Uzumaki Naruto Band Panic

by

Manami Bakamusume


Disclaimer

Naruto by Kishimoto Masashi © 1999

and all bands in this fiction


Genre : Friendship/Humor

Rated : T

Summary : Kisah tentang persahabatan, cita-cita, dan headbang! Uzumaki Naruto, leader band Dattebayo, merasa panas atas prestasi band rivalnya. Siapa lagi kalau bukan band Eternal Blaze pimpinan Uchiha Sasuke. Sebuah potret perjuangan band pecundang menggapai impian menjadi bintang rock dunia.

Terimakasih Mana ucapkan secara khusus pada wind scarlett atas masukannya yang berharga untuk fanfiksi pertama Mana ini :)

Enjoy reading!


Chapter One

The Story Begins

"Apa? Demo kita ditolak lagi?"

Cowok itu menggeram dan mondar-mandir di garasi tempat latihan seperti anak ayam kehilangan induk. Bahkan tampangnya saat itu persis dengan anak ayam, dengan rambut berwarna kuning cerah dan seolah menciap-ciap.

"Sudah bisa diduga, kan?" kata cowok yang rambutnya dikuncir satu dengan gaya kurang niat. "Bolak-balik rekaman, ngasih demo, nyusahin aja... " ia menguap.

"Tapi itu kesempatan untuk membuktikan bahwa band kita adalah band yang terbaik di Konoha, dattebayo!" keluh si cowok berambut kuning lagi, masih dengan kalimat yang entah kenapa kayak dialog sinetron.

"Mau gimana lagi, kita masih bisa manggung pun udah syukur. Orang lebih tertarik nonton Eternal Blaze, tentu saja." Cowok berambut coklat merogoh saku jaket bulunya. "Lapar, Akamaru?"

"Berisik!" sergah si cowok berambut kuning. "Jangan sebut band itu! Dan..." ia mendelik ke arah anjing sebesar anak kerbau yang menggonggong dengan riang gembira, menyambut biskuit yang disodorkan tuannya. "Jangan bawa-bawa anjing itu kesini!"

"Aku tidak membawanya, ia yang mengikutiku." Cowok itu menepuk kepala si anjing. "Anak pintar, Akamaru."

"Aku telah menemukan solusi untuk masalah ini!" Seorang cowok berambut bob dan beralis tebal mengangkat tangannya.

"Kita bisa latihan dua kali lebih keras dari sebelumnya! Inilah semangat masa muda!" dia mengangkat ibu jarinya dan tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih cemerlang. Seandainya gayanya nggak norak, mungkin dia udah dikontrak jadi model iklan Pepsodent.

"Yah, kayak itu solusi aja." kata si cowok berkuncir, skeptis.

Keempat cowok itu, yaitu Naruto, Shikamaru, Kiba dan Lee, adalah anggota sebuah band punk bernama Dattebayo. Band nggak terkenal yang lebih sering luntang-lantung dibanding manggung. Belakangan ini, Naruto, leader band itu, makin gencar mengirimkan demo ke berbagai label rekaman papan atas. Alasannya cuma satu: eneg dengan band 'saingan' bernama Eternal Blaze!

Jika band Dattebayo statusnya antara ada dan tiada, maka Eternal Blaze adalah band yang saat ini menjadi trending topic penduduk lokal, khususnya cewek, di Konoha.

Yang bikin Naruto tambah panas, leader band tersebut ternyata orang yang dianggapnya sebagai rival abadi bernama Uchiha Sasuke. Sejak dulu, Uchiha Sasuke dikenal sebagai seorang jenius yang selalu melebihi teman-temannya, terutama Naruto, dalam bidang apapun. Mulai dari nilai pelajaran, seni, olahraga, sampai cewek.

Khusus topik terakhir ini, Naruto paling tidak bisa berlapang dada. Soalnya… Ehem. Akan diceritakan di episode selanjutnya… *ceritanya biar para pembaca penasaran*

Malam itu Naruto tampak terlihat di Ichiraku Ramen, sibuk mengutak-atik aransemen lagu barunya di laptop. Meski tampak tiga buah mangkuk kosong yang bertumpuk di sebelahnya, cowok itu tetap saja merasa lapar. Gelisah, tepatnya.

"Selamat datang!"

Ayame, anak si tukang ramen, menyapa seorang pemuda yang baru memasuki kedai tersebut. Naruto mengintip dari balik laptopnya dengan pandangan sinis. "Sasuke…" ia mengamati Sasuke sampe jereng. Tepatnya apa sih yang digilai para cewek dari cowok bermuka ble'e yang satu ini? Model rambutnya yang kayak pantat ayam betina?

Merasa dipandangi, akhirnya Sasuke mengangkat wajah dari ramennya. Ia dan Naruto beradu pandang.

"Naruto."

Naruto masih memandangi Sasuke lekat walau kedua tangannya sudah gatal ingin mencabuti rambut-model-pantat-ayam-betina itu buat dijadiin kemoceng.

"Kau… masih bermain-main dengan band kecilmu itu? Atau…" ia tersenyum sinis. "Sudah bubar?"

"Berisik! Kau belum tahu saja kalau Dattebayo lebih baik dari band-mu."

Sasuke mengabaikan Naruto dan mengibas poninya dengan gerakan slow motion. Seandainya yang memperagakan gerakan tersebut adalah Lee atau Gai-sensei-nya yang tercinta, dijamin cewek yang melihatnya akan segera merinding (lalu muntah).

"Hmp! Kau beruntung, punya kesempatan untuk membuktikan kata-katamu minggu depan…"

Ia melempar sesuatu kepada Naruto. Sebuah gulungan poster.

Naruto menyambar poster itu dan membacanya. 'KONOHA: BATTLE OF THE BANDS' tertulis besar-besar di bagian atas poster tersebut.

"Mungkin band kecil-mu cukup beruntung untuk bisa lolos audisi…"

Naruto meremas poster tersebut. "Aku tidak akan kalah dengan orang seperti kau! Lihat saja!"

Ia lantas memunggungi Sasuke dan berteriak memanggil Teuchi si tukang ramen.

"Paman! Tambah 5 mangkok lagi!"

.

Keesokan harinya…

"Sial! Aku terlambat!"

Naruto buru-buru turun dari tempat tidur dan menyambar jaketnya, jelas nggak inget mandi lagi apalagi sikat gigi. Ia berlari bak maling jemuran dikejar massa, memasuki sebuah gedung dengan plang Konoha Gakuen di gerbangnya.

"Aaaaaaaaa!"

Naruto berhenti mendadak waktu melihat Sasuke berjalan memasuki kelas yang ia tuju. Ternyata ia cukup beruntung, tidak perlu menunggu seminggu penuh untuk dapat bertemu (dan kalau ada kesempatan menonjok) Uchiha belagu itu.

Setiap anak di Konoha selalu mengenal satu dengan yang lain, karena Konoha Gakuen adalah sekolah dengan sistem eskalator mulai dari TK sampai SMA. Naruto telah mengenal Sasuke sejak berusia tujuh tahun. Sejak hari pertama mereka bertemu, kedua anak laki-laki itu tak pernah akur. Parahnya, mereka selalu sekelas hingga berpisah di kelas sembilan. Tapi sekarang, di kelas sebelas…

"Cih, bareng si idiot…"

Sasuke melengos dari hadapan Naruto.

"Aaa, tunggu… Sasuke!"

Bruk!

Karena tergesa-gesa menyusul Sasuke, Naruto sampai menabrak seseorang yang juga akan masuk ruangan kelas itu. Naruto terjatuh.

"Ma… maaf…"

Cowok berambut merah itu memandang Naruto dingin. Meski tampangnya sebelas-dua belas dengan Dedi Corbuzier minus kepala botak, cowok bermata hijau pupus itu entah kenapa terlihat cukup unyu.

"Oi Naruto, apa yang sedang kau lakukan, cepat duduk!" perintah Umino Iruka yang tahu-tahu berdiri di belakang anak laki-laki itu. Ia berjalan ke depan kelas bersama anak tersebut.

"Selamat pagi anak-anak!"

"Selamat pagi, Iruka-sensei!"

"Ehm" Iruka membaca lembaran kertas di tangannya. "Hari ini kita kedatangan teman baru dari… Konoha International Academy… Semuanya, berteman dengan Gaara, ya!"

"Gaara? Gaara anak Eternal Blaze itu?" tanya seorang cewek berambut cokelat muda.

"Tak mungkin!" cewek berambut hitam di sebelahnya menutup mulutnya seolah-olah tak percaya. "Aku… sekelas dengan Gaara! Dia artis loh… artis!" dia lantas ngikik bengek.

"Heee? Bukannya kau suka dengan Sasuke?"

"Iya, tapi coba kau bayangkan, sekelas dengan dua anggota Eternal Blaze sekaligus! Celebrity class banget!" katanya, sok pake istilah Inggris.

"Iya yah, dua-duanya sama-sama keren! Lucky!" si cewek satunya ikut ngikik kunti.

Naruto yang mendengar percakapan kedua anak perempuan itu lantas merasa sewot. Keren? Cowok yang alisnya sebotak landasan pesawat terbang itu keren?

Gaara menatap seisi kelas dengan ekspresi datar. Jika ekspresi datar Shikamaru lebih terkesan kayak lagi ngelamun jorok, Gaara seolah-olah memancarkan aura 'gue ganteng, gue ganteng, gue ganteng' yang efeknya dengan cepat terlihat di wajah-wajah cewek penghuni kelas tersebut. Mulai dari bengong, muka memerah, air liur menetes, sampai ayan mendadak.

Naruto menghela napas panjang. Kalau penampakan dua anggota Eternal Blaze tanpa alat-alat perang mereka aja udah bisa bikin cewek-cewek bertingkah abstrak, gimana kalau mereka lagi beraksi di atas panggung?

.

Malam hari, sarang Naruto.

"Siaaaal…!"

Naruto membanting headset ke atas mixing-table-nya dengan frustasi. Ia sudah berkali-kali mencoba menggubah sebuah lagu yang megah seperti karya-karyanya Mozart, tapi hasilnya nihil. Maklum, modalnya cuma niat plus nyari wangsit ke dukun beranak (lho?) Uzumaki Naruto bukanlah orang yang dilahirkan dengan sejuta bakat. Seperti anggota Dattebayo yang lain, pilihan baginya cuma kerja keras. Much pain, but oh so little gain!

Kalau ia memang mau status band-nya naik pangkat dari band yang hanya meng-cover lagu-lagu orang lain menjadi sebuah band yang punya jati diri, ia harus mampu menciptakan sebuah komposisi yang dapat menggugah perasaan orang yang mendengarnya. Kedengerannya memang lebay seperti kata-kata Lee, tapi mau gimana lagi? Jadi band terkenal gak segampang membentuk boyband!

Buak! Buak! Buak!

Suara pintu digedor membuyarkan lamunan Naruto. Tempat tinggalnya sebenarnya adalah garasi yang didekor ulang menjadi studio latihan dan sarang penyamun, pintunya pun pintu besi khas garasi, hingga mengeluarkan suara berisik saat diketuk. Kesimpulan: gak mungkin bunyinya "tok, tok, tok".

"Masuk!" perintah Naruto.

Kiba mengangkat pintu itu sampai terbuka sebagian, dan menunduk untuk masuk, diikuti Akamaru. Ia membuka hard-case tempat gitarnya disimpan dan sibuk menyetemnya.

"Yang lain kemana?" tanya Naruto.

"Lee sedang kursus masak di restoran Cina milik Gai," Kiba menajamkan telinga sambil memetik senar gitarnya. "Shikamaru… entahlah, katanya ia harus membantu ayahnya. Tapi mereka akan kemari satu-dua jam lagi."

Keduanya terdiam, tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Naruto kini membuka laptopnya dan mulai browsing internet. Kiba masih berkutat dengan Fender Stratocaster-nya.

Naruto membelalak ketika melihat sesuatu di layar laptopnya. Ia berdiri dan bertanya ke Kiba,

"Kau bakal lama disini?"

Kiba menatap leader bandnya itu. "Mungkin… kenapa?"

"Aku harus pergi sebentar."

"Kemana?"

"Hm… pokoknya berkaitan dengan band."

.

Naruto memandang seisi tempat konser underground yang penuh sesak itu. Lima anggota band tampak sedang bermain di atas panggung, memainkan sesuatu dengan irama rock n' roll. Penontonnya menyimak dengan separo minat, jelas sedang menunggu band yang lain.

Atmosfir langsung berubah ketika band rock n' roll tersebut turun dari panggung, digantikan empat personil Eternal Blaze. Semua fans band itu histeris sampe bengek dan kena campak, suaranya kurang lebih seperti teriakan cewek-cewek yang lagi naik Tornado di Ancol terus tau-tau terjadi gempa bumi dan tsunami. Ya, dari sebuah forum di internet, Naruto menemukan bahwa band tersebut akan manggung malam ini.

Sasuke mendekap ESP Eclipse-nya dan berjalan mendekati mic. Gaara tampak membawa sebuah bass G&L lima senar. Gitaris band yang berambut panjang menenteng sebuah gitar Jackson model flying-V berwarna putih, dan drummernya duduk di belakang set drum Tama. Setelah mengecek sound, Sasuke menyapa penonton dan band itu mulai bermain.

Naruto hampir tak bisa mendengar intro yang dimainkan saking kerasnya jeritan alay para fans Eternal Blaze. Ketika kerumunan tersebut sedikit lebih tenang dan menikmati lagu dengan gerakan headbang yang sedikit rancu, barulah Naruto terperangah.

Nothing in believe and everything is wrong

Nothing in real and everything is alone

I wanna hear nothing and say nothing yeah

Reach for the end cause everything is wrong

Naruto tak dapat mendengar lirik lagu tersebut dengan jelas, karena ternyata Sasuke menyanyikan lirik tersebut dengan suara scream ala death metal. Ia baru saja merasa penasaran dengan suara asli Sasuke saat bernyanyi, ketika cowok itu mengangkat dagunya ke atas dan menyanyikan lirik selanjutnya.

Can't see the real

I'm going crazy now

Pull the trigger yeah…

Sasuke bernyanyi sebaik mengeluarkan scream ala death metal-nya! Suaranya indah, lembut tapi kuat, serta merta menghipnotis para pendengarnya. Seolah itu belum cukup, Sasuke dengan percaya diri memainkan gitarnya dengan gahar.

Naruto mendadak menyadari skill para anggota band itu termasuk tinggi untuk ukuran pelajar SMA. Jari sang lead guitarist menari-nari di atas senar Jackson-nya seolah-olah speed picking yang ia lakukan adalah hal yang mudah. Si drummer menggebuk drumnya dengan beat yang sangat cepat, mungkin tanpa kesalahan.

Limited life is waiting for you with revolver blast

Mayoeru omoi wa juusei to tomo ni

Limited life is waiting for you with revolver blast

Dokoka no sora he to kieta…

Gaara, selain piawai membetot senar-senar bassnya, ia mampu mengiringi nyanyian Sasuke dengan scream-nya sendiri. Secara keseluruhan, permainan band yang membawakan lagu metal itu sangatlah harmonis dan sempurna.

Sono mune ni kazaana wo akeru you

Ima koko kara hajimeru tame ni…

Setelah interlude yang didominasi shredding dari Sasuke dan sang lead guitarist, keempat anggota band tersebut lantas meneriakkan "Revolver blast!" bersama-sama dengan seluruh penonton yang memenuhi ruangan underground tersebut. Lalu, menatap seluruh penggemarnya, Sasuke kembali bernyanyi.

Limited life is waiting for you with revolver blast

Mayoeru omoi wa juusei to tomo ni

Limited life is waiting for you with revolver blast

Dokoka no sora he to kieta…

Sasuke tampak sepintas melihat ke arah Naruto yang berdiri diam diantara kerumunan. Dia tersenyum puas dan menyanyikan bagian terakhir dari lagu Deluhi tersebut.

Sono mune ni kazaana wo akeru you

Ima koko kara hajimeru tame ni

Shinjitsu wo uchi nuke ba nanika mieru sa

Tashika na mono wo erande ike ba ii…


…To Be Continued…