Hi domo~ Undine desu~

Makasih yang udah review kemarin, ya! Ada: Riisei Tachibana, Sky Melody, Vhy Otome Saoz, Kuro Ichizaki, Mayou Fietry, YuraKudoKiddo, Byzan, Just 'Monta –YukiYovi, arumru kuroi-ru, Nurrafa Aprillia, Aika Licht Youichi sudah kubalas lewat PM :DD

Balasan review untuk yang nggak login:

Yuki kineshi: halooo! Emm soal itu belum bisa kujawab, ikutin aja ceritanya yaa… benarkah? Alurnya aku coba benerin lagi disini, semoga lebih baik yaa. Makasih banyak! Maaf apdetnya nggak kilat yah, terhalang tugas kuliah :(

Silent Night: yoroshiku! Terima kasih banyak untuk reviewnya, aku coba perbaiki lagi alurnya :D

Yosh, ternyata banyak yang bilang alurnya kecepatan. Hmm, kali ini akan kucoba untuk memperbaikinya. Happy reading!


An Eyeshield 21 Fanfiction

Lost in Time

Adapted from: Lost in Time (The Clockwork Tower) game

Disclaimer for game: Namco Networks America Inc.

Disclaimer for Eyeshield 21: Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke

Written by: undine-yaha

HiruMamo slight SenaSuzu

Happy reading!

Mamori hampir saja menjatuhkan jam saku alias Hiruma ketika melihat bagian depan dari Toy Emporium terbakar. Panas menyeruak. Api berkobar-kobar, membakar dinding, jendela, papan tulisan Toy Emporium dan beberapa mainan yang dipajang di depan pintu masuk.

"Astaga! Kebakaran! Bagaimana bisa?" jerit Mamori panik. Tidak lama kemudian ia terbatuk-batuk karena asap dari kebakaran itu.

"Semua hal bisa terjadi di waktu yang kacau seperti ini," jawab Hiruma, "mungkin memang toko ini pernah terbakar di masa lalu, atau di masa depan."

Mamori menjauh untuk menghindari asap. "Sepertinya aku pernah mendengar kalau di sini pernah terjadi kebakaran," cerita Mamori, "oh tidak. Apinya harus segera dipadamkan! Musashi-kun pasti sudah menyelamatkan diri 'kan?"

"Ah, mungkin kau lupa. Tapi kuingatkan lagi, orang-orang yang ada di kota ini semuanya sedang membeku akibat terjebak dalam dimensi yang salah," kata Hiruma.

Mamori terdiam. "Jadi… Musashi-kun saat ini juga membeku seperti Suzuna-chan?"

"Semua orang membeku. Hanya kita saja yang bisa bergerak dengan bebas saat ini," lanjut Hiruma, "dengan kata lain, jika ada kebakaran seperti ini, tidak ada yang bisa melarikan diri selain kita."

Mamori menggelengkan kepalanya. "Nggak. Aku yakin Musashi-kun pasti masih bisa kita selamatkan."

Gadis itu melihat sekeliling. Tidak ada yang bisa digunakan untuk memadamkan api. Kalau harus menggunakan ember dan air dari sungai di dekat Memorial Park, Toy Emporiumnya keburu habis termakan api.

"Hiruma-kun, tidak bisakah kau menghentikan waktunya? Atau mungkin mengembalikan waktu saat Toy Emporium belum terbakar?" tanya Mamori.

Hiruma menggeleng. "Tidak ada suara dengungan yang menandakan aku bisa mengubah waktu di sini—" ia terdiam sejenak, "—tapi mungkin aku bisa menghentikan waktunya sementara supaya apinya tidak menyebar. Sementara itu kau carilah alat untuk memadamkan api!"

Jam saku emas mengeluarkan cahaya, menyorot seluruh area Toy Emporium. Api yang tersorot cahaya itu berhenti menyala-nyala.

"Kau punya waktu 60 detik. Tinggalkan aku di sini dan cepatlah cari alat pemadam api!" perintah Hiruma. Mamori mengangguk. Ia letakkan jam saku emas di tanah lalu segera ia berlari menuju Blumenshine General Store. Ia pernah ingat bahwa ada alat pemadam api di tempat milik seseorang bernama Kurita itu.

-GeneralStore-

Keanehan kembali terjadi ketika Mamori sampai di depan Blumenshine General Store. Bangunan dua lantai dengan kafe di sisi kanannya itu tertutup dengan salju, begitu pula jalanan yang ada di sekitarnya. Padahal bulan ini masih musim panas. Baru saja Mamori maju selangkah menuju jalan bersalju itu, angin berhembus kencang membawa butiran-butiran salju. Dingin menggigit. Mamori terus menerjang angin hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam Blumenshine. Untunglah suhu di dalam lebih hangat.

Semua pengunjung Blumenshine membeku, sama seperti Suzuna. Mamori tidak sempat melihat siapa saja yang ada di sana, meskipun ada beberapa wajah teman dekatnya tidak mungkin tidak ia kenali. Sara dan Ako misalnya.

"Kurita-kun! Permisi!" panggil Mamori ketika memasuki dapur Blumenshine. Mamori tahu Kurita tidak akan menyahut. Kurita membeku di dalam dapur, sama seperti yang lainnya.

Alat pemadam api itu ada di pojok dapur. Mamori segera mengambilnya, berlari keluar, menerjang badai salju sekali lagi, dan berlari lagi hingga sampai di Toy Emporium.

-ToyEmporium-

"Hiyaaaaah!" teriak Mamori sambil beraksi memadamkan api. Busa putih menyembur dari alat pemadam api itu, menutupi semua area yang terbakar hingga padam. Sekarang hanya tinggal asap yang tersisa.

"Yes! Berhasil!" Mamori meletakkan tabung pemadam api dan bersorak girang. Sesaat kemudian, ia baru menyadari ada yang hilang.

"Hiruma-kun? Hiruma-kun?" ia memanggil-manggil sambil melihat sekeliling.

"GUE DI SINI BODOH!" suara familiar nan kasar terdengar dari segumpal busa di bawah, dekat kaki Mamori.

Mamori terkesiap. Ia berlutut lalu meniup busa putih itu dan menemukan pemuda hologram berwajah setan yang dicarinya. "HIRUMA-KUN! Maafkan aku!"

Mamori segera mengangkat jam saku emas itu dengan perlahan seperti menggendong bayi. "Maaf, maaf ya. Apa kau terluka?"

Hiruma menggeram singkat, lalu mendengus kesal. Wajah khawatir dan pandangan sayang Mamori seakan meredam amarah yang ingin ia tumpahkan.

"Lupakan. Sekarang cepat kita masuk ke dalam toko mainan sialan ini."

Masih sedikit khawatir, Mamori berdiri dan berjalan masuk ke Toy Emporium.

-ToyEmporium-

Ruang utama Toy Emporium tempat mainan-mainan menarik dipajang terlihat berantakan seperti kapal pecah. Beberapa benda hangus. Mamori menjerit histeris ketika menemukan sebuah tangan terjulur dari balik rak mainan yang roboh.

"MUSASHI-KUN!" Mamori berlutut dan memandangi tangan itu dengan panik. Ia berusaha mengangkat lemari yang menindih pemuda itu, tetapi lemarinya terlalu berat.

Hiruma mendengar suara dengungan. "Hei, kita bisa memundurkan waktunya."

"Memundurkan waktu?" Mamori menatap Hiruma bingung, masih tidak mengerti.

"Mengembalikan waktu ketika lemari ini belum roboh," jawab Hiruma, "cepat!"

Mamori segera mengarahkan jam saku ke lemari dan menekan tombol di sebelah kanan. Jam saku kembali memancarkan cahaya ke lemari dan lemari itu bergerak mundur ke dinding—kembali tegak berdiri.

Ternyata benar, Musashi yang berada di bawah lemari itu. Pemuda berambut Mohawk itu terlihat baik-baik saja, tidak terluka. Tidak sampai sedetik kemudian, ia mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Mamori.

"Hei, kenapa kau ada di sini?" tanyanya. "Dan… kenapa aku tidur-tiduran di lantai?"

Mamori belum menjawab. Ia membantu Musashi bangkit dan duduk.

"Oh, aku ingat, tadi tiba-tiba saja ada gempa dan lemari itu menimpaku," cerita Musashi. "Apa kau mengangkat lemari itu?"

Mamori menggeleng. Ia sedikit bingung harus mulai bercerita dari mana. Ia semakin bingung ketika melihat Musashi yang terkejut mengetahui ada pemuda hologram di samping gadis itu.

Musashi membuka mulut dan akan mengeluarkan suara, tetapi Hiruma langsung menatapnya tajam. Musashi bungkam.

Hiruma tersenyum setan dan Musashi tersenyum simpul. Mamori tidak menyadari dua pemuda itu sedang saling memberikan isyarat.

-ToyEmporium-

Musashi mengangguk-angguk ketika Mamori berusaha menceritakan semua yang terjadi hanya dalam beberapa kalimat saja.

"Ya, aku memang menaruh catatan itu di pintu jika terjadi apa-apa. Karena selain Hiruma Yu—maksudku—Mr. Clocksmith, akulah yang mengetahui soal jam saku ajaib itu," ujar Musashi.

"Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang?" tanya Mamori. Musashi sedikit kaget.

"Lho, apakah ay—maksudku—Mr. Clocksmith tidak memberitahumu, Hiruma?" tanya Musashi pada Hiruma.

Mamori mulai curiga. Musashi sudah kedua kalinya salah mengucapkan sesuatu tentang Mr. Clocksmith. Juga, nama Mr. Clocksmith dan Hiruma. Apakah mereka satu orang? Atau orang yang berbeda? Kalau satu orang, kenapa Mr. Clocksmith sudah tua dan Hiruma masih seumuran denganku?

"Aku akan jelaskan bagaimana cara mengembalikan waktu yang hilang," suara berat Musashi membuyarkan lamunan Mamori. "Kalian harus pergi ke lantai teratas dari menara jam. Dari atrium menara, kalian bisa melewati ruang kerja, naik ke kamar Mr. Clocksmith, lalu buka pintu di sebelah kiri. Ada sebuah ruangan besar tempat tuas-tuas jam berada dan naiklah ke bagian teratas."

Mamori teringat. "Aku sudah pernah ke situ sebelumnya, menggunakan elevator. Tapi sekarang elevatornya rusak. Jadi… harus lewat ruang kerja Mr. Clocksmith ya…."

"Pintu ruang kerja itu terkunci," kata Hiruma, "apa kau punya kuncinya, Tukang Mainan Sialan?"

Mamori mendelik. Hiruma cuek.

"Mr. Clocksmith memang memberikan kunci itu padaku," jawab Musashi, "tetapi ia memintaku membuatkan robot untuk menyimpan kunci itu."

Musashi melangkah ke ruang kerjanya. Mamori mengikuti pemuda itu dari belakang dan melihat sekeliling. Ruangan dipenuhi berbagai macam mainan. Ada yang masih baik, ada pula yang sudah rusak—sepertinya akan diperbaiki.

Sebuah robot berwarna merah dengan bentuk kelelawar bermuka setan terpajang di pojok meja kerja. Sayap kanan, mata, dan ekornya hilang.

"Devil Bats," Musashi tersenyum ketika mengucapkan nama robot itu. Mamori tidak menyadari Hiruma sedang tersenyum juga. "Robot inilah yang menyimpan kunci ruang kerja Mr. Clocksmith di dalam tubuhnya."

"Sepertinya ia rusak," ungkap Mamori sedih, melihat kondisi robot itu.

"Aku bisa memperbaikinya. Tetapi bagian-bagian dari robot ini kelihatannya terjebak dalam dimensi waktu yang lain." Musashi melihat sekeliling, mencari jika ada bagian tubuh Devil Bats yang bisa ia temukan.

Pengelola Toy Emporium itu memijit pelipisnya. Setelah merasakan gempa lalu tertimpa lemari, kepalanya terasa pusing.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mamori khawatir. Hiruma melihat sekeliling dan mencoba merasakan apakah benar ada bagian tubuh Devil Bat yang terjebak di dimensi waktu lain.

Musashi menghela napas. "Kepalaku pusing. Segelas kopi sepertinya enak. Tapi aku tahu ini bukan saatnya—"

"Akan kucarikan! Akan kubelikan segelas kopi di kafe Kurita-kun. Tunggulah di sini!" kata Mamori cepat. Ia memberikan Hiruma pada Musashi lalu berlari keluar.

"OI! CEWEK SIALAN!" panggil Hiruma. Mamori tidak mendengar. Ia berlari ke arah Blumenshine.

"Tch. Bukannya cepat-cepat mengembalikan waktu, malah… ah, sudahlah," dengus Hiruma. Musashi menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Diletakkannya Hiruma di atas meja, di dekat sebuah lampu wasiat berwarna keemasan dengan tombol-tombol berwarna hijau, ungu, merah, biru, dan kuning.

"Dia memang seperti itu," ujar Musashi memaklumi.

"Kau sepertinya sudah kenal lama dengan dia," kata Hiruma.

"Cemburu?" Musashi melirik Hiruma dan tersenyum jahil.

Hiruma mengangkat alis. "Ngapain cemburu?"

Musashi memijat kembali pelipisnya. "Gadis itu tidak mengenalimu, Hiruma."

"Kami memang baru saja bertemu, bodoh," sahut Hiruma kasar. "Biarkan saja. Tidak usah kau beritahu siapa aku sebenarnya."

Musashi menatap Hiruma yang terlihat kesal. "Terserah. Semoga kita berhasil mengembalikan waktu. Karena kalau waktu tidak kembali, kau juga tidak akan kembali, bukan?"

Hiruma hanya diam.

-GeneralStore-

Mamori memasuki Blumenshine, lalu baru menyadari sesuatu.

Musashi tidak membeku ketika mereka menemukannya tertimpa lemari.

Gadis berambut auburn itu melewati para pengunjung yang tidak bergerak sambil berpikir. Bagaimana bisa? Bukankah Hiruma bilang semua orang di kota membeku?

Ia memasuki dapur dan berdiri di sebelah Kurita yang membeku. Suasana sunyi. Badai salju masih berlangsung di luar. Sedikit merinding, Mamori cepat-cepat membuatkan kopi untuk Musashi. Ia berencana membawanya di dalam botol minum tertutup.

Sambil menunggu air di teko mendidih, Mamori memperhatikan Kurita. Tubuh besarnya diliputi cahaya biru dan perak. Posisi badannya… seperti ingin mengambil sesuatu yang ada di atas laci dapur.

Mamori mendongakkan kepala untuk melihat apa yang ingin diambil Kurita. Sebuah benda berkilau seperti permata terlihat di sana.

"Untuk apa menyimpan perhiasan di laci dapur?" gumam Mamori penuh tanya. Ketel air berbunyi dan Mamori memutuskan untuk tidak memikirkan soal permata itu.

-ToyEmporium-

Musashi mengeluarkan permata yang ada di saku celananya. "Begitu terjadi gempa, segera kugenggam permata ini. Ternyata benar, permata buatan ini bisa menyelamatkanku dari gempa waktu."

"Baguslah kalau permata itu bekerja. Tidak sia-sia benda itu diciptakan. Si Gendut Blumenshine itu mungkin terlambat menggunakannya," Hiruma mengomel. "Hancurnya waktu ini benar-benar merugikanku. Cewek sialan itu harus bisa mengembalikan seluruh kota seperti semula!"

Mamori datang. Hiruma dan Musashi langsung berhenti bercakap-cakap.

"Musashi-kun! Ini kopinya," kata Mamori, menyerahkan sebuah botol minum pada Musashi.

"Terima kasih," jawab Musashi sambil membuka tutup botol minum itu. Asap mengepul.

"Aku ingin bertanya," Mamori bersandar ke meja yang ada di ruangan itu, "kenapa kau tidak membeku, Musashi-kun?"

Musashi melirik Hiruma. Hiruma hanya menatapnya datar.

"Entahlah, aku juga bingung," jawab Musashi bohong. Ia menyesap kopi panasnya perlahan.

"Sekarang kembali ke tujuan kita," Hiruma mengalihkan topik pembicaraan. "Aku dan Tukang Mainan Sialan ini sudah menemukan sayap dan ekor Devil Bat yang hilang."

Mamori melihat Devil Bat yang sudah mulai utuh. "Waah, benar. Sayap dan ekornya sudah terpasang."

"Sekarang tinggal matanya. Dimana kita bisa menemukannya?" Musashi melihat sekeliling. Begitu pula Mamori.

Mamori merasa tertarik dengan lampu wasiat yang ada di meja, tidak jauh dari Devil Bat. Iseng, Mamori menekan tombol hijau yang ada di lampu itu.

"WISH…"

Mamori terlompat kaget. "L-lampu wasiatnya berbunyi!"

"Hm?" Musashi mengernyit. "Iya, lampu itu memang bisa berbunyi jika kau menekan tombolnya."

Mamori menekan tombol kuning. "COMMAND…"

Lalu tombol merah. "IS…"

"Sepertinya jika ditekan dengan urutan yang benar, kata-kata yang dibunyikan lampu itu akan membentuk sebuah kalimat. Mungkin… kita akan mendapatkan petunjuk," terka Hiruma.

Mamori menekan tombol ungu. "YOUR…"

Tombol biru. "MY…"

"Aku tahu!" Mamori yang berotak pintar mampu mengingat setiap kata yang ada di tombol. Ia sudah bisa membayangkan kalimat yang akan muncul. Mamori menekan tombol ungu, hijau, merah, biru, dan kuning secara berurutan.

"YOUR… WISH… IS… MY… COMMAND…"

"Your wish is my command. Permintaanmu adalah tugasku," ujar Hiruma, "sempurna."

Tutup dari lampu wasiat itu terbuka. Mamori mengambil mata Devil Bat yang ada di dalamnya.

"Berhasil!" soraknya riang. Ia memberikan mata bulat berwarna hijau itu pada Musashi dan Musashi memasangnya ke Devil Bat.

Robot itu menyala. Jantung Mamori berdebar-debar. Kejutan macam apa lagi yang akan ia dapatkan? Apakah semua akan beres begitu ia mendapatkan kunci menuju ruang kerja Mr. Clocksmith?

[bersambung…]


Bagaimana apakah sudah lebih baik dari chap pertama?

Terima kasih sudah menunggu apdetanku dan sudah membaca. Ditunggu reviewnya yaaa!

Sampai ketemu secepatnyaaa!