Here the new fanfiction! Tadaaaa~ *jeng jeng jeng* Main cast still uri Yoona eonnie, tapi untuk pairingnya silahkan temukan sendiri ya. Ceritanya nggak jauh-jauh dari romance kok. Setting pemerannya juga masih sesuai sama kondisi mereka sekarang alias artis. Tapi mungkin eventnya banyak yang ngaco, jadi tolong dimaafin ya, hehe. Hmm, I'm still looking for the review, so please, and hope you'll like this story :)


IN LOVE WITH NOONA

Suatu hari di siang yang terik di awal tahun 2008, lima orang namja terlihat sedang duduk-duduk santai sambil sesekali melemparkan canda satu sama lain. Keringat yang mengalir deras di wajah dan sekujur tubuh mereka seolah tidak membiaskan kelelahan akibat latihan mereka sepanjang hari ini. Justru mereka tampak bersemangat membicarakan sesuatu.

"Hyung, apa kau tahu? Kemarin aku berhasil mengintip SNSD sunbaenim latihan di ruangannya!" bisik seorang namja yang berusia paling muda di antara mereka berlima dengan antusias. Namja itu bernama Lee Taemin, namun lebih dikenal dengan panggilan Taemin. Parasnya yang baby face membuatnya mendapat julukan baru, yaitu uri baby Taemin. Panggilan imut yang awalnya disukai namja itu, namun tidak lagi saat namja itu mulai merasakan yang namanya jatuh cinta.

"Ya! Masih kecil sudah berani mengintip! Apa kau mau matamu bisulan, huh?" tanya seorang namja yang memang terkenal straight, Choi Minho. Namja yang bisa dipanggil Minho baru berusia 17 tahun, namun tubuhnya yang tinggi dengan pembawannya yang cool seringkali mengecoh banyak trainee perempuan mengenai usianya yang sebenarnya.

"Masa mata bisulan sih? Mata itu bintitan, Choi Minho." Ralat seorang namja yang nantinya menjadi leader bagi kelompok mereka, Lee Jinki atau Onew. Minho menjulurkan lidahnya, tidak begitu peduli kalau dia telah salah memilih kata.

"Aish, anak ini, dibetulkan malah meledek." Ucap Onew sambil misuh-misuh sendiri. Untunglah dia termasuk namja yang tenang sehingga ketiga namja lainnya tidak perlu merasa khawatir akan terjadi adegan pertengkaran di antara kedua temannya tersebut.

"Hei, tapi bagaimana kau bisa melakukannya, Taemin-aa? Setahuku ruang latihan mereka sangat tertutup dan selalu dikunci dari dalam kalau mereka sedang latihan." Sergah seorang namja di sebelah Taemin, Kim Kibum atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Key. Onew dan Minho langsung melotot ke arah Key yang dinilai menjerumuskan teman termuda mereka ke dalam perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan oleh anak seusia Taemin.

"Ah, itu, aku.. aku meminta bantuan pada.. seseorang untuk.. untuk meletakkan.. kamera tersembunyi di.. pojokan dinding latihan mereka." Jawab Taemin takut-takut. Tubuhnya mengerut ke dalam begitu melihat Minho yang langsung mendekat ke arahnya.

"Nuguya?" tanya Minho dalam bisikan yang menakutkan. Kedua matanya menyipit dengan nada suara mendesak dan membuat Taemin semakin mengerut ketakutan.

"Itu.. itu.. orang itu.." Kedua mata Taemin bergerak-gerak panik sampai akhirnya pandangannya terhenti pada satu sosok yang mulai berjingkat menghindar dari kumpulan tersebut. "Jonghyun hyung," lanjut Taemin sambil mengarahkan telunjuknya pada seorang namja kekar yang hampir saja mencapai pintu dan kabur dari ruangan kalau tidak dicekal oleh Onew.

"Ya! Kau! Jangan coba-coba kabur!" cegah Onew dengan setengah berteriak. Namja yang masih berada dalam cekalan tangan Onew mulai menggeliat berusaha melepaskan diri. Namun apa dapat dikata, niatnya terpaksa diurungkan karena Minho langsung menawarkan diri untuk membantu Onew mencegah namja bernama Kim Jonghyun itu keluar ruangan.

"Aish, kenapa kau mengadukanku Taemin-aa?" gerutu Jonghyun. Ia kembali ditarik oleh Onew dan Minho untuk duduk dan mempertanggungjawabkan apa yang baru saja dikatakan oleh Taemin.

"Benar kau yang membantunya, Jjong?" tanya Onew tanpa basa-basi. Jonghyun menunduk ketakutan dan tidak mengatakan apapun. Sikap diam Jonghyun diartikan Onew dan yang lainnya sebagai jawaban "iya".

"Ya Tuhan, kenapa hyung tidak mengajak kami sekalian, huh?" tanya Key yang langsung mendapat dua jitakan keras di kepalanya. Tentu saja jitakan itu dari Onew dan Minho. Kini Key menemani Taemin dan Jonghyun dalam bersiap menghadapi amukan Onew dan Minho.

"Ckck, kalian bertiga benar-benar.. Ah, sudahlah! Percuma aku menceramahi kalian. Aku hanya berharap kalian tidak mengulanginya lagi, Taemin-aa, Jjong-aa. Arraseo?" pinta Onew kepada dua dongsaengnya itu. Ia sebenarnya ingin memarahi Taemin dan Jonghyun, namun ia mengerti kalau wajar jika di usia mereka sekarang ketertarikan terhadap yeoja sudah mulai muncul.

"Ne, hyung, kami mengerti. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan kami." Ujar Jonghyun dan Taemin hampir berbarengan. Keduanya masih menundukkan kepala, takut kalau-kalau mereka mengangkat muka mereka akan menemukan wajah menyeramkan Onew ketika marah. Sementara itu Minho hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mendecakkan lidah melihat hyung dan dongsaengnya dalam situasi seperti itu. Key yang merasa terbebas dari Onew langsung bernapas lega. Sayangnya kelegaan itu tidak lama karena Onew langsung menasehatinya.

"Dan kau, Key, aku harap kau tidak punya niat untuk melakukan apa yang telah Jonghyun dan Taemin lakukan. Bagaimanapun juga SNSD sunbaenim adalah senior yang harus kita hormati. Kalau memang kalian sangat ingin melihat mereka menari, langsung datang saja ke stage perform mereka. Toh itu lebih sopan. Aku dan Minho sudah pernah datang ke stage perform mereka dua kali sebelumnya. Kalian bisa .." belum selesai Onew berbicara, Jonghyun, Key dan Taemin langsung memotong dengan pekikan mereka yang membuat Onew harus berjengit menjauh dari mereka.

"JEONGMALYO?! Mau mau mau!" Baik Jonghyun, Key dan Taemin langsung bersorak gembira begitu mendapat ijin dari Onew untuk menonton stage perform SNSD. Selama ini ketiganya mengira kalau Onew dan Minho adalah namja rumahan yang kurang suka berjejalan di suatu tempat hanya untuk menyaksikan stage perform artis.

"Baiklah, baiklah. Minggu depan seingatku mereka akan stage perform di Music Bank. Kalau kalian mau, kita bisa pergi bersama." Ucap Onew sambil mengangkat kedua tangannya, berusaha menenangkan ketiga orang dongsaengnya yang masih saja bersorak kegirangan tidak terkendali. Minho melengos melihat hal itu dan beranjak ke sudut ruangan latihan untuk meletakkan botol minum dan handuk kecilnya ke dalam tas ransel hitam yang dibawanya. Ia baru saja hendak memulai pemanasan kembali ketika pintu ruang latihan diketuk dari luar.

"Nuguseyo?" tanya Minho sambil berjalan ke arah pintu. Onew, Jonghyun, Key dan Taemin serentak menghentikan keributan mereka dan berpaling menatap pintu ruang latihan yang kini membuka setengah dan menampakkan sesosok yeoja mungil berambut hitam kecoklatan panjang yang mereka kenal sebagai Lee Soonkyu atau Sunny SNSD.

"Ah, annyeonghasimnikka Sunny sunbaenim." Sapa Minho sambil membungkuk rendah di hadapan sunbaenya itu.

"Annyeong Minho-ssi. Apakah kalian sedang sibuk?" sapa Sunny dengan bungkukan serupa yang dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan.

"Aniyo. Jadwal latihan kami baru saja selesai. Apa ada yang bisa kami bantu, sunbae?" tanya Minho lagi. Sementara keempat orang lainnya hanya tertegun melihat kedatangan Sunny.

"Ah, bukan itu. Aku hanya ingin menyampaikan kalau Soo Man sajangnim memanggil kalian ke ruangannya sekarang." Jawab Sunny. Minho menaikkan alisnya kebingungan. Begitu mendengar berita itu, Onew bergegas ke arah pintu dan menemui Sunny.

"Benarkah? Baiklah kalau begitu, kami akan ke ruangan Soo Man sajangnim sekarang. Gomapseumnida telah menyampaikannya kepada kami, sunbae." Ujar Onew sambil tersenyum. Sunny balas tersenyum dan berpamitan pada mereka.

"Sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu. Annyeong." Pamit Sunny sambil membungkukkan badan dan segera berlalu dari hadapan mereka berlima. Begitu sososk Sunny lenyap, kelima namja yang telah berlatih keras selama beberapa tahun belakangan ini saling memandang satu sama lain.

"Kira-kira kenapa ya Soo Man sajangnim memanggil kita? Apa.. Apa kita akan segera didebutkan?" tanya Jonghyun memecah keheningan sekaligus menyuarakan apa yang dipikirkan oleh teman-temannya.

"Entahlah. Lebih baik kita segera berkemas dan ke ruangan beliau sekarang. Ayo!" ajak Onew pada keempat dongsaengnya. Mereka langsung menurut pada ajakan Onew dan dalam waktu setengah jam ruangan yang mereka gunakan untuk latihan telah kembali rapi. Tanpa membuang waktu, kelima namja itu segera meninggalkan ruang latihan dan berjalan menaiki tangga ke ruangan CEO mereka yang memang terletak di lantai dua.

-o0o0o-

"Taeng eonnie! Apa kau sudah mendengar kabar kalau akan ada trainee yang didebutkan pertengahan tahun ini?" tanya seorang yeoja sambil menepuk pundak Taeyeon. Yeoja berambut lurus hitam panjang itu tampak bersemangat saat mengatakan hal tersebut. Berbeda dengan Taeyeon yang tampak acuh dan sibuk memotong-motong sayuran di meja dapur dorm mereka.

"Ani. Aku belum mendengar kabar itu. Kau tahu darimana, Yul-aa?" Taeyeon balik bertanya sambil memisahkan sayuran yang sudah terpotong ke dalam keranjang kecil berwarna putih yang langsung diambil oleh Hyoyeon.

"Dari Sunny. Katanya Soo Man sajangnim bulan lalu memintanya untuk memanggil lima trainee untuk ke ruangannya. Bukankah itu berarti mereka akan segera didebutkan?" balas Yuri sambil memutari Taeyeon dan mengambil sepotong tomat segar yang langsung ditelannya.

"Ya! Itu belum dicuci! Kau jorok sekali sih," bentak Taeyeon sambil menepis tangan Yuri yang mulai menggerayangi meja dapur untuk mengambil bahan makanan yang sekiranya dapat langsung dimakan.

"Aish, itu kan hanya potongan kecil, eonnie! Aku tidak akan apa-apa." sergah Yuri sambil merengut kesal. Kini yeoja itu berpindah ke samping Hyoyeon yang tampak sibuk memasukkan potongan sayuran ke dalam panci berisi air mendidih berwarna kemerahan.

"Hyo eonnie, masak apa hari ini?" tanya Yuri sambil melongok melalui bahu Hyoyeon yang kini sibuk mengaduk campuran berbagai potongan sayur dalam panci itu. Sepertinya topik mengenai trainee baru yang akan didebutkan langsung dilupakan yeoja itu begitu melihat makanan di hadapannya.

"Sop kimchi." Jawab Hyoyeon tanpa menoleh memandang Yuri. Yeoja yang hanya terpaut tiga bulan dari kelahiran Yuri itu mengambil sendok sayur berukuran sedang dan mengambil sedikit cairan dari dalam panci untuk dicicipi.

"Hmm, pas! Yul-aa, tolong ambilkan mangkuk sedang yang ada di lemari atas." Pinta Hyoyeon. Yuri segera membuka pintu lemari yang dimaksud Hyoyeon dan mengambil sebuah mangkuk sedang berwarna dasar krem dengan hiasan sulur-sulur daun berwarna hitam di tepian luarnya.

"Ini eonnie." Ujar Yuri sambil mengangsurkan mangkuk yang diminta Hyoyeon. Dengan sigap yeoja yang memang paling ahli memasak di antara sembilan member SNSD lainnya itu segera menuangkan beberapa sendok sup ke dalam mangkuk. Begitu mangkuk hampir terisi penuh, ia mengambil alas kayu berbentuk lingkaran dan meletakkan mangkuk berisi sup panas itu ke meja dapur yang langsung dipindahkan Taeyeon ke meja makan tidak jauh dari situ.

"Asyik, makanannya sudah jadi!" teriak seorang yeoja bernama Im Yoon Ah atau biasa dipanggil Yoona yang sepertinya baru kembali dari aktivitasnya di luar dorm. Yeoja itu melangkah riang ke lemari dapur untuk mengambil mangkuk nasi ketika Taeyeon mencegahnya.

"Sebelum kau makan, tolong tanyakan pada Fany apakah dia mau makan di meja makan atau dibawakan ke kamar." Perintah Taeyeon. Yoona memiringkan kepalanya dan menatap kebingungan ke arah Taeyeon, "Fany eonnie kenapa?".

"Tadi pagi badannya agak demam. Dia juga bilang kalau tenggorokannya sakit untuk menelan. Sepertinya dia flu." Jawab Taeyeon yang tengah membersihkan meja dapur dari sisa-sisa bahan masakan yang tidak terpakai. Yoona mengangguk patuh mendengarnya..

"Baiklah eonnie, aku akan ke kamar Fany eonnie dan menanyakannya." Ucap Yoona. Mangkuk nasi yang diambilnya ia letakkan di atas meja makan begitu saja. Langkah kakinya yang semula ringan menjadi berat begitu mendengar kabar kalau salah satu eonnienya sakit.

"Fany eonnie," panggil Yoona pelan sambil menyentuh pundak Tiffany. Ia mengguncang pundak Tiffany sambil berusaha membangunkan yeoja yang masih terpejam dan berselimut rapat sampai di bawah dagu itu.

"Eonnie?" panggil Yoona sekali lagi. Tangan kanannya terulur ke wajah Tiffany dan menyibak beberapa helai rambut yang menutupi kening dan mata yeoja itu. Menyadari ada seseorang yang menyentuh wajahnya, Tiffany menggeliat dan membuka kedua matanya perlahan.

"Ah, kau Yoong-aa, ada apa?" tanya Tiffany dengan suara yang terdengar sengau. Salah satu tangannya sedikit menyibak selimut yang dipakainya sampai sebatas dada.

"Makanannya sudah siap, eonnie. Apa eonnie mau makan bersama di meja makan atau kubawakan ke kamar?" balas Yoona menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Taeyeon sebelumnya. Yeoja yang masih terbaring di tempat tidur itu kembali memejamkan mata dengan sedikit kerutan di keningnya. Wajahnya tampak pucat dan membuat Yoona khawatir.

"Tolong bawakan ke kamar saja, Yoong. Aku masih merasa pusing." Jawab Tiffany lemah. Yoona mengangguk patuh dan kemudian beranjak dari tempat tidur.

"Baiklah eonnie, kalau begitu akan kuambilkan makanannya. Eonnie tunggulah sebentar." Ujar Yoona. Yeoja itu kemudian berlalu dari hadapan Tiffany dan menghilang dari balik pintu kamar yang setengah terbuka ke dalam.

"Fany eonnie minta dibawakan saja ke kamar. Sepertinya flu yang dideritanya cukup parah. Apa tidak sebaiknya dia dibawa ke dokter, eonnie?" tanya Yoona pada Taeyeon. Yeoja yang belum genap setahun mendapat tanggung jawab sebagai leader di kelompoknya itu mengerutkan kening dan terlihat memikirkan apa yang Yoona katakan.

"Sepertinya begitu. Tapi sore ini aku, Hyoyeon dan Yuri ada agenda. Jessica dan Sunny masih di luar dan sepertinya akan pulang malam. Sedangkan Sooyoung dan Seohyun baru akan kembali ke dorm besok pagi. Apa kau bisa mengantarnya, Yoong?" tanya Taeyeon dengan kepala sedikit mendongak memandang Yoona yang berdiri di hadapannya.

"Aku bisa, eonnie. Biar aku saja yang mengantar Fany eonnie. Mungkin aku akan minta tolong pada manajer Kibum oppa untuk menemani kami ke klinik." Jawab Yoona sambil tersenyum. Setengah hari ini memang Yoona sudah tidak mempunyai agenda karena sepagian tadi ia merupakan member yang paling pertama meninggalkan dorm untuk menjalankan kewajibannya dalam mematuhi jadwal yang telah dibuat manajemennya.

"Baiklah kalau begitu. Lebih baik sekarang kau antarkan makanan ini ke kamar Fany." Ujar Taeyeon sambil menyerahkan baki yang telah diisi dengan semangkuk nasi dan sup kimchi panas. Yoona menerima baki itu dengan kedua tangannya dan memutar badannya ke arah kamar Tiffany yang baru saja dimasukinya.

"Apa kau butuh bantuan?" tanya Yuri. Yeoja itu kini duduk manis di salah satu kursi meja makan dengan semangkuk nasi yang masih mengepul di hadapannya. Sedangkan Hyoyeon sudah tidak terlihat di dapur, entah apa yang sedang dilakukannya sekarang begitu selesai memasak.

"Aniyo, tidak perlu eonnie. Aku bisa sendiri." Tolak Yoona halus. Langkahnya yang sempat terhenti karena mendengar pertanyaan Yuri kini kembali berjalan memasuki kamar Tiffany yang terletak sekitar 2 meter dari ruang makan dan dapur.

"Fany eonnie, ini makanannya." Ucap Yoona sambil meletakkan baki berisi makanan di atas meja rias. Tiffany menggeliat kecil dan memaksa diri untuk bangun. Yoona yang melihat hal itu segera membantu Tiffany duduk dan bersandar dengan beberapa tumpukan bantal di belakang punggungnya.

"Ah, gomawo Yoong." Ujar Tiffany tulus. Yeoja itu sedikit mengatur posisinya sebelum menerima baki yang diangsurkan Yoona kepadanya. Salah satu dongsaeng yang dikenalnya sangat kekanakan itu mendudukkan dirinya di samping Tiffany dengan posisi saling berhadapan.

"Apa mau kusuapi, eon?" tanya Yoona. Tiffany mengibaskan salah satu tangannya dan tertawa sumbang, "Hahaha, tidak perlu Yoong. Aku masih mampu kok. Tapi terima kasih untuk tawarannya. Sekarang lebih baik kau juga makan".

"Baiklah kalau begitu, aku ke ruang makan dulu ya. Kalau eonnie sudah selesai makan, letakkan saja semuanya di lantai samping tempat tidur untuk nanti aku rapikan." Ujar Yoona. Yeoja itu tersenyum dan bangkit dari posisi duduknya. Ketika ia hampir keluar dari kamar, langkahnya terhenti dan kepalanya kembali menoleh ke arah Tiffany.

"Oh iya, nanti sore kita ke dokter ya eon. Sepertinya flu eonnie cukup parah dan harus diperiksa oleh dokter. Tenang saja, aku akan mengantar dan menemani eonnie di sana." Jelas Yoona yang dibalas oleh anggukan dan senyuman Tiffany.

"Nan jeongmal gomawoyo, Yoong." Ucap Tiffany. Sayangnya ucapan terima kasih itu tidak berbalas karena Yoona telah lebih dulu menghilang dari depan pintu kamarnya. Yeoja itu kemudian melanjutkan dan menghabiskan makanannya.

-o0o0o-

Sore ini Taemin dan Key tampak berjalan santai memasuki lobi gedung manajemennya ketika pintu kaca di belakang mereka berdecit. Awalnya kedua namja itu tidak peduli. Mereka terus saja melangkah menuju tangga ketika didengarnya suara yang cukup familiar di telinga mereka yang berhasil membuat keduanya berhenti.

"Annyeonghasimnikka, sajangnim. Maaf, aku mau tanya, apa sajangnim melihat manajer Kibum oppa?" tanya seorang yeoja kepada salah satu petugas keamanan di sana. Baik Taemin maupun Key langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang yeoja yang juga seniornya di manajemen yang sama.

"Yoona sunbaenim?" panggil keduanya hampir bersamaan. Yeoja yang tak lain adalah Yoona menoleh dan tersenyum kepada keduanya. Dan di detik itulah seorang di antara mereka mendapat hujanan perasaan aneh yang menderanya. Perasaan yang berawal dari kekaguman atas kemampuan yang dimiliki yeoja itu yang selanjutnya akan menjadi lebih dalam dari yang disangkanya. Ya, salah seorang dari mereka jatuh cinta pada Yoona di pandangan pertama!

-o0o0o-