Title: How it can beナイトメア?

Author: ZPBellani

Fandom: うたの プリンスさま

Disclaimers: うたの プリンスさま belongs with Broccoli. This fanfic belongs with ZPBellani.

Rated: T

Genre: Fantasy

Summary: "Kau berisik sekali, sih, Otoya! Apa kalau kau menjadi seorang perempuan kau akan lebih pendiam?!" ‖ Apakah yang akan terjadi jika Otoya benar-benar berubah menjadi perempuan? ‖ fem!Otoya Ittoki

Note: Tulisan miring untuk flashback dan kata yang ditulis bukan dalam bahasa Indonesia.

Warning: Gaje!

.

.


"Hyuuga-sensei!"

Ryuuya Hyuuga, yang merasa dipanggil menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa, Ichinose?" tanyanya dengan sebelah alis yang terangkat, tak menyangka salah satu anak muridnya memanggilnya di koridor sekolah.

"Tsukimiya-sensei dimana? Saya ada perlu dengannya."

"Kenapa malah nanya ke aku?" ucap Ryuuya balik bertanya dengan kesal.

"Hyuuga-sensei 'kan sahabatnya, makanya saya bertanya pada sensei," jawab Tokiya Ichinose cepat. "Jadi intinya, Tsukimiya-sensei mana?"

Ryuuya menghela nafas. "Ikuti aku."


Chapter 7: WHAT HAPPENED IN THE PAST?


"Woy, Ringo!" panggil Ryuuya sambil mengetuk sebuah daun pintu bercat putih dengan tidak sabaran.

Pintu perlahan-lahan terbuka, menampakkan sesosok pemuda berambut merah pendek dengan wajah merah. "Ada apa, Ryuuya? Aku sedang sakit, tak bisakah kau mengetuk dengan lebih manusiawi~?" ucapnya dengan suara serak yang sangat pelan, hampir tak terdengar malah.

Ryuuya menunjuk ke arah Tokiya tanpa bicara sepatah kata pun.

Ringo memandang Tokiya dengan pandangan bingung. "Ada apa, Ichinose?" tanyanya sambil mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk. Tak enak 'kan kalau bicara atau pun mengobrol di depan pintu.

"Tsukimiya-sensei, saya hanya ingin memberitahu kalau Otoya belum bisa mengikuti pelajaran," ucap Tokiya menyampaikan alasan kedatangannya.

Wali kelas A CLASS itu terlihat terkejut. "Dia masih sakit?" tanyanya khawatir. Bagaimana tidak khawatir saat mengetahui salah satu anak didiknya sudah jatuh sakit selama seminggu ditambah tekanan mental dan juga tekanan fisik yang dialami Otoya Ittoki karena secara tiba-tiba berubah menjadi perempuan sejak enam bulan lalu. "Seperti apa keadaannya? Suhu tubuhnya masih tinggi 'kah?"

Tokiya mengangguk singkat. "48 derajat tadi pagi," ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Wajahnya juga sangat merah dan ia sulit bernafas."

"Begitu 'kah?" Ringo menghela nafas berat.

Ryuuya berbisik pelan pada Ringgo. "Sepertimu saat itu," ucapnya berusaha sepelan mungkin agar tak terdengar oleh muridnya.

Ringo mengangguk setuju dengan mata birunya yang bersinar semakin redup. Pikirannya agak berkabut karena mengingat kejadian yang pernah menimpanya (juga) beberapa tahun yang lalu. "Kuharap ia baik-baik saja."

"Dia pasti akan baik-baik saja," ucap Ryuuya lembut menenangkan, masih dengan suara yang sangat pelan setengah berbisik.

Merasa kehadirannya diabaikan, Tokiya berdehem cukup keras, berusaha menyadarkan kedua gurunya atas kehadirannya. Ia masih berdiri disana sejak tadi, tapi demi apa kedua gurunya justru asyik berbisik-bisik di depannya. Menggosip 'kah? Jadi para guru di Saotome Academy hobi menggosip, nih?

"Y-ya?" Ringo-lah yang pertama kali tersadar.

Dengan pandangan mata menyelidik nan kepo, kedua mata hitam Tokiya menatap kedua gurunya secara bergantian. "Kalian membicarakan apa?" tanyanya, sangat penasaran yang tersamar.

Ryuuya menghela nafas sebelum mulai menjelaskan. "Sebenarnya.."


KRIIEEETT

"Tadaima," ucap pemuda kelahiran 6 Agustus itu sambil memasuki kamarnya. Tokiya langsung duduk di pinggiran kasur Otoya dengan telapak tangannya yang menyentuh dahi teman sekamarnya itu. 'Suhunya masih sangat panas,' batinnya khawatir.

Mata Otoya terbuka perlahan, menampakkan rubi merah yang mewarnai kedua bola matanya. "To-Tokiya?!" ucapnya kaget. 'Sejak kapan dia ada disini?' tambahnya dalam hati, dipenuhi tanda tanya.

Mereka terdiam di dalam keheningan dalam waktu yang cukup lama, hanya detak jam yang suaranya terdengar. Membiarkan keduanya sibuk dalam pikiran mereka masing-masing, hingga-

"Tadi aku sudah bilang ke Tsukimiya-sensei."

-Tokiya Ichinose buka suara.

"Sokka (1)?" perempuan berambut merah itu tersenyum lega. Melirik teman sekamarnya dan tersenyum manis. "Yokatta! Sankyuu, Tokiya (2)!"

"Hn."

"Umm.. Tokiya, aku sudah berpikir.." ucap Tokiya pelan. Mata merahnya yang biasanya selalu cerah dipenuhi keceriaan, kini berubah gelap. Semua dapat membaca perempuan penyuka musik itu, putus asa. "Mungkin aku tidak bisa kembali menjadi laki-laki lagi. Mungkin.." Ia berhenti sejenak, bernafas pendek-pendek. Matanya yang bagai kehilangan cahayanya, mulai berkaca-kaca. "Mungkin.. Umm.. Mungkin aku harus terbiasa menjalani hari-hariku sebagai perempuan."

Tokiya mengerutkan keningnya, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. "Maji de (3)?" tanyanya.

Otoya mengangguk tak yakin dan hanya menjawab dengan gumaman. "Umm.."

"Padahal aku mendapatkan informasi yang penting,"ucap Tokiya sambil berdiri, berjalan menuju meja belajarnya. Memunggungi Otoya yang masih terbaring di tempat tidur. Tangan Tokiya meraih salah satu buku di rak bukunya. Dibukanya buku musik tersebut dan mulai membaca.

"Informasi apa?" tanya Otoya bingung. Ia mulai tertarik dengan informasi yang baru didapatkan teman sekamarnya. Tapi bukannya menjawab, Tokiya justru mengacuhkannya, membuat perempuan A CLASS itu mengerucutkan bibirnya kesal. "Informasi apa?"

Tokiya masih mengacuhkannya.

"Oishiete kure yo (4)~" pinta Otoya.

Tokiya tetap mengacuhkannya.

"Oishiete kure yo~ Oishiete kure yo~ Tokiya, informasi apa?" Otoya mulai berbicara dengan cerewet seperti biasa ditambah suaranya yang agak tinggi. Karena kesal, ia menimpuk pemuda berambut biru gelap (hampir hitam, malah-) yang mengabaikannya dan mengacuhkannya sejak tadi menggunakan pick gitarnya. "Oishiete kure yo, Tokiya~"

Tokiya menoleh dan dengan ekspresinya saat memainkan peran sebagai HAYATO, terdengar suaranya yang ceria dan menyebalkan berkata, "Pengen tahu banget atau pengen tahu aja?"

Bibir Otoya mengerucut lagi. "Hidoi yo (5)!"

Suara tawa terdengar samar-samar. Oh, apakah si pendiam Tokiya baru saja tertawa?

"Oishiete kudasai, Tokiya~" pinta Otoya memelas.

"Sebenarnya.."


Ryuuya menghela nafas sebelum mulai menjelaskan. "Sebenarnya sebelum terjadi pada Otoya, sudah pernah ada yang tertimpa masalah ini."

"Maksud sensei?" tanya Tokiya tidak mengerti arah pembicaraan mereka.

"Perumabahan gender secara tiba-tiba. Orang itu adalah.." Ryuuya melirik Ringo singkat. ".. Tingo Tsukimiya."

Efek kilat dan petir terlihat di belakang Tokiya. "Tsu-Tsukimiya-sensei?"

Ringo menunduk. "Umm," jawabnya sambil mengangguk kecil. Hela nafas keluar dari celah bibir sang wali kelas A CLASS. "Aku pernah merasakannya, dua setengah tahun berubah menjadi perempuan. Ada sebuah mitos yang mengatakan, jika ada seorang pangeran yang dikutuk menjadi kucing dan kucing tersebut ada di Saotome Gakuen, maka salah satu murid disini akan berubah gendernya secara tiba-tiba. Mitos tersebut tersebar di kalangan murid-murid selama bertahun-tahun. Banyak yang percaya, banyak yang tak percaya, dan banyak juga yang tak peduli." Idol bergender laki-laki tersebut menarik nafas dalam-dalam. "Dan saat itu, aku termasuk golongan murid yang tak mempedulikan mitos-mitos seperti itu. Apalagi saat itu aku baru saja menjadi murid di sekolah ini selama dua bulan.

"Pada suatu malam, aku yang sedang dibuat bingung oleh pr musik, memilih untuk berjalan-jalan mencari udara segar di luar kamar. Ku langkahkan kedua kakiku ke taman sekolah dan tanpa kusadari, aku sudah ada di depan danau. Keadaannya gelap dan dingin, tetapi sinar bulan sangat terang sehingga aku bisa melihat seseorang berdiri di atas jembatan. Hahaha…Samar-samar, sih, tapi aku yakin ada yang berdiri disana.

"Aku berlari ke arahnya. 'Apa ia mau melompat?' pikirku bingung. Aku sangat khawatir kalau sampai orang tersebut melompat ke danau sekolah yang cukup dalam. Aku tak ingin melihat ada orang yang bunuh diri di depan mataku secara langsung. Tanpa piker panjang, kutarik lengannya agar ia menjauh dari tempat itu. 'Kau tak sayang nyawa apa? Masa' mau lompat ke bawah sana?! Kau pikir kau itu immortal?!' ucapku cepat, dengan nada yang sedikit meninggi. Ya, aku memarahinya.

"Tapi ia justru tersenyum dengan helaian rambut cokelatnya yang bergerak-gerak tertiup angin. 'Kamu orang yang baik,' ia berkata dengan ramah. 'Sebagai hadiah, kamu akan sedikit kuubah. Bagaimana kalau kamu melihat dari dua sisi?'

"Aku mengerutkan kening tak mengerti. Selanjutnya terlihat samar-samar untukku hingga, aku kehilangan kesadaran sepenuhnya. Aku terbangun di kamar keesokan paginya, dalam bentuk perempuan, tentu saja," kata Ringo mengakhiri ceritanya. Ia tertawa. "Aku masih ingat saat Ryuuya berteriak kaget saat terbangun di pagi itu dan melihatku yang tertidur dalam sosok perempuan."

Ryuuya memutar bola matanya, bosan. Sedangkan Tokiya terlihat belum mengerti inti dari cerita panjang itu. "Jadi alasan sensei berubah?"

"Entahlah," jawab pria berambut merah muda itu ikut bingung. Ia tersenyum. "Kucing itu suka mengubah orang-orang yang membantunya, rumornya, sih, begitu."

"Kucing kurang kerjaan," desis Ryuuya menghina.

Ringo tertawa mendengar komentar sahabatnya. Komentar yang sejujurnya sudah ia dengar ratusan kali keluar dari mulut wali kelas S CLASS tersebut. "Tapi kucing itu baik, kok. Ia juga senang membantu," ujar Ringo membela.

"Lalu bagaimana cara berubah kembali?" tanya Tokiya lagi.

"Aku lupa~" jawab Ringo malu. "Maaf, aku benar-benar lupa."

Ryuuya buka suara, menjawab pertanyaan yang diajukan Tokiya. "Ia sempat sakit sebelum kembali menjadi laki-laki. Menderita penyakit yang sama dengan yang menyerang teman sekamarmu saat ini. Wajah memerah, suhu panas yang tinggi, sulit bernafas, lemas, dan terus menerus memuntahkan apa pun yang ada di lambungnya, sekalipun ia tak makan apa pun." Wajah Ringo memerah.

"Berarti sebentar lagi kutukan itu berakhir?"

Ringo menggeleng. "Kamu harus menemukannya terlebih dahulu.


Otoya mendengarkannya dengan antusias. Informasi tadi bagaikan dongeng pengantar tidur yang dahulu sering diceritakan oleh para pengurus panti asuhan tempatnya bernaung saat masih kecil. "Wah! Jadi Ringo-sensei juga pernah berubah, ya? Jangan-jangan itu salah satu alasannya sering bercrossdress," ucapnya ceria. Semangatnya sudah kembali 1000%, seperti biasanya.

"Hn."

"Umm… Tentang kucing itu.." Otoya terdiam cukup lama, tak yakin untuk melanjutkan. "Apakah kucing itu si Kuppuru, ya?"

"Kuppuru?"

Otoya mengangguk. "Itu, lho, kucing hitam yang ditemukan Haruka. Tapi aku tak ingat pernah menolong kucing itu," ujarnya berubah bingung. "Lagipula, Haruka 'kan lebih sering menolong kucing itu, tapi kenapa justru aku yang berubah?"

"Mitosnya, hanya laki-laki yang diubah oleh kucing itu," balas Tokiya sambil menutup buku musiknya.

Otoya terdiam dalam kebingungan. 'Tapi 'kan aku tak pernah menolong kucing itu. Kenapa aku berubah menjadi perempuan?' pikirnya bingung sebelum menjatuhkan diri ke alam mimpi.


TO BE CONTINUE


CATATAN:

(1) Sokka: Begitukah?

(2) Yokatta! Sankyuu: Syukurlah. Terima kasih.

(3) Maji de: Kamu serius?

(4) Oishiete kure / Oishiete kudasai yo: Ayolah, beritahu aku. *pasang tampang kepo*

(5) Hidoi yo: Kejam

A/N:

Ketika malam Senin lalu aku membaca chapter 5 manga UtaPri, aku jadi merasa.. err.. gimana, ya, ternyata pesta dansa sudah ada secara official di manga-nya. Aa.. Jadi merasa seperti mencontek~ Ideku dangkal sekali~ *mulai galau* T.T Tapi beneran, deh, aku nggak sengaja (lebih tepatnya baru tahu kalau chapter 5 manga UtaPri sudah ada).

Oh, iya.. chapter kali ini memang banyak flashbacknya. Saya sedang berusaha agar cerita ff ini semakin terarah, karena dari beberapa chapter lalu ceritanya kemana-mana. Hahaha.. *ketawa awkward* Umm.. Beberapa bahasa Jepang yang kugunakan itu kudapat setelah kegiatan (?) J-Club hari Selasa kemarin dan aku ingin mencoba untuk mempraktikan kosakata gaul ala Jepang itu. *nggak ada yang nanya*

Untuk Gale, gimana cerita di chapter kali ini? Hahaha..

Semoga chapter kali ini tidak ancur~