HOLLA MINNA! BERTEMU LAGI DENGAN SAYA! Sekian lama gak nongol T.T huwee! Author baru aja nyasar ke fandom KnB #plaak! O,o abis kepincut sama cowok-cowok ganteng disana. Ge hee. Kalo udah seneng, Author jadi pengen buat fanfictionnya.. jadi… Author ada buat cerita dulu di fandom sono… he.. he.. he..

Tapi tenang! Masih setia sama FT lah~

Oukie dah! Gak penting!

Sebelum itu..

TERIMA KASIH UNTUK PARA REVIEWERS YANG CETAR BANGET! Author sudah membaca reviewan kalian T.T dan aku terharu, hiks, aku akan membalas reviewan kalian secepatnya! Pokoknya ASAP! :]

Reviewan kalian buat Auhtor cengar-cengir… abis gokil sih! Hehe salam sayang untuk semua!

BERKAT REVIEWAN KALIAN AUTHOR JADI SEMANGAT NGETIK ^^

Yup langsung aja!

Di siang hari yang cerah itu, dua orang bersurai pirang tengah berjalan kembali menuju kota. Senyum keduanya merekah. Wajah mereka sumeringah. Sesekali mereka melirik satu sama lain dan membuat tawa kecil keluar dari bibir mereka. Tangan keduanya saling menggenggam dan jari-jari mereka saling bertautan satu sama lain.

"Jadi.. apa kau ingin berkeliling kota sebelum kita benar-benar kembali?" Tanya pemuda berambut pirang pucat itu, menghadap seorang gadis disampingnya yang sedari tadi menempel padanya.

"Tentu! Kenapa tidak. Ini hari yang indah!" Gadis itu melompat kecil. Membiarkan helai demi helai rambut pirangnya tersisir angin yang berhembus pelan.

"Ya.. sangat indah.." Pemuda itu melihat senyum gadis berambut pirang itu tanpa berkedip. Hari memang begitu indah dengan adanya seseorang yang kau sayangi disampingmu.

"Hey Lucy.." Sting menghentikan langkahnya. "Kau yakin dengan ini?"

Lucy terdiam sesaat, sebelum senyumnya kembali tertempel pada wajahnya "Aku yakin"

.

.

FANFICTION. NET

AUTHOR : Nshawol56/566

GENRE(S) : Humor, Romance, Friendship

WARNING: Chaos, GAJE, Alur gak jelas—benar-benar semerauk, hanya untuk hiburan semata, TYPO (S)

Disclaimer : Hiro Mashima

.

.

"TADAIMAAAAA!" Teriak Loke begitu ia menjajahkan kaki didalam guild fairy tail. Rambut cokelat ala singanya itu, sudah terlihat semakin mekar. Wajahnya semeraut. Kacamatanya bahkan sudah mencong sana mencong sini. Sepertinya Loke yang selalu terlihat—mempesona itu tak ada lagi sekarang.

"Okaeri, Loke…" Mira mendongakan kepalanya sedikit agar dapat melihat beberapa pemuda lain yang berjalan dibelakang Loke. Ternyata penampilan mereka semua tak kalah membuat para anggota guild di dalam gedung cengo. "…Rogue, Hibiki, Gray dan Natsu"

"Hah…" Mereka semua menghela nafas dalam. "Jadi apakah kalian menemukan mereka berdua?" Levy berlari menghampiri kelima pemuda berwajah pasrah itu yang baru saja menempelkan pantatnya di kursi bar. Sesekali mereka menjedot-jedotkan kepala mereka ke meja bar, atau memukul-mukul kening mereka sendiri. Atau mulai stress dan akhirnya membuka baju mereka—tidak. Itu hanya Gray.

"Owuh, ada apa dengan wajah-wajah itu?" Cana mengacak rambut kelima pemuda yang tengah dilemma itu, secara bergantian dan membuat mereka mengeluarkan erangan sebal "Wajah kalian mengkerut. Apa kalian akhirnya menyerah dengan Lucy? Hehe"

Mereka berlima memberikannya tatapan sinis "URUSAII!" Sebelum kelimanya menjedotkan kepala mereka ke meja bar, secara bersamaan. Aura-aura gelap dan suram sudah menyelimuti kelimanya. Membuat beberapa anggota guild lain cekikikan melihat tingkah mereka.

Belum lagi penampilan mereka yang tak layak dibilang sebagai penyihir melainkan gelandangan.

"Depresi bukan sesuatu yang dilakukan oleh pria sejati" Elfman menggelengkan kepalanya. Dan seperti biasa.. tak ada yang mendengarkannya bicara.

"Oh ayolah.. kenapa kalian pasrah begitu. Bahkan.. Natsu? Rogue? Kalian kan dragon slayer? Harusnya bisa melacak keberadaan mereka?" Kata Lisanna sembari menepuk-nepuk punggung sahabat sedari kecilnya itu. Natsu menolehkan kepalanya perlahan menghadap Lisanna, bulir-bulir air mata bak versi anime sudah menghiasi wajahnya.

"Sepertinya.. Stinky membawa Luce terlalu jauh" Natsu mengepalkan tangannya, membuat urat-urat yang menjalar ditangannya nimbul pada permukaan kulitnya "Kuharap Stinky tidak melakukan sesuatu pada Luce!" Natsu menaruh salah satu kakinya diatas meja bar dan membuka mulutnya lebar-lebar membiarkan semburat api keluar dari mulutnya "Atau dia akan kubakar!"

"Oh tidak!" Tiba-tiba Mira menutup mulutnya dramatis, layaknya sinetron atau pun FTV "Huh? Ada apa Mira?" Erza menaruh tangan di bahunya, sebagai tanda khawatir akan temannya itu yang tiba-tiba menampakan ekspresi… terkejut?

"Kalian sadarkah… kita telah membiarkan Lucy keluar hanya berdua.. maksudku.. hanya berdua dengan Sting!" Mira mulai lompat-lompat tak tenang. Ia bahkan mundar-mandir kesana kemari. Membiarkan suara yang berirama keluar dari sepatunnya ketika ia melangkah.

"Lalu?" Gray mentautkan alisnya. Sembari menatapnya malas. Sungguh? Mencari Lucy itu sangat melelahkan. Gray bahkan tak peduli lagi dengan Juvia yang masih menangis dan membanjiri setengah gedung.

Okeh. Mungkin Gray tak peduli.. tapi yang lain peduli! Bahkan beberapa anggota guild mulai mengungsi ketempat-tempat tinggi. Seperti.. diatas meja, diatas kursi, nempel pada pilar-pilar guild.

"Apa kau bodoh, Gray? Sting seorang lelaki! Menurutmu kemana ia akan membawa Lucy?!" Mira mulai berfantasi ria dengan otak hentainya.

Semua yang mendengar perkataan Mira tengah dalam mode berpikir, ketika sebuah jentikan jari kembali mengalihkan perhatian mereka "Jika kalian seorang lelaki.. apa yang mungkin kalian lakukan jika tengah berdua dengan gadis—seseksi—semolek—secantik—semulus—selembut—sebersih—sesemok—seanggun—sepolos—se… seperti Lucy?" Cana menatap kelima pemuda yang menjadi kandidat dalam kompetisi fanfiction itu sembari berkacak pinggang.

BLUSH!

Dalam waktu seketika wajah Gray, Rogue, Hibiki dan Loke memerah. Sepertinya mereka langsung menuju inti yang dibicarakan oleh Cana. Cana hanya dapat menyengir lebar. "Ara..Ara.. jika masalah seperti ini kalian sangat cepat tanggap" Mira tersenyum kecil sambil memanggut-manggutkan kepalanya.

"Ano.. Mira.." Romeo mengacungkan tangannya, sembari tangan satunya memegang punggung salah satu anggota guildnya "Aku rasa.. ada seseorang yang berbeda pendapat dengan keempat lainnya" Romeo menunjuk pemuda berambut merah muda yang masih memproses data. Kepalanya penuh akan benang kusut juga asap yang keluar dari telinganya.

"Oh! Ayolah Natsu! Kau pasti bercanda!"Macao sudah tak sabar dengan otak yang Natsu miliki. "Bahkan aku saja yang sudah tua masih memiliki hasrat seperti itu!"

Begitu Macao berteriak beberapa gadis yang berada didekatnya seperti Erza, Mira, Juvia dan Wendy bahkan Charle berjalan mundur kebelakang. Bahkan untuk seekor kucing saja merasa tak aman berada di dekat Macao. Emang sih, dari wajahnya saja sudah kelihatan ia bukan pria-pria polos yang tak mengerti hal-hal seperti itu.

"Flame-head! Kau sama sekali tak tahu?"

"Coba kau pikirkan lagi?" Hibiki membantu Natsu untuk berpikir.

"Ng…" Hanya ini suara yang Natsu keluarkan sejak tadi.

"Ayolah kau pasti bisa Natsu-san, berpikirlah lebih keras!" Rogue menyemangatinya.

"Kau pasti bisa! Pikirkan semua tentang Lucy!" Loke menaruh tangan dikedua bahu Natsu dan menggoncang-goncangkannya kedepan dan kebelakang.

Yang lain hanya bersweat-drop melihat adegan itu "Kalian kan rival… kenapa malah membantu satu sama lain" Freed memukul keningnya sendiri.

"Aha!"Begitu Natsu menyatukan telapak tangannya. Semua orang menatapnya dengan tatapan 'masih ada secercah harapan' pada otaknya.

"Jika aku berdua dengan Lucy.. aku akan ingin membawanya…"

"Membawanya…" Semua anggota guild mengulangi perkataan Natsu menyengir lebar ,sembari membuka telinga mereka lebar-lebar. Kini semua anggota berkumpul disatu titik. Yaitu tempat Natsu berada. Wajah mereka semua begitu dekat.

"Kenapa kalian ingin tahu sekali?!"

"KATAKAN SAJA!" Teriak mereka semua bersamaan.

"…Memancing"

Semua anggota guild bukan lagi facepalm, melainkan facefloor.

"ARGH! HENTIKAN SAJA PEMBICARAAN INI!" Teriak Cana frustasi "Biarkan saja si bodoh itu!"

Setelah itu beberapa orang saling menggerutu tentang betapa bodohnya Natsu.

"Okeh! Cukup! Lu-chan sangat lama!" Levy berjingkrakan, kesal, menunggu kepergian Lucy yang ternyata begitu lama. Ia hanya tak sabar mendengar semua yang terjadi! "Gajeel! Tak bisakah kau mencari dimana keberadaan mereka?" Levy berlari kecil kearahnya.

"Huh? Aku dragon slayer, kecil. Bukan pencari orang hilang" Jawabnya malas, sebelum kembali memejamkan mata.

"Tapi—" Levy menghentikan ocehannya, sesaat ketika ia melihat seseorang masuk kedalam guild dan ia tahu siapa itu.. "..JASON!"

"Cool! Cool! Moshi-Moshi Minna!" Sapa Jason sembari berpose di depan pintu guild. "Ada apa kau kemari?" Tanya Erza langsung pada inti.

"Cool! Cool! Titania bertanya padaku! Aku hanya ingin mengantarkan majalah 'Weekly sorcerer' pada Mira-san!" Jawab Jason sembari mengangkat sebuah majalah ditangannya.

"Oh!" Mira berlari menghampirinya "Arigatou.. Jason!" Mira mengambil majalah itu dari tangannya. "Mira-san! Kau pasti suka edisi minggu ini, beritanya benar-benar baru tadi siang! Cool!" Katanya sebelum ia berjalan keluar guild.

"Tadi siang?" Mira memiringkan kepalanya. Begitu Mira mengalihkan perhatiannya pada cover majalah, Ia berteriak histeris.

"Nani?! Nani?! Mira-nee?!"

"Cover majalah minggu ini… Lucy…" Mira berkata disela-sela engahan nafasnya "Lalu? Bukankah bunny-girl sudah sering menjadi cover majalah?"

"… Ini berbeda Gajeel! Lucy bersama dengan Sting berada pada cover majalah minggu ini!"

"APA?!"

"Dan.. tema dari majalah minggu ini adalah… 'sudah sejauh mana Lucy Heartfillia dari Fairy tail dan Sting Eucliffe dari Sabertooth menjalin kasih?' " Baca Mira pada halaman pertaman majalan mingguan tersebut.

Mendengar itu terlihat diatas masing-masing anggota guild bertuliskan 'loading' bahkan diatas kepala Gray, Rogue, Hibiki dan Loke bertuliskan 'not responding'. Dan Natsu? Ia bahkan bertuliskan 'Your computer might be at risk'.

"Chotto matte! Apa maksud semua ini? menjalin kasih? Sejak kapan mereka—"Erza sontak menghadap Mira "Mira.. artikel itu.. baru keluar tadi siang bukan?" Mira mengangguk pelan "Berarti… sejak tadi siang pulak mereka jadian!"

"APA?! TAK MUNGKIN! HIMEKUUUUU!" Loke menjedotkan kepalanya ke dinding beberapa kali. "Aku kalah dengan.. Stinky… kalah sama yang kayak gitu… yang jenisnya begitu… yang seperti itu… yang bentuknya macam itu…" Natsu memeluk tubuhnya sendiri sembari pundung di pojokan guild. Aura gelap sudah menyelimutinya.

"No! Lucy! Perfume-mu sudah tak harum lagi! karena kini kau bersama dengan Sting!" Hibiki berpose alay sembari mencium bunga mawar merah layu ditangannya. Karang juga deburan ombak yang menabraknya kini menjadi latarnya.

Saking depresinya, Gray tanpa sadar membuka seluruh bajunya—lagi, yang sudah susah payah Erza memunggut dan memberikan padanya. Membuat para gadis sontak menutup mulut mereka dan melebarkan mata mereka—salah fokus.

Rogue hanya mematung ditempat.

"Oh-Oh! Baca artikelnya Mira!" Perintah Evergreen. Mira mengangguk dan kembali mengalihkan bola matanya pada tulisan-tulisan diartikel majalah mingguan tersebut.

" Pro and Con StingLu Couple

Baru-baru ini kami wartawan cetar terpopuler se-Magnolia mendapati sepasang penyihir berbeda guild yang tengah berjalan bersama. Yang tidak lain adalah Lucy Heartfillia dari guild fairy tail dan Sting Eucliffe dari guild sabertooth.

Mereka telah menikmati indahnya hari ini dengan berjalan-jalan mengelilingi kota. Karena kami wartawan memiliki rasa penasaran yang tinggi, kami pun mengikuti mereka secara diam-diam.

Kami yakin, mereka mengetahui keberadaan kami, karena Sting-san adalah seorang dragon slayer. Awalnya kami kira mereka akan segera mencoba lepas dari kami begitu mereka tahu kami mengikuti mereka.

Tapi apa yang kami lihat?! Mereka malah semakin lengket! Bahkan mereka berjalan saling bergandengan satu sama lain?!

Belum lagi beberapa kali kami melihat Sting-san mendekatkan wajahnya pada Lucy-san, apa yang sebenarna ia coba lakukan?! Apa ia akan melakuakn hal yang tidak senonoh pada Lucy-san?!

Tapi sekali lagi… sesuatu yang menganggetkan kembali terjadi!

Lucy-san bahkan tak menolak ataupun menghindar saat Sting-san mendekatinya! Lucy-san bahkan terlihat senang akan tingkah Sting-san!

Apa sebenarnya hubungan mereka?

Apa benar mereka sudah resmi jadian?

Ataukan mereka hanya mencari sensasi belaka?

Lalu… bagaimana tentang kontes fanfiction yang sedang marak di khalayak ramai?

Belum lagi kekecewaan para kontestan lain!

Ini semua masih menjadi sebuah…

MISTERI."

Komentar artikel dari beberapa penduduk :

-Aku tak mengerti. Bukankah Lucy-san harusnya memilih siapapun yang memenangkan kontes fanfiction itu? ini sangat tidak adil bagi kontestan lain. (Penduduk 1)

-Aku cukup senang dengan mereka berdua. Mereka pasangan yang serasi, lalu apa masalanya?(penduduk 2)

-Ya. Aku juga setuju saja. Lucy-san berhak memilih siapapun yang ia mau (Penduduk 3)

-Tetap saja. jadi? Apa gunanya sejak awal kontes fanfiction itu? kami para penduduk juga memiliki 'pilihan' kami sendiri. Dan menerka-nerka Lucy-san akan berakhir dengan siapa? Jika seperti ini, sama saja membuat kontestan juga para fans penduduk kecewa! (penduduk 4)

-Jangan mengoceh yang tidak-tidak. Kenapa kita tak dukung saja hubungan mereka? Itu pilihan mudah. Jadi tidak perlu menimbulkan Pro dan Con (penduduk 5)

NOTE : Jadi, semuanya. Untuk saat ini, dari beberapa penduduk yang kami wawancarai, Pro dan Con StingLu couple adalah.. 2 : 3 "

"Tak mungkin! Aku pikir Lucy memilih Rogue!" Seseorang berteriak dari pojok guild.

"Bukan begitu… tapi.. hanya saja.. bukannya Lucy.." Cana tak percaya prediksi kartunya meleset. "Oh.. Cana! Kau harus membayar taruhanmu!" Macao berteriak dari ujung guild, membuat Cana mengutuk kartu tarotnya sendiri karena ramalannya meleset. Ia hanya bertanya-tanya, bagaimana bisa meleset?

"Tak mungkin.." Lisanna menutup mulutnya yang masih terbuka lebar "Tapi aku pikir Lucy-san.. akan memilih..."

"Natsu" Levy menyambung kalimatnya "Kupikir juga begitu. Apa benar, Lu-chan memilih Sting?" Gadis mungil nan manis itu, melirik iba Natsu yang hanya gigit jari di pojok gedung, sembari tangan satunya memeluk tubuhnya sendiri. "Salamander kini sakit jiwa" Cibir Gajeel yang tiba-tiba saja bangun dari tidurnya dan berdiri disamping Levy.

Beruntung bagi Gajeel ia tak mendapatkan saingan susah seperti Natsu untuk mendapatkan gadis yang ia suka. Saingannya hanya Jet dan Droy.. apa yang susah dengan duo—yang ketika berjalan membentuk angka sepuluh itu?

"Juvia tahu! Lucy-san akan mengecewakan, Gray-sama!" Juvia mengelap air matanya yang baru saja berhenti, dan berpose layaknya patung bundaran HI "Juvialah yang terbaik untuk Gray-sama!"

"Setelah kupikir-pikir… seharusnya Lucy memilih Natsu. Tapi.. yah. Itu pilihannya" kata Erza sebelum membantu mengangkat Mira yang pingsan disebelahnya setelah ia berteriak begitu keras. Bahkan teriakan Mira tadi sempat membuat Erza terkena gangguan telinga sementara, lantaran terikannya begitu melengking.

"Sudah kuduga. Aku tahu Lucy lebih memilih Sting" Wakaba menolehkan kepala pada Macao "Itu sangat jelas bukan , Macao? Sebagian dari guild kita memilih Lucy dengan Natsu. Haha. Tapi kita beruntung memilih Sting, karna Cana akan segera membuat kita kaya mendadak"

"Siapa sangka, taruhan ini membawa keberuntungan bagi kita" Macao memukul pundak Wakaba pelan, senyum lebar bangga karna menang dalam taruhan, tak pernah luntur dari wajahnya. Serius? Tertawa diatas penderitaan orang lain?

"Laxus! Kau dengar itu! Lucy memilih Sting! Apa itu tak apa-apa?" Ever berlari mendekati Laxus yang tengah melihat sekeliling—keramaian. Ia kadang menginginkan guild dapat tenang meski hanya sehari. Tapi yah.. kalau tiba-tiba guild fairy tail tenang, justru itu akan menimbulkan suatu kejanggalan.

"Huh?" Laxus meliriknya sebentar. "Lucy? Hh… yah. Mau bagaimana lagi. sudah kukatakan. Tak dapat juga tak apa. Ia terlalu muda untukku" Engahan nafas Erza ketika mengangkat tubuh Mira, menyita perhatiannya. Koreksi. Bukan mengangkat, melainkan menyeret layaknya kantong sampah yang hendak ia buang ke TPA.

"Lagi pula.. sepertinya ada yang membutuhkan bantuanku" Laxus berjalan menjauh dari Ever. Ever memperhatikan Laxus yang mendekati Erza—dimana ia tengah berusaha menyeret Mira. Matanya membesar. Mulutnya terbuka lebar hingga dapat menyentuh lantai (*Lebay). L-Laxus mengangkat Mira ala bridal style?! Laxus yang tak acuh pada wanita itu?! (Jika readers mempunyai kemampuan khusus untuk mendengar backsound adegan itu.. itu adalah lagu—Titanic-Celin Dion)

"O-Oh.." Ever menutup paksa mulutnya yang masih menganga "O-Okeh.. setidaknya aku tahu, seorang gadis telah benar-benar menarik perhatiannya…"

"Ne.. Ne.. Wendy. Sting-san dan Lucy-nee cukup serasi, bukan? Maksudku… warna rambut mereka cocok?" Sahut Romeo yang tiba-tiba saja nimbrung disamping Wendy dan Charle yang—kebetulannya tengah membicarakan hal yang sama.

Wendy menganggukan kepalanya "Tapi… apa kita tak seperti sedang berkhianat? Maksudku Sting-san dari guild lain.. dan kita bahkan tak mendukung salah satu anggota guild kita sendiri" Gadis kecil yang rambutnya diikat dua itu menghela nafas dalam, sembari mengetuk-ngetuk dagunya sendiri. Tak lupa sesekali ia memaju-mundurkan bibir mungilnya dan membuatnya terlihat begitu…

Manis.

"Romeo? Kau kenapa?"

"A-Ah.." Romeo mengalihkan pandangannya dari Wendy, entah mengapa sesuatu membuat darah keluar dari hidungnya "A-Aku.. tanpa sengaja memukul hidungku sendiri, ha.. ha.. " Romeo celingak-celinguk "Aku… mencari tisu dulu ya!" Romeo pun berlari menuju bar.

Wendy hanya memiringkan kepala dan Charle menggelengkan kepala karena melihat ke OOC-an Romeo dalam cerita ini. 'Dasar. Ayah dan anak sama saja hentainya' Batinnya.

"Natsu.." Lisanna seperti biasa kembali mengekor pada sahabat kecilnya itu. "..Ayolah. jangan begini. Kau seperti orang yang sakit jiwa!" Lisanna menarik-narik ujung syal Natsu, berusaha untuk dapat membuatnya berdiri dari tempat yang dipenuhi aura hitam itu.

"Lisanna…" Natsu menolehkan kepala dengan gerakan patah-patah kearah gadis berambut putih pendek itu. ".. Apa yang kurang dariku, hiks" Tanya Natsu sembari menyedot ingusnya yang mulai mengalir. Air mata dramatis bak animenya masih menghiasi wajahnya. Pipinya yang terlihat lengket membuatnya seperti anak berusia lima tahun yang kehilangan mamanya itu.. membuat jantung Lisanna sempat cenut.

Tapi ia menepis pikiran jauh-jauh itu. Jangan sampai ia jatuh kelubang yang sama. Kini ia hanya menganggap Natsu sebagai salah satu Kakaknya.

"T-Tidak Natsu.. kau tak kurang apa-apa.. pasti ada sesuatu yang dapat menjelaskan ini semua"

"Benalkah?" Natsu se-sengukan, eh? Kenapa Natsu jadi cadel? "Tapi kenapa Lucy.. pelgi meninggalkan aku.. kenapa ia lebih mau pelgi sama pemuda yang jenisnya tak jelas begitu… hiks" Waduuuh. Kayaknya Natsu gagar otak lantaran saking syoknya. Sampe ngomongya aja kini seperti anak lima tahun.

Ngerti sih. Soalnya Natsu udah mati-matian jujur dan mengutarakan perasaannya lewat kontes fanfiction itu dan.. ternyata Lucy lebih milih Sting! Yang jelas-jelas belum masukin cerita ke fanfiction! (Ingat loh, Sting hanya membacakan cerita karangannya didepan Lucy).

"Oi! Lis!"

"Elf-man-nii?" Lisanna menolehkan kepala kearah pemuda bertubuh bongsor itu. Begitu Elfman melihat keadaan Natsu, ia langsung mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu mengalihkan pandangannya pada Lisanna, seakan tengah melakukan telepati dengan adiknya sendiri.

'Natsu kenapa?' Elfman menggerakan bola matanya kearah Natsu.

Lisanna mengangkat kedua bahunya. Sepertinya mereka tak ingin Natsu mendengar, jika mereka tengah membicarakannya.

Lisanna mendekatkan bibirnya pada telinga Elfman "Bukankah ini gawat? Natsu tak pernah seperti ini sebelumnya"

"Tidak Lis. Natsu masih tak seberapa mengerikan"

"Huh? Maksud Elfman-nii?"

Elfman menghela nafas "Lihat yang empat lagi…" Elfman menunjuk keempat orang yang ia maksud. Begitu Lisanna menyadari siatuasi yang terjadi di guildnya, dia baru sadar setengah dari gedung guild sudah hancur. Sepertinya ia terlalu fokus pada Natsu, hingga tak sadar apa yang terjadi dengan yang lainnya.

"HIMEEE! HIMEEE! KEMBALILAH PADAKU!" Loke meraung-raung sembari menggaruk-garuk dinding guild, meninggalkan goresan seperti cakaran kucing pada setiap sudut gedung. Belum lagi anehnya—sejak kapan Loke berpakaian seperti raja hutan? Ia terlihat benar-benar liar sekarang. Beberapa orang sudah membawa kandang dan rantai untuk melumpuhkannya.

Gray bahkan membuat sebagian anggota guild menjadi patung es dengan sihirnya, sesekali ia menyanyi "Let it go.. let it go.. can't hold it back anymore~" Sembari mengikuti gerakan karakter favoritnya dalam film Frozen itu. (*Yang suka Gray apa Author ya.. hehe) Ya.. ya.. Gray.. Author tahu kau tak bisa menahan lebih lama lagi sakit hatimu. Kesiaaan.

Tak ada satu pun yang bisa menghentikan Gray. Pawang untuk Gray biasanya cuman satu orang yaitu Natsu. Kini pawangnya sendiri lagi depresi berat.

Hibiki saking syoknya saat dengar Lucy jadian dengan Sting, tingkat ke playboy-annya meningkat drastis. Kerlap-kerlip dan bintang-bintang kecil mulai menjadi backgroundnya setiap kali ia berjalan. Ia kini tengah merayu seluruh gadis yang ada di guild saat itu. Bahkan Charle tak luput dari pandangannya.

"Oh~ Charle si kucing betina putih… terimalah bunga mawar nan harum ini" Hibiki menyodorkan sekuntum mawar merah padanya. Saking jijiknya Charle tak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya terus berjalan mundur, ketika Hibiki terus menyudutkannya. "Sekuntum mawar meraaaar~ yang kuberikan kepadamuuu~" Si Hibiki malah kena pengaruh dangdut dari Indonesia, saking stressnya.

Lain Natsu, Loke, Gray dan Hibiki… lain pulak dengan Rogue. Ternyata ketika seorang Rogue depresi, ia lebih ekstrim dari biasanya. "Gajeel! Nyahahaha! Aku menahan pasangan hidupmu! Gadis yang kau suka selama ini!" Rogue mendekap seseorang dan bergelantungan pada pilar guild. Berasa dalam film king kong yang terkenal itu.

"Oi! Turunkan dia!" Teriak Gajeel dari bawah guild, sungguh? Gajeel berasa seperti pahlawan dalam Avengers sekarang. "Tidak! Lawan aku jika kau ingin mendapatkan gadismu kembali!"

"Turun kubilang!"

"TIDAK! LAWAN AKU! KADAL!" Kau kan kadal juga wahai OOC—Rogue.

"Turun!"

"Kau tak mau melawan untuk mendapatkan gadismu, heh? Pengecut!"

"Turun… bukan itu masalahnya tapi…" Gajeel menggaruk belakang kepalanya. "Yang kau dekap itu… ugh… bukan gadis yang aku.. ugh.."

"Suka?"

"Yah.. kalau kau tetap tak mau turun, ia akan memotong-motongmu..."

Gajeel mengangkat kedua bahunya, tak peduli lagi dengan keadaan Rogue yang selanjutnya-dan ia tak ingin tahu.
"Rogue… beraninya kau mengangkatku begini…"

Rogue menggerakan lehernya perlahan kearah gadis yang masih menjadi sanderanya "E-Erza-san? Jadi… Gajeel-san tak menyukaimu?" Erza menggeram hebat "TENTU SAJA TIDAK!" Erza mulai mengeluarkan seratus pedangnya dan siap menghujam Rogue.

Sudah kukatakan.. Rogue lebih ekstrim lagi, karena membuat Titania marah.

Yah.. inilah yang saat ini terjadi di dalam gedung.

Tapi bagaimana diluar guild?

.

.

"Kau lihat wajah para wartawan itu tadi? Sangat lucu bukan?" Lucy masih saja cekikikan sepanjang jalan, padahal gedung guildnya sudah berada didepan mata.

Sting juga terlihat masih dalam mode—seperti di surga "Hum! Sangat mengasikan bukan, mengerjai orang seperti itu. Haha! Mereka pasti berpikiran aneh-aneh tentang kita!" Sting menggaruk dagunya "Ngomong-ngomong soal wartawan Lucy.. wartawan tadi adalah Jason yang terkenal itu"

"Lalu?"

"Yah.. kau tahu.. Jason itu sangat cepat membuat sebuah artikel, dan dia menyukai artikel yang benar-benar baru. Aku takut kita akan masuk artikel dan .. itu akan menyebar kesalah pahaman pada seluruh anggota guildmu" Kenapa Sting tak terpikir hingga sekarang, resiko atas perbuatannya tadi.

Lucy hanya mengibaskan tangannya, sembari tangan satunya mendorong pintu masuk guildnya "Aah… tenang saja.. tak mungkin secepat itu kan? Tak mungkin jika Jason sudah memberikan majalah itu pada Mira.. dan Mira memberitahu seluruh anggota guild—" Lucy menghentikan kalimatnya ketika ia melihat keadaan guildnya saat ini. "—Apa yang…" Lucy mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru gedung.

Parah.

Benar-benar parah.

Serikat kesayangnnya seperti diserang oleh serikat yang lebih kuat dari mereka.

"Mi-Minna?"

Suara pelan Lucy cukup untuk membuat semua orang mengalihkan pandangan kearahnya. Aura hitam pekat nan gelap sudah menyelimuti atmosfer disana. Mata mereka manatap tajam duo pirang yang baru saja masuk itu. hawa-hawa membunuh juga sudah menusuk kulit mereka berdua. Bahkan untuk dragon slayor seperti Sting saja sempat tak berkutik dibuatnya.

"Lucy…" Mira adalah orang pertama yang berjalan mendekatinya. Cara berjalan Mira membuat Lucy reflek mencengkram lengan Sting. Siapa yang tak takut? Mira jalan seperti mayat hidup!

"Jelaskan ini…" Mira mengangkat sebuah majalah. Lucy dan Sting tahu pasti majalah apa itu, karena terpampang jelas wajah mereka menjadi covernya.

"Ano…" Lucy dan Sting saling melontar pandangan.

Sepertinya ajal keduanya sudah dekat.

Yang mereka sadari saat itu adalah… jangan pernah meremehkan kekuatan Jason.

.

.

"HATCHIII!" Jason bersin sangat keras di suatu tempat, dan membuat kertas berhamburan dari meja kerjanya.

" *Srooot* Cool.. Cool… ada yang membicarakanku…"

.

.

TBC

.

.

GOMEN! PASTI GAJE BIN ANEH BANGETS! MAAF KURANG MEMUASKAAAN! T.T tapi reviewan masih Author terima, fav dan foll apalagi! .. diterima dengan IKHLAS!

Ohh yaa, flashback StingLunya di chap selanjutnya ya ^^ berhubung mungkin cerita ini sebentar lagi akan komplit ^^

Oh-oh. Auhtor promosi boleh? Kalo ada yang suka anime KnB—boleh dong mampir ke cerita author di fandom itu? :3

-nshawol56/566-