"Hai, namaku Hermione Jean Granger. Kau siapa?" tanya seorang gadis berambut ikal kemudian. Ia mengulurkan tangannya kepada pemuda pirang yang sedari tadi memperhatikannya dengan seksama.

"Oh, ehm. Gigimu besar, Granger!" ucap pemuda pirang itu santai.

Ya santai, namun tidah dengan si gadis ikal yang kini berubah garang. Tangannya mengepal. Dan sejurus kemudian, ia berlari sekencang yang ia bisa menjauhi pemuda aneh bin menyebalkan yang baru saja dilihatnya itu. Tepat hari ini. Hari pertama baginya belajar di Hogwarts High School sebagai murid tingkat awal.

Hermione Granger. Gadis ikal kutu buku itu menggerutu sepanjang pelariannya. Bertanya-tanya aneh mengapa pemuda itu terus memperhatikannya padahal ia merasa baru pertama melihatnya. Mengapa si pirang itu menatapnya dengan pandangan aneh dari kejauhan. Dan begitu gadis itu mengajak berkenalan, malah kata-kata serapah yang meluncur. 'gigi besar'. Well, tanpa gadis itu ketahui, sepasang kelabu masih saja memperhatikannya hingga si gadis menghilang di antara kerumunan murid baru HHS lainnya.

Harry Potter © JK Rowling

Rate : T

Genre : Romance, Hurt Comfort

Warning : AU, Miss typos, dll

Trims to : Draconis, Bluedaisy, sitara1083, rainnight, blizzard19, zhexxo, zean's malfoy, shizyldrew, cla99, tsurugi, futhurmorthy, claire, ochan malfoy, ryunkzhy, watchfang, rin, serta seluruh silent readers

Untuk chap yang satu ini semoga tidak mengecewakan. ^_^

Rasi Bintang © Diloxy

Chapter 7. Cinta

Hermione POV

Uhh astaga, sudah sampai mana perjalanan kita saat ini? Aku membatin sendiri. Menggosok-gosok mata guna memperjelas pandangan. Sepertinya masih lumayan jauh. Tapi, entahlah. Aku menoleh ke sebelah. Masih ada Ginny yang saat ini sedang asyik ngemil. Ya, wajar saja. Seingatku tadi, rasa kantuk menyerang begitu saja hingga akhirnya aku terlelap. Membiarkan sahabatku ini mungkin berbicara sendiri. Aku terkekeh pelan.

"Heh, kau sudah bangun? Menyebalkan sekali kau membiarkan aku berbicara sendiri, Mione!" gerutu Ginny begitu mendengarku terkekeh. Aku menggaruk kepala yang sesungguhnya tak gatal.

"Masih jauh?" tanyaku kemudian.

"Sebentar lagi sepertinya. kau begadang yah?" tanya Ginny setelahnya.

Aku hanya mengangkat alis. Ya dibilang begadang mungkin juga. Bukan mengerjakan tugas, bukan. Aku begadang karena semalam aku berbicara banyak hal dengan Draco lewat pesan singkat. Menyenangkan rasanya bisa berbagi banyak hal.

Ahh, sudah seminggu nyatanya semenjak kejadian pearll ball itu. kejadian yang membuatku harus meruntuhkan segala macam perasaan pada Cedric Diggory. Kejadian yang tak pernah bisa aku hapus. Tapi pemuda pirang itu selalu mengingatkanku untuk menjadikan pengalaman buruk itu sebuahpelajaran yang tak untuk dikenang. Well, ia memang benar. Karena semakin kita terus mengenagnya, kita akan semakin hanyut dalam perasaan buruk yang tak berdasar. Jadikan pelajaran, dan melangkah maju. Selalu aku ingat itu.

Ya, Draco Lucius Malfoy. Seorang pemuda dingin bin menyebalkan yang sukses menarikku keluar dari jurang kesedihan karena patah hati. Seminggu berlalu dan aku hampir bisa merasakan tak ada sisa-sisa perasaan sedih setelah pearll ball itu. Entahlah, aku sendiri tak mengerti. Memangnya apa yang telah dilakukan pemuda pirang itu padaku? Ia hanya memberikan obrolan-obrolan ringan namun bermakna. Ia sangat pintar membuat sesuatu kecil tak berarti menjadi sesuatu yang sangat berarti.

"Ouwh, kau pasti melamunkan pemuda itu lagi, Mione!" sikut Ginny tiba-tiba.

Aku terdiam seketika. Menggeleng cepat berusaha menyembunyikan bahwa aku memang sedang memikirkan pemuda itu. pemuda pirang itu.

"Kau tak bisa berbohong padaku. Aku bisa membaca pikiranmu, Mione!" gumam Ginny sebelum menyedot sebotol jus limun.

"Astaga Ginny, bisa berhenti berceloteh?" aku menggerutu.

"Bukan berceloteh, Mione. Tapi itu memang kenyataan," ucap Ginny yakin. Ia kemudian celingak-celinguk mencari-cari entah siapa di dalam bus yang kami naiki.

Hari ini murid kelas XI HHS mengadakan study tour ke sebuah museum baru di Glasglow. Kami pergi kesana dengan menggunakan bus. Total ada 8 bus. Tiap bus mengangkut tiap kelas. Aku berada di bus 4 bersama teman-temanku murid kelas XI IPA 4. Sepertinya memang tempat tujuan kami sudah dekat. Aku bisa melihat atap museum itu. menurut yang aku baca, museum itu merupakan museum sejarah dan iptek.

"Mione, itu dia!" bisik Ginny yang lebih kepada memekik. Aku cepat-cepat menyumpal mulutnya.

"Ssshhh, kau ini membuat aku malu, Ginny!" ucapku cepat-cepat.

Entah naas, sial, atau malah beruntung, aku tak tahu pasti. Namun orang yang ditunjuk-tunjuk Ginny tadi menoleh dan kini melihat ke arahku. Ya, dan akhirnya aku paksakan seluruh tubuhku untuk siap menghadapi lamunanku tadi. Draco Malfoy berjalan ke arahku. Hey, mengapa jantungku berdegup lebih cepat. Siapa yang telah menaikkan frekuensi denyutannya? Adakah rumus yang bisa mendefinisikan mengapa suara seakan merendah dan gerakan seakan melambat. Well, memang agak berlebihan. Tapi, demi merlin, aku merasa tak karuan. Oh, tidak.

"Hey, kalau tak cepat turun, kalian bisa dibawa bus ini kembali ke London. Turun sana!" ucap Draco sinis ke arah aku dan Ginny yang tampak sedang bergulat mungkin.

Ya, manis sekali. Harusnya aku tahu bahwa pemuda itu adalah manusia es aneh bin menyebalkan aslinya. Dan akhirnya, aku dan Ginny pun turun dari bis dengan keadaan dimana aku terdiam dengan wajah merah, sementara Ginny terkikik puas melirik-lirik ke arahku. Selamat, fortuna milikmu Weasley.

Seluruh murid turun dari bus dan berbaris di halaman parkir museum. Sebuah bangunan besar dan megah tampak luarnya. Mengusir anggapanku bahwa ini adalah gedung dengan gaya arsitektur eropa kuno. Aku bisa melihat dua tiang besar menjulang serta sebuah atap berbentuk setengah bola di bagian tengah atap gedung. Sementara bagian atap yang lainnya datar. Sepertinya kunjungan kali ini menyenangkan.

Sedikit instruksi dan pemberitahuan aturan-aturan telah selesai diberikan. Kami yang telah dibagi menjadi beberapa kelompok mulai memasuki pintu depan museum. Aku ada di rombongan kesekian yang baru dapat memasuki gedung megah ini. Menunggu cukup lama dan akhirnya bisa menikmati kemegahannya.

Aku berjalan masuk bersama Ginny dan murid-murid lainnya dalam rombongan. Ah, tungguh saja satu jam dan rombongan akan terpecah entah kemana. Juga mungkin dengan gadis di sebelahku ini yang akan mencari si bocah petir. Hmmm, sayang sekali pada kesempatan ini aku dan pemuda pirang itu tak serombongan. Tapi, hey! Bukankah nanti orang-orang bebas bersama siapa saja? Ya begitulah. Itu pun jika aku bertemu dia dan dia memang mau berjalan bersamaku di museum ini. Astaga, aku terlalu banyak melamun.

Well, tugas pengumpulan bahan study tour dimulai.

0o0o0

00

Lelah sudah menjalari kedua lenganku. Sedari tadi menghabis waktu untuk mengumpulkan bahan dan foto untuk laporan kunjungan ini. Aku melirik arlojiku sejenak. Sudah dua setengah jam rupanya aku berkelana sendirian. Kemana rombongan kelompokku? Entahlah.

Aku kini berada di sebuah ruangan dengan arsitektur kuno. Berisi puluhan pajangan antik kerajaan-kerajaan di Eropa jaman dulu. Ruangan besar ini cukup sepi. Tak terlihat murid HHS lainnya selain aku sepertinya. Hanya ada beberapa pengunjung saja yang tak sampai sepuluh orang sepertinya.

Sepertinya sudah cukup waktu untuk mengumpulkan bahan, kini aku memilih berkeliling tempat ini saja. Sedari tadi aku belum melihat-lihat. Dan akhirnya, kedua kaki ini membawa ku menyusuri koridor panjang di sebelah kiri ruangan tadi.

Aku memperhatikan sekeliling. Hanya ada dinding marmer dan lantai marmer juga. Terasa dingin dan sepi. Tak banyak yang melaluinya. Aku terus berjalan melintasi koridor ini hingga akhirnya kini berada pada persimpangan. Koridor dengan rute bercabang. Kemana harusnya? Sayangnya tak ada penunjuk arah atau tempat di persimpangan ini. Oh ayolah, aku dilema. Namun kemudian aku terdiam. Bukan, bukan karena bingung. Tapi, aku seperti mendengar seseorang yang aku kenal. Dari ujung lorong.

Aku perlambat langkahku guna berpapasan dengan seseorang itu. hey, mengapa senyumku terkembang begitu saja. Jantungku tiba-tiba berdegup lebih cepat. Oh, ayolah. Aku yakin tak terkena hipotermia walau pun udara memang dingin. Merapatkan jaketku dan menoleh perlahan.

HAP

Kelabu itu menyorot tepat.

Ke arahku.

"Sendiri?" tanyanya begitu ia mendapatiku mengendap-endap layaknya maling museum.

"Berdua. Aku dan kau!" ucapku agak gugup. Uhh, bodoh. Mengapa harus gugup.

Aku perhatikan wajahnya datar-datar saja. Ia terlihat merapikan alat tulisnya ke dalam tas. Tak ada kata meluncur dari bibir mungilnya. Hey, aku bilang apa tadi? Bibir mungil? Aku yakin aku terkena khayalan aneh karena udara dingin ini.

"Kau sudah selesai mencari bahan untuk laporanmu, Mione?" tanya pemuda itu. aku menoleh lagi ke arahnya.

"Ehm, iya. Aku sudah selesai. Kau?" tanyaku lagi.

Pemuda itu hanya mengangguk pelan. Ia kemudian menoleh ke arahku. Mengembangkan sebuah senyuman hangat. Ya, begitu hangat. Disini. Di hati. Ia berjalan ke arahku. Suara sepatunya berkelotak beradu dengan marmer. Mempersempit jarak antara kami, ia kemudia mengulurkan tangannya padaku. Berisyarat meminta tanganku menerima ulurannya. Aku sigap menerimanya. Ia kemudian menarikku untuk berjalan menyusuri lorong sebelah kiri. Kalian tentu ingat dengan dilema memilih persimpangan tadi. Dan saat ini aku mengikuti jejaknya. Kemana? Aku pun tak tahu.

"Kita akan kemana, uhm Draco?" tanyaku memberanikan diri.

"Ke suatu tempat yang akan kau sukai, Mione!" ucap pemuda itu dengan tawa ringan. Ouwh, sepertinya pemuda ini sudah tak sabar.

Aku terus mengukuti langkahnya kemana pun ia membawaku. Amsih dengan tangannya yang menggenggam tanganku, menarikku untuk mengikutinya. Melewati beberapa koridor panjang berisi pajangan-pajangan antik yang pernah aku lewati sebelumnya. Lumayan panjang rute ke suatu tempat yang dikatakan Draco tadi.

Hingga akhirnya langkahnya melambat pada sebuah ruangan tertutup yang dari luar sepintas mirip ball room. Sepertinya cukup luas. Aku maish belum tahu ruangan apa itu sebenarnya, karena nyatanya tak ada tanda atau petunjuk nama ruangan. Tiba-tiba jemari pucat Draco menutup kedua mataku. Aku terkejut ketika kebekuan itu menjalari wajahku.

"Hey, ada apa?" tanyaku cepat.

"Aku harus menutup matamu agar ruangan ini menjadi kejutan. Tenang, bukan hal berbahaya dan mematikan tentunya," gumamnya terkekeh. Uhh menyebalkan.

Aku biarkan ia menuntunku memasuki ruangan tersebut. Udaranya lebih hangat dari udara di luar. Entahlah, aku tak bisa melihat apapun, namun ruangan ini yang sepertinya luas terasa begitu sepi. Mungkinkah hanya kami berdua di dalam ruangan ini?

"Tetap tutup matamu sampai aku meminta kau membukanya," perintah Draco. Aku masih menutup mataku begitu pemuda itu melepaskan tangannya. Ia terdengar berlari ke suatu sudut. Terdengar beberapa benda bergerak dan, entahlah. Aku tak tahu. Aku sudah tak sabar.

"Apa aku boleh membukanya sekarang?" tanyaku.

"Silakan!" jawab pemuda itu yang kini sudah berada di sebelahku.

Perlahan kelopak mataku terbuka. Sepasang hazelku berusaha mencari fokus. Aku menggosok-gosokkan mataku sejenak. Memperjelas pandangan. Dan, sesuatu menghampar di depanku. Ah tidak, tidak. Di belakangku juga. Di atas, di sekitarku. Sesuatu yang gelap, dengan titik-titik putih hasil hologramkah? Apa ini?

"Kau mengenal ini?" tanya Draco tersenyum ke arahku.

Astaga, ini sebuah planetarium. Ya, dan saat ini yang menghampar dis ekitarku adalah pemandangan langit malam dengan banyak gugusan bintang. Adakah kata yang bisa menggambarkan betapa aku kagum? Aku mendongak ke atas. Siluet-siluet garis mulai terbentuk dari bintang satu ke bintang lainnya. Membentuk suatu gugusan. Rasi bintang.

"Aku tak tahu museum ini memiliki planetarium," ucapku takjub. Draco hanya terkekeh pelan.

"Kau suka?" tanya Draco kemudian.

Aku mengangguk mantap menjawab pertanyaannya. Ah, teringat sesuatu yang terselip di saku celana jeans yang aku pakai. Aku segera merogohnya. Mengambil sebatang pensil dari dalam tas. Dan sekarang, perburuan info tiga buah teka-teki yang belum terpecahkan dimulai. Teleskop, kuda kecil, dan oktan. Puisi Draco beberapa waktu yang lalu. Hazel ini liar menyusuri tiap bagian dari kubah langit tiruan ini. Indah, sangat indah malah. Kini siluet-siluet tersebut sempurna membentuk banyak rasi bintang. Tulisan-tulisan pun muncul di sekitar rasi tersebut. Aku mencari. Terus mencari.

"Kau bermaksud membantuku memecahkan teka-teki yang kau beri, Draco?" tanyaku tiba-tiba.

"Ummh, aku hanya kasian. Kau nampak kesulitan, lagipula kau lama sekali, Mione. Bukan hal sulit sepertinya memecahkannya," celoteh pemuda itu. aku hanya mendengus pelan. Ia mengintip catatanku. Dan kemudian telnjuknya menunjuk pada suatu arah. Aku mengikuto arah telunjuknya.

"Eqquleus?" tanyaku cepat pada Draco. Saking girangnya aku hampir saja memeluknya. Upps.

"Kau butuh dua lagi ya?" tanya Draco mengacak rambutku.

"Yaps, bisa bantu lagi? Kumohon!" aku memelas.

"Apa yang belum?" tanya Draco.

"Teleskop. Apa itu telescopium?" tanyaku hanya ingin memastikan saja.

Draco mengangguk. Yeah, aku benar. Tinggal satu lagi Mione. Ayolah, satu lagi. Aku makin bersemangat mencari satu nama lagi. Oktan. Terus mencari di seluas kubah langit planetarium ini. Hey, apa itu? rasi imut-imut nan lucu yang membuat hazelku membulat sempurna sepertinya.

"DAPAT!" teriakku saking senangnya. Aku melonjak kegirangan.

"Untung ruangan ini kosong," gumam Draco sinis.

Aku tak peduli, akhirnya pencarianku berakhir disini. Di octans, untuk oktan. Segera aku menuliskannya di sebelah baris ke tujuh. Memperhatikan dengan seksama kata-kata yang telah terkumpul di secarik kertas lusuh nan kumal dan rapuh ini. Aku terkekeh. Seperti anak kecil yang mendapatkan jawaban matematika yang super rumit.

Rasi bintang berpendar dari teleskop (telescopium)

Antara jam, menit, detik (horologium)

Dengan gambaran kuda kecil di atas savana (eqquleus)

Dengan pemburu liar yang ingin mengurungnya (orion)

Pernahkan mendengar lumba-lumba bernyanyi? (delphinus)

Dari sextan, oktan, hingga dexan imajinasi (octans)

Saat kau tahu jaring yang tepat untuk diputuskan (reticulum)

Kebenaran kan terlihat seperti ikan di sungai tenang (eridanus)

"Aku sudah selesai dengan teka-teki ini, mana hadiahnya?" pintaku segera mengulurkan kedua tanganku ke arahnya. Namun hey, ia malah tertawa.

"Jadi apa inti dari teka-teki itu?" tanya Draco.

"Ini? Nama-nama rasi bintang?" ucapku tak yakin. Sepertinya memang teka-teki ini belum selesai.

"Mione, untuk semua pencarian ini, kau harus bisa menemukan maknanya. Untuk apa susah-susah menganalisis sesuatu, tapi kau tak dapat makna yang jauh lebih penting dari proses pencarian itu?" ucap Draco lembut. Seperti guru yang menasehati murid kecilnya yang telah melakukan kesalahan.

Aku membaca kembali puisi tersebut. Apa maknanya? Memangnya apa sebenarnya? Aku makin tak mengerti. Ini benar atau Draco memang hanya ingin bermain-main saja? Aku mengeluh pelan. Aku menyerah.

"Aku menyerah!" desahku.

"Walau pun kau menyerah, aku tak akan memberitahumu, Mione!" ucap Draco dengan seulas senyuman. Pemuda ini sering tersenyum hari ini. Aku terkekeh pelan. Ya sudahlah, berarti pencarian masih berlanjut. Hanya saja tak ada petunjuk untuk menemukan maknanya. Adakah teorema yang bisa membuktikan makna dari teka-teki ini, atau aksioma yang bisa menjelaskan makna apa yang sekiranya terkndung di dalamnya. Atau mungkin lemma yang bisa menunjukkan kebenaran yang tersembunyi dari sebuah puisi berjudul rasi bintang yang sudah sangat aku hapal tiap baris kalimatnya.

"Well, aku juga sebenarnya masih penasaran. Memangnya kau mau memberitahu apa, Draco?" tanyaku.

"Sesuatu yang penting. Kau ingatkan apa yang aku katakan saat pearll ball waktu itu? aku akan memperjelas semuanya," ucap Draco mengakhiri perjalanan kami di planetarium tersebut. Setelah akhirnya kami keluar. Aku tak tahu pasti apa maksudnya, namun ada bagian hati yang mendesirkan alunan tentang sebuah tanya. Sesuatu yang memaksa menyeruak keluar. Sesuatu dari masa lalu. Sesuatu yang mengingatkan aku tentang bintang-bintang. Benarkah itu?

0o0o0

00

Koridor belakang HHS

Satu bulan setelah study tour ke museum di Glasglow.

Mentari, entah hari ke berapa semenjak perjalanan kami ke planetarium tersebut membuahkan hasil terpenuhinya seluruh teka-teki rasi bintang. Izinkan untukku sekali lagi saja, menemukan makna dari puisi ini. Memang benar yang pemuda itu katakan. Aku harus mengerti proses pencariannya. Tapi apa? Aku mengeluh pelan lagi. Masih menunggumu mentari. Yang masih saja sembunyi seolah ragu menampakkan kekuasaanmu di siang bumi. Tak apalah angin dingin menantangmu dengan meniupkan awan-awan tebal untuk menutupimu. Kau masih bisa mengusir mereka bukan? Sama seperti diriku yang sepertinya mulai bisa mengusir Cedric dari pikiranku. Mengusir penyesalan dari kebodohan hubungan itu.

Mentari, karena nyatanya untuk mendapatkan cahaya tak perlulah lampu terang namun aku masih berada di sisi gelap yang tak terkena cahayanya. Karena saat ini aku bisa menyalakan lilinku sendiri. Untuk menerangi bagian gelap itu walau remang.

Mentari, aku yakin kau tahu siapa yang aku bicarakan tentang lilin itu. Draco Lucius Malfoy. Aku tertawa pelan mendesahkan nama itu padamu. Pemuda yang beberapa waktu ini begitu dekat denganku. Aku tak tahu pasti apa perasaanku. Yang jelas, aku merasa nyaman dan senang bila ada di dekatnya. Hari-hari berlalu dan kami semakin dekat.

Sepertinya sesi curhat dengan mentari sudah cukup. Aku mendongak kembali ke langit dan naytanya mentari memang tak akan muncul. Belum saatnya untuk muncul. Aku masih berjalan disini. Mengikuti jejak samar di atas tumpukan kristal salju nan lembut dan dingin.

End of Hermione POV

Normal POV

Hermione berjalan pelan seraya memegang sebuah buku tebal yang tak ia baca. Hazelnya menerawang jauh. Sebuah senyuman terkembang begitu ia mendapati sosok pemuda pirang tengah berdiri di dekat lapangan.

"Hey!" sapa Hermione kepada pemuda pirang itu dari jauh. Gadis itu setengah berlari melawan salju di pijakannya yang membuat sulit berjalan. Ia melambaikan tangannya dengan senyuman lebar. Sementara si pemuda membalas dengan senyuman tipis yang, ehm, menawan.

"Kau sedang apa?" tanya Hermione segera begitu gadis itu sampai.

"Aku? Aku sedang mengamati lapangan," gumam Draco.

Hermione segera memperhatikan sesuatu di lapangan. Namun sedapat yang ia lihat hanyalah tumpukan salju yang tak mengizinkan rumput muncul. Gadis itu menoleh lagi pada pemuda di sebelahnya.

"Mengamati apa?" tanya Hermione heran.

"Saljunya. Ah, sebenarnya aku hanya merindukan pertandingan saja. Minggu ini salju turun lebat sekali. Sehingga lapangan tak bisa dipakai untuk bermain bola," gumam Draco.

"Kau itu sungguh pecinta bola, Draco!" gumam Hermione tertawa kecil.

"Well, aku memang suka bermain bola sejak dulu, ya kau bisa lihat sendiri," kekeh Draco menggaruk bagian belakang kepalanya.

"Hey, kau tak perlu salting begitu," ejek Hermione.

"Salting, eh? Sepertinya kutu buku HHS harus memakai kaca mata," balas Draco seraya menutup mata gadis di depannya. Si gadis mundur seraya tertawa-tawa.

"Kau itu aneh, sekarang kau mau menyamai warna rambutku," gumam Hermione.

"Eh? Kau memperhatikan?" tanya Draco pura-pura terkejut seraya mengacak rambutnya.

"Tentu saja, Malfoy. Ah, aku tak bisa lagi memanggilmu ferret menyebalkan kalau rambutmu berwarna coklat begini, huh! Kau sudah bosan ya memiliki rambut pirang?" tanya Hermione heran.

"Tidak juga," Draco menggeleng. Ia terdiam sejenak. "Sebenarnya aku memiliki misi untuk mengingatkan seseorang dengan rambut ini," gumamnya seraya tersenyum.

"Misi? Memangnya siapa yang mau kau ingatkan? Apa hubungannya dengan rambut coklat eh?" Hermione makin heran.

"Kau akan tahu, berang-berang!" ucap Draco tertawa lebar seraya mengacak-acak rambut gadis di depannya. "Bagaimana, apa kau sudah temukan makna teka-teki itu?"

"Belum."

Ah, manis sekali. Si gadis menampakkan wajah cemberut, namun ia tertawa bersama si pemuda. Menampakkan siluet kehangatan yang muncul menggeliatkan hati dan perasaan di antara udara ini. Kebekuan.

Angin menghembus pilu di antara tubuh yang pucat dan tentu saja menguar rasa dingin. Sepanjang yang dapat di amati hanyalah padang salju luas, dengan gambaran langit pucat tak bermentari. Sungguh alam telah sukses menciptakan kebekuan ini. Kebekuan yang tiba-tiba menjalari tubuh kedua insan. Pemuda itu menoleh pada gadis di sebelahnya. Dan kini, sepasang kelabu tajam membius hazel hangat Hermione. tak ada kata. tak ada suara. jsdf…dsf..s

Hermione. Tak ada kata, tak ada suara. Jantung keduanya tiba-tiba memacu hebat. Terlebih jantung pemuda pucat itu.

Mendalami hazel dan kelabu satu sama lain yang mencitrakan perasaan terdalam yang kini menguar. Menyeruakkan perasaan dan dorongan lain. Ya, sesuatu yang disembunyikan satu dengan yang lainnya. Jemari pucat sang pemuda perlahan terangkat merangkum pipi si gadis. Untuk beberapa saat waktu seakan terhenti. Ya sungguh, waktu seakan terhenti.

Si gadis merasakan kebekuan yang teramat menjalari pipinya, hingga ke tubuhnya. Jantungnya berdegup cepat menatap kelabu yang kian dekat. Rasa kepasrahan menuntunnya. Perlahan kelopak mata Hermione tertutup. Dan detik demi detik berikutnya, ia merasakan sentuhan lembut bibir Draco di bibirnya.

Jantung kian memacu sementara mereka semakin dalam terbawa. Merasakan aroma khas musim dingin yang kesulitan mereka hirup. Hanya itu, ya hanya sentuhan bibir keduanya yang masih enggan terlepas. Yang masih ingin mencumbu lebih lama lagi menari-nari dalam khayal masing-masing. Menyeruakkan perasaan yang sama-sama terpendam. Terjawabkan sudah. Namun, apakah ciuman Draco ini adalah jawaban dari perasaannya? Tanpa disadari buku tebal di tangan gadis itu terjatuh. Kini jemari Hermione meremas kemeja Draco. Mereka berdua. Hanya berdua. Menyatu untuk beberapa saat. Draco mempererat pelukannya pada pinggang si gadis. Meremasnya. Dengan padang salju kosong yang menjadi hamparan latar. Udara menghembus cepat mempermainkan rambut keduanya juga yang belum melepaskan.

Namun detik berikutnya, tiba-tiba Draco melepaskan ciumannya. Ia terengah mengatur nafas seraya menampakkan pandangan yang sungguh tak seperti sebelumnya. Pandangan bersalah. Draco menjauhi gadis di hadapannya. Sementara si gadis menatap Draco dengan tatapan berharap. Ya, api yang ada di benak Hermione kini membesar karena peristiwa tadi. Namun tidak dengan Draco yang terus menatap dengan pandangan bersalah. Pemuda itu mundur beberapa langkah. Dan kemudian, dering ponsel pun terdengar dari saku celana Draco.

Draco agak terperanjat begitu melihat nama kontak pada layar ponselnya. Ia segera berjalan menjauh beberapa meter untuk menjawab panggilan tersebut.

Sementara Hermione, gadis itu memperhatikan dari jauh. Perasaannya campur aduk. Ia senang. Sungguh senang. Namun ia heran, apa arti tatapan pemuda itu tadi. Hermione hanya memperhatikan Draco dari jauh. Pemuda itu tampak berbicara serius dengan seseorang yang entah siapa. Suaranya tak terdengar jelas karena sepertinya Draco berbicara dengan suara kecil.

Sekitar lima menit berbicara, tampaknya Draco telah selesai. Draco pun menutup ponselnya dan berjalan ke arah Hermione. Berjalan ke arah gadis yang ia cium tadi. Dengan wajah yang sulit ditebak. Namun tidak menyiratkan rasa bahagia. Berjalan perlahan tanpa menatap langsung hazel yang meminta perhatiannya. Dan kini, pemuda itu pun sampai di depan gadis itu. Ia menarik nafas panjang. Tak berani mengintimidasi hazel yang penuh tanya. Ada sesuatu yang berat jelas tergurat di wajahnya. Draco memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.

"Maaf untuk hal tadi. Jangan berpikir apapun tentang itu. Aku tak bersungguh-sungguh melakukannya. Mungkin kita hanya kedinginan dan butuh sedikit kehangatan, hingga kita berdua melakukannya," ucap pemuda pucat itu sebelum akhirnya ia melangkah pergi. Pergi meninggalkan Hermione dengan wajah bingung dan tak percaya. Ia sungguh tak mengerti. Sungguh tak bisa mengerti. Ada guratan kekecewaan di hazel miris itu. Hazel yang hanya bisa menatap kosong pada udara yang ditinggalkan pemuda yang gadis itu baru sadari, pemuda yang ia cintai kini. Draco Lucius Malfoy.

..

..

TBC

Well, akhirnya chap ini beres. Diloxy minta maaf untuk keterlambatan update. Sebenarnya terkena WB dan kesibukan di muggle world, proposal skripsi yang minta dimanja juga prepare ujian seminar proposal.. Niat lanjutin fict ini malah dapet ide kesana-kemari. Bikin fict curhatanlah, hadeuh. Dan jadilah fict penuh tambalan copy paste yang diragukan kenyambungannya ini. Apapun pendapat kalian tentang fict ini terutama chapter ini, silakan layangkan dalam review yahhh. Tapi jangan flame please! Diloxy bisa drop. Heuheu. Thanks untuk yang sudah baca. ^_^