Aaah, annyeong readers! Mianhae harus menunggu lama *plak! emangnya ditungguin? GR -_-* Tugas kuliah yang menggila terpaksa mematikan ide-ide cerita part selanjutnya. Untunglah ada dosen baik hati yang meliburkan kuliahnya jadi author bisa comeback ke dunia per-fanfict-an ini *sujud syukur* So, nggak perlu lama-lama, let's read it loud! :)


Siang itu salah satu ruang latihan di gedung berlantai empat yang terletak di daerah Apku Jung tampak ramai oleh sembilan orang yeoja di dalamnya. Alunan musik bergenre pop menghentak ruangan dengan komposisinya yang enerjik dan ceria. Sembilan yeoja yang telah bersimbah keringat mulai menggerakkan badan mengikuti irama musik. Rupanya mereka tengah berlatih untuk mempromosikan single terbaru yang berjudul Baby Baby. Meski kelelahan tergambar jelas di paras mereka, namun hal itu tidak membuat gerakan mereka menjadi lemas tak bertenaga.

"Break!" seru salah seorang di antara mereka yang mengenakan tanktop kuning dengan sweater putih sebagai luarannya. Perintah ini segera mendapat respon yang memancarkan kelegaan dari kedelapan yeoja lainnya.

"Aah, akhirnya." Desah salah seorang yeoja berambut ikal panjang yang diikat ekor kuda sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Ditenggaknya sisa air minum di dalam botol yang dibawanya sampai habis. Begitu botolnya kosong, yeoja itu segera membersihkan sisa air yang menetes dari bibirnya dengan punggung tangan.

"Yoong, ada yang mencarimu di luar." Ujar salah seorang yeoja berambut pendek dengan potongan bob kepada yeoja yang masih bersandar pada dinding.

"Nuguya?" tanya yeoja yang dipanggil Yoong, atau dikenal juga sebagai Yoona, sambil menarik punggungnya dari dinding tempatnya bersandar.

"Your prince" jawab yeoja berambut pendek itu sambil mengedipkan sebelah matanya. Jawaban singkat itu rupanya mampu membiaskan rona merah di pipi lawan bicaranya dan membuatnya langsung salah tingkah.

"Ah, Fany eonnie, hentikan! Aku geli mendengarnya. Lagipula julukan itu tidak cocok untuknya, haha." Balas Yoona sambil tertawa canggung. Yeoja yang dipanggilnya Fany eonnie, atau dikenal juga sebagai Tiffany, hanya tersenyum penuh arti menanggapi perkataan Yoona.

"Sudah, temui sana. Kasihan kalau dia harus menunggu lama. Sepertinya dia kangen berat padamu." Ujar Tiffany sambil mendorong bahu Yoona pelan ke arah pintu ruang latihan. "Eonnie!", sergah Yoona begitu mendengar godaan Tiffany padanya. Kedua matanya membulat panik yang justru membuat Tiffany tertawa melihat ekspresinya itu.

"Hahaha, sudahlah. Toh hubungan kalian sudah menjadi rahasia umum di sini." Ujar Tiffany membela diri. Yoona hanya mampu menggembungkan kedua pipinya karena apa yang dikatakan Tiffany benar adanya. Tanpa disadari keduanya telah berada di balik pintu ruang latihan yang tertutup. Keduanya menghentikan langkah mereka dan mendadak Tiffany menghadapkan tubuh Yoona ke arahnya.

"Yoongie, fighting!" ucap Tiffany sambil mengepalkan jemari tangan kanannya di hadapan Yoona. Sebuah senyuman tulus terulas di wajah cantiknya.

"Gomawoyo, eonnie." Balas Yoona dengan seulas senyum yang sama. Tiffany segera berlalu dari hadapan Yoona dan memberikan kesempatan kepada salah satu dongsaengnya itu untuk menikmati waktu pribadinya bersama seseorang.

Yoona yang masih berada di balik pintu belum juga meraih gagang pintu. Yeoja yang semakin dikenal publik lewat kemampuan aktingnya yang mengagumkan itu terlihat mengatur napasnya. Rupanya bertemu dengan seseorang yang kini menunggu di sisi lain pintu itu berhasil membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Setelah berhasil menenangkan diri, diraihnya gagang pintu itu dan ditariknya ke dalam.

"Mianhae membuatmu menunggu, Kyuhyun oppa."

-o0o0o-

"Seohyun-aa, kau dipanggil Soo Man sajangnim ke kantornya sekarang." Ucap seorang yeoja yang baru saja memasuki dorm dengan setumpuk belanjaan di tangannya. Pakaian penyamaran yang tadi dikenakannya langsung dilepas dan dikaitkan ke tiang penyangga yang berada di dekat pintu masuk.

"Ah, ne Taeyeon eonnie. Aku akan ke ruangan beliau sekarang. Gomapseumnida." Balas seorang yeoja berambut hitam lurus panjang sambil merapikan beberapa buku yang terbuka di hadapannya. Dengan sigap ia menyusun buku-buku tersebut menjadi satu tumpukan dan membawanya masuk ke dalam salah satu ruangan yang menjadi kamarnya setahun ini.

"Mau kutemani, Hyunnie?" tanya seorang yeoja yang baru keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang masih setengah kering tampak menggantung kaku di kepalanya.

"Tidak perlu Yuri eonnie, tidak masalah untukku pergi sendiri." Jawab Seohyun sopan sambil membetulkan beberapa helai rambutnya yang jatuh menutupi keningnya.

"Lebih baik kau ditemani Yuri, Seohyun-aa. Itu lebih aman bagimu." Nasihat Taeyeon yang mendadak muncul dari arah dapur. Rupanya yeoja itu telah selesai mengeluarkan dan menata barang belanjaan yang tadi dibawanya.

"Kalau begitu, baiklah eonnie. Aku akan pergi bersama Yuri eonnie." Sahut Seohyun patuh.

"Eh? Kalau begitu tolong tunggu sebentar Hyunnie, aku harus mengeringkan rambutku dan berganti pakaian." Ujar Yuri. Tanpa membuang waktu yeoja itu segera masuk ke dalam salah satu ruangan dan menyalakan pengering rambut. Sementara menunggu Yuri selesai berdandan, Seohyun beranjak ke ruang santai dan mendudukkan dirinya ke atas sofa yang berada di sana. Pikirannya sibuk berkutat dengan berbagai kemungkinan terkait pangggilan CEO-nya.

"Ayo Hyunnie, kita berangkat." Ajak Yuri yang telah selesai berdandan. Rambutnya yang lurus panjang seperti milik Seohyun dibiarkan tergerai begitu saja dengan salah satu sisinya dibawa ke belakang telinga. Sebuah mantel tipis yang cukup panjang tersampir di lengannya. Tas tangan berwarna merah hati tergenggam di tangan kanan yeoja itu.

"Ah, eonnie sudah siap? Mari kita berangkat." Sambut Seohyun sambil meraih mantel yang sudah disiapkannya. Sebuah tas selempang kecil tersandang di bahunya. Dengan mantel menutupi sebagian tubuh mereka membuat keduanya tidak mudah dikenali. Ditambah kacamata hitam besar yang masing-masing bertengger di hidung mancung keduanya. Setelah siap mereka segera berpamitan pada Taeyeon yang masih terjaga di kamarnya.

"Taeyeon eonnie, uri galkeyo. Annyeong." Pamit Seohyun dan Yuri bersamaan. Tanpa menunggu jawaban dari Taeyeon, keduanya bergegas membuka pintu dan berjalan keluar.

"Taeyeon eonnie, Yuri eonnie dan Seohyun mau kemana?" tanya seorang yeoja yang terlihat baru bangun tidur dengan tatanan rambut sedikit berantakan. Kedua tangannya terentang ke atas dengan mulut yang terbuka lebar, menandakan yeoja itu masih digantungi rasa kantuk.

"Aish, kau mengagetkanku saja Yoona-aa. Mereka pergi ke kantor SM. Tadi aku dihubungi manajer Kibum oppa yang menyampaikan pesan kalau Soo Man sajangnim memanggil Seohyun ke kantornya. Yuri pergi menemaninya ke sana." Jawab Taeyeon. Yoona mengangkat dagunya sedikit begitu mendengar jawaban itu.

"Oh." Hanya itu yang terlontar dari mulut Yoona. Yeoja yang masih tampak mengantuk itu mulai merenggangkan badan dan melakukan beberapa pemanasan ringan untuk mengembalikan kesadarannya. Setelah dirasa cukup, ia melangkahkan kaki ke dapur dan membuka lemari pendingin untuk mengambil sekotak susu segar dari dalamnya.

"Eonnie, apa malam ini kita ada agenda?" tanya Yoona dengan setengah berteriak dari dapur.

"Ani. Tapi mulai minggu depan agenda kita akan padat. Jadi kurangi waktu kencanmu dengan Kyuhyun oppa, Yoona-aa." Jawab Taeyeon, juga dengan setengah berteriak dari dalam kamarnya.

"Uhuk uhuk! Apa maksud uhuk eonnie dengan uhuk waktu kencan?" tanya Yoona yang rupanya langsung tersedak begitu mendengar jawaban Taeyeon yang sedikit menggodanya.

"Kau pasti tahu maksudku, Yoona-aa." Balas Taeyeon yang ditingkahi kikikan geli. Yoona mendengus mendengar hal itu dan kembali melanjutkan acara minum susunya yang tertunda, berusaha mengabaikan kikikan salah satu eonnienya yang bermaksud untuk menggodanya. Begitu segelas susu tandas olehnya, ia segera membawa gelas kotornya ke bak cuci dan mencucinya sampai bersih. Gelas yang masih basah itu ia letakkan di tempat yang sudah tersedia. Setelah itu ia mengambil handuk kecil dan mengeringkan tangannya.

Yoona baru saja melangkah ke ruang santai dan hendak menyalakan televisi ketika didengarnya ponselnya memekik keras melantunkan sebuah nada khusus yang dipasangnya untuk satu orang.

"Yoona-aa, evilmu menelepon!" teriak Taeyeon.

"Ne, eonnie. Aku tahu." Balas Yoona sambil berlari ke dalam kamar dan mengambil ponselnya. Ia membuka flip ponsel itu dan menjawab panggilan dari seseorang yang setiap hari dirindukannya.

"Yeoboseyo? Ne, Kyuhyun oppa. Wae?"

"…"

"Ah, arraseo. Malam ini?"

"…"

"Baiklah oppa, aku akan menunggumu. Annyeong." Klik. Yoona menutup flip ponselnya dan tersenyum simpul. Masih dengan senyuman itu di wajahnya, yeoja itu berlari ke dalam kamar Taeyeon.

"Eonnie, …" belum sempat ia mengutarakan keinginannya, Taeyeon telah memotong perkataannya.

"Arra, arra. Malam ini evil itu mengajakmu kencan lagi kan? Sudahlah, aku mengijinkanmu. Asal jangan pulang terlalu malam dan ingat, minggu depan kau harus membatasi waktu kencanmu karena agenda kita mulai padat. Mengerti?" jelas Taeyeon dengan pandangan lurus ke arah Yoona.

"Ne, arraseo eonnie. Gomawoyo!" balas Yoona sambil menghambur ke arah Taeyeon dan memeluk yeoja itu.

"Aish, sudah sana! Jangan membuatku semakin iri pada kalian. Padahal kesibukan Kyuhyun oppa hampir menyaingi Teuki oppa, tapi entah bagaimana evil itu selalu saja bisa mengajakmu kencan. Apa ini yang namanya euphoria pasangan baru? Ckck." Decak Taeyeon berpura-pura kesal sambil menyingkirkan tangan Yoona dari tubuhnya. Sementara Yoona hanya tertawa melihat Taeyeon yang mendadak jengkel seperti itu.

"Tenanglah eonnie, sesibuk apapun Leeteuk oppa, dia tidak akan melupakanmu. Aku sangat yakin itu." ujar Yoona yang bermaksud menenangkan Taeyeon.

"Yah, seharusnya begitu. Awas saja kalau dia sampai berani melupakanku." Ucap Taeyeon dengan ekspresi mengancam yang sangat dibuat-buat. Keduanya lalu tertawa bersama dan menghabiskan siang sampai sore itu bersama member lainnya yang kemudian bergabung setelah kembali dari agenda masing-masing.

-o0o0o-

"Oppa, uri ige eodi gasseoyo?" tanya seorang yeoja dalam balutan gaun merah tanpa lengan kepada seorang namja di kursi pengemudi yang tampak berkonsentrasi pada jalanan di depannya.

"Lihat saja nanti." Jawab namja itu sambil tersenyum penuh arti pada yeoja yang menanyainya. Yeoja itu mendengus keras begitu mendengar jawaban yang tidak memuaskannya itu.

"Aish, selalu saja seperti itu." Yeoja itu melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan muka. Namja di sampingnya hanya bisa mendesah melihat suasana hati yeoja itu yang sepertinya tidak dalam keadaan baik.

"Aigoo, sepertinya aku mengajakmu di waktu yang salah. PMS, huh?" tanya namja itu sambil tetap berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Yeoja yang ditanya hanya melirik sekilas dan menggembungkan kedua pipinya tanpa berniat untuk memberikan jawaban. Karena yeoja itu tidak bersuara dan suasana berubah menjadi tidak nyaman, namja itu mendadak membanting kemudi ke kiri dan menepikan mobilnya.

"Oppa! Kenapa kita berhenti di sini?" tanya yeoja itu sambil menatap kebingungan pada namja yang kini menghadapkan wajahnya.

"Yoona-aa, jebal, aku hanya ingin menikmati malam ini bersamamu sebelum aku harus …" pinta namja itu dengan kalimat menggantung. Kacamata hitam yang tadi dikenakannya tergantung lepas di tangan kanannya dan memperlihatkan kedua mata yang membiaskan sedikit kesedihan.

"Sebelum aku harus apa, oppa? Kau harus apa?" tanya yeoja itu masih belum mengerti maksud ucapan namja itu. Tubuhnya yang semula menampilkan penolakan kini maju beberapa senti ke arah namja yang telah enam bulan ini resmi menjadi kekasihnya.

"Kita bicarakan nanti ya. Lebih baik kita lanjutkan perjalanan yang tertunda ini." Balas namja itu sambil mengacak-acak lembut puncak kepala Yoona. Tanpa berniat untuk menginterupsi lebih jauh, Yoona akhirnya menurut dan tersenyum kecil.

"Arraseo, oppa. Mianhae kalau tingkahku tadi membuatmu kesal." Ucap Yoona. Tangan mungilnya bergerak perlahan ke arah namja itu yang tak lain adalah Kyuhyun dan meremas lembut tangan kiri Kyuhyun yang berada dekat dengan posisinya.

"Ah, ani. Harusnya aku mengerti kalau seorang yeoja sedang PMS akan berubah menjadi sesosok monster yang mengerikan, hii." Balas Kyuhyun setengah bercanda yang langsung mendapat amukan dari Yoona.

"Ya! Oppa! Kau cari mati, huh?" pekik Yoona keras sambil mendaratkan pukulannya di bahu Kyuhyun.

"Ya, ya, appo! Hentikan Yoong! Kau bisa membuat kita berdua mati kalau begini." teriak Kyuhyun tidak kalah kerasnya dengan salah satu tangan berusaha menghindar dari amukan kekasihnya itu.

"Salah siapa? Wee" balas Yoona cuek sambil menjulurkan lidahnya keluar. Tangannya kini berhenti memukuli Kyuhyun dan kembali tertangkup manis di pangkuannya. Kyuhyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat perubahan dramatis emosi yeoja yang sangat dicintainya itu.

"Aish, lebih cepat kita sampai lebih baik. Sepertinya aura di dalam mobil sudah tidak baik dan membuatmu cepat sekali berubah menjadi monster yang … aw! Appo!" Kyuhyun langsung berteriak kesakitan saat Yoona mendadak mendaratkan cubitannya di lengan kirinya.

"Berhenti mengataiku monster atau kencan kita kali ini tidak akan tenang." Ancam Yoona dengan sebelah mata yang disipitkan. Kyuhyun urung mengeluarkan omelannya begitu melihat ekspresi mengancam yang tidak main-main di wajah Yoona.

"A, ah, arraseo chagi. Aku tidak akan mengataimu lagi. Yaksoke." Ujar Kyuhyun sedikit terbata. Meski dia terkenal sebagai seorang idola yang kerap melontarkan kritikan tajam, namun rupanya dirinya mampu dibuat tidak berkutik di hadapan seorang yeoja cantik seperti Yoona.

"Baiklah. Apa tempat itu masih jauh, oppa?" tanya Yoona mengalihkan topik pembicaraan. Wajahnya melihat ke arah Kyuhyun dengan ekspresi polos seolah tak pernah melontarkan ancaman pada namja itu.

"Ani, sebentar lagi kita sampai." Jawab Kyuhyun singkat. Yoona kembali menatap lurus ke jalanan di depannya dan membiarkan keheningan melingkupi keduanya. Lima menit kemudian Kyuhyun mengarahkan kemudinya ke kiri dan memasuki sebuah area kosong yang cukup luas dengan penerangan seadanya. Setelah memarkir dan mematikan mesin mobilnya, ia membuka pintu dan berjalan keluar.

"Kita sudah sampai, chagi." Ucap Kyuhyun sambil membukakan pintu mobil untuk Yoona dan membantu yeoja itu keluar dari dalam. Yoona menerima uluran tangan Kyuhyun dan mengikuti kemana namja itu membawanya pergi. Daerah tempatnya berada kini masih terasa asing baginya, namun ia tidak terlalu merisaukan hal tersebut selama Kyuhyun ada bersamanya.

Keduanya terus berjalan menembus ilalang yang tidak begitu tinggi. Angin malam yang bertiup cukup kencang membuat Yoona bergidik kedinginan. Terlebih dengan gaun yang dikenakannya sekarang. Tanpa sadar Yoona melepaskan tangannya dari genggaman Kyuhyun dan mulai menggosok-gosok kedua tangannya demi mendapat kehangatan.

"Kau kedinginan? Ini, pakai mantelku." Ujar Kyuhyun sambil memakaikan mantel miliknya ke tubuh Yoona. Yeoja itu mendongak dan menatap penuh terima kasih.

"Gomawoyo." Bisiknya. Kyuhyun tersenyum dan kembali meraih tangan Yoona dalam genggamannya. Keduanya masih terus berjalan sampai Kyuhyun akhirnya memutuskan berhenti dan menatap lurus ke depan.

"Wooaa, neomu yeoppota!" teriak Yoona penuh kekaguman begitu melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Meski tidak seindah pemandangan yang dapat dilihatnya melalui ketinggian Namsan Tower, namun puluhan kelap-kelip cahaya yang berasal dari kunang-kunang di sekitar mereka mampu menyedot perhatian Yoona.

"Yoong, aku mengajakmu ke sini untuk membicarakan sesuatu." Ucap Kyuhyun pelan. Kepalanya sedikit tertunduk saat ia mengucapkan hal tersebut.

"Sstt, tidak bisakah aku menikmati pemandangan ini dulu?" sergah Yoona dalam bisikan. Wajahnya masih belum mampu berpaling dari cahaya yang dibuat oleh serangga malam itu.

"Yoong, ini penting sekali." Desak Kyuhyun. Tangannya menarik pergelangan Yoona dan sedikit memaksa yeoja itu untuk menatapnya.

"Oppa! Aku kan masih ingin melihat kunang-kunang itu. Nanti saja bicaranya." Tolak Yoona. Baru saja ia hendak mengagumi biasan cahaya cantik yang berasal dari ekor serangga malam itu, mendadak didengarnya sebuah kalimat yang sangat ditakutinya selama ini.

"Yoong, kita harus mengakhiri hubungan ini."

-o0o0o-