A/N: Aku jadi kepikiran dimana episode Let's and Go! MAX, aku tidak iangat episode apa tapi yang kuingat hanya para Ninja Bersaudara itu kalah dari Gouki. Nah...Aku mau buat lanjutan ceritanya tapi versiku sendiri. Selamat membaca….

Sungguh Tidak Terduga

Setelah pertandingan GJC Summer, kedua Ninja Bersaudara ini memutuskan untuk berhenti menjadi Pembalap Mini 4WD. Mereka hidup hanya dengan berlatih jurus-jurus ninja.

"Zen...Ayo kita latihan sekarang!", perintah salah satu dari Ninja Bersaudara ini. Namanya Kusanagi Zen.

"Iya...Tunggu aku Zen!", jawab seorangnya lagi yang bernama Kusanagi Zin. Kemudian Ninja Bersaudara ini latihan, tanpa sengaja mereka melihat seorang gadis yang sama-sama ninja sedang berlatih juga.

"Hei Zen...Apa kau mengenal gadis itu?", tanya Zin. Tapi pertanayaan Zin tidak didengarkan oleh Zen, sperti terpaku saja. "Zen... Zen... Sadarlah...!", ucap Zin yang berusaha menyadarkan Zen dari khayalannya.

"Eh...Apa? Kenapa? Mengapa?", kata Zen yang kaget.

"Kau ini sedang memikirkan apa?", bentak Zin yang sangat marah.

"Siapa yang ada disana?", kataku yang menyadari keberadaan Kusanagi Bersaudara ini. Kemudian mereka keluar dari tempat persembunyiannya.

"Apa mau kalian?", tanyaku lagi sambil tanagnnya dilipat.

"Kami hanya kebetulan lewat sini saja...", jawab Zin dengan nada dingin.

"By the way, kau ini seorang ninja wanita ya?", tanya Zen dengan ramah.

"Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu?", ucapku lagi dengan nada sedikit santai.

"Tentu saja, kalau seseorang bertanya maka kau harus menjawabnya!", Zin menjelaskan.

"Iya... Aku seorang ninja Wanita, memang ada apa?", tanya balik olehku.

"Kami juga seorang ninja", serempak Zin dan Zen secara bersamaan.

"Begitu, kalau kalilan tidak ada urusan cepat pergi dari sini!", ucapku dengan nada sedikit keras.

"Sebelum kami pergi, ada yang ingin kami katakana!", ucap Zen dan Zin secara bersamaan lagi. Gadis itu hanya melirik kearah Kusanagi Bersaudara itu.

"Namamu siapa?", tanya Zen yang pertama kali bertanya.

"Panggil saja Lisa", kataku.

"Aku Kusanagi Zin"

"Dan aku Kusanagi Zen"

"Kalian bersaudara?", tanyaku lagi sambil melanjutkan latihanku.

"Kelihatannya bagaimana?", tanya lagi oleh Zin. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan tetap melanjutkan latihan.

"Maaf kami tidak sopan padamu", Zen meminta maaf.

"Buat apa kau meminta maaf padaku?", tanyaku lagi tetap dengan nada dinginku. Zin dan Zen hanya sweatdrop saja karena mereka bingung harus berkata apa.

"Err... Kau berasal dari aliran mana?", tanya Zen dengan sanagt ramah.

"Kalau masalah itu aku tidak boleh memberi tahu kepada siapa pun!", aku menjelaskan pada mereka.

"Kenapa", tanya Zin.

"Itu bukan urusan kalian. Kalau sudah selesai cepat pergi dari sini!", benrakku dan Kusanagi Bersaudara pun pergi. Ketika Zin dan Zen latihan, Zin bertanya pada Zen.

"Zen... Aku baru melihatmu bersikap ramah pada seorang gadis!", pendapat dari Zin.

"Memang ada masalah?", tanya Zen yang kelihatannya sangat kesal.

"Kau kan tidak perlu marah Zen!", ucap Zin dengan lemas.

"Apa maumu sich sebenarnya?", tanay Zen yang sudah tidak bisa menahan emosinya.

"Jangan-jangan kau menyukai gadis yang bernama Lisa tadi ya?", tanya Zin yang berusaha menahan tawanya.

"I...I...Itu...", kata Zen yang wajahnya mulai merah.

"Ayo, jangan bohong!", ejek Zin dengan nada yang seperti main-main. Zen hanya menahan malu dan wajahnya merah tomat.

"Hahah...Zen jatuh cinta...", tambah dari Zin.

"Tutup mulutmu Zin!", kata Zen yang sudah mulai marah tapi tetap dengan wajah merahnya.

"Oh... Aku tidak mau!" banatah Zin.

"Awas kau, kesini kau akan kuhajar kau!", Zen sudah tidak bis amenahan emosinya lagi dan Zin pun mulai lari menjauh dari Zen.

"Kau jangan coba-coba untuk kabur!", bentak Zen sambil mengejar Zin.

» To Be Continue «