Chapter 4 : Gloomy Sunday

Disclaimer : Kuroshitsuji by Yana Toboso

Warning : Yaoi, BL, Sebastian MichaelisxCiel Phantomhive

Genre : AU, Romance, Tragedy

Rating : T

Summary : Mungkinkah hidupku bisa terus berlanjut tanpa adanya kalian disisi ku?

Minggu, 9 Juni 2013, 03.35 pm London

Areal pemakaman yang tengah dilanda hujan, tidak deras hanya hujan kecil dengan langit yang suram dan kelabu hampir sekelabu rambut seseorang yang tengah berdiri di depan dua nisan bertuliskan 'Vincent Phantomhive' dan 'Rachel Phantomhive'. Terus dipandanginya kedua nisan itu seakan tak percaya pada apa yang ada di depannya, rintik-rintik air mulai membasahi rambut kelabu dan tubuhnya dia tetap tak bergeming dari tempatnya.

Dua anak bersurai pirang seumuran dengannya, terus melihatnya di balik paying hitamnya.

"Ciel... Ayo prig nanti kau sakit" Kata gadis blonde dengan nada yang sangat khawatir.

"Biarkan saja" kata pemuda kelabu tetap tak bergerak sedikitpun.

"Ci…" brlum sempat Elizabeth menyelesaikan kata-katanya, pemuda pirang di sampingnya sudah memotongnya.

"Lizzie, sudahlah" katanya sambil menahan Elizabeth yang hendak nenyentuh bahu Ciel.

"Iya.." Lirihnya.

Di balik pohon yang ada dekat betu nisan itu tampak sepasang manik crimson tengah menatapi anak bersurai kelabu dengan tatapan iba.

Flashback

DRET DRET DRET

Lagi-lagi getaran panjang ponsel Ciel mengagetkannya, Alois yang ada disampingnya juga terkejut dibuatnya.

"Ng… Bibi Ann? Ada apa ya?"

"Iya Bi ada apa?" tanya Ciel pada orang yang meneleponnya.

"Ciel! Cepat ke rumah sakit sekarang juga! Ayah dan ibumu kecelakaan" kata wanita itu sambil berusaha menahan tangis.

"A... A... Pa?!"

Tangan mungil Ciel bergetar, selurh tubuhnya gemetaran, Alois yang melihat keadaan Ciel yang tiba-tiba aneh begitu langsung mengambil ponsel di tangan Ciel.

"Halo bibi Ann, ini Alois ada apa?" tanyanya berusaha setenang mungkin, dia sudah merasakan firasat buruk saat melihat kondisi Ciel.

"A... Alois, cepatlah bawa Ciel ke Heaven Hospital sekarang juga, ayah dan ibunya me... mengalami kecelakaan..."jelas sekali terdengar isak tangis yang tertahan oleh wanita di seberang sana.

Tanpa pikir panjang lagi Alois langsung menarik tangan Ciel menuju bagasi mobil, Ciel yang setengah sadar berusaha menganalisis informasi yang baru saja dia terima.

Lima menit kemudian barulah dia mengerti, orang tuanya mengalami kecelakaan saat akan menjemputnya.

Sabtu, 8 Juni 2013, 04.25 pm, Heaven Hospital London

Dua anak muda tengah berlarian di koridor rumah sakit, mereka terus berlari tidak dipedulikannya lagi tatapan kesal orang-orang yang merasa terganggu.

"Itu dia bibi Ann, Ciel" kata Alois sambil menarik tangan Ciel.

"Bibi Ann!" teriaknya saat jarak mereka tinggal lima meter.

Angelina yang melihat Alois dab Ciel berlari kearahnya langsung memeluk Ciel, dia tak snggup lagi menahan tangisnya saat melihat bocah kelabu yang tengah barada di pelukannya itu.

"Bi... bibi... apa yang... sebenarnya terjadi?" kata Ciel terbata-bata katena berusaha menahan bulir asin yang hendak keluar dari pelupuk matanya.

Angelina makin mengeratkan dekapannya, seakan ingin mengatakan 'apapun yang terjadi nanti kau tak akan sendirian.'

"bibi apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya yang telah bisa mengendalikan dirinya.

Alois pun berinisiatif untuk bertanya pada dua dokter yang sangat dikenalnya.

"Paman Alexis, bibi Frances, bagaimana keadaan paman Vincent dan bibi Rachel?" tanyanya berharap akan mendapat jawaban positif dari mereka berdua.

Alexis dan Frances Midford adalah ayah dab ibu dari Elizabeth, sekaligus teman baik orang tua Alois dan Ciel, mereka berkerja sama dalam menganalisis kandungan-kandungan yang terdapat di dalam produk perusahaan ayah Ciel dan ayah Alois. Mereka berdua adalah dokter yang sangat hebat, mereka juga bekerja di rumah sakit Heaven London.

"Mereka kritis" kata Frances tenang walau tidak bisa dipungkiri saat ini matanya sedang berkaca-kaca.

DEG

Ceil yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya dan mendatangi suami istri Midford.

"Boleh aku masuk?" tanyanya.

"Silakan Ciel" kata Alexis sambil tersenyum lembut pada keponakannya yang manis itu.

Ciel membuka pintu, lalu melangkahkan kakinya ke dalam, dilihatnya dua orang yang sangat dia cintai. Ayah dan ibunya yang tengah terbaring lemah di tempat tidur, kondisinya sangat parah dapat dilihat dari selang pernafasan dan alat petnjuk detak jantung yang menunjukan kerja jantung yang kian lemah. Di dekatinya kedua orang tuanya di raihnya sebuah kursi dan diletakkannya diantara kedua ranjang orang tuanya. Diraihnya tangan sang ibu dan dikecupnya dengan lembut. Di lihatnya ayahnya yang tengah terbaring dengan damai.

"Ayah, ibu aku datang..." Lirihnya sambil tertunduk menahan tangis.

"Ngg..." gumam seseorang yang ada di salah satu tempat tidur.

Ciel yang begitu hapal akan suara itu sontak mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang terlihat sangat lemah itu.

"I..Ibu?!" katanya mncoba setenang mungkin agar tangisnya tidak pecah.

"C.. i.. el?" kata Racheal dengan sangat lemah.

"Ma.. afkan... ka.. mi.." sambung sang ibu pada anaknya.

"Sam... pai.. jum.. pa" setelah mengatakan perpisahan sang ibu pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Ciel tersentak, dilihatnya alat petunjuk jantung sang ibu, matanya membulat, jantungnya seakan berhenti berdetak.

Dipandangnya sang ibu yang tengah terlelap dalam damai, belum sempat dia tersadar dari keterkejutannya keadaan sang ayah juga sukses membuatnya terkejut.

Ayah dan ibu tercinta kini telah terlelap dalam damai.

End of flashback

Ditengah hujan di salah satu areal pemakaman London.

Bukan hujan yang deras, hanya rintik kecilbagaikan tangisan dari langit. Rintik kecil itu mampu membuat pemuda ringkih kelabu yang tengah berdiri di antara dua makam itu cukup basah kuyup.

Sepasang ruby yang tengah mengamatinya sedari tadi menghampirinya.

"Phantomhive..." sapanya sambil menghampiri pemuda ringkih kelabu itu.

"Oh, kau tuan berwajah mesum?" balas pemuda kelabu itu.

CTIK

"Phantomhive namaku Sebastian Michaelis!" katanya seraja menahan emosi dan senyum –terpaksa- nan mesum.

"Oh...

Bagiku wajahmu tetap mesum seperti biasa" kata sikelabu sambil tersenyum miris, saat mengucapkan kata 'biasa'.

Ingatan Ciel berputar pada minggu-minggu biasa, akhir pekan yang selalu dia habiskan bersama orang tuanya, kembali terukir senyum yang penuh akan penderiataan menghiasi wajahnya.

Sebastian yang melihat ekspresi wajah yang entah kenapa membuat hatinya, sakit? Ya sakit, sakit sekali saat dia melihat pemuda di depannya ini tersenyum seperti itu, seakan dapat merasakan penderiataan orang yang ada di hadapannya itu.

Tanpa Sebastian dan Ciel sadari, lengan tegap Sebastian terulur dan membawa pemuda mungil itu kepelukan hangatnya. Ya tanpa sadar Sebastian memeluk Ciel dengan amat teramat lembut.

Ciel yang dipeluk dengan lembut itu pun hanya bisa menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sebastian. Matanya panas, sangat panas, sudah berjam-jam dia menahan sesuatu yang akan keluar dari mata indahnya itu. Sebastian menyadari pada apa yang Ciel rasakan.

"Menangislah kalau kau ingin menangis...

Karena itu dapat mengurangi beban yang kau pikul, Ciel" katanya lembut.

Bulir asin yang sudah Ciel tahan dengan keras, akhirnya jatuh membsahi pipinya. Hangat. Ciel mersasakan kehangatan yang mengalir deras di pipinya yang dingin, serta kehangatan yang tubuhnya rasakan.

Mereka berdua larut dalam sebuah pelukan yang hangat. Tak ada niat untuk saling melepaskan, tak ingin kehilangan, itulah yang mereka rasakan.

Sementara salah satu dari dua mahluk pirang yang mengawasi Ciel sedari tadi mulai memulai berbicara pada mahluk yang satunya lagi.

"Ng... Al, bukannya itu Sebastian Miehaelis?" tanya gadis blonde pada pemuda blonde yang ada di sampingnya.

"Ya, kenapa dia memeluk Ciel ya?" jawab sekaligus tanya dari Alois, -pemuda yang ditanya tadi.

~OoO~

Matahari telah kembali ke tempatnya, rembulan naik ke singasana malamnya. Di sebuah ruangan, sebut saja sebuah ruang baca, ruangan itu kini tengah diterangi tiga buah lilin yang terpasang rapi pada tempatnya, dan cahaya rembulan yang menyeruak masuk lewat jendela yang gordennya sengaja dibuka oleh sang pemuda kelabu yang sedang duduk bersandar pada salah satu kursi di ruang baca itu.

Tatapan yang kosong tengah menghiasi manik safirnya.

KRIET

Terdengar bunyi derit pintu yang dibuka dengan pelan, pemuda yang tengah duduk bersandar itu pun mengedarkan pandangannya pada pintu yang kini setengah terbuka, terlihatlah siluet seorang pemuda bersurai pirang yang sangat ia kenal.

"Kau, Alois? Ada apa?" tanyanya, pandangannya dia arahkan pada cahaya rembulan di luar jendela sana.

"Ciel...

Kau, baik-baik saja kan?" tanya pemuda yang di panggil Alois itu. Dia merutuki pertanyaannya barusan di dalam hatinya 'ayolah Alois, mana mungkin Ciel baik-baik saja! Dasar bodoh! Ya kau sangat bodoh Alois' pekik batin Alois.

"Ya, aku baik-baik saja.

Lizzie sudah pulang?" tanya Ciel pada Alois, masih tetap tak mau melepaskan pandangannya dari sang penguasa malam.

"Ya, dia baru saja pulang...

Kau tidak tidur Ciel?" tanyanya lagi, sekarang dia sudah duduk di samping Ciel dan ikut menatap keindahan sang rembulan.

"Aku belum ngatuk, Alois besok kau masuk sekolah?" jawab dan tanya Ciel pada pemuda blonde yang tengah duduk di sebelahnya.

"Ah, entahlah, kau sendiri?" tanyanya.

"Kau ini di tanya malah balik tanya!" jawab Ciel.

"Ehehehe, jadi?" kata Alois meminta pertanyaanya di jawab.

"Mungkin lusa aku bakal masuk, besok aku mau mengurus perusahaan sebentar." Jawabnya.

DEG

Jantung Alois tersa mencelos mendengarnya. 'apa yang kau pikirkan Ciel! Kau mau meneruskan usaha di saat seperti ini! Kenapa kau tidak memikirkan perasaanmu sendiri Ha?!' batin Alois kembali berteriak mendengar pernyataan Ciel.

Phantom Company dan Trancy Company memang rekan bisnis yang sangat serasi. Perusahaan Phantom yang memproduksi berbagai makanan manis seperti permen, coklat, susu dan sebagainya merupakan rekan bisnis perusahaan Trancy yang bergerak di bidang pembuatan es krim.

"Entah kenapa, aku jadi punya firasat kalau mobil yang dikendarai ayah dan ibuku itu disabotase oleh seseorang. Mungkin saingan bisnis ayahku dan ayahmu, dengan mematikan produsen coklat dan susu mungkin dia berfikir itu juga berdampak lumayan besar pada Trancy Company, yah bisa dibilang 'sekali dayung dua tiga pulau terlampaui' aku ingin tahu siapa dalang dari semua ini, waktu itu aku sempat mendengar dari kepolisian kalau mobil yang dikendarai ayah dan ibu remnya sengaja disabotase, ada kemungkinan mobil itu disabotase saat ayah dan ibu berada di Mall. Kau vtahu akan ini kan Alois?" terang Ciel akan rencananya, kalimat terakhir yang meluncur dari mulut mungil Ciel itu sukses membuat Alois seakan berhenti bernafas.

Bagaimana Ciel bisa tahu akan sabotase itu?! Padahal dia sudah meminta pihak kepolisian dan semua orang yang mengetahui hal ini untuk merahasiakannya dari Ciel. Dia tidak ingin Ciel bersikap seperti ini, kalau Ciel sudah serius seperti ini dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa mendukungnya walau itu pasti akan sangat membahayakan Ciel, tapi Alois akan melakukan apapun untuk sahabat terbaiknya yang satu ini.

"Maafkan aku Ciel..." lirih Alois saat menjawab pertanyaan Ciel.

"Haaah~

Kau harus membantuku besok oke? Aku butuh bantuanmu" katanya.

Saat mendengar pernyataan itu wajah Alois kembali cerah.

Apapun akan kulakukan untuk membantumu Ciel!" jawabnya mantap.

To Be Continued

Huaaaaaaaa akhirnya kelar juga, saya jadi nangis kalau mengbayangin ada di posisi Ciel saat ini, jujur saja saya sendiri merasa gak enak bikin Ciel menderita kayak begini –plak-.

Tapi biar ceritanya gak ngebosenin saya jadi bikin kayak gini *walaupun tetep aneh*

Tetep mohon reviewnya ya *bungkuk* ^^