Walapun sudah 5 tahun kenal dengan Jung Yunho. Namun Jung Yunho belum mengenal dirinya.
Namun, bagaimana kalau tiba-tiba Yunho berbuat baik dengannya,
dan mengatakan..
"…aku menyayangimu.."

..

..

A screenplay Fic,
KishiZhera present :

HUG

..

Disclaimer : Jung Yunho memiliki hak penuh atas istrinya, Jung Jaejoong!
Main Chara : YUNJAE

Warning : Fluff puoollll~~~! BL! Banyak adegan lovely dovey dan juga adegan romantis antara umma dan appa,

..

..

HAPPY READINGGG!

..


..

"Mi-mianhee…"

"Arrgg! Kau ini kalau punya mata! Pakai dong! Aisshh.. bajukuu…"

"Mi-mian.."

Lagi-lagi namja itu harus menunduk-nunduk meminta maaf, seketika setelah ia menabrak seorang yeoja yang berpapasan dengannya di koridor sekolah. Dia menunduk-nunduk semakin dalam, menyadari nada bicara yeoja yang dia tabrak tadi, semakin meninggi.

"Mian.. tidak akan aku ulangiii…." Jaejoong berteriak keras, setelah yeoja yang tidak sengaja dia tabrak tadi, sudah menjauh darinya.

Segera, dia jongkok dan memunguti bukunya yang berserakan hingga ke kolong rak sepatu di kelas 12B. tangannya mengambil satu-persatu buku itu. Dia sedikit lebih merendahkan tubuhnya ketika mencoba merogoh buku yang terlempar sampai di kolong rak sepatu.

"Aishh.. jauh sekali…." racaunya.

"Kau.."

DEG!

DUAAKK…

"Apppooo~~.." reflek Jaejoong mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang berbicara. Bukannya dia sebagai seorang yang anti sosial. Hanya saja dia terlalu malu untuk menatap orang lain. Itulah kenapa dia mengangkat kepalanya dan ingin segera pergi dari tempat itu ketika mendengar seseorang menyapanya.

Namun naas, kepalanya terantuk rak sepatu yang atasnya lebih menjorok ke depan.

Dan sekarang, dia hanya bisa duduk bersila sambil memegangi kepalanya yang sepertinya akan benjol besar di daerah belakang.

"Mi-mian.." seseorang yang tadi menyapanya, terdengar gugup. Tidak mengira akan mendapatkan reaksi seperti itu.

Jaejoong masih menunduk, "G-gwanca-nayo.." lirihnya sambil berusaha membenahi kaca matanya. Tangan kirinya tetap memunguti buku dengan asal dan tangan kanannya meraba-raba mukanya untuk membenahi kaca mata.

Namun, hampa..

"Eh? Di-dimana?"

Astaga!

Kacamatanya terjatuh. Aisshh.. dia merutuki kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa?

Namja yang barusaja datang tadi, tampak memperhatikan Jaejoong yang meraba-raba lantai di sekitarnya untuk mencari sesuatu. Lalu pandangannya melayang pada sebuah kacamata ber-frame hitam, tergeletak tidak jauh dari sepatu Jaejoong.

Dia tersenyum lembut, walapun tahu kalau Jaejoong tidak akan bisa melihat wajahnya.

Segera, Yunho mendorong bahu Jaejoong pelan, agar terlentang di tempatnya bersila. Kemudian, dia juga memungut kacamata Jaejoong dan duduk jongkok diantara pinggang ramping si Kim muda. Tidak ada pemberontakan disana. Semuanya berjalan lembut.

Sejenak, dia kembali memasang tersenyum. Menyadari betapa cantik wajah di bawahnya ini.

"Mencari ini?" dia mengangkat kaca mata Jaejoong.

Segera, tangan Jaejoong menggapai-gapai udara untuk mengambil kacamatanya. Namun, semua yang namja cantik itu lihat, terlihat blur di dalam matanya.

"Jeb-bal.. b-berikan…" pintanya dengan suara yang pelan. Dia kemudian menutup matanya dan terisak pelan, "Hiks.. b-berikan.."

Sebuah air mata jatuh dari sudut mata kanannya.

Jung Yunho, namja yang menindihnya sekarang, menjadi sedikit merasa bersalah. Dengan lembut, dia mengusap air mata Jaejoong dengan jari-jari tangannya. Tak ketinggalan, jemari lentiknya menyingkirkan pony Jaejoong yang terlampau panjang, untuk seorang namja.

Dan sekarang semakin jelas terlihat, betapa cantiknya Kim Jaejoong.

Lagi-lagi Yunho tersenyum lalu menghindar dari tubuh Jaejoong dan menarik Jaejoong untuk kembali duduk. Suasana menjadi hening seketika. Memang hanya ada mereka berdua saja dan beberapa pengurus OSIS di dalam kelas 12A yang sedang rapat.

Tangannya mengusap-usap kacamata Jaejoong, bermaksud membersihkannya. Namja cantik di depan Yunho itu malah menunduk semakin dalam, walaupun sudah tidak terisak. Yunho segera mengangkat wajah Jaejoong dan memakaikannya kaca mata ber-frame hitam itu.

Dia terkekeh pelan, "Jangan menangis ne.."

Jaejoong tampak gelagapan membenahi kacamatanya sendiri. Lalu sedikit melirik dari arah ponynya yang kembali turun, untu mengintip wajah Yunho.

Doe eyes-nya sontak membulat. Dadanya mendadak berdegup semakin kencang. Dia segera meraup semua bukunya dan berdiri tiba-tiba. Yunho yang memandanginya, ikut berdiri di depan Jaejoong.

Jaejoong menunduk. Wajahnya sudah memerah hebat. Dia membungkukkan badannya sekali dan berjalan, hendak meninggalkan Yunho. Namun dengan cepat, bisepnya dicekal oleh pergelangan tangan Yunho. Dia berhenti di tempatnya.

Yunho kembali terkekeh pelan, "Jangan marah ne? aku menyayangimu.." Yunho melepas cengkraman tangannya dan Jaejoong segera berlari menjauh.

Tap.. Tap.. Tap..

BLUSHHH…

Apabila Tuhan mengijinkan, maka Jaejoong memilih untuk pingsan saat itu juga. Dia duduk berjongkok, dengan punggung menempel di pagar tembok sekolah. Wajahnya sangat memerah. Segera dia melepas tas punggungnya dan memasukkan semua buku-bukunya dan segera meraba keningnya sendiri.

Kembali wajahnya memerah hebat, "Apa aku sedang panas?"

Dia menampar pipinya, "Aku pasti bermimpi.."

Jaejoong menggeleng-geleng hebat. Berusaha menepis perkataan Jung Yunho yang semakin berputar-putar di dalam otaknya. Ditambah wajah tampan Yunho yang tadi sempat sangat dekat dengannya.

Aiishh..

Kalian tahu? Jung Yunho itu pangeran di sekolah. Seorang kingka. Seorang tenar yang menjabat sebagai ketua tim basket sekaligus ketua satu di dalam OSIS. Juga seorang yang sudah berpengalaman untuk menyabet juara umum. Terlapu sempurna bagi…

…seorang Kim Jaejoong.

"Yaaa…."

Sudah sejak 5 tahun yang lalu, Jaejoong selalu memandangi Yunho. Selalu mengikuti kemana Yunho akan melanjutkan sekolah. Dia juga selalu berusaha mencari barang yang sedang Yunho sukai. Jaejoong juga selalu berusaha datang ke tempat pertandingan basket Yunho, walapun sudah dilarang oleh umma-nya karena tubuhnya yang lemah.

Namja cantik itu kembali membenahi kacamtanya. Sudah sore. Dan tidak ada tanda-tanda akan seseorang yang hendak menjemputnya dari sekolah. Dia mendesah kesal. Tadi pagi umma-nya berjanji akan menjemput pukul 05.00 sore. Dan sekarang sudah pukul 05.40.

Dimana umma-nya, tuhan?

Jaejoong mengubah posisinya menjadi berdiri dan bersandar pada pagar tembok di belakangnya. Pandangannya menunduk ke bawah. Sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya walau satu derajatpun.

Kakinya menedang-nendang kecil, kerikil di depan sepatunya. Pikirannya kembali dipenuhi oleh seseorang. Ya.. Jung Yunho.

"Belum pulang?" seseorang kembali menyapanya.

Segera, dia mendongakkan kepalanya dan menoleh ke samping kanan.

"J-Jung.." matanya membelalak lebar dan lidahnya seolah kelu. Bagaimana tidak? Seorang Jung Yunho bahkan berusaha mengajaknya berbicara, setelah hampir 5 tahun, dia hanya bisa memandangi namja Jung itu.

Yunho tersenyum. Dia sedikit melambaikan tangannya pada Jaejoong, "Anneyong.." sapanya.

Jaejoong bertambah gugup, "An-…. nyong…" segera, dia kembali berjongkok di bawah.

Yunho terlihat mengangkat sedikit alisnya, bingung. Dia sedikit menarik celana panjangnya keatas, dan segera ikut berjongkok bersama Jaejoong.

Wajah kecilnya terus saja memandangi wajah Jaejoong yang semakin memerah hebat. Kemudian dia tertawa kecil.

"Kenapa tidak pulang?" tanyanya berbasa-basi.

Jaejoong menggeleng-geleng pelan, "Be-belum dijemput.."

"Di.. jemput?"

Jaejoong mengangguk.

Yunho menghela nafasnya. Lalu pandangannya beralih pada jalanan di depannya yang mulai sedikit berkurang kuantitas penggunanya.

"Kenapa tidak naik mobil atau motor sendiri?"

Kembali Jaejoong menggeleng, "Ti-tidak boleh.."

"Kenapa?" Yunho semakin tertarik untuk berbicara dengan namja cantik di sampingnya ini. Bahkan badannya mulai sedikit menjorok pada Jaejoong.

"Kenapa apanya?" Jaejoong mulai berani melirik Yunho.

"Kenapa tidak boleh?"

Si Kim itu kembali membuang mukanya, "T-takut.."

"Mwooo? Hahahaha…."

Dengan pelan, Jaejoong memukul pundak Yunho pelan, "Ya! J-jangan tertawa.."

"Ah! Ahahaha… mian-mianhee.." Yunho memegangi perutnya.

"Aku juga dijemput.."

"Eh?"

"Iya.. aku juga dijemput.. jadi nunggunya sama-sama aja, ne?" dia tersenyum ke arah Jaejoong.

"Eh? Kenapa tidak menunggu di dalam saja?" Jaejoong bertanya, penasaran.

"Kenapa harus menunggu di dalam? Sementara ada malaikat yang menunggu di sini?" dia meringis kecil, membuat wajah Jaejoong semakin memerah hebat.

"Yaa.."

Jaejoong mempoutkan bibirnya lucu. Yunho segera menjulurkan tangannya dan merengkuh pundak Jaejoong untuk memeluknya.

GREPP..

"Eh.."

Keduanya semakin dekat. Yunho masih senyum-senyum tidak jelas, sementara Jaejoong semakin menundukkan wajahnya yang masih berwarna merah padam.

Sampai, sebuah klakson mobil menginterupsi keduanya. Jaejoong langsung berdiri tiba-tiba karena terkejut. Sedangkan Yunho meringis kesakitan karena tangannya menatap pagar tembok dengan keras saat Jaejoong menghentakkan badannya untuk berdiri.

"Issshh…"

Poor Yunho~

Jaejoong membalik badannya untuk menatap Yunho, "A-aku.. pulang dulu.." katanya menunduk dan segera berlari ke arah mobil putih yang terparkir tidak jauh di depan mereka berdua. Mobil umma-nya di seberang jalan.

Yunho mengangguk sekenanya, "Ne.. iye'..Hati-hati dijalan.." salamnya, kemudian Jaejoong menghilang di dalam mobil.

Namja Jung itu berdiri dan membersihkan celananya. Kemudian berjalan masuk ke dalam arena sekolah. Tak lama, sebuah mobil audy hitam, keluar dari gerbang sekolah..

..dengan seorang..

..Jung Yunho, didalamnya.

Dari dalam mobil Jaejoong, dapat terlihat dengan jelas, Yunho yang menggunakan kaca mata ber-frame hitam, sama persis seperti milik Kim Jaejoong.

Namja Jung itu, menyadari sedang dipandangi oleh seseorang.

Dia menolehkan kepalanya ke arah mobil Jaejoong dan tersenyum, serta tangannya membentuk tanda V, sebelum akhirnya dia berlalu bersama mobil lainnya.

Buru-buru Jaejoong menutup jendela mobilnya dan segera menunduk untuk menyibukkan diri dengan tab yang sedari tadi dia pegang. Umma Kim hanya terkekeh pelan, "Aigooo.. anak umma sudah besar rupanya.."

Jaejoong terpaksa mendongak, "Um-ummaa!"

"Iya.. iya.. umma tahu.. jangan mencampuri urusan pribadi Kim Jaejoong.." Umma Kim kembali terkikik pelan kemudian menjalankan mobil putihnya.

Jaejoong menyandarkan punggungnya pada jok mobil. Dia menoleh ke arah jendela, dan memandang ke luar kota Seoul di malam hari.

"Dia.."

".. berbohong untuk menemaniku.." lirihnya, membuat sang umma kembali tersenyum.

..

..

..

TBC~

..

..


PS ::

"..terkadang, aku berfikir kalau Yunho-appa itu terlalu suka menggoda jae-umma.."


..

WWAAAAA…

Mian-neee semuanya! Aku belum bisa update fic NO KISS chap 8. Sumpah, saya mulai mood swing sama itu. Tapiiiiiiiiiiiiiii… fic itu g akan dis continue kok. Tetap saya lanjuitn, meskipun kurun waktunya sedikit lama.

Ok, ini fic baru. Terserah sih. Sebenernya hanya untuk pelampiasan karena g bisa n g boleh nulis fic rated M dulu…

Oh ya, baru inget. Aku mau minta saran. Di NO KISS itu, seharusnya ntar aku buat Wonwon suka sama Yunho apa Jaejoong? Kudu dijawab. Soalnya aku juga bingung..

Ya.. semua terserah reader.


Bocoran chap depan ::

Jaejoong kembali memainkan tut's piano di depannya.

"..feel so deep inside~.."

"No body can't stop me to say…"

Dia berhenti sebentar. Jemarinya juga ikut vakum. Pandangnnya menoleh ke arah Yunho yang sedari tadi terus saja menatapnya. Dia tersenyum canggung.

Wajah namja cantik itu sedikit memerah. Jemarinya kembali menjamah tut's piano dan menarik nafas pelan.

..

"I love you~.. uuu..hmm~.."


..

KEEP OR DEL?