Bokutachi no Akachan

Author: Lynhart Lanscard

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance/Family

Pairing: NaruHina, SasuSaku, SaiIno

Chapter 12 (Final) : Farewell

Naruto berlari menuju tempat dia bertemu dengan laki-laki misterius itu, belum sempat mencari dia sudah dipanggil oleh suara laki-laki tersebut.

"Mencariku Uzumaki Naruto-kun?" tanya laki-laki misterius itu dengan nada yang mengejek.

"Tentu saja baka! Aku kemari untuk meminta obat dari penyakit Himeka, cepat berikan padaku!" seru Naruto tak sabar.

"Aku tidak pernah menawarkan obat untuk penyakit Himeka, yang kutawarkan adalah berikan Himeka padaku dan kusembuhkan penyakitnya," jawab laki-laki itu.

"Brengsek! Jangan bercanda!" Naruto tanpa pikir panjang menyerang laki-laki itu, sayang pukulannya hanya mengenai angin.

"Sabar, sabar, jangan emosi seperti itu. Sekarang dinginkan kepalamu dan pertimbangkan tawaranku barusan. Apa kau masih ingin melihat Himeka menderita meski bersamamu? Kalau iya berarti kau egois, Naruto-kun. Kau seperti anak kecil yang bertindak semaunya dan memaksakan kehendaknya."

"Bukankah kau juga sama!"

"Sudah kubilang aku punya alasan khusus untuk ini, aku tak bisa memberikan detailnya padamu. Aku harus mengembalikan Himeka ke tempatnya berada tapi percayalah, aku tak punya maksud buruk padanya. Percayalah padaku," kali ini nada bicara berubah, tak arogan seperti biasanya. Entah kenapa dia merasa tak asing dengan sosok laki-laki tersebut.

"Kalau begitu berjanjilah, kau tidak akan pernah mencelakakan Himeka! Aku mohon kau berjanji menyembuhkan anak itu setelah aku membawanya ke sini, aku mohon berjanjilah!" Naruto memohon sambil menundukkan kepalanya.

"Baiklah aku berjanji, aku lemah pada yang seperti ini," ucapnya sambil membenarkan letak topi yang dipakainya.

"Benarkah?"

"Benar, sekarang bawa kembali Himeka ke sini tengah malam nanti."

"Baiklah! Aku janji!"

Bokutachi no Akachan

Masalah yang lebih besar sudah menantinya ketika sampai di rumah sakit, teman-temannya sudah berkumpul semua dan tatapan mereka sangat tidak enak untuk dilihat. Wajah mereka kelihatan kesal dan marah. Sasuke segera menghampiri Naruto dan memegang kerah bajunya.

"Apa maksud dari semua ini Naruto? Kenapa kau merahasiakan ini dari kita semua? Apa kau pikir kita semua ini orang lain bagi Himeka? Kami semua peduli padanya, Naruto! Jangan pikir hanya kau dan Hinata yang punya tanggung jawab pada Himeka!" teriaknya.

"Aku mengerti maksudmu Sasuke, aku hanya tidak ingin membuat kalian khawatir. Aku juga akan mengabarinya kalau dia sudah membaik!" sahut Naruto tak mau kalah.

"Lalau kalau keadaannya tidak membaik? Kau mau merahasiakan keadaannya, begitu kan?"

"Apa maksudmu Sasuke!?" Naruto membentak bal.k

"Berhenti kalian berdua! Jangan bertengkar dan berteriak di rumah sakit, mengganggu orang lain tahu!" bentak Tsunade sambil memberikan pukulan pada keduanya. Setelah memberi ceramah dan nasehat panjang, tak lupa tentang keadaan Himeka, barulah dia pergi meninggalkan mereka.

"Ini semua gara-gara kau Naruto!"

"Kau sendiri yang mulai baka!"

"Sudah kalian berdua! Yang terpenting adalah Himeka sekarang, jadi tolong kesampingkan ego dan emosi kalian dulu masing-masing!" Sakura menengahi.

Akhirnya mereka berdua terpaksa menyerah pada ego masing-masing dan berdamai, mereka sadar bahwa pertentangan takkan membawa apapun kali ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk berjaga di kamar Himeka malam itu. Namun sayang hal itu tak membuat Naruto senang, karena baginya akan membuatnya kesulitan untuk membawa Himeka keluar dari dari rumah sakit dan membawanya kepada orang masa depan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk membawa Himeka pada saat malam nanti, dimana semua teman-temannya tengah tertidur.

"Kau kenapa Naruto, wajahmu dari tadi tegang terus. Ada yang kau khawatirkan?" tanya Sai sambil menenggak jus kaleng yang baru saja dibelinya.

"Aah tidak... aku hanya sedikit khawatir pada Himeka kok, itu saja," jawab Naruto sambil tersenyum.

"Karena itu kau terus meminum kopi? Asal kau tahu saja, hal itu malah membuatmu menjadi bertambah tegang. Lebih baik tenangkan pikiranmu dan tidur siang saja sana," nasihat Sai.

"Benar, kau tak perlu khawatir. Ada kami yang ikut menjaga Himeka-chan kan?" timpal Ino.

"Teman-teman," Naruto berada dalam dilema, rasanya sulit untuk menipu teman-temannya saat mereka begitu baik padanya. Namun apaboleh buat, ini semua demi Himeka.

Malam pun akhirnya tiba, semua orang tengah tertidur lelap, tak ada satupun yang terjaga pada malam itu. Sepertinya rasa lelah membuat mereka sulit membuka mata dan terjaga, Hinata, Ino dan Sakura tertidur di dekat ranjang Himeka, sedangkan Sasuke dan Sai tertidur di sofa. Naruto yang satu-satunya masih terjaga akhirnya menjalankan rencananya. Perlahan dia mendekati ranjang Himeka, menatap wajah gadis kecil itu yang tengah tertidur pulas.

"Maaf Himeka-chan, Papa tidak bisa menjadi Papa yang baik bagimu. Aku minta maaf, aku sungguh menyayangimu seperti anakku sendiri. Maaf aku tidak bisa berbuat apapun untukmu, maaf...," air mata Naruto terus menetes, dia tak bisa menahan tangisnya lagi.

Dia kini melihat Hinata yang tengah memeluk boneka milik Himeka dalam tidurnya. Wajahnya terlihat kelelahan.

"Maafkan aku Hinata, aku tidak bisa membuat keluarga yang baik untukmu. Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu dan Himeka. Aku ini benar-benar menyedihkan, sampai akhirpun aku tetap tidak bisa terlihat keren di mata kalian berdua," sesal Naruto.

Dengan berat hati dia mengambil Himeka dari ranjangnya dan menggendongnya perlahan menuju tempat yang dijanjikan, tanpa seorangpun yang tahu. Dia menyembunyikan Himeka dari balik sweaternya yang hangat agar anak itu tetap terjaga suhunya, dengan perlahan dia meninggalkan rumah sakit. Namun setelah beberapa saat dia meninggalkan rumah sakit, seseorang muncul dan meninggalkan sebuah cacatan di meja. Setelah meninggalkan cacatan, orang misterius itu langsung pergi begitu saja.

Bokutachi no Akachan

"Oooi! Orang masa depan! Aku tahu kau ada di sini, cepat keluar! Sesuai janji aku sudah membawa Himeka, jadi sebaiknya tepati janjimu untuk menyembuhkan Himeka sekarang!" teriak Naruto.

"Wah, akhirnya kau datang juga Naruto-kun. Asal kau tahu saja, aku sudah bosan menunggumu dari tadi. Lihat tanganku yang sudah bentol-bentol karena digigit nyamuk," celotehnya.

"Aku tidak peduli! Sepat sembuhkan Himeka sekarang!" bentaknya tak sabar.

"Baik, baik...dasar tidak sabaran kau ini. Tapi lebih baik kita menunggu kedatangan tamu-tamu yang akan datang sebentar lagi," tukasnya sambil tersenyum.

"Hah? Apa maksudmu? Bukankah...tunggu dulu kau menjebakku," Naruto memundurkan langkahnya.

"Lihat yang datang dan kau akan tahu apa aku menjebakmu atau tidak, Naruto-kun," dia menyeringai.

Suara langkah kaki yang mulai mendekat kian membuat Naruto panik, namun dia tidak punya kesempatan untuk lari bahkan sembunyi. Entah siapapun itu yang datang yang pasti jumlah mereka lebih dari satu orang, tak mungkin dia melawan orang yang begitu banyak. Dia sudah kalah jumlah, kali ini dia harus berpikir jernih agar bisa keluar dari keadaan gawat ini. Namun tiba-tiba suara yang akrab di telinganya terdengar memanggil namanya.

"Oi apa-apaan kau Naruto? Kenapa membawa Himeka kesini seorang diri?" suara Sasuke terdengar aga keras dari biasanya yang menandakan dia sedang kesal.

"Itu benar! Bukankah kita sudah berjanji akan menjaganya? Apa kau tidak mempercayai kami Naruto-kun?" kini Hinata yang bersuara.

"Eh, apa maksud kalian? Kenapa kalian bisa tahu aku ada di sini?" raut Naruto terlihat bingung.

"Dari catatan yang kau tinggalkan di atas meja, baka!" teriak Sasuke.

"Aku tidak meninggalkan catatan apapun, itu tidak mungkin!"

"Aku yang meninggalkannya, kupikir akan lebih baik jika teman-temanmu tahu akan kenyataan yang sebenarnya."

"Kau apa maksudmu yang sebenarnya!?" Naruto geram melihat tingkah orang masa depan tersebut.

"Ya baiklah, kurasa lebih baik kita akhiri sandiwara konyol ini. Bisa kau serahkan Himeka sekarang, aku akan memberinya obat untuk penyakitnya. Sebenarnya ini adalah gejala normal bagi orang yang baru saja mengalami perjalanan waktu untuk pertama kalinya, tapi kalau tidak segera disembuhkan gawat juga sih," melihat tingkah Naruto yang masih waspada orang itu memutuskan untuk mendekatinya.

"Mau apa kau?" tanya Naruto yang masih dalam keaadaan waspada.

"Tenang, aku hanya memberikannya obat tidak lebih kok," tukasnya sambil menyuntikkan obat ke lengan Himeka yang mungil. Tak lama kemudian Himeka mulai membuka matanya perlahan.

"Himeka..." Naruto senang melihat wajah anaknya yang kembali cerah, penyakitnya benar-benar menghilang.

"Papa...aku tertidur ya?" ujar Himeka sambil mengusap matanya.

"Himeka-chan!" seru Hinata sambil memeluk Himeka.

"Mama...sesak..."

"Go-gomen...Mama hanya bahagia melihatmu sudah sehat kembali," ujar Hinata sambil mengelap air matanya. Sasuke, Sai, Ino dan Sakura pun tak bisa menahan keharuan dari hati mereka.

"Himeka, kau sudah bangun kan? Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" kata orang masa depan itu.

"Pulang? Kemana?" tanya Himeka bingung.

"Pulang ke rumah Himeka yang sesungguhnya, di masa depan bersama Papa, Mama, Natsuki Nee-chan dan Haruto Nii-chan," jawabnya.

"Tapi..."

"Himeka, Papa sudah menunggu loh," katanya sekali lagi.

"Eh? Papa?!" semuanya nampak terkejut mendengar perkataan orang masa depan tersebut.

"Siapa kau sebenarya?" tanya Naruto bingung.

"Dasar bodoh, masa kau tidak mengenali dirimu sendiri di masa depan?" ornag masa depan itu melepas topinya dan nampaklah rambut kuning khas yang mirip sekali dengan Naruto.

"Bagaimana bisa ada dua Naruto?" tanya Sakura.

"Sudah kubilang aku ini dari masa depan Sakura-chan , aku sengaja datang susah-susah untuk memberikan Himeka untuk kalian rawat," ujarnya sambil tersenyum.

"Bu-bukan itu maksudnya! Yang kutanyakan apa alasanmu mengirim Himeka pada kami, masa kau tega mengirim anakmu pada murid SMA!" seru Naruto berang.

"Sekarang aku ingin bertanya pada kalian semua, apa yang membuat kalian berenam menjadi dekat dan berpasangan seperti ini? Himeka kan?"

"Benar juga sih, kalau tidak ada Himeka kita tidak bisa menjadi dekat seperti sekarang," ujar Sai.

"Iya ya, kalau tidak ada Himeka mungkin aku akan terus membenci Sai-kun," gumam Ino.

"Jadi sebelum ini kau selalu membenciku?"

"Itu kan dulu, bukan sekarang hehe," Ino tertawa jahil.

"Itulah alasannya kukirim Himeka pada kalian, agar kalian menjadi lebih dekat dan sejarah pun berjalan dengan semestinya," ujar Naruto dari masa depan.

"Jadi itu artinya kami semua akan menjadi pasangan hidup?" tanya Ino.

"Tentu saja, Ino akan menikah dengan Sai, Sakura dengan Sasuke, dan aku dengan Hinata," ujarnya santai.

"Sepertinya ada alasan lain, kalau begitu kenapa tidak menyuntikkan obat itu dari awal agar waktu kami bersama Himeka menjadi lebih lama?" tanya Sasuke dengan nada menyelidik.

"Eh itu...karena aku terburu-buru," jawabannya terdengar sedikit aneh.

"Kenapa kau bisa terburu-buru?" tanya Sakura.

"Pasti ada alasan mendesak yang lain kan?" Naruto juga ikut menghakimi.

"Baiklah, itu karena Himeka terus saja rewel meminta ikut pada perjalanan bulan madu keduaku dengan Hinata. Karena tak ingin diganggu akhirnya aku mengirimkannya ke masa lalu, Hinata yang tahu akan hal itu memarahiku dan menyuruhku menjemputnya sekarang, hehe," tukasnya tanpa rasa bersalah.

"Dasar orangtua yang egois," kata mereka kompak.

"Ah sudahlah, yang penting saatnya kami kembali ke masa depan. Maaf sudah merepotkan kalian semua dan terimakasih sudah menjaga putri kecilku ini. Dia ini memang paling lucu dibanding yang lain," ujarnya sambil mencubit pipi Himeka.

"Eh? Aku masih punya anak yang lain?" tanya Naruto bingung.

"Tentu saja, masih ada Natsuki dan Haruto. Kalau kalian mau aku akan mengirimkannya pada kalian kapan-kapan, bagaimana?"

"Tidak usah!" jawab mereka kompak.

"Nah, kalau begitu kami permisi dulu. Himeka, ucapkan selamat tinggal pada Papa dan Mama masa lalu, juga pada Oji-san dan Oba-san," ujar Naruto masa depan sambil menggandeng Himeka.

"Kami bukan Oji-san dan Oba-san!" teriak Sasuke dan yang lain.

"Maaf sudah merepotkan Papa, Mama, Onii-chan, Onee-chan. Himeka janji tidak akan melupakan kalian semua, Himeka senang berada di sini kok," ujarnya sambil tersenyum.

"Kami juga senang kok menjaga Himeka," ujar Ino.

"Iya, Himeka terus melukis ya?" ujar Sai.

"Himeka harus jadi anak baik ya," kata Sakura.

"Jangan terlalu sering menonton Dragon Ball," ucap Sasuke sambil memalingkan wajahnya yang berlinang air mata.

"Himeka, bantu Papa agar menjadi Papa yang baik ya," Naruto memeluknya untuk yang terakhir.

"Himeka, juga harus sering membantu Mama dan jangan nakal ya," Hinata ikut memeluknya.

"I...iya Himeka janji...Himeka akan jadi anak baik dan tidak nakal..." Himeka mulai terisak.

"Sudah, sudah, lagipula nanti kan bisa bertemu lagi di masa depan. Kalau begitu selamat tinggal semuanya," Naruto dan Himeka melompat ke dalam pusaran ruang dan waktu dan menghilang dalam sekejap dari pandangan mereka begitu saja.

"Aah...sudah pulang deh," ujar Sai sambil menatap langit.

"Iya, rasanya pasti sepi," timpal Ino.

"Benar, jadi sedikit kesepian," sahut Sakura.

"Dasar anak itu," Sasuke masih saja bersikap cool.

"Aku bahkan sudah merindukannya, aku jadi ingin cepat bertemu dengannya lagi," ujar Hinata.

"Maka dari itu Hinata, kita harus segera menikah agar bisa bertemu dengannya secepatnya. Bagaimana kalau besok aku akan bilang ayahmu untuk melamarmu secepatnya?"

"Naruto-kun..."

"Aku jadi tak sabar membuat anak dan bertemu dengan Himeka lagi," ujar Naruto tanpa dosa.

"Dasar mesum!" Plak! Tamparan Hinata menghiasi pipi Naruto.

Bokutachi no Akachan –END

Ah, akhirnya fic ini selesai juga...huah capek (reader juga capek tahu nunggu updatenya!) Haha, gomen minna buat yang nunggu updatenya sampai jamuran. Ini karena author sendiri yang malas, jangan salahkan ficnya. Terimakasih bagi masih setia menunggu fic ini, makasih atas dukungan kalian ya (^_^). Saya mohon maaf apabila ada kesalahan kata dan ada yang tidak puas dengan fic ini. Sampai jumpa di kesempatan lain, dukung fic saya yang lain ya! Matta ne!