Everyone~

Here's the third chapter of Geschwisterliebe

Made in replacement of Alice in Chains, to fulfill the request of Kay Lusyifniyx-san ^^

Well, I do hope you all like this chapter, 'cause it's way longer than the last chapter XD


Disclaimer: Hunter x Hunter and all of its characters respectively belongs to Yoshihiro Togashi sensei

Genre: Family, Drama, Suspense, Action, Angst, Hurt/Comfort, Friendship, Crime, etc.

Rate: T, well, just for safety

Pairing(s): no official pairing for this chapter, may change in later chapters

Warning: Divergence, Gender-bender, AR, typo(s), perhaps, etc

Do not flame me about stuff that I've mentions above

I accept no silent reader, you read, you review


Geschwisterliebe

Chapter Three— Spiegel der Prinz und Szenarien Joker

(Cermin Sang Pangeran dan Skenario Joker)

L. October

2012


Seorang gadis bertubuh mungil terlihat meringkuk diatas sebuah bantalan tipis berwarna putih.

Gadis itu memiliki rambut pirang yang kusam dan terurai berantakan sampai pinggangnya, matanya berwarna biru yang jernih namun terlihat kosong tak bernyawa, seakan-akan cahaya telah lama meninggalkan mata itu tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Disekitar matanya terhias warna hitam yang berbayang, membentuk sebuah rona keputusasaan dan kantung mata yang jelas terlihat.

Tubuh gadis itu terlihat kurus tak terawat, dengan kulit putih yang pucat dan tampak kering, menunjukkan bahwa pemiliknya tak pernah meluangkan waktu seharipun untuk sekadar merawat tubuhnya sendiri.

Pakaian yang dikenakan gadis malang itu nampak jauh dari kata cukup, dengan setelan ala pasien rumah sakit berwarna hijau toska, dan jaket berparka warna abu-abu, lengkaplah penampilannya yang terkesan seperti pasien rumah sakit yang tengah menanti maut menjemput dalam kesendirian.

Gadis itu diam saja, tidak bergerak sama sekali dari tempatnya, meski rantai yang membelenggu pergelangan kakinya memiliki rangkaian yang memungkinkan ia berjalan paling tidak sampai kedepan pintu.

Jika melihat keadaannya sekarang, maka siapakah yang akan menyangka bahwa gadis muda bertubuh mungil ini adalah Kurapika, adik kesayangan Kuroro Lucifer, Sang Danchou Genei Ryodan, yang menghilang tanpa jejak dari apartemen milik pemuda itu di Kota Francesti sepuluh tahun sebelumnya.

Jawabannya tidak ada, bahkanpun jika yang melihatnya saat ini adalah orang-orang seperti Franklin atau Pakunoda dan Machi yang telah mengenal dirinya sejak ia masih seorang bayi mungil yang ditemukan Kuroro didekat makam ayahnya.


Tanggal 4 April jatuh pada hari ini, dan pada hari yang sama 17 tahun yang lalu, Kuroro telah mendapatkan sekaligus kehilangan orang-orang yang berarti dalam hidupnya.

Hari itu adalah hari kematian ayahnya, seorang pria yang telah memberinya kehidupan dan sebuah pengaruh besar.

Dibawah naungannya, Kuroro yang tak pernah merasakan kehadiran seorang ibu, tumbuh menjadi seorang pemuda berkepala dingin yang rasionalis dan penuh perhitungan.

Ia jarang mengedepankan emosi dalam memilih tindakan mana yang harus dilakukannya, dan hal itu telah berakar dalam dirinya selama sembilan tahun kehidupannya, sampai takdir mempertemukannya dengan bayi berselimut putih yang dinamainya Kurapika.

Baru setelah menjalani hari-hari bersama peri kecilnya itulah, Kuroro mulai membiarkan emosinya mengalir.

Gadis itu mengajarinya berbagai hal yang tak diajarkan oleh ayahnya dulu, segala hal yang hanya bisa diajarkan oleh seorang wanita, kelembutan, airmata, senyuman, dan rasa saling percaya.

Sehingga hanya kepada gadis kecil itulah, Kuroro menunjukkannya, senyumnya, pengertiannya, kasih sayangnya, serta berbagai toleransi dan kepercayaan. Ya, kepercayaan, kepada Kurapika ia mempercayakan rahasia dan isi hatinya yang terdalam, sesuatu yang tak mungkin dipercayakannya pada orang lain, lebih tepatnya, siapapun.

"Kurapika, mein Himmel Fee…."(Kurapika, peri langitku….), bisiknya lirih.

Kuroro menghela nafas dengan berat, tahun-tahun sejak hilangnya Kurapika secara misterius benar-benar membuat ia frustasi dan tenggelam dalam rasa bersalah yang begitu dalam.

"O mein Himmel Fee, wo hast du verschwinden?"(Wahai peri langitku, kemana kau menghilang?)

Ia berbisik hampa pada langit-langit kamarnya—yang dulu merupakan kamar ayahnya—sambil bersandar pada kepala sofa yang berada di depan tempat tidur.

Sambil memejamkan mata pemuda itu kembali mengingat tentang perinya yang lenyap begitu saja sepuluh tahun silam, dan betapa dunianya yang semula memiliki sebuah sinar terang, kembali bersatu dengan kegelapan.

Hampa.

Kehampaan yang menghujam dan menusuk jiwa yang sepi itu, mengikatnya dalam kegelapan dan kemudian menenggelamkannya.

Membangkitkan hawa dingin dari jiwa gelap yang telah kehilangan lentera kecilnya, kehangatan satu-satunya yang dia miliki sebelumnya.

Benar-benar sebuah kemalangan tak terperi dan sebuah ironi, jika dibandingkan dengan hari datangnya lilin kecil itu.

Namun hari-hari bersama Kurapika, tak selamanya indah, dan Kuroro, tentunya, masih mengingat dengan jelas satu-satunya lembaran hari yang bagaikan mimpi buruk, namun senantiasa menghantuinya hingga detik ini.


Hari itu sore, Kurapika kecil baru menginjak usia empat tahun dan masih belum benar-benar mengerti tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

Kuroro adalah seorang Danchou bagi Laba-laba, seorang pimpinan, yang tugas dan amanatnya sangat berat untuk dipikul oleh seorang anak berusia 12 tahun, sehingga terkadang ia seringkali frustasi dibuatnya, dan kali ini..adalah puncaknya.

Kuroro baru saja, menghadapi kekalahan ketiganya dalam suatu ujian Nen, dan Franklin memarahinya, kemudian kembali mengancamnya dengan ancaman yang sama: menjadikan Kurapika bagian dari Genei Ryodan.

Pemuda itu pulang dengan hati yang kusut tak karuan, dan yang menantinya saat itupun...bukan hal yang bagus. Kurapika, adik kecilnya yang berusia empat tahun itu..sedang berdiri di depan pintu, dan menyambut seorang tamu...


Gadis kecil itu tersenyum lalu sesekali tertawa kecil, pada tamu asing itu.

Kuroro terpaku ditempatnya berdiri, menatap adegan dihadapannya itu dengan geram, dan membuat mata hitamnya yang dingin berkilat marah.

"Kurapika!", hardiknya keras, gadis kecil itu nyaris terlonjak karena kagetnya, iapun menoleh kearah asal suara, bersama teman barunya tentu saja,

"Onii-ch..an..ini...," gadis kecil itu mencoba mengenalkan sang kakak pada teman barunya, hanya saja sorot mata Kuroro begitu tajam, membuat dirinya merasa takut dan tak percaya diri,

"Masuklah kedalam, Kurapika", kata Kuroro lagi, kali ini suaranya terdengar lebih tenang tapi masih menyisakan amarahnya.

Didorong oleh rasa takut, Kurapika pun menurut, tanpa melupakan tugas mulia untuk menyuruh tamunya agar bersegera pulang, ia sepertinya bisa paham, meski umurnya masih sangat kecil, bahwa hal semacam ini sebaiknya tidak melibatkan orang lain, siapapun itu.

Kuroro pun menyusul gadis itu kedalam rumah—rumah almarhum ayahnya—dan menutup pintunya.

"Siapa dia, Kurapika?", tanya pemuda itu tajam, ia menatap Kurapika sinis, membuat gadis kecil itu semakin ketakutan,

"Umm…itu..dia..", Kurapika berujar terbata-bata, keringat dingin membasahi dahinya, matanya bergerak-gerak dengan gelisah, dan sikap tubuhnya menunjukkan rasa gugup yang tidak tertahankan,

"SIAPA DIA?!", bentak pemuda itu, ia berjalan mendekati adik kecilnya yang malah menangis terisak-isak karena rasa takutnya yang semakin menjadi-jadi, tapi justru karena itu, amarahnya semakin memuncak.

Kuroro mendekati adiknya dengan mata yang penuh dengan kemarahan, ia sudah tak ingat lagi bahwa yang ada dihadapannya saat ini adalah Kurapika yang disayanginya, adik yang janjikan perlindungan terbaik, meski dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, satu-satunya nyawa yang tidak akan dikorbankannya untuk Laba-laba.

Ia memojokkan gadis kecil itu, hingga tubuh mungilnya merapat ke tembok, lalu sebelah tangannya ia ulurkan, untuk mencekik gadis itu,

"Jawab aku, Kurapika!", katanya dingin, Kurapika tak menjawab, ia malah menggunakan kedua tangan kecilnya untuk mencoba melepaskan lengan Kuroro yang menghalangi jalur nafasnya dengan sekuat tenaga, sesekali ia terbatuk karenanya,

"Le..pas..kan…Kuro..niichan..", katanya terbata-bata sambil berusaha bernafas dan melepaskan diri, tapi Kuroro tidak menghiraukan permohonan gadis itu, ia sudah dibutakan oleh kemarahannya.

"Onii-chan…lepaskan!", pekik gadis itu sambil menangis, nafasnya terdengar semakin sulit.

Namun ternyata reaksi Kuroro tidaklah seperti yang diharapkannya, pemuda itu memang melepaskan cekikannya, tapi tidak secara baik-baik, sehingga sang gadis terhempas dan jatuh disamping meja kopi, kepalanya terbentur sudut kaki meja, dan sebuah gelas yang berada diatas meja pun terjatuh karena getaran yang sampai kesana, gelas tersebut mengenai sudut antara leher dan bahu gadis itu, lalu pecah, dan menorehkan sebuah luka disana.

Kurapika pingsan, tentu saja, tapi begitu melihat keadaan adik kecilnya yang bersimbah darah, Kuroro segera tersadar atas apa yang dilakukannya, ia jatuh berlutut, menatap raga gadis kecil itu yang tergeletak, dengan luka di bagian kepala dan bahunya.

Sebutir kristal bening jatuh disudut matanya, ia tidak segera menghapusnya, tetapi pikirannya yang telah tersadar segera menuju pada satu hal: menolong Kurapika secepatnya.

Kuroro memeluk tubuh mungil itu, mengangkatnya dengan hati-hati dan mendekapnya erat, persis seperti saat ia mendekap gadis itu empat tahun sebelumnya, ketika pertama kali ia bertemu dengannya, di acara pemakaman ayahnya.


Sekali lagi ia menghela nafas, mengingat peristiwa kecil bersejarah itu, suatu hari di masa lalu, yang begitu disesalinya, karena hari itu membuat ia kehilangan waktu bersama peri langitnya, selama beberapa hari setelahnya, dikarenakan gadis itu belum siuman, setelah ia pingsan dalam peristiwa tersebut.

Kuroro masih mengingatnya, bekas luka itu, masih berada disana, membentuk sebuah garis kecil yang hampir tak terlihat seiring berjalannya waktu, tapi baginya goresan itu masih terlihat jelas, seakan menjadi titik balik, yang membuat dirinya tak pernah lagi mampu bahkan untuk sekadar bersikap tegas, atau memarahi gadis itu.

Pemuda itu kemudian berdiri dan memandang lurus kearah jendela rumahnya, sepuluh tahun telah berlalu sejak gadis itu menghilang, dan kini tekad dihati pemuda itu semakin kuat, ia akan menemukan Kurapika, dalam keadaan hidup, apapun taruhannya.


Rambut biru seorang pria bermata runcing terlihat kaku meski diterpa angin sore, bibir tipisnya mengukirkan senyum misterius yang mampu membuat siapapun ngeri melihatnya.

Mata runcing pria itu tertuju pada sesosok pemuda dengan mata birunya yang familiar, dan rambut pirangnya yang pendek, tapi cukup untuk membuatnya teringat pada sosok la yang memiliki ciri serupa dengan pemuda berdarah Kuruta itu.

Pada babak terakhir ujian hunter, Hisoka tak mampu mengungkapkan kesenangannya ketika hasil undian membuatnya berhadapan dengan sosok bermata biru itu, segera saja, ia membisikkan sesuatu ditelinganya,

"Satu September, Yorkshin, Laba-laba akan berkumpul disana", sambil mengukirkan senyum tipis yang tak terlihat, lalu mengakui kekalahannya.

Ia harus melihat pemuda itu menjadi seorang hunter, sebelum mereka bertemu lagi dalam panggung sandiwara ciptaannya, skenario baru telah tersusun dikepalanya,

"Akan kugunakan kau untuk menjadi pion emasku", ia membatin.

Lalu ia menuju arena pertarungan tenku, dan kembali bertemu dengan kedua bocah menarik itu, Gon dan Killua.

Gon, pemuda berambut hitam yang memiliki keberanian tingkat tinggi dan semangat yang luar biasa, ia menyebutnya, 'Bocah alam liar' , mengingat pemuda itu berasal dari Pulau Kujira dan akrab dengan hutan dan segenap isinya.

Lalu Killua, adik Illumi, calon pewaris Zoldyck yang malah memutuskan untuk keluar dari silsilah keluarga pembunuh bayaran terkenal itu, membuat sang kakak kalang kabut hingga kemudian mengikuti ujian hunter pula demi mengawasi adiknya itu, meski jika ditanya ia dengan penuh keyakinan akan menjawab,

"Aku ikut ujian hunter untuk mempermudah pekerjaanku yang selanjutnya", tapi sebagai seorang teman lama, Hisoka tahu bukan itu alasan utamanya.

Tak lama kemudian pria itu memasuki sebuah kamar di suatu hotel, lalu keluar lagi dengan penampilan yang berbeda 180 derajat.

Rambut birunya telah berganti warna menjadi merah, dan tidak lagi tertata dengan gel rambut, kali ini rambutnya terurai saja, mengikuti garis wajahnya, dan jatuh disekitar tengkuk dan lehernya.

Pakaiannya yang sebelumnya terlihat seperti kostum sirkus, kini berganti menjadi setelan blazer berwarna hitam, dengan kemeja putih dan dasi merah yang memberi kesan elegan pada sosok pria berwajah licik itu.

Ia dengan gerakan mantap berjalan menuju elevator dan bergerak menuju lantai paling atas tempat itu, sebelum akhirnya menaiki sebuah balon angkasa,

"Yorkshin..", gumamnya sambil menyesap wine-nya ketika ia sudah berada di dalam perjalanan menuju kota metropolitan itu, dengan sebuah senyum tipis terukir diwajahnya.

Hisoka tiba di Yorkshin pada pagi hari, dan dia memutuskan untuk bermalam dulu di sebuah hotel di kota itu, sambil menyusun skenario berikutnya, sebuah jalan cerita tentang bagaimana ia mempertemukan kedua orang yang telah terjebak dalam panggung sandiwara miliknya itu.


Hela nafas berat terdengar dari seorang pemuda berambut pirang, matanya yang biru tertutup lensa kontak berwarna hitam yang membuat pandangannya terlihat kosong, pemuda itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, ia memejamkan matanya dengan lelah,

"Hika…maafkan aku karena tak bisa menjagamu", ia berbisik lirih sambil menatap langit-langit gerbong kereta tempat ia duduk saat ini, kemudian ia mendengar suara pintu bergeser,

"Ah, rupanya sudah ada orang..", ujar suara feminin itu, sang pemuda mengamatinya dengan cermat, sosok itu memiliki aura yang ramah dan sepertinya tidak berbahaya, sambil menghela nafas pemuda itu pun menurunkan penjagaannya.

Mata hitamnya kemudian kembali terpaku pada buku yang sedang dibacanya, hingga kemudian pandangan datar itu beralih kearah sosok tadi, yang sekarang terlihat tengah kesulitan menaikkan kopor ketempatnya, iapun menutup buku yang tadi dibacanya dan beranjak dari tempat duduknya, tanpa berkata apapun, ia membantu sang pemilik suara feminin tadi, lalu ia mendengar orang itu berujar,

"Terima kasih", ujarnya tulus, sambil tersenyum ramah, pemuda itu tak menanggapinya, ia hanya kembali ke kursi dan bukunya,

"Seperti kata pepatah lama, perjalanan selalu membawa teman", tiba-tiba ia mendengar sosok itu berujar, lalu tersenyum riang.

Benak sang pemuda kemudian teringat pada ketiga temannya, Gon, Killua, dan Leorio,

"Hnn…", ia menggumam pelan, seolah mengiyakan kata-kata sosok itu, tapi sebuah pemutaran memori menganggu kedamaiannya.


"Pangeran—", ia mendengar wanita paruh baya itu berujar, sambil menikmati desir angin di lembah tempat tinggalnya itu, sang pemuda menoleh,

"Ada apa, Bibi?", ia bertanya penasaran, raut wajah wanita tua itu terlihat serius sekaligus sedih, ia tertunduk,

"Sebenarnya..Anda memiliki seorang saudara kembar, perempuan..", ia berkata dengan nada suara yang menyiratkan kesedihan serta rasa kecewa terhadap dirinya sendiri, pemuda itu menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan tak percaya, ditengah tekadnya membalas dendam pada Laba-laba, perhatiannya harus terbagi dengan pencarian saudarinya yang hilang.

Namun sebelum ia sempat melontarkan protes, wanita itu berujar kembali,

"Dahulu, dalam pelarian usai hari pembantaian itu, aku mencapai sebuah taman pemakaman, dan kau, Pangeran, menangis keras—", ia bercerita singkat, membuat sang pemuda terpaksa menahan protesnya lebih lama lagi,

"Aku pun masuk kedalam pemakaman itu, hendak mencaritahu apa yang terjadi denganmu, sedang saudarimu, Hikarina, masih tertidur dengan damai, hingga kuputuskan untuk menaruhnya sebentar, sementara aku mengurusmu", ia melanjutkan ceritanya, Kurapika, pemuda itu, terdiam selama beberapa waktu,

"Dan saat aku kembali, ia sudah hilang, Pangeran, maafkanlah kesalahanku itu", kali ini suara wanita itu terdengar parau, penyesalan pun mewarnai rona suaranya, ia pun berlutut memohon pengampunan dari Sang Pangeran, pemuda itu masih diam, sepertinya ini terlalu mengejutkannya hingga ia butuh waktu untuk mencerna segalanya, lalu, iapun berujar,

"Bangunlah, aku memaafkanmu", katanya,

"Tapi sesudahnya, aku ingin kau memohon ampunan dari Hikarina juga, soal pencariannya, biarlah aku yang mengurusnya", ujarnya tegas.


"Ada yang datang", suara setengah berbisik dari sosok ramah itu membuyarkan lamunannya,

"Mereka berjumlah enam orang, sepertinya mereka mengincarmu", ia melanjutkan.

Kurapika segera berdiri, ia membuka pintu geser itu dan beranjak keluar, orang tadi benar, tidak jauh dihadapannya terlihat enam orang bersenjata dengan kuda-kuda seakan ingin berperang.

Ia pun menghela nafas, lalu memanggil rantai pendulumnya, dan memukul mereka semua, satu persatu, hingga jatuh.

Pemuda berambut pirang itu tetap disana, tidak beranjak dari tempatnya sedikitpun, dan mengawasi para penyerang yang merasa gagal itu berlari kearah lain.

Ketika mereka telah hilang dari pandangannya, ia kembali menghilangkan rantai itu dan beranjak masuk kedalam gerbongnya lagi.

"Terima kasih", ujarnya singkat, "Berkat dirimu aku jadi bisa mengatur strategi yang tepat, dan tidak melakukan pertempuran yang dapat membahayakan kereta ini", imbuh pemuda itu, kemudian ia melihat sosok tadi tersenyum tipis,

"Tidak usah dipikirkan", sahut sosok itu dengan suara lembutnya yang keibuan.

Lalu suasana kembali hening, hingga akhirnya mereka pun tiba di tempat yang dituju.

"Nah, kita berpisah disini, semoga kau beruntung, ya", ujarnya, lalu iapun pergi, meninggalkan pemuda bermata hitam itu, yang berjalan kearah lain.

Langkah mantap pemuda berambut pirang itu kemudian terdengar disepanjang jalan yang dilaluinya, sebuah jalan setapak yang kemudian mengarah pada hutan homogen—hutan yang dipenuhi dengan pepohonan yang sejenis—yang merupakan jalan satu-satunya menuju sebuah puri besar.

"Ini akan menjadi permulaan dari segalanya..", gumamnya sambil menekan bel yang berada dipintu masuk.


"Selamat datang, di Puri Nostrad", ujar seorang pria dengan wajah kuyu yang aneh dari balik layar proyeksi itu, Kurapika, bersama beberapa orang lainnya, hanya diam sambil menonton pengarahan singkat yang diberikan oleh pria yang kemudian diketahui bernama Dalzone itu.

"Tidak kusangka, ternyata kita bertemu lagi", ujar suara ramah yang terdengar familiar ditelinga pemuda itu,

"Kita belum saling mengenal sejak bertemu di kereta, perkenalkan, namaku Senritsu", ujarnya sambil tersenyum ramah, entah untuk yang keberapa kalinya.

"Kurapika", sahutnya singkat, dengan suara yang terdengar begitu datar.

Kemudian para kandidat—Dalzone menyebut mereka demikian—menjalankan sebuah tes, dan lulus secara gemilang berkat perpaduan dari kemampuan tiap kandidat itu.

"Baiklah, kuucapkan selamat bagi kalian yang sudah lulus dengan baik", puji Dalzone kepada mereka,

"Dan sekarang, aku akan membawa kalian pada Nona", ia berujar sambil membalikkan badan dan memimpin jalan menuju 'Nona' ini, sambil berjalan, mata biru pemuda itu terpendar kesekeliling koridor bernuansa gelap itu, ia meringis kecil dengan ekspresi ngeri melihat pajangan yang berada di dinding.

Semua itu asli, tubuh manusia, hewan dan segala macam bagian-bagiannya yang terpencar disana-sini, dengan mudah dipajang, dan dirinya tidak mungkin tak setuju jika ada voting mengenai keanehan selera dari pemilik koleksi-koleksi ini.

Pintu besar kamar itu dibuka oleh dua orang wanita berkimono, Kurapika menatap kamar itu dengan ekspresi heran, ia tidak bisa, dan tidak mau pula, menyelaraskan imej seorang kolektor organ tubuh dengan suasana kamar itu, yang dipenuhi dengan tirai tipis, karpet, dan cat tembok dengan nuansa yang sama, pink.

"Ini..adalah Nona Neon Nostrad", Dalzone memperkenalkan seorang gadis berambut pink dengan mata biru kehijauan dan pakaian yang tidak umum.


Hari-hari sebelum keberangkatan ke kota Yorkshin bagi Kurapika terkesan tidak menarik.

Dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan berlatih atau membaca buku.

Satu-satunya orang yang masih ditanggapinya hanya Senritsu, mengingat aura keibuan yang terpancar dari wanita itu, rasanya tidak salah jika seseorang yang selalu hidup dalam kesendirian seperti pemuda ini tertarik, bukan?

Mengenai yang lainnya…dia sama sekali tak menaruh minat.

Sementara Kuruta muda yang satu itu sedang tenggelam dalam buku-bukunya yang terlihat sulit untuk dibaca, para pengawal yang lain terlihat sama sibuknya dengan urusan masing-masing.

Veize, seorang wanita berambut merah dengan tubuh sintal dan tekhnik 'instant lover'nya sudah tentu sibuk berhias, lalu Basho, pria berambut coklat yang menggunakan kertas mantra, entah melakukan apa sampai begitu sibuknya.

Lain lagi dengan Sukuwara, pria berwajah india itu, Kurapika melihatnya sedang melatih anjing-anjing keluarga Nostrad ketika matanya menyapu halaman puri itu, yang lainnya, pemuda itu tidak memperhatikan sama sekali.


Waktu pun berjalan hingga akhirnya ia berada di balon angkasa yang menuju kota metropolitan bernama Yorkshin itu, Kurapika masih ingat dengan jelas bisikkan kedua Hisoka setengah tahun yang lalu,

"Aku pernah melihat seseorang yang mirip denganmu, tapi dia seorang gadis dan….dia berada dibawah belenggu Danchou Laba-laba, Kuroro Lucifer", katanya saat itu.

Kurapika mengepalkan tangannya erat disamping badannya, lalu mengangkat kepalan itu dan dihantamkannya pada tembok besi disamping pemuda itu, membuat sebuah lekukan pada tembok besi tebal itu, yang kemudian ditinggalkan olehnya, dengan langkah gontai dan tatapan mata hitam yang dingin.

Ia bertekad sepenuhnya bahwa dirinya akan membunuh seluruh anggota Laba-laba dan membebaskan saudari kembarnya dari belenggu Sang Lucifer.


Pria berambut merah yang dikenal dengan nama Hisoka itu tersenyum tipis, hari ini tanggalan telah menunjukkan 1 September….dan dia tidak sabar untuk memulai skenario pementasannya yang mengagumkan.

Saat ini, sambil mendengarkan misi pencurian besar atas pelelangan Yorkshin yang disampaikan oleh Kuroro dari batu tinggi tempat ia duduk, Hisoka merencanakan detail-detail terakhir yang perlu diselesaikannya, semua itu demi menciptakan sebuah pertarungan besar yang tak boleh dilewatkan.

Iapun mengadakan perjanjian dengan pemuda itu, dirinya menjual informasi tentang Laba-laba dengan satu harga yang sangat mudah: kesempatan untuk bertarung satu lawan satu dengan Sang Pimpinan Laba-laba.

Kurapika menyetujuinya, dengan memberi syarat tersendiri, yaitu bahwa seusainya Hisoka akan mengantarnya pada Hikarina, dan ia sendiri yang akan mengurus hal lainnya nanti.

Hisoka tersenyum lebar sambil menatap kepergian pemuda itu, betapa mudahnya!

Ya Tuhan, seandainya saja Kurapika tahu siapa musuh yang sebenarnya…..


Kuroro Lucifer tak mampu berkata lagi saat ia matanya menatap sosok yang begitu dikenalnya, dan menghilang dari hidupnya selama bertahun-tahun, kini berada tepat disampingnya, dalam sebuah mobil sedan berwarna hitam.

"Kurapika..", batinnya pedih, saat melihat mata biru yang dulu dilihatnya selalu tersenyum, kini menatapnya dengan sorot penuh amarah, dan terbalut warna merah menyala.

"Kurapika, semarah itukah dirimu..?", pemuda itu bertanya-tanya dalam hati sambil tetap mengamati sosok disampingnya itu, yang malah mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai pembantaian sukunya, Suku Kuruta.

"Blick auf dieses, Kuroro, die Farbe, ist schön, nicht wahr?" (Lihat ini, Kuroro, warna yang indah, bukan?), ia tiba-tiba merasa mendengar suara ayahnya lagi, kemudian pandangan matanya berubah, seakan waktu berputar kembali.

Kini ia kembali menjadi dirinya yang baru saja menginjak usia 9 tahun, duduk disisi ayahnya yang tengah membuka sebuah buku dan memperlihatkan sebuah foto, disana, dalam foto itu, terlihat seorang pria dengan mata merah menyala, namun pria itu tidak memandang kearah kamera, tampaknya foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi,

"Amazing! Deshalb Augen so rot zu bekommen, Vater?" (Menakjubkan sekali, kenapa matanya bisa merah begitu, Ayah?), tanya Kuroro kecil sambil mengamati foto itu, gejolak emosi nampak menghiasi wajah pria dalam foto itu, tapi pemuda yang masih belia itu tidak mempedulikannya karena ia sibuk mengagumi matanya yang merah membara.

Mendengar jawaban putra tunggalnya, Vladimir tertawa keras, hingga Kuroro sendiri merasa bingung,

"Was komisch ist, Vater?"(Apa yang lucu, Ayah?), tanya pemuda itu, mata hitamnya menatap sang ayah dengan sorot bingung yang terlihat jelas,

"Du, Sohn, deine Frage wirklich tol!" (Kau, Nak, pertanyaanmu hebat sekali!), pujinya tulus, ia pun mengusap-usap puncak kepala pemuda itu sambil mengacak-acak rambut hitamnya yang pendek tapi halus,

"Wissen, Kuroro gehört diese atemberaubende Blick Kuruta Stamm, und ich schätze, ich wollte auch" (Ketahuilah, Kuroro, mata yang menakjubkan ini adalah milik Suku Kuruta, dan kurasa akupun menginginkannya), ia mendengar pria itu berujar, lalu mata hitamnya menatap sang ayah yang sedang berdiri,

"Nun, ich muss gehen" (Nah, sekarang aku harus pergi), katanya waktu itu.


"Bisakah kau selesaikan lamunanmu itu? Kita sudah sampai", suara tenor seorang pemuda berambut pirang membuat Kuroro menyudahi nostalgianya, dahi pemuda itu mengernyit, rasanya tidak mungkin seorang gadis dengan suara mezzo sopran yang ringan seperti adiknya memiliki suara tenor seperti yang dimiliki oleh pemuda pirang didepannya ini.

Sambil mengikuti langkah pemuda yang merantainya ini, Kuroro masih saja memikirnya dan tak bisa melogikakan hal ini bagaimanapun ia mencoba, hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti saja alurnya dan membiarkan pemuda itu membongkar identitasnya sendiri nanti.


Sekali lagi Hisoka melirik pada sosok yang tengah tertidur dalam dekapannya, ia kembali menggunakan obat bius yang digunakannya pada gadis itu sepuluh tahun yang lalu, namun tidak seperti dulu ketika ia pertama kali menculiknya, kali ini, sang gadis memberontak saat jarum suntik itu terlihat oleh matanya.

"Hai, lama tak jumpa, Kurapika", sapa Hisoka ketika ia melewati pintu masuk sel itu,

"Mau apa kau kemari?", desis gadis itu, dengan suara yang terdengar kacau meski belum sekacau penampilannya sekarang,

"Oh, jangan khawatir, kali ini, aku akan memulangkanmu ke rumah", tawar sang joker dengan seringai tipis menghiasi wajahnya yang pucat, hanya dengan mendengar kalimat itu, wajah penuh kebencian yang tadi sempat ditunjukkan oleh sang gadis meluruh, sebuah harapan kembali terlihat di matanya yang layu,

"Pu..lang?", ia tampak mengeja kata itu dengan nada bertanya, wajahnya menampakkan kesan tidak mengerti,

"Tentu saja, ini akan menjadi momen yang sangat menarik", jawab Hisoka sambil mengeluarkan sebuah suntikan berisi anestesi, sontak, mata gadis itu membulat horror,

"TIDAK!", teriaknya, "Kumohon, jangan…aku tidak mau", ia memohon dengan sangat sambil berusaha melindungi dirinya sendiri, wajahnya terlihat penuh dengan ketakutan, Hisoka tersenyum, kemudian ia berjalan mendekati gadis itu dengan suntikan tersebut masih ditangannya, Kurapika yang takut semakin meringkuk dan menolak mati-matian,

"SINGKIRKAN BENDA ITU!", pekiknya histeris, dengan gestur seperti sedang menghalau lalat yang mendekat, ekspresi ketakutan itu semakin jelas diwajahnya,

"JANGAN MENDEKAT!", Kurapika berteriak dengan suara yang lebih keras, seiring dengan semakin dekatnya pria itu dengan dirinya,

"Oh, maaf, tapi ini harus dilakukan", Hisoka berujar dengan suara mistisnya, sambil menyuntikkan anestesi itu ketangan sang gadis, tak peduli sekuat apapun pemberontakan yang dilakukan olehnya.

"TIDAAAaaaa—aa…kk", teriakan gadis itu semakin menipis seiring masuknya obat itu ke dalam sistemnya, membuatnya tak sadarkan diri untuk beberapa jam kedepan,

"Seharusnya kau lebih tenang, agar semua berjalan lebih lancar", bisik pria berambut merah itu sambil menggendong gadis itu ala bridal style, kemudian ia berjalan keluar dari tempat itu.


Sekarang ia akan mengikuti Pakunoda, tentu dengan Illumi sudah menggantikan posisinya di markas Genei Ryodan yang berada di Yorkshin.

Hisoka menatap sosok gadis remaja bertubuh mungil itu, dengan keadaannya yang seperti ini, maka pementasan dari skenario adu domba antara dua pemuda yang sama-sama mencari sang gadis akan tampak seperti sebuah film box office di bioskop.

Pria itu lantas mengikuti Pakunoda yang memang ditugaskan oleh Pengguna Rantai atau Kurapika, untuk membawa sandera, yaitu kedua bocah bernama Gon dan Killua, menuju bandar udara Yorkshin untuk kemudian menukar sandera itu dengan Danchou mereka.

Sesekali ia tertawa kecil, membayangkan apa yang akan terjadi disana, Pengguna Rantai mungkin saja akan membatalkan pertarungan dan memilih untuk langsung membawa pergi gadis ini, tapi Kuroro, Danchounya itu pasti berang, saat mengetahui bahwa selama ini Kurapika-nya tidak menghilang, melainkan diculik, dan disekap selama bertahun-tahun, oleh dirinya, di penjara bawah tanah markas pusat Genei Ryodan yang berada di Ryuuseigai, tanah kekuasaannya sendiri.

"Hisoka—", ujar wanita bernama Pakunoda itu, manakala ia mendapati sang joker mengikutinya,

"Apa yang—", Pakunoda bermaksud menanyainya, tapi ia urung melakukannya saat melihat sosok gadis yang berada dalam gendongan pria itu.

Tapi bukan hanya Pakunoda saja, Gon dan Killua pun, terkejut, melihat sesosok gadis berambut pirang panjang yang berada dalam dekapan Hisoka,

"Siapa..dia?", tiba-tiba saja Gon bertanya, pemuda bermata coklat yang polos terkadang memang terlalu jujur dan tak bisa menahan pertanyaannya. Mendengar pertanyaan anak itu, Pakunoda diam saja, meski ia sedikitnya bisa menebak siapa gadis itu, namun ia memilih diam dan membiarkan Hisoka menjelaskannya, begitu pula dengan Killua.

"Oh, ini Hikarina, saudari kembar Kurapika, teman kalian itu", kata Hisoka menjelaskan, Pakunoda mengerutkan alisnya,

"Benar rupanya dugaanku selama ini, Hisoka, kau adalah seorang Judas sejati", kata Pakunoda sinis, kedua anak itu seketika merasa tidak begitu mengerti duduk perkaranya, baiklah, mungkin lebih baik mereka bertanya langsung pada Kurapika nanti.

Kelima orang itupun tiba di bandara dan segera masuk kedalam balon angkasa yang telah disiapkan, kemudian balon angkasa itu terbang dan menuju lokasi pertukaran sandera.


Ketika melihat sosok Hisoka diantara orang-orang yang datang, Kurapika segera berlari, tak dipedulikannya pertukaran sandera itu, karena yang ada dipikirannya hanya satu: HIKARINA.

"Lepaskan kedua sandera", perintahnya saat gadis itu telah berada ditangannya, terlepas dari Hisoka yang masih sedikit terkejut karena kecepatan pemuda itu mengambil sosok gadis ditangannya.

Gon dan Killua berjalan kearah balon angkasa dimana Senritsu dan Leorio berdiri didekatnya, disusul oleh Kurapika dibelakangnya, sementara Kuroro, berjalan menuju Pakunoda dan Hisoka diseberangnya, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok gadis dalam dekapan pemuda pirang itu.

"Singkirkan pandangan mata kotormu itu dari Hikarina", tiba-tiba ia mendengar suara tenor si pegguna rantai yang berujar dengan sinis, langkahnya terhenti tepat disisi pemuda itu, sepertinya ia menghentikannya saat melihat Kuroro terdiam dan menatapi gadis itu,

"Aku..", pemuda itu berniat menjelaskan duduk perkara antara ia dan gadis itu, tapi sang pemuda memotongnya,

"Tak ada yang perlu kau katakan, Hisoka sudah menjelaskan semuanya, karena itu—", ia menghela nafas sambil memejamkan mata,

"Mulai saat ini, jangan pernah lagi berpikir untuk menemuinya, lihat saja, dia sampai seperti ini sejak kau menculiknya", lanjut Kuruta muda itu, lalu tanpa memberi kesempatan pada Kuroro untuk menjelaskan apapun, ia beranjak pergi.

Tangan pemuda bermata hitam itu terkepal geram, diseberang sana, dibalik Pakunoda, berdiri seorang joker berambut merah yang harus ia mintai penjelasan, dan ingin segera ia BUNUH setelahnya.

"Hisoka—


REVIEWS ANSWER COLUMN:

hana-1emptyflower: here's the update! yeah, yeah, Hisoka is a devilish bastard and the main antagonist here, you can kill him if you like ^^ about Illumi..hn..hahaha, that's Kurapika's charm~ as for Kuroro, well...I think this chapter answers your question, right?

Natsu Hiru Chan: Natsuuu! here's the update~ hehe, I take that as a compliment, thank you XD well, the answers are here, enjoy~

whitypearl: I love it too! hehe... yeah, Hisoka made a very strong impression on the last chapter, but I don't know who made the strongest impression in this one XD

you're the most welcome~

KuroPika foreva'

Kay Lusyifniyx: W-what? 'Tanpamu aku galau..' hahaha, that's so tv commercials XD anyway, here's the update, longer than the last time, I hope you like this since this is made upon your request, Kay-chan~ hehe, I also hope I could have a sister as sweet as little Kurapika.


A/N: This chapter was THRILLING, you know?

And as you all may have seen by yourself, this fic has many Germany words, hehe

But, it's okay isn't it? Since I put the translation just beside it...

Well, it took me 4 days to write this, in between a laziness and unavailability to get rid of my brothers who play Sims in my lappy~

Ok, enough with the chit chat, just leave your review after read as usual~

Happy Sunday Night!

Love,

October