Kaki kecil itu berlari. Terus berlari. Entah kemana langkah kakinya itu membawa tubuh kecilnya yang kian melemah. Menyusuri lorong-lorong gelap yang tak berpenerangan. Suara kayu yang berdecit dari pijakan cepatnya terus saja membuat hatinya makin ciut. Jantungnya berdegup kian cepat. Sungguh, sementara suara jeritan terus saja menggema dari ruang depan. Namun tersamarkan oleh derasnya hujan di luar. Mengingat ibunya yang terbujur kaku di hadapannya tadi. Sedangnya ayahnya menyuruhnya untuk pergi. Akhirnya kaki kecil itu terus berlari. Hingga,

BUGGHH

Dan tubuh mungilnya pun jatuh tersungkur. Gadis kecil itu berusaha sekuat tenaga untuk bangun. Tak bisa. Terlalu lemah dan sakit terasa di sekujur tubuhnya. Tubuhnya baru saja berdebam keras di atas lantai kayu. Ia hanya bisa meringis seraya menggigit bibir. Perlahan bulir bening pun menerobos dari pelupuk matanya. Ia terisak. Sungguh tak kuat lagi.

Gadis kecil itu masih tersungkur dengan pandangan yang makin meremang. Rambut-rambut ikalnya yang kecoklatan menutupi bagian wajahnya. Tiba-tiba matanya mengerjap menangkap bayangan sosok tak jauh darinya. Sosok yang hanya diterangi pendaran cahaya yang hampir meredup. Bibir gadis itu terbuka namun suara serasa tak dapat keluar dari tenggorokannya. Ia ingin memanggil sosok tersebut.

Namun entah sejak kapan derap langkah kaki terdengar semakin mendekatinya dari belakang. Gadis kecil itu semakin ketakutan. Bahkan ia sudah tak sanggup untuk menoleh. Merangkum wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak. Tak lama dari itu, semua pun terlihat semakin meremang. Dan bayangan memudar. Terdengar jeritan kencang dan kegaduhan dari arah depannya. Entah apa dan bagaimana, namun selanjutnya hanya kelimbungan yang mendera.

"Theo," ucap gadis itu teramat pelan sesaat sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.

Harry Potter © JK Rowling

Rate : T

Genre : Romance, Hurt Comfort

Pairing : Dramione, Cedmione, CedCho, Harny

Warning : AU, Miss Typos, alur cepat, dll

Rasi Bintang © Diloxy

Chapter 1. Prolog

Hazel itu terbuka. Ia mengerjap beberapa kali. Hanya sepasang lampu berbentuk bintang yang ia taruh di dinding yang ia tatap saat ini. Menarik nafas sejenak dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia melirik sejenak jam duduk yang ada di atas meja. Pukul 12 malam. Gadis berambut coklat ikal itu kini berjalan di atas lantai dingin menuju jendela di dinding seberang. Lantai dingin begitu terasa membekukan telapak kakinya. Entah mengapa ia merasa ingin memeriksa keadaan luar sejenak. Melihat beberapa bintang atau keadaan luar.

Perlahan jemari itu membuka jendela kaca berbingkai kayu. Suara decitan bingkai jendela terdengar pelan. Namun begitu jelas di antara kesunyian ini. Angin malam segera menyapukan wajahnya. Dingin dan tenang. Wangi semilir malam menyeruakaan kedamaian. Ia memejamkan mata untuk beberapa saat. Kemudian membukanya kembali. Perkotaan ini nampak sunyi. Tak ada yang lalu lalang. Hanya pepohonan riak diterpa angin yang lumayan kencang.

Namun, mata hazel yang sejak tadi menyapukan pandang pada langit luas dengan taburan bintang itu tiba-tiba terhenti pada sesuatu di pinggir gerbang rumahnya. Tak terlalu jelas karena saat ini ia melihat dari lantai dua rumah. Gadis itu berusaha memperjelas penglihatannya, menggosok-gosok matanya beberapa kali. Ia heran siapa sekiranya seseorang yang berdiam di depan rumahnya malam-malam begini. Untuk apa. Penasaran segera mencampuri seluruh pikirannya melihat bayangan seseorang yang belum juga beranjak itu.

"HEY, SIAPA DISANA?" pekik gadis itu.

Dan setelahnya, sosok itu berlari dan menghilang di antara rumah-rumah.

0o0o0

00

Hermione's POV

"CEDRIC, CEDRIC, CEDRIC!"

Satu

Dua

Tiga

Delapan

Lima belas

"CEDRIC, CEDRIC, CEDRIC!"

Dua puluh

Dua puluh tiga

"KYAAAAAA!"

Kacau. Sampai hitungan berapa aku tadi?

Tiga puluh lebih sepertinya.

Ah tidak, ini sekitar lima puluh.

Hanya satu angkatan? Bagaimana kalau seluruh Hogwarts High School?

Aku mengerjap keheranan di antara keriuhan ini. Ini sungguh benar-benar riuh. acara apa ini? Seingatku ini hanyalah latihan pertandingan yang akan dilaksanakan besok. Latihan saja sudah begini hebohnya. Tapi, aku yakin benar bukan latihan ini yang mereka incar. Ya, gadis-gadis itu pasti tak menyukai sepak bola. Aku bisa menebaknya. Lantas untuk apa mereka berdesak-desakan menonton latihan sepak bola ini? Aku tertawa pelan.

"IYA, BOLA DIOPER KE GAWANG DAN… GOL!"

Keriuhan semakin menjadi bersama hentakan-hentakan keramaiannya. Sorak sorai membahana. Aku melihat jelas bagaimana detik-detik penghajaran bola ke gawang lawan tim kelasku. Ya, ini adalah pertandingan latihan kelasku XI IPA 4 melawan kelas X 9. Dan mengapa bisa sedemikian heboh?

Jika hanya suporter dua tim dan beberapa penggemar sepak bola, tentu pinggir lapangan dan koridor tak akan sebegini padatnya. Ya, jika itu kelas lain yang bertanding. Namun tentu berbeda halnya jika kelasku yang bertanding. Tebak mengapa? Ada bintang Hogwarts High Scool disana. Cedric Diggory.

"DUA NOL UNTUK XI IPA 4 OLEH CEDRIC DIGGORY!"

Dan lihatlah kini sang bintang berlari mengelilingi lapangan membanggakan tim kesayangannya. Membanggakan kelasnya di depan seluruh murid HHS. Dengan adegan memutar dan mengelilingi lapangan. Persis seperti laga pemain dunia. Huh, sayangnya ini hanyalah pertandingan sekolahan. Lantas bagaimana lagi? Tak ada kata tak keren jika Cedric Diggory yang melakukannya.

"Untung kelas kita memiliki dia sebagai kapten," ucap Ginny tiba-tiba. Aku tersadar dari lamunanku dan menoleh padanya. Tertawa kecil sebagai balasan.

"Eh?" gumamku tak jelas.

"Dan beruntung juga untukmu karena bisa sekelas dengannya saat tahun ini," lanjut Ginny terkekeh.

Adakah yang membawa sup tomat sehingga aku bisa membandingkan raut wajahku saat ini? Aku tersipu, benar sekali. Ginny terus saja menyudutiku. Permainan lama. Sudah lama bahkan semenjak aku mengenal Ginny saat menginjakkan kaki di HHS. Saat ia menjadi teman satu mejaku. Dan saat aku menceritakan seluruh keluh kesah. Seluruh asmara. Sampai kepada perasaanku. Tak perlu menebak. Melihat isi pikiranku tadi tentu sudah sangat mudah terbaca.

Aku menyukai Cedric Diggory sejak menginjakkan kaki di HHS. Sesaat setelah pertemuanku dengan Ginny. Untungnya gadis itu kepincut dengan sahabat kecilku, Harry. Namun biar pun begitu, bukan hal mudah nyatanya bagiku menyukai seseorang yang menjadi idola jamaah. Aku seperti berlomba mendapatkan cinta semu. Oke, berlebihan. Namun sungguh, menyukai pemuda itu lebih sering membuatku ciut. Terutama saat melihat gadis-gadis lainnya.

Cedric, Cedric, Cedric. Pemuda menawan nan cerdas, belum lagi bintang lapangan. Tak ada yang salah menyukainya. Walau pun perasaan itu murni rasa suka. Karena apa? Aku bahkan tak tahu bagaimana penglihatannya padaku. Seorang gadis kutu buku yang kurang pergaulan.

"TIGA NOL UNTUK XI IPA 4 OLEH HARRY POTTER!"

Ya, keriuhan kembali bergemuruh di kelas kami. Dengan beberapa penggemar sepak bola yang juga mendukung tim itu. hanya saja keriuhan itu nampak lebih tenang dibandingkan dengan saat Cedric yang melakukannya. Namun hey, lihat ke sebelah kananku. Ada Ginny Weasley yang kelojotan mendapat sihir cinta seorang Harry Potter. Ya, teman anehku itu berlari mengelilingi lapangan seraya membentuk hati dengan tangannya dan menerbangkannya tepat pada gadis di sampingku. Huh, tipikal romantis yang dipaksakan.

"Lihat, Mione, Lihat! Ouwhhh, it's too sweet!" ucap Ginny penuh bunga-bunga mekar yang mendadak muncul sebagai gambar latar. Aku menggeleng perlahan.

"Lumayan lah, belum pernah Harry bertindak sekonyol itu," ucapku malas.

"Kau iri yah? hmm, kalau begitu cepat nyatakan perasaanmu pada Diggory!" bisik Ginny segera.

HAP

Aku memerah seketika. Merasa seluruh tubuh terkunci. Tak salah? Menyatakan cinta?

"Kau serius, Ginny?" tanyaku tercekat.

"Setidaknya biarkan dia tahu perasaanmu. Kau mungkin akan lebih lega jika Diggory tahu. Siapa tahu itu berbuah baik, Mione!" ucap Ginny dengan senyuman lima jari miliknya.

"Bagaimana jika ia menolakku?" tanyaku menggeleng cepat.

"Jika iya, aku yakin ia bukan tipikal pria yang akan mempermalukanmu," ucap Ginny.

"Aku malu," gumamku pelan.

"Yah itu terserah kau saja. Teruslah pendam perasaanmu sampai nanti kau menemukan batas menyesal di lain waktu," ucap Ginny membuang muka.

"Menyesalinya?" tanyaku polos.

"Kebanyakan seperti itu. kau menyukainya. Kau memendamnya saja. Dan kau menyesalinya," tutup Ginny mengintimidasi.

Hey, apa iya nanti aku akan menyesali tindakanku yang tak menyatakan perasaan pada Cedric? Aku membuka-buka buku biologi secara asal seraya pandangan terus terarah pada sang bintang lapangan. Memikirkan banyak hal. Memikirkan berapa puluh pasang mata yang juga menatap pada pemuda yang aku tatap saat ini dengan pandangan suka. Apa aku terlalu bodoh mencintai pemuda yang menebar hati dimana-mana? Ya walau pun bukan salahnya juga memiliki wajah setampan itu. Jadi, apa yang dikatakan Ginny tadi benar?

"LIMA MENIT TERAKHIR. AKANKAH X 9 MEMECAHKAN TELUR ATAUKAH XI IPA 4 MENAMBAH KOLEKSI GOL?"

"KYAAAA"

"Berisik sekali dia," gerutu orang-orang disekitarku dengan kesal.

Collin Crevey, sang komentator junior memekik dari balik pengeras suara. Tak adakah yang memberitahunya bahwa itu pengeras suara, dan tak perlu berteriak agar suaranya terdengar keras? Aku kaget setengah mati dan segera menyumpah-nyumpah. Seperti banyak orang lainnya yang segera melemparkan botol air mineral mereka. Ya, kedaan ini lebih dari glora bung karno.

"Sudahlah, kita sudah tahu pemenangnya," ucap Ginny yang entah pada siapa. Gadis itu seperti bicara pada udara kosong. Aku menoleh heran.

"Ehm, kalau pun bisa tercipta gol dari tim lawan, tim kita pasti menang," ucapku seraya menyikut sahabatku.

PRIIITTTTTTT

Dan permainan pun berakhir begitu peluit dibunyikan. Para penggemar pun terpuaskan dengan hasil tiga nol untuk tim kelasku. Semuanya berhamburan bubar ke kelas masing-masing. Begitu pun dengan para pemainnya yang juga meninggalkan lapangan. Dan ia berjalan santai melewati lautan para gadis yang begitu memujanya. Ia yang begitu terlihat memukau dan bercahaya.

Dan disinilah aku, hanya bisa terdiam berdiri. Memandangnya dari kejauhan. Belum genap dua tahun aku menyukainya. Begitu menyukai. Mengagumi dan terbersit jelas perasaan ingin memilikinya. Pernyataan tadi sesuai ide Ginny. Tapi apa benar? Apakah itu memang tepat? Bagaimana jika yang aku dapat hanya kecewa? Tapi kalau tak dicoba, akankah aku menyesali hari-hari saat ini nantinya? Bukankah lebih cepat lebih baik? Ah itu janji parpol. Bukankah lebih baik melakukan daripada menyesal? Ya, aku mengangguk mantap. Digerakkannya kakiku secara segera berlari membelah kerumunan manusia hingga akhirnya,

BUGGGHH

"OUCHHH!" aku meraung keras. Berusaha merasakan kakiku yang seperti terantuk benda keras. Sakit sekali. Benar-benar sakit. Aku mengusap seragamku yang juga ikut-ikutan kotor. Bagaimana tidak, aku terjatuh berikut badan. Menghadap langsung pada kerumunan murid-murid yang kini menatapku dengan berbagai cara. Kasihan, memelas, iba, sampai tertawa-tawa. Aku menengadah berusaha mencari siapa pelaku yang membuatku menjadi korban kenistaan ini.

"Sekali lagi kau berjalan tanpa memperhatikan sekitar, Granger!"

Suara dingin itu. suara paling memuakkan semuka dunia dan akhirat. Seorang iblis ferret yang saat ini sedang menatapku dengan tatapan mencemooh. Dengan gaya dinginnya yang sungguh, euh, menjijikan. Boleh aku muntah di depan wajahmu, Ferret?

"Kau, ughhh! Menyebalkan. Tidak bisakah kau membiarkanku hidup tenang, Malfoy?" desisku dengan seluruh kekesalan. Oh ternyata ferret ini yang menyelengkatku tadi.

"Tidak. Kau keberatan Hermione Tidak Teliti Granger?" ejek si pucat menyebalkan itu dengan tingkahnya yang sungguh membuatku ingin melemparkan isi tong sampah tepat padanya.

"Kemarikan buku itu!" hardikku segera saat pemuda itu mengambil buku yang terjatuh di tanah. Sialnya ia malah membuatnya sebagai permainan.

"Ugghh, kau harus bisa mengambilnya, Granger!" ejek Malfoy itu dengan seringai tipis miliknya.

"Kembalikan! Atau aku adukan kau kepada petugas perpustakaan karena telah mencuri!" ucapku berusaha merebut buku itu.

"Tidak bisa. Itu kelalaianmu, Granger! Kau tidak boleh melemparkan kesalahan pada orang lain. Itu tidak baik!" ucap si ferret lebih bersemangat untuk menjahili.

Aku menoleh ke sekitar. Sudah sepi. Tak ada murid-murid lainnya. Tinggalah aku disana bersama si ferret itu. dan, dimana Ginny? Sepertinya ia sudah lebih dulu menyambangi pembuat salah satu gol kelas. Dan dimana pemuda itu? dimana Cedric? Bukankah niatku tadi ingin menemuinya dan menyatakan perasaan?

"Kau menghalangiku, bodoh!" pekikku kesal.

Sialnya ia hanya tersenyum dengan teramat menyebalkan. Aku menyumpah-nyumpah dalam hati mengapa waktu ini bisa begitu menyebalkan. Fortuna kumohon berpihaklah padaku. Dan si ferret menyebalkan itu terus memainkan buku milikku dengan tanpa dosa. Entah mengapa kebencianku semakin memuncak tiap harinya. Melihatnya membuat hatiku badai. Mendung. Ahh, menyebalkan. Mengapa Tuhan menciptakan makhluk semenyebalkan itu? mengapa aku harus satu sekolah dengannya? Dan mengapa ia harus satu kelas denganku saat ini? Jika saja aku bisa pindah kelas. Ah, tapi tidak. Dia saja yang pindah kelas. Aku tak mau pindah. Aku ingin bisa dekat dengan Cedric. Menyebalkan.

Dan sungguh ironi melihat Cedric dan si ferret itu. Bagaimana bisa Cedric yang mengagumkan bersahabat dekat dengan ferret menyebalkan itu? dunia akan terbalik. Aku mengeluh pelan kehabisan tenaga untuk memperjuangkan buku milikku yang entah sudah berapa lama ia mainkan. Hanya dibolak-balik. Di lambungkan, ditangkap kembali. Akhirnya aku menyerah. Aku diam.

"Hmm, ya sudah. Sepertinya kau sudah lelah. Karena aku baik, aku kembalikan buku ini. Kau harus pandai merawatnya, Granger!" ucapnya dengan santai tanpa dosa. Hey, ada yang membawa golok agar aku bisa memburaikan isi perutnya? Ups, ini bukan gore.

"Pergi sana ferret menyebalkan!" ucapku pelan seraya mengambil buku yang ia jatuhkan ke tanah. Aku menoleh ke arah lapangan. Tak ada Cedric. Tak ada lagi pemuda itu. kesempatanku hilang tadi. Padahal telah terkumpul cukup banyak keberanian. Dan hanya malu yang didapat karena menjadi bahan tertawaan murid-murid yang melihat tragedi tadi. Miris memang. Aku berjalan pelan kembali ke kelas.

0o0o0

"Kau kemana saja, Mione?" tanya Ginny yang tampak cemas melihat keadaanku. Seragam kotor hasil tragedi tadi di dekat lapangan dan aku masih malas menggantinya.

"Ada perang sebentar tadi jadi beginilah," ucapku.

"Perang?" tanya Ginny heran.

"Aku bertaruh pasti Draco Malfoy lagi. Jangan terlaru sering bertengkar, bagaimana kalau nanti kau menyukainya?" tanya Harry yang ikut-ikutan nimbrung.

"Eh? Tidak mungkin. Aku menyukai Cedric. Lagipula, mana bisa aku menyukai ferret menyebalkan itu. tidak mungkin," ucapku yakin.

"Well, baiklah! Kau menakutkan," gumam Harry. Aku merengut sebentar. Melihat dua sejoli di depanku yang sedang asyik berpacaran. Harry Potter yang begitu beruntung mendapatkan Ginny Weasley. Keduanya sahabat baikku.

"Kau pikirkan perkataanku tadi, Mione?" tanya Ginny.

"Yang mana?" tanyaku pura-pura lupa. Ya, aku masih ingat benar. Bahkan karena perkataannya tadi yang membuat seragamku kotor. Ini tumbalnya sepertinya.

"Menyatakan perasaanmu? Tapi sebaiknya tak perlu jika kau ragu-ragu," ucap Ginny.

"Kau aneh. Tadi memberi ide begitu, sekarang malah lain. Tapi tekadku sudah bulat, aku akan menyatakannya. Entah nanti bagaimana yang pasti aku harus membiarkan Cedric tahu dulu," ucapku dengan senyuman lima jari.

"Kau yakin?" tanya Ginny lagi.

"Jangan menggoyahkanku, Ginny!" gerutuku agak gerah dengan sikap gadis itu. ahh, salahkan dia yang membuatku memiliki ide gila ini. Memangnya siapa yang menyarankannya pertama kali.

"Aku hanya khawatir saja. Kau itu kan bukan orang yang selalu beruntung, Mione," gumam Ginny terkekeh kecil. Ughh, menyebalkan. Aku pun segera bangkit dan pergi.

"Aku akan mengganti baju dulu," ucapku seraya pergi ke luar kelas.

0o0o0

Aku berpikir dalam diam seraya kedua kaki ini terus saja melangkah membelah koridor dan kerumunan murid-murid yang beberapa di antaranya memperhatikan. Berpikir dan terus berpikir. Cedric, Cedric, Cedric. Mengingat sejenak saat-saat aku menyukainya. Ah, sudah sering diingat sepertinya. Aku benar-benar ingin mengutarakan perasaan ini secepatnya. Tak ada yang salah. Ya, mungkin bukan hal buruk membiarkan dia tahu. Toh ia juga tahu bahwa hampir setengah wanita di HHS mengaguminya. Jadi bukan hal aneh baginya mengatahui satu penggemar baru.

Angin menyapu pipiku perlahan. Memainkan anak rambut cokelat ikal. Sungguh, seharusnya saat ini aku tengah membaca beberapa buku dengan tenang. Ya, jika bukan karena tragedi bodoh yang membuat seragamku kotor bukan main. Lihat saja, aku bahkan tak yakin ada deterjen yang bisa menghilangkan semua noda di baju putih ini.

Akhirnya kaki-kaki ini berhasil membawaku ke ruangan penuh loker. Ya, ruangan berisi loker-loker murid HHS. Sepi, tak ada seseorang melintas disini. Aku segera berjalan menuju lokerku. Tak terlalu jauh, namun cukup ke tengah. Dingin. Ya, udara disini seperti diberi pendingin, padahal yang ada AC alamiah. Jangan berpikir tentang hal horor, aku sungguh tak ingin memikirkannya.

Ruangan ini terdiri dari beberapa baris lemari panjang loker-loker yang tersusun rapi. Sangat mengasyikan dijadikan tempat bermain petak umpet, hanya jika kau tak malu dengan umurmu.

Cklek

Pintu lokerku berdecit agak keras. Ah, sudah tua rupanya. Aku cepat-cepat mengambil baju seragam bersih disana dan sebuah kotak kecil yang sudah dijamahi sarang laba-laba. Itu bukan makanan, jadi tak perlu merasa jijik. Itu hanya suatu benda. Ya, hanya suatu benda.

"Kita sudah memegangnya!"

Mataku berkilat. Eh, suara siapa tadi? Sepertinya aku mengenal suara itu. terdengar suara berisik beberapa orang memasuki ruangan ini.

"Tapi jangan terlalu percaya diri."

Nah, suara berbeda yang juga sepertinya aku kenal.

"Siapkan stamina saja besok. Dan, ehm, kau harus hati-hati. Lawan kita besok bukanlah tim yang menyukai permainan jujur."

"Ya, jaga siku dan lututmu."

Hening.

Sepertinya sudah selesai. Aku mengerjap sejenak. Hey, sejak kapan aku menjadi seorang penguping begini? Tentu tak akan seperti ini ceritanya jika saja pembicara tadi bukanlah dua orang yang penting. Aku menganal suaranya. Satu suara yang aku kagumi. Satu suara musuh besarku. Well, mereka sepertinya Cedric dan Draco. Aku hapal benar suara mereka.

"Kau masih cidera?"

"Masih. Sering sakit jika banyak digerakkan."

Oh, ternyata si ferret itu sedang cidera. Pantas saja tadi dia tak ikut permainan. Tapi aku salut, kakinya yang sedang rawan itu nyatanya masih sempat membuatku terkena tragedi memalukan. Tepuk tangan untuk makhluk menyebalkan sedunia itu. Entah mengapa Cedric dan Draco bisa seakur itu, tak tahu pasti, yang jelas, Draco memang terlihat serius saat bicara dengan Cedric. Jangan-jangan? Ah, pernyataan bodoh.

"Sayang sekali besok kau tak bisa bermain. Padahal tim kita pasti lebih kuat."

"Lawan kita besok bukan tim yang susah."

Ya, mendengar pembicaraan ini bisa membuat citra seorang Draco sebagai pribadi yang bijaksana dan serius. Yang entah mengapa ia begitu menyebalkan. Padaku. Hanya padaku. Semua tingkahnya begitu menjengkelkan bahkan di hari pertama kami bertemu. Ya, bagaimana tidak, saat awal berkenalan. Pemuda pirang pucat yang baru saja pindah dari Perancis itu.

Saat itu Ia memperhatikanku dengan seksama. Sangat seksama. Yang sialnya aku anggap ada sesuatu yang membuat pemuda itu memperhatikanku begitu lama. Begitu mendalam. Siapa yang tak akan tersipu dan dibuat melambung? Namun saat itu juga. Saat khayalan terlalu berlebihan. Ia malah mengatakan hal yang sangat tak ingin aku dengar. Apa itu? aku tak ingin membicarakannya. Yang pasti itu sangat jauh dari pujian.

Kembali ke dunia nyata. Kembali dari lamunan aneh tentang bagaimana ferret itu mulai hadir dan memporak-porandakan hidupku. Menebar badai teror pada cerahnya ahri-hariku. Membuatku terus menggerutu. Menyebalkan rasanya terus mengingat hal-hal buruk yang ia ciptakan.

Sepertinya kedua pemuda itu sedang menyimpan sesuatu di loker mereka. Aku hanya mendengar suara decitan pintu loker. Mereka kini berada di barisan lain dariku. Hanya tersela satu barisan. Jadi, aku bisa mendengar percakapan ringan. Sesuatu yang mungkin saja aku dapati, tapi sepertinya tidak. Cedric tak membicarakan apapun tentang gadis. Apa memang ia tak memiliki perasaan pada gadis manapun. Entahlah.

"Kau menjahili gadis ikal itu lagi ya?"

Hazelku membulat sempurna. Jika tak salah terka, itu pasti aku yang sedang ditanyakan Cedric tadi. Lagipula, siapa yang selalu dijahili ferret menyebalkan itu. tapi, ia menyebutku gadis ikal. Apa ia tak tahu namaku?

"Hanya iseng."

Kini suara pemuda itu yang membuatku naik darah. Iseng dia bilang? Ah, cucikan dulu seragam ini sampai tak ada noda bersisa. Baru aku percaya itu iseng.

"Aku kasihan padanya. Lagipula, kau senang sekali menjahilinya sepertinya."

"Anggap saja itu caraku berkomunikasi dengan gadis kutu buku itu."

Cara berkomunikasi? Well, lain kali akan aku ajarkan cara berkomunikasi dengan kepalan tangan mendarat di pipi pucatnya.

"Kau harusnya mencari pacar, Draco! Agar kau tak menjahili orang lain."

"Seperti kau punya saja."

Ya, ferret itu mencibir Cedric. Ah, tapi dia ada benarnya. Mengapa sampai sekarang Cedric belum juga memiliki kekasih?

"Kau sudah selesai dengan baju itu? kita ke kamar mandi sekarang. Aku tak suka berlama-lama di ruangan ini."

Draco mengakhiri pembicaraan mereka. Tepat setelah bunyi decitan dari pintu loker Cedric yang tertutup. Mereka segera pergi. Ya, memang kurang menyenangkan berlama-lama di ruangan ini. Dingin, sepi, dan agak gelap. Aku pun segera pergi setelah menarik seragam atasan bersih.

"Kamar mandi?" aku bergumam pelan. Entah mengapa sebuah ide gila terbersit begitu saja. Ya, hari ini sudah cukup gila, tak apalah menambahinya dengan sedikit esensi.

0o0o0

Beberapa batang rumput bergoyang tersapu angin. Aku menoleh sejenak ke arah mereka semua. Tenang. Namun berbanding terbalik dengan jantungku yang mendadak begitu berisik. Hap, hap, hap. Adakah yang memiliki pengeras suara sehingga tak perlu lagi menyewa drum, karena suara degupan jantung ini sebegitu hebatnya. Menunggu dengan cemas di depan kamar mandi pria dengan kaki gemetaran. Ingatkan aku tentang hari ini. Tentang betapa beraninya seorang Hermione Granger. Aku tak tahu tindakanku kali ini disebut berani atau malah kelewat bodoh. Menunggu seseorang keluar untuk menyatakan cinta. Di kamar mandi. Hanya bermodal keberanian. Merlin, cubit aku dari mimpi aneh ini.

Mengenalku saja sudah untung, ah tapi mana mungkin ia tak mengenalku. Aku teman satu kelasnya. Sebagian hati menyuruhku untuk mundur dan berlari kembali ke kelas. Namun bagian hatiku yang lain menyuruh untuk tetap diam dan menunggu. Untuk mengungkapkannya. Aku bingung. Tapi sepertinya sudah sangat telat untuk memutuskan, karena apa?

Pintu yang aku tunggui sejak tadi kini knopnya berputar. Seseorang akan keluar dari dalamnya. Cedric, ya Cedric. Aku siap. Aku siap. Aku siap. Sejenak teringat makhluk kuning kotak menggemaskan yang aku ikuti mantranya itu. hanya sebagai penguat diri. Sudahlah.

Dua detik.

Aku siap. Tak ada waktu untuk ragu.

Empat detik.

Aku menyukaimu. Hanya itu.

Enam detik.

Jadi?

Delapan detik.

Apa aku yakin?

Berapa detik saat ini? Mengapa seseorang itu belum juga keluar?

CKLEK

Aku tahu, pintu itu terbuka kini. Namun aku hanya bisa menunduk seraya mengulurkan sebuah surat yang aku ambil dari loker tadi. Tanpa berani menatap wajah yang ada dihadapanku saat ini.

"AKU MENYUKAIMU CEDRIC DIGGORY!" lantangku dengan teramat keras.

Hening.

Hening.

Apa pernyataanku tadi terlalu keras? Atau Cedric kini terkaget-kaget karena putri impiannya nyatanya menyatakan cinta padanya. Well, khayalan tinggi saja. Tapi sungguh, aku merasakan sesuatu yang tak enak saat ini.

"Tindakan berani, Granger!" ucap suara yang sudah tak asing.

Astaga, aku menengadah dengan cepat mendapati suara tadi tertangkap jelas di telingaku. Malfoy. Mengapa hatiku mendadak dijamahi temaram pekat. Demi merlin, aku mencium hawa masalah baru. Hawa kenaasan yang akan menderaku.

"HEY,,, KEMARI SEMUANYA DAN LIHAT BAGAIMANA KUTU BUKU HHS MENYATAKAN CINTA!"

Mendadak murid-murid berlarian dan ramai memenuhi teras depan kamar mandi pria. Hazelku berputar cepat. Menyusuri kerumunan yang mendadak begitu banyak. Memperhatikan, tertawa-tawa, menyemangati, menonton, tak percaya, menyuarakan penerimaan. Astaga, adakah yang lebih buruk dari ini semua?

Sepuluh, dua puluh, tidak, ini ratusan. Oke, berlebihan. Namun sungguh, ini banyak. Murid-murid berkerumun di sekitarku. Di depan toilet pria ini. Boleh aku menghilang sekarang?

Aku melihat wajah datar si ferret memuakkan yang baru saja berhasil mempromosikan pernyataan cintaku. Dan sialnya lagi, mana Cedric? Mana pemuda yang aku tuju itu? mana dia? Sudah separah ini dan dia tidak mendengarnya langsung dariku.

Ya, dan pemuda itu baru saja keluar. Mata hitamnya menyusuri kerumunan di depan kamar mandi. Ia tampak heran dengan banyak murid yang berkumpul seraya menatap ke arahnya, si ferret menyebalkan. Dan setelah menyusuri kerumunan, mata hitam itu terhenti tepat padaku. Seolah mengintimidasi. Mendadak keringat dingin membanjiri seluruh kening.

"Bisa kau katakan lagi, Granger? Cedric baru muncul," ucap si ferret itu polos.

Aku tak tahu sudah semerah apa wajah ini. Panas rasanya. Sungguh, darah seakan bergolak. Melihat Cedric yang tampak heran. Kemudian beralih pada ferret menyebalkan itu yang hanya berwajah tanpa dosa. Astaga, kerumunan semakin bertambah banyak. Semakin menyuarakan banyak hal. Dengan segala macam komentar.

"Kau memuakkan, Malfoy!" desisku penuh kemarahan pada pemuda pucat itu.

Dan waktu berikutnya aku segera berlari. Ya, berlari menjauhi kerumunan itu. Berlari menjauhi Cedric yang entah apa yang ia pikirkan. Lari dari segala hal bodoh memuakkan ini. Adakah yang punya pemutar waktu sehingga aku tak perlu mengalami hari ini? Mengalami naasnya hari ini. Bagaimana besok? Aku ingin pindah sekolah saja.

..

..

TBC

Yeay chap pertama yang akhirnya publish setelah berbulan-bulan tak terjamahi di komputer Diloxy. Ini itu yang membuat publish fict ini begitu telat. Terima kasih untuk para readers, dan ditunggu reviewsnya.

Flamer nanti aku kasih avada kedavra. Mau? ehehehe