Between Us

Pairing : HoMin / Kyuhyun

Rate : T

Length : depend on reviews

Warn : enjoy

Menikah.

Really?

Shim Changmin menikah? What kind of joke.

.

.

.

Dengan enggan lelaki itu membuka mata.

"Yunhooo…" erangnya dengan suara serak.

Yunho tidak berhenti. Dengan telak diciuminya punggung lelaki yang masih mengumpulkan kesadaran itu. Dia akan pergi ke kantor. Terbiasa bangun pagi-pagi dan membangunkan teman seranjangnya. Dia jelas tidak akan menyerah sebelum lelaki itu sadar sepenuhnya.

Yunho menyunggingkan senyum lucu.

"bodoh. Mukamu jelek sekali.." rutuk lelaki itu.

"wifey.. wake up" ucap Yunho lembut.

Stelan kantornya telah tersusun rapi diatas ranjang saat Yuho keluar dari kamar mandi. Hampir setahun ini Yunho tidak perlu repot-repot memilih warna untuk pakaian formalnya. Partner-nya yang melakukannya.

"menggosongkan telur, lagi?" tanya Yunho menahan senyum.

Lelaki didepannya merengut kesal.

"ayo kemari.." Yunho menepuk pahanya.

Lelaki itu menurut. Duduk nyaman di pangkuan Yunho dan menyembunyikan wajah di sela lehernya.

"apa aku sudah bilang kalau aku mencintaimu pagi ini?" tanya Yunho.

Dua orbs cokelat lelaki di pangkuannya melebar sempurna. Cemooh bibir khasnya menyungging seperti biasa.

"baiklah. I love you my Changmin.."

Yunho sedikit kelabakan menyambut ciuman penuh semangat dari lelaki di pangkuannya. Selalu saja begini.

Setiap pagi.

In every breakfast.

Dia akan selalu teringat..

Berapa besar cinta yang diberinya untuk lelaki egois miliknya itu.

.

.

.

Changmin menatap hampa pada pintu yang baru menutup.

Sendirian lagi. Suami pergi kerja. Tidak ada kegiatan.

Kuliahnya sedang libur. Kalaupun ingin shopping, dia terlalu bosan. Setiap weekend Yunho selalu mengajaknya menjelajahi setiap Mall di kota ini. Hah, benar-benar seperti ibu rumah tangga.

.

.

.

Yunho menyetir mobil dengan semangat. Senyum tidak pernah lepas dari wajahnya sepanjang hari ini. Bahkan sekretarisnya yang salah mengantar dokumen pun tidak dimarahi. Padahal biasanya Yunho paling murka dengan hal-hal semacam itu.

Today is the first wedding anniversary.

Yunho bertekad dalam hati. Dia tidak boleh membuat kesalahan. Apapun itu.

Sulit untuk melukis senyum tulus Changmin. Yunho tahu betul.

Dua kali dia melihat senyum melengkung Changmin di sepanjang sejarah mereka bersama.

Satu, saat Changmin memutuskan untuk pergi karena terlalu mencintainya.

Dua, saat Changmin menerima lamarannya.

Target anniversary tahun ini tidak muluk-muluk, Yunho ingin melihat senyum itu.. lagi.

Yunho menutup pintu mobil dengan tergesa. Sialnya saat menjejakkan kaki keluar, genangan air tanpa ampun menghujan pada celana kantor miliknya.

Argh, mestinya dia merutuk.

Tapi dia tidak bergeming. Hanya tersenyum simpul saja.

.

.

.

Changmin menatap serius pada lukisan abstrak di depannya.

Dahinya mengerut.

1 detik…

2 detik..

"apa seburuk itu?"

Sedikit terkesiap. Changmin menoleh ragu.

Lelaki itu terlihat sebaya. Tidak lebih tinggi darinya namun memiliki wajah yang bersahabat.

"uhm.. you're not Korean? Sorry.."

"Shim Changmin. Annyeong.."

Lelaki itu bengong sesaat, tidak lama untuk kemudian kembali ke dunia nyata.

"Cho Kyuhyun. Namaku Cho Kyuhyun.."

Itulah awalnya.

Changmin menemukan dunia baru di New York.

Cho Kyuhyun.

Persahabatan datang menghinggapinya begitu saja. Tanpa rencana.

Kyuhyun kebetulan adalah pelukis muda yang membuka galeri di seberang apartemen Changmin. Kebetulan saja bila ternyata dia adalah kakak kelas saat sekolah menengah. Changmin mungkin lupa, tapi Kyuhyun tidak.

Siapapun tahu Changmin saat itu. Populer, atletis, dan digilai banyak senior.

Seperti napas baru. Sungguh beruntung.

Bertemu Cho Kyuhyun..

.

.

.

Ting tong!

Buket mawar besar menyambut di balik pintu.

"well.. what's that?" tanya Changmin.

"roses.." Yunho menyengir.

"for what?"

"nothing."

Changmin menatap suaminya lekat-lekat.

"apa aku harus membayar untuk ini?" ucapnya sambil mencium bunga yang masih dipegang Yunho.

"no. "

"are you sure?"

Yunho pura-pura berpikir keras.

"its okay, you can change your mind.." ledeknya kemudian.

Changmin gemas. Yunho masih saja berdiri dengan wajah bodohnya.

Grep!

Yunho memeluknya telak.

Dia sedikit bergidik geli saat Yunho mengangkat badannya begitu saja. Menuju kamar mereka. Fantasi liar menyergap pikiran dua pria ini.

Kali ini mau permainan seperti apa?

.

.

.

Kami baik-baik saja.

Kalau kalian tanya Yunho, dia pasti akan bilang kami bahagia.

Aku tidak tahu apa arti baik-baik saja dalam berumah tangga.

Dia sangat perhatian, romantis, sabar.. apalagi ya? Intinya every 'Mr. Right materials' terletak akurat pada suamiku itu. Aku sungguh beruntung. Mungkin di kehidupan sebelumnya aku dilahirkan sebagai seorang pahlawan negara.

We love each other.

We completed together.

Sejauh ini kami berhasil. Mengatasi banyak hal.

Jaejoong..

Keegoisanku..

Apalagi?

Mestinya ini adalah bagian dari happy ever after milik kami.

Mestinya begitu.

Tapi..

Cinderella never been exist! I mean the part of happy ever after.. *cough* are you kidding me?

Aku tidak tahu kalau pernikahan akan begitu membosankan seperti ini. Menunggu Yunho pulang. Membuat sarapan yang sebenarnya lebih sering tidak bisa dimakan karena gosong atau rasa yang aneh. Lalu menyiapkan baju. Begitu terus berulang-ulang.

Iya betul, aku memang mencintainya. Namun jujur saja aku merindukan kehidupan pestaku dulu. Aku ingin bebas seperti dulu. Ide menikah ini harus di evaluasi ulang sepertinya.

Apa keputusanku berkata iya di tebing Rotterdam itu memang benar?

Arghh..

Sebut aku bodoh. Aku rasa aku memang bodoh.

.

.

.

"bagaimana?"

"cukup bagus kurasa"

Tirai-tirai besar tergantung indah di sudut-sudut aula sederhana. Ralat. Tadinya memang aula sederhana, namun kini telah di sulap menjadi semacam ballroom pesta.

"aku akan main disini" Kyuhyun berdiri mantap di samping standing mic diatas sebuah panggung kecil.

"aku tidak tahu kalau bisa bernyanyi" Changmin setengah mengejek.

Hening sesaat. Dan suara tawa mereka pecah di aula sepi.

"kau mau bertaruh?"

"…"

"datanglah malam ini. Dan kau akan menyesal.." ancam Kyuhyun dengan senyum lebarnya.

"we'll see.." balas Changmin.

.

.

.

Aula itu penuh dengan pekikan yang terdengar norak di telinga Changmin. Iya dia tahu kalau penyanyi barusan sangat memukau tapi.. ya sudahlah.

"tidak ada hukuman. Temani saja aku.."

Tepukan hangat itu membawanya pada sebuah club di sudut kota New York.

Tissue please.

Changmin ingin menitikkan airmata. Terlalu berlebihan mingkin. Tapi ini adalah tempat yang paling ingin dikunjungi setahun belakangan. Tidak pernah kesampaian.

Kyuhyun 'memaksanya' untuk pergi menemani minum.

Suara hentakan ini membuat telinga Changmin bergetar dengan sukacita.

I love this town!

Satu tahun di kota ini tidak membuat Changmin memiliki kesempatan untuk bersenang-senang. Tugas kuliah saja sungguh menyita waktu. Belum lagi tanggung jawabnya sebagai pria yang tidak single lagi. Untung saja Yunho lembur. Sudah dua hari menginap di kantor. It's like a golden ticket.

.

.

.

"morning Changmin.."

Sapaan itu terdengar menyapu lembut ruang kesadaran Shim Changmin.

Mata itu membuka perlahan. Pasti wajah bodoh lelaki itu yang menyambutnya.

Hah? Tidak bodoh ah. Sedikit cantik malah.

Cantik? Sejak kapan?

Kumpulan kesadaran menjejali kepala Changmin. Berebut masuk ingatan normalnya.

Lelaki yang membangunkannya itu bukan orang asing.

Ya, dia kenal kok.

Yang jelas bukan Yunho. Bukan Yunho miliknya.

"aku masih mengantuk sebenarnya.."

Gesekan kulit itu terasa asing bagi Changmin. Jantungnya bergerak lebih cepat saat menyadari bahwa yang memeluknya dibawah selimut bukanlah seseorang yang seharusnya melakukan itu dengannya.

"Kyuhyun! Apa-apaan ini!"

Dihempaskannya tubuh kurus lelaki itu.

"akh! Jangan mencabut secara paksa.. sangat sakit!"

Protes itu membuat Changmin membelalakkan mata.

What the hell is that!

.

.

.

Yunho membolak balik dokumennya. Tiba-tiba dia merasa sangat tidak enak badan. Apa karena lembur? Entahlah.

Dia harus mengejar target. Minggu depan ada workshop di Jerman. Dia harus datang.

Apa tidak apa-apa meninggalkan Changmin seminggu?

Diregangkannya otot lengan dan bahu. Sambil memutar kursi ke kanan, Yunho menatap lurus pada frame yang ditaruh di laci. Foto Changmin yang sedang mendekap anjing mereka. Adorable.

Sebenarnya ada sedikit kekecewaan, kemarin Changmin tidak mengeluarkan senyuman itu. padahal sudah berusaha dengan ratusan tangkai bunga. Tetap saja..

Tapi tidak apa-apa, masih banyak kesempatan. Coba terus.

"Changmin.. kau hanya milikku" gumamnya sambil mengulum senyum.

.

.

.

Tbc?

Mau coba-coba bikin sekuel Ultimate Note. Gimana readers? Kalo ga suka ya nggak dilanjut sih. Sengaja masukin Kyuhyun karena kayaknya Cuma mas yang satu ini yang pas untuk bikin Changmin galau gitu.*minta digebuk* *gue HoMin*

Jadi intinya ini tes ya. Bener-bener pyurr mau lihat reaksi readers. Silakan review yaaa.