Hai, semuanya!

Saya kembali membawa chapter 2 dari fic ini.

Saya harap kalian suka dengan ceritanya. Selamat membaca!

Warning! Akaba POV, OOC (bila ada), dan jika ada kekurangan lainnya.


Eyeshield 21

Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata

Dibalik Kebetulan

Neary Lan


Di pertemuan kali ini kau tiba-tiba tertidur setelah memintaku bermain gitar. Di satu sisi aku kecewa karena kita tidak berbicara lama seperti biasanya, tetapi di sisi lain aku senang karena bisa melihat wajahmu sepuasnya tanpa kau sadari.

"Kau benar-benar cantik, Anezaki," kataku sambil bertopang dagu dengan siku menyangga di sandaran bangku taman. "Sangat cantik seperti malaikat bahkan saat tertidur sekali pun. Aku jadi iri karena di Deimon ada manajer malaikat cantik sepertimu. Ah, tetapi bukan berarti aku kecewa pada Julie. Julie itu manajer kami yang hebat dan selalu siaga ketika melerai pertengkaranku dengan Kotaro."

Kuperhatikan dirinya dengan seksama. Wajah cantiknya begitu damai. Mata safirnya masih terpejam. Rambutnya dimainkan angin sepoi-sepoi. Nafasnya teratur seolah memainkan nada-nada rendah. Kulit putihnya tertimpa cahaya senja. Kau sungguh bagai malaikat, namun sayang kau tidak memiliki sayap. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri melihatmu yang tanpa pertahanan. Jemariku ingin membelai pipimu. Bahuku bersedia menjadi sandaran kepalamu. Tanganku tak menolak untuk memeluk tubuhmu. Lalu bibirku…

"Oh, sial! Apa yang kupikirkan? Lihat, Anezaki. Aku mulai kacau, pikiranku mulai tak waras. Mau sampai kapan kau tertidur dan membuatku tersiksa seperti ini? Jangan salahkan aku jika aku kehilangan kendali diri."

Aku mulai membantin sambil menarik rambutku frustasi. Rasanya aku seperti iblis yang ingin menjamah malaikat dan melenyapkan kesuciannya. Tampaknya aku harus menjernihkan pikiranku atau lebih baik aku ke sekolah Shinryuji untuk menumpang bermeditasi dan mengharapkan pencerahan. Mungkin sebaiknya tidak. Kutatap ia lagi, jemariku bergerak perlahan dan kulit halus pipinya terasa di jariku. Aku membelai pipinya perlahan agar ia tak terbangun. Dari pipi kini jemariku bergerak ke rambutnya dan mengelusnya perlahan juga. Dia begitu lembut. Ada rasa senang saat aku menyentuhnya dan menyiksa ketika jantungku berdetak kencang serta wajahku perlahan memanas. Pengalaman yang akhir-akhir ini sering kualami bila berada didekatmu.

Tanpa ragu-ragu kutarik pelan kepalanya dan kusandarkan di bahuku. Ia terlihat menggeliat, aku takut ia terbangun. Setelah pergerakannya terhenti tanganku kembali mengelus rambut halusnya hingga dapat kucium wangi samponya, wangi mawar.

"Anezaki, terkadang aku bertanya-tanya kenapa saat-saat bersamamu bisa sangat menenangkan. Rasa lelahku akan hilang jika melihatmu. Fuh, apa itu yang dirasakan orang yang sedang jatuh cinta?" bisikku.

Aku tidak tahu bagaimana reaksimu jika mendengar kata-kataku tadi. Cinta, aku jatuh cinta padamu entah sejak kapan tanpa kusadari. Waktu yang menunjukkan dan aku yang harus menyadarinya. Perlahan dan pasti hingga pada jawaban terakhir.

Aku menyukaimu.

"Fuh, dari pertemuan kebetulan itu kau berhasil membuatku yang jatuh cinta dengan American football dan musik kini juga jatuh cinta padamu. Kau berhasil, Anezaki. Ah, bukan, Mamori," bisikku kembali sambil menyebut nama kecilnya. Rasanya terdengar lebih indah dan ingin berulang kali menyebutnya.

Mamori, Mamori, Mamori, Mamori, Mamori…

"Bolehkah aku memanggilmu Mamori?" tanyaku pada dirinya yang masih tertidur. Aku seperti orang bodoh bicara dengan orang tidur. "Fuh, akan kutanyakan itu lain kali."

Aku berhenti mengelus rambutnya. Perlahan kotolehkan kepalaku ke arahnya dan kukecup keningnya. Cukup lama aku melakukannya sambil berharap agar ia tidak terbangun. Aku menarik kepalaku dan tersenyum puas. Selanjutnya kugenggam tanganmu dan kukecup.

"Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan diriku, Anezaki."

Setelah beberapa lama akhirnya ia terbangun. Kelopak matanya membuka perlahan menunjukkan safir indahnya. Kepalanya beranjak dari bahuku. Kesadaran mulai menguasainya ketika mendengar suaraku.

"Akhirnya kau bangun juga," kataku tersenyum.

Matanya langsung terbelalak, gerakannya canggung. Ia mulai panik dan salah tingkah terlebih ketika menyadari jas sekolahku menyelimutinya. Aku memang sempat melepaskan jasku walaupun mengalami kesulitan. Wajahnya memerah, tangannya menutup mulutnya. Aku hanya merenggangkan otot-ototku terutama bahuku. Ia menggenggam erat jas sekolahku seakan ingin menutupi wajahnya.

"Ma-maaf, aku ketiduran," katanya gugup dengan kepala tertunduk tak berani menatapku.

"Tidak apa. Tidurmu terlihat nyenyak, aku jadi tidak tega membangunkanmu. Karena itu kupinjamkan bahuku untukmu bersandar juga jas itu," kataku menunjuk jasku di tangannya. "Agar kau tidak kedinginan."

"Ah, i-ini jasmu. Maaf, merepotkan," katamu sambil menyerahkan jas itu padaku. Aku langsung memakainya dan kusadari aroma dirimu yang tertinggal di jasku. "Uh, sejak kapan aku tertidur?"

"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin kau kena flu," kataku sambil merapikan jasku. "Kau tertidur sejak aku bermain gitar."

"Be-benarkah?" tanyamu tidak percaya. Aku hanya mengangguk.

Kulihat wajahmu meringis, merasa bersalah. Kau pun terdiam, suasana hening sesaat. Kurasa ia tidak enak padaku karena ketiduran di pertemuan kali ini. Tetapi aku tidak menyesalinya, hanya sedikit merasa tersiksa. Kulihat ia ingin mengatakan sesuatu.

"Be-berarti sejak tadi kamu melihat wajahku saat sedang tidur?" tanyanya.

"Fuh, begitulah. Kau tetap terlihat cantik walaupun sedang tertidur," kataku jujur.

"Ah, malunya sampai dilihat Akaba. Seharusnya aku tidak ketiduran," katanya panik sambil menutup wajah merahnya dengan kedua tangannya.

"Fuh, aku minta maaf jika melihat wajah tidurmu, tetapi itu tidak sengaja," kataku yang juga merasa salah tingkah. Ini memang murni ketidaksengajaan.

"Tetapi, aku benar-benar malu," ujarnya, kemudian ia menundukkan kepalanya. "Sekali lagi aku minta maaf. Aku benar-benar sudah merepotkan Akaba. Maafkan aku, Akaba," katanya dengan berulang kali meminta maaf.

"Fuh, tidak apa-apa, Anezaki. Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Kurasa kau kelelahan, mungkin sebaiknya kau tidak memaksakan diri untuk datang. Bagaimana kalau kau sakit?" kataku khawatir.

"Ki-kita sudah berjanji. Aku tidak ingin membatalkannya," katanya dengan wajah memerah.

Aku terkejut dan jantungku berdetak kencang ketika mendengar ucapannya. Dia rela mengabaikan rasa lelahnya dan tetap menepati janji menemuiku. Aku merasa senang mendengarnya hingga senyumku kian melebar. Itu terdengar seolah aku menjadi orang terpenting bagimu. Tentu saja itu hanya pikiranku dan tidak ada salahnya jika aku sedikit berharap.

"Te-terima kasih atas kebaikanmu, Akaba," ujarmu memberanikan diri menatap mata merahku.

"Sudah berapa kali kubilang tidak apa-apa, Anezaki. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu. Lenyapkan wajah bersalahmu itu dan tersenyumlah," ujarku hingga akhirnya ia tersenyum. "Begitu lebih baik."

"Terima kasih, Akaba."

"Anytime," kataku sambil bangkit berdiri. "Nah, sekarang kita pulang. Aku akan mengantarmu, tidak baik anak perempuan pulang sendirian apalagi sekarang sudah mulai gelap," tawarku sambil mengulurkan tangan padanya.

Dia sempat berpikir. Hanya sesaat dan tangannya kini sudah berada digenggaman tanganku. Sebelah tanganku yang lain membawa gitar kesayanganku. Kami pun mulai beranjak meninggalkan taman tersebut. Ini memang bukan kali pertama aku mengantarnya pulang. Biasanya ia selalu menolak dengan alasan hari belum terlalu gelap atau ia masih ada keperluan di klubnya atau alasan lainnya. Tetapi aku akan memaksa mengantarnya bila hari sudah terlanjur gelap seperti saat ini. Tidak jarang kami bertemu dengan teman setimnya di Deimon. Misalnya, saja si Eyeshield 21 dan temannya yang mirip monyet itu atau si lineman gendut dan juniornya atau yang lainnya lagi, kecuali kaptennya. Dia hanya akan beralasan kami kebetulan bertemu dan mengobrol ringan.

Untung saja kali ini kami tidak bertemu siapa pun walaupun akhir-akhir ini aku selalu merasa kami dibuntuti. Mungkin hanya perasaanku. Selama di perjalanan kami hanya mengobrol seputar American football diselingi pelajaran istilah musik dariku. Masih teringat di benakku atas apa yang kulakukan tadi. Aku menyentuhnya tanpa izinnya.

"Sudah kubilang jangan salahkan aku kalau aku lepas kendali."

Batinku menjerit ketika mengingat kejadian itu. Ia hanya menatap bingung diriku yang sedang bertentangan dengan pikiranku sendiri. Tanpa kusadari kami telah berada di depan rumahnya. Sebelum ia masuk kami saling bertatapan dan mengucap salam perpisahan.

"Terima kasih, ya, Akaba. Hari ini aku sudah…"

"Jangan dilanjutkan, Anezaki. Kau sudah berulang kali mengucapkannya dan jawabanku masih sama," potongku tiba-tiba. Ia hanya tersenyum.

"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih juga sudah mengantarku pulang," katanya dengan senyum yang menawan.

"Ya, sama-sama. Aku senang mengantarmu sampai di rumah dengan selamat."

Dia tertawa mendengar perkataanku. "Kamu terdengar seperti orang tua."

"Aku hanya mencemaskanmu," kataku pelan.

Sesaat ia terkejut dan mengucapkan terima kasih kembali. Aku sama sekali tidak sadar kata-kata tadi meluncur dari bibirku, tetapi itulah yang kurasakan.

"Kalau begitu aku pulang dulu. Selamat malam, Anezaki."

"Selamat malam, Akaba."

Kami melambai tangan singkat. Ia berjalan ke arah rumahnya dan aku berjalan ke arah yang lain. Belum sampai lima langkah berjalan kudengar ia memanggil namaku.

"Akaba!"

Aku menoleh dan mendapatinya berjalan ke arahku. Ia menatapku sesaat dengan ragu. Aku bingung melihatnya diam menatapku. Belum sempat mulutku terbuka untuk bicara tiba-tiba saja ia berjinjit dan mengecup pelan pipiku. Hanya sesaat namun berhasil membuatku terdiam membeku. Mataku terbelalak dan jantungku seakan melompat keluar, ritmeku jadi kacau. Ia kembali menatapku dengan wajah memerah.

"Itu hadiah untukmu. Selamat malam, Akaba," katamu sambil berlalu.

Pintu rumahmu pun tertutup sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih. Untuk beberapa saat aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Kejadian ini begitu tiba-tiba dan diluar perkiraanku. Tanganku terangkat menyentuh pipi kananku yang dikecupnya. Masih terasa sentuhan bibirnya, pipiku menghangat. Setelah kesadaranku kembali senyumku mengembang.

"Terima kasih dan selamat malam, Mamori."

Aku pun berlalu dari hadapan rumahmu. Hari ini aku sangat bahagia. Mendapat kecupan darimu tentu membuatku senang. Aku jadi merasa curang darimu karena aku mengecupmu tanpa sadar, sementara kau melakukannya dengan sadar dan berani. Aku jadi ingin menghukum diriku. Tanganku kembali memegang pipi yang kau kecup dan kembali tersenyum.

"Menarik. Kau membuat dirimu semakin menarik hingga aku pun semakin tertarik padamu, Mamori. Aku benar-benar menginginkanmu. Terima kasih untuk hadiah yang luar biasa ini."

Sejak hari itu aku semakin yakin bahwa aku serius akan perasaanku padamu. Pertemuan itu seolah mengikatku denganmu di taman itu. Tetapi aku tetap ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadapku. Memang aku sering mendapatimu salah tingkah terhadapku, diam-diam menatapku dengan wajah memerah, atau sesekali mengomentari penampilanku. Terkadang aku pun juga merasa salah tingkah, namun aku bisa mengatasinya dengan berpura-pura bersikap cool. Aku ingin saja jujur tentang perasaanku, tetapi hatiku belum siap. Masih ada keraguan.

Saat ini masih bulan Oktober, masih musim gugur. Kita pun masih sering bertemu di taman itu. Tetapi menjelang akhir bulan kita mulai jarang bertemu. Kau terlalu sibuk dan mendapat banyak pekerjaan dari kaptenmu serta sering bepergian dengannya. Kuakui kalau aku merasa sedikit cemburu. Aku pun sempat berpikir jangan-jangan kaptenmu mulai menyadari kau sering pergi menemuiku. Walaupun kaptenmu cuek sepertiku, tetapi tidak menutup kemungkinan jika ia juga menyukaimu. Itu hanya sebatas pemikiran orang yang sedang cemburu. Bisa saja itu memang murni urusan klubmu. Sebenarnya aku pun tidak berhak cemburu karena kita tidak punya hubungan spesial selain berteman.

"Salahkah jika seorang teman merasa cemburu terhadap rekan gadis yang disukainya?"

Kini tanpa adanya dirimu aku tetap datang ke taman itu bersama gitar kesayanganku. Seperti kembali ke awal di mana di taman inilah semuanya bermula. Dari kebetulan menjadi kenyataan. Kita hanya bertemu di taman ini, tidak pernah ke tempat yang lain. Bahkan aku tidak pernah berpikir untuk bertemu denganmu selain di taman ini. Taman yang kudatangi dengan tujuan mencari ketenangan dan aku mendapatkannya berkat keberadaanmu.

"Jadi, apa ini kebetulan atau takdir?"

Sekarang pertanyaan itu selalu terngiang dipikiranku. Dulu selalu kukatakan pertemuan kita adalah kebetulan dan kali ini aku mulai meragukannya. Terkadang aku memberitahumu jika aku berada di sana, kadang juga tidak. Sekali dua kali kau datang setelah membaca pesanku, sekali dua kali juga kita bertemu karena kebetulan. Betapa bahagianya aku ketika bisa melihatmu kembali walaupun dalam waktu singkat. Aku harap kau punya perasaan yang sama denganku. Entah kenapa aku merasa kau mulai sulit untuk kuraih.

Saat ini aku sedang mengurung diri di ruang klub sambil bermain gitar. Latihan telah usai beberapa menit yang lalu dan hampir semua anggota timku sudah pulang. Julie sedang ke minimarket bersama Kotaro, kalau aku tidak salah. Kali ini aku tidak ke taman itu karena ketenangan yang kuinginkan tidak ada. Akhir-akhir ini pun aku juga mulai jarang ke taman itu. Komunikasi kami masih berjalan walau hanya sebatas telepon dan email. Sempat terpikir untuk berkunjung ke sekolahmu, namun langkahku selalu terhenti di pintu gerbang sekolahmu. Aku tidak ingin mengganggumu, aku tidak ingin egois. Pintu ruang klub terbuka dan muncul Kotaro yang berjalan ke arahku. Sepertinya dugaanku tadi salah, dia tidak pergi dengan Julie.

"Sedang apa kau sendirian di sini? Tidak pulang?" tanyanya dengan nada bicara tak bersahabatnya.

"Fuh, boleh kulemparkan pertanyaan itu padamu?" tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya.

"Hah? Kau ini, melempar ulang pertanyaan itu sama sekali tidak smart," gerutunya.

"Bukankah tadi kau pergi dengan Julie?"

"Aku menolak dan kuminta anak lain yang menggantikanku. Julie selalu lama memilih barang," keluhnya dengan tetap menyisir rambutnya.

Aku menanggapi alasannya dengan kalimat singkat. Kotaro melirikku yang bermain gitar sambil melamun. Ia mengibaskan tangannya di depan wajahku.

"Hei, kau tidak apa-apa, Akaba? Kau melamun," ujarnya.

"Jauhkan tanganmu dari hadapan wajahku," perintahku.

"Apa? Jadi kau tidak melamun? Sial, kau menipuku. Tidak smart!" seru Kotaro kesal.

"Fuh, aku melamun pun apa urusannya denganmu, Kotaro."

"Ya, kau benar. Apa urusannya bagiku," cibir Kotaro. "Asal kau tahu saja akhir-akhir ini kulihat kau sering melamun. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?"

"Kau memperhatikanku? Kurasa ada yang salah dengan melodimu, Kotaro," candaku. Padahal yang dikatakannya itu benar, aku jadi kaget mendengarnya.

"Jangan salah paham, ya. Aku hanya tidak suka kalau kau tidak serius saat latihan," jelasnya. "Jadi, apa ada yang mengganggu pikiranmu? Apa masalah keluarga? Gitar? Uang saku?" tebak Kotaro.

"Aku sedang tidak ingin bermain tebak-tebakan denganmu," tolakku. Tetapi Kotaro tetap melanjutkan tebakannya.

"Hm, apa karena matamu yang menyeramkan? Sikapmu yang menyebalkan? Istilah musik anehmu yang membuat orang kebingungan? Permainan gitarmu yang jelek? Suaramu yang fals?" tebak Kotaro lagi.

Aku hanya menghela nafas. "Fuh, itu sama sekali bukan tebakan. Kau hanya menyebutkan keburukan tentangku," kataku yang membuat Kotaro nyengir lebar. "Kalau pun ada sesuatu yang kupikirkan, itu pasti bukan dirimu."

"Hei, siapa juga yang meminta kau memikirkanku," protesnya. "Hm, berarti kau sedang memikirkan seseorang, ya. Biar kutebak lagi, kau pasti sedang memikirkan seorang gadis, 'kan?"

"Wah, sayang sekali tebakanmu salah," sangkalku cepat.

"Tch, kau berbohong, 'kan?" selidiknya. "Berbohong kepadaku itu sama sekali tidak smart."

"Fuh, bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu?"

"Jangan meremehkanku yang smart ini," katanya sombong. "Aku tahu kalau kau selama ini diam-diam pergi menemui pacarmu, 'kan? Iya, 'kan? Aku benar, 'kan? Ayo mengaku, Akaba!" desaknya.

Aku terkejut dengan tebakannya itu. Tetapi aku berusaha untuk bersikap biasa.

"Mungkin kau benar, Kotaro. Aku pergi dengannya untuk mencari ketenangan. Apa kau ingin kukenalkan padanya?" tanyaku dengan bermaksud mengerjainya.

"Eh, kau ingin mengenalkanku pada pacarmu? Sejak kapan orang sepertimu punya pacar?" tanya Kotaro polos.

Mendengar pertanyaan Kotaro membuatku ingin menendangnya, walaupun tendanganku tidak seakurat dirinya.

"Kau meremehkanku, Kotaro. Jadi, kau ingin tahu?"

"Pacarmu? Tentu saja. Siapa dia? Apa dia cantik?" tanya Kotaro penasaran.

"Ya, saat ini dia sedang bersamaku," kataku menyeringai sambil menunjuk gitarku. "Lihat, dia cantik, 'kan? Suara yang dihasilkannya sangat menggetarkan jiwa, pasangan yang penuh harmoni."

"Apa? Gitar ini yang kau sebut pacarmu yang cantik? Seharusnya aku sudah tahu jawabanmu yang tidak smart itu," kesal Kotaro menunjukku dengan sisir kebanggaannya. "Kau mengerjaiku, Akaba!"

Kotaro terlihat kesal. Aku hanya tersenyum puas karena berhasil mengerjainya. Kurasa kehadiran Kotaro tidak buruk juga karena sesaat membuatku melupakan masalahku. Aku harus berterima kasih padanya.

"Terima kasih sudah menjadi sukarelawan untuk kukerjai, Kotaro," kataku tersenyum.

"Aku tidak butuh rasa terima kasihmu, Akaba bodoh. Kurasa kau harus ke dokter untuk memeriksakan otakmu yang tercemari pengaruh musik tidak smart itu," cibirnya lagi. "Aku sangat yakin kalau kau pasti sedang memikirkan seorang gadis. Yang kumaksud gadis sungguhan, bukan gitar bodohmu itu. Kau harus membedakannya."

"Fuh, kurasa kita tidak perlu lagi melanjutkan permainan tebak-tebakan ini," kataku bergegas menenteng tas dan gitarku. Aku tidak ingin Kotaro menggali informasi tentangku terutama tentang dia.

"Hei, kau mau kemana?" cegat Kotaro.

"Pulang. Aku lelah."

"Hei, kau mau kabur, ya? Julie belum kembali, kunci ruang klub ada padanya."

"Kau tunggu saja sampai dia kembali. Aku pulang dulu. Bye," kataku melambaikan tangan.

"Hei, hei, Akaba. Jangan tinggalkan aku sendirian. Hei, maniak gitar. Ah, kau sama sekali tidak smart," seru Kotaro keras-keras.

Aku segera berlalu keluar dari ruang klub tanpa mempedulikan panggilan Kotaro. Ketika sampai di gerbang aku bertemu Julie dan salah satu anggota timku. Aku hanya membalas sapaan singkatnya dan mengatakan bahwa Kotaro ada di ruang klub. Setelah itu aku melanjutkan perjalanan pulangku.

Tebakan terakhir Kotaro tadi benar. Aku memang sedang memikirkan seorang gadis, yaitu dia. Mamori Anezaki yang sudah lama tidak kutemui. Seperti kata Kotaro juga bahwa aku memang sering melamun. Latihan pun tidak serius. Tidak kusangka si maniak sisir itu memperhatikanku. Kurasa mungkin ini ada pengaruhnya ketika aku tak sengaja melihatmu jalan bersama kaptenmu.

Saat itu kalian baru keluar dari toko alat olahraga. Walaupun berjalan sambil diselingi argumen dan pertengkaran kecil, di mataku kalian terlihat seperti pasangan. Tetapi aku tidak akan mengatakan kalian pasangan yang serasi. Diam-diam aku mengikuti kalian dan memastikan keberadaanku tidak diketahui. Aku memang harus waspada terhadap kaptenmu yang katanya punya banyak mata-mata. Kalian pergi ke toko kue sus Kariya, kemudian minimarket hingga barang belanjaan kalian menjadi banyak. Aku berhenti mengikuti kalian ketika kalian berjalan menuju SMU Deimon.

"Aku ingin kau tahu apa yang kurasakan ketika melihatmu bersamanya, Anezaki. Aku benar-benar cemburu."

Batinku berteriak demikian. Tanganku terkepal dan kutinju keras tembok tempat kubersembunyi. Aku tidak peduli dengan rasa sakit yang tanganku rasakan. Sakit di dadaku lebih perih. Lebih perih daripada luka-luka yang kualami saat latihan American football. Tidak kupedulikan daun musim gugur yang bertiup ke arahku. Aku tahu aku tidak berhak cemburu. Ternyata pertemuan kita selama ini memang tidak lebih sekedar bertemu teman lama. Mungkin hanya aku yang memiliki perasaan sepihak. Mungkin lebih baik sejak awal kita tidak meneruskan pertemuan itu dan membiarkannya menjadi pertemuan yang terus dan selalu kebetulan. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih.

Sejak itulah aku selalu mengabaikan pesan darimu atau membalasnya dalam waktu yang lama. Aku merasa bersikap seperti orang yang memergoki perselingkuhan pacarku. Dia memang bukan pacarku, tetapi aku ingin menyandang status itu dengannya. Hanya tiga hari kuabaikan pesan darinya karena aku tahu tindakanku salah dan minta maaf padanya. Aku tidak akan menceritakan padanya hari di mana aku mengikutinya dan kaptennya. Tidak seharusnya juga aku cemburu dengan kaptenmu. Kau memang sering menceritakannya, tetapi kau tidak pernah terlihat seperti orang yang menaruh hati padanya. Kalau pun kau menyukainya kurasa tidak sebaiknya kau selalu menemuiku. Jika kau menyukainya bukankah mudah bagimu untuk mendekatinya karena kalian selalu bertemu, tidak seperti aku. Setelah memikirkan itu aku menjadi lega.

"Jadi, kenapa kita selalu bertemu? Apa yang sebenarnya kau rasakan terhadapku?"

Itu adalah pertanyaan yang harus segera kutemukan jawabannya. Aku tidak ingin menundanya lagi. Setelah melihatmu berpergian dengan kaptenmu aku jadi berinisiatif mengambil langkah cepat. Aku takut pikiranku menjadi kenyataan. Aku mengirim pesan untuk bertemu di taman itu. Syukurlah ia menyetujuinya. Sepulang sekolah aku langsung bergegas ke sana tanpa mempedulikan teriakan Kotaro yang mengajakku latihan. Saat ini tidak ada waktu untuk latihan. Aku harus segera menemuinya. Sudah terlalu lama aku tidak bertemu dengannya.

"Aku merindukannya."

Aku terus berlari menuju tempat pertemuan kita. Sebentar lagi kita akan bertemu. Dari kejauhan aku sudah dapat melihat rambut cokelat kemerahanmu. Aku terus mempercepat lariku. Akhirnya aku sampai tepat di hadapanmu yang sedang duduk manis sambil tersenyum padaku. Aku merindukan senyuman itu. Nafasku tersengal-sengal, ia terkejut melihat penampilanku yang kacau dan bermandikan keringat. Dia bangkit berdiri di hadapanku.

"Kenapa kamu terburu-buru seperti itu?" tanyanya cemas sambil mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mulai menyeka keringat di pelipisku. "Kamu jadi berkeringat seperti ini."

Aku rindu suaranya, tatapan matanya, sentuhan dan perlakuan lembutnya. Segala yang ada padanya membuatku rindu. Rasanya sesak di dadaku hilang, rasa lelahku pun lenyap ketika melihatmu. Kau masih terus menyeka keringatku. Kujatuhkan tempat gitar yang kupegang ke tanah. Dengan cepat kuraih dirimu dan kurengkuh ke dalam pelukanku. Kutenggelamkan kepalaku di rambutmu yang berwangi mawar itu. Aku yakin kau terkejut dengan tindakanku ini ditandai dengan menegangnya tubuhmu di pelukanku. Sama seperti ketika kau mengecup pipiku.

"A-Akaba…"

"Aku merindukanmu, Anezaki. Sangat merindukanmu," bisikku di telinganya.

Dia terdiam mendengar ucapanku. Tubuhnya semakin erat kupeluk. Jantungku berdetak kencang dan kurasa ia dapat mendengarnya. Perlahan suara detak jantungnya pun terdengar olehku. Kedua jantung kami memainkan melodi musik rock yang bersemangat. Aku sedikit kecewa mendapati pelukanku tak kau balas.

"A-Akaba…" ucapmu lagi.

"Lima menit lagi, Anezaki. Lima menit lagi," pintaku semakin mengeratkan pelukanku. "Aku sangat merindukanmu. Tidak bolehkah aku merindukanmu?"

Tubuhmu kembali membeku dan jantungmu semakin berdegup kencang. Tak kupedulikan wajahku yang memerah, kurasa wajahmu pun juga memerah. Tiba-tiba saja aku merasakan kedua tanganmu berada di punggungku, kau membalas pelukanku. Dengan ragu-ragu kau menggumamkan sebuah kalimat padaku.

"Te-tentu saja boleh. A-aku pun juga me-merindukan Akaba."

Setelah mengucapkan kalimat tadi kau menenggelamkan kepalamu di dadaku. Mungkin kau malu dan tak ingin aku melihat wajahmu. Padahal aku pun sama denganmu. Kalimatmu tadi membuat seluruh tubuhku menghangat, aliran darahku pun mengalir cepat. Dan kini aku tersenyum bahagia. Ternyata bukan hanya aku satu-satunya yang merasakan rindu.

Tak lama kami melepaskan pelukan hangat itu. Lalu kami saling bertatapan, meskipun sesekali kau terlihat mengalihkan atau menundukkan wajahmu. Salah tingkah dengan wajah yang sangat memerah. Aku pun juga merasa salah tingkah, namun aku menutupinya dengan sikap cool sambil sesekali membenarkan letak kacamataku. Pertemuan kali ini menjadi dipenuhi salah tingkah.

"Kau benar-benar manis jika wajahmu memerah seperti itu, Anezaki."

"Maaf, tiba-tiba memelukmu. Beberapa lama tidak melihatmu membuat iramaku kacau bagai musik rock yang merusak telinga," kataku yang kembali membuatmu terkejut. "Sekarang setelah bertemu dengamu iramaku membaik hingga melodi yang dihasilkan sempurna."

Kau terlihat bingung dengan perkataanku yang selalu bercampur istilah musik. Itu sudah menjadi kebiasaanku.

"Ke-kenapa iramamu bisa kacau karena aku?" tanyamu gugup, terlihat berusaha memberanikan diri menatapku.

"Fuh, kenapa? Itu pertanyaan bagus, Anezaki," kataku sambil meraih tangannya dan mengecupnya pelan.

"A-Akaba!" serumu terkejut untuk kesekian kalinya. Rasanya kali ini sikapku banyak mengejutkanmu.

"Aku ingin mengatakannya padamu, tetapi tidak sekarang. Selama ini kita selalu bertemu di sini, tetapi kali ini aku ingin mengajakmu ke tempat yang lain," kataku serius. "Kau ada waktu, 'kan?"

"Kamu ingin mengajakku kemana?" tanyamu, tetapi tiba-tiba kau melanjutkan perkataanmu. "Tu, tunggu dulu! A-apa ini ajakan kencan?" tebakmu.

Aku hanya menyeringai. Sudah kuduga kalau iramamu sama denganku. Melihat wajah merahmu membuatku ingin menggodamu.

"Menurutmu apa, manajer Deimon?" tanyaku balik hingga membuatmu bungkam. "Kurasa tim Deimon harus merelakan manajer mereka sehari meluangkan waktu khusus bersamaku. Fuh, ini tidak seperti pertemuan kita biasanya, Anezaki. Jadi, bagaimana menurutmu? Apa kau menerima ajakanku?"

Kau hanya diam, sama sekali tidak berniat memberikan jawaban apa pun. Aku sempat merasa kecewa dan ditolak sebelum hal itu kusampaikan padamu. Aku pun seharusnya menyadari akan kebingunganmu, kebimbanganmu, atau apa pun yang saat ini kau rasakan. Terlalu banyak hal yang mengejutkanmu. Tetapi aku harus melakukannya untuk mendapatkan jawabannya.

Tiba-tiba raut wajahmu berubah. Sepertinya kau sudah membuat keputusan. Kau tersenyum malu-malu padaku hingga membuatku harus menahan diri untuk tidak memelukmu kembali.

"Aku menerima ajakanmu, Akaba," katamu dengan suara pelan.

"Benarkah?" tanyaku untuk memastikan.

Kau menganggukkan kepalamu. Sesaat rasa senang mulai melingkupi diriku. Hatiku menjerit kegirangan. Aku tersenyum bahagia hingga tanpa sadar menarikmu kembali ke dalam pelukanku. Rasanya seharian ini aku ingin memelukmu.

"Terima kasih, Anezaki. Aku senang mendengarnya."

"Sama-sama, Akaba," gumammu. "Jadi, apa ini memang ajakan kencan?" tanyamu lagi.

"Kurasa kau sudah tahu jawabannya, Anezaki," bisikku di telinganya hingga membuatmu gugup. "Jadi, bersiaplah."

"Ba-baik," katanya gugup. "Ng, Akaba, mau sampai kapan kamu memelukku?"

"Sampai ada yang menginterupsi kita," kataku menyeringai.

"Eh?"

Aku hanya tertawa dalam hati melihat reaksimu. Perkataanku itu tidak sepenuhnya bercanda. Kau harus tahu betapa menderitanya aku selama tidak bertemu denganmu. Apalagi kecemburuanku terhadap kaptenmu. Aku bahkan menduga kaptenmu memang melarangmu menemuiku dengan berbagai macam cara. Jika iya itu berarti rahasia kita ketahuan. Tetapi aku tidak perlu memikirkannya. Aku bahkan tidak keberatan jika kita ketahuan. Yang perlu kupikirkan sekarang adalah rencana "Pertemuan Khusus" mendatang. Saat itu aku harus mempersiapkan hatiku untuk mengutarakan perasaanku dan berharap kau akan menerimanya.

Dari pertemuan kebetulan menjadi pertemuan yang rutin. Saling mencoba menerima keberadaan masing-masing. Menjalin pertemanan dan berbagi cerita menarik. Membuat janji pertemuan di taman yang sama. Menikmati kue sambil diiringi musik. Kedekatan yang semakin membuat kita mengenal satu sama lain. Perasaan tenang jika bersama. Perasaan kacau dan bimbang setelah sekian lama bertemu. Timbulnya tindakan-tindakan di luar kendali diri. Kecurigaan dari orang terdekat. Mulai jarang bertemu karena kesibukan. Terbakar cemburu tanpa sebab. Menyadari apa yang kini dirasakan. Merasakan rindu yang menyiksa. Memantapkan hati untuk mengatakan hal yang ingin dikatakan.

Kurasa hal-hal yang kualami ini bukanlah kebetulan semata. Kalau pun kebetulan aku justru berterima kasih pada Tuhan karena membuatku bisa kebetulan bertemu denganmu. Jika ini bukan kebetulan, maka bisa saja ini adalah takdir. Yang mana pun itu tidak masalah bagiku. Yang terpenting kau selalu ada di sisiku. Ternyata di balik kebetulan ada kisah menarik yang kualami.

The End


Sekian chapter keduanya. Maaf, kalau terkesan menggantung.

Bagaimana tanggapan kalian setelah membaca fic ini? Silakan tulis tanggapan kalian di kolom review.

Terima kasih kalian sudah membaca fic saya dan sampai ketemu di fic yang lainnya.


September, 2012

Neary Lan