Prolog

LOVE'S DESTINY

Pair : YeWook (pair bertambah seiring chapter)

Cast : -Kim Jongwoon (N)

-Kim Jaejoong (Y)

-Jung Yunho (N)

-Park Yoochun (N)

-Lee Hyukjae (N)

(Bertambah setiap chapter)

Disclaimer : Para cast adalah milik Tuhan Yang Maha Esa, dan saya hanya meminjam nama mereka.

Warning : Genderswitch

Rate : T ( bisa berganti seiring waktu, bisa juga tidak )

Summary :"Kim Jongwoon-ssi? Nde...Nuguya? Kau harus ikut dengan kami, kau adalah pewaris Kim Department store. MWO?!" (mianhe, kalo summary-nya jelek. Saya author baru)

"Buang bayi itu!" bentak seorang namja tua membelakangi yeoja yang dibentaknya.

"Tapi appa.."

"Buang bayi itu atau aku akan membunuhnya beserta namja tak tahu diri itu!" potong namja tua itu yang kini sudah menghadap ke arah putrinya. Wajahnya sangat merah karena menahan amarah.

"Appa kumohon jangan begini. Aku sangat mencintainya appa." mohon yeoja tersebut. Pipinya sudah basah karena air matanya yang terus mengalir tanpa henti.

"Kau harus memilih salah satunya, Jaejoong-ah" ucap sang appa sebelum berlalu meninggalkan Jaejoong sendirian dalam ruangan tersebut.

-di depan sebuah panti asuhan-

Hari sudah sangat gelap ketika Jaejoong pergi ke salah satu panti asuhan di daerah Cheonan. Jaejoong takut apabila appa-nya akan tetap mengusik kehidupan bayinya meski ia telah membuang bayinya. Meskipun hatinya sangat sakit bagaikan disayat oleh ribuan belati namun ia tidak memiliki pilihan lain. Hanya ini jalan keluar yang dapat diambilnya agar kedua orang yang amat dicintainya dapat selamat.

"owee...owee..." tangis seorang bayi akhirnya dapat memecahkan keheningan malam yang begitu gelap dan dingin

"sssh...uljima chagi-ah. Mianhe, umma tidak punya pilihan lain. Umma mohon jangan membenci umma karena sudah membuangmu. Hiks ..." tangis Jaejoong pun pecah. Ia tak mampu menahan rasa sakit di hatinya lagi.

"Mianhe, jeongmal mianhe, umma sangat menyayangimu chagi-ah. Saranghae Kim Jongwoon." Jaejoong akhirnya melatakkan bayinya di depan pintu panti asuhan tersebut. Begitu ia mendengar ada suara langkah kaki dari dalam panti, Jaejoong langsung berlari sekuat tenaga dari tempat itu agar tidak ada yang melihatnya.

KRIET

"OMONA! Anak siapa ini?" Ucap seorang yeoja yang saat ini hanya menggunakan baju piyama.

"Owee...owee..."

"Cup cup.. Siapa namamu nak? Oh, ada suratnya."

"Mianhe jika aku merepotkan panti asuhan ini. Kumohon jaga anakku hingga ia dewasa. Jangan biarkan ia tumbuh tanpa kasih sayang. Jangan biarkan ia merasa sedih karena tidak punya orang tua. Sekali lagi kumohon jaga anakku dan beri ia nama Kim Jongwoon. Kamsahamnida."

"Jadi namamu Kim Jongwoon. Baiklah Jongwoon-ah selamat bergabung dengan panti asuhan ini."

-skip time, at cafe-

"Jaejoong-ah.."

"Yunho-ya, sebaiknya kita akhiri semuanya." Jaejoong memotong perkataan yunho. Matanya sudah mulai memerah karena ingin menangis. Ia tidak ingin melakukan ini, tapi sekali lagi kenyataan mengingatkannya bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.

"Apa yang kau katakan? Jika kita mengakhiri semua ini, bagamana dengan anak kita?"

"Aku sudah membuangnya."

"MWO?!" Yunho menatap nanar Jaejoong. Yunho sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh yeoja yang duduk di hadapannya. Yeoja yang amat dicintainya. Yeoja yang selama ini telah mengisi hatinya. Dan yeoja yang telah melahirkan anak mereka. "Apa yang kau pikirkan? Bagaimana bisa kau membuang anak kita?"

"Aku tidak punya pilihan lain! Appa mengancamku!"

"Lalu kenapa kau tidak membicarakannya dulu denganku?!"

"Kau tidak mengerti Yunho-ya, kalau aku tidak membuangnya appa akan membunuh kalian berdua."

"Lebih baik aku mati daripada anak kita harus tumbuh dewasa tanpa kasih sayang orang tua."

"Kau tidak perlu khawatir mengenai hal itu aku meletakkannya di depan panti asuhan, jadi cepat atau lambat pasti akan ada orang yang mengadopsinya."

GREP

"Ikut denganku."

"Kau mau apa?" Jaejoong berusaha melapaskan gengaman Yunho. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan oleh namja itu.

"Kita kembali ke panti asuhan itu lalu mengambil anak kita kembali." Begitu mereka keluar dari cafe, dengan cepat Yunho memasukkan Jaejoong ke dalam mobil, mendudukkannya di kursi penumpang. Begitu Yunho sudah memasuki mobilnya, ia segera membawa mobilnya dengan kecepatan yang membabi buta. "Katakan kau meletakkannya di panti asuhan mana."

"Kumohon hargai keputusanku."

"Aku tanya dimana?!"

"Hiks...Yunho-ya..."

TEEEET TEEET

CKIT!

BRAAK!

-skip time-

"Mianhe chagi-ah, kalau saja appa tidak keras kepala mungkin semua ini tidak akan terjadi. Appa benar-benar menyesal." Sesal namja tua itu. Sekeras apa pun sikapnya, ia tetap menyayangi putri semata wayangnya

"Sajangnim."

"Ada apa Yoochun?"

"Saya tahu saya lancang tetapi saat ini anda tidak memiliki satu pun pewaris kecuali putra nona Jaejoong." Jelas namja yang diketahui bernama Park Yoochun tersebut. Ia adalah satu-satunya orang kepercayaan yang dimiliki oleh appa Jaejoong dan juga merupakan sahabat baik Yunho dan Jaejoong.

"Ne, aku tahu itu. Aku rasa kau juga sudah tahu apa yang harus kau lakukan selanjutnya. Cari anak itu. Cari cucuku Kim Jongwoon."

"Ne, sajangnim."

22 tahun kemudian

Niga aniyeon andwae

Neo eobsin nan andwae

Na ireoke haru handareul tto illyeoneul

Na apado joha

Nae mam dachyeodo joha nan

Geurea nan neo hanaman saranghanikka

Di tengah-tengah kerumunan orang, terlihatlah seorang namja sedang bernyanyi sambil bermain gitar. Suaranya baritone-nya seakan menghipnotis semua orang yang memperhatikannya. Ditambah dengan wajah tampan sang namja beserta mata sipitnya yang bagaikan bulan sabit, membuat semua penontonnya tidak ingin beranjak sedikit pun dari tempat itu.

PRIIT!

"Aish." Gerutu namja tampan tersebut hampir bosan mengalami hal-hal seperti ini.

"Yak, kau, siapa yang mengijinkanmu mengamen di sini?"

"Memangnya salah aku kan hanya mencari uang untuk makan."Protes namja itu."Apa bedanya denganmu yang mencari uang menjadi petugas keamanan?"

"Bedanya adalah kami rajin dan kau malas. Dan hanya orang malas sepertimu yang mencari uang dengan mengamen dijalanan."

"Jadi maksudmu aku ini malas."

"Tentu saja, ayo ikut denganku ke kantor polisi."

"Aish." tiba-tiba namja itu mendapatkan suatu ide cemerlang namun sudah pasaran (?) "MWO?! Apa itu?"

Tiba-tiba ia menunjuk ke sembarang arah seakan-akan ada sesuatu yang mengejutkan sehingga petugas itupun menoleh mengikuti arah tangan namja itu. Mendapat kesempatan yang sangat bagus, ia langsung berlari menerobos kerumunan orang yang juga sempat menoleh ke arah yang sama dengan yang ditunjuknya tadi.

"Apa yang kau tunjuk? Yak, jangan lari kau!"

Ia terus berlari menjauh dari petugas tersebut sambil berkali-kali menoleh ke belakang hanya untuk memastikan apakah petugas itu masih mengejarnya atau tidak, tanpa menyadari dihadapannya ada seseorang yang sedang berjalan kearahnya.

BRUGH!

"Yak, Yesung hyung kenapa kau menabrakku?" Omel namja yang baru saja ditabrak oleh namja yang bernama Yesung.

"Hyukie, kenapa kau malah tiduran di jalan begini?"Tanya Yesung dengan wajah super polosnya.

"Aku yang bertanya kenapa kau malah bertanya balik?" Rasanya darah Hyukie atau yang lebih dikenal dengan nama Eunhyuk ataupun Lee Hyukjae sudah mencapai ubun-ubunnya saat ini. "Dan aku bukan sedang tiduran di jalanan tapi kau yang menabrakku!"

"Oh, mianhe. Lebih baik kita segera lari dari sini sebelum.."

"Sebelum apa haah?"

Terlambat. Petugas keamanan itu sudah mencengkram baju Yesung dengan kuat.

"Ayo ke kantor polisi. Kau juga ikut denganku." Ucap petugas tersebut kemudian mencengkram baju Hyukie.

"Mwo?! Kenapa aku juga dibawa?"

-di tempat lain-

Drrt drrt

"Yeoboseyo" sapa Yoochun

"..."

"Ne, arasso. Saya akan segera ke sana." Yoochun langsung menutup telponnya dan segera baranjak ke dalam suatu ruangan yang sepertinya adalah ruang kerja.

"Sajangnim, saya sudah menemukannya."

"Tunggu apalagi, cepat bawa anak itu kemari."

"Ne."

"Akhirnya setelah 22 tahun aku bisa membayar kesalahanku di masa lalu."

-kator polisi-

"Yak, sampai kapan kami akan ditahan di sini? Kenapa aku juga ikut ditahan? Aku bahkan tidak melakukan apapun." Bela Eunhyuk yang lebih terkesan seperti membela diri sendiri.

"Hei monyet jelek, diam sedikit bisa tidak! Kau ini berisik sekali."

"Mwo? Hei hyung kepala besar, ini semua salahmu. Kalau bukan karena kau mungkin aku sedang bersenang-senang di luar sana."

"Bersenang-senang dengan siapa, teman sebangsamu?"

"Yak kalian berdua diamlah! Cepat berikan KTP kalian." Petugas tersebut akhirnya membentak mereka karena kesal dengan kelakuan mereka berdua.

"Ahjussi, sampai kapan kami akan ditahan disini?" Tanya Eunhyuk entah untuk yang keberapa kalinya.

" Kalian akan ditahan selama 24 jam kecuali jika ada yang datang untuk melepaskan kalian."

Tiba-tiba ada dua orang berbadan kekar memasuki kantor polisi tersebut lengkap dengan jas hitam dan kacamata hitam persis seperti bodyguard. Dibelakangnya ada seseorang yang juga menggunakan jas hitam namun tidak menggunakan kacamata hitam. Penampilannya lebih terlihat seperti seorang pengusaha kaya. Ya, dia adalah Park Yoochun.

"Kalian siapa dan ada perlu apa kemari?" Tanya petugas yang tadi mengurusi masalah Eunhyuk dan Yesung.

"Kami kemari untuk membayar jaminan seseorang yang bernama Kim Jongwoon."

"Ooh silahkn urus disebelah sana."

"Mwo? Yesung hyung, kau kenal mereka?"

"Aniyo"

"Ya, kau ini kepedean sekali. Yang mereka cari itu seseorang yang bernama Kim Jongwoon bukan kau."

"Hahaha, itu namaku. Coba saja ahjussi lihat di KTP-ku."

"Mwo? Jadi namamu yang sebenarnya Kim Jongwoon. Lalu kenapa namja ini terus memanggilmu Yesung?"

"Ahjussi, apa dalam hidupmu kau tidak pernah mendengar yang namanya nama panggilan?" Ledek Yesung pada petugas yang nampaknya otaknya hanya setengah itu.

"Permisi, saya sudah membayarkan jaminan Kim Jongwoon-ssi jadi bolehkah saya membawanya sekarang?"

"Ne silahkan."

"Mwo?! Hanya Yesung hyung yang dibayarkan?"

"Kalau bayaran Hyukie tidak dibayar aku tidak akan pergi."

"Tenang saja Kim Jongwoon-ssi, saya juga sudah membayar uang jaminan Lee Hyukjae-ssi. Maka dari itu anda harus ikut dengan kami. Dan maaf Hyukjae-ssi tapi anda tidak bisa ikut dengan kami, ini urusan pribadi." Seakan tahu apa yang akan dikatakan oleh Eunhyuk, Yoochun langsung memotong Eunhyuk bahkan sebelum ia sempat berbicara.

"Arasso. Hyukie pulanglah dulu sampaikan pada ahjuma, aku akan pulang terlambat."

"Ne, hyung."

Yesung pun keluar mengikuti Yoochun dari belakang menuju sebuah mobil hitam yang sudah terparkir di depan kantor polisi. Yesung pun masuk ke dalam mobil mengikuti Yoochun.

"Sebenarnya kalian siapa dan ada perlu apa denganku?"

"Kami orang suruhan kakek anda,tuan. Dan anda akan segera tahu apa tujuan kami membawa anda ketika kita sampai di rumah."

'Kakek?' Batin Yesung penuh kebingungan. Bagaimana bisa ia punya seorang kakek, pasalnya sejak bayi ia sudah tidak punya siapa-siapa dan inilah yang membuatnya selalu diejek sejak kecil.

'Apa mungkin dia kakek kandungku?'

"Ahjussi berapa umurmu? Kenapa bahasamu formal sekali padaku?"

"Hahaha ini bukan soal masalah umur tapi jabatan kitalah yang mengharuskan saya menggunakan bahasa formal."

"Jabatan? Aku bahkan tidak bekerja, bagaimana bisa punya jabatan? Apa itu artinya jabatan ahjussi lebih rendah daripada pengangguran?" Tanya Yeusng dengan wajah super polosnya.

"Hahahaha anda sungguh lucu tuan."

"Ya, aku serius ahjussi."

"Sudah kubilang, anda akan mengetaui semuanya begitu kita sampai di rumah kakek anda begitu pula mengenai masalah saya yang menggunakan bahasa formal pada anda."

"Aish, dasar ahjussi pelit."

-skip time-

Kedua mata Yesung langsung membulat dan tak lupa mulutnya yang menganga lebar mengundang masuknya lalat ketika mereka mulai memasuki kediaman kakek Yesung.

"Ahjussi, sebaiknya kau jujur sekarang juga. Siapa sebenarnya kakekku?" Mata Yesung masih tetap melotot memandangi rumah mewah yang sudah tersaji di hadapannya.

"Yah karena kita sudah sampai aku rasa tidak ada salahnya mengatakannya sekarang. Kakekmu adalah pemilik dari Kim Department Store dan kau sebagai cucu tunggal sudah pasti kau juga menjadi pewaris tunggal dari Kim Department Store."

Yoochun menjelaskan dengan singkat, padat, dan jelas. Dan sekali lagi membuat mata Yesung membulat dan menganga lebar. Dan hanya satu kata yang mampu diucapkan olehnya...

"MWO?!"

.

.

.

.

TBC.

Mianhe kalau ceritanya jelek, tapi paling tidak yang sudah sempat baca harap review ya. Dan harap maklum soalnya saya author baru disini.

Gomawo ^_^