Dia Masa Lalu, Aku Masa Depanmu

Eyeshield 21 by Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata

This story by Rannada Youichi

Chapter 3 of 7

Warning :OC (Kayaka Yotake), OOC, gaje, dan kekurangan-kekurangan lain

Dia Masa Lalu, Aku Masa Depanmu

Kayaka POV

Cukup lama aku dan You-kun berpelukan. Hangat- itulah yang aku rasakan ketika dia memelukku. Aku masih ingin merasakan pelukan itu lebih lama, namun tak lama kemudian You-kun melepaskan kedua tangannya yang merengkuh tubuhku sejak beberapa detik yang lalu yang menurutku sangat cepat dari waktu normal. Detik-detik yang begitu singkat itu menjadi salah satu hal yang tak akan terlupakan dalam hidupku. Karena memang baru pertama kali ini You-kun mau membalas pelukanku. Dan itu lebih dari cukup sebagai hal pertama yang manis di Jepang setelah ku meninggalkan Negara Sakura ini.

Hiruma Youichi. Tahukah kau bahwa aku begitu mencintaimu? Sosok yang telah aku kenal sejak lama, sosok yang telah mencuri hatiku sejak kami bertemu, dan sosok yang paling aku rindukan ketika aku di Amerika.

"You-kun, bagaimana kabarmu?" tanyaku sambil kutatap mata emeraldnya yang sudah lama tak kulihat. Mata itu masih terlihat indah dan mententramkan, sama seperti saat aku dan dia bersama-sama dulu.

"Biasa saja. Jika aku sedang dalam keadaan tidak baik, mana mau aku menjemputmu?" jawabnya agak ketus. Hahaha! Dia tidak ada bedanya. Sifatnya itu masih kekanak-kanakan!

"Aku sudah mempersiapkan tempat tinggalmu." ujarnya datar.

"Eh, tempat tinggalku? Jadi aku tidak tinggal bersamamu?" tanyaku memastikan. Aku agak kecewa mendengarnya karena ku pikir aku bisa tinggal bersama You-kun selama aku berada di Jepang.

"Tentu saja tidak, baka! Kau akan tinggal di samping tempat tinggalku." jawabnya dan itu membuatku sangat senang. Tempat tinggal berdekatan dengan You-kun? Wow! Pasti akan menyenangkan!

Aku mengangguk menyanggupi, tentu saja dengan senyum yang masih menghiasi wajahku. Aku tak akan lelah untuk menunjukkan senyumku padanya.

"Ya, terima kasih. Kalau begitu ayo! Aku sudah lelah," ajakku kemudian menyeret tangan You-kun keluar bandara. Kulihat dia sedikit gelisah. Beberapa kali aku melihat dia menatap kerumunan orang seperti mencari sesuatu atau malah 'seseorang'? Ok! Aku tak peduli. Yang penting satu hari ini dan seterusnya aku akan menghabiskan waktuku bersama orang yang kucinta, You-kun…

End Kayaka POV

Mamori POV

Aku terus berlari menghindar dari Hiruma-kun dan Kayaka yang aku yakin masih berpelukan, tidak peduli dengan aku yang telah meninggalkan mereka. Aku tak tahu apakah Hiruma-kun menyadari aku telah pergi. Yang aku harapkan saat ini adalah semoga Hiruma-kun tidak menyadari bahwa aku menangis. Karena aku tidak tahu alasan apa yang akan kuutarakan jika dia menanyakan kenapa aku menangis ketika dia dan Kayaka berpelukan.

Banyak orang mengatakan bahwa aku memiliki sifat seperti malaikat, baik hati dan ramah. Namun, aku tahu aku hanyalah manusia yang memiliki sisi negatif yang sebenarnya ingin aku hapus. 'Aku egois'. Dalam diriku aku mengharapkan Hiruma-kun melupakan masa lalunya dan pergi mengukir masa depan denganku. Aku tahu aku itu hanya sebuah impian yang jauh dari kenyataan, dan aku seharusnya sudah belajar untuk menerima kekalahan yang mungkin suatu hari nanti akan terjadi padaku.

Sakit- sesak- perih, dan hal lain yang begitu membuatku ingin kabur dari kenyataan dan melaju ke alam mimpi, berharap di alam mimpi mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan yang aku jalani saat ini. Tetapi, itu adalah hal yang mustahil, aku akui itu. Satu-satunya jalan yang harus aku tempuh adalah jalan yang aku hadapi saat ini- kehidupan nyata.

End Mamori POV- Normal POV

Mamori menggosok-gosokkan tangannya yang mulai mendingin. Memang siang telah berganti malam, namun Mamori tidak beranjak dari tempatnya sejak tadi berdiri- tepi danau. Ia tahu bahwa suatu hal bodoh berdiri di tepi danau pada waktu malam. Namun bagaimana lagi? Dia tak tahu arah jalan pulang. Dia bahkan tak tahu dimana saat itu ia berada. Yang ia tahu, kakinya melangkah tak tentu arah ketika melihat sosok yang dicintainya berpelukan dengan perempuan lain.

"Hiruma-kun," bibirnya tak sadar menggumamkan nama itu.

Wajah Mamori memucat. Ia merasa pusing dan dingin. Blazer sekolahnya tidak membantu, tidak seimbang dengan suhu yang mulai menurun. Mamori ingin menghubungi seseorang yang ia yakini bisa membantu, namun handphone nya mati. Lagipula, siapa juga yang bisa membantu? Orang tuanya saat itu sedang pergi ke luar kota. Tidak mungkin kan ia menghubungi orang tuanya untuk mengkabarkan kecerobohannya hingga dia bisa tersesat di area sekitar bandara? Hiruma? Dia sibuk dengan Kayaka, Sena? Bahkan dia tidak bisa naik motor. Lalu siapa lagi yang bisa menolongnya.

Akhirnya Mamori memutuskan untuk pergi mencari bantuan. Dia pergi ke tepi jalan raya yang tidak jauh dari danau tempat ia berdiri. Selama lebih dari 20 menit ia menunggu kendaraan yang mungkin bisa ia tumpangi, namun tidak ada satupun mobil yang berhenti untuk memberinya tumpangan. Saat itulah ia berpikir bahwa mungkin dirinya adalah orang yang paling tidak beruntung saat itu sampai akhirnya –

TIIN!

Mamori menoleh. Seorang lelaki ber-helm mengendarai motorsport-nya berhenti di depan Mamori. Pemuda itu membuka helm yang ia kenakan dan-

"Jumonji-kun!" – ia tahu siapa di balik helm itu. Cukup heran melihat Jumonji yang merupakan anggota dari tiga bersaudara HAHA berkeliaran sendirian dengan motorsport nya.

Jumonji hanya tersenyum mendengar teriakan Mamori. Kemudian ia mengamati sekeliling, Mamori ikut menoleh.

"Ada apa?" tanya Mamori penasaran.

Jumonji menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia terlihat bingung.

"Kau sendirian disini?" tanya Jumonji heran. Tentu saja heran. Untuk apa seorang Manager Deimon pergi sendirian di dekat bandara?

Mamori mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang Jumonji lontarkan. "Kau darimana?" tanya Mamori kemudian.

"Aku hanya pergi berkeliling. Rumahku kan tidak jauh dari sini," jawab Jumonji. "Kau butuh tumpangan?" tanya Jumonji kemudian.

Mamori langsung mengangguk. "Ya, aku butuh. Kau tidak keberatan?"

Jumonji menggeleng. "Kalau begitu, Ayo!"

Jumonji pun segera mengantarkan Mamori. Dalam perjalanan, tidak ada yang mereka bicarakan. Jumonji tahu Mamori sedang bersedih karena ia tadi melihat ada jejak air mata di pipi manager tim Deimon itu. Akhirnya selama lebih dari 20 menit dalam perjalanan, Mamori sampai di depan rumahnya.

"Kau di rumah sendirian?" tanya Jumonji ketika melihat rumah Mamori gelap.

Mamori lagi-lagi mengangguk. "Orang tuaku sedang pergi ke luar kota. Kau mau mampir dulu, Jumonji-kun? Walaupun di rumah tidak ada orang tetapi makanannya banyak lho!" tanya Mamori menawarkan dengan senyum mengembang di wajahnya.

Jumonji menggeleng. "Aku harus segera pulang, Tousan pasti marah-marah jika aku pulang terlalu larut."

"Kau sekarang menjadi anak yang berbakti ya, Jumonji-kun. Ku kira kau sama bandelnya antara di sekolah dengan di rumah." ejek Mamori.

Jumonji mengerucutkan bibirnya, tidak terima dengan kalimat Mamori. "Aku tidak pernah bandel. Aku anak baik Mamori!" ujar Jumonji.

Mamori mengangguk, "Iya, kamu anak baik. Kaasan senang punya anak sepertimu. Haha!" canda Mamori. Jumonji yang diledek mengacak-acak rambut auburn Mamori.

"Kau harus istirahat, Kaasan. Wajahmu pucat," kata Jumonji.

"Haha, bahkan kau sekarang sudah memanggilku dengan sebutan Kaasan. Ehm,terima kasih atas tumpangannya ya Jumonji-kun," Jumonji mengangguk kemudian pergi.

Mamori tersenyum. Yah- setidaknya ada yang masih mau memperhatikannya.

"KRING!"
Mamori terbangun dari tidurnya. Terlihat sekali wajahnya begitu pucat, bibirnya memutih dan mukanya memerah – dia demam. Mamori ingin bangun dari kasurnya dan pergi ke sekolah. Namun, kepalanya yang terasa berat membuatnya harus menyerah dan akhirnya dia memutuskan untuk tidur. Reportasinya yang tidak pernah absen akhirnya terpatahkan karena Hiruma Youichi. Karena orang itu dia harus terdampar di bandara dan tak tahu arah pulang.

'Dasar tak bertanggung jawab! Dia yang menyeretku ke bandara, eh dia malah mengacuhkanku! Hiruma-kun baka!' rutuk Mamori dalam hati.

Di sekolah

Siang itu, Hiruma lagi-lagi meliburkan latihan neraka yang biasa anggota Deimon jalankan. Tidak ada yang tahu kemana Hiruma. Bahkan Musashi pun tak tahu. Pada awalnya, mereka berencana menjenguk Mamori yang kabarnya sakit. Namun, mereka harus mengurung rencana itu dalam-dalam ketika Hiruma menyuruh mereka melakukan latihan neraka tanpa komando Sang Kapten- itu artinya 'Hari Libur Dibatalkan'. Mereka tidak tahu apa alasan dibalik Hiruma membatalkan libur latihan. Karena Hiruma tahu, bahwa anggota tim Deimon akan menjenguk Manager Sialannya, padahal hari itu, dialah yang akan dan harus datang ke rumah Manager Sialannya tanpa diganggu oleh siapapun.

Hiruma langsung membuka pintu sebuah rumah yang bertuliskan 'Keluarga Anezaki'. Ia tak peduli aksinya yang langsung menyelonong ke rumah orang tanpa izin. Lagipula, siapa juga yang berani menantangnya?

Hiruma memasuki rumah itu tanpa ragu-ragu. Ia menatap sekeliling. 'Sepi,' pikirnya. Ia memang mendengar kabar bahwa orang tua Manager Sialannya sedang pergi ke luar kota. Tetapi ia tak pernah menyangka bahwa rumah yang saat itu ia masuki begitu sepi. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari dimana Manager Sialannya.

BRAK!

Hiruma tersentak. Suara itu berasal dari lantai dua rumah itu. Hiruma segera berlari mencari tahu apa yang terjadi. Dalam hatinya, ia berharap semoga tidak terjadi apa-apa pada perempuan yang sedang dicarinya itu.

CEKLEK

Hiruma langsung berlari memasuki kamar yang ia yakini merupakan kamar Mamori. Kamar itu kosong. Namun anehnya tempat tidur yang cukup besar itu terlihat berantakan dan jika memang ini merupakan kamar dari Manager Sialannya pastinya kamar ini akan dalam keadaan bersih.

"Eugh," Hiruma lagi-lagi tersentak. Ia mendengar rintihan seorang perempuan di kamar itu. Dan-

Ia melihatnya- ia melihat, perempuan yang ia cari sejak tadi terbaring di lantai dengan wajahnya yang begitu pucat. Hiruma yang melihat keadaan Mamori segera menggendong tubuh Mamori dan menidurkannya di tempat tidur. Hiruma segera menghubungi dokter.

Entah apa yang merasuki tubuhnya, Hiruma merasa bahwa dia sangat perlu untuk menjaga Manager Sialannya, padahal hari itu dia berjanji akan pergi ke taman bersama Kayaka.

Drrt-drrt. Handphone Hiruma bergetar.

From: Kayaka

You-kun! Kau dimana? Jadi tidak kita ke taman?

Hiruma menghela nafas. Ia segera membalas pesan dari Kayaka.

To : Kayaka

Tidak!

Setelah mengirim pesan yang terbilang sangat singkat itu, Hiruma meletakkan handphone nya di meja kecil samping tempat tidur. Namun, tidak sampai 1 menit, handphone nya bergetar lagi.

From : Kayaka

Baiklah jika kau membatalkannya, tetapi kau harus menggantinya besok!

Titik!

Hiruma menyeringai kecil ketika membaca pesan dari perempuan yang saat itu ia yakin sedang berusaha tidak membanting apa saja sebagai bahan pelampiasan karena dirinya dengan seenaknya membatalkan janjinya. Namun, ia yakin bahwa berada di samping Manager Sialannya yang sedang sakit saat itu adalah keputusan terbaik.

Selama lebih dari 30 menit Hiruma tak bergeming dari tempatnya duduk sambil sesekali memandangi wajah perempuan di depannya. Sejahat-jahatnya Hiruma, dia tetaplah manusia biasa yang bisa merasa bersalah. Dan memang, saat itu dia merasa bersalah karena telah meninggalkan Manager Sialannya di bandara.

Hiruma menatap wajah Mamori yang begitu pucat. Ia begitu merindukan bagaimana Manager Sialannya itu membentaknya, bagaimana Manager Sialannya itu memarahinya hanya karena hal-hal sepele, bagaimana Manager Sialannya itu meminta pada dirinya agar dia membuang AK-47 miliknya. Hiruma tahu betul apa yang dilakukan Manager Sialannya itu untuk kebaikannya juga. Namun, ego Hiruma membuatnya tidak mau untuk sekedar mengucapkan kalimat, "Terima kasih,"

Satu hal yang membuat Hiruma benar-benar merasa bersalah saat itu adalah karena dia buta akan ilmu medis. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan.

"Emh," terdengar suara Mamori membuatnya sedikit tersentak. Tak lama kemudian mata sapphire itu terbuka. Mamori, pemilik mata sapphire itu menyipitkan matanya ketika melihat Hiruma Youichi berada di samping tempat tidurnya.

'Apa ini mimpi?' tanyanya dalam hati. Setengah tidak percaya orang yang 'mencampakkannya' dirinya kemarin datang ke rumahnya.

Setelah yakin bahwa Hiruma Youichi benar-benar di depannya, Mamori bertanya, setidaknya untuk memastikan, "Apa kau, Hiruma-kun?" tanyanya lemah.

Hiruma mencibir, "Jangan katakan bahwa kau amnesia hanya karena demam? Payah!" ejeknya.

Mamori tersenyum. 'Ternyata memang Hiruma,' batinnya. Ia merasa lega dan bahagia melihat orang yang dicintainya berada di sisinya ketika ia sakit. Ia berusaha melupakan kejadian kemarin karena jujur saja, setiap ia mengingat tentang Hiruma, otomatis ia akan mengingat Kayaka.

"Apa yang kau lakukan di rumahku, Hiruma-kun?" tanya Mamori heran.

Hiruma memasang ekspresi menyebalkan yang terlalu sering Mamori lihat. Ia tahu setelah memasang ekspresi ini, Hiruma akan marah-marah.

"Kau pikir kau bisa lepas tanggung jawab hanya karena sakit,eh? Kau tetap harus bekerja, baka! Tugasmu sebagai Manager itu banyak!" bentaknya. Sebenarnya Hiruma tidak tega membentak Mamori yang saat itu terkulai lemah. Hiruma lagi-lagi merutuki dirinya yang tidak bisa menahan untuk satu hari saja tidak membentak Managernya.

"Huh! Ya, aku tahu, Hiruma-kun. Tetapi, aku akan menyelesaikan itu besok. Aku malas menyelesaikan hari ini," bantah Mamori yang membuat Hiruma menyeringai senang. Jika Manager Sialannya itu sudah berani melawannya, ia jamin Manager Sialannya sudah bisa dinyatakan sembuh.

Hiruma terlihat berpikir, berpura-pura mempertimbangkan keinginan Mamori. "Baiklah, tetapi lusa harus sudah selesai!" ujarnya final, Mamori mengangguk.

Hening.

Mereka tidak ada yang membuka pembicaraan lagi. Sampai pada akhirnya-

"Ehm, Hiruma-kun."

"Apa!"

Mamori terlihat ragu dan itu membuat Hiruma jengah. Mamori yang sadar Hiruma menatapnya akhirnya dengan seluruh keberanian yang ia punya, ia berkata,

"Aku lapar," lirihnya.

Dan Hiruma spontan menepuk jidatnya.

Hiruma benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan di dapur milik keluarga Anezaki. Bergaul dengan seorang Anezaki Mamori membuatnya tahu bahwa banyak hal yang belum bisa ia lakukan. Memasak? Oh, bahkan Hiruma belum pernah bermimpi dirinya memasak? Tidak tahu bahan-bahannya apalagi cara memasaknya. Hiruma lagi-lagi menghela nafas panjang merutuki dirinya- untuk yang ketiga kalinya pada hari itu.

Akhirnya Hiruma memutuskan untuk memesan bubur di kedai yang tidak jauh dari rumah Manager Sialannya. Jika Manager Sialannya itu menanyakan kebenaran apakah Hiruma Youichi yang memasak bubur tersebut, Hiruma akan menjawab bahwa dialah yang membuatnya. Tentu saja Hiruma Youichi adalah orang yang bisa melakukan apapun, bahkan memasak sekalipun. Dan dia tidak ingin Manager Sialannya itu melihat satu saja kelemahannya.

Pintu kamar Mamori terbuka menampakkan sesosok lelaki tampan berambut pirang membawa semangkuk bubur di tangan kirinya dan segelas air putih di tangan kanannya. Ia berjalan mendekati sang Manager Sialannya yang sepertinya berusaha sabar menunggu bubur dari sang setan. Dan Hiruma harus mati-matian agar tidak tertawa melihat kelakukan managernya yang seperti tidak makan selama 3 hari.

"Huh, akhirnya kenyang," kata Mamori sambil mengelus-elus perutnya setelah memakan habis bubur di mangkoknya.

Hiruma mendengus, "Tentu saja kau kenyang. Apa kau tidak sadar kau telah menghabiskan semangkuk penuh bubur? Pantas saja kau gendut! Dasar babi!" ejek Hiruma .

Mamori menggembungkan pipinya- marah. Ia paling tidak suka jika Hiruma sudah mengungkit-ungkitnya tentang makanan. Ia tahu ia rakus jika soal makanan. Tetapi, setidaknya tingkah lakunya itu beralasan. Bukankah tanpa makanan kita tidak bisa hidup?

"Eh, apa ini?" tanya Mamori ketika Hiruma menyodorkan sebuah plastik hitam.

"Apa kau buta? Ini obat, baka!" bentak Hiruma.

Mamori terlihat bimbang. Ia takut Hiruma mempunyai maksud jahat, mencelakainya- mungkin. Namun, akhirnya ia berusaha menepis pikiran-pikiran negatif tentang Hiruma. 'Tidak mungkin kan Hiruma-kun sejahat itu,' pikirnya. Akhirnya ia menerimanya.

"Terima kasih, Hiruma-kun," ujar Mamori sambil tersenyum.

Mamori mengambil air putih yang sudah disediakan Hiruma di meja dekat tempat tidurnya dan segera meminum obat dari Hiruma.

"Pahit!" teriak Mamori nyengir. Hiruma tanpa sadar mengacak rambut Mamori membuat Mamori tersentak.

"Memang obat itu pahit, baka!" ujar Hiruma masih dengan tangannya yang mengacak pelan rambut auburn Mamori.

Tak lama kemudian, Hiruma menyadari apa yang ia lakukan. Dengan poker face andalannya, ia memasang ekspesi datar dan segera menarik tangannya.

"Ini sudah malam. Aku pulang. Jangan lupa kerjakan berkas-berkas yang aku berikan tadi. Kalau sampai terlambat, kau akan tahu akibatnya," ancam Hiruma kemudian pergi.

Namun, Mamori tidak takut dengan ancaman dari Hiruma atau lebih tepatnya tidak mendengarkan ancaman yang mungkin keseribu yang ditujukan padanya. Ia masih shock dengan apa yang Hiruma lakukan tadi. Sesuatu hal yang mustahil Hiruma bisa melakukan hal semanis tadi. Mamori tanpa sadar tersenyum. Ia bahagia. Benar-benar bahagia.

Sedangkan Hiruma?

Di luar rumah Mamori, Hiruma memperhatikan tangan yang baru saja 'tanpa sadar' melakukan sesuatu yang bisa dikatakan hal termanis yang ia lakukan seumur hidupnya. Ia tak tahu apa yang membuatnya melakukan hal itu. Secara spontan ketika melihat Manager Sialannya yang memasang ekspresi aneh karena kepahitan, dia mengacak rambut auburnya. Lagi-lagi tanpa sadar, Hiruma menyunggingkan senyumannya.

Esok paginya.

Di kelas 1. 3

Seorang perempuan berambut pirang bermata sapphire berdiri di depan kelas dengan senyum yang membuat banyak siswa terpesona olehnya.

"Perkenalkan dirimu, Yotake," perintah sensei di sampingnya.

"Ehm, Hai! Nama saya Kayaka Yotake. Saya berasal dari Jepang juga yang beberapa tahun lalu pergi ke Amerika dan menetap disana. Saya tidak tahu banyak tentang Jepang saat ini. Jadi mohon bantuannya!" ujar Kayaka yang kemudian menunduk.

Salah satu siswa mengangkat tangan.

"Apa kau sudah punya pacar?" tanya siswa itu membuat hampir semua siswa tertawa, termasuk laki-laki pemalu yang dikenal sebagai Eyeshield 21.

"Ehm, pacar? Jika pacar saya belum punya."

Beberapa diantara mereka tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

"Lalu, apakah ada yang kau sukai?" tanya siswi yang duduk paling depan.

Kayaka mengangguk membuat banyak diantara mereka yang shock.

"Bolehkah kami tahu siapa orangnya?" tanya siswa lainnya.

Kayaka mengangguk dan tersenyum, terlihat sekali bahwa dia benar-benar mencintai orang itu.

"Dia bersekolah disini juga. Namanya-"

Banyak diantara mereka menahan nafas.

"-Hiruma Youichi,"

Putus asa ketika mendengar sebuah nama yang keluar dari bibir perempuan cantik yang saat itu berdiri di depan kelas dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya.

Lagi-lagi 'Milik Hiruma Youichi.'

Setelah Anezaki Mamori, kini Kayaka Yotake. 2 sosok perempuan tercantik di sekolah telah menjadi milik seorang akuma yang terkenal kekejamannya, seorang akuma yang terkenal dengan kegeniusannya dan seorang akuma yang terkenal dengan ketampanannya.

-Hiruma Youichi-

Dan mereka sadar bahwa:

"Jangan pernah berurusan dengan apa yang telah menjadi milik Hiruma Youichi jika kau ingin hidup tenang."

-TBC-

"Hah," ngelus-ngelus dada sambil menghela nafas lega. "AKHIRNYA UPDATE JUGA!" teriak-teriak kagak jelas!

Gomen telat banget update nya!

Saya benar-benar sibuk akhir-akhir ini meningat MID Semester akan dilaksanakan minggu ini.. *Sok sibuk*

Tetapi terima kasih yang mau baca dan review cerita ini…..

Balasan review chap 2 kemarin:

LalaNurrafa GemasangkalaOke : Disini Mamori memang kubuat merana. Merana sedikit nggak apa-apa kan Mamo-chan! Terima kasih telah mereview. Review lagi yah!

VEnomouSaKuRa : Terima kasih banyak atas komentarnya dan masukannya. Saya akan berusaha lebih detail lagi untuk mendiskripsikan 'sesuatu'. Terima kasih… Review lagi yah!

Aika Licht Youichi : Hehe, typo ya.. Memang itu kelebihan saya.. Terima kasih atas koreksinya. Saya baru sadar kalau typo nya bertebaran, padahal saya sudah berusaha keras sekeras batu yang paling keras untuk menghindari adanya typo. Eh, ternyata masih ada typo…Terima kasih atas reviewnya. Review lagi yah!

Salsabiladede 11: Seru? Moga saja iya dan tidak membosankan. Terima kasih mau mereview. Review lagi yah!

Regina Mocca : Disini memang ceritanya saling mencintai dan Mamori kubuat menderita *tertawa ala sundel bolong*. Terima kasih telah mereview. Review lagi yah!

Riisei Tachibana : Biarlah pada awalnya mereka bersedih, semoga saja pada akhirnya mereka akan bahagia. Terima kasih sudah mereview. Review lagi yah!

AnimeaLover Yaha : Alurnya nggak pasaran? Eh, saya kira ni alur pasaran banget. Kalau begitu alurnya swalayan ya.. Terima kasih telah mereview. Review lagi yah!

Hoshi Uzuki : Hiruma nakal? Tahu kan sifat Hiruma itu nakal. Jika nggak nakal, itu bukan Hiruma namanya. #dilempar sandal.

Hiruma hikari : Ini chapter 3 nya. Terima kasih telah mereview. Review lagi yah!

Hiruma Yuuzu : Ini chapter 3 yang telah anda tunggu, hehe.. Gomen telat, biasalah sok sibuk! Terima kasih telah mereview. Review lagi yah!

lullabiie : Ini chapter 3 yang telah anda tunggu.. Gomen lama update. Tukang molor sich.. Terima kasih telah mereview. Review lagi yah!

Febby : Kasihan-kasihan-kasihan! #gaya Upin

Terima kasih yang telah bersedia membaca cerita ini.

Salam hangat,

Rannada Youichi