Title : Change

Rated : T

Genre : Crime, Romance

Author : Park Sansan

Main Cast : Ryeowook

Disclamer : Semua cast milik diri mereka sendiri, author hanya pinjam nama demi kelancaran fanfic ini ^^.

Warning : YAOI, OOC, typo(s) berserakan, abal-abal, alur berantakan, ide cerita pasaran!

Summary : Kejadian di masa lalu merubahnya menjadi sosok yang mengerikan, dia yang bersumpah akan membalas dendam akan kematian appanya justru terjebak cinta segitiga yang tak diinginkannya sama sekali.

Don't like? Don't read!

NO BASH OR FLAME

DON'T COPAS

RnR please.. :)

Happy reading cingudeul (˘.~)

.

.

.

.

Dor

Dor

Dor

Suara tembakan terus saja terdengar dari halaman belakang sebuah rumah yang cukup besar dan menyendiri di pinggiran kota Seoul. Tembakan itu bukan dari polisi, penjahat atau semacamnya melainkan dari seorang namja berusia 18 tahun yang berperawakan mungil dengan rambut pendek berwarna hitam, Kim Ryeowook itulah namanya sekarang. (bayangin aja wookie di mv sorry sorry)

Sudah hampir 3 jam ia melatih kemampuannya untuk menggunakan senjata api itu. Tidak sia-sia ia telah berlatih selama bertahun-tahun, ia menembak sasaran yang ada di depannya dengan telak, tak ada yang meleset sedikitpun. Namun kegiatannya terusik saat ia merasa ada seseorang menghampirinya, instingnya sangat kuat ternyata.

"Istirahatlah Ryeong, jangan paksakan dirimu" kata seorang namja yang tadi menghampiri Ryeowook dan kini duduk di kursi yang ada di dekatnya sambil menaruh dua kaleng minuman di meja di depannya.

"Hhhh~" Ryeowook mengehela nafas dan memasukkan pistol yang ia gunakan tadi di tempatnya dan duduk di sebelah Kim Jongwoon, atau yang biasa dipanggilnya Yesung itu, Ryeowook yang memberi nama panggilan itu karena menurutnya suara Yesung sangat indah. "Apakah hyung sudah menemukannya?" tanyanya seraya meminum soft drink yang di bawa Yesung.

"Ck, kau terburu-buru sekali" Yesung berdecak ringan menanggapi pertanyaan donsaengnya itu sambil meminum soft drinknya.

"Aish~ jangan bertele-tele hyung" Ryeowook meletakkan kaleng minuman dengan kasar di atas meja dan menatap lekat pada namja bersurai hitam berantakan (yesung di mv ) di depannya itu tidak sabar dengan jawaban yang akan di katakannya. Namun hanya di balas dengan senyum simpul oleh Yesung dan terus menenggak minumannya hingga kaleng itu kosong.

"Dia baru saja kembali dari Paris dan akan meneruskan studynya di SM University"

"Lalu apa yang harus kulakuakan?"

"Cih, ku kira kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan melihat kau sudah tidak sabar tadi"

"Ya, maksudku apa rencana hyung?"

.

.

.

.

"Yesung hyung menyebalkan!" gerutu Ryeowook sambil meninju lemari di depannya dan membuat lemari bergetar. Ia baru saja masuk dalam kamarnya setelah perbincangannya dengan Yesung tadi, sepertinya telah terjadi sesuatu hingga membuatnya sejengkel itu.

"Aish! Haruskah aku melakukan hal menjijikkan seperti itu appa?" Dihempaskannya tubuh mungilnya di ranjang dan menatap langit-langit menerawang kenangan pahitnyan 10 tahun lalu.

Flashback on

"Appa….!" terlihat seorang namja mungil berusia 8 tahun tengah berlari menuju appanya yang baru saja membuka pintu. Namja mungil yang memang sedang menunggu sang appa pulang dari tadi langsung memeluknya dan minta digendong seperti biasanya.

"Li xu kenapa belum tidur hum?" tanya Tan Hangeng –sang appa- lembut sambil mencium kepala anaknya dan di balas gelengan oleh Tan Li xu.

"Li xu enggak mau tidur kalau enggak sama appa" jawabnya polos.

"Jinja…" Hangeng mengacak rambut anaknya gemas dan celingukan mencari seseorang.

"Ann ahjuma sudah pulang appa, hmm.. kira-kira satu jam yang lalu. Appa sih lama banget pulangnya" kata Li xu menjawab pertanyaan Hangang yang bahkan belum diucapkannya. Ann ahjuma merupakan maid di rumah mereka, namun ia tidak tinggal di sana karena dia memiliki keluarga sendiri yang juga harus diurusnya.

"Mian.. maafkan appa ne? sebagai gantinya besok appa ajak Li xu ke Lotte world. eotteoke?"

"Jinjayo? Ne ne. Li xu mau, ajak Kibumie juga ne" jawab Li xu penuh semangat. Sudah lama sekali ia tidak ke tempat itu bersama appanya. Biasanya ia kesana hanya dengan Ann ahjuma dan sahabatnya Kim Kibum yang juga anak dari Kim Youngwoon, sahabat Hangeng. Kalian bertanya di mana eomma Li xu? Dia telah tiada, Kim Heechul atau Tan Heechul telah meninggal saat melahirkan Li xu. Jangan bingung kenapa namanya bukan seperti nama orang korea karena memang sang appa berasal dari china.

"Pasti chagiya.. kajja tidur, ini sudah malam" Hangeng menggendong Li xu menuju kamar mereka dan merebahkannya di sana. Di rumah yang cukup besar ini sebenarnya ada 4 kamar, namun karena Li xu masih takut untuk tidur sendiri, jadi sampai sekarang Hangeng dengan sabar menemaninya, dia sangat memanjakan anaknya.

"Appa ganti baju dulu ne.." ucapnya lembut dan beranjak menuju lemari mengambil piyama dan ke kamar mandi. Li xu mulai mengantuk, wajar saja ini sudah pukul 23:00, waktu yang sudah sangat larut untuk anak kecil sepertinya. Apalagi ia sudah membayangkan hari esok yang akan sangat menyenangkan untuknya, dia semakin tak sabar dan segera tidur agar esok segera datang, begitulah pikirnya.

Hangeng baru saja keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat buah hatinya sudah tertidur pulas. Dia pun merebahkan tubuhnya di samping Li xu dan menyelimuti tubuh mereka. "Jaljayo Li xu.." ucapnya lembut dan menciumkening Li xu sebelum ia memejamkan matanya.

.

.

.

.

Pukul 01:15 merupakan waktu di mana semua orang tengah bergumul dengan mimpi mereka namun tidak dengan 5 namja bertubuh kekar yang baru saja sampai di depan sebuah rumah yang lumayan besar. Dengan mengendap-endap mereka keluar dari van dan menuju rumah di depan mereka dengan sangat hati-hati tanpa menimbulkan suara sedikitpun. 4 namja di antaranya membawa jurigen(?) berisi bensin.

Dengan mudahnya mereka memanjat pagar dan melewatinya, satu gerakan dari seorang namja mengisyaratkan agar mereka menyebar.

"Pastikan tidak ada yang terlewat" ucapnya tegas sambil memperhatikan keempat namja yang sedang menyiramkan cairan itu ke dinding-dinding rumah bercat putih. Setelah yakin semua telah disiram tanpa ada sudut yang tertinggal mereka mengambil jarak beberapa langkah mundur guna menjauhi rumah itu.

Namja yang tadi hanya mengawasi kini mengeluarkan sebuah pematik dari saku celananya dan hanya dalam hitungan detik rumah itu telah terkepung api. Kelima namja itu pun segera memanjat pagar dan pergi dengan van yang mereka kendarai tadi.

.

.

.

.

Merasakan ada yang aneh dengan keadaan sekitarnya, Hangeng pun membuka matanya yang berat. Dia terbelalak melihat sekeliling kamarnya, api ada dimana-mana. Terlebih lagi kamar mereka berada di lantai bawah membuatnya lebih mudah terbakar. "Li xu, bangun! Li xu!"

"Ukh.. wae appa? Li xu masih ngantuk"

Tanpa menunggu Li xu membuka matanya sempurna Hangeng langsung mengendongnya dan membawanya keluar kamar hendak mencari jalan keluar namun nihil. Semua sudut rumah sudah di lalap api yang ganas. Sejenak ia berpikir naik ke lantai atas namun sepertinya percuma di sana takkan ada jalan keluar. Matanya menyipit ketika melihat jendela kaca di dapur yang tidak terlalu di kepung api, namun jendela itu hanya seukuran anaknya dan letaknya cukup tinggi.

Yang dipikirannya sekarang adalah menyelamakan anak semata wayangnya. Dengan tergesa-gesa ia kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Dengan masih menggendong Li xu yang kini tengah menangis ketakutan Hangeng mencari nama seseorang yang bisa membantunya.

Setelah selesai menghubungi orang ia harap dapat membantunya Hangeng segera kembali ke dapur. Pandangannya mulai kabur karena asap dari api yang mengepungnya begitu menyesakkan. Dirobeknya piyama yang ia kenakan dan menggunakannya untuk menutup mulut dan hidung Li xu berharap anaknya tidak apa-apa.

Hangeng cemas menunggu orang yang ia hubungi tadi, ia tidak tahu berapa lama lagi ia dapat bertahan. Sedangkan Li xu kini juga mulai terkulai lemas dan membuat Hangeng semakin khawatir. Di peluknya tubuh mungil Li xu dan terus berdoa agar anaknya selamat.

"Hyung..!" panggil seseorang dari luar rumah. Hangeng menoleh ke jendela tadi dan tersenyum mengetahui siapa yang datang. "Minggirlah dulu akan ku pecahkan kaca itu" tambahnya.

Hangeng segera mundur memberi namja yang memanggilnya tadi ruang untuk memecahkan kaca jendela di depannya. Namja tadi membawa sebuah besi yang entah ia dapat dari mana dan memecahkan kaca itu dalam satu gerakkan. Setelah itu,Hangeng kembali mendekat dan mengangkat tubuh anaknya yang kini sudah tak sadarkan diri.

"Selamatkan dia, kumohon…" katanya seraya menyerahkan tubuh mungil Li xu yang sudah lemas melalui jendela.

"Tapi, bagaimana denganmu hyung?"

"Jangan pedulikan aku! Cepat bawa pergi Li xu!"

"Tapi hyung…"

"Kumohon Youngwoon.. jaga Li xu seperti kau menjaga Kibum"

Bruk

Hangeng ambruk tak sadarkan diri, dia benar-benar kehilangan kesadarannya sekarang. Api kian membesar dan melalap seluruh rumah dengan ganas. Youngwoon atau lebih dikenal dengan nama Kangin segera melangkahkan kakinya memjauhi rumah itu dan membawa Li xu ke dalam mobilnya, tak lama kemudian mobil pemadam kebakaran datang namun sepertinya telah sangat terlambat.

.

.

.

.

Li xu mengerjapkan mata kecilnya dan mendapati segerombolan namja bertubuh kekar telah mengepungnya di sudut gang kecil yang sangat asing untunya. Keadaan yang remang-remang menyulitkannya untuk dapat melihat jelas wajah orang-orang di depannya.

"Kerjakan tugasmu dengan benar! Jangan sampai terjadi kesalahan seperti tadi!" hardik seseorang dari dalam mobil pada salah seorang namja yang berdiri tak jauh dari sana. Li xu sangat mengenal suara itu, suara yang familiar di telinganya. Dia kembali mengingat-ingat kejadian beberapa waktu lalu saat ia tengah tertidur dalam pelukan appanya dan api mengepung mereka.

"Appa" ucapnya sedikit beteriak dan menyadarkan segerombolan namja di hadapannya yang dari tadi belum tahu jika anak kecil dihadapannya sudah siuman.

Masih dapat ia dengar deru mobil menjauh dari sana sebelum sebuah tangan kekar mencengkram dagunya. "Sudah bangun bocah?" tanya namja yang mencengkramnya.

"Si.. si.. siapa kalian?" tanya Li xu takut-takut. Air matanya mulai lolos dari kedua manik coklatnya, dia yang begitu cengeng kini sedang ketakutan.

"Cih, kau tak perlu tahu bocah cengeng!" bentak seorang namja bertato naga di tangan yang berdiri di sebelah kiri namja yang mencengkramnya. Namja di hadapannya melepaskan cengkramannya dan menghempaskan tubuh kecil Li xu hingga menghantam tembok dibelakangnya, dia meringis merasakan sakit yang menjalar hebat di punggungnya.

"Habisi dia" perintah namja tadi pada keempat namja lainnya.

Dor

Mereka sudah bersiap-siap akan mendekati Li xu sebelum sebuah tembakan telak mengenai dada kiri namja yang tadi memerintah, keempat namja lainnya menoleh ke samping kiri namun nasib mereka sama seperti namja tadi hanya dalam hitungan detik.

Terlihat dua namja beda usia yang masing-masing membawa pistol di kedua tangan mereka. Memang Li xu selamat sekarang namun ia semakin takut melihat adegan penembakan tepat di hadapannya. Kedua namja tadi segera menyembunyikan pistol mereka dan mendekati Li xu yang meringkuk menahan tangisnya.

"Gwancana?" tanya si namja berusia 12 tahun sambil memegang lembut pundak Li xu, mengisyaratkan jika dia tak akan menyakitinya dan hanya di balas anggukan kecil oleh Lixu. Sedangkan namja lainnya yang berumur 35 tahun sedang sibuk memeriksa korbannya, memastikan apakah benar mereka adalah orang yang sama yang telah merenggut nyawa istrinya dan ternyata benar.

"Cih! Kau berulah lagi!" ucapnya entah pada siapa dan mendekati anaknya yang telah lebih dulu menghampiri Li xu.

"Bagaimana keadaanya?" tanya namja bernama Kim Yunho pada putranya.

"Aku rasa dia baik-baik saja appa. hanya masih syock" jawab Jongwoon sambil terus memperhatikan Li xu.

"Apakah namamu Tan Li xu?" tanya Yunho seraya membelai surai hitam Li xu dengan lembut sangat kontras dengan yang Li xu lihat beberapa waktu tadi. Li xu mendongak menatap wajah Yunho yang dinilainya sangat hangat, sama seperti saat ia melihat appanya. Ia mengangguk ragu.

"Dari mana ahjussi tahu namaku?" tanya Li xu polos.

"Itu tidak penting dan mulai sekarang namamu bukan lagi Tan Li xu, tapi Kim Ryeowook_" kata Yunho munjuk Li xu. "_anak dari Kim Yunho dan donsaeng dari Kim Jongwoon_" lanjutnya sambil menunjuk pada dirinya sendiri dan Jongwoon. "_arra?" tanyanya lagi memastikan. Entah mengapa Li xu atau sekarang Ryeowook merasa aman di dekat mereka, tanpa pikir panjang ia sengera mengangguk mengiyakan perkataan Yunho.

Flashback off

"Aahhrrkkk!" Ryeowook mendudukan dirinya mengacak rambutnya kesal. Pikirannya masih di penuhi dengan rencananya dengan Yesung tadi yang menurutnya gila!

"Kau kenapa hum?" tanya Yunho yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Ryeowook. Dia tadi tak sengaja melihat pintu kamar Ryeowook terbuka dan mendapati sang magnae tengah frustasi.

"Aish, jangan berpura-pura tidak tahu" Ryeowook memalingkan wajahnya, enggan melihat appanya, ia sudah siap-siap jika Yunho akan menertawakannya.

"Huh? Maksudmu?" tanya Yunho tak mengerti dan duduk di pinggir ranjang di samping Ryeowook.

"Rencana Yesung hyung, benar-benar menjijikan!" jawabnya penuh emosi dengan menghentakkan tangannya pada ranjang yang ia duduki.

"Hmmppfftt hahahahaha…." Seketika tawa Yunho pecah mengingat rencana Yesung yang diceritakan padanya tadi pagi. Seperti dugaan Ryeowook tadi, appanya benar-benar menambah keruh suasana hatinya.

"YA! jangan menertawakanku appa!" Ryeowook segera menjatuhkan tubuhnya ke ranjang lagi dan menutup telinganya dengan bantal. Tidak tahan mendengar tawa keras Yunho yang semakin membuatnya frustasi.

"Hhh~" yunho mengehela nafasnya guna mengontrol tawanya agar tidak lagi pecah. "Tapi kurasa ide Yesung tidak buruk"

"Yak, appa sama saja dengan Yesung hyung, menyebalkan!" Ryeowook semakin menutup wajahnya dengan bantal agar tak dilihat Yunho.

"Sudah, ikuti saja rencanaku Ryeong.." kata Yesung yang kini sudah berdiri diambang pintu dengan seringai mengerikan yang menghiasi wajah tampannya. Ryeowook yang mendengar suara menyebalkan itu langsung duduk dan melemparkan bantal yang ia gunakan tadi kearah Yesung dan telak mengenai wajah tampan Yesung sebelum sempat ia mengelak.

"Ya, sudah berani kau melempar bantal kearahku?" bentak Yesung tak terima.

"Jangankan bantal, jika bisa lemari itu juga akan kulempar ke wajah jelekmu agar kau tak menyuruhku melakukan rencanamu yang menjijikan itu!"

"Aish, bocah ini benar-benar.."

Yesung mendekat kearah Ryeowook dan siap menyerangnya sebelum sebuah tangan kekar menahannya. "Sudah sudah, kalian ini seperti anak kecil" ucapnya sambil menarik Yesung agar duduk di sebelahnya. Sebisa mungkin Yunho menengahi mereka jika tidak mau terjadi perang saudara.

"Yesung, memang tidak ada rencana B?"

"Aniya.. cara ini yang terbaik appa. Dengan cara ini Ryeong bisa selamat dari dia"

"Hhh~ benar juga.. Ryeong, appa harap kau pertimbangkan lagi keputusanmu dan jangan kecewakan appamu" kata Yunho dengan menekankan kata 'appamu' Ryeowook tahu siapa yang Yunho maksud dan itu bukanlah dirinya sendiri. Setelah itu Yunho menarik Yesung keluar dan menutup pintu kamar Ryeowook meninggalkannya sendiri menimang-nimang perkataan Yesung dan Yunho.

"Appa…"

TBC

Annyeong~ san bawa fic baru bergenre crime! Hahaha.. jangan bunuh san yang belum menyelesaikan 2 fic san sebelumnya malah nambah tanggungan satu judul lagi _ kan kalau ada ide di kepala dan nggak disalurkan rasanya juga sayang, hehe.. *nyengirkuda

Bagaimana tentang fic ini readers? Bisa diterima kah? Di sini karakter wookie san bikin beda dari fic san biasanya, OOC banget ya? oya, sengaja san gak kasih tahu main pairnya supaya pada penasaran, hehe dan kira-kira ada yang bisa nebak enggak apa rencana Yesung?

Yesungdahlah, bagaimana kelanjutan fic ini san serahkan ke readerdeul mau di terusin apa enggak, kritik saran dan komentar juga san terima dengan lapang dada #apasih?

So, would you mind to review please? *nyodorin kantong review :)