Chapter 5

Disclaimer : Kuroshitsuji © Yana Toboso

Warning : Yaoi, BL, SebastianxCiel, ClaudexAloisxLizzie

Genre : AU, Romance, Tragedy

Rating : T

Summary : "Semua yang telah hilang tidak akan pernah kembali", termasuk senyuman...

Akhirnya update juga ehehehe, saya kembali melanjutkan cerita nista ini lagi ehehehe

Mohon dibaca ya semua ^^


Chosaku-ken, Leony-chan GabyNez

Maksih reviewnya ^^

Review lagi ya ^^


"Maafkan aku Ciel..." lirih Alois saat menjawab pertanyaan Ciel.

"Haaah~

Kau harus membantuku besok oke? Aku butuh bantuanmu" katanya.

Saat mendengar pernyataan itu wajah Alois kembali cerah.

"Apapun akan kulakukan untuk membantumu Ciel!" jawabnya mantap.

"Terima kasih Al..." gumam Ciel pelan.


Senin, 10 Juni 2013, 09.00 am.

"Ng... Elizabeth Midford..." kata seorang pria berrambut revan dengan manik crimson menghampiri seorang gadis blonde yang tengah memikirkan kedua sahabatnya.

"Eh?! Ya, maaf, ada apa Michaelis-san?" tanya Elizabeth yangtelah kembali(?) dari lamunannya.

"Err- apa Phantomhive, baik-baik saja?" tanya Sebastian yang agak sedikit ragu.

"Tenang saja Sebastian, boleh kupanggil begitu?, Ciel dia baik-baik saja, dia anak yang kuat..." jawabnya yang berusaha mengeluarkan senyum terbaiknya.

"Syukurlah kalau begitu... ng... apa aku boleh minta tolong padamu?" tanya Sebastian –lagi-.

"Minta tolang apa Sebastian?" tanya Elizabeth yang sudah dibuat penasaran karena melihat rona merah menghiasi wajah pucat Sebastian.

~OoO~


Di sebuah pabrik coklat ternama di London tengah terlihat seorang bocah kecil, -eh, salah- ehem- tengah terlihat seorang pemuda dengan surai kelabu dan sebiru lautan, sedang memberi pengarahan pada para pegawai yang ada disana.

"Walau pun kepala keluarga Phantomhive telah tiada, tapi bukan berarti kalau bisnis ini telah runtuh, karea mulai hari ini, akulah Ciel Phantomhive yang akan menjadi kepala keluarga sekaligus penerus usaha ini!" kata pemuda yang ternyata Ciel Phantomhive yang tengah menyatakan dirinya sebagai kepala keluarga Phantomhive.

"Mau apa anak kecil ini disini?" tanya salah satu pegawai pada seorang pegawai lainya.

"Aku juga tidak tahu, tapi apa dia tidak sedih dengan menyatakan hal ini, bukankah orang tuanya baru-" jawab pegawai yang ditanya, namun belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya seseorang telah mengiterupsinya.

"Aku kesini untuk memberi tahu kalia semua kalau aku yang akan meneruskan usaha ini, dan... tidak ada waktu untuk bersedih, selama dunia masih perputar dengan kejamnya" jawabnya yang tidak lain tidak bukan adalah Ciel.

Dua pegawai itupun hanya bisa menunduk dalam mendengar jawaban dari seorang Ciel Phantomhive, hanya ada satu hal yang dipikirkan semua orang yang ada disana, kecuali Ciel.

'Anak ini terlalu keras pada dirinya sendiri' pikir semua orang yang ada di sana.

"Alois, ayo pualng" kata Ciel yang telah melangkah keluar dari ruangan itu.

"Haaahh~ Ciel, ini penghinaan buatku!" kata Alois yang telah menyusul Ciel dan berjalan disampingnya.

"Kenapa?" tanya Ciel.

"Kenapa kau malah memintaku untuk menjadi 'sopir'-mu siiiiihhhhh!" rengek Aloisyang sukses membuat Ciel harus menghela napas sexi –plak-

"Bukannya kau bilang akan melakukan apapun untukku?" kata Ciel datar.

"Tapikan... haah, ya sudahlah!" jawab Alois dengan wajah merengut.

~OoO~


Senin, 10 Juni September, 2013, 04.40 pm.

Saat ini Ciel dan Alois telah kembali kerumah mereka, Alois yang merasa bosan dengan suasana hening pun mulai membuka pembicaraan.

"Ng... Ciel..." kata Alois memulai pembicaraan.

"Apa?" jawab Ciel ketus.

"Ng... kemarin saat... ng..." kata Alois lagi, dia terlihat ragu untuk mengatakannya.

"Lanjutkan Al! Jangan membuatku menunggu!" kata Ciel yang mulai kesal.

"Anu, se..sebenarnya apa hubunganmu dengan Sebastian Michaelis itu, kenapa kemarin kalian..." kata Alois yang sudah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, wajahnya sudah memanas karena memikirkan alasan mengapa seorang Ciel Phantomhive yang mengklaim bahwa Sebastian Michaelis itu adalah 'musuh' sampai melakukan adegan mesra dibawah hujan kemarin –plak-.

"A... a..." jawab Ciel yang entah mengapa serasa membeku dan suaranya tidak bisa keluar, entah malu atau kesal Ciel berani jamin kalau dia sampai bertemu dengan Sebastian Michaelis saat ini, dia akan pingsan atau pura-pura pingsan untuk menghilangkan rasa tak nyamannya ini.

TING TONG

Bunyi bel pintu membuat Alois dan Ciel sadar dari alam bawah sadarnya.

"Biar aku yang buka, itu pasti Lizzie." Kata Ciel, berhubung dia tidak mau melihat Alois dan Lizzie bertengkar di depan pintu, dia juga ingin menenangkan hatinya yang kacau dengan melihat senyum ceria dari Elizabeth.

Ciel berjalan menuju pintu depan rumahnya, saat dia membuka pintu, terlihatlah sosok gadis Blonde yang tengah tersenyum lebar kearahnya.

"Ehehehe, hai Ciel, aku punya tamu untukmu ^^" kata Elizabeth dengan senyum lebarnya, selebar jidat Claude *dilemparin pisau oleh Claude*.

"Eh.. siapa?" tanya Ciel yang sudah mengerutkan dahinya.

"Ayo kemarilah~~" kata Elizabeth sambil menarik lengan seseorang yang lebih tinggi darinya.

'Ya Tuhan, ke.. kenapa dia ada di sini?!' batin Ciel yang mulai kalap, dia sudah merasakan wajahya yang memanas dan kepalanya yang pening karena malu yang ditanggungnya amat teramat besar.

"Hai pendek, aku datang berkunjung" kata pemuda tinggi itu.

"Te... terima kasih..." jawab Ciel sambil mengeluarkan senyum terpaksanya, dahi yang berkedut karena dikatai pendek, serta wajah yang memerah karena malu + marah.

"Ciel, kami belah masukkan?" tanya Elizabeth yang sudah lelah berdiri.

"Eh, ah- tentu saja kan?" kata Ciel dengan santainya, seakan lupa pada kemarahannya barusan.

Setelah elizabeth dan Sebastian memasuki kediaman Ciel dan Alois, Alois menyambut mereka.

"Eh, ternyata Sebastian Michaelis ikut bersama dengan Lizzie?" kata Alois.

"Ya" jawab Sebastian singkat.

"Oh" balas Alois, terdengar nada tidak suka saat dia mengatakannya, dan menaiki tangga setelah itu memasuki kamarnya dengan santainya.

"Dia kenapa? Apa aku bersalah padanya?" tanya Sebastian pada Ciel, yang ditanya hanya bisa menahan tawanya.

"Dia CEMBURU karena kau kesini bersama Lizzie" jawab Ciel sambil memandang jahil pada Lizzie.

"Kau ini Ciel, sudah ah, aku mau bikin minum dulu!" balas Elizabeth yang tengah blushinng.

"Ahahaha, dia mau bikin minum padahal 'kan dia belum tanya kau mau minum apa?" kata Ciel sambil tertawa –penuh paksaan.

"Tidak usah pura-pura" kata Sebastian sambil memeluk Ciel.

"Lepas- LEPASKAN AKU!" BENTAK Ciel pada Sebastian.

"Kenapa? Bukankah kau sedang bersedih? Tidak perlu memaksakan diri" kata Sebastian, meski tenang tetap terlihat kilatan amarah dimanik crimsonnya.

"Aku tidak se'lemah' itu Sebastian Michaelis!

Lagi pula apa urusanmu? Ini tidak ada hubungannya denganmu Sebastian!" kata Ciel yang mulai meninggikan suaranya satu oktaf.

"Ciel, aku hanya ingin menghiburmu, membuatmu tersenyum..." kata Sebastian lembut.

"Hahahaha! 'menghiburku' kau bilang?! 'tersenyum' kau bialng?!

Kuberi tahu satu hal Sebastian!

Apa yang telah hilang tidak akan kembali lagi!

Termasuk senyuman..." kata-kata Ciel yang tinggi itu tiba-tiba melemah saat mengucapkan kalimat terakhir, pundaknya bergetar matanya mulai memanas.

Sungguh pemandangan yang membuat Sebastian tak bisa menahan diri. Ditariknya tubuh mungil Ciel dan tanpa Ciel duga Sebastian menciumnya, bukan di kening atau di pipi yang sering dilakukan oleh ayah, ibu dan bibinya. Tapi saat ini sebastian tengah mencium bibir mungilnya.

Awalnya Ciel ingin melepaskan diri dari Sebastian, tapi perasaan hangat yang menyelimutinya, membuatnya mengurungkan niatnya. Sepertinya Ciel mulai nyaman akan ciuman lembut Sebastian, ini terbukti karena Ciel mulai mennutup matanya dan mulai menikmati ciuman mereka.

Alois yang keluar kamar –karena ada hal yang ingin ditanyakan pada Ciel– begitu terkejut pada pemandangan yang dilihatnya pertama kali ini.

"AP-" kata-katanya terpotong oleh pernyataan yang didengarnya dari gadis yang sangat dikenalnya.

"Sebastian menyukai Ciel" kata gadis itu yang telah berada disamping Alois.

Alois menatap gadis pirang itu dengan tatapan –dari-mana-kau-tahu-?-, seakan bisa membaca apa yang di pikirkan Alois, Elizabeth menjawabnya dengan santai.

"Sebastian menceritakan tentang perasaannya pada Ciel, padaku tadi pagi." Jawabnya yang terus menatap pemandangan di lantai satu.

"Benarkah?" tanya Alois denga tampang yang makin bingung.

"Ya Al, lagi pula coba kau lihat Ciel dia terlihat nyaman saat berada di dekat Sebastian." Jawab Elizabeth yang masih tetap memandang kedua insan yang ada di bawah mereka.

"Ya, kau benar, dan kita hanya bisa melihat mereka berdua dari kejauhan, lagi..." gumam Alois.

"Tenanglah Al, lagipula sepertinya cuma Sebastian yang mampu menghibur Ciel" kata Elizabeth.

"Ya, kau benar..." lirih Alois yang merasa dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk sahabatnya tersayang.

To Be Continued


Tolong reviewnya ya ^^