Lagi-lagi! Fic baru di saat yang lain belum update! -_- #janganditiru

Yah, hanya sekedar filler di antara update-an fic saya deh... ide ini soalnya... tiba-tiba muncul waktu saya lagi di pesantren... dan sudah nyaris meluap, keburu ilang, sayang~ Yasud, Enjoy!

Eniwei, mohon maaf lahir batin ya!


.

Our Anniversary

by ariadneLacie

.

Disclaimer
BLEACH by Kubo Tite

.

Warning : AU, OOC, Don't Like? Review and tell me what's on your mind! XD

.


- Satu


Kanvas langit yang semula berwarna biru cerah kini mulai dihiasi dengan semburat-semburat jingga, menandakan senja akan segera datang. Matahari mulai bergulir ke ufuk barat, mempersiapkan salam sampai jumpanya. Bersiap menarik tirai malam untuk menggantikan tirai siang. Dan semua pemandangan langit yang lebih indah dari lukisan mana pun itu, terpantul dengan jelas di sepasang bola mata beriris amethyst, yang sedang memandangnya dari salah satu balkon sebuah cafe.

Sementara di seberang si pemilik bola mata beriris amethyst, duduklah seorang pemuda dengan bola mata beriris hazel. Sosok sang perempuan amethyst tersebut terpantul jelas di bola mata hazel tersebut, dan si pemuda menafsirkannya sebagai salah satu makhluk tercantik yang pernah ada di dunia ini. Yang paling cantik, malah.

"Jadi..."

Si perempuan angkat bicara, memecahkan keheningan yang tercipta sejak mereka menghabiskan Matcha Ice Cream mereka. Si pemuda yang sejak tadi hanya terdiam menarik napas lega, akhirnya suasana canggung berhasil dicairkan.

"Ya...?"

"Karena aku memanggilmu, Ichigo, sudah pasti ada yang ingin aku bicarakan, ya," ucap si perempuan kalem. Dari kalimatnya, sepertinya ia sengaja ingin membuat si pemuda yang ia panggil Ichigo tegang.

"Hmm. Menarik sekali, Rukia. Apa itu?" balas Ichigo, tidak mau kalah.

"Kau tahu, ini hari Anniversary kita, kan? Yang ke 40, lagi," lanjut si perempuan, yang dipanggil Rukia oleh Ichigo.

"Lalu?"

"Aku bosan dengan tanggal ini."

Hening kemudian. Sebuah kalimat yang berisi lima kata tersebut diucapkan dengan sangat jelas dan yakin oleh Rukia. Membuat Ichigo speechless. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bosan? Apa maksudnya? Ia minta putus?

"Apa... maksudmu?" tanya Ichigo hati-hati. Rukia hanya menarik napas dalam, lalu memandang kedua mata Ichigo serius.

"Jadi, Ichigo, aku ingin tanggal Anniversary yang lebih bagus. Jadi aku minta kita putus sekarang, tapi kau harus tembak aku lagi ya?" jawabnya tegas. Ichigo menganga mendengar hal ini. Pacarnya memang benar-benar gila.

"Hah? Jangan gila kau, Rukia!" protes Ichigo.

"Oh ya, jangan lupa metode nembaknya juga harus unik ya! Kalo ngga aku ga akan terima kau lagi!" jawab Rukia, seperti tidak menghiraukan protesan Ichigo.

"..." Ichigo semakin ternganga.

Rukia tertawa pelan, sebuah tawa kemenangan. Setelah itu ia menarik keluar selembar uang dari dompetnya, lalu menaruhnya di atas meja. "Diam pertanda iya. Baiklah, tuan Kurosaki Ichigo. Kau bukan pacarku lagi... untuk sementara."

Ichigo masih terdiam dan ternganga. Dirinya terlalu shock untuk dapat merespon apa pun. Rukia memang sering jahil, tapi ini pertama kalinya... ia jahil dan meminta mereka untuk putus?

"Oh ya, ini uang untuk Matcha Ice Cream-nya. Karena aku yang mengajakmu keluar hari ini maka aku yang bayar." Rukia berceloteh sambil membereskan barang-barangnya. Lalu ia pun bangkit berdiri, dan menepuk-nepuk kepala Ichigo. "Sampai jumpa lagi, tuan!"

Dan sebelum Ichigo sempat merespon apapun (lagi) Rukia melengos, meninggalkan Ichigo yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Karena apa yang dipikirkan Ichigo saat ini adalah. Apakah ia tidak salah memacari orang, selama 40 bulan ini?

.

.

.

Keesokan harinya, Ichigo datang ke sekolah dengan tidak bersemangat. Semalaman ia nyaris tidak tidur, memikirkan Rukia. Apakah pacarnya itu bercanda? Tunggu, sepertinya ia tidak bisa menyebutnya sebagai pacar lagi sekarang...

"Hai, Ichigo! Lesu nih? Kenapa? Kemarin kan kau baru Anniversary yang ke-40! Selamat ya!" Renji, sahabat sekaligus teman sebangku Ichigo langsung merangkulnya begitu ia melihat sosok Ichigo yang sedang lesu di depan kelas.

"Aku... aku baru putus kemarin, Renji," jawab Ichigo, semakin lesu. Ia meletakan penghapus papan tulis yang sedari tadi digunakannya untuk menghapus papan tulis yang sebenarnya sudah bersih. Setelah itu ia berbalik dan bersandar ke papan tulis tersebut. Sementara Renji, hanya menganga tidak percaya.

"APA KATAMU? APA YANG TERJADI?" seru Renji histeris. Ichigo menggeleng lemah.

"Tidak... tahu..."

"CERITAKAN!" Renji memaksa sambil mengguncang-guncang badan Ichigo.

"Argh! Baik, baik! Hentikan itu! Kau membuatku pusing!" protes Ichigo sambil menyingkirkan tangan Renji. Ia pun menarik napas dan mulai bercerita.

"Jadi... kemarin Rukia mengajakku untuk makan di sebuah cafe. Padahal biasanya ia nyaris tidak pernah mengajakku duluan, loh. Karena itu aku sangat senang. Apalagi kemarin kan hari Anniversary kami. Jadi aku pun langsung pergi dengan ekspektasi tinggi."

Renji manggut-manggut, mengisyaratkan bahwa ia memberi perhatian pada perkataan Ichigo. Ichigo pun melanjutkan,

"Semuanya berjalan seperti biasa. Sampai di sore hari. Di saat kami sudah terdiam memandang senja cukup lama... Rukia tiba-tiba berkata... bahwa ia bosan dengan tanggal Anniversary kami... ia ingin yang baru... dan ia minta putus dan agar aku menembak lagi dengan metode yang unik! Bukankah itu alasan yang tidak logis?" seru Ichigo sambil menjambak rambutnya. Mulut Renji membentuk huruf O, seperti menyadari sesuatu.

"Err... Ichigo... kurasa aku tahu penyebabnya," kata Renji pelan-pelan. Ichigo menoleh cepat.

"APA?"

"Jadi..."


Flashback.

2 hari yang lalu.

"Rukia! Ulquiorra-kun akhirnya menembakku!" seru seorang perempuan berambut jingga. Ia berteriak-teriak sambil memeluk Rukia erat, nyaris membuatnya meninggal karena sesak napas.

"O-ORIHIME! Kau bisa membunuhku!" jerit Rukia sambil mendorong tubuh Orihime sekuat tenaga. Orihime pun melepaskan pelukannya sambil tersenyum bersalah.

"M-maaf... aku terlalu bersemangat..." katanya sambil membentuk tanda peace dengan kedua jarinya.

"Iya, iya, aku sudah terlalu terbiasa dengan sikapmu itu..." kata Rukia sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Jadi... ayo cerita bagaimana proses dia menembakmu!"

"Umm, yaah, jadi gini. Aku sedang ada di tempat fotocopy. Terus dia tiba-tiba ada di sebelahku, fotocopy juga. Yaudah sih ya. Hmm... terus dia fotocopy sesuatu... tapi karena fotocopy yang aku lebih banyak jadi dia yang selesai duluan deh. Terus dia buru-buru pergi gitu. Dan ternyata ada fotocopy-nya yang ketinggalan. Yaudah deh aku susul dia buat balikin tu kertas..."

Orihime berhenti bercerita sejenak. Rukia mengangkat sebelah alisnya, lalu Orihime menarik napas panjang lalu lanjut bercerita,

"Dan, aku sempet baca isi kertas itu. Dan kau tahu? Isinya adalah... 'Maukah kau jadi pacarku, Orihime?' dan di saat itu langsung merasa badanku mendingin. Shock, tentu saja. Ditambah lagi Ulquiorra-kun langsung muncul di belakangku! Lalu ia membacakan apa yang ada di kertas itu! Oh Tuhan, aku tidak tahu harus merespon apa waktu itu..."

Rukia membentuk huruf O dengan mulutnya. Cara Ulquiorra menembak cukup menarik. Ditambah lagi itu berarti dia harus menunggu kapan Orihime akan pergi ke fotocopy, kan?

"Aku pun akhirnya terdiam sebentar. Di saat itu heniiing sekali. Dan akhirnya aku menjawab iya, lalu ia langsung memelukku dari belakang! Oh Rukia, bukankah itu sangat romantis?" Orihime sekarang mulai memeluk dirinya sendiri—Rukia bersyukur paling tidak ia tidak menjadi korban—dengan muka memerah. Rukia bertepuk tangan pelan.

"Keren! Kok dia bisa tahu, kau ke fotocopy-an saat itu?" tanya Rukia.

"Malam harinya aku tahu dari Tatsuki, kalau ternyata ia sengaja meminta pada guru yang menyuruhku mem-fotocopy buku tebal itu, untuk menyuruhku mem-fotocopy. Dia benar-benar niat, ya? Aku semakin terharu dengannya."

Rukia mengangguk beberapa kali. Ia juga ikut salut dengan ke-niat-an Ulquiorra dalam menyatakan perasaannya.

"Dan kau tahu? Itu adalah tanggal cantik! 10-11-12! Dia benar-benar romantis, ya?"

Rukia mengangguk lagi, tapi kali ini lebih pelan. Diam-diam pikirannya melayang pada satu hal. Besok adalah hari Anniversary dia yang ke 40 dengan Ichigo. Jika diingat-ingat, cara Ichigo menembaknya dulu tidak terlalu mengesankan. Tanggalnya juga biasa saja. Haah, ingin rasanya bisa membanggakan tanggal jadian-nya, atau paling tidak cara Ichigo menembak. Tapi? Yah, begitulah adanya.

"Hime, aku juga ingin tanggal yang bagus dan cara yang romantis," celetuk Rukia sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Eh? Tapi kan kau sudah punya pacar, Rukia?" tanya Orihime tidak mengerti.

"Yah, aku kan bisa minta putus dan minta dia nembak aku lagi, bagaimana?" tanya Rukia mantap.

"EH?"

End of Flashback


"Jadi... aku sempat menguping pembicaraan mereka itu... jadi kupikir... karena itu..." jelas Renji. Ichigo menatap Renji tidak percaya.

"Rukia... benar-benar gila," komentar Ichigo singkat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan pacarnya itu.

"Tapi karena itu kau menyukainya, kan?" goda Renji sambil menyenggol Ichigo.

"A-Apa?" balas Ichigo sewot, pipinya mulai merona.

"Yah... Rukia itu salah satu yang langka loh. Ditambah lagi dengan istilah 'frozen charm'-nya itu. Seharusnya kau bersyukur, Ichigo," kata Renji sambil tertawa.

Ichigo terdiam. Ya, Rukia memang terkenal dengan julukan Frozen Charm. Di mana Rukia akan selalu merespon dengan dingin siapapun laki-laki yang mendekatinya. Bahkan tidak sering, teman-teman Ichigo mengatainya dengan 'kok kau mau, sih, sama si putri es itu?'. Tapi Ichigo hanya akan tertawa. Karena mereka tidak tahu Rukia yang sebenarnya. Tapi tidak jarang juga, ada orang yang malah jadi gigih mendekati Rukia karena Frozen Charm-nya itu... tapi sampai saat ini... Rukia tetap setia. Ya, setia. Karena itu mereka bisa bertahan selama 40 bulan ini. Atau, 3 tahun 4 bulan. Waktu yang lama, kan?

"Jadi... apa yang akan kau lakukan, Ichigo?" tanya Renji, penasaran dengan respon Ichigo. Ichigo tersenyum mantap.

"Tentu saja, membuat rencana 'pernyataan cinta' yang akan membuat si putri selalu menang itu checkmate dan speechless," jawab Ichigo sambil menyeringai.

.

To be Continued

.


Ga pernah berhasil bikin oneshot... oke, soalnya aku keburu mual-mual dan pusing nih, abis pulang dari pesantren jadi kurang tidur -_- yaah, mungkin bakal jadi twoshot... atau lebih? XD

Well, mind to review?