Tahukah kamu tentang 'Necroxirmus Project', yaitu proyek percobaan untuk membuat manusia berkuatan ganda yang gagal 200 tahun yang lalu? Proyek itu tidak gagal, melainkan ditindaklanjutkan di masa depan 800 tahun kemudian dan berhasil. Proyek itu kini melahirkan seorang 'manusia brutal' ke masa sekarang.―


.

.

Necroxirmus

.

Necro Capitel 4.

.

Made By © IllushaCerbeast.

.

Cardfight! Vanguard © Not Ours.

.

Rate: T/M(maybe can change).

.

Pairing: KaiPsyAichi, minor another pairing(still secret).

.

Genre(s): Romance, Mistery, Crime, A bits Humor.

.

WARNING(s): OOC, AU, Non-Canon, Misstypo, Fail Romance, LIME, Yaoi, Shounen-Ai, and all.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

Enjoy~

.


"AICHI!" teriakan itu bergemah di gendang telinga Aichi, namanya disebut seseorang... seseorang yang entah mengapa penting baginya. Kai... Ya, Kai yang barusan berteriak, nada teriakan yang terdengar parau dan penuh rasa khawatir. Aichi menjadi berkeringat dingin, ia takut. Takut sekali. Aichi takut kalau sampai Kai menemukannya dalam sosok seperti ini. Sosok Necroxirmus yang sesungguhnya,

"Ini bukan saatnya memikirkan orang lain, hei, Necro..." mendengar itu Aichi langsung membalikan wajahnya kembali menatap sosok misterius itu. Mata Aichi membulat begitu sosok itu langsung melayangkan tonjokan tepat di wajahnya, sedetik itu juga Aichi langsung menghindar dan melompat ke samping kanan, mencari jarak sejauh-jauhnya dari orang misterius tersebut.

"Brengsek, sebenarnya kau itu siapa, hah!?" bentak Aichi dengan kilat iris birunya yang melambangkan penuh amarah. Tapi apa daya, sosok di hadapan Aichi tidak bergeming, menatap datar Aichi dengan tatapan mencekam dan ingin membunuh. Hening beberapa detik, kemudian sosok itu kembali membuka mulut untuk berbicara pelan...

"Lain kali kita pasti akan bertemu lagi, tapi sebelum berpisah..." dengan gerakan cepat, sosok itu berlari ke arah Aichi dan mencengkram kepala anak itu. Sialnya Aichi terlambat menghindar, cambuk-cambuk besar di belakang punggung Aichi pun bergerak hebat untuk menyerang figur misterius itu. Tapi terlambat karena...

"SA―SAKIT! AAAAKKH!" dengan itu… pandangan si bluenette menjadi rabun dan gelap.


NECROXIRMUS


"Toshiki, apa kau yakin ia tidak apa-apa? Kita bawa ke rumah sakit saja, mama khawatir sampai dia kenapa-kenapa," ujar seorang wanita berambut cokelat muda dengan raut wajah cemas. Ia menatap putranya yang duduk di jok belakang taksi dengan memangku kepala Aichi yang masih tergeletak lemah tidak sadarkan diri.

"Kurasa jangan dulu, ma. Lebih baik kita panggil dokter pribadi ke rumah nanti," balas Kai merasa kurang setuju dengan pendapat ibunya, walau ia tahu ibunya sama khawatir dengan Kai sendiri, mengingat kondisi Aichi yang seperti diambang koma. Kai membelai lembut helaian rambut biru itu, memandang kedua kelopak mata Aichi berharap anak itu tersadar.

Kai tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi, padahal ia tahu Aichi bukanlah tipe anak yang lemah dalam segi apapun. Ia begitu terkejut begitu diberitahukan seorang petugas bioskop bahwa Aichi tidak sadarkan diri di dekat toilet. Dengan tergesah-gesah, ia dan ibunya langsung berlari menghampiri tempat Aichi berada. Si brunet coklat terus meneriaki namanya, tapi tidak ada jawaban dari Aichi dalam segi apapun. Anak itu pingsan layaknya putri Aurora yang baru saja tertusuk jarum terkutuk. Sampai sekarang dalam perjalanan pulang pun, tidak ada tanda-tanda baik dari Aichi. Anak itu terus tidur dalam pingsannya. Kai menjadi cemas sendiri.

Taksi yang disewa mereka pun sampai ke rumah dalam hitungan 20 menit lebih. Dengan cepat, Kai langsung menggendong tubuh mungil itu masuk ke rumahnya, diikuti ibunya yang baru selesai membayar jasa taksi tadi.

"Bertahanlah, Aichi, kau pasti kuat..." bisik Kai dengan tulus sembari mengusap-usap rambut anak itu. Walau wajahnya terlihat tenang-tenang saja, sebenarnya sepasang iris emerald itu tengah diambang kepanikan dan ketakutan. Ia takut Aichi kenapa-kenapa, ia takut kalau anak itu dalam bahaya, ia panik untuk kehilangan Aichi. Ya, sangat takut.

Dengan pelan, si brunet membaringkan tubuh kecil itu di ranjang tidurnya, sembari menunggu ibunya yang tengah menelepon dokter pribadi mereka yang bisa dipanggil ke rumah. Diam, Kai kembali menatap wajah Aichi yang terlihat sedikit pucat. Bagaimana bisa anak arrogant satu ini ternyata bisa ambruk juga, begitu pikir Kai. Tapi ia bersumpah akan menjaga Aichi baik-baik.

"Aichi..." bisik Kai dengan suara lembut dan tulus ―entah mengapa. Kedua tangan Kai mulai mengambil selimut besarnya dan menyelimuti tubuh Aichi yang masih diam. Kemudian Kai terduduk pelan di sisi ranjang, berniat menunggu sampai anak beriris biru itu tersadar dari pingsannya. Keheningan pun kembali berlanjut, dengan Aichi yang masih diam dan Kai yang hanya mengusap-usap tangan mungil Aichi yang sedikit dingin.

"Aichi..." pangil Kai lagi, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari si pemilik nama. Hanya suara jarum jam di kamar Kai dan suara hembusan angin yang membawa daun-daun mati berterbangan yang ditangkap indera pendengaran Kai. Sampai akhirnya...

"...Kai ...Kai-kun..." mata Kai yang tadinya sedikit terkantuk-kantuk menjadi membulat sempurna. Apa ia tidak salah dengar? Baru saja pendengarannya menangkap suara yang jauh lebih tenang dibandingkan jarum jam dan angin, suara itu...

"Kai-kun..."

"Aichi?" mata Kai terpancar rasa lega, rupanya ia tidak salah dengar. Ya, suara itu, suara Aichi. Suara si bluenette yang memanggilnya lembut. Begitu Kai mendongkakan kepalanya untuk melihat Aichi, ia mendapati anak itu yang memandang lemah pada Kai. Ah, tatapan yang begitu indah bagi Kai.

"A-aku..." ucapan Aichi terdengar setengah merintih, sepertinya ia merasa sakit di salah satu bagian tubuhnya. Hal itu membuat Kai menjadi sedikit panik dan dengan antusias ia mendekati Aichi dan mengusap pelan wajah lembut itu. Tapi tetap saja, tatapan Kai serasa datar dan monoton.

"Aichi, jangan banyak bergerak―" ucapan Kai terhenti begitu kini Aichi memandangnya dalam jarak dekat. Tatapan yang terlihat basah, dan sanggup membuat Kai menjadi diam seribu bahasa. Sepasang emerald dan shappire itu terus bertautan dalam tatap-menatap, cukup lama sampai akhirnya Aichi tersenyum seduktif dan menarik kera baju Kai, hingga wajah Kai tertarik sampai jarak diantara mereka mulai sirnah...

"Mmh," tidak dipungkiri lagi, mereka langsung saja melampiaskan nafsu yang bergelora di hati mereka. Kedua bibir itu pun saling bertautan, saling lumat-melumat. Kai memejamkan matanya senang, karena ia langsung saja mendapat hadiah begitu sang putri iblis membuka matanya. Putri iblis yang serasa menawan hati dan raganya…

"Ehem," suara seorang pria berjas putih dari arah pintu membuat keduanya terhenti dari aktifitasnya, "...bisakah saya mengecek pasiennya?"


NECROXIRMUS


Tok Tok Tok

"..."

Tok Tok Tok

"...Siapa?"

"Leon! Ini aku, Daigo! Ayo bukakan pintu, di luar dingin sekali!" seru seseorang di balik pintu coklat berdesign minimalis itu. Leon di dalam rumah hanya menggerutu pelan begitu tahu siapa yang mendatangi rumahnya malam-malam. Padahal jam menunjukan pada waktu di luar jam kerja. Dengan langkah cepat, ia pun menghampiri pintu yang sudah digemboknya itu.

Cring Cring...

Jgrek!

"Mau apa kau datang malam-malam begini, baka?" Daigo langsung bergidik ngeri sembari mengada kedua tangannya pada sosok sanggar di hadapannya, Leon, yang memandang Daigo dengan tatapan risih. Tapi kemudian Daigo langsung mendorong paksa Leon sampai keduanya masuk ke dalam.

"Hei, hei, aku tidak mngijinkanmu masuk, baka!" omel Leon merasa sebal dengan sikap Daigo, pria berambut kecoklatan juga stylist yang modern itu. Tanpa seijin pemilik rumahnya, pun, Daigo langsung menutup pintu rumah itu dan menguncinya. Membuat dahi si pirang semakin mengerinyit.

"Baka, ini sudah jam 10 malam, cepat katakan apa tujuanmu dan pu―" belum sempat Leon menyelesaikan kata-katanya, Daigo langsung berbalik badan dari pintu dan menarik paksa kedua pergelangan tangan Leon ke atas, kemudian mendorong cepat anak itu sampai setengah terbaring di meja baca yang ada di ruangan itu.

"Baka! Apa yang kau―" Leon hendak memberontak, ia tidak suka posisinya ini. Tapi kemudian Daigo membungkamnya dengan bibirnya sendiri. Si pirang tersentak kaget, tapi sebenarnya ini bukan yang pertama kali mereka lakukan. Pada akhirnya Leon memilih untuk diam sampai Daigo puas menciumi dirinya di bibir.

"Excellent! Seperti biasa bibirmu memang manis, Leon..." cengir Daigo begitu ia puas menginvasi mulut lawan mainnya itu. Iris violet Leon hanya menajam merasa tersindir dengan ucapan pria yang masih saja menindihnya di meja baca itu.

"Puas kau, baka?" balas Leon dengan nada sewot, dan dengan itu dapat dirasakannya cengkraman Daigo pada kedua pergelangan tangannya di atas semakin kuat ―belum ingin melepas Leon. Kemudian dengan tangan sebelahnya yang menganggur, si iris honey-brown mengelus permukaan wajah si violet yang sangat halus tanpa cacat sedikit pun, lalu turun ke lehernya, tubuhnya...

"Hei, dari dulu sampai sekarang kau benar-benar tidak berubah, tetap saja kau memakai baju lengan panjang, super tertutup, dan formal. Kenapa tidak sekali-sekali kau pakai baju tidak berlengan, mengekspos perut putih mulusmu, atau―"

"Never, Daigo. Never," gerutu Leon lalu membuang muka dan memejam matanya. Daigo hanya cekikikan kecil melihat figur bertubuh kecil di hadapannya mulai marah. Karena ia tipe yang tidak tegaan, akhirnya Daigo melepas kedua pergelangan tangan Leon dan membiarkan anak formal itu kembali berdiri.

"Hmm, sepertinya dibanding tahun kemarin aku berkunjung kesini, buku-bukumu tambah sedikit saja, tapi it's great! Dengan begini tempat ini jadi lebih luas, excellent!" seru Daigo kemudian sembari melihat-lihat ke sekitar. Leon menautkan alisnya mendengar itu,

"Daigo, jangan bilang kau mau tinggal disini?" tebak Leon dengan tatapan serius. Mendengar itu mata Daigo membulat lalu memandang ke arah si pirang dengan gembira.

"Oh, yes! Kau memberiku ide bagus, dear! Aku akan tinggal disini!" mendengar seruan penuh rasa suka cita itu membuat Leon menepuk jidatnya sendiri, facepalm.

"Harusnya aku tidak bertanya seperti itu..." gerutu Leon dalam hati merasa ia terjebak akan perkataannya sendiri, "...maksudku, sebaiknya kau pulang lagi ke Yunani. Untuk apa kau kemari?" lanjut Leon lagi.

"Oh, dear, jangan mengusirku setelah aku datang jauh-jauh kesini. Banyak hal penting yang menyebabkanku datang ke Jepang," gerutu Daigo dengan tatapan anak manja berusaha merayu Leon, tapi nyatanya hal itu tidak berhasil. Malah tatapan mencekam yang di dapatnya dari si pirang membuat Daigo bergidik ngeri.

"Katakan apa urusanmu, dan sebaiknya kau sewa hotel, aku ogah membiarkan serangga sepertimu bersarang di rumahku," Daigo sempat lesuh begitu mendengar si guru muda malah mengusirnya dengan kata-kata kasar pula. Tapi bukan Daigo namanya kalau ia menyerah begitu saja. Kemudian ia tersenyum jahil dan mulai mendekati Leon lagi. Si pirang sudah was-was begitu tahu si honey-brown kembali mendekatinya.

"Berani sekali kau mengusirku, dear... Padahal kau tidak akan menjadi sepintar ini kalau dulu bukan aku dosenmu di universitas Yunani Internasional," entah mengapa ucapan Daigo terdengar lebih berat dan mengancam ketimbang ringan seperti biasanya. Leon hanya menautkan alisnya masa bodoh dengan apa yang diucapkan mantan dosennya itu.

"Got you, dear!" dengan cepat Daigo kembali menarik kedua pergelangan tangan pria beriris violet itu. Leon menggeram penuh amarah berusaha untuk memberontak, biasanya ia berhasil lepas, tapi tidak seperti sekarang. Entah mengapa tenaga Daigo terasa lebih kuat membuat Leon sedikit syok. Dengan ringannya tubuh kecilnya dijatuhkan lalu ditindih oleh pria berambut coklat itu.

"Ck! Daigo! Dasar baka! Lepaskan aku!" geram Leon mengingat ini adalah posisi yang paling ia benci, yaitu ditindih. Tapi kelihatannya Daigo malah menikmati wajah marah dari... murid kesayangannya. Ia tersenyum jahil sembari mencubit pipi Leon dengan gemas, membuat emosi pemiliknya semakin memuncak.

"Sepertinya ada banyak yang harus kuingatkan padamu setelah setahun kita tidak bertemu, dear... Pertama, panggil aku Daigo-san karena aku lebih tua 5 tahun darimu. Kedua, tidak sopan memanggil kata 'baka' pada dosen sendiri. Dan ketiga, aku rindu sekali padamu..." kalimat terakhir yang terucap dari mulut pria stylist itu membuat Leon sedikit bergidik. Dapat dirasakannya hembusan nafas berat di sekitar telinga kanannya begitu Daigo merendahkan wajahnya. Dengan pelan Leon memalingkan wajahnya ke samping kiri,

"Masa bodoh, kau tiba-tiba datang seperti setan yang kurang kerjaan di malam hari, seenaknya masuk ke rumahku tanpa ijinku terlebih dahulu, menindihku di meja baca dan menciumku, lalu sekarang kau menindihku lagi?" balas Leon tidak mau mengalah, tatapan stoic-nya berhasil membuat Daigo menghela nafas pelan. Ya, mau tidak mau Daigo pun menggunakan cara lain untuk menjinakan murid kesayangannya ini, menjilat telinga kanannya...

"Kh! Daigo-baka! Apa yang kau―" Si pirang tersentak kaget begitu tiba-tiba saja telinga kanannya dijilat dan digigit kasar pria beriris honey-brown itu. Sebelum ia mendesah, dengan cepat Leon menggigit bibir bawahnya dengan keras. Daigo yang menyadari reaksi dari Leon tersenyum tipis, memang susah membuat anak ini menyerah dan mendesah. Tapi justru itulah yang membuatnya jatuh hati sejak pertama kali mengenalnya.

"Hei, keluarkan desahanmu, aku merinduhkannya sejak setahun yang lalu kau pergi kemari untuk ditugaskan mengajar!" keluh Daigo menghentikan aktifitasnya sejenak, ia tidak ingin menyiksa Leon terlalu jauh. Leon hanya membuang muka dengan angkuh, bahkan tidak ada tanda-tanda rona merah di wajahnya karena perlakuan Daigo padanya tadi. Ya, memang anak ini susah untuk ditaklukan.

"Memangnya siapa kau? Aku tidak pernah memintamu datang―"

"Aku mencintaimu," potong Daigo dengan cepat. Apakah hubungan antar murid dan guru seperti mereka termasuk hubungan terlarang? Sepertinya Daigo masa bodoh soal itu, ia terlanjur tergila-gila dengan anak beriris violet ini.

"Aku tidak mencintaimu, jadi pergilah..." balas Leon angkuh, tatapan dinginnya serasa mencoba membunuh senyuman jahil dari Daigo padanya. Apa anak yang lebih tua 5 tahun darinya itu tidak sakit hati? Selama dua tahun mengejar cinta Leon, hanya kata-kata kasar nan angkuh yang dipetiknya. Tapi, satu hal. Hanya Daigo yang mungkin bisa menaklukan hati anak ini. Hanya Daigo, orang yang berhasil menciumnya di bibir, dan kenyataan itu selalu membuat rasa percaya diri dalam pria stylist ini tidak pernah pudar.

"Kau pernah dengar 'semakin lama mendapatkan sebuah cinta, maka cinta itu susah untuk dilepaskan', dear? Aku tidak akan pernah melepasmu sampai kapan pun, sampai mati pun aku akan terus menggentayangimu. Suatu hari, hatimu pasti akan luluh karenaku," dengan itu si honey-brown menarik pelan dagu mungil si pirang dan kembali menciumnya di bibir. Ya, walaupun tidak ada cinta yang menghiasi hati Leon, tapi pemuda itu selalu diam kalau tiba-tiba Daigo menciumnya di bibir seperti sekarang.

"U-ukh..." Leon sedikit memekik begitu lidah hangat pria itu mulai menerobos ke dalam mulutnya dan menjelajahi isinya. Ia mulai kewalahan begitu Daigo menciuminya semakin intens. Padahal pria beriris coklat itu begitu menikmati momen-momen ini, tapi ia mulai merasakan erangan di kedua pergelangan tangan Leon, sepertinya anak itu kehabisan nafas.

"Hah... Menyingkir dari... tubuhku..." erang Leon dengan nafas yang tersenggal-senggal, dan wajahnya itu membuat Daigo puas sendiri. Setelah Daigo menyingkir dari tubuh yang ditindihnya itu, Leon mengusap bibirnya dan bangkit berdiri. Suasana mendadak hening. Daigo yang masih terduduk di lantai kayu sibuk memandangi punggung Leon yang melangkah pelan menuju lantai dua, tanpa sepatah kata pun. Daigo mengeluh kecil begitu mengira Leon marah padanya, tapi kemudian Leon kembali ke ruangan perpustakaan itu dengan membawa selimut dan bantal.

"Oh, dear, tega sekali kau menyuruhku tidur di ruangan seperti ini, bukannya ranjangmu itu besar dan muat untuk kita berdua? Aku tidak mau kalau―"

"Kalau tidak mau, pergilah ke kamarku dan tidur. Biar aku yang tidur disini," nada bicara Leon terdengar serius, Daigo mulai panik merasa menyinggung anak itu. Ya, dia memang tidak mau tidur di perpustakaan, tapi masa iya dia membiarkan pemilik rumah yang tidur di luar. Terlihat jelas Leon meletakan bantal bewarna putih itu ke lantai perpustakaan yang dingin, lalu membuka selimut tebalnya yang cukup lebar.

"H-hei, hei, dear, jangan marah―"

"Pergi ke kamar dan tidur! Apa dibilang begitu kau masih tidak paham?" Daigo langsung bungkam begitu nada bicara Leon semakin meninggi. Tidak bicara lagi, Leon pun menghempaskan tubuhnya ke bantal itu dan menyelimuti dirinya sendiri. Ya, ia langsung tidur, membuat Daigo semakin down karena merasa bersalah. Pria beriris honey-brown itu menggaruk-garuk tengkuknya. Apa iya Daigo pergi ke kamar dan tidur begitu saja? Melangkah satu dua langkah ke lantai dua, tiba-tiba saja Daigo berhenti begitu sebuah ide terlintas di pikirannya. Dengan jahil ia pun mematikan lampu ruang perpustakaan itu dan mengendap-ngendap menuju tempat Leon berbaring.

"U-ukh... Daigo, kau―" Leon memekik geli begitu seseorang memeluk erat tubuhnya dan mencium tengkuknya dari samping. Ya, Leon tidak perlu menebak siapa itu, sudah pasti Daigo yang berani memeluknya bahkan mencium tengkuknya tadi. Si pirang menggeram dalam hati.

"Aku ingin tidur disini bersamamu, dear," sunggut Daigo sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh si violet. Leon memutar bola matanya sebal. Niat melawan diurungkannya,

"Whatever..." balasan itu membuat Daigo tersenyum senang dan menghirup aroma dari rambut si pirang yang mengantarnya ke alam mimpi...


NECROXIRMUS―


Ruang utama berbentuk perpustakaan itu kini mulai dimasuki cahaya matahari pagi yang terbit dari ufuk timur. Langit-langit ruangan yang berbahan kaca membuat sinar matahari tembus dengan mudahnya ke dalam, menyinari ruangan yang mengoleksi ratusan buku pengetahuan ini. Dan sinar itulah yang membangunkan si pemilik dari jambul kembar tiga. Merasa sinar matahari mulai menerpa wajahnya, kedua kelopak matanya sedikit berkedut tak nyaman, baru mulai menampakan kedua iris keunguannya.

Ia sedikit menyipit matanya begitu kedua pupilnya tidak nyaman dengan adanya sinar matahari. Leon mengerang kecil sembari bangun dari tidurnya. Ia merasa sedikit sakit di punggung karena harus tidur dengan alas kayu kemarin malam. Tapi ia rasa hal tersebut bukan masalah yang berat. Tidurnya di ruang ini membuatnya tersadar kalau di rumahnya ini masih ada pria bernama Daigo. Mengingat itu membuatnya menghela nafas dan menepuk pelan jidatnya.

"Hah, kenapa ia harus datang, sih... Padahal aku sudah ingin melupakannya dan menanggapnya tidak ada―"

"Nee, kau sudah bangun?" Leon melirik dingin sosok yang baru keluar dari dapur rumahnya. Ya, Leon tidak perlu menebak siapa itu karena tadinya di rumah ini hanya tinggal ia seorang diri. Daigo, pria berambut coklat tua itu tersenyum santai sembari membawa dua mangkok bubur hangat.

"..." Leon tidak mengucapkan sepatah kata pun. Jujur saja, ia lelah fisik dan batin cukup melihat Daigo saja. Sebenarnya Daigo adalah dosennya saat ia berkuliah di Yunani Internasional, dan saat itu Daigo merasa senang karena mereka sama-sama berasal dari Jepang. Tadinya Leon masa bodoh soal itu, tapi sejak saat itu... Leon seakan menjadi wujud obsesi sang dosen yang sangat ternama di universitas internasional itu. Sosok bermata honeybrown itu seakan menghantui hidupnya, mengingini Leon seutuhnya. Jujur saja, Leon tidak betah pada wujud obsesi yang berlebihan darinya itu.

Dan yang paling ia sesali adalah saat Daigo menyatakan cinta padanya. Bagaimana bisa manusia berhati robot seperti Leon menjatuhkan hatinya? Leon tidak mengerti sama sekali. Setiap hari Daigo terus mengejarnya, mengingini cinta si pirang seutuhnya. Sampai ia berhasil merengut ciuman pertama Leon dengan mudahnya membuat si violet kesal. Padahal ia berani bersumpah tidak akan mencintai siapapun. Tapi...

"Makanlah, supaya tubuhmu menjadi segar kembali!" ujar Daigo dengan ceria, sedangkan Leon menatapnya tanpa ekspresi. Benci, marah, kesal... Semuanya Leon rasakan. Semuanya, ya, semuanya. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Persetan Daigo yang berkelakuan tidak pernah ada 'apa-apa' diantara mereka.

"..." lagi-lagi tidak membalas. Leon hanya duduk di meja bacanya yang besar, lalu mulai memakan bubur hangat yang tersaji di hadapannya. Ia kembali merenungi saat itu, saat dimana tiba-tiba ia menjadi wujud obsesi si dosen populer. Apa perempuan-perempuan yang menggilainya tidak cukup sampai ia harus mengejar Leon? Terkadang anak berpenampilan formal ini berpikir demikian.

Tadinya ia bersyukur karena setelah lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, ia langsung dipindah tugaskan di Jepang untuk mengajar di sekolah Nethelbell. Ya, kemampuannya diakui semua masyarakat Jepang. Bayangkan saja, mana ada anak berumur 12 tahun bisa lulus kuliah dan mengajar? Ia sampai meraih rekor-rekor penting karena bisa menciptakan penemuan-penemuan tertentu juga. Namun, kebahagiaan dan ketentraman itu tidak bertahan lama. Ya, 10 hari yang lalu ia sempat menerima pesan kalau Daigo akan datang menemuinya ke Jepang. Tadinya ia pikir itu hanya candaan saja, tapi persetan begitu sosok yang mengincar cintanya selama ini betul-betul datang.

"Leon, kenapa kau diam saja?" tanya Daigo dengan raut wajah menggambarkan kecemasan. Leon hanya mengaduk-ngaduk buburnya lalu...

"Kenapa kau datang lagi, kenapa..." tanyanya dengan wajah dingin. Daigo hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak bisa diartikan Leon sama sekali. Kemudian si rambut coklat mengangkat tangan kanannya. Tadinya Leon sama sekali tidak mengerti apa maksudnya, namun kedua iris violetnya menangkap suatu...

"Cin... cin?" ujar Leon kebingungan. Daigo mengangguk dengan senyum lebarnya, membuat lawan mainnya menautkan alisnya heran. Kemudian Daigo bangkit berdiri dan membawa mangkok makannya yang kosong ke dapur, meninggalkan Leon yang terdiam. Cincin? Apa maksudnya? Di tangan kanan, jari manis... Apa maksudnya ia ingin menikah di Jepang, makanya pindah dari Yunani ke Tokyo?

Sembari berguman sendiri dalam hati, kemudian ia kembali mengaduk-ngaduk bubur miliknya yang tinggal sedikit. Tapi kemudian ia terbelalak syok begitu baru menyadari... jari manis tangan kanannya yang mengaduk bubur tadi, tersemat sebuah cincin. Dengan segera ia berhenti mengaduk bubur lalu memperhatikan baik-baik cincin itu.

"Se―sejak kapan, aku tidak ingat pernah membeli cincin―" Leon terlihat panik setengah bingung. Kemudian wajahnya menjadi pucat begitu tahu cincin itu mirip dengan cincin yang ditunjukan Daigo padanya tadi. "Ja-jangan-jangan―"

"Benar, dear..." dengan tiba-tiba kedua mata violet Leon ditutup dengan tangan Daigo dari belakang. Syok... Leon begitu syok begitu mengerti apa maksud dari cincin ini. Cincin bewarna emas murni yang tersemat di jari manisnya juga jari manis Daigo, "―Itu tujuanku datang kemari, kupakaikan saat kau tertidur kemarin," lanjutnya.

"Ti-tidak! Menjauh dariku!" dengan cepat si rambut pirang melakukan perlawanan hingga jarak keduanya berkisar 2 m. Leon menatap tak percaya sang dosen yang berbalik menatapnya dengan senyum manis. "―Aku tak sudi!" sergahnya dengan tatapan tajam. Dengan cepat ia pandang cincin di tangannya itu dan bermaksud melepasnya. Tapi keanehan terjadi, cincin itu... cincin itu tidak bisa lepas.

Sekuat apapun Leon menariknya, cincin itu tidak bisa lepas. Bahkan saking kuatnya, Leon merasa peredaran darahnya di jari manisnya itu terhenti. Ia kebingungan dan berusaha memikirkan cara untuk melepasnya. Tapi... ia tidak punya waktu banyak untuk itu begitu tahu-tahu Daigo sudah berdiri tepat di depannya.

"Da―"

Dengan cepat pria berjaket biru itu mencengkram bahu Leon lalu menciuminya di bibir. Ciuman hambar itu berlangsung cukup lama, Leon sendiri heran mengapa ia tidak bisa menolaknya. Setelah ciuman panjang itu berakhir, Daigo menatap lekat pada Leon,

"...Mulai sekarang, kau adalah tunanganku."


NECROXIRMUS―


Hari Minggu, hari libur. Ya, kalau hari libur, ngapain bangun pagi-pagi? Begitulah pikir Kai, si brunet yang masih senang bergulat di ranjangnya dan belum berniat memulai aktifitas di hari Minggu ini. Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, di hari Minggu, alarm-nya tidak diaktifkan. Jadi ia tidak perlu membanting alarm dan membeli jam baru kalau tiba-tiba momen tidur indahnya diganggu bunyi alarm yang membangunkannya tanpa sebab.

"Ukh..." Kai menggeser posisi tidurnya merasa tidak nyaman begitu seseorang menggoyang-goyangkan pundaknya. Ia pikir paling-paling itu ibunya―yang menginap satu dua hari di rumahnya untuk berkunjung. Ia memilih untuk menarik selimut sampai ke atas kepalanya dan melanjutkan lagi tidurnya.

"Hei~ Ayo, bangun~" Oh, ternyata bukan ibunya yang berupaya membangun Kai ini, tapi Aichi. Ya, anak bersurai biru lembut itu kini resmi tinggal bersama Kai atas persetujuan ibunya. Karena bangun terlebih dahulu, ia jadi ingin mengusili Kai dengan cara membangunkannya.

"Mh, aku masih mau tidur..." guman Kai singkat dengan nada dingin. Ia sedang tidak niat untuk bermanis-manis dengan 'pacar'nya ini, ia masih merasakan kantuk yang amat sangat ―entah mengapa. Aichi menyeringai licik melihat kelakuan orang yang pertama kali dilihatnya di zaman ini. Dengan berani Aichi pun masuk ke dalam selimut yang masih dipakai Kai dari samping. Apa yang dilakukannya di dalam sana? Yang jelas beberapa saat setelah itu, Kai langsung memekik kaget.

"A-Aichi, apa yang kau―" Walau mata si brunet masih terpejam, tapi sekarang ia sadar 100%. Ia merasakan sensasi aneh begitu Aichi melakukan sesuatu pada tubuhnya di balik selimut itu. Nakal juga dia, bahkan sudah berani 'menyerang balik' pada Kai sekarang.

"...Hoh, kau sensitif sekali, ya, Kai-kun? Sudah bangun, belum? Kalau belum, aku lanjutkan lagi, hihihi..." godanya dengan nada tak bersahabat membuat Kai langsung berkeringat dingin. Entah sudah semerah apa wajahnya sekarang. Untuk berbicara pun sangat sulit, sedikitnya ia menggeram kesal tidak suka posisinya dibalik seperti ini.

"Umph―!" Kai terbelalak begitu tiba-tiba Aichi menyembulkan kepalanya dibalik selimut itu dan langsung menerjang bibir kekasihnya. Namun tidak ada gerakan sensual dari bibir Aichi, Kai pun paham, mungkin Aichi minta didominasi mulutnya...

"Un... Kai-kun, mmph..." Aichi mendesah nikmat begitu si brunet memenuhi keinginannya, mendominasi mulutnya. Pertama Kai mulai dengan melumat bibir itu bahkan sampai memerah, sampai akhirnya lidahnya berdansa ria dengan lidah Aichi, saling bertukar saliva dan adu mengadu. Nikmat. Sangat nikmat bagi mereka.

"Hah... hah... Kau benar-benar nakal, Aichi..." tukas si emerald sembari menatap Aichi yang puas dengan rewardnya di pagi hari ini. Si bluenette terkekeh kecil, membuat wajahnya semakin manis saja. Lalu ia memeluk manja pada Kai, tentu saja Kai menyambut pelukan itu dengan senang hati.

"Nee, bukannya kau yang lebih nakal, hm?" balasnya tidak mau kalah. Kai menggerutu kesal lalu bangun dari tidurnya. Berkat aksi nakal pacarnya itu, ia sudah segar dan tidak berminat tidur lagi. Diikuti Aichi yang mengekorinya di belakang, Kai pun berjalan keluar kamar menuju dapur untuk sarapan.

"Aichi, sudah kau bangunkan Toshiki?" tanya seorang wanita yang sedang sibuk berkutak-katik di dapur bernuasa coklat itu. Dapur itu juga terlihat rapi dan masih baru, karena jarang sekali Kai memakainya. Anak itu tidak pandai memasak.

"Sudah, bibi~" jawab Aichi dengan suara yang bisa dibilang manis. Indera pendengaran Kai pun sempat melewati uji nyali dadakan karena intonasi bicara Aichi yang satu ini. Tanpa bicara, Kai pun duduk di meja makan bermuat 4 orang di dapur itu.

"Hei, Toshiki, bagaimana kalau kita sekolahkan Aichi di sekolah yang sama denganmu?" usul sang bunda tiba-tiba membuat Kai menautkan alisnya singkat, tapi tatapannya senantiasa datar. Sembari memain-mainkan jarinya di meja, ia pun berpikir soal itu.

"...Darimana biayanya?" tanya Kai kemudian. Terlihat Aichi langsung mengambil tempat duduk berhadapan dengan Kai, membuat keduanya saling pandang. Sesekali Aichi menyeringai iblis di hadapannya, tapi Kai sudah mati rasa dengan seringaian maut itu.

"...Itu bukan masalah, tabungan mama cukup untuk menyekolahkannya, kok," ujar wanita berambut coklat muda itu lalu meletakan tiga potong pancake di meja makan. Kai mengambil salah satu dari pancake itu lalu melahapnya.

"Oh, begitu... Tapi baru-baru ini sekolah mempromosikan beasiswa kalau murid baru bisa lulus tes soal olimpiade. Bagaimana kalau dicoba?" usul Kai baru ingat kalau ada hal seperti itu. Tadinya ia masa bodoh dengan promosi setan itu, bahkan sudah menjadikan brosurnya sebagai pembatas buku saking tidak membutuhkannya. Tapi ini saat yang tepat kalau saja Aichi bisa...

"...Aichi, apa kau pernah bersekolah sebelumnya?" tanya Kai kemudian. Ya, masa menyuruh anak yang tidak pernah sekolah untuk menyelesaikan soal olimpiade? Gila. Makanya Kai bertanya dulu pada anak beriris shappire itu sebelum semuanya terlambat.

"Fufufu, tidak perlu bersekolah pun, aku tahu bagaimana cara menghitung trigonometri, pitagoras, sumbu vektor, dan bangunan tiga dimensi," jawabnya dengan terkekeh kecil. Kai kemudian terdiam mendengar itu. Ia baru ingat kalau Aichi adalah Necroxirmus, walau Kai tidak percaya 100% mengenai itu, tapi andai kata Aichi adalah manusia berkekuatan ganda, pasti menghafal ini semua bukanlah hal mustahil.

"Wah, hebat, Aichi! Kalau begitu nanti kau antar Aichi ke sekolahmu untuk mengambil formulir pendaftaran―Eh, ini hari Minggu..." sang bunda terdiam begitu ingat ini adalah hari libur. Mana ada sekolah buka di hari libur, pikir wanita itu.

"Sekolahku buka setiap hari, kok. Khusus hari Minggu, hanya guru dan pengurus organisasi sekolah yang masuk. Aku akan mengantarnya nanti," sahut si brunet dengan singkat, lalu ia kembali memakan pancake miliknya sampai habis. Sedangkan Aichi dan ibunya baru mulai sarapan.


NECROXIRMUS―


Dalam waktu singkat, Kai dan Aichi pun tiba di depan gerbang sekolahnya, Nethelbell. Setelah berbincang singkat dengan dua orang penjaga gerbang sekolah, mereka pun mempersilahkan Kai dan Aichi untuk masuk ke dalam gedung sekolah. Tidak lupa bergandengan tangan, Kai merasa kurang saja kalau tidak ada tangan Aichi yang dibungkus tangan besarnya yang hangat ini.

Tap tap tap tap

"Kai-kun, apa sekolah itu menyenangkan?" tanya Aichi kemudian dengan antusias memecahkan kesunyian yang ada diantara mereka berdua. Kai mengangkat kedua bahunya, tanda ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Entahlah, kau akan merasakannya sendiri nanti..." jawab Kai dengan tenang. Mereka melangkah menuju ruang guru yang terletak di lantai dua gedung sekolah utama.

Tok Tok

Whiinggg

Pintu otomatis ruang guru pun terbuka begitu Kai mengetuk pintu bewarna hitam itu dua kali. Ya, itu code tersendiri pintu ruang guru kalau ada yang ingin masuk. Memang sekolah Nethelbell sudah sangat 'maju' teknologinya. Beberapa guru yang stay disana pun langsung memandangi Kai. Tapi Kai menjadi terheran begitu melihat dua figur yang tidak dikenalnya sebagai guru sebelumnya. Keduanya tengah dikerumuni guru-guru lainnya dan sekarang ikut-ikutan memandangi Kai.

"Kai Toshiki? Ada keperluan apa hari libur datang kemari? Ada tugaskah?" tanya Misaki, guru BP. Kai menggeleng singkat dengan tatapan datar khasnya. Tapi mendengar nama 'Kai', kedua sosok figur tak dikenal itu langsung menghampirinya.

"Oh, jadi kau Kai Toshiki yang excellent itu, ya? Aku ingin sekali bertemu denganmu karena banyak kabar kalau kau itu murid yang sangat berprestasi!" seru salah satunya menghampiri Kai dengan raut wajah semangat. Hanya tautan alis yang Kai lakukan. Ia mengira orang dihadapannya ini sinting atau omongannya tidak jelas.

"Mm, anda siapa?" tanya Kai to the point. Sosok beriris honeybrown itu pun mengulurkan tangan kanannya dengan ramah bermaksud untuk memperkenalkan dirinya.

"Oh, sorry, sorry! Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Whitney Daigo, guru baru yang akan mengajar disini menggantingkan Souryuu Leon," Kai sedikit terdiam begitu mendengar nama 'Souryuu Leon', guru yang kemarin sempat membantunya dalam masalah pribadi Aichi. Kai pun terheran kenapa guru sepintar Leon bisa digantikan orang aneh sepertinya. Tapi si brunet pun mengulurkan tangan kanannya, berjabat tangan dengan orang itu.

"Apa Leon-sensei tidak akan mengajar disini lagi?" tanya Kai sedikit penasaran, disambut gelengan singkat dari sosok berambut coklat itu, ia kembali memasang senyum lebar yang mampu membuat Kai speechless,

"No, no, no! Dia menjadi asistenku sekarang!" serunya terlihat riang gembira, dan Kai hanya memasang tampang stoic seperti biasa. "Oh, yes! Perkenalkan juga, ini murid baru yang kurekomendasikan, semoga kalian bisa menjadi teman baik!" Kai memasang tampang lelah. Berteman? Dengan murid baru? Hell no! Jangankan murid baru, murid lainnya pun ogah disapanya. Tapi demi menjaga nama baiknya di depan guru, ia pun mengulurkan tangan kanannya pada figur berambut merah juga mata crimson yang menyala-nyala itu.

"Kai Toshiki," ucapnya singkat, tidak mau berbasa-basi. Namun Kai tersentak kaget saat sosok itu melempar seringai tak bersahabat padanya, lalu berbalik menjabat tangan.

"Aku Suzugamori Ren, senang bertemu denganmu..."


NECROXIRMUS―


Aichi melangkah sendirian, di lorong kelas yang sunyi senyap. Tentu saja sangat sepi, karena ini adalah hari libur dan tidak ada sejarahnya bersekolah di hari libur. Ia tidak menyangka kalau saking konsentrasinya Kai, dengan mudahnya Aichi meloloskan diri darinya. Ia merasa enggan untuk langsung ke ruang guru, karena...

"...Firasat apa ini?" gumannya sembari melirik ke kiri dan ke kanan dengan tatapan mata gelap. Rambut bluenette-nya sesekali bergoyang mengikuti gerakan kepala Aichi yang terus mencari-cari sesuatu. Sesuatu yang mengundang firasatnya. Entah mengapa ia merasakan sebuah aura yang kuat dari sekolah ini. Dan karena alasan itulah ia kabur dari Kai dan ingin mencari apa itu.

"...Sepertinya, perasaanku berkata semakin dekat," gumannya lagi tanpa ekspresi, atau lebih tepatnya terlalu serius. Ia merasa tidak bisa untuk tidak mencari-cari asal dari aura ini. Ia merasa kangen juga rindu. Tapi Aichi sendiri tidak tahu mengapa bisa begitu. Sesekali ia bersembunyi begitu ada petugas sekolah yang lewat, lalu kembali melanjutkan jalannya.

"Ruang apa ini? Per... pustakaan? Oh, ruangan yang banyak bukunya itu, ya?" pikirnya begitu berhenti di depan pintu bertulis 'Perpustakaan'. Aichi terdiam sejenak, kemudian ia merasa yakin kalau aura yang dirasakannya berasal dari sini. Ia pun mengintip ke dalam, kedua iris shappire-nya mencoba untuk mencari tahu apa ada pengawas dan lain-lainnya. Tapi ternyata tidak ada, ruangan itu sepi sekali. Ia tersenyum merasa bisa masuk dengan mudah ke dalam sana.

Aichi melangkah pelan di dalam ruangan besar penuh rak-rak buku itu, sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara. Jantungnya serasa tercekat begitu merasakan aura itu semakin kuat. Aichi yakin sekali aura itu berada di sekitar sini. Ia terus melangkah, melewati rak-rak buku yang menganggur, juga menajamkan pendengarannya kalau ia mendengar suara di ruangan sunyi itu.

"Hm?" Aichi menajamkan penglihatannya begitu ia melihat seseorang yang terduduk di salah satu rak buku. Begitu Aichi menganalisa isi ruangan dengan indera ganda miliknya, ia memastikan kalau hanya sosok figur itu yang berada di ruangan ini beserta dirinya. Aichi tetap diam, memperhatikan gerak-gerik orang itu. Tapi sesaat kemudian Aichi menghela nafas, ternyata orang itu tertidur di perpustakaan, dengan terduduk di rak buku.

Ckit

"Ukh, perasaan apa ini..." Aichi meremas dadanya merasa sakit begitu ia memandang sosok itu lekat-lekat. Aura yang mengganggu instingnya tadi semakin menguat. Meneguk ludah, Aichi pun melangkah pelan menuju tempat sosok itu tertidur dengan memegang buku di pangkuannya. Langkah pelan Aichi membuatnya semakin dekat dengan sosok itu.

Kini Aichi sudah berada tepat di depannya. Sepasang alis Aichi sedikit bergetar begitu aura yang ia rasakan serasa bercampur aduk dalam tubuhnya, rasanya sakit. Memandang wajah sosok yang tertidur pulas itu, ia merasa familiar. Ia serasa mengenalnya. Tanpa sadar Aichi menunduk, menyamakan tinggi sosok itu dengannya. Lalu dengan tangan Aichi, ia menyentuh permukaan wajah figur itu. Perlahan-lahan... Perlahan-lahan... Aichi membulatkan matanya... Iris birunya berair hingga membasahi pipinya. Ingat, ya, ia ingat siapa dia...

"Xi-Xirmus, kakak kembarku..."


TO BE CONTINUED


A/N(IllushaCerbeast): Hiyaaaa, minna-san! Untuk chapter ini kami buat berdua, desu! Bagaimana? Ya, soal hiatus, sih, kami angin-anginan, doain saja tugas kuliah dan sekolah kami tidak banyak, jadi bisa terus update dalam waktu yang cepat, fufufu XDD Hayo tebak siapa kakak kembar Aichi? Yang bisa nebak duluan kami kasih hadiah permen, nih! *geplaked* Oh, ya, karena waktu mepet, lagi-lagi nggak bisa balas review kalian, hiks, gomenasai T^T Chapter ini pun sudah 5000 words lebih, jadi nggak cukup lagi untuk balas review, hahaha, gomenasai yo! And then, pairing DaigoLeon mulai kelihatan, lalalala~ Kami suka banget pairing ini, hehe. Masih ada dua-tiga pairing lagi, hayo tebak pair apa aja? Oh, iya, apa ini sudah dikategorikan rate M? Jujur kami bingung :O *jdor* Hm, sekian dulu, ya. Semoga chapter ini memuaskan minna-san sekalian :DD Review, please? Kritik, saran, masukan, dan pendapat kami terima dengan senang hati! Semakin banyak review, update akan semakin cepat, dijamin deh! *geplaked* Sayonaraaa!