Chapter Five

Breaking the Four Wall

NAMIKAZE ROCK FIESTA

Kata-kata tersebut ditulis besar-besar di sebuah baliho seukuran lapangan badminton (kurang lebih deh) dan dipajang di gedung Hokage, pusat pemerintahan Konoha. Empat cowok SMA, semuanya mengenakan seragam Konoha Gakuen, memandangi tulisan tersebut.

"Hmp." dengus salah satunya.

"Ini baru festival," sahut cowok yang lain.

"Apalagi, untuk band seperti kita." cowok yang lain berkata angkuh dan mengibas rambutnya.

Cowok yang terakhir diam saja. Bibirnya bergetar seolah tak mampu berkata-kata. Tiga detik kemudian, barulah ia menemukan suaranya.

"ASSSSEEEEEEEKKKK!"

Shikamaru, Kiba dan Lee lantas menoleh ke arah leader mereka, jelas-jelas kecewa berat. Tadinya mereka mencoba membangun imej baru supaya terlihat lebih cool, paling tidak buat nipu pembaca. Apa daya berkat Naruto dan teriakan begonya, imej itupun luluh lantak dalam waktu tiga detik.

Mata biru cerah Naruto berbinar-binar bak lampu petromaks membaca tulisan tadi. Ia mengkhayalkan kemenangan, kepopuleran serta kemahsyuran yang akan ia dapatkan jika ia berhasil mendapatkan gelar juara lomba… tapi…

"Shika!" dia berbalik ke arah Shikamaru, badannya membungkuk sedikit, tangannya menunjuk tulisan 'NAMIKAZE ROCK FIESTA' dan ekspresinya seperti menahan kentut. "Memangnya festival ini disponsori sama kond*m?"

Gedubrak.

"Bukan, tapi sama chicken nugget..." Ujar Shikamaru pelan tapi menusuk.

Namanya bukan Naruto kalau dia ga langsung percaya begitu saja.

"Oh, enak dong sponsornya makanan... Coba sponsornya ram..."

"Naruto!" seru Kiba seraya mengepalkan tangan, gigi-giginya yang seruncing dinosaurus gemeletuk saking gemasnya. "Ini festival band paling bergengsi abad ini! Festival ini bahkan didedikasikan untuk Minato Namikaze, dan mengambil namanya sebagai bentuk penghormatan! Masa hal seperti itu saja kau tidak tahu?"

"Wuuuoooohhh, Minato Namikaze? Sang Legenda Rock?" Naruto muncrat-muncrat, tidak memperdulikan kata-kata Kiba barusan. "Bohong!"

"Kalau dia memang bukan Legenda Rock, tentu nama festivalnya bukan Namikaze, tapi Inuzuka." Ucap Kiba separo memanas-manasi Naruto, seraya menghindar dari serangan "hujan lokal" leader Dattebayo itu.

Naruto terkesiap. "Berisik! Kau tahu sendiri, akulah yang akan menjadi Legenda Rock berikutnya!"

"Yak, cukup sampai disitu!" Lee segera menghentikan Kiba yang baru mau membalas. "Pokoknya kita semua sudah menang Konoha Battle of the Bands."

"Separuh menang, maksudmu." Shikamaru meralat, tanpa sengaja ngancurin mood dengan brutal.

"Kita seri dengan…" ia berhenti berbicara melihat Lee menaruh telunjuknya di depan bibir. Di sebuah sudut jalan, Naruto dan Kiba sudah mojok sambil ngorek-ngorek tanah.

"Oi oi…." Kata Shikamaru, menggaruk kepalanya. "Kalian kan tak perlu sedepresi itu… nyusahin aja."

Pembaca yang bingung, mari kita mundur sejenak untuk melihat kronologis final Battle of the Bands di minggu sebelumnya.

Kakashi memiringkan kepalanya, tampak berpikir. Asuma menghembuskan asap. Kurenai mencoret-coret kertas di depan mejanya. Ebisu mondar-mandir diantara para peserta band yang berjejer diatas panggung. Akhirnya Kurenai meraih mic.

"Konohana," katanya. "Silahkan maju ke depan."

Kelima gadis cantik itu maju beberapa langkah. Mereka semua memancarkan rasa percaya diri, tersenyum dan melambai ala Miss Universe ke beberapa penonton cowok yang bersuit-suit ganjen.

"Performa kalian…" Kurenai mengernyit memandang kertasnya, agak acuh tak acuh. "Bagus. Hebat, malah. Betul-betul remarkable." Ia memandang mereka. "Kalian bisa saja tak perlu mengikuti lomba ini lagi, hasilnya sudah sangat jelas."

Giliran Asuma bicara. "Luar biasa!" Katanya berapi-api. "Konohana merupakan junjungan dari setiap band di tempat ini! Saya berani janjikan sebentar lagi kalian akan diundang tiap negara di seluruh dunia!" pujinya lebay.

Waktu Kakashi mendekati mic, kelima personil Konohana mulai terlihat agak tak nyaman. Maklum, Kakashi adalah juri yang dikenal sangat pelit soal pujian. Kakashi memandang mereka tajam dengan sebelah matanya.

Kakashi menarik napas.

Konohana tegang.

Kakashi menghela napas.

Konohana kalut.

Kakashi menarik napas.

Konohana grogi.

Dan, PREEET… terdengarlah bunyi bergaung kencang di gedung olahraga tersebut. Semua mata tertuju ke arah Kakashi. Setiap orang yang ada di panggung megap-megap keabisan napas, gak usah ditanya Kurenai dan Asuma yang sangat dekat dengan sumber gas beracun tersebut.

"Pakkun!" seru Kakashi, melotot ke arah bawah bangku. Dari sana, keluarlah seekor anjing berwajah ble'e.

"Habisnya lama sekali… " sahut anjing yang ceritanya bisa ngomong itu dengan cueknya. Doi sama sekali tak merasa bersalah telah melakukan tindakan yang hampir bisa dibilang "kriminal"!

Kakashi kembali memandangi Konohana setelah interupsi tak sedap barusan.

"You, you, you, you… Go!" serunya lantang sambil menunjuk mereka satu persatu.

"G-go?"

Sakura, leader Konohana, tak menyembunyikan rasa kagetnya. Masa sih mereka diusir? Apa penampilan mereka seburuk itu?

"Go…kkaku! Lulus!" seru Kakashi ngagetin.

Sejenak kelima personel Konohana itu terdiam, gak ngerti.

"Yaaaaaaaayyyy!"

Kelima gadis itu lalu bersorak setelah loading yang rada-rada belet. Isak tangis haru pun terdengar, dan mereka saling berangkulan dan jerit-jerit ala cewek kegiles setum.

"Tunggu sebentar!"

Suara Kurenai yang khas lady rocker akhirnya keluar. Rada-rada nge-scream gitu, mirip kuntilanak mengejan.

"Kalian bukanlah pemenang dari perlombaan ini…"

Pengumuman itu lantas menyedot kebahagiaan dari pantat para personil Konohana. Apa gerangan? Mereka batal menang?

Kurenai kembali menggelengkan kepala sok prihatin.

"Kalian terlalu profesional untuk ikut dalam perlombaan…" ucapnya lugas. Sakura, Ino, Hinata, Karin dan Tenten menelan ludah.

"Oh, jangan se-kecewa itu," kata Asuma. "Kurenai berniat mengontrak kalian hari ini juga…" dia menyenggol Kurenai sedikit. "Karena itu… Kurasa kalian tidak perlu menjadi pemenang dan mendapat tiket ke festival kelas dunia!"

Tenten memberanikan diri bertanya. "Ke-kenapa? Kami sudah berlatih habis-habisan!"

"Tentu, tentu…" kata Asuma santai. "Kalian pasti akan jadi bintang tamu…"

"Bintang tamu?" kata Ino, terkesiap.

"Sungguh?" Karin mengepalkan kedua tangannya, mata di balik kacamatanya bersinar gembira.

"Ehem! Kalian akan menjadi pembuka acara Namikaze Rock Festival! Tentunya sebagai band pendatang baru di major label, bukan lagi sebagai band indie!" kata Kakashi.

"Yang benar…" Hinata yang sudah mewek – persis Neji sehabis nonton One Litre of Tears – wajahnya kini mirip air terjun Niagara. Mereka dianggap lebih dari Eternal Blaze! Dan terutama…

"Tunggu!" kata sebuah suara cempreng yang khas, intonasinya mirip jagoan kesiangan. Mendengar suara itu, Hinata menoleh ke arah anak laki-laki berambut kuning di belakangnya. Seketika asmanya mulai kumat.

"Kalau begitu pemenang perlombaan ini siapa?"

"Hmm…" Kakashi kembali pasang pose sok mikir.

"Eternal Blaze!"

"Eeeehhh?" Naruto berteriak frustasi. Sepertinya cuma dirinya yang begitu, karena pengumuman tersebut langsung disambut tepuk tangan heboh para Eternity yang kelupaan disebut.

"…dan Dattebayo!"

"EEEEEEHHHH?" kali ini kebalik, seluruh fans Eternal Blaze serempak kaget dan Naruto jerit kejer nyaris kesurupan.

Asuma menghisap rokoknya dalam-dalam.

"Bertandinglah di Namikaze Rock Festival. Disana, kalian akan tahu siapa yang layak menjadi pemenang yang sejati."

Dan… terjadilah demikian.

.

.

.

Setelah - dengan susah payah - ketiga personil Dattebayo menyeret leader mereka yang bersikeras untuk sesi "putu-putu narzis" di depan baliho Namikaze Rock Fiesta, keempat pejantan tanggung itu kembali merapat di sarang Naruto.

Semua lelah. Entah mengapa, Naruto mendadak ngamuk sewaktu dipaksa kembali seperti orang kerasukan Kyuubi. Ditawarin ramen sama Kiba, nolak. Ditawarin sup kodok sama Lee, ngamuk. Barulah ketika ditawarin arsenik sama Shikamaru, barulah cowok pirang itu diem. Ternyata bego-bego begitu dia masih bisa membedakan mana yang makanan dan mana yang karet kolor.

"Maklumilah leader kita, Shikamaru..." Kiba menepuk bahu cowok berkuncir itu pelan. Soalnya Naruto yang biasanya cerah ceria riang bahagia mendadak emo mirip seorang labil nan jauh di sana, sebut saja Sasuke Uchiha.

Ya iyalah, siapa sih yang suka ditawarin solusi bunuh diri sama sahabat sendiri? Nawarinnya serius pula! Mentang-mentang nyak babehnya Shikamaru itu orang kimia yang punya toko obat herbal #nahloh!

Shikamaru hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Memang ada yang salah dengan yang kukatakan?"

Kini ganti Lee meremas bahu Shikamaru yang bebas. Lubang hidungnya meregang, lantas keluarlah dengusan asap kembar berbentuk jamur yang mirip ledakan bom Hiroshima. Kedua alisnya yang tebal bertaut, bibirnya mengerucut membentuk kata-kata (gak) imut.

"Naruto-kun adalah rocker sejati yang berhati Hello Kitty."

Shikamaru menggaruk belakang kepalanya.

"Lho, kalian kan tadi menawarkan makanan untuknya. Kupikir Naruto suka makan apa saja..."

Kiba dan Lee saling adu pandang. Bingung, mengapa sahabat mereka yang sifatnya serupa iklan coklat SilverQueen itu bisa bicara sedingin itu. Keduanya masih bungkam saat Shikamaru meneruskan bicara.

"Aku tidak tahu kalau Naruto segitu bencinya dengan ikan, kutawari ikan arsenik saja sampai murung begitu... Nyusahin aja."

Kiba dan Lee cengok, lalu serempak jerit frustasi.

"ITU MAH ARSIK!"

Akhirnya kesalah-pahaman berakar kebolotan bassist kita tercinta ini terselesaikan dan Naruto yang tadinya hanya mau mojok sambil ngemut jempol kaki beralih ngejogrok di depan laptop. Lee yang memang dasarnya keibuan akhirnya terbang ke dapur demi membuatkan satu set nasi hainam plus gurame asam manis khusus buat anak-anak Dattebayo (no more ikan arsik, thanks!)

"Hoi Naruto, coba kau lihat ini!" Tunjuk Kiba ke satu titik di monitor dalam situs IyoTube. Disana, disamping sebuah gambar dengan samar-samar warna oranye, ada deretan kata-kata yang membuat Naruto sedikit pulih dari masa berkabungnya.

Re:member (Dattebayo Cover)
by Konoh4m4ruG4ntEngBeUdz •1 week ago •67 views

"Waaahh! Konohamaru! Kau memang kereeen!" Naruto berteriak-teriak kegirangan ala cirlider bareng Kiba. Shikamaru hanya membungkuk, menyipitkan mata curiga, menggerakan mouse, lantas mengklik link video lain. Naruto yang tidak sengaja melirik ke arah laptop saat melakukan ritual tari Harlem Shake bareng Kiba, langsung mendorong Shikamaru ke samping.

"Gi… Gimana mungkin?"

Konoha Beautiful Green Beast
by Midori Mascot •3 week ago •1.035views

Naruto menatap layar laptopnya dengan ekspresi putus asa. Disana, tampak sebuah video tengah diputar, menampakkan dua sosok yang tampangnya hampir sama persis. Keduanya berpotongan rambut jadul mengkilap, memakai baju senam ketat, serta memaju-majukan bibir yang berpulas lipstik merah jambu ke arah kamera. Video itu berlatar belakang kompilasi lagu-lagu yang cukup janggal. Sebutkanlah lagu Once Upon A Time in China, Chaiya-chaiya, sampai Banana Mango High School.

Di belakangnya, Kiba mendadak guling-guling sambil tertawa histeris, sementara Shikamaru menggaruk dagunya dengan wajah tak peduli.

"Berhenti tertawa, Kiba!" Teriak Naruto. "Ini bukan hal yang lucu – ini serius!" Meski berkata demikian, Naruto tidak lagi marah. Ia malah hampir menangis.

"Serius apa maksudmu?" Sengal Kiba. "Lihat mereka… Tak bisa dipercaya!" Ia menunjuk dua orang yang jelas-jelas Lee dan Gai-sensei dalam jumpsuit ketat yang mencetak, well, SEGALANYA.

"Coba kau lihat total view-nya… bandingkan dengan performa band kita!"

Kiba akhirnya berhenti tertawa dan berusaha mengalihkan pandangan dari dua orang gila yang kini bergoyang heboh sambil lipsync lagu Berondong Tua.

"Sudahlah, Naruto…" ia merangkul temannya dengan sikap menghibur. "Ini kan hanya tayangan di Iyotube…"

Dengan berang, Naruto mengklik page lain. Tampak sebuah video amatir penampilan band indie dengan permainan layaknya profesional. Video itu telah dilihat hampir sepuluh ribu kali. Meski rasanya pembaca sudah tahu mereka siapa, itu memang video Eternal Blaze. Yang lebih membuat Naruto kesal, video itu menampilkan performa terbaru mereka saat membawakan lagu Chizuru. Dan itu baru video yang diunggah salah satu akun dari puluhan akun Eternity di Iyotube.

Kiba menghembuskan nafas dalam sikap bosan.

"Maumu sebenarnya apa, sih? Lusa kan kita pergi ke Negara Oto, tempat lahirnya musik, dan mengikuti ajang band paling bergengsi! Kita akan mendapat kesempatan untuk membalas Eternal Blaze."

"Tidak cukup," sahut Naruto. "Aku tidak akan kalah dari Sasuke, tidak di dunia nyata maupun dunia maya!"

.

.

.

Kalau manusia punya niat yang kuat, maka jalan akan terbuka baginya.

Bagi Naruto, hari itu begitu mendukung penampilan band-nya. Cuaca cerah, burung-burung bernyanyi, penonton berkumpul… dan ada acara organ tunggal. Setelah adu urat dan nyaris saling cekik pake kabel dengan para Event Organizer, Dattebayo akhirnya diijinkan untuk ikut mengisi acara, dengan syarat, genre musiknya harus dangdut!

Awalnya Kiba menentang keras ide gila tersebut, tapi ia kalah suara karena Lee mendukung penuh. "Inilah semangat masa muda! Jangan sia-siakan kesempatan sekecil apapun itu!" seru cowok itu berapi-api. Shikamaru? Dia sih masa bodo, soalnya bass-nya dangdut kan gitu-gitu doang. Gak perlu latihan khusus, tidur juga bisa.

Maka di siang itu, dengan speaker cempreng digeber kencang, dengan sepucuk video-cam murah dipadu seonggok cameraman amatir yang tak lain tak bukan, serta satu-satunya yang sudi, yaitu Konohamaru... beraksilah keempat personil Dattebayo membawakan lagu yang seumur-umur gak pernah terpikir untuk mereka bawakan.

Iwak peyek… Iwak peyek… Iwak peyek nasi jagung

Sampe tuek… sampe tuek… Dattebayo tetap disanjung

Sepenuh hati Naruto dan kawan-kawan menghibur aneka penonton kelas jelata di depannya, mulai dari tukang sol sendal shinobi, tukang asah kunai, tukang dango keliling sampai tukang gulungan ninja. Mengajak mereka berjoget bersama, sejenak melupakan segala permasalahan yang ada. Mulai dari dagangan yang gak laku, diusir satpol PP, sampai dipalakin ninja korup.

Iwak peyek… Iwak peyek… Iwak peyek nasi gule

Sampe tuek… sampe tuek… Dattebayo tetap oke!

Gelak tawa bercampur sorakan menemani Dattebayo di penghujung siang itu. Suasananya jauh berbeda saat festival, dimana hampir seluruhnya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap para pemain. Mulai dari teknik memainkan alat musik, penampilan, vokal, sound, lighting, semua dinilai! Sedangkan sekarang Naruto baru merasa bahwa ia merasa betul-betul bebas menjadi diri sendiri. Mau suaranya kepleset dikit kek, mau lupa lirik kek, yang penting tarik mang!

Disini aku menghibur kamu menyanyi dan bergoyang bersamamu

Disini aku mengajak kamu bergembira dan bahagia selalu

Tak hanya Naruto yang menikmati, tapi Kiba yang semula meremehkan genre satu ini akhirnya larut juga. Terlihat dari gayanya memainkan Fendernya dengan choking-choking khas musik dangdut, plus gerakan patah-patah. Ini bukannya sengaja, tapi cowok sekaku Kiba mana bisa menari? Memangnya Lee, yang dengan gemulai, luwes akibat latihan gerakan "Konoha Beautiful Green Beast" bersama Gai-sensei tercinta, pamer bokong kemana-mana. Bukan saja pemandangan itu menyebabkan sebagian penonton mendadak terserang bintitan, beberapa penonton malah sudah nyiapin jamban.

Di tengah keriuhan acara tersebut, Naruto melihat satu sosok yang paling dibencinya di muka bumi. Sasuke Uchiha! Tampaknya cowok itu baru saja selesai latihan, terlihat dari tas gitar yang digendongnya. Naruto lantas mengeraskan volume suaranya lalu memutar-mutarkan tinjunya ke udara.

Iwak peyek… Iwak peyek… Iwak peyek nasi kotak…

Sampe tuek… sampe tuek… Sasuke 'palanya pitak…

Penonton serempak tertawa lalu mencari-cari Sasuke yang malang. Wajah cowok itu merah padam bagai kuah tomyam. Marah, karena dihina-dina di depan banyak orang dan semua anggota band-nya. Malu, karena memang Naruto tahu persis soal pitak di kepalanya. Bagaimana tidak? Pitak tersebut disebabkan oleh jatuhnya keduanya dari atas genteng akibat mengadu layangan sewaktu masih SD. Sasuke cukup beruntung karena pitaknya masih bisa ditutupi rambut, tapi Naruto terpaksa menyandang codet mirip kumis kucing seumur hidup karena ia terjerembab pada wajahnya.

Tidak ada yang menduga, memang, kalau kedua musuh bebuyutan itu awalnya adalah sahabat yang sangat dekat, sampai sebuah kejadian yang cukup antik memisahkan keduanya.

Seolah menegaskan bahwa konser ancur-ancuran ini tujuannya untuk menyundul posisi Eternal Blaze di Iyotube, Naruto pun membawakan berbagai lagu rakyat yang memang sangat digemari di Konoha. Semua penonton pun heboh bergoyang. Mulai dari goyang ngebor, goyang gergaji, goyang ngaduk semen sampai goyang susun bata. Setiap kali sebuah lagu selesai, tak hanya tepuk tangan yang bergemuruh, tapi juga suara pukulan pantat botol akuwa galon, denting botol beling, tiupan terompet dan dentuman meriam (ini dangdutan apa pawai tujuh belasan?)

Lagi asik-asiknya bernyanyi, tampaklah sesosok gadis yang naik ke atas panggung dan bergabung dengan cowok berambut kuning tersebut. Naruto terkesima. Apalagi ketika gadis tersebut meraih mic dari tangannya, lalu menyanyi dengan nada-nada yang familiar…

Cemungud ayangku ayo dong cemungud

Jangan takut bilang ke emak bapakmu

Naruto merasa ketiban durian runtuh. Cewek itu tak lain dan tak bukan adalah Sakura, vokalis Konohana, teman masa kecil sekaligus cinta terpendamnya! Sakura mengedipkan sebelah matanya dan melambai ke arah penonton, tak lupa ditambah gerakan-gerakan pinggul yang membuat cowok-cowok cetar bergetar bak handphone vibrate mode.

Cemungud ayangku ayo dong cemungud

Langsung kita brangcut pergi ke penghulu

Aku takut nanti kamu kepincut sama yang imut-imut...

Ketika acara akhirnya reda dan panggung pun dihujani buah-buah lemon, Sakura tersenyum ke arah Naruto.

"Kuharap kau akan berjuang di Oto Gakure," ucapnya seraya berbalik mau pergi.

"Sa… Sakura-chan!" panggil Naruto.

"Te-terima kasih… sudah menyanyi bersamaku…" ucap cowok itu, kepalanya tertunduk. Tampaknya ia terlalu malu untuk bicara dengan gadis cantik itu. Apalagi setelah aksi "jelata"nya barusan.

Sakura tertegun, lalu berlari sambil berteriak.

"Tadi itu menyenangkan sekali, Naruto!"

Naruto menatap kepergian Sakura yang dilatar belakangi langit sore. Ia merasa luar biasa bahagia sekaligus keren. Seandainya ini adegan canon, suasananya hampir sama seperti ketika Naruto pertama kali dinobatkan menjadi ninja.

Tidak jauh dari tempat itu, Sasuke yang menyaksikan semuanya akhirnya berbalik, berjalan linglung dalam sebuah gang. Tubuhnya mendadak terasa lemas. Ia menutup matanya dan tanpa sadar tinjunya menghujam tembok di sampingnya. Namun hatinya hanya menjeritkan sebuah kata.

"Mengapa?"

.

…To Be Continued…