Chapter 2 is here!

Disclaimer: Kuroko no Basket (Kurobas) milik Fujimaki Tadatoshi. Saya hanya menjalankan karakter-karakternya di fanfic ini.

Warning: Shounen-ai, possible yaoi. Upcoming gore scene and lemon probably. OOC (I hope not) and some misstype that I missed. Failed Indonesian author writing an Indonesian fanfiction. And characters death. AU.

Enjoy it.

-xxXXXxx-

"Kau mau coklat panas?" Pertanyaan itu seakan bergema di telinga Takao.

"Uwaaa-tentu saja! Tumben sekali Shin-chan mau membuatkan ku coklat panas." Nada bicara Takao terdengar riang. Seakan-akan anak kecil yang sedang diberikan maian idamannya. Bagaimana tidak? Kesempatan langka seorang tsundere seperti Midorima membuatkannya sesuatu.

"Kebetulan mood ku sedang bagus." Bunyi pop kecil terdengar. Halus sekali, diikuti suara cairan yang menetes beberapa kali.

"Eh, setelah membedah-bedah mayat? Shin-chan sadistik ternyata. Aw—"

"Bukan itu yang ku maksud!"bantahnya spontan, semburat merah tipis menghiasi pipinya.

"Jadi? Mood mu bagus karena hal lain? Akashi kah?"

"Bukan, tetapi tadi kita membicarakan topik yang menarik. Dia juga mentraktir ku Shiruko." Midorima berjalan keluar dapur dengan dua gelas coklat panas, satu untuknya dan satu lagi untuk Takao lalu duduk di sampingnya.

"Kalau shiruko saja, Aku bisa memberikan mu seratus buah, Shin-chan!" seru Takao sembari menerima coklat panas tersebut.

"Aku tidak butuh Shiruko sebanyak itu, Bakao." Ujar Midorima sembari meminum coklat panasnya pelan pelan. Takao kembali cemberut sebentar sebelum ia ikut menegak bagiannya.

"Oh iya, Shin-chan.."

"Hnn?"

"Tadi aku lihat di tv, katanya akhir-akhir ini banyak pembunuhan yang terjadi." Ujar Takao menatap Midorima penuh kekhawatiran.

"Aku tahu." Topic yang dibuka Takao membuat Midorima mengingat kasus yang ditangani Akashi kali ini.

"Nee, Shin-chan.. Kalau kau mau pergi kemana-mana jangan melewati gang-gang kecil, kau mengerti? Lalu jangan pulang terlalu malam juga!"

"Takao-" Midorima menghela nafas sebelum melanjutkan kata-katanya. "Kau berpikir berlebihan, seperti ibu ku saja."

"Ehhh?! Tapi-tapi-tapi! Shin-chan! Aku yakin ibu mu pasti tidak setampan diri ku, bukan?" Kacamata Midorima seolah-olah retak sendiri mendengar hal itu. Ia kembali membenarkan kacamatanya yang tidak longgar sebelum menanggapi penyataan aneh tersebut.

"… Yang jelas ibu ku tidak bertindak tolol seperti dirimu."

"Shin-chan kejam!"

Midorima menghiraukan tingkah laku Takao yang semakin menjadi-jadi, meminum sisa coklat panasnya yang tersisa. Lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya, tersenyum tipis.

-xxXXXxx-

Midorima hafal betul jadwal kegiatan Takao di luar kepala.

Jam enam, Takao bangun dan segera pergi jogging seperti biasa, rutin setiap hari. Dan, di saat itulah Midorima keluar dari kamarnya. Kini saatnya ia melakukannya, kejahatanmya yang paling jahat.

Ia membuka kulkas khususnya, mengeluarkan sebotol hasil karyanya. Cairan pekat bewarna putih, jernih seperti air. Tidak berbau dan rasanya tawar seperti air. Midorima mengambil pipet kecil dan mengambil cairan itu beberapa mililiter saja.

Rutinitas Takao selanjutnya. Sepulang jogging dari taman, Ia minum susu lalu mandi dan bersiap bergi bekerja. Ia mengeluarkan susu kartonan kemasan setengah liter. Ringan. Sudah terminum setengah ternyata. Tanpa banyak pikir lagi Midorima meneteskan semua cairan yang ada di dalam pipet, lalu di kembalikan ke tempat asalnya.

Tidak mau dicurigai, Midorima menyalakan tv. Menunggu siaran horoskop yang biasa ia tonton setiap pagi, Oha-Asa. Rutinitasnya semenjak SMP.

Speaking of the devil, Takao baru saja pulang dari rutinitas joggingnya. Handuk kecil putih menghiasi pundaknya. Basah oleh keringatnya.

"Tadaima~ Shin-chan!"

Seperti biasa Midorima tidak membalas sapaan darinya. Matanya menatap layar televisi yang sebentar lagi akan berganti acara.

"Sedang menunggu Oha-asa, Shin-chan?" Tanya Takao.

"Hnn." Jawab Midorima singkat. Takao duduk disampingnya, tangan kirinya memegang susu kartonan tersebut. Meneguknya sedikit demi sedikit. Perlahan tapi pasti habis.

[Posisi pertama hari ini adalah… Kamu yang berbintang Sagittarius~ Selamat~ Dan posisi terakhir—Kamu yang berbintang cancer.. lebih baik hati-hati kalau mau bertindak~]

"Sayang sekali ya Shin-chan." Ujar Takao mentertawai teman sekamarnya. Seakan-akan aura hitam mengumpul di sekitar Midorima. Salah sendiri Midorima yang terlalu percaya dengan ramalan dari stasiun tv itu.

[Untuk posisi terendah~ Jangan patah semangat! Lucky Item mu adalah boneka kodok!]

Boneka kodok…

Boneka Kodok…

Ini dia.

Plushie kodok dengan desain yang manis. Sedikit kumal karena jarang dikeluarkan Pemiliknya kini sudah ada di tangan pemiliknya lagi.

Mata Takao berbinar.

"Tak ku sangka Shin-chan punya barang semanis ini.." Tangan Takao meraih boneka kodok setengah kumal itu, memperhatikannya dengan seksama.

"Kerosuke." Ujar Midorima tiba-tiba.

"Haaa—Apa?"

"Namanya Kerosuke."

3-2-1….

Dalam hitungan detik muka Takao berubah menjadi merah, bukan karena malu atau apa. Suara tawa nyaring Takao memecah keheningan di antara mereka. Air mata menghiasi ujung kedua manik onyx Takao.

"Ke-kenapa tertawa? Bakao!" Sontak wajah Midorima memerah karena malu. Namun Takao tidak menjawabnya. Tidak bisa menjawab lebih tepatnya, karena terlalu sibuk tertawa.

"Ahahah-Shin-chan tidak ku sangka saja.." Akhirnya tawa Takao mereda.

"Tawa mu berisik sekali. Aku yakin Tuan tanah kita akan memprotes hal ini begitu kita keluar dari ruangan ini." Ujar Midorima penuh keyakinan. Membenarkan kacamatanya yang sama sekali tidak longgar.

"Pffftt—"

"Jangan tertawa lagi!" bentak Midorima. Bukannya berhenti, tetapi tawa Takao malah makin menjadi-jadi. Disusul oleh gerutuan Midorima.

"Ha-habis! Shin-chan terlalu manis!" Takao menyeka air matanya. Akhirnya ia puas tertawa. Rona pipi Midorima makin terlihat jelas, pipinya terasa panas.

"Hmph! O-omong kosong. Laki-laki bertubuh 195 cm tidak manis, Bakao."

"Ah! Kalau begitu pengecualian untuk Shin-chan! Shin-chan special! "

"Pengecualian tidak diterima!" Serunya.

"Eeeeh?! Kenapa tidak diterima?!" Takao juga tidak mau kalah.

"Pokoknya tidak diterima!"

Takao mengembungkan pipinya. "Pokoknya Shin-chan itu pengecualian!" ujarnya sembari melangkahkan kaki menjauh dari ruang tamu. Masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya, meninggalkan Midorima sendirian di ruang tamu. Ia menghela nafas melihat kelakuan teman sekamarnya.

'Kenapa aku bisa berbagai kamar dengan orang ini…' Pikirnya kembali ke dalam kamarnya.

-xxXXXxx-

Penelitiannya sudah selesai dan dia memang tidak mempunyai jam praktek tetap di kepolisian. Meneliti sel dan mikroba adalah pekerjaan yang kini dilakukan Midorima untuk mengisi waktu luangnya agar ia tidak larut dalam kebosanannya.

Ditemani dengan alunan piano klasik, Midorima Shintarou mulai melayangkan pikirannya. Otak geniusnya berpikir untuk menciptakan penemuan lainnya. Entah zat Kimia seperti apa yang ingin dibuat genius muda ini.

Mengetuk ngetuk pennya ke kertas sembari melihat beberapa data terakhir risetnya. Ia mulai menyalin hasil risetnya. Merangkumnya ke dalam format yang lebih rapi.

Dan tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Akashi Seijuurou.

Midorima menatap horror layar ponselnya. Ada apa Akashi meneleponnya siang siang seperti ini. Ada kasus lagi? Apa kepolisian mempunyai mayat yang mengunung sehingga bagian otopsi selalu sibuk?

[Akashi.]

[Kau tahu aku tidak suka menunggu Shintarou.]

[Ah, aku sibuk.]

[Dengan pacar mu? Tak ku sangka ada perkembangan dengan dirinya, Shintarou.]

Suara Midorima berdecak terdengar jelas di telinga Akashi. [Ku katakan sekali lagi dia hanya teman sekamar.]

[Aku hanya bercanda Shintarou. Datanglah ke kantor ku jam 3. Tepat. ]

Midorima melirik arlojinya sekilas. Jam 14.42. Oh, Tuhan yang benar saja-

[Akashi, bilang saja kalau aku harus datang ke sana sekarang juga.] Ujar Midorima setengah hati sembari menghela nafasnya.

[Ah? Aku kan hanya Bilang jam 3. Kau masih punya waktu 5 menit lagi untuk bersantai santai bukan, Shintarou?]

[5 menit tidak akan terasa.]

[5 menit adalah waktu yang sangat berharga, Shintarou. Ah sudahlah, banyak urusan yang harus ku selesaikan.]

Dan panggilan itu terputus. Empat tanda koma imajinaris muncul di sisi kepala Midorima, menandakan kekesalannya.

"Tch."

Yang diinginkannya adalah hari dimana ia bisa santai meneliti ratusan sel dan kembali mengenali tiap zat-zat kimia tanpa ada satu panggilan yang menghiasi harinya. Walau itu menandakan penghasilan bagi dirinya.

Untuk kali ini, Midorima harus mengikuti saran Takao. Mencari pekerjaan tetap. Ingatkan Midorima untuk melihat lowongan pekerjaan di koran besok. Ia tidak mau berakhir sebagai pengangguran seumur hidup, catat itu.

Ia menghela nafasnya panjang. Semoga ia bisa pulang sebelum sore.

-xxXXXxx-

Seperti biasa Akashi sudah menunggu di depan pintu masuk. Sangat mudah untuk mencarinya. Rambut merah menyala dan warna matanya yang berbeda. Tak heran dengan fisik yang mencolok seperti ia memang sangat mudah untuk dikenali.

"Kita berjumpa lagi, Shintarou." Sambutnya.

"Akashi. Sebelumnya aku ingin bertanya, Apa bagian otopsi itu selalu sibuk?"

"Aku tentu tak akan memanggil mu jika mereka tidak sibuk Shintarou. Aku telah menggaji mereka."

Midorima seakan-akan memutar kedua manik hijaunya.

Tolol! Ia mengatai dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak bertanya. Orang tolol mana yang akan membiarkan pekerjanya santai? Walaupun tujuan awalnya untuk menyindir Akashi yang menyita waktu senggangnya, tetapi pertanyaan itu dengan mudah dibalikan.

"Kau terlihat seperti orang yang sibuk Shintarou. Apa kau punya masalah?" Tanya Akashi, menaikan sebelah alisnya.

"Tidak, Akashi. Satu-satunya masalah hanya aku harus datang ke sini."

Manik merah-kuning Akashi menyorot sesuatu yang lain dari penampilan Midorima.

Boneka kodok.

"Lucky Item, Shintarou? Hmmp. Biar ku tebak, ramalan hari ini mengatakan bahwa cancer berada di posisi terendah bukan?"

Midorima tidak menjawab.

"Ternyata benar." Akashi tertawa kecil.

"Diamlah, Akashi." Ujar Midorima membenarkan kacamatanya, mencoba untuk mengalihkan topik. "Dari pada membuang waktu ku, lebih baik ayo kita segera mulai." Midorima berjalan melewati Akashi. Kesabarannya benar-benar diuji.

Akashi hanya tersenyum tipis. Menutup kedua matanya. Bukan untuk mengistirahatkannya tetapi memfokuskan pikirannya.

Ia langsung menyusul Midorima dari belakang.

Setibanya di ruang operasi, mereka langsung fokus kepada perkerjaan masing-masing. Keheningan menyelimuti mereka berdua.

Ruangan otopsi memang tidak mempunyai tanda-tanda kehidupan, tetapi suasana kali ini terlalu tegang. Midorima yang enggan bicara kalau tidak ada topik yang menarik perhatiannya.

Dan Akashi? Dia mengamati mayatnya dengan seksama, Seperti anak kecil yang dihadapkan setoples penuh permen warna warni. Jadi lupakan saja kalau mengandalkan dia untuk memulai topik.

Baik, kecuali satu topik.

"Shintarou, Kau mau mendengar penjelasan ku?" Ujar Akashi memecahkan keheningan di antara mereka.

"… tidak."

"Bisa kau lihat, Shintarou. Mayat yang sekarang terbaring di depan mu mempunyai hubungan dengan mayat sebelumnya." Akashi tetap melanjutkan teorinya tentang kasusnya.

"Aku bilang tidak ma—"

"Shintarou, tidak sopan bila kau memotong teori ku." Potong Akashi. Midorima hanya kembali terdiam, nasibnya benar-benar sial.

"Baiklah. Sampai di mana tadi? Oh ya—Kau tahu apa yang membuat ku berkata demikian, Shintarou?"

Jeda sebentar. Akashi tahu Midorima pasti akan mengabaikan omongannya, maka ia melanjutkannya lagi-

"Kalau kau perhatikan luka-luka pada tubuhnya, kau bisa mengambil kesimpulan pembunuh dari kedua orang ini sama. Terlebih lagi, si pembunuh mengunakan hunting knife yang sama."

"…"

"Kau lihat luka ini Shintarou?" Akashi menunjuk luka yang ada di pundak.

Midorima mengangkat sebelah alisnya? Tidak tahu apa yang ingin Akashi katakan soal luka yang notabene masih terlihat segar.

"Goresan luka ini sama percis dengan goresan yang ada di punggung kemarin." Terang Akashi sembari melanjutkan teorinya.

Jujur, Midorima sendiri bingung dengan perkataan Akashi. Dokter muda itu menatap pemuda yang ada di hadapannya. Seakan-akan berkata: 'Apa kau serius? Dari segi prespektif mana kau bisa mengatakan hal itu?'

Midorima sempat berpikir kalau Akashi itu alien.

Secara, prespektif berpikir Akashi berbeda dengan kebanyakan orang. Ia dapat menggunakan teknik induksi dan deduksi sekaligus. Menyimpulkan beberapa elemen menjadi satu kesimpulan dan kesimpulan menjadi data.

Tidak hanya logikanya yang Akashi mainkan, tetapi juga insting. Akashi tahu apa yang harus ditanggung agar mencapai targetnya. Tak heran bila karirnya melambung tinggi hanya dalam kurun waktu beberapa tahun.

Tidak hanya dari otaknya, kemampuan fisiknya juga tidak diragukan lagi. Ia menguasai beberapa jenis bela diri dalam usia yang masih terbilang muda. Dan karena sekarang Akashi adalah kepala kepolisian, Midorima sudah bisa menebak ia mahir menggunakan senjata api.

Karir Akashi sekilas benar-benar terlihat sempurna. Uang, Jabatan, Nama—

"Kau tahu, Shintarou? Aku mulai bosan dengan pekerjaan ini."

Gerakan tangan si dokter muda berhenti sebentar. Manik hijaunya menatap wajah Akashi. Tidak yakin dengan apa yang barusan ia dengar.

"Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Midorima ragu.

"Biar ku ulangi sekali lagi—"

Akashi tersenyum tipis.

"—Aku bosan."

-xxXXXxx-

Arloji Midorima menunjukan pukul 22.23

Sial, Akashi menipunya. Yang harus diotopsi bukan hanya 1, Tetapi 8. Midorima heran, sebenarnya apa yang terjadi di kota yang ia tinggali sekarang? Apakah tingkat kriminalitas di kota meningkat sedrastis ini?

Well—mungkin saja karena hari ini adalah hari yang paling sial bagi kau yang berzodiak cancer, Midorima.

Terkurung di dalam ruangan otopsi selama 6 jam tentu membuatnya dehidrasi. Yang dibutuhkannya sekarang adalah makan dan istirahat.

Omong-omong soal makanan..

Hari ini bisa dikatakan ia belum makan apapun. Pagi hari ia memang menyantap beberapa keping toast lalu siangnya ia hanya meminum setengah cangkir coklat panas, Namun ia belum menyantap makanan berat sampai sekarang.

Kalau sampai Takao tidak menyisakan sedikit makanan untuknya, maka ini memang hari yang sial bagi Midorima. Bahkan dengan lucky item boneka kodok sekali pun tidak dapat menangkal nasib sialnya.

Ia berdecak pelan. Kunci apartmentnya tidak dapat ia temukan di saku jaketnya. Tidak mungkin hilang, bukan?

Midorima bukan orang yang ceroboh. Ia ingat betul ia menaruh kunci itu di saku. Tidak mungkin ada yang mengambil kuncinya saat ia berada di ruang otopsi bukan? Semoga saja ia tidak memiliki stalker.

Ia mulai meraba saku celananya. Barangkali ia salah ingat menaruh kuncinya di saku celana belakang, Namun ternyata hasilnya nihil.

Midorima mengumpat dalam hati.

Kreaakk—

"Shin-chan?" Suara Takao menyambut Midorima. Guratan heran terlukis jelas di wajah teman sekamarnya. "Ha! Ternyata benar-benar Shin-chan!"

"Takao." Sapa Midorima membenarkan kacamatanya. Sebagian kecil dari dirinya tidak mau Takao tahu kalau ia (tak sengaja) menghilangkan kunci kamarnya. Di saat seperti ini pun Midorima masih memikirkan harga dirinya.

"Nee.. Shin-chan—" Takao membukakan pintu sedikit lebih lebar, sehingga Midorima dapat masuk ke dalam.

"hnngh?"

"Kau menjatuhkan kunci rumah mu di koridor bawah saat turun."

Midorima seakan-akan membeku. Diam-diam ia selipkan tangannya ke saku celana. Tidak bolong. Jaket? Juga tidak. Apa terlalu banyak melihat mikroba membuat Midorima menjadi semakin pikun?

"Tadi aku diberitahu Miyaji-san. Aku tidak tahu Shin-chan seceroboh itu."

Oh—si tuan tanah? Midorima menelan ludahnya pelan, yakin ia akan diceramahi besok pagi.

"Dan—Shin-chan…" Takao mengunci pintu apartment mereka.

Sedikit banyak Midorima sudah mempunyai perasaan tidak enak dengan apa yang ingin dikatakan Takao. Hati kecilnya menyuruh untuk tidak melihat ke arah teman sekamarnya, Namun itu hanya membuat suasana semakin mencekam.

"Aku ingin bertanya satu hal."

Jeda sebentar.

Apa yang kau taruh di susu ku pagi ini, Midorima?" Nada bicaranya berubah total. Tidak seperti pribadinya yang biasa, Midorima melihat sisi lain Takao.

Sisi lain yang tidak pernah dilihatnya.

"A-Apa maksud mu, Takao? Jangan sembarang bicara!" Jawab Midorima. Suaranya sedikit gemetar. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membalikan badannya menghadap Takao.

"Biar ku perjelas sekali lagi…" Takao mengambil nafas dalam. Tangan kirinya seakan akan mengambil sesuatu. Entah apa itu, tidak terlintas di pikiran Midorima.

"Coklat panas kemarin, dan susu pagi ini. Apa yang kau taruh di dalamnya, Midorima?" Nada Takao meninggi satu oktaf, tidak sabar. Takao berjalan ke arah Midorima, mempertipis jaraknya lalu—

BUAAGHH—

Detik berikutnya Midorima mendapati sudah terbaring di lantai. Takao di atasnya.

Bila dilihat dari proporsi badan mereka, Seharunya Midorima dapat menyingkirkan Takao dengan mudah, akan tetapi Midorima tidak bisa melakukannya. Badannya lemas seketika, Ia hanya bisa terbaring tanpa daya.

"A-Aa.."

"Lebih baik kau mengatakan sejujurnya sekarang, Midorima. Aku bukan orang bodoh yang bisa kau racuni begitu saja." Ujar Takao menatap tajam manik hijau Midorima.

Keringat dingin mulai mengucur dari tubuhnya. Manik hijaunya bahkan tidak yakin apakah ia harus menatap manik onyx dingin itu atau melirik ke samping. Karena pilihan manapun yang ia pilih sama saja mengerikannya.

Karena, yang tepat ada di samping wajahnya adalah—

"Hu-Hunting knife?"

-xxXXXxx-

Yaayyy~ Second chapter is finished..

Ternyata menulis fic adegan beginian susah ya #apaanbeginian #ambigu

Kalau misalnya adegannya kurang nge-twist mohon kritik dan sarannya.

Dan—silahkan menyarankan fic yang bertema pembunuhan kepada author untuk mengusir kebosanan author #dor

Me akan berusaha agar bikin adegan yang lebih live lagi dan semoga tidak OOC ya.. I just love sadistic!Takao kufufufu…

Sepertinya kali ini tidak ada yang ingin diobrolkan dahulu…

Thanks for Read and, Review!~

(seperti biasa)
To be or not to be continue…