`Genre: romance (maybe )

Paring: Sasuke Uchiha and Sakura Haruno

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Hari libur, daripada nggak ada kerjaan di rumah, Sasuke mampir ke rumahnya Naruto kebetulan sahabatnya itu sedang ada dirumah.

"Teme ,makan bakso aja yuk di depan." Ajak Naruto

"yang jualan bapaknya Sakura itu ya?" Tanya Sasuke

"iya, yang gue certain waktu itu." Jawab Naruto singkat

"ogah ah! Lo nggak lihat penampilan gue hari ini? Ntar ketemu Sakura bakal ada masalah ," tolak Sasuke

Naruto memerhatikan temannya itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. "salah lo sendiri sih, ngapain ke rumah gue aja kayak mau kondangan gitu?"

"yee! Siapa yang mau kondangan . baju gue ya kayak gini mau gimana lagi,"Sasuke membela diri

"kelewat keren tau gaya lo ! sebagai anak cupu dan bego. Nggak pantes banget penampilan lo hari ini," komentar Naruto.

"wajar kali Dobe . baju gue kan nggak semuanya lusuh kayak baju sekolah gue. Jadi gimana dong? Jadi nggak nih makan bakso nya ? gue juga lagi pengen nih . jarang jarang gue makan di pinggir jalan," ujar Sasuke.

Naruto mengetuk ngetukan jari ke kepalanya sendiri. "lo ganti pake baju gue aja deh."

Lalu. Keduanya beranjak ke kamar Naruto. Setelah memilih yang pas di badan Sasuke yang posturnya lebih tinggi dibanding Naruto , keduanya meluncur ke warung bakso milik ayah nya Sakura.

"emang dasarnya lo udah keren, pakai baju apa aja tetep aja kelihatan keren" Naruto tiba tiba nyeletuk yang dibalas dengan toyoran dari Sasuke.

"ah! Percuma juga gue nyari baju terburuk. Apa pun yang lo pakai tu pasti keren, pake nggak kacamata butut itu pula, jelas aja lo terlihat keren," protes Naruto

( ~^.^)~ ~(^.^~ )

Sakura sedang sibuk mencuci piring ketika Sasuke dan Naruto datang. Sasuke dan Naruto langsung duduk di bangku yang sudah di sediakan, lalu keduanya memesan bakso. Dari tadi mata Sasuke tak bisa lepas dari Sakura. Sasuke sangat menikmati pemandangan indah *?* dihadapannya. Sampai akhirnya Naruto menyodorkan sebuah bakso ke mulutnya.

"jangan lebar – lebar bengong nya Sas! Bakso aja sampe bisa masuk ke mulut lo , udah deh makan dulu baksonya. Nanti lagi lihatin Sakura nya!" teriak Naruto.

Sakura yang mendengar namanya disebut langsung menoleh kearah mereka . Sasuke langsung mengalihkan pandangannya ke mangkuk yang di depannya. Dan sok sibuk memakan bakso nya.

"nambah tuh baksonya, biar gendut" Hinata tiba tiba datang mendekati Sasuke dan Naruto. Kali ini Naruto yang tak mampu berpaling. Sampai akhirnya Sasuke memikirkan sesuatu hal untuk membalas Naruto.

Sasuke berdiri menghampiri Hinata, lalu keduanya berbincang sebentar dan meninggalkan warung bakso, hati Naruto serasa ditusuk saat Sasuke mengandeng tangan Hinata mesra.

Naruto langsung menyusul keduanya. Sakura yang melihat teman temannya tiba – tiba pergi begitu saja ikut penasaran mengenai apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan.

Sasuke duduk di sebuah bangku taman bersama Hinata Naruto mengendap – ngendap ngintip mereka di balik semak belukar yang lumayan tinggi. Berusaha mendengarkan perbincangan antara Sasuke dan Hinata.

Tapi sayangnya ia hanya mendengar sayup sayup dan hanya bisa melihat Hinata tersenyum dan mengangguk, kembali jantung Naruto seakan hendak meledak

Naruto bangun dari tempat duduknya, lalu beranjak mendekati Sasuke dan Hinata,Naruto menarik tangan Sasuke dengan kasar. Dan beranjak menjauhi Hinata yang terkejut melihat Naruto yang tiba tiba datang.

Dibawah sebuah tiang. Naruto mendorong tubuh Sasuke ke belakang. Napasnya memburu penuh amarah. "lo habis ngomong apaan sama Hinata? Tega ya lo, Sas! Ngapain lo deketin Hinata ?" Naruto berkata kasar.

"emang kenapa?" Tanya Sasuke pura pura bego

"lo kan tau gue suka sama Hinata!" jawab Naruto sambil memelankan suaranya.

Sasuke menahan senyum melihat tingkah sahabatnya itu "terus? Lo kan nggak ada hubungan apa apa sama Hinata. Nggak salah dong gue deketin dia!" balas Sasuke

Naruto makin sewo,"gini yah lo sama gue ! lo tega banget sih sama gue, Sas!"

"gue jahat kenapa? Bukti udah di depan mata gue. Lo nggak ada hubungan apa apa sama Hinata. Lo juga palingan cuman suka – suka doang sama dia bukannya suka beneran. Kalau lo suka beneran ngapain lo sampe sekarang lo nggak pernah jadian sama Hinata? Jadi bukan salah gue dong kalau gue berminat deketin Hinata . dia bukan punya siapa – siapa"

Amarah Naruto sudah sampai ke ubun – ubun "LO DENGER YAH SASUKE UCHIHA! GUE NGGAK CUMAN SUKA- SUKA AJA SAMA HINATA. GUE CINTA SAMA HINATA! " bentak Naruto

Sasuke sangat kaget melihat emosi Naruto yang meledak . selama mereka berteman, baru kali ini Naruto semarah itu.

Sasuke menatap tajam sahabatnya. Lalu tersenyum. Kemudian ketawa ngakak "nah nata kamu dengar sendiri kan? Naruto cinta sama kamu," ujar Sasuke sambil menoleh ke arah Hinata yang berda dibelakang Naruto .

Naruto bengong mendengar ucapan Sasuke barusan. Dia nggak berani menoleh ke belakang. Dia nggak salah dengarkan kalau tadi Sasuke manggil nata! Hinata maksudnya. Kalau benar Hinata yang di maksud Sasuke . rasanya badan Naruto langsung beku saat itu juga.

"eh, kenapa lo jadi patung kayak gitu?" Tanya Sasuke dengan nada mengejek. "tuh Hinata di belakang lo. kenapa lo teriak- teriak ke gue . lo kan bisa langsung ngomong ke dia," tambah Sasuke masih dengan nada mengejek.

Hinata berada di belakang Naruto hanya tersenyum dan blushing. Sakura yang berada di samping Hinata malah hanya tertawa geli. Sasuke puas melihat wajah Naruto yang berubah jadi merah. Semerah tomat buah kesukaanya . sebenarnya Sasuke kasihan juga melihat Naruto seperti itu, tapi kalau nggak di giniin kapan Naruto bakalan ngomong isi hati nya ke Hinata.

"Sakura! Kita pergi yuk. Kayaknya Naruto mau ngomong sesuatu yang penting sama Hinata," ujar Sasuke sambil tersenyum kearah Sakura.

.

.

Hinata tersenyum melihat Naruto."kamu nggak mau ngomong? Kalau nggak aku pulang deh," jawab Hinata sambil mendekati Naruto

Naruto yang mendengar Hinata ingin pulang. Langsung berbalik "jang –" kata kata Naruto terhenti. Kini Hinata tepat berada di hadapannya, mata mereka bertemu.

"jangan apa?" Tanya Hinata lembut

Naruto makin bingung benar- benar gugup. Beberapa kali dia mengutuk dirinya sendiri. Biasanya dia orangnya ceplas- ceplos tapi kenapa kalau ngomong hal ini susahnya minta ampun. Seperti mulutnya dikasih lem perekat dan lidahnya kelu.

"Naruto?" Tanya Hinata lagi. "kalau kamu diam terus, aku pulang beneran nih." Ancam Hinata lembut.

Naruto masih saja diam, Hinata menghela napas panjang lalu berbalik hendak melangkah pergi. Namun, langkahnya terhalang oleh tangan dingin yang sedang mencengkram pergelangan tangannya kuat sekali. Hinata melirik sekilas. Lalu melirik ke pemilik tangan itu.

"jangan pergi, please sebentar saja," ucap Naruto

"Hinata I LOVE YOU," lanjutnya

Hinata tersenyum lalu melepaskan tangan Naruto dan langsung memeluknya erat "aku juga mencintai naruto- kun." Jawabnya tepat ditelinga Naruto.

Bagaikan sebuah balok es besar di dada Naruto meleleh seketika, dan diganti oleh bunga – bunga bermekaran di hatinya. Naruto merasa inilah hari yang memebahagiakan untuknya. Ia membalas pelukan Hinata lebih erat dan mencium rambutnya.

Tanpa sepengetahuan keduanya, tampak dua sosok di kejauhan sedang tersenyum melihat kebahagiaan mereka . siapa lagi kalau bukan SasuSaku

.

.

( ~^.^)~~(^.^~ )

Sakura dan Sasuke berjalan beriringan di jalan setapak yang ada di taman itu. Mereka masih tersenyum geli mengingat kelakuan kedua sahabatnya tadi.

"ah! Akhirnya mereka jadian juga," Sakura menghela napas lega

Sasuke tersenyum. "terus kamu kapan jadiannya?" Tanya Sasuke spontan

Sakura menoleh kea rah Sasuke dan tampak keningnya mengkerut "maksudnya?"

"ya, kapan kamu kayak Naruto dan Hinata . jadian gitu" jelas Sasuke

"o itu, nanti kalau ada yang suka sama aku,"jawab Sakura sangat singkat,padat dan tidak jelas *?*

Sasuke berhenti berhenti berjalan. "bukannya banyak yang suka sama kamu, Sakura?"

"oya? Siapa?"

"loh , kata Naruto , si Gaara dulu pernah ngejar ngejar kamu," sambung Sasuke

Sakura hanya tersenyum lalu menatap Sasuke. "apa orang kayak gitu bisa dibilang mau sama aku? Itu namanya nafsu. Bukan cinta" ujar Sakura

"maksud kamu?" Sasuke heran . nggak ngerti dengan ucapan Sakura

"iya! Psikopat. Gue nggak suka banget cowok kayak gitu. Kayak nggak ada harga diri aja ngejar – ngejar cewek sampai segitunya. Udah jelas – jelas ditolak masiiiiiih aja ngejar gue,"jawab Sakura gemas mengingat kelakuan Gaara

"tapi, namanya juga usaha, Sakura!"

"iya usaha yang nggak pantes banget dihargai. Dia pikir melihat semua kekayaannya lantas begitu saja aku mau sama dia? Nggak, sama sekali nggak. Penilaian dia terhadapku terlalu rendah . makanya aku nggak suka," jelas Sakura lagi

Sasuke makin heran. "rendah gimana maksudnya. Sakura!?"

"iya, dia nunjukin semua harta bendanya yang nggak penting banget itu. Emangnya semua cewek bakalan mempan sama kemewahan itu. Cewek lainnya mungkin iyah. Tapi aku nggak! Aku lebih menghargai cowok yang benar- benar berusaha sendiri. Yang nggak bergantung pada orangtuanya. Yang dibanggainnya itu kan milik orang tua. Bukan milik dia. Coba kalau dia disuruh berusaha dapetin itu sendiri, aku yakin dia nggak biisa."

"oh.. gitu yah? Tapi ya… gimana namanya juga orang kaya, semua akan gampang dia dapetin tanpa harus berusaha . untuk apa duit dari orangtuanya yang melimpah kalau dianggurin begitu aja, sayang, kan ," Sasuke berusaha menjelaskan dari sudut pandangnya sendiri.

Sakura menggeleng . lalu menatap lurus kedepan. "memang, tapi harusnya dia juga mikir , kekayaan itu nggak ada yang kekal, orangtuanya nggak akan selamanya kayak. Gimana tiba – tiba mereka jatuh miskin atau nggak punya apa- apa lagi. Apa bisa mereka bertahan? Kalau kita nggak belajar berusaha dari sekarang gimana nasib kita kedepan ? mau terus- terus bergantung sama orangtua? Kalau ! aku nggak mau nyusahin mereka. Walaupun orantuaku konglomerat aku akan tetap berusaha untuk belajar nyari duit sendiri. Bahkan suatu saat nanti aku berharap bisa membiayai mereka," jelas Sakura panjang lebar.

Sasuke makin terpesona dengan Sakura, dengan kepribadiannya, tentang pemikirannya. Sasuke nggak pernah sekalipun berpikir sehebat itu. Mendadak dia membayangkan jika yang diceritakan Sakura menimpanya kelak. Ahhh cewek berambut soft pink ini benar benar berbeda .

Sasuke menarik napas panjang. "kamu memang berbada ya, Sakura!" ujarnya tiba – tiba sambil menundukan kepalanya memandangi kakinya *?*

Sakura mendengar ucapan Sasuke langsung melihat kea rah Sasuke."berbeda? haha. Ada – ada aja kamu, Sas! Berbeda apanya?"

"iyah cara kamu, pola pikir kamu, semuanya kamu sangat berbeda dari cewek kebanyakan yang aku kenal," jawab Sasuke.

"emang udah berapa banyak kamu kenal sama cewek? Pasti baru satu dua, kan? Banyak kok cewek yang berpikiran kayak aku gini," ujar Sakura sambil tersenyum.

Sasuke malah ikutan tersenyum mendengar jawaban Sakura. Sakura salah kalau mengatakan Sasuke baru betemu cewek satu dua. Padahal selama ini udah nggak bisa kehitung berapa mantan – mantan Sasuke. Berapa banyak cewek – cewek yang deketin dia, tapi nggak ada yng seperti sekali nggak ada . Sakura Haruno benar- benar berbeda. Sasuke yakin itu.

"eh Sasuke tadi kamu belum bayar uang bakso nya! " Sakura mengagetkan Sasuke

Sasuke bingung. Bengong sebentar. Bukan karena dia nggak punya uang untuk bayar bakso itu. Masalahnya sekarang dia lagi nggak punya uang sepeser pun di kantongnya , karena dia pake baju Naruto. Dan dompetnya tadi jauga ditinggalin di kamar Naruto.

"jangan bilang mau ngutang lagi," ujar Sakura dangan nada menggoda. "utang kamu yang waktu itu aja belom dibayar," Sakura tertawa kecil.

Sasuke makin bengong. 'Inget aja utang nih cewek' pikirnya. "eh sakura, kamu belum mau pulang kan. Aku balik ke tempat Naruto dulu ngambil dompet, gimana kamu ikut aku aja yuk, sekalian mengawal aku" godanya dengar mimik wajah dibuat melucu.

.

.

( ~^.^)~~(^.^~)

Dirumah Naruto.

"eh kalian dari mana aja? " Tanya Naruto ketika melihat SasuSaku di teras rumahnya.

Sasuke hanya tersenyum nggak menjawab pertanyaan Naruto . dia langsung masuk kedalam rumah menuju kamarnya Naruto. Tak berapa lama ia keluar dengan membawa selembar kertas uang.

"ini uang untuk bayar baksonya," Sasuke menyrerahkan uang pada Sakura. "tapi aku belum bisa bayar hutangku yang waktu itu. Aku belum punya uang sendiri untuk bayarnya," lanjut Sasuke lagi.

Sakura tersenyum mendengar ucapan Sasuke. Tapi Hinata dan Naruto bingung mendengar percakapan kedua sahabatnya itu. Keduanya saling berpandangan dan menggeleng tak mengerti.

TBC

Ada yang masih ingat dengan fict ini ._.

Maaf yah saya update nya telat T,T . soalnya tiba tiba alur ceritanya hilang di otak aku. Jadi aku ingat ingat dulu dan ditambah saya lagi sibuk sekolah ~,~"

Kalau untuk chapter depan. Aku nggak janji bisa update cepat ._.

Ekhm, makasih yang sudah nge review fict aku :') . apakah di chapter ini makin baik penulisannya ?atau makin parah ?

Oh yah. Numpang promosi . add fb aku dong namanya nabila yasmin . langsung aku konfrimasi ;D

Review please =)

~ salam dari : pecinta meong :3 ~