Bokutachi no Akachan

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Humor

Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno

Chapter 1 : Akachan?!

Di Konoha Gakuen semua murida diwajibkan mengikuti ekstrakurikuler dan kegiatan didalamnya. Akan tetapi, jika sebuah perkumpulan terbentuk pasti akan ada orang-orang yang terbuang diluarnya.

Contohnya Namikaze Naruto, pemuda dengan rambut pirang yang sangat berisik ini mengutamakan game di atas segalanya dan dia tidak pernah ikut ekstrakurikuler apapun seumur hidupnya. Atau Hyuga Hinata, yang tak bisa berinteraksi dengan orang lain karena sifat pemalu yang dimilikinya.

Atau misalnya, Yamanaka Ino gadis cerewet yang nekat memilih untuk bergabung dengan klub merangkai bunga yang sayangnya sudah dibubarkan beberapa tahun yang lalu. Atau misalnya, Shimura Sai yang sangat berbakat dalam melukis namun karena mulutnya yang tajam dia selalu bermasalah dengan anggota klub yang lain.

Contoh lain, Uchiha Sasuke si egois yang sangat populer di kalangan perempuan, dia memilih untuk tidak mengikuti klub apapun karena dianggapnya hanya mengganggu prestasinya. Dan Haruno Sakura, gadis ini sebenarnya terhitung normal andai saja dia tidak terlalu tergila-gila pada Uchiha Sasuke. Namun karena peraturan sekolah, para remaja bermasalah ini terpaksa mengikuti satu klub, mereka semua tergabung dalam Klub Peneliti Budaya.

Namun hal-hal damai di klub mereka akan segera berakhir bersamaan dengan kejutan yang akan mereka semua hadapi.

Bokutachi no Akachan

Sepulang sekolah adalah waktunya mengikuti klub, Naruto yang baru saja terbangun dari tidurnya segera berlari menuju ruang klubnya yang terletak agak jauh dari kelasnya. Meski begitu dia tetap bersemangat untuk menuju ruangan klubnya, bukan untuk mengikuti kegiatan klub tapi untuk memainkan game terbarunya "Monster Hunter" sebuah game yang bertemakan perburuan monster yang sedang populer saat ini.

"Hari ini pokoknya aku akan menyelesaikan quest bintang lima dan mendapatkan Rathalos untuk meningkatkan baju tempurku!" teriaknya bersemangat.

Brak! Pintu ruangan dibuka dengan agak keras, menimbulkan bunyi keras. Kalau ada guru yang tahu dia sering membuka pintu seperti itu, sudah pasti dia akan dihukum berlari keliling lapangan dengan bertelanjang dada.

"Asyik! Aku yang pertama datang! Tidak ada yang menggangguku..."

Dia tiba-tiba terdiam ketika melihat sebuah keranjang besar yang terletak di dekat TV tempatnya bermain game. Dengan penasaran dia mendekati keranjang tersebut dan memeriksanya dengan hati-hati.

"Keranjang siapa ini? Apa punya salah satu cewek di klub ini? Mungkin ini isinya makanan ya? Kubuka ah..." setelah berkata seperti itu dia langsung menyingkap penutup keranjang besar tersebut.

"..."

"AAAAAAHHHH!" teriaknya keras-keras.

"Ada apa Naruto? Kenapa kau berteriak sekencang itu? Mengganggu saja," ucap Sasuke dingin seperti biasanya.

"A...ada...a...ada...bbbb...bb..." Naruto nampak tergagap dalam mengutarakan maksudnya.

"Ada apa baka? Bicara yang jelas atau harus kupukul dulu kepalamu, agar processormu jalan dulu. Makanya upgrade otakmu itu ke tingkat yang lebih tinggi," ejek Sasuke.

"A...ada...ada...ba...babb...ba..."

"Kenapa gaya bicaramu jadi seperti si Hyuga itu sih? Menjengkelkan!"

"Ada bayi!" akhirnya Naruto berhasil mengucapkannya dengan sangat jelas.

"Dasar bodoh! Mana mungkin ada bayi di ruangan ini? Memangnya ini tempat penitipan bayi?"

"Lihat saja sendiri kalau tidak percaya!" kata Naruto sambil menunjuk keranjang besar yang terletak tak jauh dari tempatnya.

"Sini! Akan kubuktikan kalau matamu itu kena katarak!"

Sasuke akhirnya mendekati keranjang besar itu dan menyingkapnya

"AAAAAAAH! ADA BAYI!" reaksinya tak kalah mengejutkan dari Naruto bahkan lebih.

"Diam baka! Bagaimana jika ada orang lain yang mendengar ini!?" Naruto langsung membekap mulut Sasuke yang tengah berteriak dan ditanggapi dengan anggukan pelan dari Sasuke.

"Apa yang harus kita lakukan?!"

"Mana kutahu? Yang pasti kita harus melaporkan hal ini pada polisi!"ujar Naruto sambil mengangkat keranjang yang berisi bayi tersebut.

Klek, kali ini pintu dibuka pelan dan munculah kedua heroine kita, Hinata dan Sakura. Tentu kalian penasaran reaksi apa yang dimunculkan kedua wanita ini ketika melihat kedua teman satu klubnya tengah memegang handphone dan keranjang yang berisi bayi kecil yang tidak berdaya dan peralatan lainnya. Beginilah reaksinya.

"KYAAA! Ada penculik bayi!" teriak kedua gadis itu tanpa ampun yang langsung membuat kepanikan di dalam ruangan itu.

"Ka...kami bukan penculik!" bantah Naruto dan Sasuke.

"Lepaskan bayi tak bersalah itu penjahat!" seru Sakura yang langsung melayangkan jurus tendangan karatenya ke arah Naruto.

BRUP! Perut Naruto serasa diinjak gajah, hampir saja dia memuntahkan makan siangnya.

"Ma...maafkan aku Naruto-kun!" Bletak! Hinata memukulkan sapu dengan liar ke arah Naruto.

"Kenapa hanya aku?!" Naruto menangis dalam batinnya.

Bokutachi no Akachan

Karena adegan salah paham ini lama dan dipenuhi adegan kekerasan yang tidak pantas lebih baik kita percepat sampai sepuluh menit sampai dimana kesalahpahaman ini akhirnya terselesaikan walaupun tubuh Naruto babak belur akibat pukulan dan tendangan salah paham dari kedua wanita tangguh ini.

"Ja...jadi begitu ceritanya Hinata, Sakura-chan. A..dduh..duh," Naruto memberi penjelasan sambil mengaduh kesakitan.

"Oh jadi begitu, seharusnya kau ceritakan lebih cepat gar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini," kata Sakura santai.

"Ma...maafkan aku Naruto-kun!" Hinata membungkukkan badannya tanda dia sangat menyesal.

"Kalau kalian berdua memberiku kesempatan maka hal ini tidak akan terjadi! Lagipula kenapa hanya aku yang dipukuli?! Kenapa Sasuke aman-aman saja!?" protes Naruto.

"Itu karena aku tidak bisa menyakiti Sasuke-kun, iya kan Sasuke-kun?"

"Tidak tahu!" balas Sasuke singkat.

"Itu...itu... karena aku me...me...me..."

Belum selesai Hinata berkata tiba-tiba dua sosok manusia yang juga anggota klub ini masuk, mereka adalah Yamanaka Ino dan Shimura Sai.

"Oh jadi kalian sudah menjadi pedagang gelap bayi sekarang," ujar Sai sambil tersenyum menjengkelkan.

"BUKAN!" bantah Naruto dan Sasuke bersamaan.

"Hei, bayi siapa itu?" tanya Ino.

"Mana kutahu, yang jelas bayi ini sudah berada di sini sebelum aku tiba!" kata Naruto.

"Bagaimana jika kita memeriksa keranjangnya? Mungkin ada petunjuk mengenai bayi itu," kata Ino sambil menaruh tas yang dibawanya.

"Sini biar kuperiksa! Naruto, angkat bayinya!" perintah Sasuke.

"Seperti ini?" ujar Naruto sambil mengangkat bayi itu dengan memegang kakinya yang mengakibatkan bayi itu menangis keras.

"Apa yang kau lakukan baka!? Kau bisa melukai bayinya!" omel Sakura sambil merebut bayinya dari Naruto.

"Ada catatannya," kata Sasuke

"Mana? Mana? Mari kita baca!" seru Sakura tak sabar.

"Nama anak ini adalah Himeka, dia berumur dua tahun. Kami mohon pada kalian untuk menjaganya selama waktu yang ditentukan. Jika kalian melaporkan tentang hal ini atau ketahuan maka bersiaplah rumah kalian untuk diledakkan..." begitu isi dari surat tersebut.

"Brengsek! Apa maunya orang ini?!" berang Sasuke.

"Ada catatan lain dibelakangnya," kata Sakura.

"PS: jika ada yang menganggapnya serius dan bilang 'Brengsek! Apa maunya orang ini?!' maka dia tidak punya selera humor."

"Kau dikatai tidak punya humor Sasuke-kun, haha!" tawa Sai lepas.

"Diam kau Shimura! Aku tak butuh ocehanmu!" balas Sasuke.

"Yah lebih baik kita lakukan saja, toh cuma sementara," ujar Ino sambil menggendong Himeka.

"Iya lagipula bayi ini lucu kan? Hime-chan!" kata Sakura sambil mencubit pipi Himeka yang chuby itu.

"I...iya. I...ini kan bisa menjadikan latihan kita sebagai orangtua yang baik," timpal Hinata.

"..." semua langsung menatap Hinata dengan pandangan penuh menyelediki.

"Bu...bukan ma...maksudku seperti itu! A...aku hanya berandai-andai saja," kata Hinata malu-malu.

"Kami mengerti," kata mereka kompak.

"Tapi bagaimana mengurusnya?! Apa kita harus membawanya ke rumah!?" kata Sasuke.

"Ya tentu saja," sahut Sakura.

"Caranya?!"

"Bagaimana jika kita serahkan saja pada para cewek? Mereka kan pasti sudah ahli," kata Sai.

"Enak saja! Kami kan juga punya banyak kepentingan dan urusan! Kasih saja ke yang pertama menemukan!" sahut Ino.

"Berarti Sasuke-kun? Kalau begitu kita akan menjadi keluarga yang bahagia, iya kan?" tanya Sakura dengan mata yang berbinar-binar.

"Tidak akan!" Sasuke berkata dengan dingin.

"Tapi kau harus bertanggungjawab Sasuke-kun, kau kan yang menemukannya," kata Ino.

"Iya itu betul Sasuke-kun," Sai juga ikut-ikutan.

"Kenapa semua jadi memojokkanku?!"

"Itu benar Sasuke, bukankah Mikoto Oba-san bilang ingin punya anak perempuan. Bawa saja Himeka jadi adikmu, benarkan Hime-chan?" ujar Naruto sambil bermain dengan Himeka.

"Ya! Ya!" Himeka tertawa.

"Tuh kan, Himeka saja setuju."

"Sialan kau Naruto?!"

"Jadi semua sudah sepakat kan?" tanya Naruto kepada semuanya.

"Brengsek, kalau seperti ini aku bisa sial! Aku harus berbuat sesuatu!" batin Sasuke, "Hei Naruto, apa nanti kau akan bermain MonHunt juga dirumah? Kau tidak dimarahi orangtuamu?"

"Tentu saja tidak, orangtuaku kan sedang pergi keluar kota selama satu bulan... Sialan aku keceplosan!"

"Nah, kalau begitu kenapa tidak menyerahkan urusan ini padamu?"

"Teme! Kau menjebakku Sasuke!"

"Nah, kalau begitu sudah diputuskan," balas Sasuke sambil tersenyum licik.

"Ta...tapi kan Naruto-kun kasihan kalau merawat Himeka-chan sendirian," kata Hinata.

"Nah itu usul yang bagus Hinata! Kamu temani Naruto untuk merawat Himeka ya!" Ino tersenyum jahil, "Bagaimana teman-teman?"

"Setuju!" jawab mereka semua kompak.

Bokutachi no Akachan

Setelah pemutusan yang sepihak tanpa persetujuan dari Hinata dan Naruto akhirnya diputuskan bahwa Himeka akan dirawat sementara di rumah Naruto sampai waktu yang telah ditentukan. Dengan bersungut-sungut Naruto pulang ke rumahnya, tentu saja ditemani Hinata dan Himeka.

"Dasar mereka semua seenaknya saja! Masa memutuskan hal seperti ini berdasarkan angket?!" Naruto terus menggerutu sepanjang perjalanan.

"Ta...tapi i...itu kan keputusan bersama, a...aku rasa itu juga keputusan yang masuk akal," sahut Hinata.

"Kau juga berpikir seperti itu Hinata? Aah kejamnya."

"Bu...bukan maksudku me...memojokkan Naruto-kun! Hanya saja..."

"Sudahlah, aku cuma bercanda kok. Aku senang bisa merawat Himeka dan kau membantuku, tapi apa tidak apa-apa kau menemaniku sampai seperti ini?"

"A...apa kau keberatan Naruto-kun?" tanya Hinata cemas.

"Ti...tidak! Aku senang hanya saja apa orangtuamu tidak khawatir jika kau tidak pulang ke rumah?"

"Emm...itu...a...aku sudah minta ijin kok," jawab Hinata gugup.

"Oh baguslah kalau begitu! Nah kita sudah sampai, inilah kediaman Namikaze Naruto!" Naruto dengan bangga menunjukkan rumahnya yang bergaya minimalis namun menyimpan kesan elegan.

"Wah rumah yang indah!" Hinata terkesima.

"Dan di sampingnya adalah rumah Sasuke yang biasa saja," Naruto dengan malas menunjuk rumah yang bergayakan rumah Jepang tradisional.

"Jadi kalian bertetangga?" tanya Hinata.

"Ya, kami juga teman masa kecil. Tapi itu semua tidak penting! Masuklah dan jangan malu-malu!"

"I...iya!" Hinata merasa gugup karena dirinya bersama seseorang yang disukainya sejak lama dalam waktu yang cukup lama, belum lagi kini dia harus menginap di rumahnya.

"Apa disini tidak ada orang Naruto-kun?"

"Tidak ada. Bukankah tadi sudah kubilang, orang tuaku pergi ke luar kota selama sebulan untuk urusan bisnis," jawab Naruto sambil melepaskan sepatunya.

"Apa orangtuamu sering bepergian seperti ini?"

"Tidak sih, lagipula harusnya aku senang karena biasanya Kaa-san sangat cerewet jika di rumah. Menyuruhku inilah, itulah, membuatku pusing saja. Tapi sejujurnya rumah jadi terasa sepi sih."

"Haha, suasana dirumahmu pasti selalu ramai ya?"

"Kalau mau tahu lihat saja sendiri, pasti Kaa-san akan senang bertemu denganmu."

Blush! Wajah Hinata langsung memerah seperti tomat karena ucapan Naruto barusan, membuatnya jadi salah tingkah.

"Kau kenapa Hinata? Mukamu kok merah?" tanya Naruto tak peka.

"Ti...tidak apa-apa kok. Oh iya, apa kau sudah punya lauk makan malam? Kalau belum, nanti akan kubuatkan sekalian membuatkan susu Himeka, bagaimana?"

"Wah kau mau membuatkanku makan malam? Syukurlah, biasanya aku hanya makan ramen instan jika Tou-san dan Kaa-san tidak ada di rumah."

"Baiklah, kalau begitu kau jaga Himeka sebentar ya nanti aku akan membuatkan makan malam. Dimana dapurnya Naruto-kun?"

"Lurus saja, lalu belok kiri," jawab Naruto yang kini sibuk bermain dengan Himeka.

Padahal masakan Hinata belum selesai, tapi bau masakan yang lezat sudah tercium kemana-mana membuat Naruto menciumnya langsung tak sabar ingin menyantap masakan buatannya itu.

"Kau memang pandai memasak Hinata pasti nanti kau bisa jadi istri yang baik!" puji Naruto.

DEG! Jantung Hinata langsung berdegup kencang ketika mendengar perkataan barusan, untung saja dia bisa mengendalikan perasaannya.

"Ka...kau bisa saja Naruto-kun. Aku sudah biasa memasak kok di rumah jadi wajar saja kalau masakanku enak," Hinata merendah.

"Jangan merendah seperti itu, Hime-chan pasti juga senang punya mama sepertimu iya kan Hime-chan?" tanya Naruto pada Himeka.

"Em!" Himeka mengangguk senang.

"Ma...mama!? A...apa maksudmu Naruto-kun?" Hinata terkejut dan hampir menjatuhkan wajan yang dipegangnya beruntung masakannya tidak tumpah saat dia akan memindahkannya ke piring.

"Ya habisnya dia terus memanggilku papa jadi mungkin dia akan memanggilmu mama juga," sahut Naruto.

"Oh begitu, kukira kau benar-benar mengharapkanku sebagai mama Himeka-chan," gumam Hinata terlihat kecewa.

"Kau bilang sesuatu?" tanya Naruto.

"Ti...tidak kok!" jawab Hinata cepat.

Dengan cekatan Hinata mempersiapkan makan malam untuk mereka berdua dan dalam waktu yang singkat semua hidangan yang terlihat lezat telah tersaji di atas meja makan tak lupa susu dan makanan bayi untuk Himeka.

"Kau memang benar-benar hebat Hinata bisa menyiapkan semua masakan lezat ini, Kaa-san saja belum tentu bisa menyiapkan ini semua," puji Naruto.

"Ah Naruto-kun bisa saja, ini semua kan wajar," Hinata merendah.

"Kalau dilihat seperti ini kita seperti keluarga ya?"

"Ke...keluarga?"

"Iya, aku ayahnya, kau ibunya dan Himeka anaknya. Mungkin jika nanti menikah kita akan seperti ini, iya kan?" canda Naruto.

"Me...menikah?! Hah..." Hinata langsung pingsan dengan wajah memerah yang luar biasa karena perkataan Naruto barusan. Dia pasti pingsan dengan bahagia.

Chapter 1 EnD

Minna saya bikin fanfic baru nih (^^). Mohon dukungannya dengan memberi review ya. Yoroshiku Onegaisimasu :D