Chapter II

Disclaimer : Don't own anything

Waktu berjalan cukup cepat, dan sekarang adalah waktunya pulang sekolah.

"RIIIIINNNNGGG...RIIIINNNNGGGG!" Bel pertanda waktunya pulang sekolahpun berbunyi, para guru mengakhiri pelajaran lalu para siswa keluar meninggalkan sekolah dan kembali ke asrama.

Sasarai berjalan keluar dari gedung sekolah. Di halaman sekolah, ia kebetulan bertemu dengan Luc yang akan kembali ke asrama.

"Oi, Luc!" Panggil Sasarai. Luc menoleh dan langsung berekspresi tidak senang karena Sasarai yang memanggilnya. Sasarai berlari ke arah Luc.

"Kita jalan bersama saja." Ucapnya. Luc semakin tidak senang, tetapi ia tetap berjalan bersamanya. Luc mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari Sasarai. Mengetahui itu, Sasarai langsung mendekati Luc.

"Kenapa kau menjaga jarak dariku?" Tanyanya. Luc semakin kesal dan bete karena Sasarai mendekatinya lagi.

"Aku tidak suka kalau harus berjalan bersama kamu." Ucapnya ketus.

"Tidak suka kenapa?" Tanyanya lagi. Luc menghela nafas tetapi wajahnya masih tetap dalam raut wajah kesal dan bete.

"Coba kau lihat sekelilingmu." Luc menunjuk orang-orang yang ada di halaman sekolah. Mereka langsung berbisik-bisik ketika melihat Luc dan Sasarai berjalan bersama.

"Mereka pasti membicarakan kita kalau kau dan aku itu kembar." Luc semakin kesal kalau mengetahui hal tersebut.

"Memangnya kenapa? Aneh ya kalau kita berdua itu kembar?" Sasarai bertanya lagi. Pertanyaan itu membuat Luc semakin kesal, lalu ia menunjuk Sasarai.

"Sebaiknya kau jangan jalan bersamaku lagi, aku sangat tidak suka. Sebaiknya kau menjauh dariku mulai dari sekarang." Ucap Luc dengan ketus. Sasarai menunjukkan wajah bingung yang polos.

"Kenapa?" Tanyanya lagi. Luc sudah benar-benar kesal karena Sasarai bertanya terus.

"Pokoknya jangan dekati aku lagi!" Ucap Luc. Ia pun mempercepat langkahnya menuju asrama. Sasarai terdiam melihat tingkah laku saudara kembarnya itu. Setelah beberapa detik terdiam karena heran, ia langsung berjalan menuju gereja.

U-U-U-U-U

Di gereja, Sasarai kembali membersihkan daun-daun yang berjatuhan. Ketika itu datang seseorang yang berjalan mengendap-endap untuk mengageti Sasarai.

"BAAA!" Teriaknya tepat di telinga Sasarai. Sasarai langsung kaget dan berlari menjauhi orang tersebut.

"Hahaha, kau ini mudah sekali kaget ya." Orang tersebut tertawa melihat Sasarai yang kaget.

"To-tolong jangat begitu lagi Klaus-Senpai." Ucapnya sambil ngos-ngosan dan memegang dadanya karena terlalu kaget.

"Hihi, iya maaf deh. Temani aku mengobrol dong, aku sedang bosan nih." Ucapnya dengan senyum yang agak jahil belum bisa lepas dari wajahnya.

"Mau mengerjaiku lagi ya? Aku sedang sibuk sekarang." Balas Sasarai karena ia melihat senyum jahil Klaus belum lepas dari wajahnya.

"Tidak kok, kau sambil membersihkan daun juga tidak apa-apa kok. Ayolah." Klaus sekarang bisa melepas senyum jahil tadi dengan wajah memelas. Sasarai menghela nafas, tapi akhirnya ia mau menemani Klaus mengobrol.

Sekitar 5 menit mereka mengobrol, seseorang berpakaian biarawati berjalan menuju gereja dan melihat Sasarai dan Klaus sedang mengobrol, lalu ia pun menemui mereka berdua.

"Wah, kau sudah bekerja keras ya Sasarai." Ucapnya kepada Sasarai. Sasarai menyadari kalau seorang biarawati sedang berbicara dengannya.

"Ah, Sierra-san selamat siang." Ucapnya dengan senyum yang lebar, Sierra membalasnya dengan senyum juga.

"Kau anak yang baik Sasarai. Tuhan pasti akan selalu bersamamu." Mendengar itu Sasarai merasa senang karena seorang biarawati juga mendo'akannya.

"Klaus tetaplah sering-sering datang kemari, Tuhan selalu memberkatimu." Sierra pun mendo'akan Klaus. Klaus menjadi malu-malu di depan Sierra.

"Err.. Ah iya, terima kasih banyak Sierra-san." Ucapnya dengan nada yang malu-malu.

"Kalau begitu, aku ke dalam gereja dulu ya." Sierra berpamit untuk meninggalkan mereka berdua. Setelah Sierra masuk ke dalam gereja, Klaus tersenyum-senyum sendiri.

"Sierra-san memang selalu cantik ya." Ucapnya sambil menggosok-gosokkan dagunya. Mendengar itu, Sasarai langsung kaget.

"Kau sering ke gereja jangan-jangan karena Sierra-san ya?" Dia mencoba menebak dan bertanya kepada Klaus, tetapi ia tidak mendengarkan apa yang Sasarai katakan.

"Gereja memang tempat yang bagus ya. Penuh dengan kebahagiaan" Ucapnya lagi. Sasarai semakin mencoba untuk membenarkan otak Klaus yang sudah berpikiran aneh-aneh.

"Gereja bukan tempat yang seperti itu ya." Ucapnya lagi sambil menjitak pelan kepala Klaus. Melihat Sasarai menjitak kepalanya, ia pun mencoba membalasnya dengan menarik pipi Sasarai.

"Apa kau menjadi anak gereja karena ingin melihat Sierra-san ya? Berarti kita sama dong." Ucapnya dengan senyum yang licik.

"Janghhan samakhhan akkhu denghhanmhu." Ucap Sasarai selagi Klaus sedang menarik kedua pipinya. Setelah 15 detik, Klauspun melepas pipi Sasarai. Sasarai memegang kedua pipinya yang memerah karena di tarik itu sambil menggosok-gosokkannya.

"Kau sering-sering datang ke gereja karena hal yang seperti ini nanti kau akan mendapat kesulitan lho, Senpai." Ucap Sasarai. Klaus bersiul dan pura-pura tidak mendengar. Sasarai menghela nafas melihat kelakuan senior nya yang seperti itu.

"Daripada kau ke gereja malah untuk membuat dosa, sebaiknya kau berdo'a untuk kelancaran ujianmu nanti." Ucapnya lagi. Klaus langsung bereaksi mendengar kata "ujian", ia pun menunjuk Sasarai.

"A-apa maksudmu?" Tanyanya dengan keringat dingin, Sasarai menatapnya dengan tatapan polos dan tersenyum.

"Bukannya kau sebentar lagi akan menghadapi ujian? Jika kau gagal, kau tidak akan dikirimi uang lagi selama 2 bulan, kan?" Sasarai membalas pertanyaannya dengan pertanyaan. Klaus semakin berkeringat dingin.

"Kau menang kali ini! Lihat saja aku akan lulus ujian itu dan aku akan membalasmu Sasarai!" Ucap Klaus dan ia langsung berlari meninggalkan gereja. Sasarai hanya terheran-heran dengan perkataan Klaus tadi.

Setelah Klaus benar-benar menghilang, Sasarai kembali membersihkan dedaunan, ia sambil berpikir dan melihat ke arah jalan setapak menuju gereja.

"Dia tidak datang ya?" Pikirnya lagi. Tapi Sasarai kembali menyadari apa yang ia pikirkan lagi.

"A-apa yang aku pikirkan? Hentikan, itu akan membuatku sama saja seperti Klaus-senpai!" Ucapnya lagi sambil menampar pipinya.

"Sebaiknya aku percepat saja pekerjaanku ini." Ucapnya dalam pikirannya dan ia pun membersihkan dedaunan itu dengan cepat.

Sasarai's Pov

"Akhirnya selesai juga." Ucapku yang baru saja selesai mengumpulkan daun-daun yang berjatuhan dan aku akan memasukkannya di kantong sampah. Sayangnya angin kencang berhembus dan menyebarkan kembali daun-daun yang sudah kurapikan.

"Ya Tuhan. Tapi tidak apa-apalah, kalau ada daun yang jatuh lagi aku tidak perlu membersihkannya dua kali." Ucapku. Aku berpikir secara positif saja, Tuhan melakukannya ini demi kebaikan. Ketika aku membersihkan kembali dedaunan itu, aku melihat ada sebuah topi yang baru saja tadi di terbangkan angin itu terjatuh tidak jauh dari hadapanku.

"Itu milik siapa ya?" Pikirku. Ketika aku akan memungut topi itu, seseorang sudah berlari kearah topi tersebut. Orang tersebut adalah gadis yang aku lihat di kemarin.

Wajahnya memerah karena berlari, rambutnya yang berkibar karena angin tadi. Aku membeku,terdiam dan tak bisa berhenti menatapnya. Ia mengambil topinya itu dan masuk ke dalam gereja.

"Ya Tuhan, apa yang sebenarnya kau rencanakan?" Tanyaku dalam pikiran.

End Pov

Sasarai memberanikan diri untuk masuk ke dalam gereja. Padahal biasanya ia sering keluar-masuk gereja tanpa perasaan ragu, tetapi kali ini sepertinya berbeda.

Di sebuah kursi di gereja, seorang gadis yang di lihat oleh Sasarai tadi. Ia duduk sedang berdo'a sambil tersenyum. Melihat itu Sasarai semakin tidak bisa berhenti menatapnya.

"Apa yang sebaiknya aku lakukan?" Sasarai berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan gadis tersebut. Setelah beberapa detik, gadis itu telah selesai berdo'a.

"Ini saatnya!" Sasarai berjalan menghampirinya, lalu ia menepuk pelan pundak gadis tersebut. Si gadis itu agak kaget, lalu ia melihat wajah Sasarai lekat-lekat.

"Luc?" Nama itulah yang keluar dari mulut si gadis. Sasarai hanya bisa melongo dan heran.

Setelah Sasarai menjelaskan kalau ia bukanlah Luc dan mengobrol sebentar, si gadis langsung berwajah merah dan malu karena ia salah mengira.

"Ma-maafkan aku!" Kata si gadis sambil menutup mukanya karena malu.

"Ah, iya tidak apa-apa. Memang kebanyakan orang salah menyangka kalau aku itu Luc, begitu juga sebaliknya." Balas Sasarai. Si gadis mulai menurunkan tangannya.

"Ehm, jadi namamu Viki ya. Padahal kelas kita bersebelahan tapi tidak pernah bertemu." Sasarai memulai pembicaraan sambil ia menggaruk pipinya menggunakan telunjuknya.

"Ah, iya juga ya. Mungkin ini karena aku jarang keluar kelas." Jelas Viki lagi. Mereka pun tertawa bersama.

"Karena kelas kita bersebelahan, bagaimana kalau kita berteman?" Tanya Sasarai. Viki mengangguk-angguk tanda kalau ia mau menjadi teman Sasarai.

"Iya, kalau begitu ini." Viki menyodorkan tangannya ke Sasarai. Sasarai menjadi bingung apa maksud Viki menyodorkan tangannya.

"Ini.. Maksudnya apa?" Tanya Sasarai.

"Kita berjabat tangan sebagai tanda kalau kita ini berteman." Viki menjelaskan dengan senyum yang polos. Sasarai akhirnya mengerti, ia mencoba membalas jabat tangan dari Viki. Ketika ia menyentuh tangan Viki, dadanya berdebar dan keringat dingin mulai keluar.

Setelah berjabat tangan, Viki meninggalkan gereja lalu pergi ke alun-alun kota.

"Terima kasih banyak ya Sasarai." Ucap Viki untuk berpamitan kepada Sasarai.

"A-aku tidak melakukan apa-apa kok." Balasnya dengan agak gugup. Viki kembali tersenyum.

"Kau sudah mau menjadi temanku, aku sangat senang temanku bertambah lagi." Jelas Viki, lalu iapun pergi meninggalkan Sasarai sambil melambaikan tangannya.

Viki menghilang dari tatapan Sasarai. Sasarai langsung memegang dadanya.

"A-apa yang terjadi denganku? Kenapa dadaku bisa berdebar kencang begini?" Sasarai merasa bingung, baru kali ini dadanya bisa berdebar sekencang ini. Namun ia bisa melupakan kebingungan itu sampai ia melihat sekeliling halaman gereja.

"E-eh. Aku lupa membersihkan daun-daun ini!" Sasarai langsung mengambil sapunya dan mengumpulkan dedaunan itu dengan cepat. Ketika ia sedang mengumpulkan daun-daun itu, sesosok landak mini berada di kakinya, ia pun menunduk dan melihat kakinya.

"Eh, kamu kan hewan yang waktu itu. Kenapa sendirian di sini?" Sasarai menggendong Bonaparte. Tidak lama, terlihat sosok Millie yang sedang berlari-lari sambil memanggil Bonaparte.

"Bonaparte.. Kamu dimana?!" Teriak Millie. Sasarai pun menghampiri Millie yang tidak jauh dari ditempat dimana dirinya menemukan Bonaparte.

"Hei, kau mencari ini?" Sasarai menyapa Millie sambil menunjukkan Bonaparte kepadanya. Wajah Millie langsung memerah karena Sasarai mengajaknya berbicara.

"A-ah, Emh.. I-iya terima kasih."Millie mengambil Bonaparte sambil menunduk, karena ia tidak ingin kalau Sasarai melihat wajahnya yang memerah itu. Sasarai tersenyum dan kembali memebersihkan dedaunan.

"K-kau yang membersihkan semua dedaunan ini?" Tanya Millie, ia agak heran kenapa hanya Sasarai yang membersihkan dedaunan itu.

"Iya, aku yang membersihkannya." Jawab Sasarai

"Ke-kenapa hanya kamu sendiri? Bukankah ini berat dikerjakan sendirian?" Mendengar pertanyaan Millie itu, Sasarai tersenyum.

"Bagiku tidak terasa berat kok, soalnya aku menganggap ini kukerjakan atas nama Tuhan. Jadi tidak berat kok." Jawabnya dengan senyum yang belum lepas dari wajahnya itu. Jawaban Sasarai itu membuat dada Millie berdegup kencang, lalu ia mengambil sapu milik gereja di dekat pohon.

"A-aku boleh membantukan?" Tanya Millie dengan sapu yang ada di tangannya itu.

"Eh? Tidak usah repot-repot kok." Jawab Sasarai.

"Biarkan aku membantumu, lagipula pekerjaan akan lebih ringan kalau di kerjakan bersama-sama." Millie tetap mengotot mau membantu Sasarai. Sasarai cukup terkaget mendengar kata-kata Millie itu, ia tersenyum kecil.

"Baiklah, mohon bantuannya ya." Ucap Sasarai dengan senyum yang lembut. Merekapun membersihkan dedaunan bersama-sama.

CHAPTER II DONE

PLEASE RnR