Catatan: belakangan ini mendadak semakin terobsesi sama film silat, dan sama sekali tidak bisa berhenti mendownload. Udah jauh-jauh pergi ke Depok buat mengopi Avatar, the Legend of Korra, tapi pada akhirnya tetap menonton Heaven Sword and Dragon Sabre (1979). Kenapa malah promosi film, hehehe. Sudah lama sih jadi fans Gaara, dan berniat membuat kisah dia. Belakangan ini banyak mengobrol sama Jorydane II dan akhirnya kepikiran nulis kisah ini. Okelah, selamat membaca ya, semoga terhibur~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto


The Insomnia Effect


.

.

.

Sudah lama sekali Gaara menderita insomnia, kesulitan tidur yang ia derita sepanjang hari atau lebih tepat—sepanjang hidupnya. Semua itu bermula sejak Shukaku yang ditanam dalam tubuhnya sewaktu ia masih bayi, dan mengubah kepribadiannya menjadi pemuda yang pendiam, anti sosial, dan selalu bernafsu untuk menghabisi siapapun. Namun, di balik semua penampilan luar dan sifatnya yang haus darah, sebenarnya Gaara adalah pemuda tampan yang kesepian. Sosok yang sangat mendambakan kasih sayang dan perhatian. Kalau ada istilah penampilan luar kadang bisa sangat menipu, Gaara adalah contoh nyata yang tidak dapat terbantahkan.

Yah, tapi itu semua telah menjadi cerita lama.

Gaara yang sekarang tidak lagi didiami oleh biiju-nya yang kasar dan meminta korban itu. Gaara yang sekarang telah memiliki emosi yang jauh lebih stabil, dan dipercaya oleh penduduk Suna sebagai kazekage mereka. Sejauh ini ia telah mengemban tugasnya sebagai pemimpin Negeri Suna itu dengan gemilang. Gaara yang sekarang mulai membuka dirinya kepada orang lain. Kadang dia menghabiskan waktunya dengan Kankuro dan Temari untuk mendiskusikan keterlibatan mereka dalam perang antar negara yang tengah berlangsung. Kadang Gaara juga membicarakan tentang kesukaannya akan warna merah kepada mereka berdua. Intinya, Gaara yang sekarang sudah jauh berbeda dengan dirinya yang dulu. Hanya masih ada sesuatu yang kerap mengganggu Gaara. Bukan masalah besar sih, tapi tetap saja Kazekage Negeri Suna yang pendiam itu merasa tersiksa.

Insomnia tingkat akut yang sudah dia derita sejak lama rupanya sulit sekali disembuhkan. Gaara sudah mencoba meminum obat penenang, mendengarkan musik lembut yang mendayu-dayu, ataupun mencoba hipnotis alternatif untuk menenangkan alam sadarnya, akan tetapi tetap saja tidak mempan. Baru-baru ini Gaara—akhirnya—mendiskusikan kesulitan tidurnya ini dengan Kankuro.

Sebagai kakak yang baik dan terpercaya, Kankuro dengan bijak menasihati Gaara bahwa kebiasaan lama memang tidak bisa dihapus secara tiba-tiba. "Lebih baik cobalah memanfaatkan insomniamu untuk hal-hal yang berguna, seperti memikirkan taktik untuk menghadapi para musuh saat perang nanti."

"Aku sudah memikirkannya," Gaara menjawab dengan lugas, dan singkat.

"Apakah itu taktik untuk menghadapi para akatsuki yang telah dibangkitkan kembali? Atau cara menarik Sasuke ke pihak kita? Atau kau memikirkan bagaimana cara menghadapi kebangkitan Juubi?"

Gaara tidak mengucapkan sepatah katapun.

Kankuro menarik napas. Entah dia merasa bingung atau takut hanya dia sendiri yang tahu. "Oh, ya! Kau sulit tidur, bukan? Bagaimana kalau kau mencoba hal baru, dipukuli sampai tidak sadar, misalnya?"

"Aku. Tidak. Suka. Disakiti."

Kankuro menelan ludahnya dengan susah payah. Bodohnya dia, kenapa bisa-bisanya memberikan saran sebodoh itu? "Oh, begitu, ya…"

Gaara hanya sedikit menaikkan salah satu alisnya.

Kankuro terkadang risih dengan sifat Gaara yang pendiam dan kurang mengerti guyonan itu. Ekspresi adiknya itu masih saja datar, dan kedua matanya terus menatapnya dalam-dalam. Kankuro rasanya tengah ditelan hidup-hidup. Dan itu amat sangat tidak menyenangkan. "Ehm, ya… kalau tidak salah… a-aku masih ada pertemuan dengan para kolektor boneka di daerah Suna Barat, benar, Suna Barat! Aku pergi dulu, ya!"

Kakaknya yang satu itu langsung melesat pergi dari rumah, tanpa berkata apa-apa lagi. Kankuro bahkan tidak ingat untuk membawa bekal makanan yang telah disiapkan oleh Temari tadi pagi. Belakangan ini gadis berambut pirang itu memang sedang giat-giatnya memasak, latihan jadi istri yang baik untuk Shika-san, katanya selalu.

Begitulah, sepertinya untuk sementara ini, Gaara akan terus tersiksa oleh insomnia akutnya yang terkutuk itu. Tapi tentu saja, bukan Gaara namanya kalau hanya berdiam diri tanpa memikirkan sesuatu. Lagipula, sepertinya perkataan Kankuro benar. Ia harusnya memanfaatkan insomnianya untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat. Dengan langkah mantap Gaara memutar ke arah kamar.

.

.

Kankuro membuka data-data serangan yang yang baru saja masuk sore tadi. Ayahnya semasa hidup selalu mengingatkannya untuk membukukan sendiri laporan militer maupun serangan yang terjadi, dan penyerangan di Suna 2 bulan belakangan ini harus disimpan sebagai referensi pribadi. Ia sama sekali tidak ada masalah mengerjakan hal itu sendirian, dan terus saja mengetik dengan cepat. Lagipula, semua itu memang berguna untuk membantu sang kazekage.

Mendadak muncul kerutan di salah satu dahinya. Kankuro langsung menarik kursi yang ia duduki mendekati layar.

Gaara Butterfly, Rekaman Lucu. 1763-1986-221.

Apa maksud semua ini? Seingatnya Gaara sama sekali tidak pernah menyimpan satupun rekaman pribadi. Lagipula, kenapa ada nama adiknya yang disebut di situ? Hanya ayah, Gaara, Temari, dan dirinya yang mengunakan komputer itu. Apa Gaara sendiri yang melakukannya? Rekaman Butterfly apa?

Kode rahasia itu sangat mudah dipecahkan. Kankuro hanya membutuhkan beberapa menit untuk membuka kode, yang ternyata tanggal ulang tahun paman mereka. Dengan wajah nyaris mati penasaran, Kankuro menekan tombol enter.

Poling terbaru para pemuda tampan di seluruh negara! Voting pasangan yang paling sesuai denganmu! Kau bisa memilih lebih dari dua kali untuk mendongkrak jumlah suara pilihanmu!

Kankuro menarik napas dalam-dalam saat melihat nama Uchiha Sasuke bertengger di atas sana, diikuti oleh kakaknya Itachi. Kankuro sama sekali tidak peduli pemilihan bodoh macam apa itu dan siapa pemenangnya. Sentimen pribadi sepertinya. Untuk apa peduli dengan pemilihan di mana ia sama sekali tidak akan terpilih?

Dan sama sekali tidak ada rekaman.

Kankuro kembali mengerutkan kening saat ia melihat data selanjutnya. Pria paling menarik dengan tubuh seksi, Gaara dari Suna. Pria paling dingin tapi keren, Gaara dari negeri Suna. Pria paling memesona...

Di bagian bawah ada berbagai jepretan Gaara dengan berbagai pose, yang sepertinya diambil dari berbagai sisi. Ada wajah Gaara sewaktu memakan strawberi di atas pasir dengan seksi, ada pose adiknya itu sedang membawa tabung pasir dengan wajah membunuh, pose saat tidur, dan pose setelah mandi hanya dengan selembar handuk.

APA-APAAN INI?

Semua pose diri Gaara yang menawan, yang sepertinya diambil dengan seizin dan sepengetahuan yang bersangkutan. Kankuro membuka mulutnya lebar-lebar, seakan tidak percaya dengan apa yang ia kini ia saksikan. Mungkin ada yang tengah mempermainkannya dengan jutsu halusinasi atau semacamnya. Dengan gugup diraih tehnya, dan diteguknya dengan segera.

Pria paling kharismatik dan menawan, Kazekage Gaara dari Negeri Suna. Menangkan satu malam yang indah dan tidak terlupakan bersama Gaara bila anda memenangkan penawaran ini dengan harga paling tinggi~!

CROOOOOOOTTTTTT

Secara tidak sadar Kankuro langsung menyemburkan sebagian tehnya ke layar, sementara sebagian lagi membasahi celananya. Bagaimana tidak? siapa yang berani-berani berbuat itu kepada Gaara? Memangnya sudah bosan hidup?

Dimulai dari satu juta ryo.

Klan Yamanaka menawar satu juta dua ratus ryo.

Klan Uzumaki menawarkan satu juta lima ratus ryo.

Klan Hatake mundur dari penawaran.

Klan Hyuuga menawarkan tiga juta ryo.

.

.

Karena sudah terlanjur terlibat, Kankuro lantas menekan tombol selanjutnya, hasil penawaran akhir dan nama pemenangnya. Bukannya ia tidak peduli atau apa, ya… penasaran juga. Memang sih, ia sadar sepenuhnya bahwa Gaara tampan dan berbakat, tapi ia bukan tipikal pria yang menawarkan dirinya dengan cara serendah ini, ya 'kan?

Gaara bukan seorang narsistik akut, bukan? Gaara hanya terkena insomnia, 'kan?

Klan Hyuuga memenangkan penawaran.

Hadiah dikirimkan atas nama Hyuuga Hinata.

Hadiah masih dapat dikonfirmasi sampai detik-detik akhir Konoha dihancurkan nanti.

"Sedang memasukkan data?" Gaara masuk sambil membawa secangkir besar teh mapel berwarna merah pekat, nyaris seperti darah yang mengental. Diliriknya wajah Kankuro yang pucat pasi, seperti habis melihat setan. Ralat, seperti bertemu Raja Setan dan darahnya disedot habis. Perlahan kedua mata hijau bening itu berpindah ke layar komputer.

Wajah yang biasanya datar tanpa ekspresi itu kini mengembangkan senyum. "Bagaimana pendapatmu?"


.

.

.

Bagian Hinata dan Gaara mengkonfirmasi hadiah dan bagaimana hal di atas bisa terjadi akan dilanjutkan di chapter berikutnya. Emang berniat membuat two-shots sih, ehehehe. Entah kenapa tapi suka juga Gaara/Hinata. Klo three-shots bisa-bisa malah jadi Gaara harem. Mungkin di waktu mendatang akan membuat fic harem, siapa tahu.

Terima kasih sudah membaca ya, kalau sempat silahkan tinggalkan komentar~!