Disclaimer : Masami Kurumada-sensei.

.

"Papa!" anak perempuan berambut pirang itu berteriak saat melihat tubuh ayahnya tertabrak sebuah mobil dan terhempas ke jalanan "Papa!"

Dia berlari mendekat pada tubuh yang berlumuran darah itu, tidak ada balasan dari pria paruh baya itu hanya sebuah gumaman kecil yang menyebutkan nama anaknya "Esmeralda"

.

Semua orang mengerumuni mereka, tapi tidak ada seorang pun yang berani masuk untuk membantu anak itu untuk membawa papanya ke rumah sakit. Orang-orang hanya sibuk melihatnya dan hanya meminta pertanggung jawaban dari sang penabrak.

Bukan, ini bukan salah si penabrak. Ini semua salahnya, salah gadis kecil itu, yang meminta agar ayahnya membelikan sesuatu di supermarket seberang sana. Kalau saja dia tidak egois dan mau sabar menunggu sebentar saja.

"Papa! Siapa saja tolong aku!" dia masih berlutut di sebelah tubuh tak berdaya itu, wajahnya penuh dengan deraian air mata "Papa!"

Dia pikir ayahnya akan berakhir disana, di depan semua orang yang ia tidak kenal. Ia hanya bisa menangis dan menangis, andai saja ia cukup kuat untuk mengangkat ayahnya, tapi apa yang bisa di lakukan oleh anak perempuan berusia 6 tahun.

"Permisi" seseorang masuk ke dalam kerumunan orang itu, seorang pria dengan rambut biru gelap "gadis kecil tenanglah, kita bawa papa mu ke rumah sakit terdekat"

.

"Maafkan saya, tapi saya tidak bisa menyelamatkan nyawanya" hanya itu yang dokter katakan sebelum ia pergi.

Gadis kecil itu menunduk, menutup wajahnya dengan tangan mungilnya membuat air mata keluar dari sela-sela apa yang harus ia lakukan?

Pria itu membelai pelan rambut kuningnya, mencoba untuk membuatnya merasa nyaman, tapi itu sama sekali tidak membantu anak yang baru saja kehilangan ayahnya.

"Dimana ibumu?"

"Mama..sudah tiada sejak aku masih bayi"

Pria itu kaget dan langsung meminta maaf karena telah mengingatkan gadis kecil itu pada ibunya yang sudah tiada walaupun gadis kecil itu pasti memikirkannya "emm..keluarga dekatmu?"

"Tidak ada"

"Bagaimana kalau kamu ikut dengan paman saja? Paman mempunyai dua orang anak, jadi kamu pasti tidak akan kesepian" ucapnya pelan.

Esmeralda menggeleng pelan "aku tidak mau merepotkan paman dan keluarga paman" ucapnya di sela tangisan.

"Paman tidak akan kerepotan, kalau kamu tidak tinggal bersama paman kamu akan tinggal dimana?" tanyanya, mencoba mengingatkan gadis kecil itu kalau dia sudah tidak punya siapa pun di dunia ini.

"Tempat dimana anak yang sudah tidak punya orang tua tinggal" jawabnya yakin walaupun dia masih terisak "panti asuhan"

.

"Ini kartu nama paman, kalau kamu butuh sesuatu telepon saja ya? Sampai jumpa lagi, Esmeralda" pria itu memberikan sebuah kartu putih lalu pergi dari sana.

"Ya, mungkin suatu saat nanti aku akan menghubungi paman" gumamnya pelan sebelum memasuki panti asuhan yang akan menjadi rumah barunya.

Saat itu Esmeralda memutuskan untuk menjadi perawat, dia ingin menolong orang yang membutuhkan bantuannya dan pengurus di panti asuhan itu menyetujui rencananya.

Enam tahun berlalu dan Esmeralda berhasil lulus menjadi perawat di usianya yang kedua belas. Tidak pernah sekali pun ia menghubungi paman yang menolongnya waktu itu. Tidak, dia tidak lupa dengan kebaikkannya dan ingin melupakannya, hanya saja dia ingin menghubunginya saat ia bisa membalas kebaikkan paman itu.

.

Esmeralda menjadi perawat yang sangat di andalkan di tempatnya bekerja, oleh karena itu ia di tugaskan untuk merawat pemuda yang mengalami kelainan jantung sejak ia kecil.

Karena suatu perasaan aneh yang Esmeralda anggap seperti panggilan pun ia menyanggupi pekerjaan itu dengan mantap.

"Saya Esmeralda yang akan merawat anda selama berada disini" Esmeralda memperkenalkan diri pada pemuda berambut hijau yang tampak sangat baik.

"Namaku Shun, salam kenal Esmeralda-san" balasnya ramah, sikap pemuda ini sedikit mengingatkan Esmeralda pada paman yang ia temui 7 tahun yang lalu. Apa lagi saat ia melihat mata hijau Shun.

"Apa dia anak dari paman itu? Tidak mungkin, anak paman itu pasti baik-baik saja" pikir Esmeralda, dia tidak boleh berpikiran buruk.

"Shun!" tiba-tiba saja suara keras terdengar bersamaan dengan pintu di buka dengan kasar dari luar "Shun! Kamu tidak apa-apa kan?"

Seorang pemuda berambut biru gelap yang sangat mirip dengan paman itu masuk dan langsung mengambil tempat Esmeralda. Dia tampak sangat cemas.

"Aduh nii-san, aku tuh gapapa. Nii-san ga sopan tahu maen geser-geser orang kaya gitu" peringat Shun, lalu dia melihat ke arah perawat muda itu "maafkan nii-san ku ya, Esmeralda-san"

Esmeralda sendiri tidak begitu memusingkan kelakuan kakak dari pasiennya, dia terpanah pada penampilan fisik pemuda itu. Rambutnya dan wajahnya sangat menyerupai si paman dan dia tidak bisa menyingkirkan kenyataan itu setelah melihat data Shun.

"Esmeralda-san? Kamu baik-baik saja kan?" tanya pemuda manis itu cemas "nii-san cepat minta maaf"

Pemuda itu mendengus kesal lalu melihat lantai "maaf"

"Tidak apa" balas Esmeralda, dapat dirasakan wajahnya memanas saat itu.

"Bagaimana kalau kalian berkenalan dulu? Kan kalian akan sering bertemu" usul Shun dengan senyuman polosnya.

"Baiklah kalau Shun-san yang meminta" jawab Esmeralda malu-malu "nama saya Esmeralda, perawat yang akan merawat adik anda"

"Jadi kamu yang akan merawat adikku? Sebaiknya kamu bekerja dengan baik disini dan pastikan adikku tidak melakukan hal yang membahayakan kesehatannya" pemuda itu meletakan tangannya pada kedua pundak gadis itu lalu mengguncangnya keras.

"Nii-sannnnn! Hentikan itu, Esmeralda-san bisa langsung berhenti kalau nii-san melakukan hal itu" teriak Shun yang langsung lompat dari tempat tidurnya dan memisahkan kakak dari perawat itu "Tidak apa kan?"

"Iya, aku tidak apa-apa" jawabnya, sepertinya gadis itu tampak sedikit pusing "aku akan keluar sebentar" lalu dia keluar.

"Nii-san sihhhh"

"Kok aku sih? Aku kan hanya ingin kamu baik-baik saja"

.

Tidak salah lagi, mereka berdua pasti anak dari paman itu. Pemuda berambut biru gelap itu mewarisi penampilan dan Shun mewarisi mata dan juga sikapnya.

"Loh Esmeralda, kenapa kamu ada disini?" tanya suara yang sudah sangat lama tidak ia dengar "kamu jadi perawat disini?"

"Ah iya, aku yang akan merawat Shun" jawabnya canggung.

"Begitukah? Kalau begitu aku akan memohon padamu untuk selalu menjaganya selama dia ada disini" ucap ayah dari dua anak itu.

"Aku pasti melakukan yang terbaik"

.

Hari-hari merawat Shun tidak semudah apa yang Esmeralda banyangkan, dia harus berurusan dengan kakak Shun yang brother complex. Esmeralda sadar kalau dia sedikit mempunyai perasaan pada pemuda bernama Ikki itu, tapi dia memutuskan untuk tidak memberitahunya karena suatu hal.

Paman itu dan Shun. Dia harus fokus pada pekerjaannya agar dia bisa memberikan sesuatu pada paman atas kebaikannya waktu itu. Dia tidak mungkin meminta anaknya.

.

"Esmeralda-san, kamu suka sama nii-san ya?" tiba-tiba Shun memanyakan hal yang sama sekali tidak Esmeralda sangka.

Wajah gadis itu memerah "Ti-Tidak kok, kenapa kamu menanyakan itu?"

"Ah Esmeralda-san bohong nihhhh, setiap kali nii-san datang pasti Esmeralda-san lihatin terus dan selalu memperhatikan nii-san kannn" goda Shun.

Dan Esmeralda pun tidak bisa mengelak lagi.

.

"Nii-san, kenapa nii-san tidak pergi keluar bersama Esmeralda-san dan berfoto-foto untuk di tunjukan padaku?" entah dari mana Shun mendapat ide itu, ide yang sukses membuat Ikki terbentur.

"Ha? Maksud kamu apa?" tanya Ikki tidak percaya "buat apa nii-san pergi sama si suster rese itu dan foto-foto sama dia?"

"Shun mau lihat pemandangan luar tahu, nii-san tahu kan kalau aku tidak boleh keluar dari kamar ini barang selangkah pun" peringat Shun lalu memasang jurus puppy eyesnya "ayolah nii-sannn..."

Esmeralda bisa mendengar dengan jelas suara Ikki yang sedang bercakap-cakap dengan adiknya dan dia memutuskan untuk masuk dan pura-pura tidak dengar.

"Shun-san, saatnya minum obat. Ada Ikki rupanya, pantas saja ribut"

"Tuh nii-san, orangnya sudah datang" ucap Shun dengan senyuman malaikatnya "ayo ayo ayo ayo ayo ayo ayo.. Shun mohon dengan sangat, permintaan dari adikmu tersayang"

"Ada apa sih sebenarnya?" tanya gadis itu bingung "Ikki ada urusan denganku?"

"Bukan begitu, Shun ingin aku pergi bersama mu untuk berfoto-foto lalu memberikan hasil foto itu padanya dengan alasan dia tidak bisa keluar untuk melihatnya sendiri" jelas Ikki malas "kalau kamu ti-"

"Kalau itu permintaan Shun-san kenapa tidak? Aku akan sangat senang kalau Shun-san juga senang" jawab Esmeralda antusias, dia sangat senang dengan hal ini sebenarnya "Jadi kemana kita akan pergi?"

Dapat di rasakan pandangan aneh dari Ikki padanya, tapi ia tidak menghiraukannya dan melihat Shun. Tidak dapat menolak permintaan Shun maka Ikki pun setuju.

"Shun-san pasti akan senang kalau dia bisa melihat pemandangan disini" ucap Esmeralda senang, sepertinya dia lupa kalau 'partner'nya hari ini adalah orang yang menjengkelkan "Hey Ikki, sampai kapan kamu akan diam saja disana? Cepat ambil kameramu dan foto"

"Ya ya, aku mengerti" ucap Ikki malas, dia mengambil kamera digitalnya lalu memotret beberapa view untuk di perlihatkan pada adiknya.

Setelah mereka merasa foto-foto itu sudah cukup, mereka beristirahat di bawah pohon rindang yang ada di taman itu sambil melihat foto.

"Ikki, kamu benar-benar menyayangi adikmu ya?" terlihat dengan jelas dari sorot matanya kalau dia kesepian.

"Tentu saja, dia adikku satu-satunya" jawab Ikki dengan nada sangat yakin.

"Dan Shun juga sangat menyayangimu.." terlihat senyum sedih "seandainya saja aku bisa merasakan hal yang kalian rasakan"

"Memangnya kamu tidak memiliki saudara?" tanya Ikki bingung.

Esmeralda menggeleng "aku hanya memiliki ayah, tapi dia tewas karena kecelakaan 7 tahun yang lalu hingga aku di rawat di panti asuhan"

"Maaf, harusnya aku tidak bertanya masalah itu"

"Tapi aku bisa merasakan rasanya mempunyai keluarga saat aku bertemu dengan kalian berdua" jawab Esmeralda memandang fotonya dengan Ikki.

"Oh ya?"

"Ya, aku sangat senang. Shun suka bercerita banyak tentangmu, Ikki yang selalu diam di rumah hanya untuk menemani adiknya, menolak ajakan teman karena sebuah janji yang bisa ia tepati kapan saja"

"Dasar Shun, aku tidak seperti itu"

"Tapi aku percaya pada Shun"

"Karena kalian berdua tidak tahu apa-apa kan tentang apa yang kurasakan sebenarnya"

"Mungkin"

"Esmeralda-san, Ikki-san, kalian di panggil untuk segera ke kamar Shun-san" ucap seorang petugas rumah sakit terburu-buru.

"Shun?" Ikki langsung berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan Esmeralda. Gadis itu tertawa pelan lalu menyusul pemuda itu.

.

"hmm..kalau di lihat-lihat kalian berdua cocok ya"

"Ha? Apa?" wajah Esmeralda memerah saat mendengar ucapan Shun, dia tahu pasti Shun hanya ingin menggodanya.

"Kalian berdua cocok" ulang Shun, dia sangat senang melihat rona merah di wajah perawat itu.

"Jangan bercanda, Shun" teriak Ikki "kalau kamu sudah selesai aku akan pulang dan papa akan menjaga mu untuk hari ini"

"Apa? Papa?"

.

Esmerlda membuka pintu dan sangat terkejut saat melihat keadaan Shun. Dia memeriksanya lalu memanggil dokter.

"Hubungi keluarganya sekarang" perintah si dokter dan Esmeralda pun langsung melesat keluar dari kamarnya.

Dia mengeluarkan kartu nama yang dia dapat 7 tahun yang lalu "Paman, keadaan Shun..memburuk"

"Paman akan kesana sekarang" ucap suara cemas dari seberang sana.

.

"Tuhan, tolong selamatkan Shun" ucapan itu selalu terdengar dari mama Shun, dia hanya bisa duduk lemas di kursi tunggu.

Tidak lama kemudian Ikki sampai dengan wajah cemas, sorot mata penuh ketakutan. Siapa yang tidak takut kalau dia terancam kehilangan adik satu-satunya.

"Bagaimana keadaan adik saya? Dia baik-baik saja kan?" teriak Ikki, sang ayah menahannya.

Dokter itu tampak ragu untuk beberapa saat, dia bisa saja menerima pukulan dari pemuda itu, tapi ini adalah tugasnya "kami sudah melakukan apa pun yang kami bisa, tapi... kami tidak bisa menyelamatkannya"

Tangis ibu dari dua anak itu memenuhi hall yang mereka tempati sekarang, Ikki berkali-kali meninju tembok tak bersalah di dekatnya seakan itu bisa mengembalikan adiknya, bisa membangunkannya dari mimpi buruk yang ia benci.

"Shun..kenapa dia harus pergi?" suara itu terdengar dari paman "dia bahkan tidak pernah keluar dari rumah dan rumah sakit"

Esmeralda datang dengan beberapa lembar surat di tangannya "Maaf, tapi aku menemukan ini di kamar Shun" dia memberikan selembar pada Ikki dan selembar lagi pada orang tua kedua pemuda itu.

Lalu gadis itu pergi dari sana untuk membaca surat dari Shun untuknya.

.

"Dear Esmeralda-san,

Terima kasih atas semua yang telah Esmeralda-san berikan padaku, waktu yang sangat berharga dan tenagamu. Walaupun sangat singkat, Shun sudah menganggap Esmeralda-san sebagai kakakku walaupun usia kita sama. Terima kasih sudah mau melakukan hal aneh yang aku minta seperti pergi dengan nii-san, tapi semua itu kulakukan demi kalian berdua. Aku tidak ingin kalian berdua bernasib sama denganku.. tidak mempunyai teman. Bukannya aku bilang Esmeralda-san tidak memiliki teman, tapi selama di rumah sakit aku jarang melihatmu bicara dengan perawat atau dokter lain dan aku sudah dengar dari ayahku kalau ayah Esmeralda-san kecelakaan dan meninggal 7 tahun yang lalu, ayah bilang kamu tidak perlu membalasnya. Esmeralda-san tidak keberatankan kalau aku meminta permintaan terakhir? Tolong jaga nii-san ya, Esmeralda-san.

Salam sayang

Shun"

.

"Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan untuk Shun-san dan paman" Esmeralda tersenyum melihat surat itu.

Setahun berlalu, Esmeralda berhenti menjadi perawat dan bekerja part-time di rumah sakit itu. Ya, dia tidak ingin membuat Shun kecewa dengan tetap menjalani kehidupan membosankan dengan orang-orang yang lebih tua karena itu dia memutuskan untuk masuk sekolah.

"Terima kasih, Shun. Walaupun kita baru kenal sebentar kamu sudah memberikan hadiah terbaik dalam hidupku" Esmeralda tersenyum memikirkan kehidupan barunya dan melihat pemuda yang ada di sampingnya.

Pemuda itu mengeluarkan selembar foto dari sakunya dan tersenyum. Esmeralda yang penasaran mengentip sedikit.

"Ikki, kamu masih simpan foto itu? Kenapa tidak bawa foto kita dengan Shun yang sedang tidur?" tanyanya "ayo kita pergi ke sekolah"

"Ya, ayo" jawab pemuda bernama Ikki itu.

.

.

Fin~

.

.

Sayaka Minamoto-san : Arigatou.. Shun-nya di hidupkan kembali lalu di hilangkan lagi nih disini, semoga saya tidak menyakiti hatimu ^^

Lizzy-san : Arigatou udah baca fic gajelas saya dan mereview :D

Hicchan : walaupun review iseng tetap arigatouuu XD