Catatan: yup, inilah bagian kedua yang telah dijanjikan sebelumnya. Maaf agak telat, belakangan ini gampang banget sakit, jadi susah banget membagi waktu. Makasih buat yang sudah cape-cape baca dan memberikan komentar, semoga kalian semua menyukai chapter ini. Selamat membaca~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto


The Insomnia Effect


Chapter 2 Semalam Bersama Gaara

.

.

.

Sebagai ayah yang baik, bertanggung jawab, dan perhatian terhadap masa depan anak-anak gadisnya, Hiashi Hyuuga selalu memantau secara intens para pemuda yang dekat dengan Hinata dan Hanabi. Ia selalu berada di sekitar mereka dengan byakugan aktif-setiap-saat kala teman-teman pria Hinata dan Hanabi datang ke rumah, dan dengan tenang menanyai latar belakang keluarga mereka satu persatu. Hiashi juga selalu meluangkan waktunya untuk melatih kemampuan para putrinya yang cantik jelita, berharap mereka bisa membela diri dan terhindar dari serangan musuh.

Atau kekerasan rumah tangga nantinya.

Bukan pertama kali pemimpin keluarga Hyuuga itu memecat guru privat Hinata dan Hanabi, dan bukan pertama kali juga ia menendang—secara literal—anggota keluarga inti yang memiliki niat macam-macam terhadap putri-putri tercintanya. Meskipun dua hal terakhir membuat Neji kelabakan setengah hidup karena harus mengajari Hinata dan Hanabi di sela-sela jadwalnya yang maha padat, namun agaknya Hiashi masih meneruskan aksinya, yang ia lakukan sepenuhnya atas dasar cinta.

Maka, ketika Hiashi menyuruh Hinata untuk menghabiskan semalam romantis bersama Gaara, ia sama sekali tidak menerima penolakan, apapun bentuknya.

"A-ayah, kenapa ayah bisa menyuruhku pergi bersama Ga-Gaara?" Hinata menggigit bibir bawahnya dengan pilu, bingung sekaligus takut. Bagaimana bisa ayahnya memintanya untuk menemani Gaara semalaman? Bukankah sudah menjadi gosip umum bahwa dia hanya menyukai Naruto seorang? Dan bagaimana nanti kalau Gaara menelannya hidup-hidup?

"Tidak usah berdebat dengan ayah, ayah tahu kamu sudah lama mengagumi Gaara." Hiashi memberikan pandangan mata ayah-tahu-segalanya, dan menepuk bahu Hinata. "Sejak minggu lalu ayah telah memantau history di laptopmu, dan semuanya berisi situs Gaara Butterfly dan koleksi foto Gaara."

Me-memantau history laptop? Seminggu? Ga-gaara? Situs Butter-apa? Foto Gaara?

Wajah Hinata seketika memucat, bibirnya kini seputih kapas. Itu pasti Hanabi yang seenaknya memakai laptopnya! Dan beraninya Hanabi menyimpan dan mengopi foto-foto Gaara ke dalam file pribadinya!

Hinata ingin sekali mengadukan ulah Hanabi kepada ayahnya, tapi ia tidak tega, apalagi Neji juga berada di sana. Mana tega ia membuat hubungan Hanabi dan Neji berantakan hanya gara-gara internet? Apalagi di seberang sana Hanabi meratap-ratap minta diampuni, padahal biasanya sikapnya agak angkuh dan penuh percaya diri.

"Ayah sudah mengatur semuanya, besok kamu berangkat ke Sunagakure." Hiashi berkata dengan mantap, merasa yakin bahwa uang sebesar 3 juta ryo tidak akan terbuang percuma, dan Gaara akan segera menjadi menantunya. "Siapkan barang-barangmu, dan jangan kenakan jaket tebal itu, gantilah dengan yang lain."

.

.

Gaara sama sekali tidak mengubah ekspresinya ketika Hinata muncul bersama Neji dengan pakaian yang sama sekali berbeda dengan pakaian shinobi yang biasa ia kenakan. Gadis pemalu itu mengenakan kimono putih dipadu dengan obi berwarna biru keabu-abuan, midnight blue, yang serasi dengan warna matanya. Padahal setiap bocah, pemuda tanggung, pria dewasa, kakek-kakek, dan wanita berorientasi seksual menyimpang saja salah tingkah saat melihat pesona Hinata. Yang tengah diperhatikan pemuda berambut merah itu malah Neji, yang menatap Gaara dengan penuh waspada.

"Aku tidak mengira kau yang memenangkan poling buatanku, Hyuuga Neji." Gaara memincingkan kedua matanya yang gelap dan besar itu ke arah Neji, "baiklah, lebih baik kita cepat berangkat sekarang."

Neji mendengus pelan, "Hinata yang akan pergi bersamamu."

Gaara tertegun sejenak, kemudian ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Hyuuga Hinata? Bukannya yang memesanku itu kau?"

"Apa maksudmu?" suara Neji naik beberapa oktaf, namun raut wajahnya masih datar seperti biasa. Entah apa yang berada di dalam pikiran pria berambut indah dan kemilau saat berkata begitu. "Kau jangan sembarangan bicara."

"Tidak usah menyembunyikan hal yang tidak perlu," Kazekage Suna itu berkata dengan lantang. "Aku bisa menerima fakta apapun."

"Maksudmu a-aku berminat kepadamu?"

Beberapa orang yang berada di sekeliling mereka bertiga di perbatasan Sunagakure langsung berusaha menyembunyikan ekspresi kaget dan rona merah yang mendadak muncul di wajah. Tentu saja, tidak setiap hari mereka mendengar pernyataan sesensasional itu, dan tidak setiap hari mereka melihat adegan itu secara langsung.

Kedua insan itu saling adu tatap menatap, dan tidak ada yang mau mengalah.

"A-aku yang memesanmu…" Hinata serentak berkata, mengesampingkan segenap rasa malunya dan berusaha mendamaikan suasana yang tengah memanas. Dan lagi, ia tidak ingin Neji menjadi korban gara-gara ulah Hanabi, dan Gaara. "Aku ya-yang… ahhh…"

Hinata mau pingsan saat mengakui hal yang sama sekali tidak ia lakukan, apalagi baik Gaara dan Neji tengah memperhatikannya dengan pandangan yang luar biasa menusuk, apalagi dari pihak si rambut merah.

Gaara terdiam sejenak, lantas mengambil secarik kertas dari balik pakaiannya yang tebal. "Benar juga, yang memesan Hyuuga Hinata."

Kertas bon.

Selain Neji yang menahan napas dan susah payah mempertahankan kewibawaannya, orang-orang di sekitar sana langsung bergeleng-geleng dan membubarkan diri dari lokasi. Salah baca kok sangat keterlaluan, makanya jangan kebanyakan begadang, pikir beberapa orang sambil melirik lekuk kehitaman di sekeliling mata Gaara. Yang tengah ditatap malah acuh.

"Baiklah, aku titipkan Hinata kepadamu. Katakan, kapan dan di mana nanti Hinata harus kujemput?"

"Besok pagi kau bisa menjemput dia di kediamanku." Gaara menjawab pertanyaan Neji dengan santai, lantas dengan menggunakan pasir di sekeliling mereka ia memasukkan barang bawaan Hinata ke dalam kereta. "Kita langsung mulai saja dari sekarang, Hyuuga Hinata."

.

.

Temanya adalah semalam yang romantis bersama Gaara. Banyak orang yang mengira pastilah makan malam romantis yang ditemani oleh lilin dan bunga-bungaan. Beberapa mengira Gaara akan mengajak pemenang poling untuk mengobrol semalaman di kamarnya, lengkap dengan berbagai fasilitas yang menarik. Kalau orang yang agak berbeda pikirannya mungkin akan mengira Gaara mengajak Hinata menghabiskan waktu di kuburan.

Mungkin Gaara termasuk golongan terakhir karena ia mengajak Hinata bermain ke rumah hantu terbesar di Sunagakure. Hinata menahan napasnya saat Gaara muncul dengan dua tiket emas di tangannya, yang berarti mereka berhak bermain sepuasnya dan selama yang mereka mau. Dan… itu semua dimulai tepat setelah jam 9 malam.

"Gaara, benarkah kita akan menghabiskan semalam di sini?" Hinata memandang Gaara dengan takut-takut. Semilir angin dingin yang berdebu berhembus di depan gerbang rumah hantu tersebut. Pekatnya malam dan aura mengerikan yang muncul dari berbagai arah, ditambah dengan kabut yang mulai muncul entah dari mana. Raungan serigala gurun perlahan terdengar, menambah aroma mistis yang ada. Hinata bukanlah seorang penakut, akan tetapi segala yang berada di sana membuatnya merinding.

"Istana Hantu Suna adalah atraksi terbaik di sini. Boneka dengan kulit asli yang sulit dibedakan dengan manusia aslinya, yang sempat dibuat oleh perajin boneka paling ahli di sini akan membuatmu terkejut." Gaara menjelaskan dengan antusias, tapi menurut Hinata pemuda itu tetap saja menyeramkan. Sangat menyeramkan. "Kalau beruntung, mereka menggunakan darah asli."

DA-DARAH ASLI? DARAH ASLI MA-MACAM APPUUUAAAAA?

"Kenapa mematung di situ? Ayo cepat masuk!"

Gaara menarik tangan Hinata lumayan keras, memaksa gadis itu masuk ke Istana Hantu Suna. Istana Hantu Suna telah berdiri selama puluhan tahun di Sunagakure. Meraih berbagai penghargaan paling bergengsi nyaris setiap tahunnya dalam berbagai bidang, dan menjadi salah satu objek penelitian perajin boneka atas keunikan setiap boneka, Istana Hantu Suna memang tempat yang paling layak dikunjungi. Dan tentu saja, di siang hari, bukannya tengah malam.

"Mereka bukan hantu asli, 'kan?" Hinata mendadak bertanya saat menatap boneka di sampingnya, yang terus menggigit-gigit daging berukuran besar. "Seperti sungguhan."

"Hantu asli takkan bisa—"

"KYAAAAAAAA!" Hinata nyaris pingsan saat sekelebat tangan memeluknya dari belakang, hendak menariknya ke dalam kolam berwarna hitam kemerahan. "Apa ini?"

"Sepertinya darah sintetis," Gaara menjilat sedikit air dari kolam itu tanpa keraguan. Ia menoleh ke arah Hinata, "menarik bukan?"

DRAP DRAP DRAP DRAP

"Suara apa itu?" Hinata menoleh ke belakang, mendadak lututnya lemas. Seandainya ini semua hanyalah mimpi buruk semata. "Ohhhh…"

"Bisa berlari tidak?" Gaara berdecak kecil, raut wajahnya tenang seolah PULUHAN HANTU yang berada di belakang mereka, dan mengejar dengan beringas itu bukanlah apa-apa. Untuk seorang Gaara, kawanan hantu bukanlah masalah. Sekumpulan orang yang mau membunuhmu itu baru masalah, dan sewaktu kecil ia sudah mengalami semuanya.

"Kakiku lemas…" Hinata mengaku, menutup matanya. Ia memohon dengan nada setengah putus asa, "selamatkan saja dirimu, tinggalkan aku di sini…"

Tanpa komando Gaara dengan sigap mengangkat Hinata, dan menggendongnya.

"Ehhhh?" wajah Hinata langsung berubah warna. "Apa… apa yang kau?"

"Begini lebih cepat, atau kau mau dipajang di luar istana sebagai korban, lalu dipersembahkan pada saat bulan purnama? Memang sih bukan persembahan yang nyata, tapi—"

"KYYYAAAAAAA!"

Hinata menunjuk dua boneka yang mendekat, namun dengan kecepatan luar biasa Gaara berkelit dan masuk ke troli kecil yang menyusuri sungai kehitaman di dalam kastil boneka, yang rupanya berfungsi untuk alat melarikan diri ketika puluhan hantu—boneka hantu—mengejar mereka.

Petualangan mereka bisa dibilang lumayan gila, dan sangat mendebarkan hati, setidaknya bagi Hinata. Seumur hidupnya ia tidak pernah melihat hantu sebanyak dan semengerikan itu, terutama hantu yang kepalanya mendadak copot saat mereka melewati pintu keluar. Dalam waktu dekat ini sepertinya rumah hantu menjadi salah satu tempat dalam daftar hitam Hinata untuk kategori tempat yang tidak layak dikunjungi.

"Bagaimana kalau kita mencoba Badai Gurun Suna setelah ini?"

.

.

Dengan wajah riang gembira Hanabi membuka situs Gaara Butterfly, mengecek berbagai foto baru, termasuk perjalanan romantis Gaara dengan kakaknya Hinata. Gadis itu terkikik pelan melihat wajah Hinata yang pucat pasi dalam foto-foto itu, sementara wajah Gaara masih saja terlihat seksi seperti biasa. Ada foto Hinata yang menjerit ketakutan sambil mengerahkan jyuuken ke arah salah satu hantu, dan ada pula fotonya saat berteriak dalam gua berwarna abu-abu kehitaman, sepertinya di dalam gua pasir. Tapi yang paling lucu adalah raut Hinata setelah ia keluar dari lokasi makam para Kazekage.

"Untung saja Kak Hinata yang pergi," desis Hanabi senang. Dibukanya koleksi foto Gaara terbaru yang mengunjungi Rumah Hantu Suna. Tampak Gaara dengan wajah sombong-dingin-memikat di sana. "Bagus juga untuk dijadikan koleksi, nih."

Download 100% complete.

"Coba cari lagi ah, siapa tahu ada poling berikutnya." Jemari Hanabi bergerak dengan lincah di atas laptop Hinata. "Gaara… Gaara… Gaara…"

Gaara si tampan dari Suna baru saja menyelesaikan semalam romantis dengan pemenang poling minggu lalu. Berbagai liputan menarik dapat anda baca di link berikut!

Gaara layak dijadikan sebagai panutan seluruh negara dengan ketekunan dan keberaniannya dalam…

"Gaara memang tampan, ya."

"Iya, tampan seka—upsss…" Hanabi mengenali suara itu dengan amat sangat baik. Ia takut membalikkan badannya dan melihat lawan bicaranya. Aduh, taktik macam apa yang harus ia lakukan?

"Uhmmm, sudah pulang, Kak Neji?" Hanabi setengah berbisik, jantungnya berdebar keras. Bodoh, kenapa suaranya terdengar kikuk begitu?

"Jadi yang tertarik dengan Gaara itu kamu?" suara Neji memang tetap pelan seperti biasa, tapi Hanabi bisa mendeteksi kecemburuan, kekesalan, dan juga kengerian dalam nada bicara tunangannya itu. Gadis itu hanya bisa kabur sambil berteriak, minta diselamatkan.

.

.

Hinata mendesah pelan di kamarnya. Ia ingin sekali melupakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Gaara sewaktu malam itu, apalagi ia telah bersumpah bahwa hatinya hanyalah milik Naruto seorang. Akan tetapi semua perbuatan Gaara, dan kata-katanya selalu melintas dalam benaknya. Sungguh memalukan.

"Katanya orang tanpa alis bisa melihat hantu, a-apa Gaara juga begitu?" Hinata berkata, menutupi tubuhnya yang terus gemetaran sekeluarnya dari Gua Ribuan Tahun Suna. Gaara benar-benar mengajaknya ke berbagai tempat mengerikan dalam semalam.

"Tanpa alis?" Gaara terdiam sejenak, lantas menarik tangan Hinata ke arah wajahnya. Hinata langsung tercekat saat menyadari bahwa Gaara tidak sepenuhnya tidak beralis. Ternyata ada alis di dekat kelopak mata Gaara, meski tipis dan nyaris tidak terlihat.

"Aaaahhh…" Hinata memalingkan tubuhnya saking malunya.

"Lihat ke depan, matahari mulai terbit." Gaara berkata dengan pelan. "Matahari terbit di daerah gurun ini yang paling menarik."

Cahaya keemasan mulai menyinari tempat mereka berpijak, meninggalkan rona indah saat memantul di atas bulir pasir. Sungguh menakjubkan melihat keindahan alam seperti itu, apalagi saat kabut mulai menghilang dan tergantikan oleh kilau mentari. Semilir angin dingin berhembus, meninggalkan aroma gurun yang berdebu, namun sama sekali tidak membuat gadis itu terganggu. Hinata menyesal, andai saja ia membawa kamera.

"Hinata…"

Mendadak Gaara meraih wajahnya, dan mengecup bibirnya perlahan. Ciuman itu begitu tiba-tiba, sekaligus sangat mendebarkan. Hinata hendak menarik dirinya, tapi ciuman dan dekapan Gaara begitu erat, dan membuatnya hilang sejenak dalam sensasi aneh yang memikat.

Tidak jauh dari sana Kankuro yang ditugaskan untuk meliput perjalanan mereka menangis bahagia, adiknya sudah menjadi dewasa. Ingin rasanya menabur bunga di mana-mana.

.

.

Sejak semalam bersama Gaara muncul di berbagai situs, maka nama Gaara semakin terkenal layaknya virus internet. Banyak sekali kunoichi yang mendownload maupun mendewakan situsnya, Gaara Buterfly. Sementara para pemuda banyak yang mencabuti alis dan nekad membuat tato di kening mereka. Salon-salon di berbagai desa kelimpungan mencari cat rambut merah. Para ibu-ibu rumah tangga bingung karena anak lelaki maupun suami mereka mendadak berhibernasi di kamar agar memiliki kulit putih pucat. Parahnya lagi, jumlah penderita insomnia malah semakin bertambah.

Ya, jumlah mereka bertambah dengan sangat drastis.

Gaara sama sekali tidak bermasalah dengan itu. Bisa dibilang rutinitas malamnya menjadi jauh lebih ceria, karena teman online-nya menjadi semakin bertambah. Dannnn… tentu saja, karena sibuk mengobrol via online dengan Hinata. Tapi, apakah masalah insomnia Gaara terselesaikan?

Bagaimana caranya agar bisa tidur nyenyak? RT atmaskedHatake gampang sekali tidur bila bersama dirinya.

Tak lama muncul jawaban di layar komputer Gaara.

Bercinta dengan liar, dan lama. Cari Icha Icha untuk lebih lanjut seputar ini. RT Reddish Dust Bagaimana caranya agar bisa… RT atmasked Hatake gampang sekali…

"Sepertinya layak untuk dicoba," gumam Gaara pelan sambil membuka situsnya, membuat penawaran terbaru yang menyenangkan. Entahlah, sebaiknya hal ini disembunyikan saja dari Himenya itu atau dilaporkan, hanya dia yang tahu.

.

.

.


Beneran loh, kalau dilanjut, chapter depan bisa aja Gaara/harem atau Gaara/Hinata yang jauh lebih romantis, ehehehe. Omong-omong tanda at tidak bisa muncul, maaf ya. Terakhir, terima kasih udah baca, kalau sempat silahkan komentar ya~!