*chap 20*

*Mamori*

Aku dan Hiruma saling pandang, lalu aku menoleh ke arah Yamato

"kamu salah pahamYamato kun"

"aku tak percaya~" kata Yamato

"Hiruma.. katakan sesuatu"

"kekekeke sepertinya menarik juga.."

"*blush* he.. hey !" kataku sambil memukul ringan pundaknya, dia hanya terkekeh. Menyebalkan.

"tuh kan.. kalian mencurigakan"

"kenapa kau ingin tau sekali heh? kau itu seperti cheers sialan !"

"cheers... sialan?" Yamato menoleh ke arahku

"itu panggilan sayangnya Hiruma buat Suzuna chan" jawabku sambil tersenyum

"cih, panggilan sayang apanya heh manager sialan ?!"

"kau selalu memanggil orang lain seperti itu kan? contohnya Yamato kun.. kamu memanggilnya dengan sebutan 'Rambut Liar Sialan' kan?"

Keduanya terdiam. Wajah Hiruma langsung berubah, um.. seperti orang yang sedang jijik. Aku menoleh ke arah Yamato, wajahnya juga begitu.

"a.. ada apa? um.. apa aku salah bicara?"

"kau bodoh ya?" tanya Hiruma

"apa... maksudmu..?"

"umm.. itu.. Anezaki.. anu..." kata Yamato gagaaaap ?! dia jadi seperti Sena (?) seorang Yamato jadi gugup ! aku hebat.

"aku ini normal !" Bentak Hiruma, lalu berjalan meninggalkanku dan Yamato yang masih diam di tempat.

"eeeh... maksudku bukan itu !"

"aku.. juga masih suka perempuan kok Anezaki :) " jawab Yamato, dia juga meninggalkanku

"eeh... kalian berdua ! maksudku bukan begitu !" aku pun berlari kecil menyusul mereka berdua.

Sekarang kami sudah berada di dalam kampus. Kami bertiga sedang menyusuri lorong menuju ruang fakultasku. Kami juga berpapasan dengan anggota Wizard yang lain, salah satunya si kembar Agon Kongo.

"heh sampah ! kau itu benar-benar sampah yang memang HARUS di buang ! tadi kenapa kau berbelok HAH ?! aku ingin menyapa manager cantik ini." Agon menunjukku "heh sampah ! kau dengar aku tidak ?!" Hiruma tetap tidak bergeming

Aku dan Yamato terkejut mendengar bentakkan yang datang secara tiba-tiba dari mulut Agon.

Agon berada di belakang Hiruma, Hiruma berada di berada di sebelahku. Karena Agon sedang berteriak, reflek aku menoleh ke arahnya dan berhadapan dengan Hiruma

"Hi.. Hiruma.." aku menunjuk ke arah Agon di belakangnya. Hiruma hanya menoleh dengan malas ke arahnya, ternyata dia sedang pakai headset. Pantas saja.

"Dasar sampah ! kau benar-benar ingin ku kutuk jadi Sampah, lalu akan ku buang kau ke tempat sampah !" Agon mulai marah.

Hiruma hanya menaikkan alisnya, lalu melepas salah satu headsetnya.

"kekekeke ! kenapa kau jadi seperti kepala suster sialan yang suka mengutuk orang sialan?! kekekeke apa tadi kau berbicara sesuatu padaku?"

Hiruma bodoh ! dia malah menambahkan minyak ke api yang sedang menyala !

"APA KAU BILANG ?!" Agon mengenggam kerah baju Hiruma

"kalian HENTIKAN !" Yamato sedang menengahi

"biarkan saja" jawab Hiruma enteng, sedangkan Agon hanya menggeram. Aku hanya diam di tempat, tidak punya keberanian untuk ikut campur dalam pertengkaran kedua lelaki keras kepala ini.

"KAU !" Alisnya menyatu, hidungnya mengkerut, giginya bergelatuk "kalau kau bukan pemimpin di lapangan, aku pasti sudah menghabisimu" Agon mendorong kerah baju Hiruma. Lalu pergi meninggalkan kami.

"dasar pengecut !" Hiruma hanya merapihkan kembali bajunya.

"Hiruma ! ada apa denganmu?!"

Dia hanya melirikku, lalu kembali berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. Aku dan Yamato saling adu pandang, lalu menggelengkan kepalaku... tanda kalau aku juga tidak mengerti dengannya. Tidak lama setelah itu, bel jam pertama mata kuliahku sudah di bunyikan. Aku juga Yamato bergegas memasuki ruang fakultasku. Baru saja aku menduduki kursiku, aku mendapatkan pesan dari Hiruma yang bunyinya

'Manager sialan ! Langsung pergi menuju atap di gedung utama saat jam mata kuliah sialanmu selesai ! terlambat 1 menit, akan ku cincang toko Kariya sialan !'

"APA !" aku langsung menutup mulutku saat aku sudah tersadar dengan apa yang sudah ku lakukan barusan. Aku melihat sekelilingku... untung saja yang mendengar hanya beberapa orang saja.

"ada apa Anezaki?" tanya seseorang di belakangku alias Yamato

"aah.. tidak apa-apa.." Dosenku pun masuk, dan kami belajar seperti biasa.

Beberapa jam kemudian, bel tanda jam kuliah pertama telah usai. Mahasiswa/mahasiswi langsung berhamburan keluar, termasuk diriku. Ada yang menuju kantin, ada yang menuju perpustakaan, ada juga yang sedang menunggu kekasihnya... Aku sendiri sedang...

"hey Anezaki.. kamu mau kemana?" tanya Yamato yang sudah berada di belakangku

"aku ada urusan hehe" jawabku

"pasti urusannya bersangkutan dengan Hiruma ya?"

"um..." aku hanya mengangguk sebagai jawaban iya

"hahaha yasudah, aku mau ke kantin dulu ya.. atau kamu ingin aku temani? supaya Hiruma tidak macam-macam denganmu" tawar Yamato

"aah.. tidak usah.. aku akan baik-baik saja ^^"

"begitu? baiklah.. sampai ketemu lagi" Yamato melambaikan tangannya, lalu berlari meninggalkanku. Aku hanya tersenyum melihat kepergiannya.

Aku mulai berjalan seorang diri lagi melewati halaman kecil di sebelah gedung kedua dimana ruang fakultasku berada. Gedung utama di Saikyoudai hanya di khususkan untuk menjadi tempat acara-acara besar seperti ballroom, lapangan basket indoor untuk pertandingan formal dan juga ruangan para dosen muda. Hanya beberapa ruang fakultas disini. Fakultas Management, Akuntansi, Hukum dan Bisnis yang berada di gedung utama. Terlihat banyak sekali wajah mahasiswa/i yang sepertinya punya masa depan cerah disini. Beberapa mahasiswa terus melihatku, sepertinya mereka tak pernah melihatku sebelumnya. Aku terus melewati mereka sambil menundukkan wajahku.

Aku sedang menunggu lift menuju atap. Ada satu orang Mahasiswi yang juga sedang menunggu. Kami saling pandang, dia tersenyum padaku dan aku juga membalasnya senyumnya. Dari wajahnya aku bisa tau, dia bukan warga negara Asia. Mungkin Amerika? atau Australia?

"hello :)" sapanya

"hello :)" jawabku

"study in here too?"

"yes, but i'm in psikolog"

"oh.. i see.. well nice to meet you, whats your name?"

"just call me Mamori, nice to meet you too"

"ooh.. can i call you Mamori chan? mine Jasmine, from US" dia tersenyum sambil menyodorkan tangannya

"sure, you can call me that.. from US? its quite far" lalu aku menjabat tangannya sebagai tanda perkenalan.

Pintu lift terbuka, aku juga Jasmine masuk ke dalam. Kami berbincang banyak hal, di negaranya dia juga suka bermain American Football. Dia kemari karena ingin mencari teman masa kecilnya yang tinggal disini, mereka sering bertukar e-mail. Tapi temannya tidak mau memberitahu dimana ia tinggal. Jasmin keluar di lantai 5, dia melambaikan tangannya sambil tersenyum sebelum pintu lift akhirnya tertutup.

Tinggal aku sendirian disini, atap di gedung ini berada di lantai 13. Fyuuh.. Aku tak bisa membayangkannya jika aku menaiki tangga darurat.

Ting. Pintu lift terbuka, dan menampilkan hamparan ruang kosong yang terbuka. Aku melangkahkan kakiku sebelum akhirnya pintu lift tertutup. Angin meniupku dengan kencang, rambut panjangku berkibaran. Sudah seperti model iklan shampo.

"Hiruma ?!" Panggilku sambil menutup mataku agar tidak kemasukkan debu. Hanya perasaanku saja atau memang angin di atas sini begitu kencang?

"HIRUMA ! KAMU DIMANA?! " Panggilku agak kencang

Tiba-tiba bunyi gemuruh datang dari atas kelapaku, sebuah... umm.. aku tak bisa melihatnya.. debu bertebangan kemana-mana, aku terus menutup mataku dan juga mencegah rambutku agar tidak terlalu kusut.

Saat aku sedang berada dalam posisi yang tidak bisa melihat, sebuah tangan besar meraih pingganggku dan kemudian mengangkatku meninggalkan atap gedung utama.

"he.. hey !" teriakku melepas genggamannya saat aku merasa diriku sudah aman.

"kekeke kau kaget ya?" tanyanya

"Hi.. Hiruma ! kita ini mau kemana? dan kita naik apa?!"

"cih, cerewet !"

"jawab aku ! atau aku akan terjun" ancamku, sambil berpura-pura ingin melompat. Kebetulan pintu kendaraan ini belum di tutup olehnya.

Hiruma hanya menaikkan salah satu alisnya, lalu berbicara memakai bahasa yang tidak aku kenal lewat microphone yang ada di headsetnya. Dalam seketika pintu kendaraan ini langsung tertutup rapat.

"terjun saja kalau kau bisa" dia menyunggingkan senyum mengejeknya padaku. Dia itu memang menyebalkan !

"mou !" aku hanya bisa menggembungkan wajahku.

"kekekeke kau ngambek heh manager sialan?"

Sambil tetap menggembungkan wajahku, aku menoleh ke arah lain.

"kekeke kau itu memang bodoh, coba kau perhatikan baik-baik kita berada dimana?"

aku terdiam, lalu mencoba meneliti sekelilingku. Badan yang terbuat dari besi, seorang pengemudi yang memakai headset besar dengan setir yang aku tau itu bukan setir mobil.

"helikopter?" tanyaku sambil menoleh ke arah Hiruma

"lalu.. kau masih ingat apa yang kita bicarakan tadi pagi? kita akan pergi kemana?"

Aku mencoba mengingatnya, Amerika !

"kita akan pergi ke Amerika?"

"kalau sudah tau jangan tanya lagi " Hiruma memejamkan matanya, kedua tangannya menjadi sandaran untuk kepalanya, kaki kanannya di tumpu kaki kirinya.

"aku kan hanya lupa"

Dia tidak merespon. Lebih baik aku mencoba menikmati pemandangan daripada aku harus kesal dengan setan ini.

Air laut terpampang sangat luas di bawahku. Aku tersenyum riang memandangi pemandangan ini.

"heh ! sebenarnya daritadi apa yang kau lihat sih ! kenapa wajahmu jadi riang begitu hah?!" Kurasakan badan Hiruma tepat berada di belakangku, tangan kanannya memegang kaca yang berada di sebelah kananku (jadi kalau readers bayangkan, Hiruma seperti lagi merangkul Mamori dari belakang tapi tidak menyentuh pundaknya jadi kaya orang yang lagi ngelindungin gitu ,).

Wajahnya berada di kiriku, mengamati apa yang sedang ku lihat.

"cih, wajahmu sialanmu jadi girang hanya karena kau melihat ini?" tanyanya sambil menunjuk hamparan air laut yang biru di bawah kami dengan tangan kirinya.

" ya.. ada masalah?" tanyaku sambil terus menatap pemandangan di bawah sini.

"tentu saja masalah ! wajah sialanmu yang terus kegirangan seperti anak kecil sialan itu selalu membuatku bertanya-tanya !" dia menoleh ke arahku, reflek aku juga melihatnya. Wajah terlihat kesal sekali.

"berhentilah menghantui pikiran sialanku !

"eeh.." aku terkejut mendengarnya, wajahku pun mungkin sedang memerah.

Mata kami bertatapan, pantulan cahaya dari air laut membuat mata Hiruma menjadi lebih indah dari biasanya.

Tanpa perintahku pula ! tanganku bergerak menyentuh wajahnya ! dia terkejut, sebetulnya aku juga ! tapi tanganku tidak mau berhenti !.

Tangan kiriku sedang mengusap wajahnya. Ku pikir dia menikmatinya juga, daritadi dia hanya diam sambil terus melihatku. Tangan kanannya yang tadi sedang memegang kaca berpindah jadi memegang tanganku yang sedang menyentuhnya.

Dia menghirup pergelangan tanganku sambil memejamkan matanya. Aku... seperti... di tarik.. jantungku berdegup kencang, serasa terus di pompa. Aneh.. tubuhku menginginkan lebih ! tidak.. ini tidak boleh ! tapi.. tapi..

"akh.. Hiruma.." tangan kiri Hiruma yang bebas menyentuh punggunggku lalu menyatukannya di dadanya yang bidang.

Kini pandangan kami semakin dekat. Nafasnya menggebu-gebu. Aku bisa merasakannya kalau dia terus mencoba menahannya. Keringat mulai keluar dari pelipisnya.

"kau.. benar-benar sialan !"

"a.. ada apa Hiruma ?!"

"sialan !" dia merapatkan giginya. Aku tak tega melihatnya yang sedang tertekan begini.

"Hiruma.. relax saja.." aku menghapus bulir-bulir keringat yang keluar dari pelipisnya. Dia terkejut, sangat terkejut "maafkan aku, aku tadi juga terpancing..."

"kekeke.. malam pertama sialan kita nanti..." perkataan Hiruma terhenti saat aku mengecup ringan pipinya, lalu tersenyum ke arahnya

"iya.. aku tau.. dan aku akan menunggumu Yoichi Hiruma"

TBC

ane : *blushed* um.. rated M ya?

Hiruma : kenapa akhir-akhir ini kau buat aku jadi OOC hah?!

ane : itu gara-gara kau pernah ngubah ceritaku kan?!

Hiruma : sialan kau ! *pergi*

ane : um.. Review? ._. (masih gak nyangka, hampir rated M) *tepar*