Yah, usai bertengkar dengan Naruto tadi, Hinata langsung saja berlari, sejauh-jauh yang ia bisa. Tak dipedulikannya tatapan bingung orang-orang, beserta kakinya yang sakit akibat tersandung beberapa kali. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah taman, yang sudah agak sepi, karena awan mendung menandakan hujan akan datang. Seperti yang diduga, beberapa menit kemudian ribuan tetesan air yang disebabkan oleh penguapan dan berkumpul di langit itu pun berjatuhan, membasahi bumi.

.

.

Hinata masuk, dan langsung disambut oleh beberapa pelayan. Berabagai pertanyaan penuh kekhawatiran pun terlontar oleh mereka, melihat keadaan Hinata saat ini.

"Nona, anda kenapa basah kuyup begini? Anda hujan-hujanan di luar?"

"Hinata-sama sudah menangis!?"

Yang ditanya hanya tersenyum getir, seraya memberikan isyarat bahwa ia baik-baik saja. Pelayan-pelayan itu pun bungkam.

"Mana Naruto-kun?" tanya Hinata berusaha bersikap senormal mungkin.

"Ah, sejak tadi pagi Namikaze-sama belum kembali juga. Mungkin ia ada urusan mendadak," jawab seorang pelayan.

Hinata tersenyum pilu. Mungkin lelaki itu tak akan kembali. "Kalau begitu aku mau kembali ke kamar lagi. Kalau Naruto-kun pulang, tolong sediakan dia air panas untuk mandi," setelah mengatakan itu, Hinata pun pergi, menghilang dibalik tangga.

.

~When Love Is growing~

.

"Bagaimana dengan ini Naruto?" seorang gadis berambut pirang panjang, dengan dress halter neck berwarna merah di atas lutut kini memandang sebuah kalung emas dengan liontin keperakan dengan tatapan menilai.

Liontin itu memang cukup indah, bahkan sangat indah. Cocok sekali, jika dipasangkan dengan gadis cantik sepepertinya, yang memiliki kulit selembut sutra. Tapi sepertinya... kalung itu terlalu sederhana, untuk gadis yang sudah terbiasa memakai barang-barang mewah sepertinya. Untuk itulah dia bertanya kepada sang kekasih, meminta pendapat.

Sayangnya pacarnya sepertinya sama sekali tak menghiraukannya. Menyadari tidak ada jawaban, Shion lalu berbalik, menatap Naruto dengan wajah yang sengaja dicemberutkan.

"Naruto!"

Seketika lelaki pirang yang dipanggil itu tersentak kaget, baru saja tersadar dari lamunannya. "A—ah, ada apa? Kau tadi bilang apa?"

Shion menghela nafas bosan, lalu memutar bola matanya. "Aku meminta pendapatmu tentang kalung ini," ucapnya seraya menunjuk kotak beludru yang ada di lemari pajangan berbahan kaca, terpajang sebuah kalung indah, yang jika dilihat harganya bisa-bisa membuat orang berpikir dua kali untuk membelinya.

"Ya, bagus," jawab Naruto asal, lalu kembali merenung.

Shion mengerutkan dahinya, bingung melihat tingkah Naruto yang tidak biasanya ini. "Ada yang mengganggu pikiranmu, Naruto?" tanyanya dengan nada khawatir.

Yah, tak biasanya Naruto begini. Biasanya, jika mereka sedang kencan—tepatnya Naruto (dengan berat hati) menemani Shion jalan-jalan, ke salon, atau berbelanja— cengiran lima jari tak pernah lepas dari lelaki dewasa itu. Jika ditanya Naruto selalu berupaya untuk menjawab, meski sebenarnyaia tak tahu apa-apa tentang perhiasan-perhiasan seperti itu. Kalau ditanya soal makanan, sepertinya bisa dipertimbangkan...

Naruto segera menggeleng. "Ah, tidak ada... aku hanya memikirkan soal kantor saja," dusta Naruto.

Lelaki itu tenggelam dalam kekalutan. Sudah dua hari, ia tidak kembali ke apartemen yang Hyuuga Hiashi berikan untuknya dan Hinata. Selama dua hari itu, ia menginap di tempat yang bebeda. Saat ia baru saja bertengkar dengan Hinata, ia pergi ke sebuah bar, memesan beberapa gelas jus (karena ia memang tak tahan oleh minuman atau makanan berkadar alkohol tinggi), lalu ke hotel untuk bermalam. Esoknya ia berangkat kerja, dan pulang langsung ke rumah Shion, dan tidur di sana. Mereka memang tak melakukan apa-apa, karena Naruto memilih untuk tidur di sofa saja.

Kalau kita bisa melihat apa yang sedang dipikirkan Naruto saat ini, yang tertampang adalah seorang gadis manis berambut indigo, yang sedang mengukir sebuah senyuman indah di bibir mungilnya. Yah, sedari tadi Naruto memikirkan gadis itu. Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Apakah dia sudah makan siang? Apa dia tidak sedang berjalan dengan pria lain?

"Aku tidak ingin kau memikirkan apa pun, saat bersamaku Naruto!" ucap Shion dengan nada mengancam, yang hanya Naruto anggap sebagai gurauan.

"Baik, baik... tuan putri..." akhirnya lelaki itu pasrah, seraya mengecup pelan pipi gadis pirang itu.

Wajah Shion langsung merona merah. Ia hanya bisa tersenyum kekanak-kanakan, seraya kembali memalingkan wajahnya, menatap deretan perhiasan yang tersusun rapih di sana. Matanya memang tertuju pada perhiasan-perhiasan itu. Tapi pikirannya sudah terbang entah ke mana.

Naruto yang melihat tingkah kekasihnya itu hanya tersenyum tipis. Ia sangat mencintai gadis ini. Sangat. Saking cintanya Naruto padanya, ia bahkan tak rela melepas Shion, bahkan setelah ia menikah. Sebenarnya Shionlah, cinta pertama Naruto. saat itu usianya masih 7 tahun, dan ia pergi ke acara pesta, bersama ayah dan ibunya. Awalnya Naruto tak ingin ikut, dan merajuk di kamar. Ia tak suka acara formal seperti itu. Tapi setelah menyaksikan kemarahan ibunya, dengan sangat terpaksa akhirnya ia ikut juga. Saat bocah itu kabur, ia bertemu dengan Shion, dan saat itulah, hal yang anak-anak muda jaman sekarang katakan sebagai 'cinta monyet' lah, yang terjadi pada diri Naruto.

Bocah pirang itu tersesat, dan Shion datang menyelamatkannya, menuntunnya kembali ke gedung utama. Itulah terakhir kali mereka bertemu.

Dan ketika Naruto melanjutkan kuliahnya ia bertemu Shion yang sedang membeli bunga. Kata gadis itu sih, untuk memperingati hari kematian ibunya. Lelaki itu pun tak ingin melewatkan kesempatan ini. Shion tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manis. Apalagi ia kini telah menjadi seorang model terkenal. Sayangnya sifatnya berubah cukup derastis. Jika dulu Shion adalah gadis manis, penurut, dan pemalu, kini dia adalah wanita dewasa yang keras kepala, dan egois. Ia bahkan tak mengingat Naruto. Tentu saja. Sadarlah, itu kejadian 13 tahun yag lalu! Bagaimana mungkin seseorang bisa ingat? Yaaah... kecuali kejadian itu memang sangat berkesan baginya...

Lamunan pria itu buyar, saat merasakan ponselnya bergetar. Diambilnya ponsel itu dari saku celana jeansnya, dan menatap nomor yang memanggilnya. Itu nomor telpon rumahnya! Tepatnya nomor telpon rumahnya dan Hinata.

Diliriknya Shion sekilas, yang saat ini tengah meminta rekomendasi dari penjual perhiasan itu. mereka nampak asyik bercakap-cakap, hingga melupakan kehadiran Naruto di sana. Akhirnya lelaki itu pun mengangkat telponnya yang berdering. Dugaan-dugaan aneh mulai bermunculan di benaknya.

"Moshi-moshi?" tanyanya dengan suara baritone-nya yang agak cempreng.

"Namikaze-sama! Nona Hinata...!"

Mata Naruto membelalak, mendengar penjelasan pelayan yang baru saja menelponnya. Cengkaramannya pada ponselnya mengeras. "Baiklah, aku akan segera ke sana!"

"Kau mau ke mana Naruto!?" panggilan Shion membuyarkan niat naruto untuk pergi dari tempat itu.

Naruto yang sudah dikuasai oleh rasa panik itu pun tak sanggup menyusun kata-kata, untuk dijadikan alasan yang tepat. "Hinata sakit!"

"Apa pedulimu? Kau bahkan menyelingkuhinya!" komentar Shion pedas.

Perkataan itu terdengar panas di telinga Naruto, namun ia hanya bisa diam. Ia tak tahu harus bagaimana. "Aku harus kembali! Akan kuhubungi kau nanti," setelah mengatakan itu, Naruto pun langsung mengambil langkah seribu pergi dari tempat itu. Tak dipedulikannya panggilan-panggilan Shion yang memintanya untuk kembali. Saat ini hanya ada satu di kepala Naruto. Hinata.

.

.

"Bagaimana keadaannya!?" tanpa babibu lagi, Naruto langsung menggebrak pintu kamarnya, mengabaikan sopan santun dan tata krama yang selama ini diajarkan padanya (meski tak pernah ia amalkan). Bagaimana pun ini rumahnya, juga kamarnya—kamar mereka 'kan?

Mata bulatnya menangkap sosok seorang pelayan muda, yang duduk di sisi tempat tidur, seolah sedang menantikan tentang sadarnya seorang putri yang kini terlelap nyenyak, ke alam mimpinya.

"Namikaze-sama!" ujar pelayan muda itu girang. "Syukurlah, anda datang!"

Naruto yang kini diam mematung di ambang pintu itu mulai berjalan, mendekat. Pelayan itu menyingkir, membiarkan sang pangeran melihat permainsurinya yang tertidur panjang akibat racun yang diberikan oleh nenek sihir yang jahat.

Wajah Hinata terlihat pucat, namun tak menutupi kecantikannya sedikit pun. Matanya terpejam erat, menyembunyikan iris amethyst yang keperakan itu. Di dahinya tertempellah, saputangan basah, guna untuk menurunkan panas demamnya. Melihat kondisi Hinata sekarang, membuat Naruto teringat saat ia sakit dua hari yang lalu. Saat Hinata merawatnya, memberikan kasih sayang yang jarang Naruto dapatkan dari ibunya yang sibuk.

"Apa yang terjadi padanya?" tanyanya seraya duduk di kursi, yang tadinya ditempati oleh pelayan itu.

"Kemarin dulu dia pulang dalam keadaaan basah kuyub, dan mengurung diri di kamar. Saat saya hendak mengantarkannya sarapan siang, saya malah menemukannya tergeletak di lantai, dengan baju yang sama... Mungkin Hinata-sama pingsan, sejak dua hari yang lalu..."

Mata Naruto membelalak. Separah itukah? Dan ke mana a ia selama ini? Kemana tanggung jawabnya sebagai suami yang sah? Ah! Benar juga! Ia tak mencintai Hinata, dan apa pedulinya?

"Kau sudah memanggil dokter?"

"Ya, dia bilang kalau dia masuk angin, disertai dengan stress berat... Apalagi fisik dan mental Hinata-sama memang pada dasarnya lemah..." tentu saja semua pelayan di rumah itu, tau tentang masalah Naruto dan Hinata. Lihat saja setiap malamnya, kalau Naruto pulang, ia selalu tidur di kamar lain, atau di sofa. Pengantin baru itu memang tidak terlalu ahli, dalam hal bersandiwara.

Sekarang Lelaki itu jadi mengerti, kenapa dulu Neji, sepupu Hinata sangat melindunginya, dan begitu overprotective terhadap istrinya itu. Pria berambut panjang itu akan menghajar siapa pun yang berani mendekati Hinata—termasuk dirinya, yang menjadi bulan-bulanan Neji. Sayangnya sepupu Hinata itu gagal, oleh kekeraskepalaan Hinata sendiri, dan akibatnya, gadis itulah, yang patah hati... Patah hati oleh sahabatnya sendiri.

Naruto menghela nafas panjang. Ia kembali menoleh, menatap pelayan itu. Senyum sopan terukir di wajahnya. "Baiklah, sekarang kau boleh pergi..." ucapnya dengan suaranya yang khas, namun terdengar lesu. Pelayan itu pun menurut, lalu segera meninggalkan kamar itu. Meninggalkan sepasang pengantin baru tersebut.

Naruto kembali menoleh pada istri yang—ia pikir— tidak ia cintai. Ditatapnya wajah Hinata dengan tatapan sendu, seolah menyesali perbuatannya yang salah. Naruto juga tidak mengerti, kenapa ia malah memeluk Hinata dua hari yang lalu, memberikan harapan besar bagi gadis itu. dan yang paling tak bisa ia percaya... Hinata menolaknya? Tak pernah terpikir bagi Naruto, seorang Hyuuga Hinata akan menolak kasih sayang, utamanya dari dirinya. Lelaki yang selalu ia tatap dengan pandangan kekaguman. Lelaki yang sangat ia hormati. Lelaki yang telah resmi menjadi suaminya yang sah.

Sebuah pergerakan kecil di tangan si sulung Hyuuga mengagetkan Naruto. Lelaki itu tersentak, dan menajamkan matanya pada Hinata, berharap gadis itu akan terbangun.

Harapan itu pun terwujud. Perlahan sepasang kelopak mata yang terlihat semburat kehitaman di sana pun mulai terbuka, menampakkan sepasang iris ametyst yang terlihat sendu. Hinata mengerjap-kerjapkan matanya, berusaha mengembalikan kesadarannya sepenuhnya. Ia merasakan aliran hangat, di bagian tangan kanannya. Sebuah genggaman tangan besar yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.

"Hinata!" suara itu... suara bariton namun agak cempreng yang menyebut namanya mengiang di telinga Hinata. Pemilik surai indigo itu mengedarkan bola matanya, mencari sumber suara itu berada.

Sampai iris lavendernya tertuju pada seorang pemuda berambut pirang, yang saat ini menatapnya dengan tatapan tidak sabar. Saat itulah hati Hinata menjadi campur aduk. Antara kaget, bahagia, takut, dan bersalah. Ia terdiam sejenak, lalu membuka bibirnya, menggumamkan nama orang yang dicintainya.

"Naruto-kun..." lirihnya.

"Syukurlah..." Naruto berujar lega. "Kau benar-benar membuatku khawatir!"

Hinata menggigit bibir bawahnya sendiri. Bukan main bahagiannya ia saat ini. naruto mengkhawatirkannya, dan datang untuk menjaganya! Sesuatu yang ia harapkan, namun tidak ia percayai itu. Pandangan gadis itu memburam, terhalang oleh air matanya sendiri.

Naruto yang menyadari itu menjadi panik. "Ada apa Hinata?" tanyanya, seolah tidak terjadi apa-apa. Naruto saat ini lebih terlihat seperti saat SMU dulu, dibanding Naruto versi dewasanya.

"Terima kasih..."

.

~When Love Is growing~

.

"Aku tidak mengerti, jalan pikiranmu, Naruto! kau meninggalkanku di mall sendirian, hanya untuk gadis Hyuuga yang tidak kau cintai itu!?"

"Hinata sedang sakit. Kumohon kau mengerti..." Naruto berusaha untuk membujuk kekasihnya itu, agar mau mengerti posisinya sekarang.

Namun ada nada lain dari suaranya. Naruto mengatakan itu, seolah bukan karena Hinata Hyuuga sedang sakit. Namun Naruto terdengar benar-benar ingin menjaganya. Melindunginya, melayani setiap apa keinginannya. Seperti yang dilakukan suami-suami pada umumnya. Untungnya Shion tidak menyadari hal itu.

"Aku kesal padamu Naruto! kenapa tidak kau ceraikan saja dia!?"

"Aku tidak bisa..." Naruto mengeratkan pegangannya pada ponselnya. "Ini perintah orang tuaku. Lagipula aku tidak tega pada Hinata... Dia terlalu rapuh. Dan... aku baru menyadarinya saat ini..." Naruto berkata dengan tulus, dari palung hatinya yang paling dalam. Begitu melihat wajah pucat sang istri, rasa bersalah menghantui kepala Naruto. Betapa bodohnya dirinya, juga Hinata. Harusnya mereka saling bekerjasama, untuk membina rumah tangga yang baik.

Meski tanpa cinta...

Naruto melihat Hinata bagaikan ranting pohon yang sudah termakan usia. Begitu rapuh, dan jika disentuh sedikit saja akan langsung hancur. Dan Orangtua mereka pun menjadikan Naruto sabagai penopang, jangan sampai ranting itu hancur menjadi debu, dan terbawa angin... Berapa lama waktu yang Naruto buang untuk mengkhianati istrinya? Sebulan, mungkin?

"Jadi kau lebih memilihnya dibanding aku!?" Shion berujar emosi.

"Bukan begitu. Aku—"

Tut, tut, tut...

Belum sempat Naruto memberikan penjelasan lebih lanjut, Shion sudah keburu memutus telponnya. Seolah tak mengetahui apa yang akan terjadi, jika ia melakukan hal itu.

Naruto menatap layar ponselnya dengan kesal, lalu mengumpat pelan. Ia harus menahan kesabarannya. Lelaki dikaruniai kesabaran yang jauh lebih tinggi, dibanding perempuan. Sebaliknya, perembuan memiliki emosi yang lebih tinggi, dibanding laki-laki. Ia harus bisa mengendalikan emosinya juga mengendalikan semuanya.

Lelaki itu menghela nafas panjang, dan memasukkan ponselnya ke saku celananya. Ia pun masuk ke dalam kamarnya, kamar Hinata, kamar mereka berdua.

Dilihatnya gadis itu tengah duduk di ranjang, sambil membaca buku. Tatapannya fokus kepada deretan kata yang tertera pada halaman buku yang dibacanya. Helaian indigonya berjatuhan, dikarenakan ia harus sedikit menunduk, untuk bisa melihat kalimat dengan jelas. Hinata terlihat jauh lebih sehat, dibanding beberapa jam yang lalu.

Menyadari kehadiran sang suami di sana, Hinata segera menutup bukunya. Padahal tadi ia disuruh istirahat oleh Naruto, dan ia malah melanggarnya. Tentu saja! Seharian harus berbaring di tempat tidur. Siapa yang tak bosan!?

"M—maafkan aku, Naruto-kun!" ucap Hinata gugup, seraya menunduk, tak berani menatap sepasang iris sapphire itu.

Seolah tak mempedulikan kata maaf Hinata, Naruto lalu berjalan mendekatinya, mengambil buku yang tadi dibaca Hinata, dan meletakkannya di atas meja. Hinata hanya bisa menunduk, tak tahu bagaimana ekspresi suaminya saat ini.

Namun bukan main terkejutnya Hinata, begitu ia merasakan sebuah usapan kecil di puncak kepalanya. Segera ia mendongkak, menatap Sang suami yang menatapnya denga cengirannya yang khas, sambil mengacak-acak rambutnya.

Kenapa Naruto tiba-tiba jadi ramah begini? Memang sih sejak pernikahan mereka naruto tak pernah menyempatkan diri untuk sekedar menatapnya. Bahkan gadis itu tak tahu, bahwa Naruto melakukan semua ini hanya karena meluhat kerapuhannya. Kelemahan dan kelembutannya.

"Kau tidak berubah. Dari dulu kau mudah sekali merasa bersalah,"

Dikatai seperti itu Hinata hanya bisa diam, tak tahu harus berkata apa. "Gomen ne,"

"Ohya, bagaimana kalau besok siang kita berkunjung ke tempat ayahmu?"

Senyuman mengembang di wajah cantik si sulung Hyuuga itu. Sebenarnya ia memang sangat rindu kepada sang Ayah, adik, juga sepupunya. Sejak hari pernikahannya dengan Naruto, Hinata jarang mengunjungi keluarganya. Yah, bagaimana pun ia sudah sah, menjadi istri Naruto. Meski begitu, darah Hyuuga masih mengalir dalam tubuhnya bukan?

Gadis itu mengangguk antusias.

"Balau begitu, sebaiknya kau istirahat..."

Hinata hanya mengangguk mengerti. Dengan pelan, ia kembali membaringkan tubuh lemahnya pada ranjangnya—ranjangnya dan Naruto yang empuk. Sekilas, ia menatap mata biru suaminya itu, yang kini menatapnya dengan lembut. Benar-benar tatapan menghanyutkan, layaknya samudra Atlantik, yang terdapat segitiga bermuda di sana. Mungkin mata Naruto adalah satu dari sekian bagian dari lelaki itu yang membuatnya jatuh cinta.

Ranjang yang empuk, kamar yang hangat, serta aroma maskulin serta kehangatan Naruto di sampingnya memberikan sensasi nyaman bagi Hinata. Lama kelamaan ia mulai mengantuk, dan sedikit demi sedikit memejamkan matanya.

Meski sudah setengah tidur, namun gadis itu bisa merasakan sebuah usapan lembut pada keningnya, seperti yang dulu ia lakukan pada Nauto saat lelaki itu sakit. Entah kenapa ia merasa semakin nyaman, memaksanya untuk segera tenggelam ke alam mimpi. Hinata tak mau repot-repot membuka matanya, untuk melihat siapa yang telah memberinya sentuhan hangat ini. Ia hanya bertanggapan bahwa kini ia sudah berada di alam bawah sadarnya.

"Ibu..."

Naruto tersenyum tipis, mendengar gumaman gadis yang terbaring di depannya itu. Tangan besar berkulit eksotisnya tetap bergerak, mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut. Saat ini Hinata pasti sedang bermimpi tentang ibunya.

Yah, Naruto tahu tentang Hinata. ibunya meninggal saat usianya berusia empat tahun, saat sedang melahirkan adik bungsunya. Katanya sih, pendarahan berat. Setelah itu, Hinata dan adik kecilnya yang diberi nama Hanabi itu pun hidup tanpa ibu. Hanabi nampak tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia mempunya ayah, kakak perempuan, serta sepupu yang sangat mencintai dan melindunginya. Namun Hinata tidak. Gadis itulah yang harus memikul sebagian dari beban ayahnya. Ia menjadi ibu bagi Hanabi. Mengajarkannya banyak hal, dan lainnya. gadis itu juga telah resmi menjadi pewaris perusahaan Hyuuga yang dikelola oleh ayahnya. Mungkin lima tahun kemudian, Hinata sudah bisa menjadi seorang direktur muda.

"Namikaze-sama,"

Lamunan Naruto buyar, saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang diketahuinya adalah salah satu pelayan di rumah itu. Ia lalu menoleh, melihatnya dengan tatapan bertanya. "Ada apa?"

"Eumm... Ayah, Ibu, dan mertua anda berkunjung ke sini, karena mendengar kabar bahwa Hinata-sama sakit. Saat ini mereka berdua ada di ruang tamu,"

Saat itulah, mata birunya membelalak sempurna.

.

.

"Di mana tanggung jawabmu sebagai suami? Sampai-sampai Hinata jadi sakit begini!"

Naruto hanya diam, tak berani membalas komentar pedas dari mertuanya, Hyuuga Hiashi. Saat ini Dirinya, Orang tuanya, beserta pemimpin keluarga Hyuuga itu nampak duduk di kursi ruang tamunya yang megah. Naruto tak bisa menjawab apa-apa, karena yang dikatakan Hiashi memang benar. Dirinyalah, yang menyebabkan Hinata sakit begini. Seandainya ia lebih perhatian sedikit, dan tidak egois, pasti semua ini tidak akan terjadi.

Salah Hinata juga. Kenapa gadis itu tidak pernah mengungkapkan argumennya kepada pria itu? andai Hinata bisa sekali saja protes, dan Naruto menanggapinya, mereka saling bertukar pikiran hingga menghasilkan suatu keputusan terbaik, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Tapi apa daya? Nasi sudah jadi bubur. Keduanya berpikir, bahwa mereka pasti bisa menjalani hari-hari ini, sampai ketika sebuah masalah datang, memisahkan mereka berdua.

"Maaf, Ayah..." lelaki pirang itu berujar penuh penyesalan.

"Kau benar-benar bodoh, Naruto! kau sudah mempermalukan kami!" kali ini Kushina yang berkomentar. Putra semata wayangnya itu kini hanya bisa menunduk, tak berani menatap ketiga orang yang paling dihormatinya itu. Oh, siapa saja. Bantulah lelaki pirang ini keluar dari 'kepungan' orang tuanya.

"Sudahlah... Ini bukan sepenuhnya salah Naruto. Dia sudah berusaha sekeras yang ia bisa," Minato mencoba membela putranya tersebut. Setidaknya dia yang paling sabar, antara dua manusia berambut panjang di dekatnya ini. "Namanya cobaan tidak bisa dihindari. Hinata sakit ini juga salah satu cobaan," ucapnya bijaksana.

"Tapi jika seandainya dia lebih perhatian sedikit, tidak hanya mementingkan pekerjaan saja, pasti hal ini bisa dihindari,"

Diam-diam Naruto tersenyum miris. perhatiannya pada Hinata memang kurang, nyaris tidak ada. Tapi bukan sepenuhnya gara-gara pekerjaan. Sebagian karena Shion, kekasihnya. Lelaki itu tak bisa memungkiri, bahwa ia masih menyukai gadis pirang itu. Gadis yang dari dulu dikaguminya. Gadis yang menerima sifat posesifnya. Berbeda dengan Hinata. Naruto lebih merasa, bahwa ia berkewajiban untuk melindunginya. Namun tidak mempunyai hak untuk menyentuhnya. Ia tak tahu jelas, dari mana datangnya perasaan itu, padahal semua juga tahu, bahwa Hinata Hyuuga—ralat!—Hinata Namikaze itu ialah istrinya sendiri. Wanita yang berkewajiban untuk melayaninya, baik dalam kebutuhan jasmani dan rohani.

"Tapi ini juga bukan sepenuhnya salah Naruto. Bagaimana pun, dia bekerja keras untuk menghidupi istrinya,"

"Apa gunanya harta, jika dibandingkan dengan kesehatan?"

"Setidaknya ia sudah berusaha keras untuk merawat dan menjaga istrinya,"

"Kau terlalu memanjakan putramu Minato,"

"Anda juga terlalu memanjakan putri anda,"

Suasana di ruang tamu itu makin panas saja, akibat perdebatan antara kedua besan itu. Naruto—yang sebagai diperdebatkan disini—hanya bisa diam, tak berani mengatakan sesuatu. Mata birunya lalu melirik pada ibunya yang hanya menggeleng-geleng pasrah, tak berani bersuara.

Baiklah! Ini saatnya ia ambil aksi. Bagaimana pun, di rumah ini Naruto lah yang bertindak sebagai kepala keluarga. Jadi ialah yang berhak untuk mengatur segalanya.

"Ayah..." baru saja ia hendak angkat bicara, sebuah suara feminim nan lembut menghentikannya. Keempat manusia yang ada di ruangan itu pun menoleh ke sumber suara, mendapati seorang gadis berambut indigo panjang, mengenakan piyama berdiri di sana.

Tanpa pikir panjang Naruto langsung saja berdiri dari sofanya, menatap istrinya itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. "Hinata. Kau sudah bangun?" tanyanya yang terdengar bodoh. Sudah jelas-jelas gadis itu berdiri di sana, dengan mata yang terbuka lebar. Sudah pasti 'kan, dia bangun?

"I—iya Naruto-kun," menanggapi kebodohan suaminya, Hinata menjawab ragu. Tatapannya lalu tertuju pada pria berambut hitam panjang yang terduduk di sana. "Ayah, ini bukan sepenuhnya salah Naruto-kun. Aku yang tidak menjaga kesehatanku dengan baik,"

Hening...

"Hinata..." tanpa diduga, tanpa disangka, tiada hujan, tiada ojek, Hiashi langsung saja beranjak dari sofanya, menghampiri putri sulungnya itu dan memeluknya erat. Seketika ketiga Namikaze yang ada di sana hanya diam mematung.

"Ayah..." Hinata membalas pelukan Ayahnya. Sejujurnya ia sangat rindu dengan lelaki ini. Meski Hiashi terkesan tegas dan disiplin padanya, gadis itu tahu, bahwa ayahnya sangat menyayanginya melebih apa akan membiarkan seucil lukapun pada kulit mulusnya.

"Kau baik-baik saja? Naruto tidak melakukan hal yang macam-macam padamu?"

Sontak wajah gadis itu menampakkan ekspresi terkejut. Bagaimana mungkin Naruto berbuat macam-macam padanya, bahkan tidur satu kamar pun mereka tidak pernah? Hinata diam, tak tahu harus menjawab apa. Jika menjawab 'tidak', itu sama saja mengakui, apa yang terjadi pada hubungan mereka selama ini. Namun jika menjawab 'iya', ayahnya ini bisa salah paham, dan menghajar menantunya itu tanpa ampun!

"Anda ini bicara apa? Tentu saja Naruto melakukannya. Mereka 'kan sudah menikah," Kushina angkat bicara, tersenyum nakal pada Naruto yang saat ini menampakkan ekspresi yang sama dengan Hinata.

"Maksudku, dia mungkin saja melakukan kekerasan pada putriku," Hiashi berkata, seraya melipat kedua tangannya di dada. "Ada banyak kasus seperti itu akhir-akhir ini. suami yang menyiksa istrinya hanya karena masalah sepele..." ucanya serius.

Hinata tertawa kecil, "tentu saja tidak, Ayah,"

Naruto tertegun. Entah, sejak kapan ia melihat istrinya itu tertawa seperti itu. Terlihat begitu manis di matanya. Terlebih, saat rona merah terpatri jelas di kedua belah pipinya, membuatnya nampak lebih manis. Pria itu menelan ludahnya sendiri. Entah kenapa ia dijalari perasaan aneh. Tangannya serasa mendingin, dan keringat pun menetes di pelipisnya. Terakhir kali ia mengalami hal ini, beberapa tahun yang lalu, tepat saat ia masih remaja. Saat hormon masih bergejolak dalam dirinya.

"Baiklah," suara bariton mertuanya yang galak itu menyadarkannya dari lamunannya. Ditatapnya pria dengan mata yang sewarna dengan mata istrinya itu dengan tatapan menunggu, sampai Hiashi mau melanjutkan kalimatnya.

"Malam ini aku akan menghinap di sini. Di rumah ini,"

Hening selama beberapa saat. Hinata dan Naruto saling bertatapan sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke Hiashi. Hingga keheningan itu terpecah, oleh pekikan histreis—yang sepertinya terlalu berlebihan—keluar dari mulut lelaki berkulit tan itu.

"Hwaaaaaa!?" teriaknya tanpa sadar. Ternyata kebiasaannya—yang suka melebih-lebihkan sesuatu—dari dulu itu tak pernah hilang, meski kedewasaan telah menyelimutinya. Sementara Hinata hanya bisa diam membeku di tempat, dengan mulut yang setengah terbuka.

Bukan apanya. Masalanya, bagaimana mereka memperlihatkan 'kemesraan layaknya sepasang suami-istri' nantinya pada Hiashi, sedangkan selama ini Naruto tak pernah mencoba untuk melakukannya? Bagaimana mereka tidur nanti malam? Mengingat, sejauh ini mereka tak pernah melakukannya. Yah, selain Naruto jarang pulang ke rumah (baik karena urusan perusahaan maupun urusan pribadinya) lelaki itu juga tidur di kamar lain. Barang-barangnya memang terletak di kamar Hinata—kamar mereka, tetapi si empunya malah berada di luar. Seolah keduanya telah menyepakati, hal yang tak pernah dibicarakan ini. Jika Hinata berada di kamar, Naruto keluar, begitu pula sebaliknya. Masalah jatah tidur, diperuntungkan untuk Hinata, sementara Naruto tidur di kamar lain, dan kadang-kadang pula di sofa.

Dan malam ini—detik ini juga, mereka harus melakukannya, demi menjaga agar kemarahan pria bersurai hitam panjang itu tidak meledak? Iris sapphire Naruto kembali bertemu dengan iris amthyst istrinya. Mereka tahu ayah Hinata terlahir untuk menjadi seorang pemimpin, membuatnya selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan... tak ada jalan lain yang bisa dilakukan, selain menuruti permintaannya.

.

.

.

~TO BE CONTINUED~

.

"N—Naruto-kun, pipimu kenapa!?" Hinata bertanya, dengan kekhawatiran yang terdengar jelas dari nada suaranya, menatap lelaki berkulit tan yang saat ini tengah duduk di depannya, di kantin sekolah. Pipi kiri yang dihiasi oleh tiga garis tipis itu terlihat memerah, membuat Hinata menjadi menyangka-nyangka, apa yang telah pemuda itu lakukan. Tidak hanya memerah. Bahkan sedikit membengkak. "Apa kau sudah berkelahi dengan seseorang...?"

"Aaahh... Ini..." Naruto menyentuh pipi merahnya itu dengan santai, tak peduli rasa panas yang dirasakan di sana. "Tadi ditampar Kurosutchi-senpai!"

"Eh? Kurosutchi-senpai?" Hinata menyeruput kuah ramennya, dengan sendok yang sudah disediakan.

"Ya, ketua klub karate putri itu..." terdengar kekesalan dari nada suara pemuda beriris sapphire itu. "Tadi pagi aku memutuskan untuk berpisah dengannya, dan dia malah memukulku sangat keras. Dasar gadis egois!" kesal Naruto, melahap ramennya. Mulutnya yang penuh dengan ramen itu terdengar menggerutu.

Hinata menghela nafas panjang—yang lebih terdengar seperti helaan nafas lelah. Ia terdiam beberapa saat, dan pada akhirnya memberanikan diri untuk menatap iris biru itu. "Kau tidak boleh seperti itu Naruto-kun. Bagaimana jika kau yang merasakannya?" gadis itu meneguk ludah gugup, berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Jika orang yang kau cintai meninggalkanmu begitu saja?" ia berusaha untuk terdengar sesopan mungkin.

Mendengar perkataan gadis Hyuuga di depannya, Naruto menghentikan acara makannya. Ia menatapnya sejenak, dengan tatapan bingung. hal itu malah membuat yang ditatap terkejut mendadak, dan segera menunduk lebih dalam.

"Hahahahahaha! Kau benar juga!" gelak tawa terdengar dari suara cempreng Naruto. beberapa saat kemudian matanya itu berubah menjadi menerawang. "Tapi aku belum bertemu dengan orang yang kucintai..."

"Benarkah?" Hinata membulatkan matanya, terkejut dengan pernyataan Naruto tadi. Tersadar akan kelakuannya, gadis itu kembali menunduk malu.

"Sebenarnya sih... Dulu aku 'bisa dibilang' jatuh cinta pada seorang gadis yang menolongku, beberapa tahun yang lalu..." Naruto bercerita, dengan cengiran khas yang mengembang di wajahnya. "Tapi sejak saat itu aku tak pernah bertemu lagi dengannya!"

"Jadi, sampai saat ini, kau masih mencintainya, Naruto-kun?"

"Aku juga tidak tahu..." Naruto kembali melanjutkan acara makan siangnya, yang sempat tertunda atas percakapannya dengan Hinata. "Aku hanya berharap suatu saat aku bisa bertemu dengannya lagi. Mungkin sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik!"

Hinata terdiam beberapa saat, sebelum kembali ikut menyantap ramen yang sudah hampir dingin itu.

.

.

.

Myaaaaaaa! Akhirnya selesai jugaaaaa!

Gomen, gomen telaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaatt banget! Gomen juga kalo chapter kali ini bawaannya gaje banget! Jadi ngerasa mirip cerita sinetron-sinetron picisan deh! =,=

Yaaah, maklum ajalah! Natsu 'kan musti banyak belajar! DX

Moga aja para readers gak bosan, baca fic yang abal iniiii! DX

Thanks for : FuuYuki34, RestRock, Oceana Queen, Namikaze Resta, Hira-kun, suka snsd, NHL4, Hyuna toki, Ning-san, Ichal, Kharis Numb'Blazz, Lathifah Amethyst-chan, Khairi, Kithara Blue, Cha' Yami no Hime, Intn T, Gyurin Kim, Kalo bulan bisa ngomong, Permen Caca, Baek dong syu, Valeria Lucifer, Diana Aztajim, SitiNazuratul, Setsiko Mizuka, del my account, kiriko mahaera, astia morichan, Hina chan, Nara Kazuki, pha chan, hyo males login, Zoccshan, aigiaNH4, ShiningLovaARA, Nacita Lavender Shappire, demikooo, Fajeri ni Misaki-kun, yuni-chan, Guest (ada banyak banget guestnya), , sizuna, Shin Ji Hyun, Fu-chan NHL4e-KeepStright, iis, fitriany, gdtop, siska chan, Twintail, Momoyuki, kiki, grefin, dikdik717, afi, Yuuki uciha, KilliZa-Chan, daun kering, , lastfriendmenteng, Yukkiteru-sama, sinuza, Melia Tsuzumi Taoru, BekecotKeinjak N,flowers lavender,melowdyhyuuga.

Review kalian semua sangat mendukung Natsuuuuu! X'D Bikin Natsu semangat ngetik, di tengah terjangan bencana yang menimpa gadis yang satu iniiii...! *jiah!

Ohya! sesuai janji, ini balasan review yang gak login :

Hira-kun :
Arigato, reviewnya, Hira-saaann!
Yaaa... makasih udah bilang sweet! X3

Suka snsd :
Arigato, reviewnya Snsd-saaaaannn! XD
Hahahahaha... Iya sih... Natsu juga gak terlalu fans. Lebih ke anime/manga! X3
Whahahahaha! Itu sih menurut Snsd-san ndiri! Mau bilang cemburu atau gimanaaa... *evil smirk*

NHL4 :
Arigato reviewnya, NHL4-saaaaannn! (Manggilnya gimana ya?)
Eh? Fic mutu tinggi... o/o Nggak kok! DX
*tutup kuping*
Hahahahaha! Gomen ya, telat update...! *nyengir2 gaje*

Hyuna toki :
Arigato reviewnya, Toki-saaaann!
Waaa... udah review berapa kali nih? ^^a
Tapi Natsu seneng kok! Soalnya ada juga orang baik hati yang mau setia nungguin fic gaje iniiii...! T,T
Gomen ne!

Ning-san :
Arigato reviewnya, Ning-saaaannn...! XD
Hahahahahahaha! Natsu juga gak tau! XD *dilempar*
Ikutin aja ceritanyaaa... ^w^ *promosi*

Ichal :
Arigato reviewnya, Ichal-saaaaaaannn! XD
Fic keren? Nggak kok! DX Fic ini masih berada jauuuuuuh di bawah standar! DX
Yah, yah, sabar aja. Namanya roda kehidupan pasti akan berputar... *jiah!* *bijak mode : on*
Hwahahahaha! Makasih udah bilang keren! X3

Khairi :
Arigato reviewnya, Khairi-saaaaaannn! XD
Penyakit kronis? O,o Yaaaa... Gak mungkin lah! XD Cowok kayak Naru flu aja jarang... -w- *dirassenggan*
Hahahahaha! Soal kemunculan si Kiba, masih jadi misteri... *dilempar*

Intn T :
Arigato atas reviewnya, Intn-saaaaaaannn! XD
Hahahahaha... Fic ini terlalu berkonflik yah? Gomen, gomen! XD Bakal Natsu bikin se-sweet mungkin deh! XD (gak janji lho! *dor!*)

Kalo bulan bisa ngomong :
Arigato reviewnya, Bulan-saaaaann! XD *eh, manggilnya beda lagi*
Waaaahhh! Makasih atas saran(?)nyaaaaa! X'D
Masalah typo... Kayaknya masih sulit dibasmiii... Meski udah berusaha, tetep aja masih banyak yang nyelip! D'X Tapi Natsu bakal berusaha! XD

Diana Aztajim :
Arigato reviewnya, Diana-saaaaaannn! XD
Ehehehehehee! Gomen ne, Himeee... *sujud ke Hinata*
Ah ya! Saran Diana-san yang waktu itu Natsu pake! Tapi kali ini berlaku (?) cuman buat Hiashi-sama aja! XD
Makasih banyak yaaaaaa...! XD

Hina chan :
Arigato reviewnya, Hina-saaaannn! XD
Hahahahaha! Keep waiting...~

pha chan :
Arigato reviewnya, Pha-saaaaaann! XD
Hehehehehe... namanya lucu! *plakk!*
Makasih udah bilang bagus! XD

hyo males login :
Arigato reviewnya, Hyo-saaaaaaaannn! XD
G-gomen! ^^" Maklum aja, Natsu baru sembuh dari WB... T.T
Wah!? OOC!? O,o Waaaaa! Natsu gak sadaaaaarr! DX
KibaHina... Hahahahahaha! Liat aja entar deh! XD
Arigatoooo! XD
Eh? Bisa-bisa kita berdia dihajar Shion fc... =,=a

Guest :
Wah, Natsu dapet banyak banget review guest... ^^a
Jadi bingung, balasnyaaaa...^o^
Lain kali, kalo mau review, sertain nama aja! Biar kita bisa kenalan, oke? XD *jiah!*
Intinya, arigato atas reviewnya, Guest-saaaaaaannn! XD
Dan makasih udah mau nungguuu!
Ada yang jengkel yah? Bukan ada lagi! Tapi banyak! Gomen neeee! DX Natsu bakal berusaha sekeras yang Natsu bisaaaa...! XD

yuni-chan :
Arigato reviewnya, Yuni-saaaann!
Eh, ada Mbak Yuni Shara! XD *dilempar ke sumur*
Makasih udah mau nungguuu...! XD

:
Arigato reviewnya, Bd-saaaaaann! (manggilnya gimana nih?)
Siiipp! XD

sizuna :
Arigato reviewnya, Sizuna-saaaaann!
Iya, nih udah update! X3

Shin Ji Hyun :
Arigato reviewnya, Shin-saaaaaannn! XD
Eeeehh? Jangan panggil senpai donk! DX Natsu belum pantes dipanggil senpaaaaii! DX
Panggilnya Natsu aja yaaaa...! ato Hiru gitu deh! XD *promosiin nama*
salam kenal! :D

iis :
Arigato reviewnya, Iis-saaaaaann! XD
Setelah Yuni Shara, kini ada Iis Dahlia! O.O *dicebur ke kali*
Keep waiting! XD

fitriany :
Arigato reviewnya, Fitri-saaaaaann! XD
Natsu persembahkan chapter tiga ini! XD

siska chan :
Arigato reviewnya, Siska-saaaaann!
Nggak jahat kok! DX Cumaaaann... Yaaaa... Itu... Ah! Nggak tau deh! XD *ngomong apaan lu!?*
Intinya Naru gak sejahat itu! X3
Endingnyaa... belum terpikir oleh Natsu... u,u *jujur*

Twintail :
Arigato reviewnya, Twinnie-saaaaaaaannn! XD
Nacchu!? Wahahahahaha! Namanya keren! XD
Eh, panjang? Menurut Natsu chapter 3 ini sih kurang panjaaaang! DX
Makasih udah bersedia nungguuu! XD

kiki :
Arigato reviewnya, Kiki-saaaaaaaaannn! XD
Errr... Gomen, gomen, kalo fic Natsu kayak gitu. Natsu udah berusaha buat lakuin yang terbaik, tapi gak berhasil yaaahh? Gomeeeeennn! D'X
Soal lelucon, kayaknya emang bukan di jalur Natsu, soalnya Natsu gak ada bakat sama sekali bikin fic humor! ^.^a
Meski begitu, Natsu bakal berusaha! XD
Arigato atas sarannya, Kiki-saaaaaannn! XD

grefin :
Arigato reviewnya, Grefin-saaaaaannn! XD
Makasih, udah mau nunggu! XD

afi :
Arigato reviewnya, Afi-saaaaaaann! XD
Emang belum selesaaaaiii... ^^a
kan masin 'In Progress'! XD kalo mau baca yang udah selesai, pilih aja 'complete' yang ada pada status! XD
Hahahahaha! Natsu belum kepikiran bikin fic NH baru! Yang ini aja belum kelar! XD

Yuuki uciha :
Arigato reviewnya, Yuuki-saaaaaaaann! XD
Hehehehehe... Namanya roda kehidupan pasti akan berputar kok! XD
Meski selalu aja pasrah, Hinata-hime punya kesabaran yang begitu besar! Itu yang jadi kelebihannya! XD

daun kering :
Arigato reviewnya, Daun-saaaaaaaaaannn!
G-gomen, gomeeeeenn! *sujud2* Yaaahh... Soal fic di fandom lain itu, kebetulan ide cuman jalan (?) ke sana! Dan fic ini, Natsu benar-benar buntu! DX
Gomen, udah bikin nunggu! Natsu bakal berusaha untuk mempercepat (?) update Natsu buat fic iniii! DX

sinuza :
Arigato reviewnya, Sinuza-saaaaannn! XD
Iya, nih udah update!^^
Makasih udah mau nungguuuuuu! XD

BekicotKeinjak N :
Arigato reviewnya, Bekicot-saaaaaannn! XD *nih anak ngejek ya?*
Hahahahahaha! Jatuh cinta yah? ^^a
Makasih banyaaaaaakkkk! X'D *nangis terharu*
Eh? Angst yah? Hehehehehe! Natsu sama sekali gak tau! Maklum lah, udah biasa bikin fluff! XD
Mungkin rated-nya akan tetap. Soalnya Natsu takut, klo Natsu ganti jadi angst, sapatau chapter depannya malah lebih fluff! DX
Waaaahh! Natsu gak bisa update secepat itu! gomeeeenn! XD
tapi Natsu akan berusaha secepat yang Natsu bisaaaa! XD

Melowdyhyuuga :
Arigato reviewnya, Melo-saaaaaaaannn! XD
Hehehehehehehe! Gak apa kok! Pake embel-embel apa pun Natsu terima! XD
Gomen, gomen! D'X
Duh! Duh! Natsu jadi negrasa bersalah nih! Natsu bakal usahain update secepat yang Natsu bisaaaaa! XD

.

Yosh! Segitu aja dulu! Ada yang reviewnya gak kebales, silahkan ajukan protes! XD

Sekali lagi Natsu ucapin maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan update Natsuuu! Pasti minna-san banyak yang jengkelll! Gomenasaaaaaaaassss! D'X *sujud2*

Harap minna-san mau mengerti dan memaklumiii... Natsu juga masih butuh banyak belajar dan pengalaman! DX Tapi Natsu bakal berusaha untuk selesein fic ini di tengah-tengah masa ujian Natsu! Amiiiiinn! XD

Sekarang, bolehkan Natsu minta review kalian semuanya? Mau ngasih kritik, saran, flame, dan lain sebagainya, Natsu terima deh! XD

REVIEW PLEASEEEE!

~ARIGATO~

NATSU HIRU CHAN