Sempat-sempatnya ya aku update di minggu UTS... #efekstress

Semoga tidak mengecewakan, deh. Udah ga tau lagi. Mentok. Enjoy!


.

Our Anniversary

by ariadneLacie

.

Disclaimer
BLEACH by Kubo Tite

.

Warning : AU, OOC, Don't Like? Review and tell me what's on your mind! XD

.


- Tiga


Ini sudah ketiga kalinya Rukia melirik handphone-nya. Bukan resah karena menunggu pesan masuk, lebih tepatnya resah memperhatikan bahwa sekarang jam berapa.

Rukia pun menghela nafas. Jam pelajaran Aizen-sensei sudah mulai sejak sepuluh menit yang lalu. Sepertinya dia dan Ichigo benar-benar membolos hari ini.

"Tak usah khawatir, aku sudah menitipkan surat izin pada Renji," kata Ichigo, seperti bisa membaca pikiran Rukia. Rukia menoleh pada Ichigo heran.

"Izin? Maksudmu? Jadi hari ini kita benar-benar tidak akan masuk sekolah?" cerocos Rukia. Ichigo terkekeh mendengar kekhawatiran 'mantan' kekasihnya itu.

"Diam dan ikuti aku saja, Rukia," kata Ichigo mantap. Tangannya mempererat genggamannya pada tangan Rukia.

Rukia memalingkan mukanya, berpura-pura terlihat tidak setuju. Karena pada kenyataannya, sepertinya ia sudah sangat merona sekarang.

Pasalnya, Ichigo belum melepaskan genggaman tangannya sama sekali dari Rukia sejak insiden di sekolah tadi. Sementara Rukia sendiri tidak berusaha melepaskan genggaman itu. Ia sendiri tidak mengerti mengapa. Padahal Ichigo kan, sudah 'bukan pacarnya'. Dan Rukia belum pernah digenggam semesra ini oleh seseorang yang 'bukan pacarnya'.

"Tumben kau tidak bertanya bahwa kita akan ke mana," celetuk Ichigo, memecah keheningan. Rukia yang merasa bahwa air mukanya sudah kembali normal pun menoleh.

"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Rukia.

"Rahasia," jawab Ichigo datar. Rukia mendengus kesal.

"Kalau begitu kau tidak usah menawariku untuk bertanya," katanya.

Ichigo tersenyum misterius, lalu menghentikan langkahnya. Rukia pun ikut berhenti. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan sekarang mereka sedang berada di mana.

Sebuah butik kecil berada di samping kanan mereka. Sementara di samping kiri mereka adalah jalan raya. Untuk apa Ichigo berhenti di sini?

"Apa—"

"Ayo masuk." Tanpa banyak bicara, Ichigo menarik Rukia masuk ke dalam butik kecil itu. Rukia mengernyit heran.

Butik tersebut adalah sebuah butik kecil yang sederhana. Rukia masih memandang Ichigo heran, sementara Ichigo tersenyum penuh arti.

"Kau tunggu di sini, ya," kata Ichigo. Ia melepaskan genggaman tangannya pada Rukia—sekilas ia melihat raut wajah Rukia berubah kecewa, tapi entahlah—lalu berjalan ke balik deretan-deretan baju.

.

.

.

Sejak dulu, berbelanja untuk membeli baju memang tidak pernah menjadi hobi Rukia. Karena itu ia tidak terlalu suka berkeliling-keliling sebuah butik untuk mencari baju yang sesuai seleranya. Alhasil, kini ia hanya terdiam bosan memandang deretan-deretan baju yang tidak menarik minatnya.

Akrhinya, Rukia memutuskan untuk mencari tempat duduk. Sudah sepuluh menit menghilang, dan Ichigo belum kembali juga. Lama-lama kakinya merasa pegal karena sedari tadi ia berdiri dan menunggu.

Begitu menemukan sebuah tempat duduk sekitar tiga meter di depannya, Ichigo muncul di depan Rukia. Tangannya membawa sesuatu yang mirip kain, dan berwarna broken white.

"Kau dari mana saja—"

"Nih, pakai!"

Belum sempat Rukia memprotes tentang banyak hal, Ichigo sudah menyelanya dengan menyodorkan benda mirip kain berwarna broken white tersebut. Rukia mengernyit, lalu menerima kain tersebut. Ternyata sebuah dress. Dress? Oh, ayolah. Sejak kapan seorang Kuchiki Rukia mengenakan dress?—kecuali untuk acara-acara resmi, dan itu pun sangat terpaksa.

"Apa ini?" tanya Rukia—sebuah pertanyaan bodoh, tetapi ia tetap menanyakannya.

"Coba saja," kata Ichigo. Rukia memandang Ichigo horror.

"Memangnya sejak kapan aku suka memakai dress?" protesnya.

"Sudah kubilang coba saja." Ichigo mendorong tubuh Rukia menuju ruang ganti yang berada dekat dengan mereka. "Dan setelah itu tunjukkan padaku!"

Rukia menghela nafas menyerah. Jika sudah seperti ini Ichigo sulit dihentikan.

"Baiklah, baiklah," katanya sambil memasuki ruang ganti tersebut.

.

.

.

Kini Rukia terpana memandangi pantulan dirinya di cermin. Tidak pernah sebelumnya ia merasa bahwa dirinya cocok menggunakan dress.

Dress yang diberikan Ichigo jatuh dengan pas di tubuhnya. Rukia bahkan berkhayal tentang dress tersebut memang sengaja dibuat untuknya, dan hanya untuknya. Sebuah dress selutut berwarna broken white, dengan lengan yang panjang. Di bagian pinggangnya terdapat pita berwarna broken white juga, memberikan sedikit aksen agar dress tersebut tidak terlihat terlalu polos.

"Hei, Rukia, masih lama? Nanti kita terlambat!" seru Ichigo dari luar sana. Rukia memutar bola matanya. Dasar pria.

"Iya, iya, ini aku keluar," kata Rukia sambil membuka pintu ruang ganti.

Rukia tercengang memandang pemandangan di depannya. Ichigo berdiri di depannya, dengan jaket berwarna cokelat muda, dipadu dengan jeans biru tua dan kaus hitam. Entah karena ditambah sinar mentari yang menerobos dari jendela di belakang Ichigo atau apa, tetapi sosok Ichigo kali itu tampak... menawan.

"... Sejak kapan kau berganti pakaian, Ichigo?" tanya Rukia, memecah keheningan yang entah kenapa baru saja menyelimuti mereka.

.

.

.

Ichigo berdiri di depan pintu ruang ganti dengan perasaan was-was. Ia berharap Rukia menyukai dress itu. Dress limited edition yang ia mohon dengan susah payah pada bibinya, Yoruichi—pemilik butik ini—agar disimpan sampai ia memiliki uang untuk membelinya. Karena entah kenapa, pertama kali melihatnya ia merasa bahwa Rukialah satu-satunya orang yang pantas untuk mengenakan dress itu. Lagipula ia jarang melihat Rukia mengenakan baju feminim. Sekali-kali, tentu saja ia ingin melihatnya menggunakan baju feminim. Terlebih lagi itu adalah dress pilihannya.

Perasaan was-was tersebut meluap seketika ketika Ichigo melihat sosok Rukia yang keluar dari ruang ganti. Perasaannya benar, Rukia tampak sangat cantik menggunakan dress itu. Ia nyaris tidak dapat berkometar apa-apa melihat sosok Rukia saat itu. Entah karena sinar matahari yang menyinarinya atau apa, tetapi Rukia tampak... bersinar dan menawan.

.

.

.

"... Sejak kapan kau berganti pakaian, Ichigo?" tanya Rukia. Ichigo kembali tersadar dari lamunannya.

"... Sejak tadi. Kau pikir kita akan berjalan-jalan dengan menggunakan seragam? Kita akan dikira membolos, tahu!" kata Ichigo, setengah gelagapan.

"Loh, kita kan memang membolos?" kata Rukia, menggoda Ichigo.

"Sudah kubilang aku sudah menitipkan surat izin pada Renji," elak Ichigo.

"Ah! Itu sama saja! Memangnya apa sih, isi surat izinmu?"

"Kau yakin mau tahu?"

"Memangnya kenapa?"

"... ah sudahlah. Ayo kita pergi saja sekarang." Ichigo mengangkat bahunya lalu berjalan menuju pintu keluar.

"Eh? Bagaimana dengan dress ini?" Rukia menarik jaket Ichigo sebelum pemuda itu berjalan menjauh.

"Sudah kubayar. Seragammu juga, tinggalkan saja. Nanti diantar ke rumah," jelas Ichigo. Rukia memiringkan kepalanya, tidak mengerti. Ichigo menghela nafas.

"Ikuti aku, dasar nona telmi," kata Ichigo sambil menarik tangan Rukia.

"A-apa?!"

.

.

.

Kali ini Ichigo membawa Rukia ke sebuah lapangan basket indoor yang sepi. Lagi-lagi Rukia memiringkan kepalanya heran. Ia menyenggol Ichigo, meminta penjelasan.

"Apa?" tanya Ichigo, tetap berjalan lurus ke arah tengah lapangan.

"Kau menyuruhku bermain basket dengan pakaian seperti ini?" kata Rukia, mengikuti Ichigo yang masih berjalan ke tengah lapangan.

"Siapa bilang?" jawab Ichigo, tanpa menghentikan langkahnya ataupun melirik Rukia.

"Lalu apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Rukia lagi. Kini kedua tangannya bersidekap di depan dada.

"Mau dansa denganku, nona?" Ichigo menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Ia menunduk, mengulurkan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya berada di punggungnya. Gestur seorang pemuda yang mengajak seorang wanita untuk berdansa. Rukia merona.

"..."

"Diam pertanda iya?"

Tanpa aba-aba, Ichigo meraih tangan Rukia, lalu menariknya ke dalam pelukannya. Salah satu tangannya menggenggam tangan Rukia, sementara yang satunya lagi merangkul pinggangnya.

"Aku... tidak bisa dansa, Ichigo," lirih Rukia.

"Aku juga tidak bisa, kok," kata Ichigo sambil tertawa. Rukia mendengus kesal.

"Dan kau mengajakku berdansa? Dan tanpa musik?" Rukia mulai melangkahkan kakinya asal, membuat Ichigo mengikuti gerakannya. Sekarang mereka sedang melakukan 'dansa ala Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Rukia'.

"Hei, ternyata kau bisa dansa juga," kata Ichigo di sela-sela 'dansa' mereka. "Soal musik... kau yang nyanyi saja, ya."

"Jangan gila, kau tahu kan suaraku itu biasa-biasa saja," tolak Rukia.

"Biasa-biasa saja kan berarti tidak jelek?"

"Tetap tidak mau!"

"Keras kepala."

"Kau juga."

"Kalau begitu, aku bersikeras agar kau jadi pacarku lagi. Maukah, nona?"

Rukia menghentikan dansanya. Ia pun mendongak, menatap mata Ichigo. Sejenak Rukia merasa terlena menatap tatapan hazel Ichigo yang menatapnya dalam, tetapi ia segera terkikik untuk menyadarkan kembali dirinya.

"Jadi ini maksudmu, cara penembakan lagi yang unik itu?" kata Rukia dengan nada mengejek. Muka ichigo sedikit memerah.

"Memangnya kenapa?" tanyanya tidak terima.

"Hmm... masih belum cukup unik, Tuan Kurosaki. Sayang sekali," kata Rukia, melepaskan genggaman Ichigo pada tangannya. Raut kecewa jelas terlihat pada wajah Ichigo, membuat Rukia ingin tertawa.

"Jangan sedih begitu, Ichigo," kata Rukia, menepuk bahu Ichigo. "Jadi... apakah kita akan kembali ke sekolah atau bagaimana?"

.

.

.

Tampaknya Ichigo memang belum mau menyerah, atau ia memang memiliki banyak rencana lain?

Kini ia dan Rukia tengah menikmati keheningan dari sebuah concert hall paling besar di kota Karakura. Concert hall yang kebetulan sedang kosong, dan Ichigo sewa untuk satu jam. Rukia tidak dapat menyembunyikan ekspresi takjub sekaligus senangnya ketika ia berada di dalam concert hall tersebut. Ini pertama kalinya ia masuk ke dalam sebuah concert hall dengan sebuah grand piano di dalamnya.

"Waw..." gumamnya takjub. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju bagian depan concert hall, berencana untuk menyentuh grand piano yang berada di atas panggung.

Ichigo mengikuti Rukia di belakangnya. Tersenyum sendiri. Sudah lama ia tidak melihat Rukia sebahagia ini.

Sesampainya di panggung, Rukia langsung duduk di bangku piano tersebut. Lalu membuka tutup piano, dan menekan sebuah tuts pelan. Bunyi ting lembut keluar dari piano tersebut.

"... sayangnya aku tidak bisa bermain piano," gumam Rukia, kembali menutup tutup piano tersebut. Ichigo mengangkat sebelah alisnya.

"Dan kau tidak ingin mencoba?" tanyanya, menahan tutup piano yang nyaris tertutup itu.

"Mencoba bagaimana?"

"Ya tekan saja asal. Kau mau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk bermain di sebuah concert hall?" Ichigo memandang Rukia serius. Rukia menelan ludahnya. Ichigo benar.

"Tapi... ah, sepertinya aku bisa memainkan sebuah lagu..."

Rukia membuka kembali tutup piano tersebut. Ichigo menyilangkan tangannya di depan dada, menunggu Rukia bermain. Sementara Rukia memandangi deretan tuts itu ragu, lalu mulai mengangkat tangannya,

Melodi-melodi dari lagu When You Love Someone mengalun lembut dari piano tersebut. Rukia tersenyum sendiri mendengar permainannya. Lagu yang membuatnya teringat kembali dengan saat-saat di mana ia belum bersama Ichigo dulu. Ia selalu menyenandungkan lagu ini, dan mati-matian membujuk kakaknya untuk mengajarkannya bermain piano. Walaupun hanya satu lagu saja.

"When you love someone, just be brave to say..." gumam Rukia di sela-sela permainannya.

"Aku mencintaimu, Rukia," sela Ichigo, membuat permainan Rukia terhenti. Rukia menoleh ke arah Ichigo, mendapati Ichigo sedang memandangnya lembut. Rukia nyaris terpesona oleh kesungguhan Ichigo yang seperti itu. Tapi lagi-lagi ia terkikik.

"... Masih. Belum. Cukup!"

.

.

.

Seharian itu dihabiskan Ichigo dan Rukia dengan berkeliling kota Karakura, membeli berbagai macam es krim dan makanan manis lainnya. Oh, dan tentu saja dengan berbagai macam cara penembakan Ichigo—yang ditolak Rukia mentah-mentah. Tapi kelihatannya Kurosaki Ichigo kita ini masih belum mau menyerah.

"Ichigo, sebentar lagi tirai malam akan turun, kita masih belum akan pulang?" kata Rukia sambil menjilati Matcha ice cream-nya. Matanya tampak berbinar karena cahaya senja.

"Kau sudah lelah?" tanya Ichigo.

"Umm, tidak, kok. Jika kau masih ingin berjalan-jalan, aku akan temani," kata Rukia.

"Bagaimana dengan Byakuya?" tanya Ichigo.

"Aku bisa minta izin pada nii-sama. Kau tidak usah khawatir," kata Rukia sambil menggoyang-goyangkan handphone di tangannya.

"Yakin boleh?" Ichigo masih tampak ragu.

"Tentu saja, lagi pula kan bersamamu. Nii-sama sudah cukup percaya padamu."

"Kalau begitu... aku sewa kau untuk semalaman ini!"

Rukia nyaris menjatuhkan Matcha ice creamnya.

.

.

.

"Berhentilah mengatakan sesuatu yang ambigu, Ichigo. Aku nyaris saja menamparmu tadi," kata Rukia.

"Haha, tapi kan aku memang menyewamu untuk semalaman ini?"

"Untuk menemanimu di taman bermain? Ya, tentu saja, Tuan Kurosaki," kata Rukia sambil melangkahkan kakinya keluar dari roller coaster.

Sekarang jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Rukia baru tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahun Karakura Land, sehingga taman bermain tersebut buka sampai pukul satu malam. Katanya sih karena akan ada acara kembang api pada pukul dua belas malam...

"Kita akan bermain di sini sampai taman bermain ini tutup?" tanya Rukia.

"Bukannya kau ingin menaiki roller coaster ini sebanyak enam kali balikan?" kata Ichigo, melangkahkan kembali kakinya ke dalam antrean roller coaster. Rukia mengangkat bahu.

"Yah... bisa saja kau ingin melakukan hal lain selain menemaniku naik roller coaster sebanyak enam kali," kata Rukia, mengikuti Ichigo masuk ke dalam antrean.

"Kita lihat saja nanti," gumam Ichigo, tersenyum misterius.

.

.

.

Jam belum menunjukan pukul dua belas malam, tetapi Ichigo sudah mengajak Rukia untuk keluar dari taman bermain. Kini mereka tengah berjalan menyusuri jalan setapak setelah turun dari bus terakhir malam itu. Rukia belum merasa lelah, jadi ia tidak terlalu keberatan.

"Kita akan ke mana?" tanya Rukia, setelah beberapa saat memendam rasa penasaran.

"Ke... sini."

Ichigo membelokkan langkahnya, melewati sebuah pagar yang nyaris tersembunyi oleh semak-semak. Rukia mengernyit, tampak tidak mau menembus semak-semak itu. Beberapa saat kemudian Ichigo keluar lagi, lalu menarik Rukia masuk melewati semak-semak tersebut. Rukia memekik kaget.

"Apa yang kau lakukan!" protesnya. Ichigo tertawa.

"Menarikmu, soalnya kau lama," kata Ichigo.

"Ya jangan memaksa juga..." kata Rukia. Ia pun mendongak, memastikan mereka berada di mana sekarang.

Oh, ya ampun.

Rukia terdiam takjub memandang pemandangan di depannya. Warna merah marun yang merekah nampak bersinar terkena cahaya lampu. Kumpulan warna merah marun yang manis, dengan aroma semerbak yang manis juga.

Sebuah kebun mawar. Sebuah kebun mawar yang tampak bersinar karena cahaya lampu, dan beberapa kunang-kunang yang berkerlap-kerlip.

"Apa... ini..." Rukia terbata-bata. Ichigo tersenyum penuh kemenangan.

"1001 kenangan kita. Happy 1001st day of our day as one, my beloved lady," bisik Ichigo di telinga Rukia. Di saat itu tepat jam dua belas malam berdentang. Dentangannya memenuhi kebun bunga mawar tersebut, membuat jantung Rukia berpacu cepat entah kenapa.

"Kenangan...?" Rukia berjalan pelan menuju salah satu mawar. Ada sebuah kertas yang tergantung di tangkai mawar tersebut. Disibakkannya kertas tersebut, dan seketika ia ingin menangis terharu membaca untaian kata di dalam kertas tersebut.

.

12 August 2009

The day I confessed my feelings.

.

Rukia menoleh ke arah Ichigo, yang sekarang tampak berpura-pura tidak melihat. Rukia tersenyum terharu, lalu berjalan ke arah mawar lainnya. Mencari kertas-kertas kenangan yang lain.

.

27 September 2009

She finally call me 'sayang'. I love you, Rukia.

.

3 August 2009

I hug her for the first time... she smells like heaven.

.

16 January 2010

She wake me up in the morning with a cake. Sweets. Happy birthday for me.

.

27 February 2010

I made her cry for the first time... what a fool.

.

"Ichigo... kenapa kau bisa mengingat setiap kejadian setiap harinya? Jangan bilang kau menulis diary?" tanya Rukia, tangannya masih sibuk membolak-balik kertas yang tergantung pada mawar-mawar tersebut.

"Hmm... mungkin?" balas Ichigo seadanya.

Rukia kembali berjalan, memasuki kebun mawar tersebut semakin dalam.

.

10 March 2010

Sebuah bunga mawar untuknya. Melambangkan aku cinta padanya, dan hanya untuknya.

.

17 March 2010

The day I kissed her. I promise she'll be my last.

.

12 August 2010

Our second anniversary. Terima kasih Tuhan kami masih saling memiliki. Apakah ini artinya selamanya?

.

Semakin banyak kertas kenangan yang ia baca, tanpa terasa air matanya menetes. Ia semakin merindukan masa-masa itu. Ia sangat mencintai Ichigo. Sangat. Bahkan sampai saat ini.

Dalam hati ia jadi merasa agak menyesal sudah memaksakan ide konyol tentang mengganti tanggal anniversary mereka. Putus bukanlah hal yang main-main, kan?

.

2 October 2010

Bertemu Byakuya untuk pertama kali. Siapapun tidak akan pernah kubiarkan untuk menghalangiku mendapatkan Rukia. Tunggu saja, Byakuya!

.

Rukia mengernyit heran ketika sampai ke bagian terdalam kebun tersebut. Ada sebuah mawar dengan warna berbeda. Mawar dengan warna jingga.

.

12 November 2012

She broke me. On our 40th months anniversary.

.

Rukia terhenyak. Ia merasa sangat bersalah pada Ichigo kali ini.

"... Ichigo ..." panggil Rukia. Ia terdiam di tempatnya, tidak berusaha menoleh untuk mencari sosok oranye itu.

"Hmm?" balas Ichigo. Ia mendekati sosok mungil yang entah kenapa tengah terdiam membelakangi dirinya itu.

"... Maafkan aku."

"Kenapa meminta maaf?"

"... Maaf..."

"Aku akan memaafkanmu jika kau menjadi kekasihku lagi, Rukia," kata Ichigo, membalikan tubuh Rukia.

"Kurasa aku sudah keterlaluan," lirih Rukia. "Sejak awal tanggal anniversary kita sudah spesial. Bagaimanapun caramu menembakku. Kau sudah spesial. Semuanya sudah terasa spesial."

Ichigo tersenyum. Ia menepuk-nepuk kepala Rukia lembut, menunjukan bahwa ia sama sekali tidak merasa marah atas kelakuan kekasih—oh, mantan kekasih—nya itu.

"Jadi... maukah kau menjadi pacarku, nona?" Ichigo mengelus pipi Rukia lembut, menghapus sisa-sisa air mata yang masih berada di pipi perempuan amethyst itu. Jantungnya serasa berpacu lebih cepat kali ini, padahal pada aksi-aksi penembakan sebelumnya pada hari ini ia tidak merasa segugup ini. Kali ini ia merasa seperti saat pertama kali menyatakan perasaannya pada Rukia.

"... Entah sejak kapan aku sadar bahwa aku mulai menyukaimu. Perlahan menjadi sayang, lalu cinta. Dan perasaan itu tak pernah pudar, Ichigo. Jika aku menerimamu lagi kali ini, berjanjilah bahwa akulah yang terakhir untukmu," kata Rukia. Nadanya terdengar lantang dan tegas.

"Will do. And you?"

"You'll always be my first and my last, Ichigo."

Momen malam itu pun ditutup dengan Ichigo yang mengecup puncak kepala Rukia mesra.


The End


On the next morning...

"Hei, Ichigo, aku baru sadar. Kemarin itu bukan hari ke 1001 kita, tahu! Hari itu sudah lama lewat!" protes Rukia. Tangannya bersidekap di depan dada, menunjukan ketidak setujuan.

Ichigo memandang Rukia lama, lalu tertawa. "Yah, aku tahu. Hanya saja aku ingin ada sesuatu yang berhubungan paling tidak dengan 1001 tangkai mawar..."

"Ha! Dan apakah mawar itu benar-benar 1001 mawar?" Rukia masih berusaha memojokkan Ichigo.

"Tentu saja! Aku kan menulis kenangan kita selama 1001 hari, dan menempelkannya di tiap tangkai mawar!"

"Benarkah? Aku ragu. Kita kan sempat berantem juga, kau pasti tidak menulis kenangan apapun tentang saat itu kan?"

"..."

"Dasar... tuan tidak romantis!" Rukia terbahak puas.

.

The End, or To be Continued to Prologue? XD

.

.

Karena author sendiri mungkin bukan orang yang romantis... jadi mohon maaf jika cara penembakan Ichigo di sini agak mengecewakan... 8'D

Dan bagi yang penasaran apakah ini based on true story or not, yah... ini nyaris jadi true story, sayangnya 'Ichigo'-nya tidak mau diajak bekerja sama wuahahaha #plak

.

And ... Thanks for the reviews!
Maaf belum sempat dibalas, karena saya kan... sedang minggu UTS... /terus kenapa lo update fic ar/

Yah makanya iklan nama aja ya, lagi, terima kasih atas reviewnya!

Owwie Owl, dhiya chan, beby-chan, Purple and Blue, AoiHikari, Rukaga Nay, Shin, saifulwebid, Dewi Anggara Manis

.

See you again... in the prologue? XD