Catatan: maaf agak lama, maklum lagi sibuk menulis proyek sampingan fic Hashirama Senju/Mito Uzumaki. Sekali lagi, terima kasih untuk para pembaca yang telah membaca dan mengomentari fic ini. Maaf banget buat yang tidak login terpaksa tidak dibalas, soalnya bingung mau dibalas di mana dan ke mana. Kalau ada pertanyaan atau apapun lebih baik login, deh, 'kan sekalian ngobrol bareng yang nulis, ehehehe. Okelah, selamat membaca, ya~!

Disclaimer: Masashi Kishimoto


.

.

.

Memiliki Bayi Uchiha Part 2

.

.

.

Keringat mengalir deras menuruni pelipis Sasuke Uchiha yang sedang tertidur lelap, sesaat pemuda tampan itu sempat menggumamkan sesuatu. Selang beberapa detik kemudian, raut wajah Sasuke menjadi pucat seputih kapas, sedangkan bibirnya mengatup rapat-rapat. Jelas ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi kepadanya, entah apapun itu. Namun Jugo dan Suigetsu tidak berani bertindak apa-apa, karena mereka juga tahu bahwa suasana hati Sasuke biasanya sangat buruk ketika bangun tidur, maupun ketika dibangunkan secara mendadak ketika tertidur.

"Menurutmu?"

"Biarkan saja, Orochimaru saja sempat kerepotan, apalagi kita."

Alhasil, kedua sahabat itu hanya bisa saling memandang satu sama lain selama beberapa detik, lalu sibuk melakukan sesuatu untuk membuang waktu. Mencabuti rumput yang memanjang di sekitar mereka, misalnya.

"Suigetsu, mencabuti rumput sepertinya bisa menekan nafsuku."

Yang bersangkutan hanya bisa bertanya-tanya kapan Sasuke terbangun. Tidak biasanya Sasuke tertidur dalam kondisi segenting itu—saat Perang Dunia Shinobi Keempat. Sudahlah, mencabuti rumput lebih baik ketimbang keinginan membunuhi orang secara random Jugo kambuh, begitu pikir Suigetsu. Tenaganya sudah terlalu banyak dipakai, dan suasana tenang seperti ini juga tidak buruk. Sangat bagus malah, ia bisa beristirahat lebih lama lagi.

"Laki-laki atau perempuan, ya? Bagaimana kalau laki-laki saja?"

Terlalu, baru saja dibilang malah kejadian, gerutu Suigetsu panjang pendek, menyadari nafsu membunuh temannya mendadak bangkit. Menyebalkan, kalau begini mana bisa istirahat? Sasuke masih tertidur lagi.

"Laki-laki saja… siapa juga boleh…" ekspresi Jugo perlahan berubah, gerakannya terlihat gelisah dan sangat tidak tenang. Jiwanya merintih meminta korban. "Siapa juga… asalkan laki-laki…"

Secara serta-merta Suigetsu langsung memeluk Jugo dari belakang, lantas mengunci gerakan temannya yang kuat itu. "Jugo, hentikan!"

.

.

Dalam kegelapan tanpa cahaya yang amat pekat dan membutakan, yang terlihat oleh kedua mata Sasuke adalah semburat sinar menyala berwarna merah jambu yang bersinar terang di sisi lain. Sebuah wajah yang sangat dikenalnya tengah menatap dirinya, kedua mata hijau safir yang lembut, hidung mancung dan bibir yang menggoda. Sasuke mendengus, menyadari bahwa ia sama sekali tidak punya waktu maupun cukup emosi untuk untuk menghadapi masalah satu itu, Sakura Haruno yang masih saja terus mencintai dan mengharapkan dirinya.

Sasuke bukannya sekali-dua kali telah mencoba untuk menghabisi mantan teman satu tim berambut pink itu, akan tetapi gadis itu masih setia mengharapkannya kembali ke jalan kebenaran. Blind faith, kepercayaan membabi buta tanpa menerima akal logis. Sakura Haruno. Sungguh menjengkelkan. Sekaligus mengagumkan.

Meski benci mengakuinya, tapi Sasuke merasa cukup senang memiliki seseorang yang akan selalu berada di pihaknya, seperti apapun dia sekarang ini.

SREEETTT

Mendadak kedua tangan Sakura menggapai tubuhnya, memeluknya dari belakang. Gadis itu membisiki Sasuke, membuat seluruh wajah dan bahkan telinga pemuda Uchiha memerah dengan cepat. Apa yang baru saja Sakura katakan tadi? Sasuke membalikkan tubuhnya, semula berniat menghalau gadis itu. Mengancamnya sekalian, atau membunuhnya.

"Jangan berkata yang tidak per—"

CUP

Yang ia terima adalah ciuman hangat dari Sakura, terasa basah dan begitu panas. Ya, Sakura menciumnya. Gadis itu menempelkan bibirnya ke atas mulut Sasuke, lalu perlahan mengecup dirinya, sekali, dua kali, tiga kali.

Tak terhitung.

Sekalipun gadis itu menciumnya, tetap terasa tubuh Sakura yang gemetar antara takut dan ragu-ragu seperti ketakutan. Gadis itu ragu, dan hal itu membuat Sasuke mendengus pelan, bukan begini caranya mencium orang yang kau sukai.

Sebelah tangan Sasuke meraih wajah Sakura dan mendekatkannya dengan wajahnya sendiri, lalu tanpa menunggu waktu lagi dibalasnya semua ciuman gadis pink itu dengan penuh gairah. Leher Sakura yang jenjang dibelainya pelan, lalu dikecupnya dengan liar. Kulit gadis itu terasa lembut, dan hangat, sesuatu yang asing untuknya, dan tidak sabar ia jelajahi.

Sekalipun karakter Sasuke biasanya kalem dan dingin, tapi tidak untuk urusan yang satu ini. Emosi terpendam yang selalu ia tahan membuatnya liar, dan tidak terhentikan. Dengan gerakan yang kasar dibukanya rompi dan pakaian Sakura, lalu ditarik gadis itu ke arahnya.

Suara desahan Sakura seakan tertahan di tenggorokan saat mulut dan jemari Sasuke mulai menelusuri tubuhnya, payudaranya, perutnya, kakinya, menghujani gadis itu dengan ciuman liar—yang sebelumnya sama sekali tidak pernah melintas dalam pikiran yang awalnya dipenuhi oleh dendam dan kebencian. Dan Sakura… gadis itu begitu basah dan panas, menerima setiap sentuhan yang ia berikan. Tubuh Sakura bergerak mengikuti semua gerakannya, membuatnya merasa semakin tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.

Sasuke sudah tidak tahan lagi.

Dalam satu hentakan keras ia sudah menyatukan tubuh mereka berdua.

Tubuh Sakura bergetar di bawahnya, sepertinya tidak tahan dengan rasa sakit ketika Sasuke menembus tubuh gadis itu. Sekali, beberapa kali, Sakura merintih, memprotes saat ia terus bergerak kasar, sepenuhnya dikendalikan oleh insting. Dan itu membuatnya semakin bernafsu, bergerak semakin cepat dan dalam.

Didengarnya Sakura menangis, dan berhenti bernapas untuk beberapa saat. Sial, ia tidak bisa berhenti. Sekalipun ingin Sasuke tidak sanggup. Gadis itu terasa sangat nikmat, luar biasa nikmat. Membuatnya ketagihan. Rasanya ia ingin memakan gadis pink itu, mengunyahnya sampai tidak ada sisa, menyatu sepenuhnya dengan tubuhnya.

Sasuke pun terus bergerak, menyatukan tubuh mereka. Perlahan tapi pasti ia menyadari bahwa Sakura mulai menyukai sensasi penyatuan itu, dan bergerak seirama dengannya. Gairahnya semakin meningkat, sensasi memabukkan semakin meninggi, Sasuke akhirnya pun melepaskan semuanya dalam tubuh gadis itu—wanitanya.

.

.

Ketika Sasuke membuka mata, berbagai perasaan tidak enak menyelubungi dirinya. Rasanya seperti terbakar, panas, sangat memuakkan. Cakranya terhisap sampai nyaris tak bersisa, membuatnya sangat lemas. Sementara di bawah sana, tubuhnya seakan mati rasa. Brengsek, erang si tampan Uchiha itu dengan gusar. Ternyata kali ini efeknya terasa sangat menyakitkan—

Kedua mata gelap Sasuke sesaat berkilap tajam, itu sebuah jutsu yang seakan mampu memanipulasi kemampuan sharingannya untuk sementara waktu, dan membawanya masuk ke dalam dimensi lain. Jurus unik yang membuat badannya lepas kontrol, dikendalikan oleh nafsu. Jurus yang mampu membawanya kepada gadis yang ia inginkan.

Bukannya ia tidak tahu, sebenarnya. Lagipula ini bukan baru pertama kali terjadi kepada dirinya. Beberapa kali ia mengalami hal semacam ini ketika masih berada di bawah kendali Orochimaru. Dimanipulasi? Dikendalikan?

Jangan bercanda.

Tidak ada satu jurus pun yang mampu melepaskan diri di depan sharingan-nya sekarang. Dan ia tahu bahwa ia sepenuhnya mengizinkan hal itu terjadi, sehingga kejadian itu bisa terjadi. Ia ingin menikmati saat menyenangkan bersama Sakura, meskipun hanya sebentar. Yang menjadi masalah di sini, tubuhnya tidak pernah terasa seburuk itu.

Memangnya apa bedanya kejadian malam tadi dengan…

Mendadak jantung Sasuke berdebar keras. Ada selembar rambut berwarna pink cerah menyangkut di sebelah tangannya. Sebelumnya hal seperti ini tidak pernah terjadi. Perasaannya terasa tidak enak, sangat menyiksa. Jurus sialan…

Sehelai rambut pink.

.

.

Ruangan itu gelap dan baunya sangat menusuk hidung. Dengan tergesa-gesa Sai terus melangkah dan nyaris menabrak tabung kaca di hadapannya. Ia tahu ia sudah sedemikian dekat dengan posisi Sakura berada sekarang. Kalau ditilik dari berbagai markas rahasia Orochimaru, seharusnya ada ruang rahasia di balik ruangan percobaan pertama. Apa lagi Kabuto tadi sempat mengiyakan pertanyaannya.

Kabuto, shinobi pengikut Orochimaru itu memang tidak dapat diremehkan begitu saja. Dengan memanfaatkan energi dan kekuatan Orochimaru pemuda itu sempat membangkitkan banyak sekali mayat, dan berkoloni dengan Akatsuki—juga Madara Uchiha. Sai kemudian berpikir apakah lebih baik jika selain melumpuhkan Kabuto, ia juga harusnya menghabisi orang itu. Kata-kata Kabuto kembali terngiang di kepalanya. Apa maksudnya semua sudah terlambat? Apa yang sudah ia lakukan terhadap Sakura?

BRAKKKK

Sai langsung menutup hidungnya saat mencium bau anyir darah dan wewangian aneh yang semakin pekat di ruangan tempat Sakura disekap. Keningnya agak berkerut saat ia melihat ke pojok ruangan, sesosok tubuh terbaring di sana.

"Sakura, apa kau baik-baik sa—"

Mendadak kedua mata Sai membelalak lebar saat melihat tubuh Sakura yang tergolek lemah tanpa busana. Gadis itu setengah sadar, tidak mampu menggerakkan tubuhnya sama sekali. Berkas-berkas merah terlihat di sekujur tubuh rekannya di tim 7 itu, masih baru. Sementara darah mengering dari celah pahanya. Gila, Sai tidak mampu membayangkan apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat mantan anggota ne itu melepas jubahnya dan menutupi tubuh Sakura.

"Saa… i…" Sakura berbisik pelan, berusaha memfokuskan pandangannya. "Kau… da… tang?"

Sai memamerkan senyumnya yang datar. Sepertinya Sakura tidak menyadari kondisinya sendiri.

"Syu… kur… lah…"

"Sakura! Sai! Di mana kalian?!" sayup-sayup terdengar suara di ujung sana, memanggil Sakura dan dirinya. Teman-temannya sudah datang. "Sakura! Sai!"

"Berisik, kita ini sedang menyusup." Suara tenang Neji terdengar menimpali Rock Lee. "Cakranya terlihat dari arah sana, sepertinya Sai sudah berada bersama Sakura terlebih dahulu, kita bisa tenang."

"Baunya menjijikkan sekali." Ino turut berkomentar, menutupi hidungnya. "Aku jadi ingin muntah."

"Aku jadi kehilangan selera makanku," Chouji menimpali sambil meraup segenggam besar makanan ringan dari bungkusannya. Shikamaru menghela napas panjang mendengar komentar sahabatnya itu.

Semuanya menuju ke sana, menuju ke tempat mereka berada. Entah bagaimana, Sai tidak ingin ada seorang pun dari mereka menyadari kejadian buruk yang telah menimpa Sakura. Ia tidak sampai hati. Dengan cepat Sai menggendong gadis malang itu dan menutupi seluruh tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya masih saja tersenyum ketika bertemu dengan semua rekan setimnya.

.

.

Selama beberapa jam ke depan Sakura kehilangan kesadaran, membuat semua teman-temannya khawatir terutama Ino. Sebagian tetap menyusul Naruto untuk memberikan bala bantuan, sementara sebagian lagi menjaga Sakura. Shizune menggantikan posisi Sakura, berangkat bersama Neji, Rock Lee, Kiba, Chouji, dan lainnya ke medan perang, menghadapi Madara.

"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi di sana? Kenapa Shizune bahkan tidak mengatakan apa-apa kepada kita? Apa Sakura akan baik-baik saja?" Ino bertanya dengan sangat cepat, memberondong Sai yang duduk diam di samping tempat tidur Sakura. "Katakan, Sai…"

"Sebaiknya kita tunggu saja sampai Sakura sadar…" Sai tersenyum, enggan mengatakan apa yang ia ketahui. Dan ia tidak bisa membayangkan seperti apa respons semua orang mengenai hal ini. Ia tidak tega berita ini sampai ke telinga Naruto. Yang pasti sih Rock Lee bakalan menangis darah.

"Mungkin kau mau melihat-lihat sketsa terbaruku?"

Sai amat sangat jarang sekali menunjukkan kumpulan sketsanya kepada orang lain, karena itu wajah Ino seketika memerah dengan cepat. Mungkinkah ini adalah awal dari lamaran Sai kepadanya? Bagaimana dengan Shikamaru kalau begitu? Dan bukankah Neji belakangan ini terlihat semakin menarik?

Ino malah berpikir kejauhan.

.

.

Ketika Shizune memeriksa kondisi Sakura sekembalinya mereka ke markas, wajah senior mereka itu berubah pucat, lalu menggeleng-geleng lemah. "Tidak bisa dipercaya, jurus terlarang semacam ini…" Shizune menggigit bibirnya, menatap Sakura yang tengah tertidur. "Beraninya Kabuto berbuat hal seperti ini kepada Sakura, tidak bisa dimaafkan…"

"Apa Sakura tidak apa-apa?" Sai bertanya penasaran, tetap dengan wajah lempeng tanpa ekspresi. "Kami semua khawatir dengan kondisi Sakura sekarang."

"Hal semacam ini… kurasa lebih baik jika tidak diketahui oleh orang banyak—"

"Anda dapat mempercayai saya. Saya takkan mengatakan apapun, dan saya sangat mengkhawatirkan Sakura. Naruto telah menitipkan dia kepada saya." Sai menjelaskan dengan ekspresi yang masih saja datar sekalipun nada suaranya lumayan meninggi. "Percayalah."

Shizune mengepalkan tinjunya keras-keras, suaranya bergetar. "Ritual terkutuk yang berasal dari Suna, jurus terlarang untuk meneruskan klan yang punah. Entah bagaimana lelaki itu bisa mengetahui hal ini… dalam tubuh Sakura sekarang ada pancaran cakra lain, cakra yang berasal dari hasil akhir jurus itu…"

Sai mengerutkan keningnya. Apanya yang dimaksud dengan pancaran cakra lain?

"Bisakah anda menjelaskan dengan lebih terperinci?"

"Kabuto menggunakan jurus terlarang kepada Sakura, membuatnya mengandung janin—janin yang menggerogoti seluruh cakranya, dan kelak akan membahayakan nyawa Sakura. Newborn Jutsu yang mengambil energi dari pihak wanita."

"Janin?" Sai tertegun sesaat. "Janin siapa?"

"Entah rencana seperti apa yang dimiliki oleh jahanam itu dengan berbuat seperti ini." Shizune tersenyum tipis, walaupun hatinya terasa pedih. Ia tidak pernah menyangka Sakura akan tertimpa bencana sekeji itu, Newborn Jutsu terkutuk. "Tentu saja ini bukan hal yang serius jika Sakura setuju untuk menggugurkan kandungan yang kini berada di dalam perutnya."

.

.

Malam semakin larut saat Sakura pada akhirnya tersadar dari tidurnya yang cukup lama. Tubuhnya masih terasa sakit, dan gemetar yang ia rasakan belum juga hilang. Angin dingin perlahan masuk, menyeruak dari sisi-sisi jendela yang tidak tertutup dengan sempurna. Gadis itu menghela napas sejenak, lalu kembali menutup kedua matanya.

Wajah dingin Sasuke terlintas di kepalanya. Wajah dingin yang sangat ia kagumi, dan cintai melebihi apapun. Rasanya sulit sekali membayangkan nasib mereka berdua kini saling bersinggungan, bertolak belakang. Ingin rasanya ia kembali ke masa-masa dulu, saat masih bersama-sama Naruto dan Guru Kakashi melakukan berbagai misi.

Waktu itu yang ada di pikirannya adalah menjadi istri Sasuke Uchiha, membangun keluarga shinobi yang bahagia. Bahkan jika Sasuke memintanya untuk melahirkan 60 anak dengan alasan ingin membangun Klan Uchiha kembali, pasti ia mau menyanggupinya.

Semua tinggal kenangan.

Sasuke sudah berubah, dirinya juga berubah.

Air mata jatuh dari kedua belah kelopak mata Sakura yang tertutup, mengalir menuruni pipinya. Perasaannya seperti diaduk-aduk, membuat kepalanya pening. Ia tidak punya pilihan lain. Ia benar-benar tidak punya pilihan lain. Ia harus mengaborsi janinnya demi bertahan hidup. Ia harus mengaborsi janin Sasuke yang tengah mendiami rahimnya. Masalahnya, ia tidak tahu apakah ia sanggup melakukan hal itu.

Satu hal yang tidak pernah berubah.

Cintanya untuk Sasuke, dulu, sekarang, selamanya.

.

.

.


Senang sekali masih bertemu kalian di chapter kedua ini~! Kalau ada uneg-uneg, komentar, pertanyaan atau sekedar ngobrol bareng penulis, kalau bisa login, oke. Sampai berjumpa di chapter berikutnya~!