Chapter 7

DISCLAIMER : untuk selanjutnya juga; I OWN NOTHING BUT THIS FIC… :)

Yuu Yurino, makasih buat nge review ya ^0^

Enjoy~


Setelah dipaksa Jack untuk bangun selama 30 menit, akhirnya aku menyerah juga.

"Jack! Kemaren 'kan aku begadang sama teman-teman! Ngerti dikit, napa sih?" ucapku sambil mengucek-ngucek mata.

"Siapa yang suruh begadang? Sana urus ternakmu," balas Jack sambil melahap roti entah dari mana asalnya.

Aku mendengus kesal, "Itu ternakmu juga, Jack!"

"Itu memang ternakku. Aku baru membeli 5 sapi dan 5 domba untuk kamu urus."

"10 aku yang urus semua?! Lagipula dapat duit sebanyak itu darimana Jack? Nyopet ya?"

"Iya, siapa lagi? Biasa aja, dong Claire. Itu belum seberapa…" Jack melet gaje ke arah ku, "Nyopet? Sorry ya, aku gini-gini peternak sukses, tau. Tabunganku lebih banyak daripada yang kau pikirkan,"

"Terserah!" aku menghentakkan kaki ke arah pintu.


Setelah mengurus kebun dan 10 ternak-ternak baru yang belum aku beri nama, aku menghempaskan badan ke tanah. Tanaman yang kutanam tidak bisa dibilang bagus atau buruk, biasa saja. Bayangkan?! Aku yang belum seminggu tinggal di sini 'disiksa' Jack sesadis itu. `

Jam menunjukkan pukul 12, untuk seorang pemula mungkin bisa dimaklumi. Terlihat Jack keluar menuju sambil membawa keranjang kecil berisikan telur-telur ayamnya, ada beberapa telur emas di sana. Wow.

"Enggak dijual?" tanyaku

"Mau di simpan buat stok. Setiap hasil ternak atau kebun kusisakan beberapa kalau ada keperluan mendadak"

"Tapi di kulkas cuman ada sedikit makanan kok?"

"Aku simpan di tempat rahasia… Takut kalau kamu rampas"

"Sorry ya, Jack… Aku bukan pemakan segala alias omnivora kayak kamu!"

Akhirnya kami berdebat tentang kulkas, dan hal kecil lainnya yang benar-benar enggak penting.

"Cukup, cukup…" suara seseorang mengejutkanku.

"Gotz?"

"Oh iya, Claire! Aku memanggil Gotz untuk membangun kamar mandi, berterimakasihlah kepadaku!" ucapnya sambil menepuk-nepuk dadanya.

"Yayaya. Kira-kira kapan selesainya Gotz?" tanyaku mengacuhkan Jack.

"Kira-kira lusa. Kau pasti akan menyukainya, dan mandi dengan tenang seperti di hotel… Airnya bisa kita atur kehangatannya, blablabla…" Gotz menjelaskan fitur kamar mandi selama 15 menit.

"Nah, jadi begitu… Aku ngelanjutin kerjaan lagi ya!" Gotz kemudian pergi.

"Ngomong-ngomong soal kamar mandi, kamu belum mandi 'kan Claire?" ucap Jack tiba-tiba.

"Memang! Aku harum kok, mau nyium?" ucapku mendekati jack.

"Ogah! Sana-sana! Jangan deket-deket ke aku!"

"Santai Jack… ini juga mau mandi…" aku menatap ladang dan bibit-bibitnya, "Oh ya, boleh minta timun 3 enggak?"

"Buat apa?" Jack menjaga jarak, sekan aku ini bakteri berbahaya apa gitu?

"Kasih aja, deh. Kalau enggak aku enggak mau mandi…"

Jack bergegas masuk ke rumah, lalu memberikan keranjang berisi 3 buah mentimun.

"Maacih Jack-kun!" aku mencoba memeluknya.

"Hush! Sana pergi~" usir Jack rada-rada lebay.

Aku tertawa kecil lalu bergegas menuju gunung (loh? Kok malah ke gunung?).


Sesampainya di gunung untuk menemui Kappa dan mengumpulkan bunga, aku menuju danau tambang musim dingin. Menurut buku yang kubaca di perpustakaan, Kappa tinggal di danau ini. Yah, jadi inilah tujuanku meminta timun pada Jack.

Dengan perasaan agak takut dan agak enggak yakin, aku melemparkan 1 timun ke arah danau.

5 detik…

"Palingan sebentar lagi…"

10 detik….

"Aku akan menemukan Kappa legenda itu!"

15 detik…

"Namaku akan diingat oleh penduduk Mineral Town di masa depan!"

25 detik…

"Baiklah, ini enggak berguna. Aku sudah jongkok-jongkok di tepi danau dan air pun tidak bergeming sama sekali…" aku menyerah, lalu perlahan berdiri.

"Tunggu dulu… airnya… airnya!" aku menatap kaget pada air, ada ujung kepala suatu makhluk.

"K-kappa?"

"…"

Ia pun masuk kembali ke dalam air.

"Ja-jangan pergi Kappa!" aku melemparkan 1 mentimun lagi. Kappa mengeluarkan kepalanya dari air.

"Kappa!"

"Kau mengikuti ku ya?" ucapnya. Suaranya berat. Ia pun menghilang ke air danau.

Aku tidak menyerah, aku melemparkan timun terakhir, berharap bisa menangkapnya.

Ia mengeluarkan setengah badannya. Sekarang aku bisa melihat jelas sosok Kappa, ia berwarna hijau dan memiliki tempurung di punggungnya.

"Kau menyebalkan! Tinggalkan aku sendiri!" ucapnya dengan nada tinggi.

"Ti-tidak bisa! Kau akan ku bawa untuk koleksi!"

"A-apa?! Kau ingin menjadikan aku koleksi? Enak saja! Aku juga punya hak untuk hidup!"

"Heee… aku tidak bisa pulang dengan tangan kosong! Ayo ikut aku pulang!"

"Tidak mau!"

Kami pun berdebat selama 15 menit, akhirnya ia menyerah.

"Aku tidak bisa berlama-lama di luar air. Dasar manusia merepotkan. Sebagai gantinya, aku akan memberikanmu ini," ia mengeluarkan sebuah buah aneh berwarna biru, aku memungutnya. Lalu memperhatikannya dengan teliti.

"Sebagai gantinya, jangan ganggu aku lagi!"

"Kappa! Tunggu, ikutlah bersamaku!" aku mengangkat kepalaku dan menemukannya sudah hilang.

"Kappa!" aku memanggilnya sebanyak 30 kali, namun ia tetap tidak muncul.

"Ya sudahlah, aku akan tanyakan buah ini pada Jack," aku menimang-nimang buah itu.

"Dah Kappa!" aku melambaikan tanganku pada danau, berharap ia melihatku dari dalam sana.

Aku menuju ladang bunga (ini kapan mandinya coba? Ya udahlah, gabung sama mandi sore aja... ). Setelah mengumpulkan bunga untuk pot yang baru di beli Jack, aku mendekat ke pohon cedar yang berdiri sendiri di tengah ladang. Iseng-iseng, aku mengambil kapak lalu mengayunkannya perlahan ke pohon itu.

"Ja.. jangan! Aku masih mau hidup… aku masih punya hak untuk hidup. Jangan tebang aku!"

Aku mencari sumber suara, dan ternyata itu adalah si cedar. Kenapa hari ini selalu membahas tentang 'hak untuk hidup'?

Aku menurunkan kapakku.

"Te-terimakasih! Kau memang manusia yang baik, terimalah ini…"

Pohon itu menjatuhkan sesuatu, ternyata itu adalah buah yang sama denga apa yang diberi Kappa, hanya saja yang ini berwarna merah.

Aku bergidik, lalu bergegas untuk mandi di hot spring.


Sesudah mandi, aku menuju tambang. Entah kenapa rasanya ingin menambang hari ini.

Sesampainya di lantai ke tiga, aku tidak menemukan bahan tambang, hanya sampah batu yang tidak berguna.

"ARGH!" aku berteriak frustasi(?) karena tidak menemukan ores.

"Claire…?"

Aku berbalik ke arah sumber suara, tangga.

"Gray?! Sedang apa kamu di sini?"

"Justru aku yang ingin menanyakan itu. A-aku menambang seperti biasanya,"

"Sama, entah kenapa aku jadi ingin menambang. Tapi aku tidak menemukan sesuatu yang berharga!" aku mencangkul tanah, dan lagi-lagi mendapatkan batu.

Gray tertawa kecil. "Bukan begitu caranya… uhm, boleh aku me.. ngajarimu?"

"Tentu! Tentu! Makasih Gray!"

Aku menambang bersama Gray sampai jam 5, Gray banyak mengajarkan tips dan trik menambang.

"Maaf Gray, jadi merepotkan…" ujarku sambil memasukkan 2 buah Silver Ore ke tas dan sebuah sisanya tetap ku bawa dengan tangan.

"T-tidak apa-apa…" ia menarik ujung topinya, "Aku duluan, ya"

Aku melihat Gray yang siap-siap pergi meninggalkan pertambangan, lalu memperhatikan bahan tambang silver yang ada di tanganku.

"Ah! Tunggu, Gray!" seruku saat ia tepat berada di depan air terjun. Ia menoleh ke arahku, "Ini! Hadiah untukmu! Terimakasih telah membantuku menambang hari ini!" Aku menyerahkan sebuah silver ore yang baru saja kudapatkan tadi. Wajah Gray tampak sedikit terkejut, namun akhirnya menerima hadiah itu dengan senyuman tipis di bibirnya. "Terimakasih banyak. Sampai ketemu Claire.." ucapnya pelan.

Aku melambaikan tanganku padanya sambil tersenyum, ia membalas senyumanku.

Aku terduduk di samping air terjun, mukaku memerah kelelahan. Entah kenapa saat bersama Gray, rasanya sangat menyenangkan. Santai dan penuh ketenangan. Aku jadi agak merasa nyaman saat bersama Gray.

Itu artinya kau menyukainya kan? Ucap suara di kepalaku

Aku tidak pernah bilang aku menyukainya! Hanya merasa nyaman saat bersama Gray! Balas suara lainnya

Itu sama saja, Claire sayang! Jangan mendustai perasaanmu sendiri! Balas suara yang lain, tapi ini bukan suaraku. Suara siapa ya?

Aku menghela nafas, kemudian mengeluarkan bunga yang kupetik di gunung tadi, lalu menghanyutkannya ke air.

Air bergejolak, lalu dengan perlahan keluar sesosok wanita cantik berambut hijau yang digulung dua, dengan gaun putih panjang sambil bersenandung.

"Oh… ternyata Claire…" ucapnya lembut, suaranya persis seperti y5ang kudengar tadi.

Aku mengucek-ngucek mataku, "Tidak mungkin… Kau.. yang berbicara tadi? Dan… Kau… Harvest Goddess?" ciri-cirinya persis seperti yang pernah kubaca di buku.

"Iya, akulah Harvest Goddess. Terimakasih bunganya, Claire. Darimana aku tahu namamu? Itulah aku… Aku bahkan mengetahui apa yang kalian tidak ketahui…" ucapnya sambil menimang-nimang bungaku.

"T-tapi.. kau hanya legenda bukan?"

Harvest Goddess menghela nafas panjang, sambil bergumam tentang keberadaannya yang tidak terlalu diperhatikan atau semacamnya.

Pada akhirnya, "Claire sayang, legenda terjadi karena sesuatu itu benar-benar ada," ia mendekatiku perlahan lalu memegang pundakku.

"Kalau boleh memberi saran, aku menyarankanmu… Jangan membohongi perasaanmu sendiri Claire. Menolong teman itu boleh, tapi jangan sampai kau menyakiti perasaanmu sendiri,"

Aku melongo,

"hum… Ya sudah, jangan sungkan-sungkan untuk datang kemari lagi~ dan jangan sungkan juga untuk bertemu para pengabdiku, harvest sprites. Oh ya! Pastikan mampir dengan membawa persembahan! Aku sangat suka stroberi, ngomong-ngomong!" Harvest Goddess tertawa kecil sambil menutupi mulutnya.

"Itu saja! dum da da da! Dah Claire!"

Ia menghilang sekejap mata. Aku mengucek-ngucek mata, lalu mencubit pipiku agak keras.

"OW!" ah, ternyata bukan khayalan atau mimpi.

Aku berjalan pulang dengan perasaan campur aduk, juga memikirkan perkataan Harvest Goddess tadi. Membohongi perasaan? Apa iya? Aku tidak tahu…

Hari ini benar-benar penuh dengan kejadian yang mengejutkan…


Author's Note :

Semoga kalian enggak bingung aja, ya... Aku ubah nama dari Nisrina Adrian menjadi... Izumi Rin! *plokplokplok*

Gimana? Semoga kalian suka aja, ya… Bahasanya memang belibet :D

Untuk ke depannya, chapter-chapter memang panjangnya sekitar 1k aja… maaf!

Aku memang bukan tipe yang bisa menulis dan update dengan cepat, kali ini aja update nya lama banget. Ditambah juga dengan sekolah dan tugas-tugasnya yang memperlambat ku…

Untuk Dear Diary, kayaknya belum bisa ku lanjutkan sampai cerita ini selesai. Maaf ya T0T

Oke, keep reading and spreading, ya! Sayonara!

R&R? :)