- Hole In The Sky - KyuMin - GS - Part 13 -

0o0o0o0o0o0o0

Dengan penuh perhatian Kyuhyun mengantar Sungmin masuk ke kamarnya.

Pemuda itu membantu Sungmin untuk berbaring di kasur. Menyelimuti sosok itu dan mengecup singkat dahi itu dengan lembut.

Sungmin mengulum senyumnya ketika mendapat perlakuan manis seperti itu dari Kyuhyun.

Perlakuan yang dirinya berani bersumpah kalau itu teramat lembut.

"Jalja.. Jangan khawatir. Kau masih mencemaskan Donghae? Kau lihat sendiri kan kalau dia baik-baik saja tadi? Tapi yaaa.. Mungkin dia sangat kaget."

Sungmin mengangguk mendengar ucapan Kyuhyun. Sejak kejadian di Halte beberapa jam yang lalu dan itu juga lah yang membuat mereka memberi tahu status mereka pada Donghae. Sungmin masih merasakan sedikit keresahan di benaknya.

Tapi, melihat wajah tampan yang tengah memandangnya dengan pandangan lembut seperti ini. Rasanya Sungmin tak membutuhkan rasa cemas itu lagi.

"Ahni, aku percaya Donghae baik-baik saja. Hanya saja, aku masih takut.." Tutur gadis manis tersebut.

Kyuhyun mengerutkan dahinya bertanda bingung. Apa yang dia resahkan?

"Takut? Untuk?"

Sungmin menghembuskan nafasnya sejenak. Gadis itu lalu meraih telapak tangan Kyuhyun dan dengan pelan Sungmin menggenggamnya lembut.

"Oppa, berjanjilah untuk tidak mendiamkan dan menghindariku lagi. Rasanya benar-benar tidak enak."

Kyuhyun tersenyum simpul mendengar penuturan Sungmin. Pemuda itu mengusap surai rambut hitam milik Sungmin dengan lembut.

"Ara, aku berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi padamu."

Suara merdu milik Kyuhyun membuat Sungmin memejamkan matanya perlahan. Saat tangan hangat milik Kyuhyun terus mengusap kepalanya dengan lembut, Sungmin hanya bisa berharap agar segera terlelap. Membuat semua kejadian di hari ini segera terlewati dan berharap keesokan hari akan terlewatkan dengan kebahagiaan.

Suasana kamar itu menjadi hening. Kyuhyun masih nampak mengelus kepala Sungmin penuh kasih sayang. Memandangi wajah damai di depannya membuatnya bahagia.

"Aku sangat mencintaimu. Sejak pertama kali bertemu aku sudah sangat mencintaimu, Lee Sungmin."

Kyuhyun memandang lembut wajah yang nampak damai itu kini tengah menutup matanya. Sepertinya gadis itu sudah benar-benar terlelap.

Begitu lelahnya kah gadis itu hari ini?

"Aku hanya takut kau akan pergi. Berpaling dariku dan meninggalkanku. Tapi sepertinya itu hanya pemikiran konyolku saja."

Kyuhyun mengarahkan telapak tangannya yang sedari tadi mengusap lembut rambut Sungmin itu ke arah pipi gadis tersebut. Mengusapnya dengan lembut.

"Aku sudah berjanji kan untuk menikahimu suatu saat nanti? Aku tahu itu akan lama. Mengingat kita belum lulus. Tapi percayalah, aku akan menepati janjiku itu."

Kyuhyun menarik tangannya yang ada di wajah Sungmin. Matanya berubah sendu seketika. Entahlah, dia merasakan akan ada sesuatu yang terjadi.

Dengan gerakan pelan pemuda itu kembali mengecup puncuk kepala Sungmin.

"Aku harap kau tidak bosan menungguku Min, aku takut kau akan bosan. Tapi percayalah, aku berani bersumpah tidak akan pernah bosan mencintaimu."

.

Kyuhyun menutup pintu kamar Sungmin dengan hati-hati. Berharap tak mengusik tidur nyenyak gadis tersebut.

Hari ini dirinya begitu egois bukan?

Mendiamkan Sungmin dan membuatnya menangis. Dan itu hanya karena rasa cemburu yang begitu konyol.

Kyuhyun menghela nafas beratnya. Dengan langkah pelannya pemuda itu segera berjalan menuju kamarnya yang terletak tak terlalu jauh dari kamar Sungmin.

Dirinya sepertinya membutuhkan istirahat segera.

"Kenapa? Kau tidak menyukai Sungmin? Kau tidak menyayanginya?"

Kyuhyun tertegun saat sebuah suara menembus gendang telinganya. Langkah kakinya mendadak berhenti. Pemuda itu berbalik berjalan mendekati pagar pembatas lantai dua rumahnya dan mengarahkan pandangannya ke bawah. Memperlihatkan ibunya tengah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga nampak sedang menelepon.

"Kyuhyun mencintainya, apa itu belum cukup? Kyuhyun anakmu. Dan Sungmin.. Bukankah kau menyayanginya selayak Putri sendiri? Tidak bisakah kau menerimanya?"

Kyuhyun mencengkram pagar pembatas itu dengan erat. Sebuah persepsi mulai berputar di kepalanya mendengar percakapan telpon ibunya itu saat ini.

Dan matanya terus tertuju kosong ke arah sang Ibu yang nampak berujar dengan suara bergetar.

"Aku menyayangi Kyuhyun.. Aku menyayangi Sungmin.. Melihat mereka bahagia adalah impian terbesarku.. Tidak kah kau menginginkannya juga? Kau pernah bilang padaku untuk menuruti semua permintaan anak kita asal dia bahagia kan? Tapi kenapa.. Kenapa kau.. Tak bisa menerima Sungmin?"

Kyuhyun merasakan tangannya bergetar. Apa ini? Appa.. Apa dia tidak bisa menerima Sungmin?

Kyuhyun mulai merasakan tatapannya mulai tak fokus.

Dengan segera pulalah dia membalikkan tubuhnya yang sedari tadi menghadap ke depan untuk bersandar di pagar pembatas.

Tangannya bergetar hebat, Kyuhyun merasakan kepalanya nampak tengah berputar.

"PUTRI PUTRI DAN PUTRI! KAU SELALU MENGATAKAN SUNGMIN ADALAH PUTRI KITA. TAPI PERNAHKAH KAU MELIHAT BAGAIMANA KYUHYUN? KYUHYUN MENCINTAINYA. DIA INGIN MENJADIKAN SUNGMIN SEBAGAI ISTRINYA! BUKAN ADIKNYA."

Suara teriakan dari sang Ibu yang dirinya yakini itu tertuju pada sang Ayah pun membuat Kyuhyun terperosot jatuh ke lantai.

Tidak, jangan menangis Kyu! Kau laki-laki!

Kyuhyun mengarahkan pandangannya pada sebuah figura foto besar yang terpajang tak jauh dari posisinya.

Foto keluarganya.

Pemuda itu memandang sendu ke arah bingkai besar tersebut.

Sungmin.. Apa dia akan kehilangan Sungmin?

.

Sinar matahari yang masuk melewati celah-celah jendela membuat mata Sungmin mulai mengerjap pelan. Perlahan gadis itu membuka kelopak matanya.

Pagi yang menurut gadis itu begitu damai, ialah pagi ini.

Sungmin sedikit mengernyitkan dahinya saat matanya langsung bertemu dengan sosok Kyuhyun.

Menatap penuh keheranan saat menemukan sosok tersebut masih nampak terlelap.

Apa pria itu tidur semalaman di pinggir ranjangnya?

"Oppa.. Oppa.. Ireona."

Sungmin menepuk-nepuk lengan Kyuhyun mencoba untuk membangunkannya.

Dan sepertinya itu berhasil.

Kyuhyun nampak sedikit mengusap matanya saat itu. Dan pada akhirnya pandangannya bertemu langsung dengan Sungmin.

"Oppa, kau tidur semalaman disini?"

Kyuhyun cukup lama terdiam saat Sungmin melemparkan pertanyaan itu pada dirinya. Kembali kejadian semalam menghampiri kepalanya.

Kyuhyun sejenak memandang sendu ke arah Sungmin yang tengah memandangnya bingung.

Memberitahu apa yang dia dengar semalam kepada Sungmin.. dirinya pikir adalah hal yang kurang tepat.

"Ne? Tidur semalaman disini?" Ucap Kyuhyun kembali mengulangi inti pertanyaan dari Sungmin.

Sementara itu, Sungmin mulai beranjak duduk dan tatapannya masih mengarah lekat pada Kyuhyun.

"Oppa, matamu sembab.. Kau.. apa mungkin.."

"Mwoya? Kau mau bicara apa?Aishh, Lee Sungmin.. Semalam aku tidur larut.. Jadinya seperti ini. Memangnya kau pikir aku menangis? Kau ini ada-ada saja."

Kyuhyun melempar senyum sumringahnya, menangis? Ya, dia menangis semalam.

"Geurae? Ahh, syukurlah.." Lega Sungmin tersenyum.

Kyuhyun ikut tersenyum memandang wajah lugu itu tengah tersenyum.

Dan dia barus menyadari kalau membuat wajah itu dialiri airmata adalah hal yang paling bodoh dalam hidupnya.

'Tersenyumlah Min, tersenyum. Setidaknya itu membuatku merasa tenang dan melihatmu tidak dalam keadaan tersakiti.'

.

"Jalan kaki?"

Kyuhyun mengangguk mantap menjawab pertanyaan Sungmin.

Sedangkan gadis manis itu nampak mengerutkan dahinya dan menatap Kyuhyun dengan ekspresi penuh tanda tanyanya.

"Ya, khusus hari ini entah kenapa aku ingin jalan kaki. Hitung-hitung mencegah Global Warming." Jelas Kyuhyun sembari mengelus dagunya dengan gaya yang cukup bisa membuat Sungmin terkikik.

Sungmin mengulum senyumnya mendengar penuturan Kyuhyun.

"Ternyata ini sebabnya Oppa menyuruhku cepat-cepat pergi sekolah, karena ingin jalan kaki."

"Eishh, waeyo? Kau tidak suka? Ara! Aku akan mengambil motor saja kalau begitu."

Kyuhyun menampakkan ekspresi merajuknya saat itu. Oh ayolah, disini siapa yang lebih tua memangnya?

"Yaishh, bukan begitu."

Sungmin memegang pergelangan tangan Kyuhyun. Membuat aktivitas merajuk Kyuhyun terhenti untuk sejenak.

"Ahni, aku tidak keberatan kok, selama itu bersama Oppa.. Aku yakin itu tidak akan masalah." Ujar Sungmin dengan ekspresi tidak enaknya.

Kyuhyun begitu jahil, dan Sungmin? Gadis itu terlalu polos untuk melihat keadaan sebenarnya. Hey! Kyuhyun hanya bercanda akan merajuknya itu!

Membuat Kyuhyun memandang wajah Sungmin yang begitu manis itu kini tengah menampakkan ekspresi sedihnya dan itu membuat Kyuhyun merasa bersalah.

"Jadi, katjaaaa jalan!" Ucap Sungmin tiba-tiba dengan ekspresi semangatnya.

Sungmin mulai membawa kakinya melangkah mendahului Kyuhyun.

Sementara itu, Kyuhyun pun mulai menyeret kakinya menyusul Sungmin.

Lihatlah, gadis itu kini nampak terlihat begitu bersemangat.

"Min, kau kelihatan semangat sekali hari ini, waeyo?" Tanya Kyuhyun saat sudah berada di samping Sungmin.

Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun.

"Oppa tidak mendiamkan dan menghindariku lagi. Aku merasa pagi ini begitu menyenangkan." Jelasnya tersenyum.

Kyuhyun mengulum senyumnya dan mengacak-acak rambut hitam Sungmin gemas.

"Lagi-lagi kau mengatakan hal itu, aku kembali merasa bersalah.." Gumam Kyuhyun.

Sungmin tersenyum saat itu. Nampak tak mengindahkan gumaman Kyuhyun.

Gadis itu berdendang sembari melangkahkan kakinya dengan riang. Menebar senyuman menawannya saat itu.

Kyuhyun tersenyum simpul memandangi sosok di sampingnya itu. Mendapati gadis itu tengah tersenyum seperti sekarang, entah kenapa membuatnya sedih.

"Sungmin-ah," panggil Kyuhyun pada akhirnya.

Sungmin menghentikan langkah kakinya sejenak saat itu. Menoleh ke arah Kyuhyun.

"Ne?"

Untuk beberapa saat Kyuhyun kembali memandangi wajah itu dengan penuh arti.

Bisakah senyum yang nampak di wajah manis ini terus bertahan?

"Bisakah.. Kau berjanji padaku untuk satu hal?"

Sungmin mengerjapkan kelopak matanya pelan.

"Berjanji? Apa?"

Kyuhyun menundukkan wajahnya sejenak. Dan tidak lama dari itu mulai mendongakkan wajahnya kembali.

"Tersenyum, bisa kah kau berjanji padaku untuk tersenyum? Aku tahu ini hal yang kekanak-kanakan. Tapi melihatmu tersenyum adalah pemberian kekuatan untukku. Tersenyumlah min, karna aku tidak kuat melihatmu menangis lagi seperti kemarin."

Sungmin menatap mata hitam Kyuhyun dengan begitu lekat. Kenapa Kyuhyun tiba-tiba berubah melankolis seperti ini? namun, tidak lama dari itu sebuah lengkungan pun terpatri dari sudut bibir milik Sungmin.

"Baiklah, aku akan tersenyum untukmu, Oppa."

.

.

Kyuhyun menapaki lorong-lorong kelas dengan wajah lesunya. Di setiap langkahnya hari ini dirinya hanya mengiringinya dengan sekelebat peristiwa yang terjadi semalam. Tak biasanya kan? Cho Kyuhyun yang dikenal berkepribadian tenang itu tiba-tiba muncul dengan wajah sendu seperti ini?

'Aish, aku tidak menyangka dia wanita seperti itu.. Kyuhyun? Oh ayolah! Apa dia tidak ada urat malu lagi?'

DEG

Kyuhyun menghentikan langkahnya seketika. Matanya melebar sempurna dan nampak dirinya segera mendongakkan wajahnya.

'Setidaknya kalau bukan saudara kandungnya, seharusnya dia sadar diri. Masih untung dijadikan anak di keluarga kaya.'

Kyuhyun merasakan dadanya tengah bergemuruh tak tentu.

Ini, apa mungkin.. Sungmin?

Tanpa menunggu apapun lagi, Kyuhyun langsung berlari, mencari dimana Sungmin.

Demi Tuhan! Dia merasakan ada suatu hal yang buruk tengah terjadi terhadap Sungmin.

Kyuhyun berdesis berkali-kali dalam larinya. Sungguh begitu banyak ketakutan yang tengah bersarang di kepalanya.

"Ya! Apa yang kalian lakukan?!"

Sontak saja teriakan yang begitu keras itu membuat semua mata yang tadinya terfokus pada Sungmin, tak terkecuali Kyuhyun itu kini beralih pada sumber suara.

Kyuhyun langsung menghentikan larinya dan berdiri kaku menatap gerombulan murid-murid disana.

Kyuhyun mengepalkan erat tangannya saat matanya menatap ke arah sosok yang nampak tengah bergetar terduduk di atas lantai.

Sungmin, ada apa dengannya? Siapa yang membuatnya seperti itu?

Kyuhyun kembali mencoba menyeret langkah kakinya menuju Sungmin. Tapi..

"Min, gwanchana? Ada apa ini?" tanya Donghae seraya menjongkokkan tubuhnya untuk menyetarakan posisi mereka.

Kyuhyun mau tak mau kembali dibuat tertegun.

Seseorang sudah berada disana, untuk menjaga Sungminnya.

Dengan pelan Kyuhyun memundurkan langkahnya kembali.

Pemuda itu melihat Donghae kembali berdiri, dan kini menatap satu persatu wajah yang tengah mengerumuni tempat itu.

"Ada apa ini? Kenapa kalian memperlakukannya seperti ini?" tanya Donghae dengan suara datarnya.

Semua wajah yang tadinya nampak begitu menggebu untuk menghina Sungmin pun mendadak diam kaku saat kini berganti mata Donghae yang menatap tajam mereka satu persatu.

"KENAPA KALIAN SEMUA MALAH DIAM SAJA?! JAWAB AKU!"

Bentakan keras itu berhasil menggema di sepanjang lorong-lorong kelas.

Kyuhyun nampak bergerak dan bersembunyi di balik dinding yang berada di antara perbelokan lorong kelas. Menatap dari kejauhan.

"M-Mading.. Kau.. Kau bisa lihat mading.."

Alis Kyuhyun nampak bertaut bingung.

Mading?

Kyuhyun kembali mengarahkan pandangannya ke arah Donghae.

Nampak saat itu Donghae berjalan mendekati papan besar disana.

Kyuhyun melihatnya, melihat wajah itu yang nampak begitu kaget. Apa? Memangnya apa yang ada disana?

Kyuhyun menatap lekat ke arah Donghae yang masih diam.. Wajah itu nampak pucat pasih memandangi selembar foto yang dia ambil dari mading. Foto? Foto apa itu?

Donghae mengarahkan pandangannya ke arah Sungmin sejenak saat itu. Membuat Kyuhyun ikut menatap sosok Sungmin disana.

Gadis itu nampak tengah menahan isaknya. Apa itu karna permintaanya pagi tadi? Untuk tidak menangis?

PRAK

Nampak terdengar suara sesuatu baru saja jatuh di lantai. Kyuhyun menatap ke arah lantai dan mendapati lembaran foto-foto baru saja dilempar oleh Donghae disana.

"Lalu? Apa masalahnya dengan foto-foto itu?" Tanya Donghae dengan nada dingin.

Sebenarnya foto apa itu?

"Aku tanya pada kalian semua, apa masalahnya dengan foto itu? Apa kalian tidak pernah melihat dua orang berciuman sebelumnya? Apa kalian tidak pernah berpacaran eoh?!"

DEG

Tubuh Kyuhyun kembali tertegun.

Berciuman? Apa mungkin..

"T-tapi, i-itu, bagaimana bisa, Sungmin melakukannya dengan Kyuhyun? Bukankah mereka bersaudara?"

Seseorang angkat bicara saat itu.

Kyuhyun memegang permukaan dinding yang menjadi tempat persembunyiannya dengan tangan gemetar.

Dirinya dan Sungmin?

Bagaimana bisa foto itu ada disana? Siapa yang melakukannya?

"Dari mana kalian tahu kalau orang itu Kyuhyun? Coba lihat foto itu, apa sosok itu berwajah Kyuhyun? Darimana kalian bisa tahu itu Kyuhyun kalau foto itu tidak menampakkan wajahnya?"

Sontak saja ucapan Donghae itu membuat semua orang disana tertegun.

Kyuhyun memandang Sungmin dengan wajah penuh bersalahnya.

Apa yang harus dia lakukan saat ini? Sungmin membutuhkannya.. Tapi kenapa dirinya malah berdiri disini tanpa melakukan apapun.

"Apa kalian bisa menjamin orang itu adalah Kyuhyun walau foto itu hanya menampakkan tubuh bagian belakangnya?"

Kembali suasana mendadak hening,

Kyuhyun mengarahkan matanya kembali ke arah Donghae.

"L-lalu, s-siapa? Disana terlihat kalau pria disana menggunakan seragam sekolah ini.."

Donghae terdiam saat mendapat pertanyaan seperti itu.

Kyuhyun juga nampak menahan nafasnya saat itu. Apa yang akan dikatakan Donghae?

Donghae nampak kembali menoleh ke arah Sungmin, mata mereka kembali bertemu.

Kyuhyun melihat Donghae mengeratkan kepalan tangannya saat itu.

"Aku, pria di foto itu adalah aku."

DEG

Sungmin menatap kaget ke arah Donghae saat itu. Apalagi Kyuhyun.

Pemuda itu nampak membulatkan matanya saat itu.

"Foto itu adalah saat kami berpacaran dulu, dulu kami pernah berpacaran, tapi setelah itu kami putus."

Semua tertegun.

Kyuhyun merasakan nafasnya tercekat.

Tidak, kau tidak berhak marah Kyu. Donghae hanya ingin melindungi Sungmin.

Untuk apa kau merasa marah? Setidaknya Donghae lebih berguna darimu saat ini.

Kyuhyun menatap sosok Donghae dengan pandangan datar miliknya.

'Dia begitu terlihat menyayangi Sungmin, tapi aku juga sangat menyayangi Sungmin.'

"Sudah jelas bukan? Itu bukan Kyuhyun, tapi aku. Kupikir hal normal ketika berpacaran melakukan hal seperti itu?"

Donghae berjalan mendekati Sungmin, sedikit melemparkan senyuman ke arah perempuan tersebut.

Kyuhyun yang berada tak terlalu jauh disana masih bisa melihat senyuman itu. Senyuman seorang pria yang begitu mencintai seorang wanita.

Kyuhyun makin merasa kalau dia benar-benar tak berguna untuk Sungmin.

"Kupikir hal ini sudah jelas dan selesai, kukira kalian bisa bubar sekarang," Ucap Donghae memerintah.

Kerubunan itu seketika menghilang.

Kyuhyun dengan wajah mirisnya nampak juga ikut menyingkir dari sana.

Pemuda itu menyandarkan tubuhnya di dinding yang ada disana. Kosong.. Tatapannya kosong.

Menangis, Sungminnya menangis lagi. Dan mirisnya bukan dia lah yang ada disamping sosok itu kini. Melainkan orang lain.

Kyuhyun tersenyum miris meratapi keadaannya saat ini.

"Semuanya terlalu tiba-tiba.. Aku.. Aku tidak tahu harus melakukan apa.. Maaf.. Maafkan aku Min, aku tidak bisa menghiburmu saat ini."

.

.

.

PRAKK!

Bunyi keras akibat lemparan berlembar-lembar foto beserta kamera itu terdengar memekakkan telinganya.

Nampak sesosok gadis dengan wajah dinginnya tengah duduk di depan sebuah meja besar yang ada di ruangan tersebut. Gadis itu terlihat tak mengindahkan tatapan tajam dari seorang pria yang kini tengah menatapnya penuh amarah.

"Kau.. Kau kan yang melakukannya? Cihh.. Ini benar-benar gila.. Bisa-bisanya kau melakukan hal keji seperti ini terhadap Sungmin? Apa Sungmin pernah melakukan kesalahan padamu?!"

Donghae berujar dengan hempasan tangannya yang memukul meja yang ada di hadapannya. Matanya berkilat marah menatap sosok wanita yang masih memasang wajah tanpa dosanya di depannya itu.

"D-donghae-ah, cukup.."

Suara yang terdengar bergetar itu memotong luapan emosi Donghae. Sungmin memandangi sosok wanita yang ada di hadapannya dengan nanar. Tidak.. Dirinya tidak mau mempercayai ini semua.

"W-wookie-ah.. Ini.. Ini bukan perbuatanmu kan? Kau.. Kau sahabatku kan?" Suara Sungmin penuh akan rasa putus asa.

Bagaimana bisa sosok sahabatnya bisa berbuat hal seperti ini terhadapnya?

Sungmin memandangi sosok Wookie dengan pandangan mengiba. Dia harap Wookie hanya mengerjainya saja saat ini.

Sementara itu. Donghae memandang Sungmin dengan sendu. Melihat sosok itu seperti ini kian membuat hatinya hancur.

"Sungmin.." gumam Donghae lirih melihat gadis itu.

Pemuda itu kembali menoleh ke arah Ryeowook yang masih nampak diam.

Donghae pun sebenarnya tidak bisa mempercayai ini semua. Tapi, semua bukti sudah mengarah pada sosok di hadapannya sekarang.

"Puas? Ini yang kau sebut persahabatan? Kau.. Kau tidak pantas menjadi sahabatnya." Ucap Donghae dengan nada datar dan terdengar begitu dingin.

Wookie pada akhirnya mengangkat wajahnya dan membalas tatapan tajam Donghae padanya. Dan itu membuat Donghae mendesis geram.

"Kau pikir aku bersahabat dengannya tulus?"

Sungmin tertegun mendengar ucapan Ryeowook. Matanya menatap tak percaya ke arah gadis tersebut.

Donghae mengepalkan telapak tangannya kesal mendengar ucapan Ryeowook. Dengan cemas pria tersebut kembali menoleh ke arah Sungmin, mencoba melihat ekspresi gadis tersebut.

"Mana mungkin aku menjalin pertemanan dengan orang yang sudah merebut orang yang aku sukai." Ucap Ryeowook dengan dingin.

Donghae melotot mendengar ucapan gadis itu. Apa dia bilang? Merebut?

"Mwo? Apa mungkin.." Donghae menggantung ucapannya.

Tidak.. Jangan bilang kalau orang itu adalah..

"Ne! Aku menyukai Kyuhyun. Itulah sebabnya aku mendekati Sungmin yang merupakan adiknya. Tapi ternyata aku salah, dia hanya anak pungut.. Dan yang paling menjijikkan adalah dia ternyata menjalin hubungan dengan putra dari keluarga yang sudah berbaik hati memungutnya? Tidakkah itu konyol?"

Sungmin kembali tertegun pilu di posisinya. Mendengar penuturan dari Wookie membuatnya merasa sesak.

"Wookie-ah.. Kau.. Tidak sungguh-sungguh kan.. Kau.. Bercanda kan?"

Sungmin meraih pergelangan tangan milik Wookie dan menggenggamnya erat saat itu. Donghae yang melihat itu hanya mampu meringis iba melihat Sungmin.

Dan sementara itu.. Ryeowook menatap sebal ke arah Sungmin.

"Menurutmu?!"

Ryeowook menggenggam lembaran foto-foto itu dan langsung melemparnya ke lantai. Gadis itu nampak berdiri dengan wajah penuh kebencian terhadap Sungmin.

"Aku muak! Aku muak melihatmu! Apa yang Kyuhyun sukai darimu hahh?" Teriak Wookie marah.

"Ya! Jaga ucapanmu!" Donghae ikut berteriak.

Sungmin merasakan airmatanya mulai mengalir. Jadi.. Selama ini.. dia.. Tidak ada teman? Ryeowook yang dia anggap teman satu-satunya.. Ternyata hanya ingin memperalatnya.

Sungmin perlahan bangkit dari kursinya.

Donghae hanya bisa memandang sendu ke arah gadis itu.

Sungmin berjongkok, memungut kembali lembaran foto-foto yang baru saja dilempar oleh Wookie tersebut.

"Ahniya.. Aku tahu kau sedang bercanda padaku Wook.. Mana mungkin kau seperti itu.. Aishh.. Lebih baik aku memungut foto ini lagi." Ujar Sungmin dengan suara bergetarnya.

Wookie menatap datar Sungmin saat itu.

"Kenapa? Kenapa kau bodoh sekali? Aku tidak pernah menganggapmu teman!"

"Ya Kim Ryeowook! Diam kau!" Suara Donghae menginterupsi Wookie saat itu.

Donghae ikut berjongkok menghadap Sungmin saat itu. Pemuda itu memegang bahu Sungmin dengan erat.

"Min, jangan memungutnya lagi.. Berdirilah.."

"Ahniya Hae.. Aku tahu ini hanya candaannya saja.. Pasti dia akan merasa bersalah padaku setelah ini dan bicara kalau ini semua candaan.. Benar kan Wook?"

Donghae menatap sendu sosok di hadapannya.

Sungmin, kenapa kau begitu menyedihkan.

"Berdirilah.. Tidak ada Ryeowook.. Dia tidak ada.. Kumohon.. Jangan begini.. Dia.. Dia tidak pantas mendapatkan rasa sayangmu.."

Donghae menuntun tubuh itu agar berdiri. Pemuda itu dapat merasakan tubuh mungil itu kini tengah bergetar menahan isak.

Sementara itu Ryeowook masih berdiri disana tanpa suara. Matanya memandangi sosok Sungmin dalam diam.

Donghae menggenggam telapak tangan Sungmin dengan erat dan kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke arah Wookie.

"Dan kau.. Jangan kira jabatanmu sebagai ketua mading sekolah akan selamat setelah kau melakukan hal keji seperti ini terhadap Sungmin. Aku akan melaporkan tindakanmu ini pada pihak Osis dan Guru."

.

.

.

Sosok itu memasuki ruangan tersebut dengan pelan. Setibanya di rumah, Sungmin langsung berlalu ke ruang kamarnya. Dengan ekspresi sayunya dia berjalan menuju ranjangnya dan duduk disana. Sungmin menghembuskan nafas lelahnya saat itu. Dengan gerakan cepat gadis itu mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam tasnya. Sungmin benar-benar mengkhawatirkan sosok itu saat ini, Kyuhyun.

Entah kenapa dirinya merasa pemuda itu sedikit aneh. Nyaris di sekolah hari ini dia tak bertatap muka dengan pemuda tersebut. Dan ketika pulang tadi, dia hanya mampu menghela nafas saat Kyuhyun mengiriminya pesan singkat dan meminta maaf karna dia tidak bisa pulang bersama Sungmin.

Sungmin tak mengambil pusing apa kegiatan Kyuhyun sehingga dia tak bisa langsung pulang. Namun saat sampai di rumah dan tak mendapati sosok itu disana, dirinya mulai cemas. Kemana Kyuhyun?

.

Sosok tinggi itu nampak berjalan pelan menapaki ruas-ruas jalanan yang terlihat sepi tersebut. Kyuhyun berjalan dengan pandangan kosong saat itu.

Seketika Kyuhyun merasakan ponselnya bergetar di kantung blazernya. Dengan pelan pemuda itu merogoh kantungnya dan mengambil benda tersebut.

Kyuhyun tertegun saat membaca nama kontak yang tengah tertera disana.

Sungmin, ini Sungmin.

Kyuhyun nampak ragu untuk menekan tombol hijau disana. Kembali rentetan kejadian yang dirinya alami kembali berputar di kepalanya.

KLIK

Dan pada akhirnya Kyuhyun memilih untuk mengangkat panggilan tersebut dengan mendekatkan benda itu pada telinganya.

"Yeoboseyo?"

Kyuhyun teramat tahu kalau saat ini suaranya terdengar aneh. Bagaimana tidak aneh kalau dirinya tengah menahan rasa yang teramat bergejolak seperti ini di dalam benaknya?

"Oppa, kau.. Baik-baik saja kan?"

Kyuhyun tersenyum lirih mendengar suara itu bertanya padanya. Bertanya akan kondisinya.

Lihatlah Kyu, Sungmin begitu mengkhawatirkanmu. Dan.. Bagaimana denganmu sendiri? Kau hanya mampu bersembunyi dan melihat dari jauh saat sosok itu tengah membutuhkanmu.

"Oppa? Kau mendengarku?"

Kyuhyun merasakan matanya mulai memanas.

Tahan Kyu.. Jangan sampai suaramu terdengar lebih aneh lagi.

"Ne, aku baik-baik saja. Waeyo?"

Di seberang sana, Sungmin nampak tersenyum mendengar suara milik Kyuhyun.

"Ahniya, aku.. Aku hanya ingin mendengarkan suaramu saja."

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya tak kuat.

"Wae? Kau merindukanku?"

Sungmin mengulum senyumnya saat mendengar ucapan pemuda itu.

"Ne, kau dimana sekarang? Kenapa belum pulang?"

Kyuhyun mencengkram telapak tangannya kuat saat itu.

"Aku sedang dalam perjalanan pulang. Kau sudah makan siang? Makanlah, nanti kau sakit."

"Ahniya, aku menunggumu.. Aku ingin makan denganmu. Jadi, kau pulanglah. Agar.. Kita bisa makan bersama."

Dan pada akhirnya airmata itu jatuh juga, Kyuhyun tak mampu lagi menahannya.

Sungmin.. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia lakukan untuk mempertahankan Sungmin?

"Saranghae.."

Sungmin tertegun dan mengerutkan dahinya saat mendengar suara Kyuhyun nampak bergetar saat itu.

"Oppa.. Kau baik-baik saja kan?" Tanya Sungmin dengan terselip nada cemas di suaranya.

"Saranghae Min."

Sekali lagi.

Kyuhyun mengucapkan itu sekali lagi.

Sungmin tersenyum haru mendengar pernyataan itu dari Kyuhyun. Rasanya, semua masalah yang dia alami hari ini menguap begitu saja karna mendengar suara milik Kyuhyun.

"Nado.. Aku juga mencintaimu," balas Sungmin.

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya saat itu. Menahan agar isakan tak keluar dari bibirnya yang tengah bergetar.

"Oppa.. cepatlah pulang. Aku sudah lapar," Ucap Sungmin dengan maksud bercanda.

Kyuhyun menadahkan wajahnya menghadap langit berharap airmata bodoh ini tak mengalir dengan seenaknya.

"Ne, tunggu saja.. Aku akan pulang sebentar lagi."

Sungmin tersenyum lega mendengar penuturan Kyuhyun.

"Ara, aku tutup dulu. Aku menunggumu Oppa."

Setelah mengatakan hal itu, Sungmin langsung menurunkan ponsel itu dari telinganya. Gadis itu langsung meletakkan benda itu di atas meja belajarnya. Menatapi ponsel itu sejenak dan langsung keluar dari kamarnya.

Sementara itu, Kyuhyun masih berdiri di posisi awalnya dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. Pemuda itu nampak kembali tengah merenungkan sesuatu.

Sungmin. Hanya ada nama itu yang tengah berada di kepalanya. Dan Kyuhyun begitu mencintai gadis itu.

"Bisakah kau memahami perasaan Kyuhyun?!"

Kyuhyun yang nampak akan menjauhkan ponsel itu dari telinganya pun sontak kembali tertegun kaku.

Kenapa.. Dia mendengar suara itu dari ponselnya? Apa mungkin..

Dengan gerakan cepat Kyuhyun menatap layar ponselnya. Pemuda itu terkejut saat mendapati panggilan antara dirinya dan Sungmin beberapa saat yang lalu itu belum terputus. Sungmin lupa memutuskan sambungan ponselnya.

Kyuhyun kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

"Aku tahu, aku mengerti.. Tapi, apa aku salah ingin berharap yang terbaik untuknya? Kyuhyun anak kita satu-satunya, aku ingin dia mendapatkan yang lebih baik."

Kyuhyun merasakan tangannya mulai bergetar memegang ponsel tersebut.

Apa ini? Apa kedua orangtuanya tengah membahas masalah dirinya dan Sungmin? Kenapa mereka bisa ada disana? Dan.. Sejak kapan ayahnya kembali?

Oh Tuhan! Sungmin, bagaimana kalau Gadis itu mendengar percakapan tersebut.

.

.

"Dimana Sungmin? Kenapa dia tak ada di kamarnya?"

Ny Cho menatap tajam pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Baru saja suaminya itu tiba, dan entah kenapa pria itu langsung menuju kamar Sungmin.

"Apa? Apa yang mau kau katakan pada Sungmin? Kau ingin menyuruhnya untuk pergi dan menjauhi Kyuhyun?"

"Kenapa kau memandangku sebelah mata sekali? Aku menyayangi Sungmin.. Dia sudah kuanggap seperti anak kandung. Tapi untuk Kyuhyun.. Statusnya akan berbeda.."

.

Sungmin yang baru saja habis dari dapur itu pun kembali akan menuju kamarnya. Tapi langkah kakinya mendadak terhenti saat sayup-sayup suara terdengar di dalam kamarnya.

Itu suara orangtuanya.

Sungmin membawa tangannya menyentuh knop pintu nampak akan segera memutarnya.

Namun lagi-lagi sesuatu membuatnya harus kembali tertegun kaku.

"Apa salah aku ingin melihat Kyuhyun bersanding dengan wanita yang benar-benar sempurna? Aku ayahnya.. Aku menginginkan Kyuhyun mendapatkan hal yang terbaik."

Wajah Sungmin mendadak pucat saat itu.

Apa? Apa yang sebenarnya tengah dia dengarkan ini?

"Sungmin sempurna, dia sempurna di mataku dan kujamin juga akan sempurna di mata Kyuhyun. Bukankah kau menyayangi Sungmin? Tapi kenapa kau tega seperti ini padanya?"

Sungmin melepaskan pegangannya pada knop pintu saat itu.

Tangannya bergetar..

"Aku tahu.. Sungmin anak baik, dia cantik dan lembut. Aku bisa menerimanya dengan tangan terbuka kalau kau ingin menjadikannya anak kita. Tapi untuk menyerahkannya pada Kyuhyun, kau tahu kan? Kyuhyun adalah harta kita. Latar belakang Sungmin tidak begitu bagus. Dia mantan anak panti."

Sungmin mundur selangkah dari posisinya saat itu. Matanya mulai terasa mengabur.

Tidak, jangan! Jangan keluar sekarang airmata bodoh!

TES

TES

Sungmin mengalirkan cairan bening itu juga pada akhirnya, lelehan airmata itu terus mengalir dari matanya yang nampak kosong tersebut.

.

.

Kyuhyun terus berlari dan mempercepat tempo langkah kakinya saat itu. Tidak.. Sungmin tidak boleh mendengar pembicaraan itu. Itu akan melukainya.

Kyuhyun terus berlari, dengan nafas yang mulai tersengal-sengal pemuda itu terus melanjutkan larinya.

Pemuda itu meringis dalam larinya. Dirinya mohon, Sungmin begitu berharga untuknya.

'Sungmin.. Kumohon. Ya Tuhan.. Aku benar-benar memohon.'

PRAK

Dengan brutal Kyuhyun membuka gerbang besar rumahnya dan terus bergerak cepat.

PRAK

Lagi, suara pintu utama yang terbuka itu kembali terdengar.

Setibanya di dalam rumah. Kyuhyun langsung mendongakkan wajahnya menghadap kamar Sungmin yang terletak di lantai dua.

Kyuhyun tertegun kaku saat memandangi sosok Sungmin tengah berdiri diam di depan pintu kamarnya.

'Ya Tuhan, Sungmin!'

.

"Sungmin, sebenarnya kau itu siapa? Kenapa semua orang yang kau sayangi di dunia ini tak menginginkan keberadaanmu?"

Sungmin berujar lirih saat itu. Airmatanya sudah tak bisa ditahan lagi. Wajah itu sudah basah. Benar-benar basah.

Baru pagi tadi dia mendapatkan kenyataan bahwa Sahabatnya, Kim Ryeowook tak benar-benar tulus dengannya. Dan sekarang? Ayahnya.. seseorang yang sudah dia anggap ayah kandungnya kini tengah menolak kehadirannya.

"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Kyuhyun, anak kita."

Kembali suara sang Ayah menembus telinganya. Sungmin memejamkan matanya menahan sesak.

Sungmin menyentuh area dadanya.

Demi Tuhan! Ini benar-benar sesak. Nafasnya sudah tidak teratur lagi akibat menahan isak.

"Kyu.. Kyuhyun-ah.."

Sungmin menyebut nama itu di sela isakannya yang kian menjadi-jadi. Dadanya.. Dadanya berdenyut nyeri.

"Kyuh.. Kyuhyun.. Kumohon.. Kumohon.. Kyuh.." isak Sungmin.

.

SRATTT

.

Sungmin merasakan ada yang menarik lengannya saat itu, menariknya ke dalam sebuah dekapan.

Kyuhyun? Apa itu Kyuhyun?

Sungmin kembali merasakan ada telapak tangan yang tengah menutup telinganya.

"Kumohon, jangan dengar apapun.. Kumohon.. Jangan dengar apapun lagi.."

Suara itu, ya.. Itu suara Kyuhyun.

Yang mendekapnya saat ini adalah Kyuhyun.

"Ini mimpi, kumohon jangan menangis.. anggap saja kau tak mendengar apapun Min. Kumohon.." suara lelaki itu nampak juga bergetar.

Kyuhyun mengeratkan dekapannya pada tubuh Sungmin. Dan telapak tangannya masih menutup erat telinga gadis tersebut.

"Kyuhyun.. Kyuh.. A-aku.. Aku tidak sanggup.. Aku.. Aku tidak kuat mendengarnya.." isak Sungmin saat itu.

Kyuhyun masih menutup telinga Sungmin dengan erat. Pemuda itu juga menangis.

"Jangan mendengarnya.. Jangan.. Kumohon.. Hanya dengarkan aku arachi? Sungmin-ah.. Kau mencintaiku kan? Kumohon.. Jangan menangis seperti ini.."

Suara itu, Suara Kyuhyun terdengar begitu memohon. Pemuda itu tengah memohon saat ini. Memohon agar Sungmin tak menangis.

Sungmin mendongak menatap sosok di hadapannya. Wajah itu, kenapa wajah itu menangis? Demi Tuhan! Ini pertama kalinya dia melihat Kyuhyun menangis.

"Kumohon, hanya dengarkan aku Min. Kumohon jangan dengar apapun lagi."

Sungmin menatap sosok Kyuhyun dengan sendu. Kenapa mata itu menangis? Jangan menangis, dirinya mohon.

"K-kyuhyun.." Panggil Sungmin masih dengan suara bergetar.

Kyuhyun menurunkan telapak tangannya yang sedari tadi menutupi telinga Sungmin tersebut hingga berhenti di kedua sisi pipi gadis itu.

Menangkupnya dan mengelusnya lembut.

"Dengarkan aku.. Hanya dengarkan aku.."

Kyuhyun memandang wajah yang nampak basah akibat airmata itu dengan sendu.

"Aku.. Mencintaimu.. Sangat dan sangat.. Mencintaimu."

Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Sungmin. Membuat gadis itu menutup matanya saat merasakan sentuhan lembut tengah dirinya rasakan di bibirnya.

Airmata Sungmin kembali mengalir saat bibir dingin Kyuhyun menciumnya.

Kyuhyun menciumnya.

Pemuda itu menciumnya.

Menciumnya di rumah mereka.

Menciumnya dengan hanya ada pintu kamarnya yang menjadi pembatas antara mereka dan kedua orangtua mereka.

Ciuman ini masih sama. Kyuhyun selalu menciumnya dengan lembut.. Benar-benar lembut.

Sungmin mulai akan kembali mengeluarkan isakannya saat itu.

Saat ini, dia dapat merasakannya dengan langsung.

Dia bisa merasakannya langsung.

Kyuhyun.. Lelaki itu tengah menciumnya sembari menangis.

Airmata itu.. Benar-benar mengalir dari wajah tampan itu.

.

.

.

Cont-

Maaf ya updatenya lama banget, soalnya aku juga udh kelas 12 dan bentar lagi mau UN.. bukannya males atau apa. Soalnya banyak yang ngeluh ff ini updatenya lama banget.. maaf.