Title: Memory About Love [Chapter 1]

Author: BabySuDo

Genre: Yaoi romance, friendship

Rating: T

Cast: SuD.O couple and EXO members

Length: Chaptered

Disclaimer or A/N (?): Ini ff saya dedikasikan untuk couple yang GAK AKAN hilang sepanjang sejarah. Untuk Suho appa dan D.O umma, beserta anak – anak mereka sebagai pelengkap jalannya cerita ini. Gak terlalu banyak SuD.O momentnya sih. Hanya saja, setelah semua keganjalan yang terungkap di ff ini akan berasa SuD.O momentnya *mungkin ya*.

Ini ff JELAS milik saya. Alur cerita dan akan dibawa kemana nanti ini cerita adalah hasil kerja pikir otak saya. EXO bukan milik saya, tentu milik agency mereka, saya cuma pinjem kok. Soalnya saya bete liat ff KaiSoo bertebaran #plak.

Oiya, ini ff udah pernah di publish di fb dan di fanpage EXO FanFiction. Nama authornya berbeda soalnya saya punya nickname banyak #plak. INI BUKAN PLAGIAT YA !

WARNING: Kalau gak suka ya jangan baca. Jangan jadi siders, mending ke laut ajah. Mau bashing? Sono di depan kantor SM #eh. Saya author galak (?) jadi kalau alurnya kecepatan, gak nyambung, banyak typo (s) ya jangan salahin saya. Kan gak ada manusia sempurna, tapi saya 'mencoba' menyempurnakan ff ini 'sebisa' mungkin.

Untuk yang kasih jempol, comment, saya mengucapkan terima kasih.

Readers: iye thor, tapi kapan bacanya?

Author: oiye, hehe mianhae mianhae~

HAPPY READING ALL \^O^/


Ketika otak ku dengan keras membuka memori lama

Memori lama tentang masa lalu yang berputar kembali

Baru ku sadari …

Bahwa kaulah yang selama ini ku cintai

Bahwa kaulah yang selalu ada disampingku

Bahwa kaulah yang selama ini ada dihatiku

Kaulah yang mendekapku kedalam kehangatan cinta yang tulus dan penuh kelembutan

Tapi ..

Sialnya ..

Ketika memori itu terputar kembali, ia datang bersama sebuah penyesalan

Penyesalan yang membuatku benci pada diriku sendiri

Diriku yang melupakanmu ..

Diriku yang melupakan cinta ini ..

Diriku yang melupakan semua cerita tentang kita ..

Dan di saat aku ingin memperbaiki semuanya

Kau pergi ..

Pergi ke atas langit sana ..

Pergi untuk selamanya.


Tap tap tap

Suara langkah kaki terdengar di sebuah lorong gelap. Tepatnya di sebuah gang sempit yang tak tau berujung apa. Seorang namja bersurai hitam dengan bola mata hitam cukup besar melangkahkan kakinya kecil – kecil menuju suara – suara cukup berisik di ujung lorong yang gelap itu.

"Ya hyung ! Kenapa aku terus yang jaga? Hyung curang sekali sih-_-" terdengar suara namja kecil yang menggetarkan gendang telinga si namja surai hitam itu. Ia semakin mempercepat langkahnya untuk melihat namja kecil itu.

"Kau kalau suit, jadi kau yang jaga. Terima saja~" suara dari mulut lain terdengar. Suaranya mengatakan bahwa ia juga namja yang umurnya terbilang masih kecil juga. Hanya saja, suaranya lebih terdengar dewasa dari suara anak kecil yang pertama.

Namja pemilik surai hitam itu terus melangkahkan kakinya. Semakin cepat hingga terkesan berlari. Sampai di ujung lorong, mata besarnya dikejutkan dengan pemandangan cukup indah.

Rumah penduduk yang berbaris rapi ke samping kiri dan kanan. Hampir mempunyai ukuran yang sama walau masing - masing rumah itu dicat dengan warna berbeda. Lingkungannya bersih, ditambah lagi dengan berbagai macam pepohonan yang sengaja ditanam si pemilik rumah untuk memperlihatkan kesan rindang dan nyaman di halaman rumahnya.

Angin semilir yang lembut menyentuh kulit terasa hangat walau sebenarnya langit di atas sana gelap. Tidak gelap juga sih, bisa dibilang agak terang karna ada sang rembulan yang ditemani bintang – bintang bercahaya terang mengelilinginya.

Rumah yang berbaris itu terletak di sebuah gang cukup lebar, dibilang lebar karna sepertinya muat untuk satu mobil sedan masuk menyusuri gang itu. Di sisi lain gang itu, tepatnya di seberang jalan. Terdapat sebuah taman bermain yang dihiasi dengan pepohonan hijau dan berbagai macam bunga berwarna – warni yang –sepertinya- memiliki bau yang harum.

Jalan raya yang memisahkan gang tersebut dengan taman bermain itu terlihat lengang walau sesekali ada beberapa kendaraan yang melintasinya. Juga beberapa pejalan kaki yang kadang terlihat berpegangan tangan melewati bagian trotoar jalan.

Puas dengan pemandangan indah yang menyambutnya. Mata besarnya kembali memperhatikan sisi lain dari gang itu. Terlihat dua namja kecil yang –menurutnya- berbeda usia walau tinggi mereka –sepertinya- tak jauh berbeda. Yang satu memakai baju berwarna biru dan yang satunya memakai baju berwarna merah. Yang memakai baju biru terlihat lebih dewasa ketimbang namja kecil yang memakai baju merah. Mereka terlihat sedang bermain kejar – kejaran, namun beberapa saat kemudian si namja berbaju merah terlihat mempoutkan bibirnya lucu.

Keduanya berbisik, namja bersurai hitam yang memperhatikannya tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Yang ia tahu, si namja baju merah itu terlihat tersenyum malu sambil bergumam sesuatu dan berakhir dengan kepalanya yang tertunduk.

"Aigoo Kyungsoo, pipimu memerah" seru si namja biru pada namja merah yang bernama Kyungsoo. Namja bersurai hitam itu diam di tempatnya ketika mendengar nama namja si baju merah disebut.

K-Kyungsoo … Hei itu namaku !

Ia berteriak, tapi suaranya tak keluar. Seperti ada sesuatu yang menahannya agar suara cemprengnya tak keluar.

Namja berbaju merah bernama Kyungsoo itu kemudian berlari setelah kepalanya melihat taman bermain yang ada di seberang jalan. Ntah apa yang dipikirkannya saat itu, ia berlari sekuat tenaga menuju taman bermain itu tanpa pamit pada namja berbaju biru.

"Ya ! Kyungsoo-ah, kau mau kemana eoh?" Kyungsoo kecil tak menjawab, ia terus berlari dan berlari sampai ke tengah jalan raya. Merasa ucapannya dihiraukan begitu saja, namja berbaju biru itu ikutan berlari untuk mengejar Kyungsoo kecil.

Kyungsoo dewasa yang sedari tadi memperhatikan mereka pun ikutan berlari hingga langkahnya terhenti ketika mendengar suara klakson dari arah kiri Kyungsoo kecil.

Tiiinn tiiiinn ..

Suara klakson dari sebuah mobil mini bus yang melaju dengan kekuatan tinggi menghampiri Kyungsoo kecil yang masih saja berlari. Gerakan larinya melemah, mungkin karna terlalu semangat berlari hingga tenaganya hampir terkuras habis.

Hei selamatkan aku, ppaliwa !

Kyungsoo dewasa kembali terkejut karna suaranya tak juga terdengar. Sedangkan Kyungsoo kecil tinggal menanti mautnya. Namun untungnya, namja berbaju biru itu tinggal beberapa langkah lagi bisa menyelamatkan si Kyungsoo kecil yang keras kepala.

"Kyungsoo ! Awaaaasssss !"

Bruk .. Duk

"Aw~" Kyungsoo kecil meringis sebelum akhirnya kepalanya mengeluarkan darah karena terbentur pembatas trotoar jalan cukup keras. Namja berbaju biru yang menyelamatkannya menangis tersedu. Takut, sedih, marah, dan kecewa, semua jadi satu. Terlihat dari tangisannya yang begitu kencang karna melihat darah yang mengucur deras dari kepala belakang Kyungsoo.

"Kyungsoo-ah bangun ! Baby Soo bangun ! Ireona !" tak dipedulikannya lagi luka lecet – lecet dan darah yang bercucuran di kedua lututnya. Ia terus mengguncang tubuh mungil Kyungsoo yang tak sadarkan diri.

Kyungsoo dewasa yang terpaku beberapa saat melihat kejadian itu segera berlari menghampiri mereka. Tapi tiba – tiba semuanya terasa berputar. Kepalanya mendadak pusing, keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.

Bruk

Hingga akhirnya ia jatuh seiring dengan terdengarnya suara sirine ambulans.


"Ngghh …." Kyungsoo bergerak tak nyaman di ranjangnya. Keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya berhasil membuat –hampir- seluruh piyamanya basah. Seorang yeoja paruh baya yang sedari tadi duduk di samping ranjang menatap khawatir padanya.

"Kyungsoo-ah ireona ! Ppaliwa !" yeoja paruh baya itu terus mengguncang tubuh Kyungsoo hingga akhirnya mata bulat milik Kyungsoo berhasil terbuka dengan sempurna.

"E-eomma .." suara parau menyambut eomma Kyungsoo –yeoja paruh baya-. Iya tersenyum manis pada anak semata wayangnya itu sambil mengelap keringat yang masih mengalir dari pelipis Kyungsoo.

"Kau .. mimpi buruk lagi?" Kyungsoo tak menjawab, direngkuhnya tubuh rapuh eommanya itu dan dibenamkan dalam – dalam kepalanya ke ceruk leher milik eommanya, "gwenchana Kyungsoo-ah hanya mimpi. Sekarang kau sudah di sini, bersama eomma tentunya. Don't afraid baby~" Kyungsoo mengangguk kecil sebelum akhirnya ia melepas rengkuhannya.

"Sekarang kau mandi dan bersiap – siap ke sekolah. Jangan buat Jongdae menunggumu, ne?" sekali lagi Kyungsoo mengangguk dan eommanya keluar dari kamarnya. Kyungsoo menyambar handuknya dan mulai melakukan kegiatan rutinnya seperti biasa.

"Annyeong eomma, appa~" seru Kyungsoo riang sambil duduk di kursinya.

"Annyeong Kyungsoo" balas mereka. Kyungsoo mengoleskan selai coklat di rotinya dan memakannya dengan lahap. Tak lupa meminum susu vanilla kesukaannya.

"Oiya Kyungsoo, sepertinya Jongdae belum datang. Kalau kau sudah selesai sarapan, kau saja yang datang ke rumahnya, ne?" Kyungsoo yang masih mengunyah rotinya hanya mengangguk mendengar ucapan eommanya. Setelah menyelesaikan sarapan paginya, ia memasukkan kotak bekalnya ke dalam tas dan berpamitan pada kedua orang tuanya sebelum ke rumah sahabatnya yang bernama Jongdae.

"Titi DJ (?) Kyungsoo-ah" begitulah pesan terakhir eomma dan appanya sebelum Kyungsoo menghilang di balik pintu rumah mereka.


Kyungsoo melangkahkan kakinya semangat menuju sebuah rumah bergaya klasik dengan cat cream yang terlihat agar memudar di beberapa sudutnya. Itulah rumah Jongdae, sahabatnya yang akan berangkat bersamanya menuju sekolah baru mereka.

"Kyungsoo-ah kau sudah datang? Mianhae menunggu lama" belum sempat Kyungsoo menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu, sosok Jongdae yang ingin ditemuinya sudah muncul di depannya dengan gaya cool seperti biasa.

"Ah aniya, aku baru saja datang^^" Kyungsoo tersenyum manis. Kemudian duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu Jongdae.

"Eomma aku berangkat yaa~" seru Jongdae yang kini telah siap berangkat ke sekolah dengan Kyungsoo.

"Chakkaman, eomma mau tanya dulu. Kau kapan kembali tinggal di asrama, eum?" Jongdae mempoutkan bibirnya lucu. Soal itu sudah dibahas mereka tadi malam dan sekarang eommanya membahas lagi.

"Aigoo eomma memang benar – benar tak sayang padaku. Eomma memaksaku tinggal di asrama, ckckck teganya-_-" Nyonya Kim –eomma Jongdae- mengelus lembut puncak kepala Jongdae. Sudah memasuki usia remaja, tapi anak lelakinya itu masih menunjukkan sifat kekanakan, ckck …

"Bukan begitu aegya. Eomma hanya berpikir, kalau kau tetap pulang pergi ke sekolah dan menginap di rumahmu, untuk apa kau waktu itu meminta eomma membiayaimu untuk tinggal di asrama sekolah yang fasilitasnya terbilang lengkap dan enak itu? Itu namanya buang – buang uang, aegya. Mubazir~" Jongdae semakin mempoutkan bibirnya, lagi dan lagi, ia diberi wejangan oleh sang eomma.

"Ne~ besok aku akan kembali ke asrama. Izinkan aku satu malam saja untuk tinggal di sini, ne? Bolehkan eomma?" Nyonya Kim mengangguk tanda setuju. Terkembang senyum kesenangan di bibir Jongdae.

"Yasudah sana berangkat, kasihan Kyungsoo yang sudah menunggu lama dari tadi." Kemudian keduanya berangkat menuju halte bus yang cukup dekat dengan rumah mereka setelah keduanya berpamitan dengan eommanya Jongdae.

Sebenarnya mereka terbilang dari keluarga yang cukup kaya. Tanpa capek - capek naik bus,mereka bisa saja minta antar jemput dengan supir pribadi mereka. Tapi perlu readers tau kalau mereka ini baru masuk SMA. Usia yang pas untuk belajar mandiri.


Selama keduanya di dalam bus, keadaan hening. Hanya terdengar suara deru mesin yang cukup halus di telinga. Keduanya larut dalam pikiran masing – masing hingga akhirnya Kyungsoo yang sedari tadi penasaran dengan 'asrama' yang dibicarakan Jongdae dan eommanya pun angkat bicara.

"Ngg .. Jongdae-ah aku boleh bertanya sesuatu?" Kyungsoo berucap hati – hati, seperti takut pertanyaan yang sebentar lagi akan ia lontarkan melukai sahabat barunya itu. Ya, Kyungsoo terbilang sahabat baru bagi Jongdae walau sudah satu tahun menjadi tetangga Jongdae. Setelah sesuatu terjadi pada Kyungsoo, keluarganya pindah rumah ke daerah dimana sekarang Jongdae dan keluarganya tinggal.

Dulu Kyungsoo tak begitu mengenal Jongdae karna Kyungsoo berbeda SMP dengan Jongdae. Namun, saat Kyungsoo sering bermimpi buruk dan kondisinya yang terbilang lemah, kedua orangtua Kyungsoo memilih untuk memasukkan dirinya ke sebuah SMA dimana Jongdae juga bersekolah di sana. Lalu, mulai dari situlah pertemanan mereka dimulai. Tetangga yang tadinya diam – diaman ini, kini sering bertegur sapa. Bahkan pernah beberapa kali salah satu dari keduanya menginap walau rumah mereka yang bisa dibilang hadap – hadapan itu.

"Ne~ tentu saja boleh Kyungsoo-ah, waeyo?" Kyungsoo menghela napas panjang sebelum akhirnya mulai mengajukan pertanyaan yang dari tadi terus mengganggu pikirannya itu.

"Ng .. soal asrama itu, mengapa kau tinggal di asrama, Jongdae?" Jongdae tersenyum penuh kemenangan. Ia yang –sepertinya- sudah tau apa yang akan ditanyakan Kyungsoo begitu senang setelah mendengar pertanyaan itu keluar langsung dari sang pemilik bibir kissable itu.

"Kau tau kan habis ini kita harus naik bis lagi sebanyak dua kali?" Kyungsoo mengangguk, "Nah, itulah sebabnya mengapa aku 'diharuskan' tinggal di asrama sekolah kita." Jongdae memberi penekanan pada kata 'diharuskan', seperti berharap sesuatu akan terjadi.

"Jadi, kau merasa lelah begitu?" Jongdae mengangguk ragu. Bukan lelah sebenarnya, lebih dari itu, capek.

"Waeyo? Kau mau tinggal di asrama juga?" Kyungsoo mengalihkan perhatiannya ke depan. Menatap supir bus yang asyik memperhatikan jalan agar bus yang dikendarainya tidak mendapat kecelakaan. Jongdae menunduk, bergumam kecil, berharap lebih tepatnya. Berharap kalau Kyungsoo mengatakan 'iya' atas pertanyaannya barusan.

"Ah sudah sampai, ayo cepat kita naik bus yang kedua" Jongdae mempoutkan bibirnya sejenak sebelum Kyungsoo menarik tangannya dengan agak kasar untuk turun dari bus itu dan naik ke bus yang kedua. Lalu seterusnya ke bus yang ketiga hingga mereka sampai di jalan dekat gerbang sekolah mereka, SM Senior High School.

"Ya! Awas !"

Buk

Terlambat, Kyungsoo yang berjalan santai menuju gerbang sekolahnya sudah ditabrak duluan oleh seorang namja bersurai coklat yang berlarian seperti dikejar setan-_-.

"Hei kau! Kalau jalan pakai mata juga dong, jangan pakai kaki doang !" Jongdae berteriak kesal, ingin sekali menonjok telak namja yang baru saja menabrak sahabatnya itu sampai terjatuh dan berpapasan dengan aspal jalan. Tapi Kyungsoo memang orang yang terlalu baik, ia menahan tangan Jongdae untuk melarangnya melakukan niatnya itu, "Kajja bangun, kau baik – baik saja? Apa ada yang terluka?" Jongdae bertanya khawatir karna melihat Kyungsoo yang sedikit pucat. Kyungsoo menggeleng kuat untuk meyakinkan Jongdae bahwa ia baik – baik saja.

"Ya dasar bocah sialan ! Penguntit ! Stalker ! Awas kau yah !" seorang namja berambut agak bergelombang dengan kuncir kuda berteriak keras sambil menghentak – hentakkan kakinya marah. Wajahnya terbilang imut, tapi suara bassnya itu membuktikan kalau ia namja yang sudah terbilang dewasa O.o menipu dong #plak.

"Chanyeol hyung~" Jongdae yang sudah membantu Kyungsoo bangun menghampiri namja bernama Chanyeol yang baru saja berteriak marah. Yang dihampiri ntah kerasukan apa, sikap marah yang terbilang seram tadi langsung hilang. Berganti dengan senyum ceria seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.

"Hei Jongdae, apa kabar men? Gila lo, makin ganteng ajah~" Chanyeol menepuk – nepuk bahu Jongdae agak kasar. Membuat si empunya bahu sedikit berguncang karna tepukkannya yang terlalu keras.

"E-eh hyung bisa aja. Hyung kenapa tadi marah – marah hyung? Kenapa juga meneriaki namja tadi dengan penguntit, stalker?" Chanyeol kembali menunjukkan senyum cerianya dan malah menarik Jongdae untuk mengikutinya, "E-eh hyung temanku ketinggalan, aigoo~" Jongdae melepas tangan kekar Chanyeol yang menariknya lalu menarik Kyungsoo yang ternyata terbengong melihat adegan barusan. Apalagi mata bulatnya menunjukkan ekspresi O_O saat melihat Chanyeol yang mempunyai tinggi badan di atas rata – rata itu.

"Eoh, ini siapa Jongdae? Pacaramu? Manisnya~" Chanyeol yang melihat Jongdae menggenggam erat tangan Kyungsoo langsung melepas tautan diantara mereka. Kemudian merangkul Kyungsoo seperti sudah mengenal dirinya cukup lama.

"Bukan hyung, dia temanku yang tempo hari ku ceritakan itu. Betul kan kataku kalau dia manis, hehe .." Jongdae tertawa bangga bahwa dirinya yang –memang- menganggap Kyungsoo manis ternyata memang benar – benar manis dimata seorang Park Chanyeol.

Pletak pletak

Dua buah jitakan cukup keras mendarat di kepala Jongdae dan Chanyeol. Seorang namja tinggi yang tingginya melebihi Chanyeol beberapa centilah yang menghadiahi mereka jitakan. Wajah dingin, tatapan tajam yang menusuk namun terkesan manly itu menatap marah ke arah keduanya, terkecuali Kyungsoo. Hanya tatapan keheranan dan sedikit kebingungan yang ia perlihatkan saat melihat Kyungsoo berdiri di antara Jongdae dan Chanyeol.

"Appo~ Kris hyung kenapa menjitakku eoh?" tanya keduanya bersamaan. Yang ditanya malah diam dan menarik Kyungsoo untuk lebih dekat padanya.

"Kau anak baru ya? Kok baru liat ya?" ntah setan dari mana yang masuk ke tubuh namja super duper tinggi ini sehingga membuatnya berkata 'sedikit' lembut pada Kyungsoo yang justru ketakutan melihatnya.

"B .. bukan. S .. saya .."

Sret

Jongdae menarik paksa Kyungsoo dan melindunginya di belakang punggungnya.

"Kris hyung mulai ganjen kan? Nanti aku laporin Tao baru tau rasa kau !"

Glek

Kris menelan berat salivanya. Tao, namja bermata kelam dan berimage imut bila di depan Kris itu adalah namja yang begitu dicintainya. Kris sangat menyayanginya, melebihi dirinya menyayangi dirinya sendiri.

"E-eh jangan dong. Hyung kan cuma tanya dia anak baru apa bukan. Yee~" Kris mencibir sinis kemudian melangkahkan kakinya besar – besar menuju gerbang sekolahnya yang tentu saja sekolah Kyungsoo, Jongdae dan Chanyeol juga.

Kyungsoo makin tak mengerti dengan orang – orang yang sekarang ada di sekelilingnya. Jongdae yang melihat itu hanya menepuk bahunya pelan lalu mengajaknya masuk ke sekolah mereka karna sebentar lagi proses belajar mengajar akan segera dimulai.


Seorang namja bersurai coklat dengan rambut lurus dan poni membelah ke samping berjalan di barisan rak buku sebuah perpustakaan sekolah. Langkahnya kecil – kecil, tangannya menunjuk setiap buku yang ada di rak – rak besar berwarna coklat yang mengelilinginya.

"Ah itu dia, aish tapi kenapa tinggi sekali eoh?" dia menggerutu kesal karna buku yang tengah dicarinya itu terletak di tingkat lima di salah satu rak buku itu. Ia memutar bola matanya untuk berpikir lalu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mencari bantuan.

"Ah tidak, namja itu juga sama pendeknya denganku." Gumamnya lagi sebelum akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mengambil buku yang terbilang cukup tinggi itu.

Buk

"Aw~" ia meringis kesakitan karna baru saja tubuhnya menabrak sesuatu.

"Ah mianhae sunbaenim, jeongmal. Saya tidak sengaja, mianhae~" seorang namja bersurai hitam yang –sepertinya- ia tabrak tadi berucap meminta maaf sambil membungkukkan badannya berkali – kali seperti takut kalau dirinya yang memang senior itu akan memarahinya habis – habisan.

"Gwenchana, tak ada yang terluka kok." Kemudian keduanya saling menatap. Tatapan mereka bertemu, membuat keduanya membeku saat sepasang kedua mata mereka saling melihat satu sama lain.

Mata itu .. Mata besar dengan bola mata hitam itu …

"Sunbaenim, gwenchanayo? Aigoo sepertinya kau sakit?" namja yang dipanggil sunbaenim itu langsung menggeleng kuat untuk memastikan ia baik – baik saja. Ia tersenyum, memasang senyum angelicnya seperti biasa.

"Gwenchana, hehe .. Kau .. tunggu, sepertinya aku pernah melihatmu, tapi dimana ya?" namja bersurai coklat yang baru saja dipanggil 'sunbaenim' itu berpikir keras sebelum akhirnya sang namja yang ditabraknya berseru.

"Mungkin di sekolah ini. Aku murid di sekolah ini. Masih kelas satu sih, hehe .." namja yang ditabraknya terkekeh kecil menyadari bahwa dirinya memang seorang hoobae dari namja bersurai coklat itu.

"Ah sepertinya tidak, matamu itu mengingatkanku pada seseorang. Tapi siapa ya?" namja bersurai coklat itu masih saja berpikir keras. Ia memaksa otaknya untuk bekerja lebih keras, membuka memori lamanya soal 'mata besar dengan bola mata warna hitam' yang cukup jarang ditemui di Negara Korea Selatan itu, "ah aku ingat kau .."

"Hei Suho kau di sini rupanya !" Kris, namja dengan tinggi melebihi rata – rata itu menepuk pelan bahu namja bersurai coklat yang ternyata bernama Suho itu. Suho sedikit kesal pada Kris karna ia datang di saat yang tidak tepat. Memori lamanya yang baru saja terputar kembali hilang begitu saja karna namja jangkung itu.

"Ne~ aku di sini, seperti biasa. Kau tuh yang kemana – mana. Pasti menggoda adik kelas lagi-_-" SUho mencibir sinis pada Kris. Ia sangat tau kebiasaan sahabatnya itu. Tiap proses belajar mengajar selesai, ia akan ke koridor kelas satu, menebar pesona kharismanya untuk menarik perhatian adik kelasnya. Kris tertawa meremehkan Suho lalu di usaknya kepala sahabatnya itu.

"Tidak lagi dong, kan udah ada 'My Baby Panda', hehe …" Kris tersenyum begitu bangga ketika menyebut 'Baby Panda'nya itu, membuat Suho semakin kesal.

"Tetap saja ia itu jauh darimu." Sebelum Kris membalas perkataannya, Suho kembali berkicau, "lebih baik sekarang kau ambilkan buku flora fauna yang ada di tingkat lima rak ini. Kita sangat membutuhkannya untuk mengerjakan tugas dari Lee seonsaengnim." Kris mendengus malas, beginilah resiko punya teman kelompok yang tingginya … rata – rata?

"Ige! Makanya minum susu biar .. eh tunggu, kau itu bukannya teman Jongdae yang tadi pagi datang ke sekolah bersamanyakan?" Suho menghela napas panjang.

Mulai lagi dia, ckck ….

"N-ne, t-tapi mianhae sunbaenim. Memang aku melakukan kesalahan apa ya?" namja yang ditabrak Suho tadi yang diketahui bernama Kyungsoo, mundur teratur untuk menghindari Kris yang berjalan semakin dekat ke arahnya. Suho yang melihat Kyungsoo memasang mimik wajah takut segera menarik kasar lengan Kris dan merentangkan tangannya di depan Kyungsoo.

"Jangan sakiti dia, Wu Yi Fan ! Atau kau akan aku adukan pada 'Baby Panda"-mu itu !"

"Eoh, siapa yang mau menyakitinya? Aku kan hanya bertanya saja. Lagi pula .. dia manis sekali sih .." Kris menjilat bibir atasnya, membuat Suho semakin kesal melihatnya.

"Dasar namja pervert ! Sana kau pergi, bawa sekalian tuh buku yang tadi ku bilang." Kris tak menggubris perkataan Suho, ia malah berani memajukan dirinya menuju Suho dan Kyungsoo yang semakin takut dengannya, "Oh tidak, ada Tao ! TAOOO~ Nagamu nakal nih !" Kris yang mendengar nama 'Baby Panda'-nya disebut langsung ngibrit ketakutan meninggalkan Suho dan Kyungsoo yang bernapas lega, "Dasar naga pabbo ! baru dibegitukan saja sudah kabur kaya ketangkap basah habis maling, ckck .."

Suho membalikkan tubuhnya, hanya sekedar untuk memastikan keadaan Kyungsoo yang berada dibelakangnya.

"Eoh kok malah ketawa?" Suho memasang wajah bingungnya ketika melihat Kyungsoo yang sedang memegang mulutnya untuk sekedar meredam suara tawanya karna mengingat dimana mereka berada sekarang.

"A-aniya sunbaenim, hehe … hanya lucu saja melihat tingkah siswa – siswa di sini, hehe …" Suho hanya geleng – geleng, lucu? Mungkin itu bagi Kyungsoo, karna menurutnya, siswa – siswa di sekolah mereka sudah masuk kategori GILA.

"Ah ya kita belum berkenalan, aku Kim Suho. Suho imnida^^" Suho mengulurkan tangannya ke arah Kyungsoo.

"Aku Do Kyungsoo. Kyungsoo imnida^^" Kyungsoo membalas uluran tangan Suho dengan menjabat erat tangannya. Tak lupa ia memberikan senyum terbaiknya pada Suho yang terbengong melihatnya.

Siapa? K-Kyungsoo? D-Do Kyungsoo? Apakah dia …

.

.

.

.

.

TBC or END ?

Tolong reviewnya *tebar dollar*

Sekian

readers: *timpuk author gaje pakai sendal*