Matsue, Jepang, 1890

Pagi yang cukup dingin di awal musim semi, dari ujung barat cakrawala terdengar terompet kapal berbunyi. Perlahan merapat menuju ke arah dermaga. Sesaat kemudian jangkar pun diturunkan bersamaan dengan anak buah kapal yang berlari turun dari kapal untuk menambatkan tali kapal. Hiruk pikuk penumpang yang hendak turun pun mulai terdengar, memecah keheningan dermaga pagi itu.

Tangga kapal pun diturunkan dan para penumpang mulai mengantri turun satu per satu dari kapal tersebut. Terlihat jelas bahwa kebanyakan penumpang kapal tersebut berwajah oriental, namun ada sekitar empat penumpang yang justru nampak berbeda, tiga orang diantara mereka adalah lelaki, dua pemuda dan satu pria yang sudah cukup tua sedangkan sisa satu orang lainnya adalah wanita setengah baya. Wajah mereka lebih terlihat seperti wajah-wajah orang Eropa. Mereka mungkin adalah pendatang dari negeri Barat yang ingin mengadu nasib di Jepang.

Keempat orang tersebut turun paling terakhir dari kapal tersebut. Barang bawaan mereka cukup banyak, sekitar enam koper besar dimana salah satu koper terlihat penuh akan dokumen-dokumen. Mungkin mereka adalah jurnalis, atau sastrawan.

"Jepang! Akhirnya kita sampai!" teriak salah satu pemuda dari keempat orang tersebut sambil mengangkat tangannya ke langit pagi yang cerah setelah turun dari kapal. Pemuda ini berambut hitam pendek yang disisir ke kiri, matanya berwarna kuning tua, dan tubuhnya cukup tinggi. Dia mengenakan kemeja putih berlengan panjang dengan rompi coklat dan celana kain hitam lengkap dengan sepatu kulit berwarna coklat. Dia kemudian memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, merasakan sejuknya udara pagi.

"Sssst! Pelankan suaramu, Lafka! Bantu aku membawa barang-barang ini!" ucap pemuda lain yang mengenakan kaus hitam dan celana tiga perempat dengan motif kotak-kotak dan sandal kulit berwarna hitam yang berada di belakang pemuda yang tadi berteriak sambil memanggul dua koper besar di kedua bahunya sembari berjalan sedikit sempoyongan menuruni tangga kapal. Tubuhnya terlihat sedikit lebih rendah dari pemuda yang sebelumnya, Lafka. Namun, pemuda ini memiliki badan yang lebih kekar, terlihat dari kaus hitam ketat yang dipakainya. Rambutnya coklat sebahu dan sedikit acak-acakan, matanya berwarna merah, penuh akan semangat.

"Ayolah, Aldey, biarkanlah seorang pria mengungkapkan kebahagiaannya." ucap seorang wanita setengah baya yang berada di depan pria yang berteriak tadi, menyela ucapan Aldey sambil tertawa kecil. Tubuh wanita ini sangatlah indah dan tinggi layaknya putri-putri kerajaan atau wanita dari kaum bangsawan, sangat cocok dengan gaun merah muda yang sedang dipakainya. Rambutnya berwarna coklat, dilihat dari gaya rambutnya, yaitu jalinan Vortex Bun, rambut wanita ini cukup panjang, matanya berwarna coklat muda.

"Pergi ke Jepang adalah impian Lafka dari dulu, biarkanlah dia menikmatinya sejenak, Aldington." ucap pria tua yang masih menuruni tangga kapal, mendekati Lafka dan Aldey. Pria tua ini menuruni tangga kapal secara perlahan sambil memainkan tongkat kayu yang di bawanya. Mata abu-abunya melihat ke arah kedua pemuda tersebut. Rambutnya sudah mulai sedikit beruban, menunjukkan usianya yang sudah tidak muda lagi, namun tidak terlalu tua, begitu pula kumis dan janggutnya. Pria tua ini tampak berwibawa dengan setelan kemeja putih dan jas berwarna hitam yang dipadu dengan celana kain hitam panjang dan dasi putih yang dikenakan dilehernya.

"...Baiklah, Tuan dan Nyonya Vacille. Tetapi, saya kesulitan untuk membawa semua barang ini." ucap Aldey setelah terdiam sejenak mendengar ucapan tuan dan nyonya Vacille tadi. Dia kemudian menaruh kedua koper yang dibawanya tadi ke bawah, ke tanah dermaga dekat dengan kapal yang mereka tumpangi tadi. Kemudian dia pun berlari naik, kembali ke atas kapal untuk mengambil koper lain yang masih tersisa di kapal.

"Ah.. Ahahaha. Benar juga. Hei Lafka! Bantulah kawanmu ini.." ucap tuan Vacille memanggil Lafka sambil mengayunkan tongkatnya sambil melihat Aldey yang nampak kesusahan membawa koper-koper tersebut.

"Ah! Maafkan saya, Tuan Vacille! Akan segera saya lakukan!" ucap Lafka secara cepat setelah mendengar panggilan dari tuan Vacille. Dibukanya mata yang dipejamkannya tadi dan langsung berlari naik ke atas kapal, melewati tuan Vacille yang sudah berada di ujung bawah tangga kapal.

"Akhirnya kau datang juga, bantu aku. Kau cukup angkat dua koper disana, sisanya biar aku yang angkat." ucap Aldey ketika Lafka menghampirinya di atas kapal sambil menunjuk ke arah kedua koper yang dia maksud, yang berada di dekat pagar pengaman kapal.

"Baiklah. Segera aku laksanakan!" ucap Lafka sambil member hormat kepada Aldey, menirukan tentara yang memberi hormat kepada pimpinannya, kemudian berjalan menuju ke arah koper yang akan diangkatnya.

"Berhentilah bercanda..." ucap Aldey sambil mengangkat koper-koper yang tersisa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pun kemudian berjalan turun dari kapal.

Sementara itu, Lafka yang sedang berjalan menghampiri koper-koper yang akan diangkutnya tampak santai. Dilihatnya sejenak keadaan di sekitar kapal, dimana banyak anak buah kapal kini hilir mudik membersihkan kapal sebelum kembali melaut. Dilihatnya laut yang tenang, sinar matahari hari yang hangat menyentuh kulitnya. Namun, tiba-tiba dia melihat sesuatu yang cukup menakjubkan dan juga aneh.

Lafka melihat dua sosok wanita, berdiri di tengah lautan yang tenang menatap ke arah cakrawala. Yang lebih menakjubkan lagi, salah satu dari dua wanita tersebut memiliki telinga layaknya rubah dan ekor yang sangat banyak. Sedangkan wanita yang satunya, berambut panjang, memegang payung dan terlihat sekilas mengenakan gaun berwarna ungu.

Lafka semakin terheran-heran ketika dia melihat kedua wanita tersebut perlahan menghilang memasuki lautan melalui sebuah celah hitam misterius yang tiba-tiba muncul dan menelan mereka. Lafka pun langsung berlari menuju ke haluan kapal dan mencoba mencari jejak-jejak dari apa yang dia lihat. Namun, percuma, dia tidak menemukan apapun.

"Hey Lafkaaaa~ Sedang apa kamu di sana? Kenapa lama sekali?" terdengar ucapan nyonya Vacille dari dermaga.

"Ah! Maaf Nyonya! Saya pikir tadi saya melihat lumba-lumba!" teriak Lafka menjawab ucapan nyonya Vacille.

"Lumba-lumba di dekat dermaga ini? Ohohoho, kau pasti salah lihat, Lafka." ucap tuan Vacille sambil tertawa kecil.

"Saya akan segera kesana!" ucap Lafka dengan cepat sambil berlari membawa kedua koper yang ditugaskan kepadanya.

Dalam hati Lafka masih memikirkan apa yang sebenarnya dia lihat tadi, Makhluk mitologi Jepang? Benarkah mereka ada? Rasa ingin tahu di hatinya semakin kuat seiring langkahnya meninggalkan dermaga bersama ketiga orang lainnya.

"Seiring dengan berdirinya Pembatas Agung Hakurei, lahirlah Gensokyo yang baru.
Tersegel dari dunia luar yang mulai melupakan keindahan sebuah ilusi.
Di saat yang bersamaan, datanglah seorang pemuda yang merupakan manusia pertama yang memasuki Gensokyo dari luar setelah kelahirannya.
Yang kelak akan berdampingan dengan salah satu penciptanya..."

Sejarah yang Hilang - Hieda no Akyuu

Generations, Borders, and Illusion.
A fanfic tribute for Maribel Hearn and Yukari Yakumo