DISCLAIMER

Naruto : Masashi Kishimoto

Kako no Himitsu/Rahasia Masa Lalu : Nara Kazuki

.

Happy reading!


"SERAAANG!"

Suara gemuruh dari hentakan kaki-kaki kuda, langsung menggema memenuhi udara. Debu-debu halus ikut beterbangan menggumpal pekat. Dua kubu berlawanan saling maju dan saling menyerang dalam waktu yang sama.

Teriakan-teriakan penuh ambisi.

Hentakan keras kaki-kaki berlari.

Dentingan pedang yang beradu aksi.

Cipratan merah pekat di sana sini.

Telah menjadikan hari dan tempat luas itu sebagai saksi bisu atas peristiwa berdarah antara dua negara kerajaan besar di Hi no Kuni.

Konoha dan Suna.

Dua negara yang saling bermusuhan sejak lima belas tahun yang lalu.

.

.

.

.

.

"Ck, merepotkan!"

Seorang lelaki muda dalam balutan seragam perang warna hitam dengan rompi hijau daun, menatap pasukan di depannya dengan wajah bosan. Seumur hidup, tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk melihat keadaan ini dengan nyata. Yang mana, tubuh-tubuh tak bernyawa penuh luka, terkapar tak berdaya di atas tanah, tepat di depan matanya.

Sangat tragis.

Sungguh, tidak dapat dipungkiri, hatinya sangat sakit melihat kenyataan pahit ini. Perang besar yang tak pernah usai. Dengan ribuan nyawa tak berdosa sebagai taruhan.

Telapak tangannya terkepal erat pada sebuah lambang yang terikat kuat di lengan sebelah kiri. Lambang besar yang tengah ia sandang sebagai panglima tertinggi militer Konoha.

"Shino! Arahkan pasukan yang kau bawa ke barat!"

"Ha'ik, Bushou!"

Tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut, lelaki lain dengan balutan seragam sama persis itu melesat cepat sambil berteriak memacu kuda.

Dengan cermat, pria bergelar panglima itu lalu menatap liar pada seluruh pasukan. Hingga sebuah bayangan kuning, melintas cepat di sampingnya dalam satu ayunan pedang.

'Zreet!'

"Akhh!"

Seekor kuda putih berpelana khas kerajaan Suna warna merah marun yang tengah ditunggangi oleh seseorang dengan seragam abu-abu bersayap, melintas berputar di sekitar. Menunggu reaksi selanjutnya dari lelaki muda berkuda cokelat yang baru saja terkena sabetan pedang.

Hingga beberapa detik setelahnya, tidak ada pergerakan berarti dari pemimpin tertinggi kerajaan Konoha itu akibat luka hebat yang tak pelak membuat lengan sebelah kirinya hampir saja putus, jika ia tidak sempat mengelak tadi. Darah pekat tampak mengalir dari sela-sela telapak tangan kiri yang menutupi lukanya.

"Kau..."

"Bertemu kembali, Shikamaru," ujar sebuah suara khas wanita berirama datar yang berasal dari kuda putih di depannya. Dengan gerakan lambat, jemari lentik itu merogoh selembar kain warna hitam transparan dari saku bajunya dan langsung mengikat benda tersebut ke kepalanya bagian bawah. Hingga menutupi sebagian dari wajahnya dan memperlihatkan dengan jelas warna rambut berwarna pirang emas yang ia gerai.

Keduanya sama-sama mengangkat senjata dan saling adu pandang dengan waspada.

"Ya, setelah lima belas tahun," gumam lelaki bernama Shikamaru itu menatap lurus pada sosok di depannya dengan pedang terhunus.

'Tang!'

Kedua pedang mereka pun mulai beradu, ikut meramaikan dentingan demi dentingan pedang yang menggema.

'Tang!'

Sang wanita bergerak mundur mendapati perlawanan sengit dari lawannya. Napasnya yang mulai tidak teratur, membuatnya mundur selangkah ke belakang.

Kedua mata beda warna itu saling tatap dalam kemirisan.

'Tang!'
'Teng!'
'Tang!'
'Kraak!'

Sebuah serangan tiba-tiba dari Shikamaru, membuat kuda putih milik gadis itu terpeleset jatuh ke tanah. Menghasilkan bunyi debaman keras yang tertelan angin.

Dengan susah payah, wanita muda berambut pirang itu berusaha bangkit dari jatuhnya. Tangannya bergerak lemah menggapai pedang yang berjarak satu meter di depannya. Namun, belum sempat jemari lentik itu mencapai pedang, sesuatu yang besar telah terlebih dahulu menginjaknya.

"Pedang yang bagus, Temari," puji Shikamaru sambil membolak-balikkan pedang di tangannya. Bibirnya sedikit tergerak pada sebuah senyuman sinis yang ia tujukan pada sang pemilik pedang.

Wanita muda yang ternyata bernama bernama Temari itu menatap lelaki di depannya dalam diam. Tangannya tergerak pelan pada sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Ya, pedang yang sangat hebat dan telah membunuh banyak orang," balasnya sarkastik sambil bernapas dengan susah payah.

Mungkinkah mereka saling kenal?

'Trak!'

Pedang tajam mengkilat bergagang cokelat muda itu jatuh ke tanah. "Termasuk darahku," ujar Shikamaru dingin sambil membelakangi sosok lawannya yang terkapar. Dadanya sesak dengan kenyataan pahit ini. Seakan beribu batu menghujaninya dengan ganas dari atas langit.

'Greb!'

"Shikamaru, gomenne..." lirih Temari tepat di belakang Shikamaru. Tangannya tergerak memeluk punggung lelaki di depannya, erat.

Tak tahukah wanita itu, kata maaf tidak pernah ada dalam kamus perang. Karena perang bukanlah sebuah keinginan. Dan sebuah kata maaf tidak akan dapat menghentikannya. Yang ada hanyalah saling balas dan saling serang.

"A-aku tahu... -uhuk kau ma...rah... go...men...ne..." sahut Temari kembali dengan napas putus-putus. Hingga kemudian tubuhnya merosot jatuh ke tanah.

Shikamaru menelan ludahnya tanpa bergerak sama sekali. Ia betah dengan kediamannya hingga lengan putih yang tengah memeluknya itu merosot ke bawah. Tubuhnya berbalik dengan cepat. Menyaksikan keadaan Temari dengan mata melebar.

"TEMARI!"

Tidak ada yang mendengar.

Teriakan itu hanyalah salah satu dari beribu-ribu teriakan yang ada di medan perang.

Dengan kaku, Shikamaru memangku tubuh lemah tak berdaya itu di pahanya. Sebuah anak panah, tertancap kuat di bagian bawah dada sebelah kanan dari arah punggung Temari.

Napas Shikamaru tercekat dan memburu.

Rahangnya mengeras menahan sesak.

"Temari..." lirihnya sambil mengangkat telapak tangannya yang telah penuh noda darah Temari. Tanpa sadar, air matanya telah mengalir tanpa isakan.

"K-kau mena...ngis la...gi, ce...ngeng..." sindir Temari susah payah. Ia kembali berusaha menciptakan sebuah senyuman di bibirnya.

"Apa yang kau lakukan, hah!" bentak Shikamaru dengan napas tertahan. Usahanya untuk menampilkan sosok seorang panglima kuat yang dingin, hancur berkeping-keping.

Temari lalu menutup matanya sembari menggerakkan sebelah tangan menggapai wajah tampan di depannya. "A...pa a...dikku, baik-baik sa...ja?" bisiknya dengan cairan bening yang keluar melalui pinggir matanya. "Ka...-uhuk-"

"Aku bukan adikmu!" sergah Shikamaru cepat dengan suara bergetar.

Temari lalu menutup bibir Shikamaru dengan jari telunjuknya yang sudah terkena darah. "Ce...pat mundur!" lirih gadis itu penuh perintah. Matanya yang berkaca, menatap tajam lelaki di depannya. "A...ku baik-ba...ik sa...ja. Ce...pat!"

Shikamaru menelan ludahnya dengan susah payah. Ia masih berada di tempatnya dengan bibir terkatup rapat. Air matanya kembali mengalir dengan sendirinya. "Kau tidak baik-baik saja, Temari," geram Shikamaru penuh penyesalan. Ia tak menyangka kalau Temari akan memberikan tubuh dengan memeluknya dari belakang hanya untuk melindunginya dari sebuah anak panah.

"Ce...pat! A...pa k-kau mau me...li...hatku, ma...ti?" lirih Temari kembali yang terdengar seperti permohonan.

"Bushou!" seorang lelaki berpakaian sama persis dengan Temari langsung berlari ke arah keduanya. Selendang hitam tipis yang menutupi sebagian wajah Temari telah terbuka. Menampilkan wajah cantik dari seorang anak raja, kerajaan Suna. Rei Temari.

Shikamaru melepaskan rangkulannya pada tubuh Temari dan menidurkan wanita itu di tanah dengan posisi menyamping. "Gomenne, Temari. Aku tidak akan berterima kasih padamu dengan ini. Kau bodoh! Kau benar-benar bodoh!" ujar Shikamaru sebelum beranjak membelakangi Temari. Bahunya bergetar menahan isakan.

Mata beriris hijau tua milik Temari menatap nanar pada punggung Shikamaru. Bibirnya tergerak pada sebuah senyum sedih.

Air matanya kembali mengalir.

"A...ku memang bo...doh," lirih Temari menatap kepergian Shikamaru.

.

.

.

.

.

"Hey, aku tidak pernah berniat mengalahkanmu! Itu hanya keberuntungan bagiku! Kau tidak perlu marah!"

Seorang anak lelaki berusia sekitar tujuh tahun berusaha mengimbangi langkah lebar dari seorang gadis berambut pirang yang sedikit lebih tinggi darinya. Sedari tadi, gadis itu hanya diam dan berjalan sambil menghentakkan kaki dengan pandangan tajam nan lurus ke depan.

"Ck, merepotkan!" ujar anak lelaki itu kembali sambil berdiri di depan gadis yang ia kejar dengan tatapan menantang. Membuat langkah sang gadis terhenti di tengah jalan. "Temari!" panggilnya lagi sambil mencengkram kedua bahu sang gadis.

"Apa?! Kalau kau senang, bilang saja!" teriak gadis berambut pirang itu sambil mendelik kesal. Ia lalu memutar tubuhnya melewati sang pemuda.

'Greb!'

"Hah, ini merepotkan! Kata ibuku, kalau kita kalah, minta maaflah kepada orang yang sudah dikalahkan," jelas anak laki-laki itu dengan tatapan malas dan tidak ikhlas.

"Apa tadi aku mendengar kata maaf darimu, adik kecil?" sinis gadis itu dingin. Matanya menatap lurus pada pemuda yang memiliki tinggi tidak lebih dari bahunya.

Dengan geram, pemuda itu mencengkram bahu gadis di depannya kuat-kuat sebelum berseru dengan datar, "Sepertinya kau harus tahu satu hal, Nee-san. Namaku Shikamaru, dan aku minta maaf."

Sebuah awal yang menegangkan antara Shikamaru dan Temari.

.

.

.

.

.

"Kankuro-sama...!"

Seorang pelayan langsung menghentikan langkahnya seraya memberi jalan pada seorang lelaki bertubuh tegap yang baru saja datang. Rambutnya yang berwarna cokelat kehitaman itu melambai pelan seiring dengan langkah tergesa yang ia lakukan.

Langkah kaki itu lalu terhenti tepat di depan pintu sebuah kamar. Di dalamnya terdapat satu ranjang yang berisi seorang gadis berambut pirang dengan mata tertutup. Di sampingnya telah duduk seorang lelaki berambut merah marun sambil menundukkan kepala.

Sungguh, hatinya sangat terluka.

Sang kakak yang sangat ia sayangi, tengah terbaring lemah di atas ranjang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari wanita itu, kecuali detak jantungnya yang lemah. Keadaan wanita itu tak ubahnya bagai ikan kecil di atas daratan. Bahkan para tabib pun mengaku telah mengangkat tangan darinya.

Dengan langkah lebar, pemuda itu berdiri di samping ranjang. Tangannya terkepal erat dengan gigi yang bergemelutuk menahan amarah. Matanya menatap dingin pada sosok berambut merah di sampingnya. Sebuah keputusan telah ia persiapkan dengan matang.

"Gaara, ikut aku!"

.

.

.

.

.

Sayup-sayup, terdengar suara-suara ribut yang berasal dari acara festival, terdengar riuh membelah udara malam Konoha. Festival yang dilakukan tidak dihari biasanya itu terlihat sedikit berbeda. Setidaknya, dari sekian banyak rakyat yang hadir, para anggota militer terlihat ikut bergabung dan memeriahkannya.

Sebuah festival, yang sengaja diadakan untuk merayakan kemenangan Konoha atas Suna.

Namun, hujan deras yang muncul secara tiba-tiba, telah berhasil membuat para peserta festival kelabakan. Sebagian besar lebih memilih tempat yang nyaman untuk berteduh. Dan sebagian lain, lebih memilih untuk bergelut dengan hujan.

Termasuk lelaki ini, Nara Shikamaru.

Ia berjalan pelan di tengah hujan. Kepalanya menengadah ke atas langit yang kelam. Tidak ada yang sadar, kalau air matanya membalur satu dengan aliran hujan yang turun. Pria itu tengah menangis dalam diam.

Potongan-potongan memori masa lalu, hingga kejadian kemarin hari di medan perang, berputar cepat di kepalanya. Membuat syaraf-syaraf di otaknya, memerintah sel air mata untuk keluar saat itu juga. Dia laki-laki, dan dia menangis. Dengan air hujan sebagai alasan.

"Kalau terjadi sesuatu pada Temari, akulah orang yang paling bersalah atasnya. Akulah yang harus dihukum!"

.

.

.

.

.

To
Be continue...


Nah, pendekkah? Oke, saya akui itu!

WARNING! Masa lalu merupakan bagian penting dalam fic ini. Jadi, saya ngga membuat kata 'Flashback' karena readers bakal ngerti sendiri dengan alurnya, insya Allah...

Terimakasih bagi Readers yang sudah menyempatkan diri untuk membaca. Kalau Readers berkenan untuk mereview, saya akan lebih menerimanya dengan senang hati...


Sinopsis chap depan:

"Aku melihatmu tenggelam, bodoh!"

"Aku sedang bertanding!"

"Omong kosong! Kau PEMBUNUH!"

"Apa kalian benar-benar kakak adik?"

"Kalau aku melaksanakannya tahun depan, aku tidak dapat bertemu denganmu,"