Ada banyak hal menarik di sekitar para penunggang dan naga yang beberapa di antaranya begitu absurd, tidak rasional. Naga—begitu besar, begitu menakjubkan—tidak semua orang beruntung mampu mendapatkannya. Layaknya mencari jarum dalam jerami, menemukan penunggang tidaklah semudah yang orang bayangkan. Telur-telur oval yang nampak seperti batu permata raksasa itu memilih penunggangnya sendiri, menetas dengan sebuah sentuhan; dan pada sentuhan pertama itulah mereka menjalin ikatan batin yang begitu kuat. Tak ada yang bisa mengalahkan ikatan ini, mereka sama halnya seperti simbiotik mutualisme yang begitu bergantung sehingga jika salah satu dari mereka, naga atau penunggang itu mati…

—maka itu akhir dari keduanya.


.

.

Enchanting and Damned
By Shiazen

Thanks for Mimi Mumu Memu as beta reader

.

Disclaimer: Inheritance Cycle © Christopher Paolini
Warnings: Obviously, spoilers.

.

.


Bagian 1: Begins Night (Malam Awal)

Udara dingin berhembus di bawah sinar rembulan, menghantarkan emosi yang akan mengubah dunia. Bocah itu menyandarkan punggungnya pada sebuah batu besar, wajahnya memancarkan keputusasaan dan kesedihan. Ia jelas bukan orang biasa, pakaian serta senjata yang ia kenakan cukup memperlihatkan satu fakta penting; ia penunggang.

Bocah—tidak, matanya tidak lagi polos untuk ukuran seorang bocah—pria itu menggeram, sedikit lagi dan mungkin seluruh kewarasan yang masih bersisa dalam benaknya akan sepenuhnya menghilang. Berhari-hari lamanya ia berduka akan kematian Jarnunvösk, naganya, yang terbunuh di Spine, tertusuk oleh anak panah terkutuk bangsa Urgal.

Luka-lukanya pada hari itu memang telah sembuh, namun rasa kehilangannya masih sama—dan seakan diperbarui setiap harinya. Ia menyesali segalanya; kecerobohannya, keangkuhannya, kebodohannya. Sepanjang hari pikirannya dipenuhi dengan beribu 'jika saja'. Jika saja ia tidak menantang teman-temannya untuk terbang ke Spine, jika saja ia menghiraukan peringatan orang-orang tentang bahaya yang mungkin datang, jika saja ia tidak meremehkan keberadaan musuh.

Bahkan jika saja ia menusuk hatinya sendiri seperti yang dilakukan para Urgal kepada naganya, ia tidak akan mendapatkan apa pun sebagai gantinya. Semua perkataan itu benar, seorang penunggang tak akan bisa hidup tanpa naganya. Ia mungkin masih memiliki beratus-ratus tahun kehidupan, namun menghabiskannya tanpa seekor naga di sisinya? Itu lebih buruk dari kematian.

Penunggang itu mengepalkan tinjunya. Ia tidak lemah, ia masih bisa menggunakan sihir. Meskipun begitu, satu hal yang terpatri di pikirannya—yang setiap memikirkannya saja membuat darahnya mendidih—adalah ketika para Tetua Penunggang tidak mengabulkan permintaannya akan naga baru. Orang-orang tua bodoh yang seharusnya mati membusuk! Mereka juga penunggang, mereka seharusnya tahu bagaimana rasanya kehilangan seekor naga. Ia bahkan membuktikan bahwa ia cukup kuat untuk membunuh para urgal di Spine setelah naganya mati.

Dari segala aspek pun, ia muda dan kompeten, ia kuat, ia bahkan mampu bertahan hidup meski harus menempuh pengunungan selama dua bulan lamanya. Fakta bahwa ia nyaris mati dalam perjalanan tidak mengurangi presepsi bahwa ia lebih dari orang pada umumnya. Bukankah orang sepertinya layak untuk mendapatkan naga kedua?

Namun pria elf itu menghancurkannya.

Semuanya seharusnya berjalan dengan baik, jika saja makhluk bertelinga runcing itu tidak menatapnya kala itu; bola mata hijaunya menatapnya lurus, seolah mencari jauh ke dalam miliknya. Apa yang kemudian elf itu maksud dengan dapat melihat kegilaan dalam matanya?

Sekali lagi ia menggeram, kesedihannya sudah bercampur aduk dengan amarah, melebur dengan sisa kewarasan yang ada dalam otaknya. Ia tidak akan tinggal diam. Mereka, penunggang-penunggang, adalah orang-orang yang tidak berguna, sama derajatnya dengan makhluk busuk bergigi tajam yang membunuh naganya. Mereka lebih dari pantas untuk mendapatkan kematian.

Tak lagi menggeram, kini ia menampilkan seringai kejam. Dendamnya akan terbalaskan. Ia akan menghancurkan semua penunggang dan membuat seluruh Alagaësia bertekuk lutut di depannya. Ia akan memperlihatkan kepada dunia akan kesakitan, ketakutan, dan ketidakberdayaan. Ya! Lihat saja! Semua penunggang tua yang dungu itu akan menyesali keputusan mereka.

Mereka akan membayar mahal dengan darah mereka sendiri.

"Hahahahahhahaha!"

Sebuah tawa terlontar begitu saja dari mulutnya, berpadu pada rencana picik yang menari di benaknya. Darah akan tercecer, mereka akan merasakan apa yang ia rasakan, dan ia akan membuatnya berkali-kali lebih parah; Ia akan membakar mereka, mematahkan tulang-tulang mereka, melepaskan kulit mereka dari otot-ototnya, dan menghancurkan setiap inci pikiran mereka. Kemudian baru ketika mereka meminta kematian itu sendiri, ia akan dengan senang hati memberikan kepala mereka pada Urgal-Urgal yang kelaparan.

Detik berganti menjadi menit, menit menjadi jam. Jam serasa berhari-hari lamanya. Ia tertawa dan terus tertawa—kewarasan telah meninggalkannya—ia sudah sinting.

Setelah tawanya yang bagai selamanya itu memudar, ia mengambil napas panjang, berusaha tenang. Ia telah menyusun rencana; pertama-tama ia akan bertambah kuat, tidak peduli dari mana asal kekuatan itu—ia akan membayar bahkan jika harus berguru pada iblis—kemudian ia akan menambah pasukan, memperkuat diri untuk memulai perlawanan. Dan ketika sebagian besar Alagaësia telah hancur menjadi abu, ia akan membangun kekaisaran.

Sebuah kekaisaran dengan dirinya sebagai raja. Ia akan membentuk aturan baru dan menghapuskan ideal lama yang sudah bobrok itu. Dengan begitu ia akan mendapatkan semua yang ia inginkan. Dengan begitu semua orang akan merasakan penderitaannya. Dengan begitu seluruh Alagaësia akan takluk di tangannya!

Tawa kembali meledak, kini lebih keras dari yang sebelumnya.


.

.

Bersambung…

.

.


A/N (warning: Brisingr Spoiler)

Oke, ini belum tentang Morzan maupun Selena, lagian ini masih prolog kan, jadi saya rasa ga harus tentang dua orang itu. Tapi intinya semua kegilaan Galbatorix-lah yang merupakan awal pertemuan mereka, jadi semoga saja ini masih di jalur yang benar .w. (Lagipula kita gabisa ngomongin Morzan tanpa campur tangan Galbatorix orz~)

Dan mengenai Elf itu, maksudnya adalah Oromis. Jelas kan? Oromis adalah orang yang menghasut Elder Riders—tetua penunggang—untuk tidak memberikan naga lagi pada Galbatorix karena ada kegilaan di matanya; yang memang benar. Jadi, waktu Murtagh bertarung dengan Oromis, Galbatorix punya alasan yang kuat kenapa ia merasuki tubuh Murtagh dan membunuh Oromis saat itu juga (meskipun secara teknis yang membunuh tetap saja Murtagh, meski tidak dengan kemauan sendiri).

Akhir kata, terimakasih sudah baca :'D