Is this a sin?

Summary : masih tetap bentuk slice of life, ini cerita tentang Sasarai, dan menjadi SasaraiXMillie yang berhubungan dengan fic "Spend The Festival" XD. Don't like it ? Don't read it, Don't flame

Disclaimer : Don't own anything, but this fic is mine

Warning : typo, ada sisipan yg kurang nyambung, alur cukup berantakan, dan masih banyak kekurangan lainnya.

Chapter I

Di depan gereja Dunan, nampak seseorang dengan sapunya membersihkan sampah yang berjatuhan. Daun-daun tersebut sudah terkumpul, ia memasukkannya ke dalam kantong sampah.

"Kau sudah bekerja keras ya, Sasarai." Ucap seseorang yang datang dan menghampiri Sasarai.

"Kahn-San. Ah, aku melakukan ini dengan senang hati kok." Balas Sasarai dengan senyum yang lebar dan polos itu.

"Aku menganggap hal yang kulakukan ini atas nama Tuhan." Sambung ia lagi. Mendengar itu, Kahn langsung tersentuh dan merangkul Sasarai.

"Jarang sekali aku menemukan anak sepertimu Sasarai. Aku bersyukur masih ada orang sepertimu." Rangkulan Kahn cukup erat dan membuat Sasarai agak sesak.

"I-iya terima kasih. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin membuang ini ke tempat pembuangan sampah." Ucap Sasarai sambil menunjukkan plastik sampah di tangannya yang akan ia buang itu. Menyadari itu, Kahn langsung melepas Sasarai.

"Aku permisi dulu." Sasarai membungkuk ke Kahn dan langsung berjalan menuju ke tempat pembuangan sampah.

"Anak yang baik. Aku berharap tidak akan ada hal yang membuatnya sedih." Ucap Kahn dalam pikirannya, lalu ia pun masuk ke dalam gereja.

U-U-U-U-U

"Sudah selesai. Sekarang tinggal kembali ke gereja, lalu ke asrama." Sasarai berjalan kembali menuju gereja. Dalam perjalanan, ia melihat seseorang yang baru saja keluar dari gereja. Orang tersebut berambut lurus, hitam dan panjang, wajah yang polos dan lugu. Sasarai terdiam melihat orang tersebut, dan si orang terus berjalan melewati Sasarai yang terdiam dan akhirnya menghilang dari hadapan Sasarai.

Sasarai's Pov

Aku terdiam melihat seseorang yang baru saja berjalan melewati ku, aku tidak mengetahui siapa dia.

"Apakah ada seseorang yang seperti itu?" Ucapku dalam pikiranku sendiri.

"Eh, apa yang aku pikirkan?! Tidak...tidak boleh!" Aku menampar pipiku sendiri dan sadarlah aku kalau baru kali ini aku bisa memikirkan hal lain selain Tuhan.

Akupun mempercepat langkah menuju gereja agar bisa secepat mungkin untuk dapat kembali ke asrama.

End Pov

Malampun tiba, Sasarai sedang menulis sesuatu dalam selembar kertas. Ketika ia menulis, ia terbayang seseorang yang ia lihat di dekat gereja tadi.

"Aku heran dia itu siapa..." Sasaraipun bengong, dan malah mencorat-coret kertas yang ia tadi tulis. Begitu ia melihat kearah kertasnya, iapun tersadar.

"A-apa yang kau lakukan Sasarai?! Hentikan! Cukup!" Lagi-lagi ia menampar wajahnya sendiri sampai cukup merah. Sheena yang baru saja masuk ke kamar Sasarai langsung terkaget-kaget melihat tingkahnya itu.

"Hoi. Kau ini sedang apa?! Mencoba menyiksa dirimu sendiri ya" Sheena menarik kerah leher baju Sasarai dari belakang.

"E-ekh. Le-lepaskan aku.K-kau yang sedang menyiksaku sekarang." Sasarai memegang lehernya. Setelah Sheena melepasnya, Sasarai berusaha mengambil nafas kembali.

"Jadi? Kau ini sebenarnya kenapa?" Sheena memelototi Sasarai dengan tatapan yang amat penasaran.

"A-aku hanya kepikiran terus."

"Kepikiran soal apa?" Sasarai keceplosan tadi itu membuat Sheena makin terheran dan penasaran.

"Bu-bukan apa-apa." Sasarai berusaha mengelak, Sheena menyeringai dan mengetahui kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Sasarai.

"Yah, sayang sekali. Padahal kalau soal wanita bisa saja aku membantumu." Sheena berusaha sedikit menggoda Sasarai yang polos itu. Mendengar itu Sasarai sengaja mengeraskan suara batuknya dan berpura-pura kalau ia sesak nafas.

"Ping pong! Tebakanku tepat. Akhirnya bocah polos ini jatuh cinta juga." Sheena tertawa agak keras. Sasarai memang tidak pandai berbohong dan menyembunyikan sesuatu, jadinya pasti selalu ketahuan dari tingkah lakunya.

"A-aku tidak jatuh cinta!" Wajah Sasarai benar-benar merah sekarang. Melihat itu Sheena semakin tertawa.

"Be-berhenti menertawakanku!"

"Iya-iya aku berhenti" Sheena masih terkekeh kecil. Dia mengetahui kalau Luc dan Sasarai adalah kembar, ia tidak menyangka kalau sifat mereka sangat berbeda.

"Sebaiknya kau berdo'a dan tidur sana supaya kau mengetahui apa yang ku rasakan sekarang ini." Sheena melempar bantal ke arah Sasarai, untungny ia dapat menangkap bantal tersebut.

"I-iya aku tahu." Sasarai naik ke tempat tidurnya dan merebahkan diri.

"Aku matikan lampunya,selamat tidur bocah jatuh cinta." Sheena mematikan lampu tapi tetap menggoda Sasarai. Lalupun mereka tertidur.

U-U-U-U-U-U

Keesokan harinya di sekolah, bel masuk belum berdering. Banyak siswa yang mengobrol dan berjalan-jalan di sekolah. Seorang gadis berbadan mungil,berambut coklat bergelombang panjang dan bermata besar berwarna kecoklatan sedang berdiri di depan pintu kelas 1-2. Iapun membuka pintu kelas tersebut dan masuk ke kelas itu.

"Ellie-chan, pinjam buku bahasa dong." Teriaknya. Kelas cukup ribut waktu itu, jadi walaupun ia berteriak orang-orang tidak begitu mendengar.

"Millie? Lagi? Kau ini kenapa selalu lupa bawa catatan sih?" Ellie keheranan melihat Millie yang selalu kelupaan untuk membawa catatan bahasa.

"Sekali ini saja ya Ellie-chan. Aku bakal mendapat giliran untuk membaca sekarang. Aku mohon." Mohon Millie. Ellie hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ya sudah, tunggu sebentar." Ellie mengambil tasnya.

"Sasarai-kun, apa kau mau ikut pergi nanti?" Tanya seorang siswi ke Sasarai. Begitu mendengar nama "Sasarai", Millie langsung mencari sosoknya. Ia pun melihat Sasarai yang sedang duduk dan mengobrol. Millie menjadi begitu karena ia teringat Sasarai yang sudah menolongnya beberapa hari yang lalu.

Flashback begin

"Bonaparte,bonaparte. Kamu dimana?" Millie berkeliling sekolah untuk mencari peliharaannya yang hilang. Sekitar 20 menit, ia akhirnya menemukan Bonaparte di semak-semak.

"Ah, disitu kau rupanya. Aku mencarimu kemana-mana. Ayo ke sini." Millie membujuk Bonaparte, namun ia malah menggeram ke Millie.

"Kau kenapa? Ini aku Millie." Millie kebingungan mengapa Bonaparte menjadi begitu. Ia terus membujuknya, tetapi Bonaparte tetap menggeram. Beberapa menit kemudian, Sasarai melihat Millie yang duduk di semak-semak dan ia pun menghampiri Millie.

"Ada apa?" Tanya Sasarai kepada Millie.

"Bonaparte, ia menjauhiku. Apa ia membenciku?" Millie mulai menangis. Sasarai mengangguk-angguk mengerti.

"Coba aku dekati dia." Sasarai mendekati Bonaparte. Ia menatap Bonaparte untuk sekitar 20 detik. Setelah itu ia menggendongnya.

"Ah, ini hanya ada duri di kakinya." Sasarai menunjuk sebuah duri kecil yang ada di kaki Bonaparte, lalu perlahan mencabutnya.

"Ini,sudah ku cabut durinya." Sasarai memberikannya kepada Millie. Millie merasa senang dan memeluk kembali Bonaparte. Sasarai pergi meninggalkan mereka berdua. Millie baru sadar kalau ia harus mengucapkan terima kasih.

"Ah, terima kasih ya." Teriaknya kepada Sasarai. Sasarai menoleh dan menunjukkan senyum lebarnya yang polos itu.

"Lain kali awasi dia ya." Balas Sasarai lalu kembali berjalan. Millie terdiam dan wajahnya memerah.

End Flashback

"Hei Millie, ini buku bahasaku." Ellie menyerahkan buku itu, Namun Millie terdiam tidak memperhatikan Ellie karena ia hanya menatap Sasarai.

"RINGGGG...RINGGGG..." Bel pertanda masukpun berbunyi, Millie langsung tersadar dari lamunannya dan langsung mengambil buku dari tangan Ellie.

"Eh-Ah, terima kasih banyak Ellie-Chan." Ia pun langsung berlari keluar dan menuju kelasnya.

CHAPTER I DONE

PLEASE RNR